alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
547
Lapor Hansip
06-01-2019 02:34

Senandung Black n Blue

Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati



Senandung Black n Blue


Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:
Heyoyoyoyoy what's up genk !!
emoticon-Wow

Selamat tahun 2019 genk, semoga di tahun yang baru ini, apa-apa yang kalian inginkan bisa tercapai ... aamiin.
Tahun baru semangat baru, dan yang pasti harus berbeda seperti tahun sebelumnya. Seperti saat ini keberadaan gue di Forum SFTH tercinta ini adalah sesuatu yang baru untuk gue pribadi. Karena biasanya gue seliweran di lounge, tapi kali ini gue mau memulai tahun baru ini dengan sesuatu yang baru. Yaitu sedikit memutar roda waktu, bermain dengan kenangan, dan melukisnya dalam sebuah cerita yang berdasarkan kehidupan nyata. Kehidupan nyata siapa? pantengin ajah yang geng. emoticon-Big Grin

Sebelumnya gue menghimbau untuk mematuhi peraturan yang ada di forum ini.
dianjurkan baca ini terlebih dahulu sebelum lanjut membaca.
SFTH RULES
H2H RULES
GENERAL RULES KASKUS

dan, gue membuat peraturan khusus untuk di thread ini.

1. Don't touch my real life
2. Don't ever ever touch my real life
3. Don't ever ever ever touch everyone character in this story dalam dunia nyata.
4. Jangan kepo.
5. Jangan meminta medsos apalagi nomer telpon siapapun yang ada di cerita ini, kalo nomer sepatu gapapalah, kali ada yang mau ngirimin sepatu emoticon-Big Grin
6. Jangan juga meminta foto karena itu di larang, sekalipun boleh ga akan pernah gue kasih.
7. Gue sadar banyak teman-teman gue entah itu teman sd, smp, sma, kuliah, kerja, atau teman di manapun yang aktif dalam kaskus, gue mohon dengan sangat kebijaksanaanya untuk tidak mengumbar identitas asli gue atau siapapun dalam cerita ini dan tetap menjaga privasi semuanya.
8. Jika gue rasa kedepanya cerita gue ini sudah mengganggu siapapun, tidak menutup kemungkinan gue akan menutup threat ini,selesai ataupun belum.
9. Kalau tidak ada halangan cerita ini pasti tamat, jadi jangan tanya kapan update, pasti gue akan update sampai tamat, jika tidak ada masalah kedepanya.
10. Gue hanya manusia biasa, basicly gue bukan penulis, jadi maafkan tata bahasa gue yang semrawut atau bahkan tidak sesuai dalam penggunaanya.
11. Dan gue juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, ambil segala sesuatu yang baik dalam cerita gue, dan jadikan segala yang buruk untuk pelajaran agar kita tidak melakukan hal-hal yang buruk itu.
12. Last, gue anggap pembaca sudah dewasa dan bisa bersikap selayaknya orang dewasa.


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

opening sound
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akutidakperawan dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Senandung Black n Blue
21-10-2019 04:13

Suara Karina

Sejak pertama ku jumpa dirinya
Terpasung anganku dalam binar matanya
Sekejap mata tak relaku melepasnya
Ingin diriku lalui waktu
Hanya bersamamu…

Terbayang slalu akan cantik wajamu
Membuatku terlelap dalam tiap malamku
Separuh hidupku, relaku bersamanya
Membagi cinta hanya berdua
Bersamamu…

Kau takkan pernah tahu
Betapa rindunya aku
Jangan kau ragukan
Aku milikmu

Mungkin saat nanti kita bersama
'kan berbagi rasa dalam setiap duka bahagia
Rasa yang slalukan ada di jiwa
Temani dirimu berdua ke akhir masa



"Kenapa?… kenapa dari sekian banyak lagu yang ada di dunia, kenapa kamu menyanyikan lagu ini, Nata? Jika tujuanmu mengaduk-aduk perasaanku. Selamat, kamu berhasil. Dan memang kamu selalu berhasil! Aku benci! Aku benci, tiap kali dinding dimensi perasaanku tetiba berganti latar menampilkan bangunan-bangunan usang bertembok putih biru, dengan bunga-bunga berkelopak jingga. Di baliknya kita saling beradu nada menyanyikan lagu yang saat ini kamu senandungkan. Aku benci! Aku benci kamu, Nata! Aku benci kamu yang tanpa perlu berusaha; tatapan matamu saja mampu merobek segala lembaran baru yang ingin aku tulisan kisahku tanpa dirimu. Aku benci! Aku benci dirimu sebenci aku membeci diriku yang tidak bisa menghilangkan kamu; perasaanku padamu dalam hatiku. Aku benci".


