alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
06-02-2019 23:11
PENGHUNI VILLA PUTIH
Sore itu langit terlihat sangat gelap, awan hitam memenuhi angkasa. Kilat sambar menyambar, membuat ciut nyali setiap yang mendengarnya. Ratih menghidupkan perapian untuk mengusir hawa dingin yang semakin terasa menggigit. Alunan suara Diana Ross terdengar menghentak dari gawai hp-nya. Tiba tiba matanya menangkap sekelebat sosok yang berjalan cepat.

"Bi Surti ....bi... belum tidur ?."

Tak terdengar jawaban. Beberapa menit kemudian terdengar suara pisau yang bersentuhan dengan talenan dari arah dapur. Ratih beringsut dari duduknya berjalan kearah dapur, ia heran sedang apa bi Surti selarut ini. Sebelum memasuki dapur, ia melintasi kamar bi Surti, dilihatnya bi Surti sedang tertidur dengan lelapnya. Desss....jantung Ratih berdetak cepat, tubuhnya mulai bergetar.

"Siapa yang ada didapur, malam malam gini?,"

Ratih sampai di dapur, dilihatnya ada sosok gadis tengah membelakanginya. Rambutnya dibiarkan tergerai.

"Eh...apa itu Tiwi ya. Tadi dia bilang dia terjebak macet, koq sudah sampai, lewat mana ia masuk?."

Belum lagi tanyanya terjawab, terdengar suara bel pintu dipencet orang. Bi Surti terlihat bangun dan merapikan pakaiannya.

"Eh..nyonya, sedang apa disitu?."
"Gak apa2 bi. Tolong lihat bi, siapa yang datang !."

Ratih menyusul bi Surti kearah pintu. Dari balik pintu terlihat Tiwi sedang merapikan rambut panjangnya yang basah oleh hujan. Ratih tak bisa menyembunyikan kebingungannya, dia hanya diam mematung melihat saudara sepupunya itu

"Haii..haii....halloo ..non ...!!." Tiwi menggoyang2kan tangannya didepan muka Ratih.
"Kamu kenapa sih, kayak lihat setan aja. Ini aku saudara sepupu kamu, Tiwi." lanjut Tiwi sambil menggerak2kan hidungnya. Tingkah yang selalu ia lakukan jika melihat saudara sepupunya ini bersedih, dan biasanya Ratih akan tertawa terbahak2, tapi kali ini ia tidak bergeming. Tiwi mencubit lengan Ratih, terdengar suara Ratih mengaduh.

"Aduuhhh...apa apaan sih kamu Tiwi. Sakit tau."
"Kamu yang apa apaan, dari tadi bengong aja." gerutu Tiwi.
"Ada apa sih Rat ? Koq lo sampe bengong gitu?" lanjut Tiwi.
"Ah..gak apa apa Wi. Yuk masuk!!.

Tiwi mengikuti Ratih berjalan ke ruang makan. Dan mereka terlihat makan dengan lahapnya. Sesekali terdengar tawa mereka memecahkan keheningan malam.

"Wi...lo tidur ama gue aja ya, mas Herman gak kesini. Jadwalnya lagi padet katanya."

"Jiaahh...pengantin baru, dianggurin." ledek Tiwi
"Apaan sih lo." ujar Ratih sambil mencubit pinggang Tiwi.

Malam mulai menyelimuti bumi, halimunpun mulai turun. Udara bertambah dingin, Ratih melirik sepupunya yang sudah sedari tadi tidur mendengkur. Sedang ia sendiri belum bisa memejamkan mata. Sudah ia coba untuk menutup mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Pikirannya dihantui oleh bayang sosok gadis yang lihat didapur tadi sore. "Siapa gadis itu ya?," pertanyaan itu menghantui pikirannya. Tengah ia melamun tiba2 lampu kamar mendadak mati, dan perlahan dari balik tirai terlihat sesosok tubuh wanita, tidak begitu jelas terlihat, berdiri dan berjalan menghampirinya, wajahnya tertutup oleh rambut yang menjuntai, ketika tiba2 wajah itu ada dihadapannya dan tetes darah menerpa wajahnya, Ratih berteriak, tapi ia tidak dapat mengeluarkan suaranya, lehernya seperti kaku dan semua organ tubuhnya tak dapat digerakan. Ratih terus berteriak, hingga tiba2 tubuhnya terasa ada yang mengguncangnya.

"Rat...Ratih, Ratih bangun...bangun."

Ratih membuka matanya, dilihatnya Tiwi sudah duduk disampingnya, sambil memegang tangannya.

"Hey...lo kenapa sih, teriak2 gitu?, lo ngimpi apa?," Tiwi memberondongnya dengan pertanyaan.

"Nggak Wi." Ratih gak mau bercerita, karena ia tau sepupunya itu sangat penakut dan dia bakalan minta pulang kalau dengar cerita Ratih.

