alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
17-08-2019 12:50
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
Biarlah Cintaku Dalam HP

Tuhan....
Sungguh siang dan malam hanya dia yang ku impikan.
Meraja atas diriku.
Bagian tiap tarikan nafasku
Tapi aku tak sanggup, menanggung cinta, yang demikian dasyad kau anugrahkan.

Rindu yang terlalu luas, tak ada ujung dan tepian.
Harapan yang demikian tinggi tanpa puncak dan akhiran.
Tuhan biarlah dia selamanya menjadi mimpiku.
Jika kau jadikan dia nyata tubuhku pun tak sanggup menerima geletar cinta.
Yang seakan mau meledak kan tubuh.
Tuhan biarlah dia menjadi hayalku.
Dan selamanya begitu.


Rosalia menutup buku dearynya. Sebelumnya menciumnya dengan hangat, dan mesra, seakan itu adalah seseorang yang betapa di rindukannya selama ini. Yang tak pernah beranjak dari hatinya, tapi ia sama sekali takut memilikinya. Ah betapa rumitnya cinta. Gadis cantik jelita itu mengusap airmatanya, matanya yang sipit semakin sayu saja.

"Semua sudah beres...?" tanya ibunya. Ibu Rida, orang tua tunggalnya. Karena ayahnya telah menceraikan ibunya ini.

Rosalia telah di ijinkan oleh dokter pulang dari rumah sakit Bandung. Setelah jatuh pingsan di sekolah karena menerima telepon. Cerita ini berawal di hari kamis, karena libur kerja, aku pun tidur habis menjalankan sholat subuh. Tiba-tiba hp ku berdering, ku angkat. Terdengar suara Muhsin.

"lagi tidur mas?"

"iya, ." jawabku malas.

"umroh yuk..."

"ah lagi bokek, gak ada fulus."

"udah berangkat aja, tak usah uang, alias gratis,"

"gratis gimana?, aku bener-bener tak punya uang, ATM nya rusak."

"udah pokoknya berangkat aja, ini dah ku jemput pake taksi, udah mau nyampai barak, baju ihrom juga sudah ku sediakan, jadi sediakan baju ganti aja..."

Aku segera pontang-panting memasukkan baju kedalam tas, perlengkapan ala kadarnya, dan keluar kamar, memang Muhsin telah menunggu dengan taksi.

Muhsin umurnya lebih tua dariku, selisih kurang lebih lima tahun. Dia adalah salah satu murid toriqohku. Toriqoh kodiriyah naksabandiah. Dan dia yang paling rajin menimba ilmu kepadaku. Tapi karena juga lebih lama di Saudi Arabia maka dia yang menjadi pembimbingku, dalam menghadapi atasan, aku di Saudi baru tiga bulan, sementara Muhsin sudah enambelas tahun. Maka pagi itu kami berangkat umroh. Mobil taksi temannya Muhsin. Makkah dan daerahku di tempuh selama 5 sampai 6 jam perjalanan.

Sampai yu lamlam kami mengganti pakaian ihrom. Setelah itu berangkat ke Makkah, di jalan kami terus membaca talbiah sampai Makkah. Di Makkah kami segera menjalankan towaf, kemudian sa'i, dari sofa ke marwa. Setelah sai, mencukur atau memotong rambut. Perutku terasa lapar, Muhsin mengajak makan hamburger, karena tak bawa uang sama sekali, aku hanya menunggu. Kulihat orang berjejalan. Berebutan membeli hamburger arab. Yaitu kubus yang di lipat, kemudian di isi sayur dan daging sapi panggang. Rasanya? Tak ada rasanya.

Seorang ibu menghampiriku, mungkin seorang TKW. Bajunya hitam karena wajahnya tak di tutup, jadi aku tau pasti kalau dia orang Indonesia. Umurnya ku taksir sekitar 35 atau 40.

"nak bisa tolong ibu membeli makanan?!" katanya.

"ibu tak sanggup berjejalan." dia menyodorkan sejumlah uang kepadaku. Aku segera menerimanya.

"ibu tunggu di sini ya?" kataku, kemudian ikut berdesak-desakan. Sekitar lima menit makanan ku dapat. Dan menyerahkan kepada ibu tersebut. Dia mengulurkan satu kepadaku.

"tak usah bu, aku telah di belikan temanku." tolakku.

"anak ini baik sekali, kalau boleh ibu tau siapa nama anak ini?"

"saya ian bu, febrian."

"kalau ibu, panggil saja ibu Rida..."

"nak ian kerjanya di mana?"

"saya di pabrik sement bu, ibu sendiri?"

"yah kalau saya jadi pembantu, anak ini di indon. Asal daerah mana?"

"saya dari jJwa Timur bu. tepatnya daerah Tuban, ibu sendiri dari mana?"

"ibu dari Bandung".

"nak maaf ya..,kalau ibu lancang bertanya?".

"ah tak apa-apa, tanya aja bu, kalau saya bisa jawab, akan saya jawab, tapi jangan yang sulit-sulit ya bu?..."

Supir taksiku yang orang India memberikan hamburger kemudian meninggalkanku yang sedang duduk dengan ibu itu di undag-undakan depot, dia berpesan kalau mencarinya, supaya mencari di dekat babul miftah, aku mengiyakan dan tersenyum melihat dia berkata-kata sambil menggeleng-gelengkan kepala, dasar orang India.

"nak ian ini sudah punya istri?" tanya ibu Rida.

"saya bu?".telunjukku menunjuk hidungku.

"ah belum kepikir kesitu bu, susah jaman sekarang milih istri, salah pilih bisa-bisa rugi seumur-umur, bukannya suami istri harusnya seumur hidup."

"wah nak ian ini dewasa sekali, kalau mau ibu punya anak gadis cantik, kalau mau nak ian jadi menantu saya....".

"wah ibu ini ada-ada saja, kita kan baru kenal, siapa tau saya ini orang jahat, kan kasihan anak ibu nanti,"

"orang jahat dan tidak itu bisa dilihat dari sinar mata dan cahaya di wajah, ibu ini sudah banyak mengenal lelaki, dan sudah sangat memahami, nak ian bukanlah lelaki kebanyakan, dan atas penilaian saya ini, saya tak takut anak saya di sia-siakan, karena aku tau betul dari cahaya yang terpancar di wajah nak ian, nak ian bukanlah orang yang seperti itu."

"wah ibu ini, nanti menyesal lho.., saya jadi kegeeran nih bu.."

Lalu ibu Rida membuka tasnya dan mengeleluarkan sebuah foto,"ini foto anak saya, namanya Rosalia...."

Kulihat foto itu, memang gadis yang teramat cantik dan imut-imut, matanya sipit, bulu mata lentik, hidung mungil mancung, bibir kecil yang ranum. Dagu lancip, ah kecantikan yang sempurna.

"bu seandainya aku mau, anak ibu juga belum tentu mau..."

"ah dia pasti mau, apalagi setelah melihat nak ian yang ganteng, pasti dulu nak ian di indo. Banyak pacarnya ya?, ibu aja kalau masih muda pasti akan naksir sama nak ian.."

"wah ibu ini , makin membuat saya salah tingkah aja."

"bener, ibu aja dari tadi memperhatikan, setiap gadis yang lewat di depan nak ian pasti matanya melirik kagum."

"ah sudah dulu ya bu, saya ke tempat teman dulu, nanti di cari-cari."

Tapi ibu Rida menahanku, dan minta nomer hpku, aku pun memberikan dan dia pun menyerahkan foto Rosalia, dan nomer hp di Indonesia.

Hp ku bunyi, nada dering lagu bumi putra, seribu tahun ku dengar, segera ku terima telpon.

"sudah menelpon Rosa belum nak ian?" terdengar suara Ibu Rida, tiap hari ibu Rida menelponku, setelah sekembaliku dari umroh, kadang menanyakan kesehatanku, sudah makan belum, sudah tidur belum, tidurnya jangan malam-malam, dan tak lupa apa aku sudah menelpon Rosalia. Aku belum pernah mengalami hubungan tanpa saling tau terlebih dahulu. Makanya sudah tiga bulan dia memintaku mengebel si cantik Rosalia, aku tak juga melakukannya.

"belum ini bu..."

"ah gimana sih nak ian ini, nak ian cobalah sekali saja coba di bel."

"iya deh bu, nanti kucoba,"

Siang itu Rosalia, tengah mengendarai supra X pulang dari sekolah, tiba-tiba hp nya bunyi, ia tepikan motor dan berhenti di tepi jalan, yang tak begitu ramai. Lalu dia angkat hpnya.

"Hallo..!,siapa nih?"suaranya kecil manja.

"ini bicara sama Rosalia?"

"bener..! Ini siapa ya..?"

Ah repot juga, mau jawab apa, ah kalau baru tahap perkenalan begini, bisa panjang ceritanya.

"aku ian, teman ibumu, aku di suruh menghubungimu, apa kamu sehat?"

"sehat, mas ini apanya ibu? Dekat sama ibu?"

"aku kenal ibumu kemaren waktu umroh, terus aku di minta ngebel kamu, oo aku jauh sama ibumu, dari tempatku, ke tempat ibumu ya kira-kira seharian perjalanan."

"udah ya, aku mau jalan dulu". Hp di matikan. Ah bikin repot aja nih ibu Rida.

Setelah hari itu aku pun sering mengebel Rosa, setiap ibu Rida menyuruhku mengebel anaknya maka aku pun mengebel, sampai satu hari Rosa marah-marah.

"kamu ini maunya apa sih? Tiap hari ngebel terus, huuh maunya apa?!!"

Aku keki mau jawab apa, ah daripada ini berlarut-larut, sekalian jelas saja.

"aku mau di jodohkan ama kamu oleh ibumu, kamu mau gak?".

"di jodohkan gimana!!" nadanya marah, "di jodohkan mau di jadikan suami istri gitu? Emangnya ini zaman siti nurbaya? Main jodoh-jodohan segala."

"jadi kamu tak mau? Jawab aja yang jelas, jadi aku lega, hanya akan menganggapmu adikku, sebab ibumu, juga telah kuanggap ibuku sendiri ."

"aku gak mau wuek..! Udah jangan ganggu aku lagi....!" hpnya di matikan.

Sejak saat itu aku tak mau menghubungi Rosalia, bukan aku marah atas sikapnya, tapi aku tak mau mengganggu prifaci orang lain.

Walau berulang kali ibu Rida memintaku, tapi aku tetap tak mengebel.

"sudah lah bu, wong Rosa tak mau, mbok ya jangan di paksa."

Setelah itu ibu Rida pun jarang mengebelku. Sampai suatu siang, hari sedang libur jadi aku tidur, hpku bunyi, kuangkat, dan terdengar suara ibu Rida menangis.

"nak ini gimana nak? Ini gimana ibu mau di perkosa, orangnya ada di ruang tengah, aku tadi lari ke dapur...tolong lah nak ini bagaimana..?.!"

"yang mau memperkosa majikan ibu?"

"bukan , tapi orang yang menyerobot masuk. Mungkin tetangga."

"majikan ibu di mana?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namacita dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
17-08-2019 12:55
Fitri...itu, bukanlah fitri
[B][Fitri...itu, bukanlah fitri/B]

Bus Indonesia yang ku tumpangi, memang bukanlah bus yang baru, mungkin boleh di bilang bus rongsokan, bukan maksud memuja, ketika keluar dari terminal Terboyo, yang jalannya sudah ancur-ancuran karena terkikis air laut yang naik ke darat, suara bus itu bergombrengan ramai sekali, kaca-kacanya seperti mau lepas saja, seakan sudah tak tahan nongkrong di tempatnya, kami sebagai penumpang terbanting-banting mencari pegangan, mengikuti bus yang berjalan mengejar setoran. Cuma karena rasa khawatir pikiran sang sopir jangan-jangan di depan ada penumpang yang di serobot bus lain duluan, sehingga bus pun ngebut tak karuan, kalau ada bus di depannya, pasti mati-matian saling mendahului.

Ah sepertiku jadi penumpang memang mau apa? Cuma bus ini yang ku harapkan sampai ke Tuban. Biarpun gedombrangan kayak gini juga, tak apalah, asal sampai rumah sesuai waktunya.

Sampai di terminal Demak Bus tak berhenti, karena tak ada penumpang yang naik, sampai di kracaan dan gajah Bus berhenti karena ada penumpang yang naik dan turun.

Bus berjalan lagi, suaranya menggerung-gerung, seperti sedang menarik tlailer yang sedang mogok dan teramat berat, padahal isi penumpang tak penuh, dari tadi aku saja duduk sendirian, dan banyak kursi lain yang kosong. Ah lebih baik tidur saja, kulihat jam juga rongsokan, menggelantung di atas supir, menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit, mungkin sampai di Tuban jam empat atau lima sore,

Aku pun menggelosorkan kepala ke kaca, walau terasa kaca berisik sekali, akupun akirnya tertidur juga. Sampai ada rasa hangat dan lembut menempel pahaku, dan kurasakan kehadiran orang lain di kursi bus yang kududuki,

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, dan ku lihat pakaian putih-putih di sampingku, aku pun membetulkan dudukku agar memberi penumpang tempat duduk yang nyaman.

Ku tengok kesamping, uh cantik sekali gadis ini?, wajahnya yang putih, makin putih saja karena baju yang di kenakan serba putih, dan dia tersenyum kepadaku, wadoh mak senyumnya itu, di bilang manis terlalu manis, giginya gingsul, eh jangan-jangan senyum itu tak untukku?, aku menengok ke sampingku tak ada orang hanya kaca, apa dia tersenyum pada kaca? Ah rasanya tak mungkin. Ah biar di bilang GR juga tak apalah, aku beranggapan senyumnya pasti di tujukan padaku.

"dari mana, mau kemana mbak?" tanyaku.

"dari Kudus mau ke Pati." jawabnya singkat.

"kok pakaiannya putih-putih?, kerja apa masih sekolah?" aku tak mau kehabisan pertanyaan, nyari aja yang simpel-simpel, agar tak kaku .jangan nyari yang berat-berat, seperti perhitungan geometrik. Atau pertanyaan kuis million yang di bawakan Tantomi yahya. Aku tersenyum sendiri.

"kenapa senyum-senyum?" tanya gadis itu. Jelas aku kaget, kirain senyum ini di hatiku doang, ternyata sampai juga di mulutku.

"ah tak apa-apa, kok pertanyaaku tadi belum di jawab?" mengalihkan kecurigaannya atas senyumku.

"aku kerja magang di rumah sakit Pati." jawabannya tak membuatku mengerti, dan tak ingin mengerti, sebab aku bertanya, yah biar tak kelihatan seperti berseteru.

"jadi udah bekerja ya?"

"belum mas, tapi praktek lapangan."

Wah tadi katanya di rumah sakit, kenapa belum beberapa menit sudah pindah ke lapangan. Ah tak mudeng. Lah. Tapi karena maksud bertanyaku tak untuk paham jawabannya, maka aku pun tak kehabisan bahan pembicaraan. Sehingga kami akrab, sampai ketika bus sampai di pati.

"ah kita sudah ngobrol lama, tapi kok belum kenalan?" ku ulurkan tanganku. Dan dia pun menjabat tanganku.

"Fitri...." katanya menyebut namanya.

"adi.." kataku ngawur. Tentu itu bukan namaku, asal jeprot aja, dari pada sudah ngajak kenalan tapi tak menyebut nama, aku sebut aja sekenanya, yang mudah aja, kulihat dia juga tak perduli.

"boleh nanti maen ke rumah?" tanyaku.

"nanti datang saja ke rumah sakit Pati, cari namaku." jelasnya.

Dia pun turun di Pati. Melambaikan tangan ke arahku, ketika bus jalan lagi. Aku kembali menata badan yang enak dan tidur lelap sampai terminal Tuban.

Aneh di rumah aku selalu ingat Fitri, padahal kalau aku mau gadis tinggal comot aja. Dan walau sering gonta-ganti pacar, aku rasanya belum pernah mengalami cinta, sampai mabuk kepayang, tiap hari ingat yang di sayang. Pacaran, ya pacaran aja tak ada terus selalu ingin ketemu, seperti dalam cerita novel roman. Pernah aku berpikir, yang namanya cinta itu, sebenarnya tak ada, itu hanya bumbu penyedap tukang novel aja, mengungkapkan kalau cinta itu berbunga-bunga. Buktinya aku tak pernah jatuh cinta.

Tapi ini kenapa aku jadi ingat gadis itu terus, wah bisa berabe kalau begini. Apa mungkin aku ini kena pelet. Tak taulah, dari pada bingung begini, kuputuskan untuk pergi saja ke Pati dan mencari Fitri di rumah sakit Pati. Perduli setan, dari pada liyung-liyungan kayak gini. Kini aku pun telah di terminal Pati. Ku panggil tukang becak untuk mengantarku ke rumah sakit Pati.

"ada keluarganya yang sakit ya mas?" tanya tukang becak, sambil enggos-enggosan menggenjot becaknya.

"he-eh..!" jawabku singkat karena tak mau banyak cakap. Tapi di hatiku ngedumel. Keluarga sakit gimana., wong aku ini yang ngap-ngapan ingat terus sama Fitri, mungkin aku ini yang pantasnya di kasihani, karena sakit yang tak mudah di deteksi. Apa sakit ingatan atau apa ini namanya. Karena ingat terus, jadi sakit ingatan.

Sekarang Rumah sakit di depan mata, aku makin tak sabar saja, kubayar becak, dan aku pun mulai beranjak. Langsung aja aku tanya dokter jaga, yang di kanan pintu masuk.

"ada keperluan apa mas, bisa kami bantu?" ah suaranya ramah, seperti pelayan toko bertanya pada pelanggan.

"itu mbak, saya ingin bertemu perawat yang bernama fitri," tanyaku ke pokok masalah, tanpa berbelit-belit.
Kulihat dia membuka-buka daftar buku,

"wah tak ada tuh mas." katanya.

Lalu datang perawat satu lagi, kemudian keduanya bercakap berbisik, sambil menunjuk-nunjuk aku, kemudian menghampiriku.

"coba mas cari di bagian rongen." katanya sambil menunjukkan arah yang harus ku tuju.

Dengan semangat, aku melangkah pasti, sampai di ruang ronsgen, aku bertanya lagi pada seorang dokter.

"mas ini apanya?" katanya menyelidik.

Ah apa susahnya menunjukan, berbelit-belit amat, "aku temannya." jawabku.

"teman gimana maksudnya mas?" tanyanya lagi makin membuatku tak sabaran.

"teman sekolah..!" jawabku ngawur. Dokter itu tertawa sambil memegangi perutnya, ah sial amat, apa ini rumah sakit gila. Nampak seorang perawat menghampiri.

"ada apa dokter, kok ketawanya sampai begitu?" tanya perawat itu. Lalu dokter itu membisiki perawat itu, dan perawat itu pun tertawa, sampai berpegangan pintu, aku bengong saja, wah kalau ini rumah sakit gila, bisa tambah rumit nih urusan.

"benar mas ini teman sekelasnya?" tanya perawat itu, dan dia tertawa lagi, sampai jongkok. Mungkin juga terkencing-kencing.

"sudah-sudah, sana panggilkan." kata dokter itu pada perawat, yang segera beranjak pergi.
"tunggu sebentar ya mas." kata dokter itu masih menahan tawanya.

Lima menit kemudian, perawat yang di suruh memanggil datang, bersama seorang perawat yang teramat tua sekali.

"ini mas Bik fitri...apa betul yang ini teman sekolahnya..?"

"ah ya enggak lah mbak, dia tuh masih kuliah," kataku ngotot.

"tapi selama ini yang bernama fitri ya cuma bik fitri ini." perawat itu ngotot juga.

"ya sudahlah kalau begitu, saya salah orang." kataku mendongkol. Dan segera berlalu. Ah sial amat aku hari ini, siapa sesungguhnya yang mengerjaiku? Fitri...!?

End.
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jampe-popotongan-kisah-nyata
Stories from the Heart
teror-hantu-penunggu-tpu
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.