Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4603
Lapor Hansip
11-11-2017 05:29

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
ini kisah tentang anak jaman dahulu yang hidup di era
Kerajaan Majapahit.
Jelas ini bukan kisah nyata, ini 100% fiksi!
meski begitu, yang merasa tahu, kenal akan tokoh yang diceritakan. Mohon dengan amat sangat tidak membocorkannya, agar tidak merusak alur cerita.

Bila ada kesamaan kisah hidupnya dengan salah satu tokoh di cerita ini, saya mohon maaf, tidak ada maksud untuk membuka kisah lama Anda.
Saya hanya iseng nulis cerita.

Jadi.. Selamat membaca!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 107 lainnya memberi reputasi
102
icon-close-thread
Thread sudah digembok
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
31-08-2019 00:09
DUTAMANDALA DIBUANG


Jingga dan Lencari menyaksikan dari jauh seluruh prosesi itu. Mereka terharu melihat perjuangan Ratna, tidak mudah bersikap di lingkungan keterpaksaan seperti itu. Apalagi bagi Ratna yang pernah melarikan diri dari lingkungan istana yang penuh kekangan dan aturan yang memasung kebebasannya. Lalu mengenyam hidup merdeka saat bersama Jingga. Lencari menggenggam erat tangan Jingga. Entah apa maksudnya. Sementara Jingga tidak tahu harus berbuat apa. Ada keinginan untuk menolong, tapi tidak tahu harus menolong apa. Ratna tidak terlihat meminta tolong. Sedangkan dirinya sendiri masih banyak masalah yang harus diselesaikan saat ini.

Sebaik baiknya menyelesaikan masalah orang lain, lebih utama menyelesaikan masalah diri sendiri. Kalimat nasehat yang dulu diucapkan ayahanda kini terngiang di benaknya.

Jingga lantas memandang Lencari yang terlihat cemas. Dengan halus, Jingga mengusap punggung tangan Lencari agar tidak terlalu tegang.
"Kasihan," kata Lencari simpati.

Jingga menjawab dengan anggukan.

"Ratna sedang berjuang, sama dengan kita. Hanya jalannya berbeda."

Lencari menangkap maksud Jingga dan Ia lega. Awalnya Ia takut suaminya fokusnya terganggu setelah melihat kehadiran Ratna yang bisa mengacaukan rencana yang sudah disusun jauh jauh hari.

Acara demi acara berjalan lancar. Diatas panggung panjang terlihat Mahapatih yang selalu dekat dengan Raja. Di sisi lain Dutamandala terlihat begitu ceria, menempati tempat yang paling dekat dengan Raja setelah Mahapatih. Membuat Jingga berpikir, apakah peperangan di Pamotan juga ada andil Dutamandala?

Jingga mencoba mengenali satu persatu pejabat yang hadir untuk mendapat kaitan antara mereka. Tak banyak yang Ia tahu. Ia mencoba mencari dimana Wredamenteri Ranggapane. Beberapa waktu lalu, Jingga sempat melihat Raden Ranggapane di suatu tempat. Namun kali ini tidak terlihat keberadaannya. Padahal dari informasi yang beredar, Wredamenteri Ranggapane ini sejak Jingga masih di Kadewaguruan sudah terkenal akan pengaruhnya.

Yang tidak diketahui Jingga dari Wredamenteri Ranggapane, di setiap orang yang mengenalnya punya persepsi yang berbeda beda.

Jingga merangsek mendekat ke tempat Dutamandala berada. Jingga mengukur kekuatan orang orang disekitar Dutamandala. Para pengawalnya saat ini tidak bisa ikut ke tempat undangan. Jadi keamanan dirinya bergantung pada prajurit pengamanan di sekitarnya. Yang tidak hanya menjaga dia, tapi seluruh undangan yang hadir siang itu. Sementara undangan lain, rata rata dari postur tubuh mereka yang keberatan perut. Bukan menjadi ancaman berarti.
Kini Jingga fokus kepada Dutamandala seorang. Dutamandala mengenakan keris panjang diselipkan di punggungnya. Keris gagang gading, dengan sarung campuran emas. Sedangkan di pinggangya terselip belati kecil, belati yang biasa dipakai Prajurit dalam kesehariannya. Sepertinya Dutamandala terbiasa menjaga diri menggunakan belati kecil itu. Sedang keris panjang nan mewah itu hanya dikenakan saat acara acara tertentu saja.

Acara inti selesai, berganti acara ramah tamah dan hiburan. Para undangan dan peserta bergerak bebas, bercakap cakap dan menikmati aneka hidangan. Di hadapan Raja, para putri kraton dan gadis gadis pilihan menari tarian perang, mereka berdandan ala prajurit yang sedang bertugas di medan laga. Tabuh tabuhan terdengar indah menarik hati untuk terus mengikuti setiap gerak para penari itu.

Dalam keceriaan yang ditebarkan para penari itu, Jingga sudah berada tepat dibelakang Dutamandala. Sementara Lencari diam menunggu di sisi panggung.
Sekali hentak, Jingga melenting ke atas panggung, langsung mengunci leher Dutamandala dari belakang. Secara reflek Dutamandala melakukan perlawanan dengan meronta berusaha melepaskan kuncian. Tangan kanannya mencabut belati kecil andalannya. Ia lalu menghunjamkan lewat samping kepala kirinya, mengincar wajah Jingga. Jingga sigap menghindari serangan, melepaskan cengkeraman tangan kanannya di leher Dutamandala, langsung menangkap pergelangan tangan Dutamandala tanpa melihat dan memelintir kebawah. Dengan kekuatannya, belati itu berganti mengarah ke dada Dutamandala sendiri. Sekuat tenaga Dutamandala mencoba melepaskan cengkeraman jingga. Sebuah pukulan tangan kiri Jingga di tengkuk Dutamandala mengakhiri perlawanannya. Dutamandala terjatuh tak sadarkan diri.
Cepat Jingga merampas belati dan membuang keris panjang yang diselipkan di punggung Dutamandala.

Seketika suasana menjadi gempar. Para penari berlari menjauh. Orang orang berhamburan kesana kemari berusaha menyelamatkan diri. beberapa dari mereka tanpa pikir panjang melompat dari atas panggung menimpa orang orang dibawah.

Prajurit pengamanan bergerak cepat mengepung Jingga yang mengunci leher Dutamandala dengan erat.

Yang dikepung bersikap biasa saja. Ia berjalan sambil menyeret Dutamandala ke bibir panggung undangan.

Melihat tuannya dalam bahaya. Para pengawal Dutamandala berhamburan menuju panggung. Mereka menyerang Jingga tanpa banyak bicara. Jingga melayani dengan tenangnya menjadikan Dutamandala sebagai perisai. Tak ayal mereka langsung menahan semua serangan takut senjata senjata mereka mengenai tuannya.

Saat Jingga perhatiannya teralihkan ke para pengepungnya, Jingga tidak mengetahui kalau Dutamandala sudah tersadar dari pingsannya dan kembali berkelit melepaskan diri. Usahanya kali ini berhasil, Ia menjatuhkan diri ke lantai kayu lalu menggelinding melarikan diri. Tapi Dutamandala tidak tahu yang dihadapinya kali ini adalah Jingga.
Jingga tidak berusaha menangkap. Ia hanya meloncat lalu menginjak sendi pundak Dutamandala, gerakannya seperti anak anak menginjak kepiting yang lari di pantai. Sekali injak terdengar bunyi krak!

Dutamandala langsung mengerang kesakitan, tulang selangkanya remuk. Benar benar pemandangan yang membuat ngilu. Para prajurit dan pengawal Dutamandala yang mengepung sampai meloncat mundur, menyadari musuh mereka bukan orang sembarangan.

Padahal saat Dutamandala menjatuhkan diri, peluang menyerang Jingga terbuka lebar. Bukan dengan meloncat mundur seperti itu.

Mendapat ruang, Jingga lantas melejit turun ke tengah alun alun dengan menenteng tubuh Dutamandala yang bagai kain basah, setengah pingsan karena kesakitan.

Gerakannya ringan dan cepat, seakan tubuh Dutamandala hanya berisi kapuk kering. Anak buah Dutamandala dan prajurit penjaga hanya bisa melongo melihat gerakan indah Jingga meloloskan diri dari kepungan mereka.