Aku hanya tertegun bergeming. Sementara Natalia menghampiri Nata yang tengah bernyanyi menyanyikan lagu yang dalam setiap nadanya sungguh-sungguh memporak-porandakan pertahananku. Nata terus bernyanyi, Natalia terus memeluki Nata. Dan aku melihat betapa sebuah kerinduan tertumpah dalam setiap detik Natalia mendekap Nata. Aku yang awalnya sedikit benci, sedikit kesal entah apa yang aku benci dan aku kesalkan; Menjadi banyak tersentuh oleh adegan ini.

Selesainya Nata dan Natalia langsung menghampiriku. Jujur aku sedikit gugup. Jantungku berdetak lebih kencang, nafasku sedikit tidak teratur; aku seperti orang yang baru saja selesai berolahraga. Aneh, pikirku dalam hati.

"Hay". Sapa Nata. 

Entah kenapa sepertinya suara yang diucapkan Nata merambat di udara begitu pelan. Merambat tidak seperti kecepatan suara pada semestinya. Bahkan, semua terasa seperti melambat. Ucapan Hay dari Nata seperti sampai masuk ke dalam telingaku tapi tidak pernah sampai ke dalam otakku. Hanya terus memantul di dalam dinding lubang telingaku.

"Auncy kenapa nangis?" Seperti petir menyambar di tengah melankoli gerimis yang begitu menghipnotis; Suara Natalia tetiba menyadarkanku dari buaian-buaian kenangan yang datang yang tak pernah aku inginkan.

Aku merasa sesuatu yang dingin serta basah berlalu di pipiku. Aku menyeka sesuatu itu yang ternyata air mataku. Aku tertawa sedikit, entah apa yang aku tertawakan. Sambil menyeka air mata yang tak ingin aku jatuhkan. Aku menjawab pertanyaan Natalia.

"I'm fine, darl. Aunty engga kenapa-napa, kok. Cantik".

"Daddy Talia nakal yah?"
Tanya Natalia.

Aku tertawa sejenak. "Iya, Daddy kamu nakal. Daddy kamu Jahat!" Jawabku.

"Ihh Daddy!! Daddy ga boleh Nakal. Nannn ttiii Bunda malah! Daddy baikan, yah. sama Auncy, Daddy". Ucap Natalia sambil menarik tangan Daddynya lalu menyodorkannya ke arahku.

"Iyah, Daddy Jahat yah sama Aunty-nya. Maaf yah Aunty Karina". Ucap Nata. Aku tidak menyambut tangannya Nata yang disodorkan oleh Natalia. Aku memeluk Natalia lalu mengusap-usap rambutnya kemudian mencium keningnya.

"Kamu pintar sekali sih, cantik". Ucapku pada Natalia.

"Auncy, kok ga maafin Daddy-nya Talia?" Tanya Natalia yang langsung membuatku bingung harus menjawab apa.

"Aunty udah maafin Daddy, Kok. Sayang. Kalau Aunty belum maafin Daddy, pasti Aunty Karina-nya udah pergi dari sini".

Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil tasku yang ku letakan di meja. Aku bangkit, kemudian tanpa bicara sepatah kata pun. Aku beranjak meninggalkan Nata dan Natalia… "KAMU YANG MINTA UNTUK MAIN SAMA NATALIA SELAMA BUNDANYA KE JAKARTA, KAN? SEKARANG KAMU MAU LARI GITU AJAH DARI TANGGUNG JAWAB YANG KAMU MINTA SENDIRI?" Suara Nata sedikit nyaring terdengar. Aku menghentikan langkahku sambil memejamkan mata. Perlahan aku berbalik badan dan perlahan juga aku membuka mata lalu melirik ke sekeliling jarak pandang mataku. Kemudian aku hanya bisa tersenyum pada orang-orang yang memandangiku sambil sesekali membungkukan badan entah apa maksudku sambil juga menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal; aku menahan malu sudah menjadi pusat perhatian.

Bagaimana tidak aku menjadi pusat perhatian. Nata yang tiba-tiba bernyanyi, Natalia yang tiba-tiba menghampiri Nata yang tengah bernyanyi, lalu menggiringnya ke hadapanku. Kemudian aku yang tiba-tiba pergi, lalu suara Nata yang menggelegar seakan memecah malam. Sumpah, jika saja di sana kala itu ada yang mengenalku aku bersumpah tidak akan keluar rumah sampai kejadian itu hilang dari ingatan mereka. Untungnya saat itu di sana tidak ada yang mengenalku. Iya, selain Nata maksudku.

"Aduh". Gerutuku dalam hati. Sambil melangkah kembali ke mejaku sebelumnya dengan penuh rasa malu. "Natalia… kita pulang yuk. Sudah malam, bobo yah sayang". Ucapku. 

Natalia menggelengkan kepala sambil memeluk Nata. "Taliaa… Mau bobo sama Daddy, di lumah… kakak bilu". 

"Kakak Biru?" Sahutku sedikit heran. Sementara Natalia menganggukan kepala.

"Kak Bella sudah pindah ke Jogja. Rumahnya ga jauh dari sini. Natalia sering menginap di sana". Sahut Nata.

"Saya tidak bicara sama kamu". Sahutku.

"Ouh… He…he… Saya hanya memberi tahu". Sahut Nata dengan ekspresi yang sebenarnya membuatku ingin tertawa. Ekspresi wajah yang sebenarnya aku rindukan. Tapi aku harus melakukan ini, aku tidak ingin terus terbuai. Aku harus memproteksi diriku dengan segenap tenagaku, karena Nata bukan lagi Nata yang dulu yang aku kenal. Dia telah berubah menjadi orang yang sama sekali tidak aku kenal. Walau sejujurnya secara kasat aku melihat semua tak pernah berubah; aku merasakan perasaan aneh yang sulit aku jelaskan. Seperti aku mendengar kalau dalam hati Nata terus memanggilku. Tapi aku rasa itu hanya halusinasiku. Dan… Entah kenapa aku tersenyum sendiri.

"Senang bisa melihat senyum kamu lagi, Gal". 

"Saya tidak senyum untuk kamu. Dan ingat, nama saya Karina. Bukan Gal!!" Sahutku.

Nata hanya tersenyum, lalu ekspresinya seketika menjadi datar. Nata sejenak bergeming. Tatapannya yang tidak mengarah kepadaku seolah menembus lembah pikirannya yang terdalam dan sedikit menunjukan kecemasan. Aku tidak tahu apa yang Nata pikirkan, tapi entah kenapa aku ingin tahu dan aku juga merasa sedikit tidak enak hati. "Apa aku terlalu keras?" aku bertanya pada diriku sendiri di dalam hati. 

Tetiba Nata memandangku dengan tatapan yang masih dibiarkannya tajam sehingga membuatku seperti terhujami oleh ribuan duri yang menyusupi dinding-dinding perasaanku secara sporadis sampai-sampai apa yang aku pikirkan sebelumnya mendadak hilang; Seperti lembayung yang melingkari relung jantung hatiku, tatapannya tidak membiarkanku memikirkan hal lain selain dia, Nata.

"Maaf". Ucap Nata sedikit melirih. Aku menganggukan kepala.

"Gapapa, aku ngerti". Sahutku.



"Gapapa? Aku ngerti? Karina please…Wake up!. Kamu sedang dipermainkan oleh Nata. Sadar Karina sadar! Yang ada di hadapan kamu saat ini Nata. Nata laki-laki yang selalu bisa membuat lawan bicaranya mengikuti alur pembicaraan sesuai keinginannya. Laki-laki yang memiliki sejuta topeng yang bisa dia kenakan untuk merenggut apa pun yang dia mau. Laki-laki yang sudah menyakiti kamu, yang sudah meninggalkan kamu, bajingan yang sudah merusak banyak orang, laki-laki curang yang sudah merampas semua milik kamu, Karina. Bangun Karina! Bangun! Jangan tertipu jangan terbuai dengan ekspresinya. Dia itu monster mematikan! Bahkan lebih menakutkan dari Medusa!!"



"Engga! Maksud saya… Sudah lupakan". Sambarku meralat ucapannku.

"…"

"What the hell I'm doing!"
Gumamku dalam hati sambil sedikit memejamkan mata dan memalingkan wajahku dari Nata. Aku mendengar Nata sedikit tertawa.

"JANGAN TER…" Sambarku seketika menyadari kalau Nata masih bergeming.

"Karina… ahhhhh". Aku menggerutu sendiri dalam hati. Sementara aku melihat Natalia. Dia memandangiku saat pandangan aku dan Natalia bertemu. Natalia menggelengkan kepalanya seolah mengerti pada keanehanku.

Ya, keanehanku. Kamu boleh menilaiku aneh dengan segala sikapku dan kesalahan tingkahku sendiri saat berhadapan dengan Nata. Aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa menjadi seperti ini. Aku merasa seperti tubuhku tidak menuruti perintah otakku, atau mungkin justru otakku yang sudah terkontaminasi oleh perasaanku, atau mungkin lagi perasaanku yang terbimbangkan oleh hatiku atau boleh jadi karena hatiku yang tidak pernah tegas dengan apa yang ia mau. Apa yang hatiku mau juga aku tidak mengetahuinya. Di tengah akal dari otakku yang merayu untuk menutup bukuku dengan Nata. Hatiku meragu dengan keinginannya; aku tidak tahu apa yang aku inginkan dan aku tidak mengerti apa yang aku lakukan. Dan aku seperti entitas tersendiri yang bimbang bukan diantara iya dan tidak. Tapi diantara tidak dan ketidakmengertian tentang sesuatu yang aku ragukan.

Seharusnya ini akan lebih mudah. Karena hatiku juga tidak mengatakan aku ingin kembali mengarungi waktu lagi bersama Nata. Tapi aku berdiri di tengah keraguan, kebohongan dan kemunafikan. Aku tidak menampik perasaanku seperti berbunga-bunga melihat Nata. Melihat senyumnya, melihat tatap matanya, mendengar suaranya, melihat gerak tubuhnya, melihat pundaknya yang sedikit terangkat kala bernafas, bahkan aku tak menampik kalau diriku senang melihat diamnya dan bahagia menatap kasatnya; khayalanku bersamanya. Dan hatiku meragu apakah yang tidak aku tampikan itu adalah keinginan hatiku atau hanya luapan emosi yang selama ini berada di dalam lembayung rinduku pada sosok laki-laki yang kini di hadapanku.

"Tuhan, mengapa aku menjadi seperti ini". Ucapku dalam hati.

Lalu aku menghubungi Nina; sedikit menjauh dari Nata dan Natalia. Aku memberitahu Nina kalau aku bertemu Nata dan aku juga memberi tahu Nina jika Natalia meminta untuk tidur di rumah Kak Bella. Nina justru menyerahkan keputusan itu padaku. Nina berkata "Terserah kamu saja, saat ini kamu bukan Aunty-nya. Tapi Mommy-nya…" Yang diakhir tawanya di akhir kalimatnya.

"Nina…" Aku ingin protes namun Nina mengkahiri panggilan telponku begitu saja dan tidak menjawabnya saat aku menghubunginya kembali. Aku berpikir sejenak sambil melihat Nata yang sedang berbicara layaknya pendongeng ulung di depan Natalia; penuh keceriaan, tanganya selalu bergerak tiap kali berbicara, ekspresinya selalu bermain sesuai dengan apa yang dia bicarakan, gerak tubuhnya saat berbicara juga tidak berlebihan, Nata juga diam mengamati penuh antusias tiap kali Natalia bertanya dan berbicara.

"biar bagaimana pun, Nata adalah ayahnya Natalia, dan aku bukan siapa-siapanya. Nata memiliki hak penuh pada Natalia". Ucapku dalam hati lalu menghampiri mereka kembali.

"Talia, kamu mau bobo sama Daddy di rumah Kakak Biru?" Tanyaku pada Natalia. Dia mengangguk dengan antusiasnya. "Barangnya Natalia ada di hotel, mau di ambil sekarang?" Aku lalu berbicara pada Nata.

Nata terlihat berpikir sambil menatapku bergantian lalu menatap Natalia. Saat melihat Nata seperti itu aku menyadari satu hal. Penampilan Nata benar-benar berbeda dari terakhir kali aku bertemunya di Jakarta. Jika terakhir kali aku melihatnya begitu lusuh dan agak dekil. Malam ini Nata terlihat rapih dan bersih. Walau kulitnya agak sedikit menggelap dari terakhir kali aku bertemunya di Chicago atau saat menjelang pernikahannya dengan Nina. Aku harus mengakui malam ini Nata menunjukan kelasnya. Dan itu membuatku makin bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang Nata lakukan. Maksudku, jika memang dia tidak dalam kondisi di bawah, mengapa saat itu Nata markir?

Sejujurnya aku ingin bertanya, namun aku sedikit gengsi untuk bertanya. Aku tidak ingin terlihat atau Nata menilaiku masih kepo terhadap dirinya. Walau sebenarnya itulah yang terjadi. Tapi aku tidak ingin atau setidaknya membuat ini mudah untuk Nata. 



"Kenapa aku menggunakan kata mudah?
Entahlah, aku tidak mengerti apa yang aku mau dan apa yang aku rasakan. Rasanya aku tidak ingin menyelami kembali ke dalam hidup Nata. Namun waktu seolah menggiringku untuk aku berenang kembali ke dalam telaga perasaan yang dulu pernah aku keringkan airnya".




"Yasudah, kita ambil barang-barang Natalia di hotel tempatmu menginap". Ucap Nata yang langsung membuyarkan lamunanku.

"Hhaah…". Sahutku "Oh iya, sekarang?" 

"Kamu sudah selesai?" Tanya Nata.

"Sudah, semenjak kamu datang. Apa yang saya lakukan di sini, sudah selesai". Jawabku lalu mengaitkan tas di pundakku kemudian membawa barang belanjaan aku dan Natalia.

"Aku bantu?" Nata mencoba meraih bawaanku namun aku langsung menghempaskan tangannya.

"Saya bisa sendiri". Sahutku, Nata lantas tersenyum. Namun aku tahu senyumnya adalah senyum yang dipaksakan.

"Maaf, Nata". Ucapku dalam hati.



"Kenapa aku meminta maaf?" 
"Bodoh!" 




Aku tidak mengerti. Mengapa saat aku bertemu dengan Nata sebelumnya, aku bisa sedikit menjaga sikapku; tidak menunjukan emosiku; tidak menunjukan jika perasaanku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa setelah aku sedikit mengetahui tentang Nata; tentang kondisinya yang sudah berstatus duda, tentang dia yang baik-baik saja, tentang dia yang menurut penuturan Nina masih memiliki perasaan yang besar terhadapku. Justru aku tidak bisa mengontrol diriku. Selalu saja apa yang aku lakukan bertolak belakang dengan perasaan setelahnya; perasaankh yang selalu merasa bersalah sudah bersikap sedikit keras pada Nata. Bukan sedikit, aku merasa aku memang sudah terlewat kasar. 

Apa benar aku tidak menginginkan Nata kembali padaku?
Apa benar aku ingin menjalin lagi hubungan yang dulu pernah terjalin begitu indah antara aku dan Nata?

Tidak!
Waktu yang dulu pernah aku jalani bersama Nata takkan pernah kembali sama seperti sebelumnya. Masa lalu tetap masa lalu, walau pun itu di kembalikan pada masa ini; dijalani oleh orang yang sama. Hasilnya tetap berbeda dengan masa lalu.

Itu kata siapa?
Itu kata Nata!
Kenapa aku masih selalu mengingat apa yang dulu Nata pernah katakan padaku?
Kenapa!!!!!



Pada akhirnya aku sampai pada malam di mana aku tidak memikirkan apa-apa. Pada malam tanpa bunyi-bunyi sepi. Pada malam yang tidak pernah bisa aku gambarkan dengan kata-kata selain kosong. Aku tidak bisa memasuki dimensi heningku, pikiranku terasa mati. Jika tidur saja aku bisa bermimpi; sebelumnya aku sering berhayal dan berdoa tentang ingin-inginku. Pada malam ini bahkan aku tidak tahu apa yang aku inginkan; apa yang harus aku doakan. Aku merasa bimbang dengan apa yang aku bimbangkan. Aku merasa tidak tahu apa yang aku tidak tahukan. Aku merasa tidak mengerti apa yang aku tidak mengertikan. Aku merasa bingung dengan apa yang aku bingungkan.

Dan, setelah Nata mengambil barang-barang Natalia di kamar hotelku. Aku hanya berdiri menatap kearah jendela kaca yang di luarnya terpampang jelas keramain malam pusat kota Jogja dengan segala ketidak merasaan; aku tidak merasakan apa-apa; selayaknya raga tanpa jiwa; katakan saja, aku mati.



Pada masanya aku datang untuk membuat kenang, dalam tarian-tarian riang diantara jarak pagi dan petang. Diantara batas tawa dan luka, diantara nama-nama yang terlupa, diantara jejak darah dan tilas Semesta.

Pada akhir purnama aku kembali; diantara keengganan dan kenangan diri; pada sesuatu nadir yang ku putuskan perih; pada sumpah yang terucap kelam; pada jejak darah yang tak inginkan ku sulam.

Antara Ibu dan kosakata; pada suatu nama yang telah jadi jelaga; pada Ibu yang berkata pulang; pada sadarku yang terus melayang; datang untuk mengenang; begitu pilu untukku buang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
profile picture
kaskuser
21-10-2019 07:56
Dalem banget rasa Karina ke Nata...Emang soulmate nih berdua
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
true-story-mengejar-marika
Stories from the Heart
stories-re-imagined
Stories from the Heart
jaran-sungsang
Stories from the Heart
gelora-sma
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.