alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
17-08-2019 12:50

boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA

Biarlah Cintaku Dalam HP

Tuhan....
Sungguh siang dan malam hanya dia yang ku impikan.
Meraja atas diriku.
Bagian tiap tarikan nafasku
Tapi aku tak sanggup, menanggung cinta, yang demikian dasyad kau anugrahkan.

Rindu yang terlalu luas, tak ada ujung dan tepian.
Harapan yang demikian tinggi tanpa puncak dan akhiran.
Tuhan biarlah dia selamanya menjadi mimpiku.
Jika kau jadikan dia nyata tubuhku pun tak sanggup menerima geletar cinta.
Yang seakan mau meledak kan tubuh.
Tuhan biarlah dia menjadi hayalku.
Dan selamanya begitu.


Rosalia menutup buku dearynya. Sebelumnya menciumnya dengan hangat, dan mesra, seakan itu adalah seseorang yang betapa di rindukannya selama ini. Yang tak pernah beranjak dari hatinya, tapi ia sama sekali takut memilikinya. Ah betapa rumitnya cinta. Gadis cantik jelita itu mengusap airmatanya, matanya yang sipit semakin sayu saja.

"Semua sudah beres...?" tanya ibunya. Ibu Rida, orang tua tunggalnya. Karena ayahnya telah menceraikan ibunya ini.

Rosalia telah di ijinkan oleh dokter pulang dari rumah sakit Bandung. Setelah jatuh pingsan di sekolah karena menerima telepon. Cerita ini berawal di hari kamis, karena libur kerja, aku pun tidur habis menjalankan sholat subuh. Tiba-tiba hp ku berdering, ku angkat. Terdengar suara Muhsin.

"lagi tidur mas?"

"iya, ." jawabku malas.

"umroh yuk..."

"ah lagi bokek, gak ada fulus."

"udah berangkat aja, tak usah uang, alias gratis,"

"gratis gimana?, aku bener-bener tak punya uang, ATM nya rusak."

"udah pokoknya berangkat aja, ini dah ku jemput pake taksi, udah mau nyampai barak, baju ihrom juga sudah ku sediakan, jadi sediakan baju ganti aja..."

Aku segera pontang-panting memasukkan baju kedalam tas, perlengkapan ala kadarnya, dan keluar kamar, memang Muhsin telah menunggu dengan taksi.

Muhsin umurnya lebih tua dariku, selisih kurang lebih lima tahun. Dia adalah salah satu murid toriqohku. Toriqoh kodiriyah naksabandiah. Dan dia yang paling rajin menimba ilmu kepadaku. Tapi karena juga lebih lama di Saudi Arabia maka dia yang menjadi pembimbingku, dalam menghadapi atasan, aku di Saudi baru tiga bulan, sementara Muhsin sudah enambelas tahun. Maka pagi itu kami berangkat umroh. Mobil taksi temannya Muhsin. Makkah dan daerahku di tempuh selama 5 sampai 6 jam perjalanan.

Sampai yu lamlam kami mengganti pakaian ihrom. Setelah itu berangkat ke Makkah, di jalan kami terus membaca talbiah sampai Makkah. Di Makkah kami segera menjalankan towaf, kemudian sa'i, dari sofa ke marwa. Setelah sai, mencukur atau memotong rambut. Perutku terasa lapar, Muhsin mengajak makan hamburger, karena tak bawa uang sama sekali, aku hanya menunggu. Kulihat orang berjejalan. Berebutan membeli hamburger arab. Yaitu kubus yang di lipat, kemudian di isi sayur dan daging sapi panggang. Rasanya? Tak ada rasanya.

Seorang ibu menghampiriku, mungkin seorang TKW. Bajunya hitam karena wajahnya tak di tutup, jadi aku tau pasti kalau dia orang Indonesia. Umurnya ku taksir sekitar 35 atau 40.

"nak bisa tolong ibu membeli makanan?!" katanya.

"ibu tak sanggup berjejalan." dia menyodorkan sejumlah uang kepadaku. Aku segera menerimanya.

"ibu tunggu di sini ya?" kataku, kemudian ikut berdesak-desakan. Sekitar lima menit makanan ku dapat. Dan menyerahkan kepada ibu tersebut. Dia mengulurkan satu kepadaku.

"tak usah bu, aku telah di belikan temanku." tolakku.

"anak ini baik sekali, kalau boleh ibu tau siapa nama anak ini?"

"saya ian bu, febrian."

"kalau ibu, panggil saja ibu Rida..."

"nak ian kerjanya di mana?"

"saya di pabrik sement bu, ibu sendiri?"

"yah kalau saya jadi pembantu, anak ini di indon. Asal daerah mana?"

"saya dari jJwa Timur bu. tepatnya daerah Tuban, ibu sendiri dari mana?"

"ibu dari Bandung".

"nak maaf ya..,kalau ibu lancang bertanya?".

"ah tak apa-apa, tanya aja bu, kalau saya bisa jawab, akan saya jawab, tapi jangan yang sulit-sulit ya bu?..."

Supir taksiku yang orang India memberikan hamburger kemudian meninggalkanku yang sedang duduk dengan ibu itu di undag-undakan depot, dia berpesan kalau mencarinya, supaya mencari di dekat babul miftah, aku mengiyakan dan tersenyum melihat dia berkata-kata sambil menggeleng-gelengkan kepala, dasar orang India.

"nak ian ini sudah punya istri?" tanya ibu Rida.

"saya bu?".telunjukku menunjuk hidungku.

"ah belum kepikir kesitu bu, susah jaman sekarang milih istri, salah pilih bisa-bisa rugi seumur-umur, bukannya suami istri harusnya seumur hidup."

"wah nak ian ini dewasa sekali, kalau mau ibu punya anak gadis cantik, kalau mau nak ian jadi menantu saya....".

"wah ibu ini ada-ada saja, kita kan baru kenal, siapa tau saya ini orang jahat, kan kasihan anak ibu nanti,"

"orang jahat dan tidak itu bisa dilihat dari sinar mata dan cahaya di wajah, ibu ini sudah banyak mengenal lelaki, dan sudah sangat memahami, nak ian bukanlah lelaki kebanyakan, dan atas penilaian saya ini, saya tak takut anak saya di sia-siakan, karena aku tau betul dari cahaya yang terpancar di wajah nak ian, nak ian bukanlah orang yang seperti itu."

"wah ibu ini, nanti menyesal lho.., saya jadi kegeeran nih bu.."

Lalu ibu Rida membuka tasnya dan mengeleluarkan sebuah foto,"ini foto anak saya, namanya Rosalia...."

Kulihat foto itu, memang gadis yang teramat cantik dan imut-imut, matanya sipit, bulu mata lentik, hidung mungil mancung, bibir kecil yang ranum. Dagu lancip, ah kecantikan yang sempurna.

"bu seandainya aku mau, anak ibu juga belum tentu mau..."

"ah dia pasti mau, apalagi setelah melihat nak ian yang ganteng, pasti dulu nak ian di indo. Banyak pacarnya ya?, ibu aja kalau masih muda pasti akan naksir sama nak ian.."

"wah ibu ini , makin membuat saya salah tingkah aja."

"bener, ibu aja dari tadi memperhatikan, setiap gadis yang lewat di depan nak ian pasti matanya melirik kagum."

"ah sudah dulu ya bu, saya ke tempat teman dulu, nanti di cari-cari."

Tapi ibu Rida menahanku, dan minta nomer hpku, aku pun memberikan dan dia pun menyerahkan foto Rosalia, dan nomer hp di Indonesia.

Hp ku bunyi, nada dering lagu bumi putra, seribu tahun ku dengar, segera ku terima telpon.

"sudah menelpon Rosa belum nak ian?" terdengar suara Ibu Rida, tiap hari ibu Rida menelponku, setelah sekembaliku dari umroh, kadang menanyakan kesehatanku, sudah makan belum, sudah tidur belum, tidurnya jangan malam-malam, dan tak lupa apa aku sudah menelpon Rosalia. Aku belum pernah mengalami hubungan tanpa saling tau terlebih dahulu. Makanya sudah tiga bulan dia memintaku mengebel si cantik Rosalia, aku tak juga melakukannya.

"belum ini bu..."

"ah gimana sih nak ian ini, nak ian cobalah sekali saja coba di bel."

"iya deh bu, nanti kucoba,"

Siang itu Rosalia, tengah mengendarai supra X pulang dari sekolah, tiba-tiba hp nya bunyi, ia tepikan motor dan berhenti di tepi jalan, yang tak begitu ramai. Lalu dia angkat hpnya.

"Hallo..!,siapa nih?"suaranya kecil manja.

"ini bicara sama Rosalia?"

"bener..! Ini siapa ya..?"

Ah repot juga, mau jawab apa, ah kalau baru tahap perkenalan begini, bisa panjang ceritanya.

"aku ian, teman ibumu, aku di suruh menghubungimu, apa kamu sehat?"

"sehat, mas ini apanya ibu? Dekat sama ibu?"

"aku kenal ibumu kemaren waktu umroh, terus aku di minta ngebel kamu, oo aku jauh sama ibumu, dari tempatku, ke tempat ibumu ya kira-kira seharian perjalanan."

"udah ya, aku mau jalan dulu". Hp di matikan. Ah bikin repot aja nih ibu Rida.

Setelah hari itu aku pun sering mengebel Rosa, setiap ibu Rida menyuruhku mengebel anaknya maka aku pun mengebel, sampai satu hari Rosa marah-marah.

"kamu ini maunya apa sih? Tiap hari ngebel terus, huuh maunya apa?!!"

Aku keki mau jawab apa, ah daripada ini berlarut-larut, sekalian jelas saja.

"aku mau di jodohkan ama kamu oleh ibumu, kamu mau gak?".

"di jodohkan gimana!!" nadanya marah, "di jodohkan mau di jadikan suami istri gitu? Emangnya ini zaman siti nurbaya? Main jodoh-jodohan segala."

"jadi kamu tak mau? Jawab aja yang jelas, jadi aku lega, hanya akan menganggapmu adikku, sebab ibumu, juga telah kuanggap ibuku sendiri ."

"aku gak mau wuek..! Udah jangan ganggu aku lagi....!" hpnya di matikan.

Sejak saat itu aku tak mau menghubungi Rosalia, bukan aku marah atas sikapnya, tapi aku tak mau mengganggu prifaci orang lain.

Walau berulang kali ibu Rida memintaku, tapi aku tetap tak mengebel.

"sudah lah bu, wong Rosa tak mau, mbok ya jangan di paksa."

Setelah itu ibu Rida pun jarang mengebelku. Sampai suatu siang, hari sedang libur jadi aku tidur, hpku bunyi, kuangkat, dan terdengar suara ibu Rida menangis.

"nak ini gimana nak? Ini gimana ibu mau di perkosa, orangnya ada di ruang tengah, aku tadi lari ke dapur...tolong lah nak ini bagaimana..?.!"

"yang mau memperkosa majikan ibu?"

"bukan , tapi orang yang menyerobot masuk. Mungkin tetangga."

"majikan ibu di mana?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namacita dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
17-08-2019 12:52
"semua pergi, tinggal ibu di rumah sendirian, aduh bagaimana ini?" terdengar kecemasan yang tak terkira.
ibu Rida sudah seperti ibuku sendiri. Kalau kehormatanya terancam, aku tak boleh tinggal diam, tapi jarak tempatku ini dengan tempat ibu Rida, seharian perjalanan ah kenapa tak terpikirkan.

Aku segera tiduran lagi, sebelumnya pintu ku kunci. aku segera merapal aji rogo sukmo, segera saja sukmaku lepas dari tubuhku dan melesat teramat cepat, dalam waktu sekitar tiga menit, aku telah sampai di dekat ibu Rida, yang meronta di bawah lelaki Arab besar berkulit hitam sudani. Lelaki itu mencoba membuka celana dalam ibu Rida, sementara, pakaian bawahnya telah tersingkap tak karuan.

Ku tendang dia sekencangnya dari belakang. Tepat di selangkangannya, sehingga tubuhnya terlontar terbalik, melewati atas kepala ibu Rida.

Rupanya dia menyangka perbuatan itu di lakukan ibu Rida, nyatanya dia masih berusaha memegang ibu Rida, sementara tangan kirinya memegangi selangkangannya sendiri yang kesakitan. Kulihat pisau dapur tergantung di rak dapur. Segera saja ku raih. Ibu Rida yang melayang di udara langsung kaget dan pingsan, sementara lelaki arab sudan itu juga heran setengah mati. Tanpa tunggu lama, ku tusukkan pisau ke tangan kanannya, lelaki itu menjerit, memang sengaja tak ku tusukkan di dada atau perutnya, karena bagi ibu Rida nanti urusannya akan repot, kalau dia di tuduh membunuh maka hukumannya tiada lain kecuali penggal. Pisau itu ku cabut lagi, darah muncrat-muncrat dari tubuh sudani.

Melihat pisau yang kupegang melayang-layang, dia melotot dan kabur pontang-panting, sambil teriak setan-setan..! Aku segera membersihkan darah arab sudani yang tercecer di sana-sini, lalu mengangkat ibu Rida ke kamarnya, kemudian menyelimutinya,

Kasihan ibu ini, kucari minyak angin dan ku oleskan sedikit di hidungnya. Perlahan dia siuman. Dan kebingungan. Aku segera pergi. Sebentar kemudian, terdengar Hp ku berdering,

"ian..ibu tak di perkosa, ibu selamat...!"suaranya gembira,

"syukur lah bu..."

"tapi aneh. Kok ibu malah tidur di kamar ya?"

"apa tadi ibu mau di perkosa tadi cuma mimpi?"tanyaku pura-pura tak tau.

"ah pasti tidak, apa tadi ibu nelpon kamu?. Iya kan ini aja datanya di hp ibu masih ada, apa kamu yang menolong ibu?"

"gimana aku menolong ibu. Aku kan jauh..."

"ah tak taulah.."jawab bu Rida sangsi.

"kalau ibu ada apa-apa telpon aku, syukur sekarang ibu selamat.

Sementara itu di Bandung di rumah Rosalia, gadis cantik itu tak bisa tidur, telah beberapa hari ini ia gelisah, ia rindu ,menunggu, Hp nya berdering dan suara halus yang biasanya menyapanya sebelum tidur, mencandanya, yah suara ian itu hadir. Kenapa dia begitu merindukan suara itu, dia ingat satu-satu dari pertama ian menelepon sampai terakhir sudah dua bulan yang lalu dia marah-marahi. Gadis itu membolak-balik tubuhnya. Sudah beberapa hari ini, dia begitu, apakah aku jatuh cinta? Pikirnya, ah tak mungkin, lihat orangnya aja belum, bagaimana dia jatuh cinta, tapi kalau tak jatuh cinta kenapa iyeng-iyengan kayak gini.

Ia meraih hpnya, apakah di miscall ya? Ah tidak ah, aku telah memarahinya. Terjadi perang dalam batin Rosalia, sebentar dia duduk di tepi pembaringan. Lalu berjalan mengitari kamar, berjalan ke toilet, berkaca, dan jam 3 malam baru dia bisa tidur, besok bangun mau pergi kesekolah matanya memerah. Begitu tiap malam, rindunya semakin menumpuk, seperti gunung anakan. Karena tak tahan dia pun menelpon ibunya.

"mas ian kok gak pernah lagi nelpon aku ya?" katanya setelah berbasa-basi menanyakan khabar ibunya.

"lho kata mas ian kamu tak suka di telponin terus...ya mas iannya jelas tak mau ngeganggu."

"o...,jadi ngadu sama ibu?"

"ya nggak ngadu, cuma dia ibu suruh nelpon kamu, tapi dia nggak mau katanya kamu marah-marah."

"ah dasar emang tukang ngadu..." Rosalia sebel dan mematikan hp.

Tapi kalau tak mendengar suaranya, uh pastilah dia cakep sekali, suaranya halus. Sopan, selalu bercanda, walau Rosa tak pernah menanggapi, tapi kalau mikir candaannya jadi ketawa sendiri. Makin hari bertambah makin membuncah rasa rindu di hatinya. Dan sekali lagi dia menelepon ibunya,

"buk, tolong mas ian suruh nelpon..."

"ih kamu kangen, rindu..?"

"ah ibu menggoda aja..udah deh suruh aja nelpon, aku mau minta maaf..."

"ya udah..."

Hp rosa berdering, dia lihat nomer yang muncul di layar, ah benar nomer mas ian. Dia tak segera mengangkat, dia membayangkan disana pasti ian tengah menempelkan hp di pipi, Rosa memeluk hpnya yang berdering, ia membayangkan ian tidur didadanya, ah cinta memang gila. Baru kemudian hp dia angkat.

"hallo, ini Rosa ya....?" Rosa tersenyum, seperti ada air yang dingin menggelontor hatinya yang kerontan, dan air itu amblas saja kedalam hatinya yang retak-retak, karena badai rindu yang selama ini panas menanduskan tanah hati yang di belai angin harapan tanpa jawaban.

"dek lia, kata ibu kamu, kamu minta di telpon? Ada apa?"

"siapa yang minta kamu telpon..!?, ah ibu ini..!."

"oh maaf ya kalau begitu.."

Klik hp ian pun di matikan. aku sebel sekali, seperti di permainkan aja.

Sementara itu ketika sambungan terputus, Rosa seperti orang yang mendaki jurang dengan tali lalu tali itu putus begitu saja. Dia membanting diri keranjangnya, tangannya memukul-mukul bantal dan menangis.

"kenapa aku galak, kenapa aku jutek....,uuu...ah usaha yang ku raih, ku hancurkan sendiri..huu., " bantalnya sampai basah air matanya, ia pun tertidur karena lelah.

Sejak itu, aku tak pernah menelepon Rosa, walau ibu Rida menyuruh dan memintaku.

"sudah lah bu, Rosa tak suka kepadaku, jadi tak usah di paksa, walau dia tak jadi istriku, ibu tetap ku anggap ibuku."

Sudah beberapa hari ibu tak menelponku, aku juga di sibukkan kerja yang menumpuk, tapi ketika sore itu hp ku berdering, mengalun lagu Wali bertitel dik. Hp ku angkat. Dan suara ibu Rida, mengeluh.

"aduh yan...ibu ini kenapa? Semua tubuh gatal-gatal semua..."

"sudah di bawa ke dokter?"

"sudah, tapi kata dokter tak ada penyakit apa-apa, gimana nih yan...?"

"udah gini aja, entar malem ibu sediain air, sebotol aqua sedang, aku coba transfer obat dari sini, nanti kalau bangun tidur, sebagian obatnya di minum, dan sebagian lagi untuk mandi, nanti perkembangannya gimana, khabari aku ya bu."

Pagi-pagi sekali ibu Rida telah menelponku, suaranya gembira.

"Alhamdulillah yan, setelah mandi penyakit ibu hilang, tapi aneh dari kulit sekujur badan keluar tepung... ini bagaimana."

"udah, ibu tenang saja, itu efek dari pengobatan, nanti juga hilang sendiri."

Dan memang setelah beberapa hari ibu Rida mengatakan bahwa tepung yang keluar dari tubuhnya telah hilang. Lama, ada satu bulan ibu Rida tak meneleponku, dan kali ini dia meneleponku saat aku tengah kerja, dia menangis.

"iyan gimana ini, Rosa kecelakaan...huhuu."

"Kecelakaan gimana bu..!?"

"Dia kecelakaan dari motor, huhuu, kepalanya ada gumpalan darah beku mau di operasi..huu. Maafkan Rosa ya. Bila selama ini telah menyakiti hatimu..huu".

Tanpa sadar air mataku pun berlinang.

"sudahlah bu...tak usah di tangisi lagi, berdoa saja semoga dia selamat dalam operasinya."

"tapi dia terus memanggil namamu terus..."

"sudahlah bu, tak usah di tambahi kesedihan ini..." kataku menghibur.

Sebenarnya apakah yang terjadi terhadap Rosalia. Sejak aku tak pernah menelponnya, gadis itu benar-benar kehilangan gairah, dia hilang semangat belajarnya, yang biasanya dia rangking 1 atau 2. Sekarang jeblok...rangking satu dari belakang, tubuhnya tak kuasa menampung luapan rindu, yang anginnya saja bisa mengeringkan bunga yang mekar. Badainya bisa menguras air tuju samudra, suara hembusan nya adalah sepi yang menyayat-nyayat setiap pori-pori hati, mengapa Tuhan menciptakan rindu yang demikian ganasnya. Hanya untuk menandai cinta itu telah meraja.

Rosalia semakin tak punya semangat hidup, linglung, di dera cinta, tapi dia juga takut andai bertemu pujaan hati, rindu dalam dadanya terlalu lama di bendung, andai pujaan hati ada, bendungan itu akan jebol, tak terbayangkan akan apa yang terjadi, mungkin dadanya akan meledak, terlalu ngeri Rosalia membayangkan itu.

Hari itu seperti biasa, gadis yang makin kurus itu, mengendarai motornya dan karena pikirannya entah di mana jadi dia tak melihat tikungan, dan ada mobil angkot dari depan, sadar-sadar monyong mobil telah ada di depannya, dia membanting setir ke kanan dan motornya pun menghantam trotoar. Dia terlempar, walau tak ada luka yang berarti, namun dalam kepalanya ada gumpalan darah yang harus di operasi.

Aku kembali memakai ilmu raga sukma, aku sebenarnya tak mengerti bagaimana proses ilmu ini apa aku ada yang membawa? Atau aku terbang sendiri? Begitu saja sukmaku lepas dari ragaku menuju tempat yang ku tuju, dengan teramat cepat sampai, dan tak salah sasaran. Anehnya aku sadar seratus persen.

Sukmaku melesat di atas laut, sekali waktu ku lewati kapal nelayan, lalu melesat cepat sekali, kota di bawahku seperti gambar filem yang di putar cepat. Tiba-tiba aku telah di dalam kamar di rumah sakit, aku segera turun dari udara, menjejak keramik dingin rumah sakit.

Kulihat Rosalia terbaring, jarum infus tertancap di pergelangan tanganya. Ada seorang perempuan muda duduk di kursi dan kepalanya di letakkan di tepi ranjang Rosalia, tertidur. Juga ada lelaki setengah tua, dan perempuan setengah tua duduk tidur menyender.

Aku tak salah pasti yang tidur di ranjang pastilah Rosalia, walau tubuhnya kurus, dan kepalanya plontos, karena mau di oprasi, tapi kecantikan yang di milikinya masih bercahaya, tiba-tiba dia mengerjapkan matanya, dan terbuka menatapku,

"oh...!" dia kaget.

"apakah kau malaikat yang akan mencabut nyawaku?" tanyanya.

Aku meletakkan jari di mulut, dan aku tak heran dengan prasangkanya, karena memang sukmaku mengeluarkan cahaya lembut putih keperakan. Aku menggeleng.

"lalu kau siapa? Setankah?"

Aku mendekat dan menyentuh jemarinya.

"aku ian, kakakmu...." kataku sehalus mungkin takut mengejutkannya.

"oh...!" hanya terdengar suara itu, dan dia meraih tanganku, di ciuminya, di dekap di dadanya, di peluknya erat-erat sekali, ku biarkan saja, kulihat air matanya berlinangan, dan mulutnya pletat-pletot, serta tubuhnya terguncang-guncang menahan tangis, tanganku di genggamnya erat dan di cium lama sekali. Kubiarkan tangan kananku di genggam dan seakan tak mau di lepaskan. Kugunakan tangan kiriku mengusap kepalanya yang gundul. Dan ku kecup mesra.

"adikku sayang, kakak akan coba mengobatimu." ku salurkan tenaga dari pusarku bergulung-gulung.

Ketapak tangan kiriku, masuk ke kepalanya, mengumpulkan segala penyakit dan ku tarik keluar, sampai beberapa kali,

"kepalanya masih sakit sayang?" dia menggeleng.

"nanti kalau sembuh, belajarnya yang rajin ya?" dia manggut.

"sayang, besok minta di ronsgen ulang sama dokter, sebelum di oprasi ya...!" dia manggut lagi.

Padahal aku ingin sekali mendengar suaranya.

"sudah kamu tidur lagi, kak ian pergi dulu..."

Tiba-tiba ia menarik tanganku kuat-kuat dalam pelukannya.

"kak jangan pergi kak, jangan tinggalkan aku...., aku tak sanggup hidup tanpamu..,"air matanya keluar deras mengucur dari ujung mata, membasahi bantalnya. Terpaksa aku menyalurkan aji sirep, dan membuat dia mengantuk, lalu tertidur. Setelah dia tertidur, akupun melesat pergi.

Pagi itu semua yang menunggui Rosalia heran, karena gadis itu tidur nyenyak sekali, sampai jam delapan pagi belum bangun juga, raut wajahnya berseri tak menunjukkan wajah orang sakit. Bibinya mengguncang tubuhnya perlahan.

"Rosa...rosa, bangun..!" tiba-tiba Rosa gragapan bangun, dan duduk.

"kak ian...kak ian...!" bibinya heran kenapa Rosa bisa bangun, padahal kemaren jangankan bangun, bergerak aja tak mampu, karena terlampau lemah. Lalu dia turun dari ranjang tangkas.

"mana kak ian?, mana?" mencari-cari.

"heh kamu mimpi?" tanya bibinya.

"tidak, semalem kak ian kesini..."

"kesini bagaimana, wong pintu bibi kunci semua. semalem..."

"Ayo dek untuk persiapan operasi, lho kok malah turun dari ranjang to..." kata perawat yang tiba-tiba masuk.

"tidak.! Aku tak mau di operasi..!"

"tak mau di operasi bagaimana to, kamu jangan mberung lho.." kata bibinya melotot.

"aku mau di operasi tapi di ronsgen lagi...."

Karena Rosalia ngotot, terpaksa di lakukan ronsgen ulang, dan dokter yang melihat hasil foto heran sekali, karena gumpalan darah di kepala Rosa telah tak ada, bahkan ketika di lakukan pemeriksaan ulang, malah tubuh Rosa di nyatakan sehat seratus persen, dokter yang menyatakan itu sampai tergetar mengucapkannya, karena seperti tak percaya dengan yang terjadi. Hari itu juga Rosa di perbolehkan pulang.

"Rosa sebenarnya apa yang terjadi semalam? Apa nak ian benar-benar datang dan kamu di obati." Rosa hanya tersenyum sumringah.

Kini Rosa hanya menunggu rambut yang terlanjur di gundul itu tumbuh lagi, untung dari dulu dia gadis berjilbab, jadi dia tak perlu malu dengan teman-teman sekolahnya.

"iyan...! Rosa sudah sembuh,"

"benarkah bu?"

"iya, tak jadi di operasi..."

"syukur kalau begitu bu."

Aku bahagia mendengar perempuan yang ku anggap seperti ibuku sendiri bahagia.

Tiga bulan telah berlalu, bu Rida telah pulang ke Indonesia, masih sering menghubungiku. Kemaren dia mengebelku sebentar, memintaku untuk mengebel balik, tapi kujawab hpku tak ada isinya, karena memang tak pernah ku isi pulsa. Sebab kugunakan internetan gratiz.

"nanti bu, aku beli pulsa dulu." sampai besoknya aku lupa tak beli pulsa. Baru tadi aku pergi kerja sambil ke mini market, beli pulsa. Ku bell ibu Rida, sunyi, hp di angkat, pertama ku dengar suara manja Rosa.

"mau nyari ibu ya?, maaf hp ibu ku bawa, dan hpku di bawa ibu, jadi tukeran...ini siapa?"

"aku febrian..."

"aaaakkh....!" kudengar jeritnya, melengking....dan di dalam hp yang masih terhubung ku dengar ramai para murid sekolah..

"rosa pingsan...rosa pingsan..." hp ku matikan. Air mataku mengalir, ah begitu beratkah kau terima aku disisimu?
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
broken-heart
Stories from the Heart
petaka-batu-safir-kisah-nyata
Stories from the Heart
love-life-lost
Stories from the Heart
lima-belas-menit
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.