Prajurit Bayangkari yang berjaga di area Raja akhirnya bergerak mengurung Jingga dengan kurungan berlapis. Mereka hanya mengurung, tidak menyerang, takut serangannya melukai Dutamandala.
Mempertahankan jarak aman antara Jingga dan Raja yang mereka jaga.

Jingga mengerti, bila Ia terus maju, maka Ia akan diserang Prajurit Bayangkari, tak peduli Dutamandala akan tewas, karena tugas mereka menjaga keselamatan Raja. Jingga berhenti, memberi hormat kepada Raja.

Raja terlihat terkejut dan berhati hati. Ki Bekel Bhayangkari dan Mahapatih menghunus senjata berjaga di kanan kiri Raja.
"Siapa dia?!" Tanya Raja penuh amarah melihat pemuda dusun yang berani mengacau di acara kerajaan.

Mahapatih tak keburu menjawab. Ia seperti mengenal pemuda itu, apakah ini Jingga? Ia langsung tersentak dengan jawabannya sendiri. Mengingat sebelum ini Ia menolak keinginannya bertemu, puncaknya ketika Jingga mengembalikan lencana yang diberikan kepadanya. Kesalahannya, Ia tetap merahasiakan tentang kedatangan Jingga di Wilwatikta kepada siapapun.

Mahapatih tidak menduga sama sekali kalau Jingga akhirnya akan berbuat nekat seperti ini. Ia terus berhitung membaca situasi. Yang ditawan adalah Dutamandala. Pendana pekerjaan pekerjaan kotor di Majapahit. Dan kali ini Ia membutuhkan dananya untuk membayar denda Laksamana Cheng Ho. Jadi Dutamandala harus Ia selamatkan. Kepada perwira penghubung, Mahapatih memerintahkan sepasukan khusus untuk maju menyelamatkan Dutamandala. Pasukan itu lantas bergerak menyusup mendekat lokasi Jingga.

Ratna yang berada di baris belakang Raja bersama adik adiknya tak kalah terkejut melihat kehadiran Jingga disini. Orang yang selama ini selalu menghiasi mimpinya akhrnya hadir. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Apakah menyambutnya, atau diam saja. Ia mengenal Jingga yang selama ini dianiaya oleh Dutamandala. Tiba tiba Ratna mendapat kesadaran baru. Dalam kondisinya seperti ini, meski tidak bisa hidup bersama Jingga. Namun Ia masih bisa berjuang membela Jingga walau akhirnya harus mengorbankan dirinya. Saat ini dirinyalah yang paling dekat dengan Raja. Ia bisa menjelaskan langsung tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Ratna lantas maju mendekati Raja, mau mengatakan kalau Ia mengenal Jingga. Saat hendak mengatakan, Jingga sudah lebih dulu mengenalkan diri.

"Perkenankan hamba memperkenalkan diri, Hamba adalah Jingga, Raja Blambangan," kata Jingga dengan suara lantang.

Seketika seluruh orang yang mendengarnya berseru terkejut. Tokoh yang selama ini mereka kenal dari cerita cerita yang berkembang di Wilwatikta. Tokoh yang digambarkan amat seram dan kejam. Sekarang muncul dihadapan mereka. Beberapa tidak percaya, karena penampilannya yang mriyayeni meski berdandang ala orang dusun. Tak ada sedikitpun kemiripan dengan yang digambarkan di cerita cerita.

Memang sejak awal penetapan Jingga dijadikan buronan, latar belakangnya yang orang Blambangan disangkut pautkan dengan kisah raksasa dari Blambangan dalam kisah Panji. Ceritanya semakin mendapat pembenaran ketika tersebar kabar Jingga membawa lari istri salah seorang Pangeran. Mirip dengan raksasa dalam kisah panji yang merebut calon permaisuri. Lalu membunuh Senopati dan pengawalnya yang ditugaskan menjaga Blambangan. Para prajurit yang kembali dari Blambangan menambah cerita cerita yang semakin mengerikan, bahwa mereka melawan pasukan gaib, raksasa dengan gada cetbang. Hal ini dilakukan para prajurit itu untuk menutupi rasa malu karena kalah memalukan.

Jadilah Jingga dikenal di Wilwatikta sebagai sosok mengerikan dan ditakuti.

