Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
228
Lapor Hansip
15-03-2019 11:41

Rumah Terbengkalai (True Story)

Rumah Terbengkalai (True Story)

Hai, Readers.
Saya punya cerita yang mungkin menarik untuk kalian baca, kisah ini saya angkat dari kejadian nyata yang saya alami sendiri.

Sebelumnya saya minta maaf jika ada:
-Kesalahan dalam Post saya
-Update ceritanya lama.
-Saltik atau Typo karena cerita belum sempat di Revisi ulang.

Untuk Versi REVISI DAN TERUPDATE bisa cek di sini: Mangatoon - Rumah Terbengkalai True Story

Quote:
- WARNING -
Dimohon kerjasamanya bagi siapapun yang sudah tahu menahu tentang lokasi di cerita ini untuk tetap MERAHASIAKANNYA. Dan bagi yang MASIH PENASARAN, TS mohon dengan sangat untuk penasaranlah dari segi ceritanya saja (tidak perlu mencari & menerka). Let mystery be a mystery, untuk kebaikan kita bersama & sisi unik dari cerita ini.


Quote:
Note: SAYA HANYA MEMPOST CERITA INI DI KASKUS DAN MANGATOON. SELAIN DI DUA PLATFORM INI CERITA DIJAMIN PLAGIAT ..

----------------------------------------------------------------
Index On Kaskus (Progres)

1. Prolog.
2. Perkenalan.
3. Rumah Tua Part 1.
4. Rumah Tua End.
5. Malam Pertama Part 1.
6. Malam Pertama End.
7. Interaksi Astral Part 1.
8. Interaksi Astral End.


>>> On Going Progres Perpindahan Post: Sabar ya gan.. emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Maaf kalau dibagi menjadi "Part" karena menghindari jenuh baca dan panjang pada Reply Thread.
----------------------------------------------------------------
Quote:
Plot Story:

Cerita diangkat berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh lima Pria remaja asal Bogor Jawa Barat.

Kejadian Bermula ketika Yudi membeli sebuah rumah tua peninggalan belanda yang hendak ia renovasi menjadi bangunan mewah berlantai empat.

Seiring pembangunan berjalan, kejadian aneh kerap dialami oleh para-pekerja yang membuat meraka merasa tidak nyaman, interaksi keberadaan makhluk tak kesat mata terasa kental ketika malam menjelang. Deni dan empat kawannya yang diberi tugas mengawasi pekerja tak luput dari gangguan yang sulit diterima oleh nalar.

Hingga detik ini pembangun telah terhenti, yang tinggal hanya menyisakan rumah besar yang terbengkalai.

Gangguan seperti apa yang mereka rasakan? lalu adakah kisah kelam dibalik berdirinya bangunan besar ini? mari ikuti pengakuannya dalam cerita "Rumah Terbengkalai"
dan pastikan anda tidak membacanya seorang diri.
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Rumah Terbengkalai (True Story)
18-03-2019 18:22

Malam Pertama Part 2

Langkahku terhenti saat menginjakan kaki di ruang bercahaya redup kekuningan yang membentang luas tanpa terhalang dinding pembatas.

Aku menoleh ke segala sudut, ketika firasatku berkata jika ada sesuatu yang tengah mengintaiku dari suatu tempat.

Serentak bulu kuduk-ku berdiri hebat, dari lutut hingga kepala. Aku berbalik cepat, namun tak ada siapa pun di belakangku. Bahuku terasa semakin berat bagaikan memikul beban yang besar, hembusan angin yang tercampur dengan bau bakaran sangat terasa di sini.

Beberapa kali aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa cemas yang datang semakin tak menentu.

Ruangan ini lebih nampak suram jika dibandingkan dengan ruang lainnya, asap yang mengepul membuat udara terasa pengap cenderung hangat.

Aku menatap pada tengku api yang terbuat dari tumpukan batako merah lengkap dengan sisa kayu yang masih mengeluarkan asap pada lubang bundar di bagian tengahnya.

"Sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini," Aku menghirup udara dalam, dan menghembuskannya. "Mungkin aku terlalu lelah."

Aku memantapkan keyakinan dan kembali melangkah tegap menghampir pintu toilet yang terbuat dari barisan papan.

Aku mendorong pintu yang ada dihadapanku dengan perlahan.
Kreeekkk ... !!!
Dan nampaklah ruang yang cukup luas persegi empat, dengan penampungan air terbuat dari tembok yang cukup besar, mungkin aku bisa berendam di dalamnya. Lantainya sedikit berlumut kerena hanya terbuat dari plesteran semen tanpa keramik.

Rasa ragu sempat menahanku untuk masuk ke dalam toilet yang sedikit berbau tak sedap ini, tapi tak ada pilihan lain bagiku, mungkin hanya ini satu-satunya toilet rumah ini, tanpa ada pertimbangan lain aku segera melangkah masuk.

