alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
06-04-2019 08:52
[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin
[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin
Sumber : https://pixabay.com/id/photos/hantu-...-horor-572038/

PERKENALAN

Quote:
Haii, selamat malam, selamat membaca di thread saya yang ke lima, eh lupa ke berapa. Ini adalah pertama kalinya saya menuliskan kisah yang bergenre beda. Yups, ini horor sekali menurut saya, karena ini adalah perjalanan mistis saya yang benar-benar membuat saya tidak bisa move on.

Sebelumnya, kita kenalan dulu ya. Jangan lupa buat agan dan sista yang datang ke sini, gelar tikar boleh, tapi harus bawa minum, minimal ada cendolnya gitu ya Gan. Biar gak boring ke sayanya. Eh, malah jadi ke suguhan gitu, haha.

Oke, perkenalkan, nama saya Shabrina, Agan bisa manggil Brina, neng Brina cantik (haha) atau panggil Sayang juga boleh deh, asal sayangnya beneran, bukan gombal ya. Haha. Saya sekolah di salah satu SMK di kota saya, jurusannya, gak usah dikasih tau kali ya?

Nanti kalau baca ceritanya, kalian bisa tau saya jurusan apa. wiiiih sekolahnya termasuk sekolah favorit loh kalo lagi musimnya tapi. Buat Agan yang bingung mau sekolah di mana, sekolah di tempat saya aja deh, dijamin betah.

Btw (red : bay de wey), kalau pakai kata 'saya' jadi rada kaku gitu, biasanya pakai 'aku'. Jadinya ganti aja ya, jadi Aku. Aku masih labil memang, maaf ya. hihiihi.

Entah apa yang terjadi sama sekolahku, kalau pada umumnya orang Prakerin atau bisa disebut PKL, itu biasanya kelas sebelas, tapi sekolahku melaksanakannya saat kelas dua belas semester ganjil. Tau lah ya kapan terjadinya? Kurasa kalian sudah sedikit tahu tentangku, cie.

Oke, setelah melalui beberapa pembekalan untuk prakerin, akhirnya aku tahu siapa saja yang sekelompok denganku. Kami terdiri dari 11 orang, berasal dari kelas yang berbeda. Hal ini sangat menjengkelkan, sebab aku bisa pisah dengan teman satu gengku. Menyedihkan juga.

Dari sebelas orang itu, ada perempuan 6 orang dan laki-laki 5 orang. Perempuan terdiri dari aku, Siti, Roros, Siti, Ranti, dan Eva. Sedangkan laki-laki terdiri dari Arif, Ari, Dede, Falaq, dan Rizal. Aku dijadikan ketua perempuan dan Ali ketua laki-laki.

Ada banyak karakter dari mereka yang belum aku ketahui, wajar saja, di sekolah aku hanya bergaul dengan anak organisasi, boleh dikatakan anak yang agak pilih-pilih. Bukannya sombong, biasanya mereka tahu aku, tapi aku tidak tahu mereka. Sombong sekali aku!

Dan, di tempat prakerin inilah aku bisa mengenal mereka yang sesungguhnya...



[1] Pemberangkatan

Waktu itu pembekalan terakhir di sekolah yaitu hari Senin, aku sudah menyiapkan perlengkapan dari mulai alat mandi, alat makan, alat ibadah, pakaian praktek, dan alat untuk di lapangan. Tak lupa aku selalu membawa buku harian ke mana-mana, bila ada waktu untuk menulis, biasanya kucatat setiap kejadian dalam setiap harinya.

"Brin, pulang sekolah, jangan lupa kita kumpul dulu ya, kita bagi-bagi alat untuk masak, karena kita akan tinggal di kontrakan yang tidak ada alat-alatnya. Secara, kita kan bukan di perusahaan kayak temen-temen yang lain," ujar Ali ketua kelompokku.

"Oh, oke siap. Biar kucatat dulu ya." 