"Maaf Prabu Wikramawardhana, hamba telah lancang merusak susana gembira ini. Namun karena hanya saat inilah waktu yang tepat untuk menyelesaikannya, maka hamba memberanikan diri mengungkapkannya.

Mengapa Hamba menangkap orang ini? Ia adalah Dutamandala, yang punya dendam pribadi kepada Hamba, karena hamba menangkap putranya yang berbuat kejahatan dalam keprajuritan.
Ia membalas dengan memfitnah hamba sebagai pembunuh putranya. Sehingga hamba menjadi buronan Majapahit.

Tidak sampai disana, Ia memerintahkan orang membunuh Ayahanda Kebo Marcuet. Mengadu domba saya dengan kakakku.
Ia mengirim pasukan menggempur Blambangan sehingga hampir membunuh seluruh prajurit Blambangan termasuk Patih Etan dan Raja Blambangan.
Wajar hamba membalas, dengan memukul mundur pasukan itu. Hamba suruh pulang tanpa banyak melukai.

Tapi orang ini masih mengirim lagi Senopati Kijang Anom. Karena kami cinta damai, pasukan yang datang kami terima baik sepanjang mereka berbuat baik dan wajar."

Kalimat Jingga terhenti ketika sebuah anak panah meluncur deras mengincar keningnya. Jingga menoleh tanpa menggegerkan tubuh, tangannya berkelebat menangkap anak panah itu tepat di kepala besinya. Dengan sekali kibatan, Jingga mengembalikan anak panah itu ke asalnya.

"Errrggggh!"

Terdengar erangan disusul suara orang jatuh. Orang yang tadi melepas panah diam diam diantara kepungan prajurit.
Jingga kembali melanjutkan seolah tidak terjadi apa apa.

"Terakhir Ia mengirim Senopati Branjangan yang brangasan. Membunuh banyak rakyat Blambangan yang tak berdosa. Menyita harta dan tanah mereka. Menjadikannya budak di negeri sendiri.
Maka aku lawan senopati brangasan itu sebagai hukuman siapa saja yang merusak Blambangan."

Tak ada jawaban dari Raja, maupun para pejabat yang bertanggung jawab. Sementara Ratna masih menanti peluang untuk berbicara dengan Raja. Namun oleh para prajurit Bayangkari, Ratna dan adik adiknya digiring keluar dari lokasi.
Ratna menolak, "Biarkan aku menemani Paduka Raja,"
Raja menoleh kepada Ratna, memandang sejenak untuk memastikan kesungguhan ucapannya.
"Biar calon permaisuriku bersamaku,"
Para Prajurit Bayangkari memberi hormat lalu bergerak mengevakuasi yang lain.

Saat perhatian Raja dan Ratna teralihkan. Entah siapa yang memerintahkan, pasukan pengawal yang tadi sabar mengepung tiba tiba bergerak menyerang. Dengan tangan kiri memegang tubuh Dutamandala, dan tangan kanannya memegang belati rampasan. Jingga menyambut serangan serentak seolah menari diatas ilalang senjata. Satu persatu prajurit itu bertumbangan dengan luka terkena belati milik Dutamandala. Namun itu tidak membuat jeri pasukan yang mengeroyoknya. Malah jumlahnya semakin lama semakin banyak. Bagai semut yang menyerang serangga.
Tubuh Jingga sudah penuh dengan darah prajurit Majapahit yang dilukainya. Sementara tubuh Dutamanda seperti guling kapuk penuh darah. Tubuhnya dipontang panting Jingga mengikuti serangan prajurit Majapahit. Dari serangannya. Prajurit Majapahit sudah tidak menghiraukan nasib Dutamandala. Beberapa kali tubuhnya tertusuk senjata prajurit Majapahit. Dutamandala hanya bereaksi pelan. Ia sudah sekarat.
Sementara pasukan yang diutus Mahapatih untuk menyelamatkan Dutamandala kebingungan. Mereka tidak mendapatkan ruang untuk melaksanakan misinya.

Jingga merasakan ada perubahan perintah. Yang semula mengepungnya sangat hati hati agar tidak melukai Dutamandala, sekarang tiba tiba tidak peduli dengan keselamatan Dutamandala. Apakah Dutamandala sudah mereka buang? Lalu siapa yang memberi putusan itu? Benak Jingga penuh dengan pertanyaan.