Namun ketika hendak menutup pintu, aku dikejutkan oleh seekor laba-laba besar seukuran telapak tangan pria dewasa dengan 8 kaki yang berbulu halus berwarna coklat gelap.

Aku kurang bersahabat dengan laba-laba jenis ini, lebih baik aku tak mengusiknya, dengan perlahan aku menutup pintu kemabli untuk menyelesaikan ritual mandiku.

Air segar yang tertampung pada Bak mandi, menyapu seluruh rasa lelah dan dahaga yang kudapat dari hiruk-pikuk ketika di perjalanan. Aku membasuh Shampo pada rambutku dengan merata. Namun saat hendak membilasnya, aku kembali merasakan firasat yang sama jika ada sesuatu yang menarik perhatianku untuk menoleh ke arah kiri, tepat di sudut belakang.

Dengan mata sedikit tertutup, aku melirik di balik air yang melintas di wajahku, dan samar terlihat seuntai kain putih menjuntai tepat di sudut kamar mandi. Semakin lama aku pandangi, bayangan itu semakin nampak jelas bagaikan wayang yang berdiri kaku.

Aku mempercepat kayuhan gayung dengan sangat tergesa-gesa, ingin segera meninggalkan ruangan ini. Karena yang aku tahu saat memasuki toilet ini tak ada kain ataupun benda yang mematung di sudut sana.

Merasa keadaan semakin mencekam, aku bergegas untuk keluar dari ruangan ini. Tapi sungguh sial, ketika aku menarik handuk yang tergantung pada paku pintu, dengan tiba-tiba seekor laba-laba melompat ke tubuhku.

"Berengsekk!!!" aku memukul kuat laba-laba itu hingga menggigit paha kiriku. Rasa gigitannya begitu panas bagai tertusuk jarum tajam.

Ardan yang mendengar kegaduhan yang kutimbulkan saat di kamar mandi lantas bertanya, ketika melihatku tiba di ruang tamu dengan langkah tergesa-gesa. "Kenapa Den."

Sesaat aku tak menghiraukannya. "Ng-nga apa-apa Dan," singkatku, dengan senyum palsu.

Aku menghetikan langkah melihat Ardan dan yang lainnya sedang berusaha memasang bohlam lampu dengan kursi yang diduduki oleh Ardan dan Jainal, Alvien nampak berdiri di sandaran kursi berusaha memutar bohlam lampu yang hampir terpasangnya.

"Sedikit lagi nih," seru Alvien, diiringi lampu yang menyala.

"Nah, ginikan enak," lanjut Ardan.

"Mantaplah, pokoknya." tambahku.

"Buat yang di kamar kedua dan ketiga gimana Den," tanya Ardan, "yakin bisa ngga tuh mangkok lampunya," lanjutnya.

"Wah, kalau itu si ngga tau Dan," aku berjalan dan terhenti di ambang pintu no2. "Kayaknya si bisa deh."

"Kalau gak dicoba mana tau si," tukas Jainal, penuh semangat mengangkat kursi kayu ke kamar nomor dua.

"Gw suka nih, kalau dia udah samangat gitu," seru Alvien. "Bisa-bisa dia lumat semua pekerjaannya."

"Pelan-pelan aja. Hati-hati," sahutku. "Oya, kalau kalian udah beres kunci aja pintunya ya," lanjutku, beranjak menuju kamar Arif.

"Lah, kok tidur? begadanglah, udah lama gak main kartu bereng," pekik Jainal, sedikit berteriak dari dalam kamar no2.

"Besok-besok ... " singkatku.

"Capek dia Pak, butuh istirahat," komentar Alvien.

"Lawan aing heula weh mun boga nyali mh, haha," seru Ardan, membalas perkataan Jainal.

"Boga nyali emang Dan, jadi keun."

Itulah temanku, selama bersama pasti kami selalu ceria di manapun tempatnya, suasana menyenangkan yang mungkin sulit untuk terulang.

Aku menghelakan nafas dan melirik ke arah Arif yang telah tertidur pulas. "Udah tidur aja ini anak," gumamku, sambil merebahkan diri pada tempat tidur hingga menghadap langit-langit kamar yang berwarna putih kusam, sekaligus menjadi pemandangan terakhirku di malam itu.

Sebaiknya esok aku pulang ke rumah, untuk menemui ibuku..

***
Yuut!! Yuuttt!! Yuutt!!
"Sayuurr..!! sayuurr..!!"

Dengan mata sayu dan rasa dingin yang masih melekat, aku membuka mata dan bangkit dari tidurku.a

"Bodohnya ... " batinku tertawa kecil.

Aku tersenyum ketika melihat tempat tidur tua ini telah terisi penuh oleh teman-temanku, bahakan kaki Ardan tidak sepunuhnya berada di atas tempat tidur.

"Dasar bocah-bocah aneh, ngapain kalian bersihkan dan memberi lampu kamar sebelah, jika akhirnya tidur semua di sini ..."

aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju ruang tamu, dengan wajah yang masih kusut, aku menghela nafad panjang sesaat membuka jendela kayu yang tak berkaca ini.

Suasana pagi hari yang sangat berbeda ketika malam berlalu, udara di sini terasa sejuk dan tenang, suara kicauan burung bernada merdu terdengar indah membius keheningan.

Masih dengan rasa penasaran, aku mengedarkan pandang ke setiap sudut, hingga terhenti ketika melihat seorang pria tangguh sedang berusaha mendorong gerobak dagangannya dengan penuh semangat, ia tengah berjuang melewati jalan bergelombang yang dipenuhi bebatuan.

Tidak puas hanya melihat dari balik jendela, aku yang masih penasaran dengan sekitar rumah lantas berjalan menuju pintu depan.

Setibanya di halaman depan rumah, aku sedikit kecewa, pemandangan di sini tidaklah jauh berbeda pada saat malam hari.

Semak belukar dan pohon pisang  terlihat jelas memenuhi bagian sisi kiri halaman depan dan rumah yang berada di sebelah masih terlihat sunyi tanpa ada aktifitas seorang pun di sana, mungkin memang rumah itu tak berpenghuni.

Kring..!! kring..!!
Dering ponsel yang terdengar dari dalam kamar, membuatku beranjak dari teras depan.

"Babang ... "

"Yha, hallo bang."

"Ya, Den. Nanti siang tukang bangunan sampai di situ, tolong kosongin dulu rumahnya yah, mau dibongkar," ujar Yudi, dalam panggilan ponsel.

"Oh, oke bang," singkatku, dan Yudi mengakhiri panggilannya.

Aku menaruh kembali handphone dan berjalan menuju kamar mandi.
Namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu bilik yang tertutup angkuh di sudut ruangan dapur.

"baru sadar kalau ada pintu belakang di sini... "

Aku membuka kawat kecil yang sudah berkarat, melilit pada sebuah paku, tanpa aku mendorongnya, pintu bilik itu pun terbuka dengan lebar.

Terlihat semak-semak liar yang rimbun memenuhi lahan luas yang ada di belakang rumah, ada tiga pohon rambutan yang besar lengkap dengan daunya yang lebat, di sisi lain terdapat segelontongan bambu kering yang saling bertumpang tindih tak karuan tersusun tidak jauh dari pohon tersebut.

Dan di sudut kiri terdapat lubang bersegi empat dipenuhi sampah yang berserakan pada ujung bibirnya, namun sesuatu yang nampak aneh, menarik perhatianku.

Dengan sangat hati-hati aku mulai berjalan melintasi rimbunnya semak liar yang setinggi lututku, hingga aku terhenti pada sebuah titik.

"Eh, sumurkah.. "

Terlihat sebuah sumur yang tertutup rapat bersembunyi diantara tingginya semak-semak belukar, aku yang penasaran lantas menggeser tutup sumur yang terbuat dari bilik itu dan melongok ke dalamnya.

Terlihat pinggiran sumur yang telah dipenuhi busah putih yang bergelembung mengitari seluruh lubang sumur, aku tidak mengerti busah kental apa itu.

Aku beranjak dari sumur tua itu dengan rasa penasaran yang telah terobati bergegas untuk membersihkan diri, mengingat hari ini aku akan pulang.

Setibanya di dalam kamar aku yang sudah siap pulang, lalu membangunkan Arif yang masih tertidur lelap bersama teman lainnya.

"Rif bangun, gue mau pulang, ada apa-apa Telp aja," Arif hanya mengangkuk dengan matanya yang masih terpejam.

"Dan, Dan" aku menepuk paha Ardan agar terbangun, "anter sampai jalan raya yu" namun Ardan tak menjawab.

Aku menghelakan nafas, dan berjalan seorang diri berharap bertemu kendaraan yang bisa aku sewa, langkahku semakin jauh meninggalkan rumah tua itu, hingga aku teringat pada perkataan Yudi, "Aih, aku lupa ngasih tau kalau akan ada pekerja yang hendak membongkar rumah hari ini," aku melanjutkan langkah. "ah, sudahlah."

Ini bukan Ending dari kisahku, justru sebaliknya. Ini awal dari semua gangguan yang aku sering rasakan!

*****************
>> Bersambung ...
Diubah oleh wedi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
forlano dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
profile picture
kaskuser
25-02-2020 16:22
Mungkin bisa di bikin sketsa denah rmh'a gan..
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
nameless
Stories from the Heart
Stories from the Heart
bab-23--persyaratan
Stories from the Heart
my-sister
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
Stories from the Heart
kejutan-tuhan--cerpen-2020
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia