alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
07-09-2019 16:41
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Credit : pandaibesi666


Rasanya akan mengurangi keseruan cerita ini, jika kuberitahu cerita apa ini, maka lebih baik langsung saja ku ceritakan, dan silahkan membaca.

1. Prolog
Bima, biasa orang memanggilku. Ralat, setelah kutimbang, orang biasa lebih memilih untuk memanggilku si gondrong, itupun sangat jarang sekali mereka memanggilku. Hanya bunda, Koh Hendra pemilik toko kelontong tempatku bekerja, dan beberapa orang lainnya memanggil aku Bima. Ya, aku bukan orang yang mudah bergaul, dan juga kurasa tidak ada yang mau berteman denganku. Ini adalah hari ketujuh aku bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta, atau mungkin tidak berlebihan jika kukatakan sekolah terbaik sekaligus termahal di Negri ini, Indonesia. Hanya anak dari pejabat-pejabat atau pengusaha kaya raya, yang mampu membiayai anaknya untuk sekolah disini, sekolah penghasil lulusan calon sukses, atau lebih dikenal dengan nama B.I.S. (Barata International School). Barata nama pemilik sekolah ini, seorang pengusaha kaya dan cerdas, setidaknya begitu yang kudengar dari bunda, Koh Hendra, dan siswa-siswa yang sedang bercengkrama satu sama lainnya di kantin. Sedangkan aku, duduk sendirian di pojok kanan kantin, tanpa ada satu orangpun yang sudi duduk denganku, barangkali karena tak ada yang tahu siapa itu Tabara pikirku, dan memang kenyataannya akupun tak tahu siapa itu Tabara,yang kutahu hanya itu adalah nama belakangku, dan bunda tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ayahku. Lalu kembali aku memikirkan kejadian 7 hari yang lalu. Hari pertama aku bersekolah disini untuk melanjutkan pendidikanku setelat tamat dari smp."Halo, perkenalkan aku Bima Tabara." Ucapku ketika giliranku tiba, ya walikelas meminta kami untuk berdiri dan memperkenalkan nama masing-masing."Apa bidang pekerjaan ayahmu?" Tanya  siswa yang duduk di belakangku."Aku tak punya ayah" jawabku sedikit gemetar, entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan ini, tetapi tetap saja aku bergetar ketika ditanya tentang ayah. Bunda tidak pernah bercerita apapun tentang ayah. Pernah sekali aku bertanya padanya, hanya kemarahan dan amukan yang kudapat darinya. Tak pernah sekalipun aku melihat seperti apa bentuk wajah ayahku.
"Lantas, bagaimana dengan ibumu?"Tanyanya lagi. "ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah tetangga." kurang dari setedik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba saja seisi sekelas yang tenang berubah menjadi ricuh.
"bagaimana bisa dia bisa sekolah disini?" Dan masih banyak suara-suara lain yang sangking banyaknya, tidak dapat kutangkap semuanya.
"sudah-sudah, silahkan duduk, dan lanjutkan siswa sebelahnya"ujar sang guru, yang walaupun tidak membuat suasana kelas menjadi tenang seperti sebelumnya, tapi membantu mengurangi keributan didalam kelas yang terjadi karena aku.Terpikirla aku akan perkataan bunda.

"Apa benar tidak bisa bersekolah di tempat lain saja?" Tanya bunda, berbanding terbalik dengan ekspetasiku saat akan memberitahukan berita bahagia ini, bahwa aku mendapatkan  beasiswa di B.I.S., bukan beasiswa berupa potongan spp, tetapi benar-benar beasiswa penuh, dengan kata lain aku bisa belajar di sekolah terbaik di Negri ini, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
"Hanya sekolah ini bun yang bisa memberikanku beasiswa, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah sendiri, aku juga mungkin bisa melanjutkan studi  ke luar negri gratis dan memperbaiki keadaan kita bun."ucapku berseri-seri, bahkan Koh Hendra pun menyelamati aku ketika aku memberitahunya tentang berita ini. "Belajarla sungguh-sungguh, kelak ketika kamu sukses, jangan lupa dengan kokoh ya." pesannya.
"Bila memang itu maumu, yasudah..."

tteett....tteett....