Mahapatih juga bingung, misi menyelamatkan Dutamandala gagal total. Nyawa Dutamandala sepertinya tidak bisa ditolong. Beberapa kali ujung senjata para prajurit itu mengenai sekujur tubuh Dutamandala. Pasukan khususnya yang diutus gagal mendekati Jingga. Terhalang pertempuran antara prajurit yang mengepung dengan para pengawal Dutamandala yang tidak terima Tuannya diperlakukan seperti itu. Situasi menjadi sangat kacau.
Para undangan dan penontong yang menyaksikan parade kemenangan sudah pergi meninggalkan alun alun. Disana tinggal para prajurit, pimpinan prajurit dan pembesar pembesar istana yang dikawal ketat Pasukan masing masing. Hal ini membuat keberadaan Lencari menjadi mencolok. Wanita satu satunya diantara kerumunan Prajurit.

"Itu istriku yang dibawa lari Jingga!" Tiba tiba terdengar teriakan keras dari arah panggung para Pangeran. Sontak orang orang yang tidak bertempur menoleh ke arah sumber suara lantas berpaling mengikuti arah yang ditunjuknya. Semua pandangan akhirnya mengarah ke Lencari yang berdiri di samping panggung tempat para pengusaha berkumpul.
Sementara Pangeran yang berteriak itu lari kesetanan, seolah tak peduli akan pertempuran yang berlangsung. Ia berlari ke arah dimana Lencari berdiri.
Para prajurit yang berada dekat Lencari, awalnya bersiaga mengawasi pertempuran. Mereka lantas mengepung Lencari yang berusaha melarikan diri setelah diteriaki Pangeran Mahesa agar menahan Lencari.
"Kakaaang, Tolooong!" Teriak Lencari ketakutan.
Jingga yang mengetahui Lencari dalam bahaya. Lantas melemparkan tubuh Dutamandala ke arah prajurit yang mengepungnya. Sekali menjejal tanah, Jingga melayang, lalu menginjak tubuh Dutamandala yang masih melayang untuk digunakan sebagai batu loncatan. Seketika para pemanah menyerangnya saat berada di udara. Tapi tidak cukup cepat reflek mereka untuk mengenai Jingga. Mereka seperti memanah bayangan.

Sampai di dekat Lencari, Jingga langsung menghantam para prajurit yang menahan Lencari. Empat lima orang terpental terkena pukulan Jingga yang entah darimana datangnya. Mereka hanya melihat seseorang mendekat dan tanpa tahu bagaimana, wajah, perut dan dada sudah terasa sakit seperti dihantam balok besar.

Jingga langsung menggamit pinggang Lencari, digendong belakang dan diikat erat menggunakan kain selendang, lalu meloncat mendekati panggung tempat Raja berdiri bersama Mahapatih. Belum sampai ke tempat tadi, Jingga sudah dihadang pasukan Majapahit yang tadi ditinggalkannya.

"Hei penculik! Kembalikan istriku!" Teriak Pangeran Mahesa histeris. Ia seperti orang kalap tak peduli keselamatannya. Melihat Jingga dan Lencari kembali ke tengah lapangan. Pangeran Mahesa meloncat turun sambil menghunus kerisnya. Menyibak diantara para prajurit yang mengepung Jingga. Ia benar benar nekad. Yang ada dipikirannya adalah, membunuh Jingga yang telah merusak rumahtangganya, merusak hidupnya, karirnya. Lalu membawa Lencari kembali pulang.
"Ayo lawan aku!" Teriak Pangeran Mahesa penuh amarah. Para Prajurit memberi jalan padanya untuk mendekati Jingga dan Lencari yang sedang bertempur.
"Jangan menghindar terus!"
"Lawan Aku!"
"Pengecut!"
Begitulah teriakan Pangeran Mahesa diantara teriakan teriakan Prajurit yang bertempur. Ia benar benar ingin melampiaskan semua perasaannya yang tertekan setelah dipaksa Ibunda menceraikan Lencari. Padahal dalam dirinya tidak ingin melakukan itu. Kalaupun harus pisah, Ia harus membalas sampai tuntas seluruh sakit hati dan penderitaannya selama ini. Ia ingin Lencari dan Jingga menderita sampai menyembah nyembah didepan kakinya.

Jingga sengaja tidak meladeni dan balas menyerang Pangeran Mahesa. Jingga hanya menghindari serangannya. Ia lebih sibuk menghadapi serangan yang lain yang lebih berbahaya.
Diperlakukan seperti itu, Pangeran Mahesa semakin marah. Ia semakin nekad dan ngawur serangannya. Sampai akhirnya Ia berada dalam posisi sulit.

Jingga harus memutuskan, membela diri atau Ia atau Lencari yang terluka oleh keris warangan Pangeran Mahesa. Tanpa pikir panjang, Jingga menendang Pangeran Mahesa tepat di dadanya. Akibatnya Pangeran Mahesa terlempar kebelakang.
Tendangan Jingga sebetulnya tidak berbahaya, hanya menimbulkan sakit dan sesak didada. Tak merontokkan organ dalam Pangeran Mahesa. Itu perhitungan Jingga saat menendang Pangeran Mahesa.
Namun tendangan yang membuat Pangeran Mahesa terlempar kebelakang ternyata berakibat fatal. Pangeran Mahesa jatuh ke arah kerumunan Prajurit yang mengarahkan senjata kearah Jingga. Pangeran Mahesa tertancap tombak di punggungnya. Ujung tombak itu sampai menembus dadanya. Ia seperti tidak percaya dengan mengusap ujung tombak yang muncul di dadanya. Darah mengalir membasahi telapak tangannya. Tombak itu cepat cepat dicabut prajurit itu. Meninggalkan tubuh Pangeran Mahesa yang limbung dan akhirnya terjatuh.
Prajurit yang didekatnya segera membopong keluar Pangeran Mahesa dari pertempuran.

Ibunda Pangeran Mahesa berteriak histeris dari kejauhan melihat anaknya terluka parah. Ia berusaha mendatangi tempat Pangeran Mahesa, namun dihalangi para pengawal sambil menjelaskan, putranya akan dibawa kemari.
Saat Pangeran tiba, Ibunda Selir langsung memeluk putra kesayangannya yang sudah tak bernyawa. Ia tak peduli darah mengotori pakaiannya. Mayat putranya direbahkan di pangkuannya. berharap dengan memeluk kepalanya di pangkuan, Pangeran Mahesa akan hidup kembali.
"Bangun cah bagus, cah ganteng, ini ibu nak.."
Pangeran Mahesa yang dipeluk, terkulai lemah. Tak bereaksi apa apa.

"Perempuan tak tahu diuntung! Pembunuh!" Maki Ibunda Selir sambil menunjuk kearah Lencari. Segala makian buruk kepada wanita terlontar semuanya. Ibunda Selir benar benar lepas kendali. Putra kebanggannya, penghiburnya dalam menjalani hidup sebagai selir yang harus mengorbankan cintanya. Berharap suatu saat putra kesayangannya ini mewarisi tahta Ayahandanya, setidaknya menjadi Raja muda di tanah kelahirannya. Sekarang musnah laksana embun terpapar sinar matahari pagi.
Dan semua itu gara gara Lencari dan Jingga.

Ki Halimun menghampiri mencoba memberi penghiburan kepada Ibunda selir. Hanya gelengan kepala Ibunda Selir jawabannya sambil terus melaknat Lencari dan Jingga. Beberapa saat kemudian gantian Ibunda selir yang bicara dijawab dengan anggukan Ki Halimun.
Ki Halimun langsung meloncat ke arah pertempuran. Ia mendapat misi khusus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 35 lainnya memberi reputasi
36 0
36
profile picture
31-08-2019 01:15
Makin seru bung, salut ki curah dedikasinya untuk menghibur kami, terima kasih sekali lagi, di tunggu update an berikutnya
-1
profile picture
31-08-2019 16:55
lanjut paman
1
Memuat data ...
1 - 2 dari 2 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tanda-cinra-dari-muntaha
Stories from the Heart
misteri-goa-bawah-tanah
Stories from the Heart
ibuku-pelacur-bertarif-15k
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
horror---quotcampingquot
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia