alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
15-04-2019 03:38
The Numbness
The Numbness


THE NUMBNESS


Dalam sederhana,
Kisahku yang bercerita ...
Tentang aku ...
Menyerupai senja yang telah lelah ...
Bersembunyi
Bertanya

Hingga kau hadir sebagai pagi ...


{thread_title}


Ini bukan soal cinta.
Bukan itu.
Ini tentang bertemunya dua manusia dengan sejuta !mimpinya.
Saling menguatkan.
Layaknya senja yang mungkin mulai meredup
Tapi pagi akan selalu hadir menopangnya !


Quote:
The Numbness #1 : Paresthesia























Diubah oleh Cerca.trova666
2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
21-04-2019 10:55
Quote:
MY FIRST HEARTBEAT


Gue diasuh mbah ibuk dengan budaya islam yang sangat kental. Lingkungan rumah mbah ibuk merupakan daerah basis Nahdlatul Ulama. Rumah mbah ibuk diapit oleh beberapa pesantren di sekelilingnya. Total ada 3 ponpes. Dari TK hingga SD gue disekolahkan di sekolah yayasan keislaman. Mata pelajaran di SD islam lebih banyak jumlahnya dibanding SD negeri. Sehingga waktu ujian pun lebih lama selesainya.

Akidah Akhlak, Fikih, Aswaja, Bahasa Arab, Quran Hadist, ilmu Tajwid, dan mengaji kitab kuning menjadi agenda pelajaran ketika gue SD. Biarpun masih SD, tapi seluruh siswi diwajibkan memakai hijab. Ada batasan besar antara pergaulan siswa dan siswinya. Tiap pulang sekolah, siswa siswi diwajibkan shalat dhuhur di masjid besar di depan sekolah. Hafalan hadist, surah Yasin, Tabarok, dan Waqiah menjadi syarat kelulusan juga. Istoghosah bersama tidak cuma dilaksanakan ketika akan menghadapi ujian saja, tetapi juga setiap hari-hari biasa.

Salah satu ponpes di sekitar rumah gue merupakan ponpes khusus putri. Dan mbah ibuk menitipkan gue pada si kepala ponpes, yang notabene nya adalah sahabat lama mbah ibuk, untuk menimba ilmu keislaman. Gue belajar membaca kitab kuning juga. Gue membaca huruf arab pego (arab gundul). Gue hafal semua surah di juz terakhir (juz amma) di dalam Alquran.

Gue tumbuh menjadi anak rumahan yang jarang keluar rumah kecuali waktu sekolah, les, dan mengaji. Gue ga punya teman sepermainan di lingkungan rumah. Mbah ibuk sangat protektif terhadap gue. Gue diharamkan pergi main ke rumah tetangga.
Jika lagi kepingin bermain dengan anak2 sebaya gue di kampung, mbah ibuk menyuruh mereka saja yang datang ke rumah. Bukan gue yang pergi menemui mereka.

Ketika gue kelas dua SMA, barulah gue mulai "keluar kandang". Gue diajak anak-anak senior di kampung gue buat ikut Karang Taruna.
Baru 2x pertemuan, gue langsung didapuk jadi pengurus inti. Mungkin keaktifan gue ketika rapat membuat mereka menilai gue mampu berorganisasi.

Di SD, gue memang pendiam. Tapi ketika gue SMP, gue mulai belajar manajemen dan komunikasi dalam organisasi.
Aktif mengemukakan pendapat dan kerjasama team dalam kepengurusan.
Terimakasih, OSIS/PMR/MPK.

Gue juga masuk dalam kepengurusan Remas (Remaja Masjid). Dan gue satu-satunya pengurus yang tidak berhijab.

Sejak kecil gue diasuh mbah ibuk. Bukan mama. Gue akuin, kedekatan batin gue dan mama lumayan minus. Gue jarang bertemu mama. Karena waktu itu mama bekerja di Surabaya selama sekian tahun dan jarang pulkam.
Gue tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dibelai mama, dipeluk, di manja, apalagi tidur ditemani mama.
Ini jadi salah satu faktor penyebab renggang nya ikatan batin mama dan gue.

Di SD, gue menimba ilmu dibawah tekanan track record mama di SD tersebut. Mama selalu menjadi juara kelas, nilai2nya adalah yang terbaik, penyumbang piala perlombaan untuk sekolah, dan murid teladan.
Ini membuat guru-guru lama dan kepsek memiliki ekspektasi yang terlalu berlebihan ke gue. Nilai SD gue pas-pasan. Gue tidak pernah sama sekali lolos seleksi saringan apalagi mendapatkan piala kejuaraan. Gue tidak se-shining mama dulu.

Ketika melihat satu-satunya angka 7 di raport gue, mama tidak mengapresiasi nilai keseluruhan gue. Padahal di seluruh mata pelajaran, tertulis beberapa angka 8 dan dominasi nilai 9. Menurut mama, ini bukan merupakan nilai raport yang bagus dan malah sedikit mengecewakan.

Barulah ketika gue lulus SD dengan nilai terbaik di tingkat sekolah, mama meneteskan air mata bangga dan memeluk gue. Ini pertama kalinya mama memperlihatkan perasaan keibuannya ke gue.
Dan ketika gue mendapatkan nilai terbaik itu, adalah peramakali nya gue merasakan luapan kasih sayang dari seorang ibu ....

Gue diterima di sebuah SMP Negeri terfavorit di Singosari.
Di sini gue mulai beradaptasi dengan lingkup pergaulan dan interaksi yang berbeda.
Dengan masuknya gue ke sekolah ini, mama bertambah bangga dan sangat perhatian. Selalu menemani gue belajar. Gue udah tinggal dengan mama dan keluarga barunya. Semua kebutuhan sekolah gue adalah yang paling utama buat mama. Mama berusaha mewujudkan impian2nya yang tertunda melalui gue.

Pelajaran matematika jadi satu2nya hal yang paling disorot mama. Ketika kuliah di jember dulu, mama mengambil jurusan Ilmu Matematika. Dan mama berharap gue bisa meniru passion dan skill nya.




mungkin kalian bakalan mikir gue nyombongin diri gue sendiri. Percaya atau tidak, gue tidak peduli. Gue hanya ingin mengenang kembai masa-masa 'keemasan' gue. Karena hanya sebatas inilah yang bisa gue banggakan,
Karena setelahnya bahkan hingga hari ini, tidak ada satu hal pun dalam hidup gue yang positif dan pantas dibanggakan ....
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
unbreakable
Stories from the Heart
elang-mataram
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.