Lonceng pertanda waktu istirahat habis membuyarkan kenanganku. Mungkin bunda tahu bahwa orang tak punya sepertiku mungkin akan kesulitan untuk bergaul di sekolah ini, sekolah para siswa yang katanya berpendidikan tinggi, dan kaya raya ini. Berdirila aku dan kutenteng roti yang tadi kubeli dan belum sempat kuhabiskan, dan berjalan menuju kelasku, X MIPA 3. Sesampainya di kelas aku langsung berjalan ke meja belakang pojok belakang kanan, entah kebetulan atau emang orang tanpa teman sepertiku diharuskan duduk di tempat yang tidak terlihat. Tetapi begitulah, berdasarkan denah tempat duduk yang sudah dibuat oleh walikelas, tempat dudukku adalah di paling belakang, sebelah kanan, sendirian.

1 minggu kemudian.....

Seperti biasa, walikelas masuk untuk memberikan briefing (sudah tradisi setiap pagi walikelas datang ke kelasnya masing-masing untuk memberikan informasi, ataupun wejangan-wejangan terhadap muridnya) walau lebih sering dilakukannya adalah memberikan nasihat nasihat picisan, seperti jagalah kebersihan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh, dan masih banyak lagi.
"Hari ini, ada kedatangan siswi, direkomendasikan langsung oleh Herman Barata." Lantas bagaikan Dejavu dihari perkenalan aku 2 minggu yang lalu, terulang lagi kejadiannya. Suasa kelas menjadi ramai, dan akhirnya kudapatkan lah informasi. Singkatnya, sudah ada banyak isu-isu bahwa pacar dari Robert Barata, anak dari pemilik sekolah ini akan belajar disekolah ini. Kurasa hanya aku, yang tidak tahu siapa itu Robert Barata, sampai sekarang, baru aku tahu bahwa Heman Barata memiliki anak yang  memiliki prestasi luar biasa, dan sedang bersekolah juga disini, beda angkatan tapi. Ya, dia kelas 11. Tiba-tiba saja suasana kelas menjadi tenang, kuperhatikan wajah siswa-siswi di kelasku. Tak ada satupun yang berkedip, memandang ke depan, ke arah papan tulis. Bingung, akupun menoleh ke depan untuk melihat siapa gerangan yang bisa menenangkan kelas ini.

Memang bukan main cantiknya, hidungnya mancung, rambutnya panjang terurai lurus. Matanya tajam, siap menusuk siapapun yang menatap matanya yang bewarna cokelat itu. Badannya tidak kurus, juga tidak gembrot. Mukanya mulus, putih, seperti tidak pernah keluar rumah, dan pasti banyak uang dihabiskannya untuk perawatan pikirku. Benar-benar seperti Apsara (baca:bidadari) yang biasa kubaca di buku novel.
"Halo, perkenalkan namaku, Vienna."
Astaga, bahkan suaranya pun bisa menghiphotis siapapun yang mendegarnya, lembut dan halus. Berbanding terbalik dengan yang aku alami, tak ada satupun orang yang bertanya pekerjaan orangtuanya, nama belakangnya-pun tak ada yang berani tanya. Mungkin karena kecantikannya, murid menjadi tidak peduli dengan latar belakangnya, mungkin juga karena dia adalah pacar Robert, sehingga tak ada yang meragukan latar belakangnya.


buat yang mau baca via wattpad

Chapter I
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chapter II
10.
11.
12.
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
08-09-2019 13:27
3.Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan minggu depan, jadi tidak heran aku saat melihat semua murid belajar dengan sungguh-sungguh, berbeda dari biasanya yang selalu saja ribut saat guru sedang menjelaskan, sedangkan aku fokus belajar, bukannya menyombongkan diri, tetapi tujuanku bersekolah untuk mendapatkan ilmu, aku paham betul bahwa untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negri maka aku harus mendapatkan nilai yang besar.

Oh ya, aku sekarang sudah tahu wajah si Robert, pria yang di idam-idamkan oleh barangkali semua siswi di sekolah ini. Bahkan jika aku ini wanita, mungkin sudah jatuh hati aku kepadanya. Masih ingat aku, saat itu, dua hari yang lalu, tiba-tiba saja seluruh murid B.I.S diminta untuk berkumpul di lapangan, ada pengumuman yang sangat penting katanya. Anggota OSIS pun segera mengatur murid agar berbaris dengan rapi, setelah semua murid sudah berbaris dengan rapi, mulaila pak Tresno, kepala sekolahku berbicara di tengah lapangan, di atas podium kecil.
"Selamat pagi, murid-murid yang saya cintai, staff-staff dan guru yang saya hormati. Hari ini ada berita bahagia untuk sekolah kita, mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang tahu." Sontak beberapa siswa dan siswi bertepuk tangan sambil berseru " Robertttt."
"Ada siswa kita yang berkesempatan untuk kuliah di salah satu University Ivy League, Harvard University, ini adalah sebuah peluang besar bagi sekolah kita, Robert akan membuka jalan agar kedepannya, akan ada lebih banyak lagi siswa kita yang bisa melanjutkan studi di Ivy League, barangkali di Yale University." Lagi-lagi tepuk tangan bergemuruh di lapangan ini. Bukan dari beberapa siswa yang sudah tahu, tapi kini karena semua siswa sudah tahu beritanya, hampir seluruh murid bertepuk tangan gembira.
"Robert Barata, silahkan maju ke depan." Lagi-lagi seakan tiada hentinya, kembali tepuk tangan dari murid-murid B.I.S terdengar.
Kulihat seorang lelaki dengan rambut pendek, keluar dari barisan siswa kelas 11, dengan langkah tegap ia berjalan ke arah pak Tresno. Oh, ini yang namanya Robert Herman, pangerannya Putri Vienna, pikirku. Benar kata orang wajahnya memang sungguh tampan, cocok betul untuk Vienna.
Dengan bahasa inggris yang fasih ia mulai berbicara, kira-kira beginilah setelah kuartikan, dengan kemampuan bahasa inggrisku yang lumayan bagus. Memang aku sering membaca dari kamus, karena tujuanku adalah seperti Robert ini, melanjutkan studi ke luar negri, meski mungkin tidak ke Ivy League, setidaknya universitas biasapun tak masalah asal bukan di Asia.
"Terimah kasih banyak untuk guru yang sudah membantuku untuk bisa diterima belajar di Harvard, aku akan berusaha sebaiknya untuk belajar dengan tekun, dan menjaga nama baik sekolah ini. Dikarenakan, aku harus menjalani program Foundation sebelum menjalani program Degree, maka aku akan berangkat ke Amerika Serikat, kurang lebih tiga puluh hari lagi. Untuk teman-teman seangkatanku, aku berharap kalian dapat mendapatkan nilai UN dan USBN yang bagus, dan dapat mendapatkan universitas yang bagus." Setelah lagi-lagi tepuk tangan oleh murid-murid, pak Tresno lalu mempersilahkan Robert untuk kembali ke barisannya, kemudian briefing selesai. Sebagian siswa kulihat langsung mengerumuni Robert, mungkin mengucapkan selamat atas prestasinya, mungkin juga memberikan semangat untuknya.

tteett....tteett.....

Suara lonceng tanda waktunya istirahat, dan suara decitan dari kursi yang bergeser, tanda para murid meninggalkan kelas untuk ke kantin atau sekedar berjalan-jalan di lingkungan sekolah membuyarkan pikiranku. kulihat Vienna, juga berdiri dan berjalan ke arah pintu, ternyata Robert. Memang akhir-akhir ini Semakin sering saja Robert datang ke kelasku untuk menegok Vienna, barangkali karena mereka akan segera berpisah, jadilah ia berusaha mengisi waktu sebanyak-banyaknya dengan kekasihnya. Sedangkan aku, malas rasanya untuk ke kantin, bukan hanya karena malas akan keramaian, tapi juga karena harganya yang sangat mahal. Pernah sekali aku membeli Snack, harganya 3 kali lipat dari harga yang diberikan oleh toko Koh Hendra, tapi tetap saja kantin sekolah ramainya bukan main. Hanya beberapa siswa yang memilih untuk tetap di kelas, kulihat mereka ngobrol dan tertawa bersama. Terkadang aku berimajinasi bagaimana bila aku punya teman, mungkin aku bisa sedikit lebih bahagia, melihat mereka tertawa bersama, memang membuatku sedikit cemburu. Segera kutepis imajinasiku, dan segera kuambil buku catatan sekolahku dari laci mejaku, tapi kuurungkan niatku setelah aku melihat ada selembar kertas di lantai bawah meja. Kuambil kertas itu dan kulihat ternyata lukisan seseorang anak kecil, tidak bisa kupastikan apakah ini gambar seorang anak laki-laki atau anak perempuan, karena di lukisan ini ia sedang menghadap ke belakang, sehingga hanya rambutnya-lah yang bisa kulihat, rambutnya panjang, barangkali anak perempuan pikirku, di atas ujung kanan kulihat ada tulisan : Temanku...., tapi punya siapa lukisan ini? Makin bingung aku jadinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
profile picture
newbie
09-09-2019 14:59
lajutken brooo.. mantapp
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.