"Makanya kalo mau tidur tuh baca doa dulu, jangan baca komik," Tiwi meneruskan celotehnya.
"Nih..minum dulu," ujarnya sambil menyodorkan segelas air.

Ratih meneguk air itu dan mulai berbaring. Tiwi juga merebahkan tubuhnya dan dengkurnya kembali terdengar.
profile-picture
profile-picture
Mahendra888 dan redbaron memberi reputasi
11
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
09-05-2019 00:36
Part - 29
Lanjut ya.

Malam semakin larut, dan dingin terasa menusuk tulang. Kabut tipis terlihat turun perlahan. Ustadz Burhan memberi isyarat dengan tangannya kepada Ustadz Arif, agar waspada. Belum lagi usai Ustadz Burhan memberi tanda, tiba2 terdengar Bima berteriak keras, matanya merah membelalak.

"Astagfirullah...Ustadz !!!, Bima kena serangan," ujar Ustadz Arif, sambil memegang keras tubuh Bima. Bima terlihat meronta, tangannya berusaha mencakar dan mencekik, siapapun yang dekat dengannya. Tiba2 seorang santri, terkena cakaran Bima. Dia mundur beberapa langkah, kemudian diam. Lima menit kemudian, santri itu juga menunjukan reaksi yang sama seperti Bima.

Ustadz Burhan bertindak cepat, ia melompat mendekati tubuh Bima dan terlihat mulutnya komat kamit merapal ayat2 suci. Tiba2 dari mulut Bima keluar sejenis Hewan, yang menyerupai cacing. Ustadz Burhan terus menghujani tubuh Bima dengan ayat2 suci, hingga akhirnya tubuh Bima lemas dan jatuh.

Disudut lain, terlihat Ustadz Arif tengah bertarung dengan santri yang terkena cakaran Bima. Ustadz Burhan bergegas datang memberikan bantuan.

"Ustadz pegang tengkuknya !!!," teriak Ustadz Burhan.

Ustadz Arif bergegas meraih tengkuk santri itu, sambil membaca ayat2 suci. Sesaat santri itu meronta, sebelum akhirnya jatuh pingsan.

"Ustadz, bagaimana ini ?, apa yang harus kita lakukan ?," ujar Ustadz Arif.
"Tunggu mereka sadar, balur badan mereka dengan air ini," jawab Ustadz Burhan, sambil menyerahkan air yang sudah dibacakan doa.

Ustadz Arif dibantu beberapa santri, membaluri tubuh Bima dan Noval, santri yang ikut kena serangan.
Ustadz Burhan terlihat lelah, keringat mengalir deras dari dahinya. Meski udara sangat dingin, tapi baju Ustadz Burhan dan Ustadz Arif, basah oleh keringat.

"Teman2, dengar baik2, musuh yang kita hadapi, adalah musuh tak kasat mata, mereka bisa menyerang kita kapanpun, untuk itu saya harap teman2 tetap waspada, dan ingat jangan putus dzikir, faham ?."

Ustadz Arif dan santri2 lainnya menganggukkan kepala. Wajah mereka terlihat tegang.

"Teman2, jangan takut Allah beserta kita. InsyaAllah, kita akan dapat melalui ini semua, aamiin."

Semua santri serempak mengaminkan ucapan Ustadz Burhan

------------------

Sementara itu didalam Villa Putih, terlihat Surti menambah kemenyan di meja altar. Asap mengepul menebarkan bau yang menusuk hidung. Sejurus kemudian tangannya terlihat meraih sebuah kendi, dan menuangkan isinya keatas sebuah keris.

"Gagak hitamku, inilah minuman kesukaanmu, darah ayam ," ujar Surti sambil menyiramkan cairan dalam kendi.

bhuahahaha...bhuahahahaha....bhuahahahaha

Surti tertawa lepas, mulutnya yg dipenuhi sirih dan gambir, terlihat menyeringai. Lalu diarahkan tangannya keatas.

"Hai...penguasa kegelapan, datanglah !!!, datanglah !!!!, aku memanggilmu."

Dihentakan kakinya, dipukulkan tongkatnya ke sebuah bejana.

Dhuarrrr......Buummm

Terdengar sebuah ledakan disertai melesatnya bola api berwarna merah, menyilaukan mata.

"Pergilah kalian semua ke Neraka !!!, kalian tak akan mungkin bisa mengalahkan aku. Aku Surti...Dewi kegelapan...hahahahaha....hahahaha, tak akan membiarkan kalian hidup. cuihh." Surti terkekeh2, sambil meludah. Wajahnya terlihat marah dan memerah.
profile-picture
redbaron memberi reputasi
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jampe-popotongan-kisah-nyata
Stories from the Heart
teror-hantu-penunggu-tpu
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.