alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
122
Lapor Hansip
20-01-2019 20:16

Mendiang Nenek Gw yang Anti-Mainstream

Mendiang Nenek Gw yang Anti-Mainstream


19 Januari 2016 pagi. Tidur gw terusik dengan suara pintu kamar yang berkali-kali diketuk. Gw enggan untuk membuka mata dan mengangkat tubuh, karena rasa-rasanya selimut tebal yang gw pakai terus menerus memeluk dan memberi gw kehangatan. Bayangkan saja, musim dingin memang lebih terasa dibulan Januari. Jadi adalah sebuah kewajaran jika gw tidak mengindahkan ketika nama gw dipanggil.

"Xiao Mei, kamu sudah bangun belum?", tanya agen gw dari luar kamar.

Xiao Mei adalah nama panggilan gw ketika di Taiwan, dan mendiang kakek gw lah yang pada awalnya memberi nama Xiao Mei Hwa. Alasannya cukup sederhana, beliau tidak bisa menyebut nama gw dengan benar. Ya sudahlah, sejak saat itu siapapun memanggil gw dengan sebutan "Xiao Mei".

Dengan mata yang masih belekan, gw berusaha melirik jam dihape yang gw beli dari toko Indonesia dengan cara dicicil 2 kali. Hape Sony Xperia Z3 yang saat itu menjadi idaman, setidaknya bagi diri gw sendiri.

Lalu gw menggeliat sekuat tenaga dan menghembuskan nafas berbau jigong ke udara. Gw duduk ditepian ranjang sambil mengumpulkan nyawa agar mereka kembali ke dunia nyata.

"Zao an.. Xiao Mei, kamu cepat bersih-bersih, beres-beres barang, lalu sarapan. Ada roti dimeja, dan kalo kamu mau minum kopi, naik saja ke lantai 2, air panasnya ada disana. Setengah jam lagi aku akan mengantarkanmu ketempat pasien yang baru", sambut agen gw sambil berdiri didepan pintu.

Dan gw hanya menjawab, "Hao!".

Sambil duduk diatas toilet, gw sempat beradu mulut dengan pikiran gw sendiri. Kami sibuk menentukan pilihan apakah dipagi yang dingin ini gw harus mandi ataukah cukup dengan mencuci muka dan menyikat gigi?

"Tapi persetan dengan urusan mandi!", pikir gw.

Waktu sudah datang untuk memburu.

*****


Mobil yang gw tumpangi mengarah ke sebuah rumah yang jaraknya tidak jauh dari tempat gw menginap semalam. Rumah yang hanya satu lantai tersebut berbentuk huruf L, dengan beberapa pilar tembok dan teralis yang menempel disetiap jendela. Serta pintu kayu berukuran besar berwarna merah kecoklatan dengan tempelan kertas-kertas mantra cina berwarna kuning dan merah keemasan. Gw sudah bisa menebak bahwa tipikal rumah kampung seperti ini memiliki banyak kamar yang jarang ditempati. Kecuali disaat Imlek dimana semua anggota keluarga kembali ke kampung dan berkumpul.

Didepan rumah tersebut terdapat halaman yang luas yang bisa dipakai untuk hajatan ataupun membuat kolam renang. Bersebelahan dengan bagian rumah sebelah kanan, terdapat kamar mandi dan toilet yang terpisah, serta mesin cuci Top Load berwarna abu yang berdiri disebelah wastafel. Disebelahnya lagi terdapat garasi terbuka yang atapnya ditutupi material asbes, menaungi sebuah mobil pickup kecil berwarna biru, serta 3 buah motor yang diparkir secara sembarangan.

"Ni hao?", sapa gw pada seorang laki-laki berperut gendut dan rambut yang penuh dengan uban.

Sapaan yang sama gw lakukan pada seorang wanita dengan perawakan yang sedikit mengingatkan pada Ibu gw sendiri, namun wanita tersebut sedikit lebih tinggi dan berambut ikal pendek. Gw memperkirakan mereka berdua berumur sekitar 70 tahunan, oleh karena itu gw memanggil mereka dengan sebutan A'pe dan A'em. Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih mirip dengan sebutan Om dan Tante.



Dengan bahasa Hokian seadanya, gw berusaha bertanya tentang nenek, pasien yang akan gw rawat selanjutnya. Berapa umur nenek? Mengapa nenek duduk dikursi roda? Apakah lumpuh ataukah hanya masalah kaki yang sudah tidak kuat menopang tubuh dan berjalan? Makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dia makan? Bagaimana dengan urusan mandi? Urusan pamper? Urusan obat? Dan apa saja kebiasaan beliau sehari-hari? Bla.. Bla.. Bla.. Semua hal yang mendetil demi totalitas dan tanggung jawab gw sebagai seorang caregiver.

*****


Apa yang kalian bayangkan jika ada seorang nenek yang berumur 92 tahun, yang sambil sarapan dia menonton acara gulat Jepang yang ditayangkan setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang?

Tapi itulah yang nenek gw lakukan setiap pagi diruang keluarga yang berukuran 4x4 meter, ruangan yang kadang-kadang juga dijadikan sebagai ruang tamu. Diruangan tersebut terdapat beberapa kursi kayu dengan bantal dudukan yang berwarna merah, dan sebuah bufet yang juga terbuat dari kayu yang diatasnya terdapat tv flat berukuran 42 inci.

Nenek gw sendiri duduk diatas kursi roda dan gw duduk disebelahnya sambil menyuapi beliau dengan semangkok bubur nasi yang dicampur dengan ubi manis yang diserut. Diatasnya ditaburi abon yang biasanya dibuat dari daging babi, serta tambahan beberapa potong acar mentimun kalengan yang rasanya lebih asin dari masakan gw.

Dengan antengnya nenek gw menonton acara gulat tersebut sambil sesekali tertawa ketika si pegulat melakukan adegan yang menurut beliau memang lucu.

Justru sebenarnya gw yang menganggap beliau lucu, apalagi dengan segala tingkah dan kebiasaannya. Menonton gulat Jepang diumur 92 tahun disetiap pagi dan menikmati ayam goreng crispy sambil minum softdrink disetiap sore setelah gw memandikan beliau.

Dua hal yang menurut gw tidak lumrah bagi lansia seumuran beliau. Belum lagi dengan kata-kata yang sering diucapkan, yang intinya meminta untuk cepat mati setiap kali gw mengajaknya untuk latihan berjalan. Sehingga gw menganggap beliau tidak lebih dari seorang anak kecil yang manja yang akan marah jika keinginannya tidak dituruti.



Gw sendiri memiliki keyakinan kuat bahwa nenek gw bisa berjalan lagi, dan hal tersebut memang sempat terbukti dan sempat membuat gw berpikir tentang pencapaian terbaik gw sebagai seorang caregiver. Tapi tetap saja, pekerjaan yang mudah bukan berarti tanpa kendala. Dan kendalanya muncul dari nenek gw sendiri.

*****


Bagi gw, setiap musim panas adalah hal yang paling menyebalkan yang mau tidak mau harus gw jalani. Ibarat dua orang yang dipaksa bersalaman tanpa ketulusan setelah keduanya mengalami pertengkaran. Dan migren yang datang setiap saat tanpa diundang membuat gw memutuskan bahwa sampai kapanpun gw tidak akan bisa akur dengan cuaca panas. Bahkan saking tidak akurnya, untuk mengintip matahari pun rasanya gw enggan.

Disisi lain, seharusnya gw juga berterima kasih pada cuaca panas. Karena untuk sekali seumur hidup, gw pernah memiliki nyali dan memberanikan diri untuk mencukur hampir habis rambut gw dan menyisakan hanya sedikit. Sebuah hal tergila yang pernah gw lakukan sebagai seorang perempuan.

Tapi nampaknya bukan hanya gw yang tidak menyukai musim panas, karena setiap orang yang gw temui tidak jarang mengeluhkan tentang cuaca panas yang dirasa keterlaluan dan memiliki kemampuan menghilangkan selera makan dalam jangka waktu yang lama.

Hal yang serupa pun berlaku bagi nenek gw. Hingga disatu hari beliau mengeluh sakit dibagian perut dan muntah ketika beliau makan. Saat itu gw berpikir mungkin nenek gw hanya masuk angin. Namun semakin larut, keadaannya malah semakin tampak berbeda. Sekujur tubuhnya terasa dingin, wajahnya pucat dan nafasnya tersengal-sengal. Jemari kaki tidak lagi berwarna merah namun berubah menjadi berwarna kebiruan.

Melihat keadaannya yang seperti itu tentu saja membuat perasaan gw tidak tenang sedikitpun, dan entah kenapa saat itu nenek gw tidak segera dibawa ke rumah sakit.

Gw berbaring tepat disebelah nenek gw, dan kemudian beliau membalikkan wajahnya ke arah gw. Sambil menatap gw, dengan terbata-bata beliau sempat mengatakan dalam bahasa Hokian bahwa beliau ingin tidur.

Dan gw menjawab, "Iya, tidurlah".

Sejak detik itu gw terus menerus memeluk beliau dan berusaha untuk terjaga semalaman.

*****


Gw tersadar dari lelap yang bahkan gw sendiri tidak bermaksud untuk itu. Gw sempatkan untuk menatap nenek gw yang masih terbaring dengan mata yang terpejam dan nafas yang sedikit tersengal-sengal, sebelum gw memaksakan diri untuk bangun dan keluar dari kamar.

"Xiao Mei.. Kamu jangan banyak pikiran", ucap A'em.

Mungkin sedari tadi A'em memperhatikan gw yang hanya mengaduk-ngaduk bubur nasi didalam sebuah mangkok kecil berwarna biru dengan sepasang sumpit stainless. Dan bubur nasi tersebut tanpa sengaja gw tetesi dengan air mata yang sepertinya sudah mengumpul dari semalam dan pada akhirnya jatuh karena tidak tertampung lagi.

Gw membawa semangkok kecil bubur nasi yang sama ke kamar, masih dengan harapan nenek gw mau makan dan keadaannya lebih baik. Gw letakkan bantal tambahan dikepalanya agar gw lebih mudah untuk menyuapi. Setelah suapan terakhir, tiba-tiba saja rasanya gw ingin mengganti baju.

Gw kembali ke kamar dan duduk ditepi ranjang tepat disebelah nenek gw. Sekilas gw sempat melihat dari jendela, A'pe dan A'em yang sedang duduk diluar. Namun ketika gw membalikkan kepala, gw tidak lagi melihat nafas nenek yang tersengal-sengal. Gw menempelkan kuping gw untuk mendengar nafasnya tapi tidak setitikpun suara bisa gw dengar.

Lalu gw berusaha membangunkan beliau dengan memanggilnya pelan-pelan sambil sedikit menggerakkan tubuhnya, tapi nenek gw hanya diam. Gw kembali memanggil dengan suara yang lebih kencang, dan nenek gw tidak juga menjawab. Seketika tangis gw pecah dan gw langsung berteriak memanggil A'pe dan A'em.

*****


Kalian pernah tau rasanya ketika kehilangan seseorang? Dada yang terasa sesak dan sakit, serta tangis yang tidak kunjung berhenti?

Itulah yang gw rasakan ketika mengetahui nenek gw meninggal tepat ketika gw berada disampingnya, bahkan dengan bubur nasi yang masih tersisa didalam mulutnya. Rasa tidak percaya membuat gw terus menerus mengatakan pada semua orang bahwa saat itu nenek gw masih hidup tapi tiba-tiba saja beliau pergi. Dan semua orang berbalik meyakinkan gw bahwa nenek gw sudah tua, dan mungkin memang sudah waktunya bagi beliau untuk pergi.



Seseorang semacam ustad kemudian dipanggil untuk menghitung berapa lama nenek gw harus disemayamkan dan kapan beliau boleh dikubur. Ketika masih hidup nenek gw sempat berpesan pada salah satu anak laki-lakinya bahwa jika beliau meninggal, beliau hanya mau dikubur. Karena jika beliau dikremasi, beliau takut akan merasakan sakit pada tubuhnya karena dibakar api. Sebuah hal konyol yang selalu gw ingat sampai sekarang karena mustahil rasanya seseorang yang sudah meninggal masih bisa merasakan sakit.

Hari-hari berikutnya terasa hambar bagi gw, karena gw tidak lagi melakukan pekerjaan yang sama ketika nenek gw masih hidup. Jika dulu disetiap pagi gw dan nenek terbiasa menonton gulat bersama-sama sambil menikmati sarapan, setelah nenek gw pergi, gw hanya menikmati sarapan sendiri. Dan jika dulu disetiap sore gw dan nenek terbiasa duduk diteras rumah setelah gw selesai memandikan beliau, maka setelah beliau pergi, gw hanya duduk menunggu tamu yang barangkali akan datang untuk melayat sambil melakukan apa yang bisa gw lakukan.



Kehilangan pasien yang gw rawat bukan hanya pengalaman yang gw alami satu kali, tapi kehilangan nenek gw dirasa sama beratnya ketika gw kehilangan almarhum Bapak gw. Sampai-sampai gw pernah memimpikan nenek gw tersebut memanggil-manggil nama gw. Entah karena nenek gw yang masih berada disana ataukah gw yang terlalu rindu pada beliau.

*****




30 Oktober 2016, sudah waktunya bagi nenek gw untuk benar-benar pergi. Setelah semalaman semua anggota keluarga melakukan sembahyangan terakhir untuk beliau. Beliau pun dikeluarkan dari peti es dan kemudian dipindahkan ke dalam peti mati yang ditutupi dengan kain kuning, dan diatas kain kuning tersebut ditempeli hiasan bunga kertas yang kami lipat sendiri.



Acara pelepasan dilakukan sejak pagi. Semua anggota keluarga mengenakan baju seragam yang dipakai khusus untuk pemakaman, dan setiap anggota keluarga memiliki ciri khas yang berbeda pada seragam yang dipakainya, yang disesuaikan dengan jenis hubungan antara nenek dengan setiap anggota keluarga tersebut.



Disetiap prosesi pelepasan, disetiap itu pula semua orang yang merasa kehilangan akan menangis. Terlebih ketika peti mati dikeluarkan dari dalam rumah dan dibawa ke tengah, yang kemudian dikelilingi oleh semua anggota keluarga dan pada akhirnya paku ditancapkan diatasnya. Tanda bahwa gw tidak akan pernah melihatnya lagi.

*****




Semoga kamu tenang disana, nek.

我爱你..

*****


Baca juga :

Pengalaman Gw Selama 9 Tahun Sebagai Caregiver

3 Jenis Jajanan Wajib di Pasar Malam Taiwan Versi Gw

Mengunjungi Anping Old Fort dan Chihkan Tower di Kota Tainan, Taiwan


Diubah oleh marywiguna13
13
Mendiang Nenek Gw yang Anti-Mainstream
26-01-2019 06:15
Quote:Original Posted By marywiguna13


Iya aman emoticon-Malu



Engga dikremasi sih, cuma dikubur. Tapi memang tetap aja bikin sedih emoticon-Malu



Nanti dipikir dulu, soalnya feelnya lebih bisa dapet digenre thriller sih



Thread soal cinta lagi? Udah ga galau sekarang emoticon-Malu



Makasih, gan emoticon-Big Grin



Ya begitulah emoticon-Big Grin



Calonnya belum ada, gan emoticon-Big Grin



Aamiin, InsyaAllah.. emoticon-Embarrassment


ada kesempatan berarti.
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.