Setelah perbincanganku di kantin dengan Ali, aku segera menuliskan apa saja yang sekiranya kurang. Perlengkapan memasak tidak mungkin dilupakan, hidup di tengah hutan, siapa yang akan memasakkan kita kalau tidak ada alat masaknya.

Sebenarnya, aku hanya tahu nama daerahnya saja, tapi tidak tahu persis tempatnya seperti apa. Belum sempat melihat di google maps juga. Aku curiga akan ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian kota. Kata kakak kelas sih biasanya begitu. Tapi mereka yang sudah pengalaman, tidak ada yang memberikan masukan pada kami.

"Hei, Brin sedih banget kita bakalan pisah selama tiga bulan"

Ica memelukku, kami bersahabat dari mulai kelas satu sampai sekarang. Kita berjanji akan selalu memberi kabar jika sudah berada di tempat prakerin masing-masing.

"Iya, sedih banget ya. Tapi kita harus tetap semangat. Baru juga tiga bulan kan?"

Aku berusaha menghibur walau sebenarnya aku juga sedih jika harus berpisah dengan Ica. Ke mana-mana biasa sama dia.

"Abis pulang pembekalan, kamu mau ke mana? Bisa gak kita ke tempat batagor kuah? Kita makan di sana, yuk?"

"Duh maafin, aku mau kumpulan anak kelompok dulu Ca, gak bisa kayaknya" aku menolaknya.

Sebenarnya aku juga ingin makan bareng dia, kapan lagi sih. Tapi sayangnya tidak bisa lagi. Aku juga harus mementingkan urusan kelompok prakerinku.

Seperti yang sudah disepakati, sepulang pemebekalan, aku segera ke kelasnya Ali, aku juga belum begitu dekat dengan Ali, yang aku tahu dia salah satu pemain bola terbaik di sekolah. Tapi aku tidak begitu sering memperhatikannya. Buat apa?

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah, kelas demi kelas telah kulewati, kelasnya Ali ada di paling ujung, dekat kantin. Lumayanlah kalau bibi kantin belum tutup, aku bisa nongkrong juga di sana.

"Hai, ke mana yang lain?" tanyaku pada Ranti yang ternyata sudah duluan ada di kelas Ali.

"Tadi yang lain telat katanya. Lah, kamu kenapa sendiri? Ke mana Roros dan Arif? Kalian kan sekelas" tanya Ranti yang seakan mengintrogasiku.

"Haha, iya aku tadi ninggalin mereka, habisnya mereka lama" jawabku singkat.

"Oke deh, gapapa." jawab Ali yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.

Tak berselang lama dari perembukan untuk pemberangkatan itu, satu persatu anggota pun berdatangan. Begitulah Indonesia, ngaretnya memang keterlaluan. Bikin kesal tingkat dewa.

Rembukan itu hanya berlangsung sekitar tiga puluh menit, lusa adalah pemberangkatan ke tempat yang sesungguhnya.

**Dua Hari Kemudian**

Pagi-pagi sekali aku bangun. Semangat di dada begitu sangat membara. Ya, hari ini aku akan pergi ke tempat prakerinku. Rasanya saat tidur pun terbayang terus pertanyaan akan seperti apa di tempat itu.

Setelah aku mandi dan persiapn segalanya, mama memanggilku, ada salah satu nasihat dari kedua orang tuaku yang paling kuingat.

"Jika kamu sudah ada di sana, kamu harus bisa menitipkan diri ya, di mana kaki berpijak, di situ langit harus dijunjung."

Perkataan sederhana tapi mampu mewakili semua pesan di dalamnya.

Setelah berpamitan, akhirnya aku segera ke sekolah. Aku memasukan beberapa barang bawaanku sekelompok ke mobil pick up yang disediakan oleh sekolah. 

"Hati-hati di sana ya anak-anakku, jaga nama baik sekolah. Kami di sini selalu menunggu kehadiran kalian kembali" kepala sekolah melepas kepergian kami dengan melambaikan tangan.

Berpisah dengan teman yang selalu bersama memang tidak mudah. Seperti yang sedang aku alami. Butuh pembiasaan yang tidak mudah.

"Aku sudah tau di sebelah mana kita akan ditempatkan"

Ratih memulai obrolan yang bisa dilihat serius. Biasanya dia tidak seserius itu. Dan aki juga biasanya malas mendengarkan ocehan gak jelas dari anak-anak lain.

Aku sibuk memainkan ponselku, mengisi kekosongan sepanjang perjalanan.

"Iya kah kamu sudah tau?" Siti menanggapi ucapan Ratih dengan wajah yang tak kalah serius.

"Iya, aku nyari tahu ke mamaku, kata mama sih itu daerahnya yang lumayan jauh dari jalan raya, di sekitar pembangunan proyek tol, tapi masih agak jauh" Ratih sibuk dengan cermin yang digunakannya untuk bersolek.

"Ah, kamu sok tahu!" Arif yang terlihat cuek, ternyata di belakang mendengarkan juga perbincangan.

Sementara aku sibuk sendiri, tapi sebenarnya aku mendengarkan juga apa yang mereka bicarakan.

Hingga mobil Avanza yang membawa kami ke tempat prakerin pun sampai di sebuah jalan yang penuh dengan tanah, sudah diaspal tapi masih lebih banyak tanah merah.

"Pak, ini di mana? Kok jalannya lain ya?" Tanyaku penasaran.

"Iya Neng, kita lewat akses sini, biar gak macet, nanti Neng sama temen-temen yang lain bisa lewat ke sini juga kalo mau pulang"

Kulihat sepanjang jalan, jarak antara rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tapi kupikir ini baru di jalan, siapa tau nanti di sana akan banyak penduduk juga.

Lima belas menit menyusuri jalan kecil itu, ada tanjakan yang begitu curam, jalannya rusak, jika dalam kondisi hujan, hanya sebagian kecil kendaraan bisa lewat.

Aku membayangkan jika bawa motor di jalanan seperti ini, pastinya aku gak akan bisa. Aku orang yang tomboy, tapi ya begitulah.

"Waaaw, jalannya keren! Kayaknya kita bakalan susah kalau mau main" ucap Dede.

"Ah, otak lu main aja. Kita mau belajar di sana, bukan mau main. Lagian juga belum sampai di sana" Ali menenangkan kerisuhan dalam mobil.

Tak berselang lama, sampailah mobil kami di sebuah tempat yang bisa dikatakan desa, tapi bangunan yang kita datangi mewah sendiri.

Di depannya ada plang 'Kelompok Tani'.
Yaa, kami akan prakerin di tempat ini. Sebuah desa yang sangat desa dan masih kental dengan adat desa tersebut.

Pak Hartono, pembina kelompokku. Beliau sudah berada di tempat lebih dulu.

"Sini anak-anak. Kita masuk dulu ke kantornya! Atang, Brina ajakain teman-teman kamu!"

Aku pun segera dengan penuh rasa gembira menghampiri pembinaku yang sudah ada di sana dengan induk semangku.

Kakiku melangkah memasuki bangunan paling mewah di sana, kulihat ada hiasan kepala kerbau di sana. Aku merasa dipelototi oleh makhluk tak kasat mata. Tiba-tiba aku kaku melihat patung kepala itu.

Dan, aku masih sibuk memikirkan patung kepala kerbau, tidak mendengarkan apa yang sedang dibahas.

"Briiinn !!!!"

Like, komen and subscribe channel gua, gan. Gua bakalan up tiap hari. See you next time, jangan rindu aku. Muuuuaachhhemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Diubah oleh brina313
profile-picture
profile-picture
profile-picture
spam.hunter dan 60 lainnya memberi reputasi
61
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
08-04-2019 22:10
Quote:Original Posted By abahekhubytsany
Brina...abah hadir.maaf ya...telat.


Iya abaaah. Miss you emoticon-Big Kiss
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kunikahi-sahabatku
Stories from the Heart
two-sides-of-the-same-coin
Stories from the Heart
dua
Stories from the Heart
dibatasi-jendela-kamar
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.