alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
50
Lapor Hansip
10-10-2019 10:00

Beli Rokok & Pulsa Bisa, BPJS Kesehatan Goceng Sehari Ngeluh


 

Beli Rokok & Pulsa Bisa, BPJS Kesehatan Goceng Sehari Ngeluh




Rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan menjadi kontroversi di kalangan masyarakat saat ini. Banyak masyarakat merasa iuran yang dinaikkan terlalu besar dan memberatkan terutama yang berpenghasilan rendah.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menganggap kenaikan iuran BPJS Kesehatan adalah hal yang wajar. JK menyoroti warga yang menghabiskan uang untuk hal-hal konsumtif dibanding kesehatan.

"Beli pulsa aja jauh lebih besar dari itu. Masak, lebih mementingkan pulsa daripada kesehatan," kata JK yang dikutip Kamis (10/10/2019).

JK mengatakan iuran BPJS Kesehatan dinaikkan agar anggaran pemerintah tidak defisit. Pemerintah sudah melakukan kerja sama dengan daerah terkait pembiayaan BPJS yang dinilai tidak akan membebani warga kurang mampu.
[table][tr][td][/td]
[/tr]
[/table]
"Naiknya tarif itu tidak akan membebani orang miskin karena PBI (penerima bantuan iuran) itu serta yang dibiayai oleh pemerintah itu lebih dari 100 juta. Sebenarnya ini hanya cara pergantian defisit, karena kalau defisit pemerintah juga bayar. Tapi kalau ini naik tarif, pemerintah juga yang bayar yang lebih 120 juta itu," tutur JK.

JK mengatakan, seusai kenaikan iuran nanti, tidak akan terjadi lagi defisit. Pembiayaannya, menurut JK, juga akan dibantu pemerintah daerah.

"Artinya penduduk satu daerah, ini silakan kelola dengan dana sekian. Lebih desentralistis. Pokoknya kalau sudah naik, kalau sudah naik tidak ada lagi defisitnya, kalau sudah naik nanti," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris menjelaskan soal rencana pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan. Kenaikan iuran ini dikarenakan defisit yang terjadi akibat banyaknya fraud dan tingkat kolektibilitas yang rendah.

Fahmi mengatakan, iuran yang naik dua kali lipat sebenarnya tidak seperti itu narasinya.

"Iuran naik dua kali lipat itu ngga seperti itu narasinya. Narasi kelas satu itu kurang lebih Rp 5.000 per hari lho. Kelas dua itu sekitar Rp 3.000 per hari dan kelas tiga ngga sampai Rp 2.000 per hari, kalau kita punya uang Rp 2.000 itu bisa kita taruh per hari," papar Fahmi di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Nah menurut Fahmi, jika mengumpulkan Rp 5.000 per hari atau Rp 3.000 dan menyisihkan Rp 2.000 per hari itu berat maka pemerintah tidak tinggal diam. Menurutnya ada 96,8 juta peserta miskin dan hampir miskin yang dibiayai pemerintah.

"Kita parkir motor kan Rp 2.000 sekali. Rokok paling murah Rp 8.000 per bungkus. Kalau tidak mampu lagi pemerintah akan hadir," kata Fahmi


sumur

melanjutkan dari artikel sebelumnya :


Terungkap, inilah golongan yang membuat keuangan BPJS Kesehatan selalu tekor




Wahai Orang Mampu, Bayar Dong Tagihan BPJS Kesehatan!



Penyebab Tekor :

1) Fraud
2) Tingkat kolektibilitas rendah

Kategori Peserta yang bikin tekor :
Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU), dari 29 juta hanya 50% yang membayarkan iuran rutin setiap bulan

Bentuk Fraudnya :
a) Mendaftar ketika sakit, begitu sembuh berhenti membayar (hal ini termasuk dalam kolektibilitas rendah) dimana rata-rata penyakit dari PBPU ini penyakit golongan katastropik atau perawatan yang membutuhkan biaya tinggi.
banyak kasus seperti ini : sakit, baru buat atau bayar iuran (karena sebelumnya nunggak) trus di operasi dengan cost lebih dari ratusan ribu setelah itu gak bayar lagi emoticon-Gila

Bentuk Penindakannya :
pembatasan pada akses pelayanan publik (SIM, Paspor dan Perpanjangan STNK)-masih wacana
perberlakuan Time Lag, jadi tidak langsung menikmati fasilitas BPJS, ada waktu tertentu.emoticon-Thinking
profile-picture
profile-picture
profile-picture
corobikang dan 4 lainnya memberi reputasi
1
Beli Rokok & Pulsa Bisa, BPJS Kesehatan Goceng Sehari Ngeluh
10-10-2019 10:41
untuk orang mampu gak dikasih buat sim dan pasport itu cukup merepotkan ga bisa nyetir dan ga bisa ke luar indo emoticon-Big Grin
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.