Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
89
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Love, Choice, and Decision
27-10-2019 16:50

LOVE, CHOICE, AND DECISION

Love, Choice, and Decision

BAB 3

THE POOR BOY


Ruangan yang hampir seluruhnya berdinding kaca itu tampak sepi. Yang terlihat hanya satu meja terisi dua orang pelanggan, kasir dan tiga waiters yang sedang duduk menunggu. Alhamdulillah. Aku menoleh ke kiri dan kanan, masih ingin memastikan bahwa kondisi benar-benar sepi. Jika teman-teman Niko melihat aku dan Niko duduk berdua satu meja, apa yang akan mereka pikirkan? Dan, mengapa anak gemblung itu memilih Nes-Milo yang lokasinya tepat di seberang kampus. Bukan dia tahu, hampir pasti akan selalu mahasiswa dan mahasiswi yang nongki di sana.

Harus duduk semeja dengan Hantu Kampus? Uh, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Apakah ini the real ketakutan pada hantu? Bukan sekadar istilah? Aku bingung harus tertawa atau merasa bloon. Bocah itu paling bisa membuatku tak bisa memilih. Jika tak diikuti bakal ada tsunami. Saat diikuti aku harus siap mati berdiri.

Aku segera mengedarkan pandangan mencari Niko. Sepertinya dia belum datang. Sudah mengajaknya memaksa, sekarang dia mempermainkan orang yang lebih tua. Dasar!

"Dilara! Sini!"

Oh, itu suara orang yang sedang kucari. Tak merasa lega sebagaimana rasa seseorang yang telah bertemu apa yang dicarinya, aku tetap merasa ada yang mengganjal. Niko melambaikan tangan memberi isyarat agar aku segera menuju ke tempatnya berada. Kursi di bawah tangga menuju lantai dua yang sedikit terlindung dari pandangan umum. Baguslah. Mungkin dia sengaja memilih tempat itu. Aku pun bergegas menuju ke sana. Begitu aku sampai, anak laki-laki berambut hitam mengkilap itu langsung berdiri lalu menarik kursi di depannya. Mempersilakan aku duduk.

"Apa yang akan kamu katakan?" tanyaku ketus, seraya duduk.

"Mau yang mana dulu? Yang baik atau yang buruk?" jawab Niko dengan senyum-senyum simpul. Binar-binar terus memancar dari matanya.

"Mana saya tahu? Terserah kamu!"

"Dilar--"

"Stop! Sudah saya bilang, jangan panggil saya begitu!" selaku, dengan intonasi sedikit meninggi, mungkin wajahku juga memerah.

"Okeh, sweetie.... " ucap Niko sambil mengecup ujung jempol dan jari telunjuknya yang dia satukan.

"Uhuk!" Aku langsung tersedak selanjutnya terbatuk-batuk. Rasa geli dan marah bercampur menjadi satu.

Niko berlari mengambil air mineral yang tersedia di meja dekat kasir. Buru-buru membuka segel dan tutupnya sambil berjalan ke arahku. Begitu sampai di meja kami, dia langsung memberikan air mineral itu padaku.

"Santai saja, kenapa?" ucapnya. Aku merasa perkataannya itu sok dewasa.

"Kalau sehariii sajaa, nggak bikin masalah sama saya, kenapa?" ujarku, setelah menenggak air mineral yang ada di tangan.

"Hmmm...." Niko urung menanggapi apa yang baru saja kukatakan karena seorang waiter datang menghampiri meja kami. Lelaki berpakaian nuansa monochrom membawa dua gelas jus tomat dan dua mie goreng.

"Kita selesaikan nanti, saja. Sekarang waktunya makan. Sudah kupesankan makanan favoritmu. Nggak salah, 'kan? Mi goreng spesial," ucap Niko dengan senyum lebar.

Dia beruntung. Pesanan makanan datang di saat yang tepat. Hantu Kampus mendapat kesempatan untuk menghindar dari seranganku. Serangan? Saat berurusan dengannya, aku selalu merasa menjadi ABG. Oh, God.

Aroma mi goreng bertabur daging, sayuran dan tomat menguar tajam menusuk hidung. Begitu menggoda. Rasa lapar pun memanggil, untuk melahap. Sayangnya, rasa senang dan eneg sedang tidak akur di dalam perut dan otakku.

Rasa macam apa ini?

Nafsu makanku, mendadak turun 50%. Meskipun demikian tetap kupaksakan menikmati hidangan yang sudah disediakan di depan mata.

Sepuluh menit kemudian.

"Cepat katakan apa maumu!" bentakku, pelan. Rasanya sudah terlalu lama aku duduk berdua bersama Niko. Selain tak nyaman, juga membuat jantungku terus berdetak tak beraturan.

"Satu, bersikaplah biasa. Aku hanya seorang cowok, seorang lelaki yang mencintaimu. Bukan penculik seperti di film-film!" ucap Niko dengan penuh percaya diri. Seolah tanpa sedikit pun keraguan. Kedua bola matanya tajam menatapku.

"Hemm, terus?" Aku sangat geli sekaligus prihatin saat mendengar Niko mengucapkan kata 'seorang lelaki yang mencintaimu'. Berani sekali dia.

"Okay! Dua! Aku tidak akan menyakitimu." Intonasi suara Niko menurun, terdengar sedikit lembut. Selain itu bola matanya yang sedikit sipit itu, seolah memancarkan kesungguhan.

"Ada lagi?" lanjutku.

"Jangan bohongi dirimu sendiri!"

Jleb! Kalimat terakhirnya membuatku tertunduk. Seluruh dunia seolah sedang mentertawaiku. Aku harus segera mencari cara untuk mengakhiri pertemuan konyol ini.

"Okeh, lanjutkan via HP! Saya sedang ditunggu kakak perempuan dan keluarga besar. Tahu, kan, apa yang akan mereka bahas?"

Niko menatapku lekat, seolah sedang menebak apa yang akan kubahas dengan mereka. Dan, sepertinya dia bisa menebak. Perihal pernikahanku. Ada kilatan cemburu yang sama sekali tak dia sembunyikan.

The poor boy ...

Ada sedikit rasa pedih yang tiba-tiba muncul dari dalam sana. Bukan sepenuhnya karena Niko, tetapi lebih jika aku berada di posisi dia.

***


Niko, bagi sebagian orang sosok ini kerap memacu adrenalin. Sebagian lagi, anak yang nyaris tak pernah diam ini, hanya membuat tegang urat syaraf, mereka. Namun, bagi golongan yang terakhir, lelaki jangkung ini, tipe yang menyenangkan. Sedikit humoris dan memiliki banyak bakat terpendam. Salah satunya, meski bukan jurusan Informatika Komputer, skill alami yang dia miliki dalam dunia per-HP-an dan laptop membuat dosen maupun teman-teman datang padanya saat mendapat masalah dengan benda-benda itu. Free of charge. Namun hanya aku dan sebagian orang saja yang tahu, jika setelah itu, Niko bisa mengetahui password sosmed dari gadget yang dia perbaiki. Walaupun tak melakukannya secara membabi buta pada semua gadget yang pernah dia perbaiki, tetapi aku tak heran jika ada seseorang menangis karena Niko mempublikasikan chat rahasianya pada orang-orang tertentu. Biasanya dia melakukan itu pada mahasiswi yang dia anggap caper dan berlebihan. Bukan asal tabok. Masih mending. Lah, mengapa aku membelanya?

Lelaki yang identik dengan jaket kulit hitam itu, anak tunggal dari salah satu pengusaha cold storage di kota ini. Dia lebih sering bermotor besar, meski mobil sport hitam limited edition tersimpan di garasi rumahnya.

Menurut cerita dari yang bersangkutan, saat SMA, dia pernah menjuarai turnamen bulu tangkis se-kecamatan. Pernah pula tinggal di Bogor beberapa bulan untuk memperdalam bakatnya. Dari sorot matanya saat bercerita, sepertinya Niko begitu menikmati dunia itu, tetapi sayang, ibunya tidak bisa jauh dari anaknya. Sedangkan sang ayah berpikir bakat seperti itu tak berguna. Tak menghasilkan uang. Untuk apa. Setelah itu dengan sangat keras menentang, keinginan sang anak.

Mendengar kisah hidupnya yang ini, jujur membuatku mengelus dada. Layu sebelum berkembanglah, cita-cita seorang lelaki muda yang baru saja mematri angan-angan pada lembar masa depan di dalam benaknya. Beruntung dia tak lari pada dunia narkoba, pun penjahat cinta. Bisa jadi rengkuhan tangan hangat seorang wanita bernama ibu yang mencegahnya ke sana.

Yup, benar, dunia ini memang tak monoton. Sepertinya semua orang punya kisahnya sendiri-sendiri. Aku tersenyum, entah.

***


Sweetie, aku mau ke rumahmu! Pesan dari Hantu Kampus gaje via whatsapp.

What?!

Mataku terbelalak, seketika.

Jangan cari masalah! Kalau kamu nekat, saya akan keluar dari rumah. Balasku, mengancam.

Emang dia saja yang bisa menekan. Dalam hati aku bersorak, setelah itu tersenyum sendiri. Sepertinya biasanya, aku selalu menjadi serupa bocah, jika harus berhadapan dengannya.

Keluarlah, aku tambah senang. Bisa menemuimu kapan saja. Balasnya, lagi. Uff! Aku tercekat.

Aku segera berpikir mencari cara mengalahkan dia.

Datanglah, setelah itu kamu tidak akan pernah melihat saya lagi di kampus. Menjadi pengguran yang bahagia, sepertinya menyenangkan. Lakukan semaumu! Balasku.

Tiba-tiba aku berpikir, tidakkah kalimat 'pengangguran yang bahagia' terasa aneh? Mau kuhapus, tetapi sudah terlanjur dia baca.

Ah, biar saja. Paling juga dia tak terlalu menghiraukan. Hiburku dalam hati.

Lima menit telah berlalu. Belum ada balasan. Apa dia takut atau? Mengapa aku terlalu antusias menunggu balasannya. Sepuluh menit pun berlalu. Aku masih menunggu. Lima belas menit puj berlalu. Kupikir dia tak akan membalas.

Ya, sudahlah.

Aku memutuskan tak akan menghiraukan dia lagi. Aku pun berjalan menuju teras samping. Di sanalah Mama biasa berada. Bercengkrama dengan bunga-bunga anggrek dan mawar kesukaannya. Daripada keningku terus berkerut memikirkan Niko, lebih baik menghibur diri di dekat Mama.

HP-ku yang kusimpan dalam kantong celanaku bergetar. Tak terlalu antusias aku membukanya. Namun begitu tertera pesan dari Hantu Kampus Kumat, mataku langsung membesar.

Baik Ma'am, saya salah. Saya minta maaf. Saya tidak akan datang.

Bukannya senang karena dia tak jadi mengganggu, aku justru merasa ada sesuatu yang hilang. Ada yang tiba-tiba terasa hampa di dalam dada. Sebenarnya apa, sih, yang aku rasakan? Ah, tidak. Dia bukan ... seperti biasanya aku selalu mencoba berdamai dengan perasaan sendiri. Tanpa sadar aku mengelus-elus dadaku sendiri.

Selanjutnya, aku sengaja membuang pandanganku ke arah bunga-bunga milik Mama. Dengan cara inilah mata dan otakku yang sedang bermasalah biasanya bisa kembali menjadi sedikit lebih baik.

"Kamu kenapa, Nduk? Kok sajak bingung." Pertanyaan Mama, sedikit membuatku terkesiap.

"Ah, ndak papa, Mah. Banyak kerjaan yang blom Dila selesain."

"Yo wes sana, ndang dikerjakan. Jangan malah ngalamun, di situ."

"Iya, Mah."

Aku segera angkat kaki dari teras. Kembali menuju kamar.

Aku merasa perasaanku pada Niko, benar-benar mulai salah. Ya Allah, bagaimana ini? Di satu sisi aku berpikir ini masalah kecil, tetapi di saat yang sama aku merasa gelisah karenanya. Aku harus menemukan cara. Cara berlari atau menenggelamkan masalah ini, hingga tak tersisa.

Bagaimana cara membuat Niko mengerti tanpa menyakiti. Cukup menyanyanginya tanpa tendensi, dan ... menghilangkan dia dari hari-hariku tanpa merasa kehilangan. Apakah ketiganya, mungkin kulakukan?

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan anwarabdulrojak memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-itu-dari-quotmamaquot
Stories from the Heart
he-is-my-beloved-stepbro
Stories from the Heart
pamer-calon-bojo
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia