Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
11
Lapor Hansip
11-12-2018 01:16

THE LIGHT EMANATES FROM YOU

Cerita ini disadur dari sebuah komik asal jepang yang berjudul "I Would Never Tell" dari karya Yagami Rina. Jika, kalian baca komiknya, pasti akan tau jalan ceritanya. Namun, jalan cerita di sini akan ada perbedaan dengan komiknya. Meski begitu, ada beberapa jalan cerita yang sama.

Jika ada kekurangan atau kelebihannya, agan-agan bisa tinggalkan dalam komentar di bawah dan jangan lupa berikan nilai untuk cerita ini. Sebab, saya juga masih tahap belajar dalam pembuatan cerita. Semoga agan-agan bisa menikmati dan enjoy dalam membaca cerita ini yaaa.....
emoticon-Malu emoticon-Malu emoticon-Malu

SINOPSIS:
"Yuna adalah seorang wakil dewan kesiswaan yang tegas dan keras kepala. Namun, tiba-tiba harus menjadi pacar dari seorang Zaka ketua dewan kesiswaan yang memiliki sifat berbanding terbalik dari wakilnya. Mereka jadian hanya karena nama mereka tertulis disebuah tembok bangunan sekolah yang dapat mewujudkan sepasang kekasih yang dipercaya oleh penduduk sekolah. Lalu bagaimana reaksi Yuna mengetahui hal itu? Apakah Yuna akan menerimanya atau hanya menganggap semua itu hanya omong kosong?"


*****






BAGIAN 1


          Ada sebuah sekolah yang memiliki rumor tentang sebuah tembok yang bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai. Rumor itu berasal dari sekolah Yuna. Tembok itu berada disebuah bangunan lama yang dilarang untuk dimasuki karena bangunan tersebut sudah sangat lama tidak dipakai oleh pihak sekolah, takutnya akan terjadi apa-apa untuk para siswanya. Isi rumor itu adalah apabila ada seseorang menuliskan namanya dengan nama orang yang dicintai, maka mereka dapat bersatu. Hari ini ruang dewan kesiswaan diramaikan dengan siswa yang melanggar aturan tersebut, tidak sedikit siswa yang dipanggil ke ruangan dewan kesiswaan. Yuna Aliana yang sebagai wakil dari dewan kesiswaan harus menahan amarahnya pagi-pagi, sebab harus mengurusi para siswa yang lumayan banyak melanggar peraturan tersebut, pergi ke bangunan lama itu.
          "Yang ini! Yang ini! semuanya tentang masalah bangunan lama itu. Kenapa mereka masih pergi ke sana? Apa mereka tidak tau di sana itu sangat berbahaya, lalu buat apa aturan ini buat, kalau masih banyak yang pergi ke sana," ketus Yuna sambil meremas kertas yang dipegangnya.
          "Hei, coba kau lihat wakil dewan kita yang dingin dan tegas itu, tubuhnya diselimuti hawa yang tak mengenakan, bagaikan ada badai besar yang akan datang di ruangan ini," bisik salah seorang dewan siswi perempuan kepada dewan siswi perempuan yang lain.
          "Iya. Sejak rumor bangunan lama itu tersebar, setiap hari pasti ada saja siswa yang pergi ke sana dan tidak sedikit anak melangarnya," jawab dewan siswa perempuan itu. Ketika itu, tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke ruangan dewan kesiswaan dan memanggil Yuna dengan terengah-engah.
          "Wakil ketua Yuna! Aku ingin memberitahu, ada anak yang tertangkap basah keluar dari bangunan lama itu," ujar lelaki itu.
          "Apa? Lagi? Kau tau tenggorokanku sampai sakit, karena terus menceramahi mereka tentang peraturan ini," ujar Yuna terkejut dengan memasang wajah lelah dan mulai meredakan amarahnya.
          "Aku malah ingin melihat dan mendengar Yuna-ku menceramahi mereka dengan suara lembut dan manisnya," sambung seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang laki-laki yang memberi kabar. Yuna pun mengikuti sumber suara yang tiba-tiba muncul itu. Ketika Yuna mengetahui pemilik suara itu, emosi Yuna kembali naik.
          "Huh! Zaka!" panggil Yuna kepada Zaka , si ketua dewan kesiswaan sambil menahan emosi.
          "Ya!" jawab Zaka dengan suara lembut yang khusus diucapkannya untuk Yuna sambil tersenyum manis.
          "Hei, kau kan ketua dewan kesiswaan, seharusnya kau yang mengurusi mereka dan menceramahi tentang peraturan ini, bukannya ke sana kemari tidak jelas, apalagi kau membawa ilalang yang tidak ada gunanya itu. Kau tau, aku sudah lelah menceramahi mereka hari ini, sampai-sampai tenggorakanku ini sakit, seharusnya ini tugasmu," ketus Yuna kepada Zaka yang datang entah dari mana dan hanya tebar pesona di ruangan dan membawa ilalang di tangan kanannya. Mendengar omelan Yuna yang dilontarkan, Zaka malah mendekat.
          "Maaf Yuna-ku, aku terlambat karena harus mampir di suatu tempat untuk suatu urusan dan kau tau, aku menemukan bunga cantik ini! Oh iya, tolong berikan ini kepada Pak Agus bagian laboratorium sains, ya," ujar Zaka kepada lelaki itu sambil memberikan ilalang yang dibawanya.
          "Tentu ketua," jawab lelaki itu sambil mengambil ilalang dari Zaka, lalu pergi menemui Pak Agus. Setelah kepergian lelaki itu, Zaka kembali menatap Yuna sambil memberikan bunga cantik berwarna pink dari saku celananya ke tangan Yuna.
          "Oh, jadi kau ke sana kemari hanya memetik ilalang itu dan bunga apa ini?" sambung Yuna setelah melihat Zaka yang memberikan ilalang kepada lelaki itu dan bunga ditangannya.
          "Hei, mana mungkin kau bilang itu hanya ilalang saja, di situ kan juga ada bunga-bunga yang cantik, saking cantiknya aku langsung teringat padamu. Makanya aku membawa bunga itu untukmu, karena bunga itu sama cantiknya denganmu yang setiap harinya selalu cantik dan manis," ujar Zaka dengan memasang wajah sumringahnya.
          "Yuna, kau tau, aku pagi tadi menuliskan nama kita di sana, untuk mengetes apakah rumor yang selama ini tersebar itu benar adanya," bisik Zaka di samping wajah Yuna sambil tersenyum manis. Mendengar ucapan itu, wajah Yuna seketika itu pucat dan tubuhnya membeku.
          "Huh! A-apa kau bilang?" tanya Yuna gugup, seakan-akan Yuna kehabisan kata-kata untuk dilontarkan menjawab atas pernyataan Zaka.
          "Hahaha, tuh kan kau memasang wajah jelek itu lagi," ujar Zaka sambil mengetukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dahi Yuna untuk menyadarkan Yuna dari keterkejutannya, kemudian Zaka meninggalkan Yuna sambil melambaikan tangannya ke Yuna yang masih berdiri membeku di belakangnya. Pagi ini koran sekolah baru telah diterbitkan dari pihak sekolah. Koran sekolah bermuat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan para siswa maupun para guru serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolah kami. Koran sekolah diterbitkan biasanya 2 kali dalam seminggu.

*****




11 Desember, 2018

1.14


Risdhidha

THE LIGHT EMANATES FROM YOU


Diubah oleh Kehanchai04
profile-picture
profile-picture
profile-picture
timunsegar dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
13-12-2018 18:48
BAGIAN III

Yuna pergi ke ruang dewan kesiswaan lebih awal, sebab Yuna adalah orang tidak suka terlambat. Ketika Yuna sampai di ruang dewan kesiswaan, di sana Yuna tidak menemui siapa-siapa selain dirinya. Yuna pun menunggu Zaka di dalam ruangan. Waktu terus berjalan, tapi Zaka tak kunjung datang. Bahkan pukul 4 sore waktu perjanjian yang telah disetuji pun sudah lewat.

"Sialan kau Zaka. Ah, benar-benar kau...," gerutu Yuna keluar dari ruang dewan kesiswaan. Yuna yang tak tahan pergi untuk mencari Zaka. Ketika Yuna mau melewati ruangan BK, tiba-tiba Yuna bersembunyi di balik tembok dekat ruang BK. Di sana Yuna melihat Zaka sedang berbincang dengan guru.

"Wah Zaka, kau hebat bisa berhasil menangkap mereka. Kau luar biasa. Kau memang pantas menjadi ketua dewan kesiswaan di sekolah ini. Selama ini sudah banyak anak yang kau tangkap karena melanggar aturan sekolah dan semua itu atas kerjasamamu dan partnermu, Yuna. Kalian benar-benar pasangan dewan kesiswaan yang hebat," ujar bapak BK bangga sambil memegang pundak Zaka dan tersenyum. Zaka pun ikut tersenyum.

"Bapak ini bisa saja. Namun, semua itu hanya kebetulan saja, karena memang tempat itu biasanya dijadikan anak-anak sebagai tempat berkumpul dan biasanya mereka melakukan pelanggarn di tempat seperti itu, pak. Saya juga hanya sekedar berpatroli. Jadi wajar saja kalau saya bisa menangkap mereka," jawab Zaka sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan tersenyum kepada Pak Yudha, guru BK.

"Dasar kau itu pintar sekali bicaranya, ya. Padahal kau sudah beberapa kali menangkap anak-anak yang melakukan pelanggaran dan membawanya ke sini," kata Pak Yudha memukul Zaka dan tersenyum, Zaka hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dan ikut tersenyum. Mendengar perbincangan antara Zaka dan Pak Yudha saat itu, membuat Yuna bingung, terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Belum sempat kebingungan dan keterkejutannya hilang, tiba-tiba Pak Agus mendekat ke arah Zaka dan Pak Yudha.

"Ah, Zaka ternyata kamu ada di sini rupanya. Bapak dari tadi mencarimu," ucap Pak Agus ketika berada di hadapan Zaka dan Pak Yudha.

"Ohh... Pak Agus dari laboratorium sains. Ada apa?" tanya Zaka menoleh ke Pak Agus.

"Oh ini bapak mau tanya, Zaka. Kamu menemukan dan memetik tanaman ini dari mana? Kamu tahu ini tanaman yang beracun. Semisal ada anak yang memegang ini, itu akan berbahaya bagi tubuhnya. Untung kamu yang membawanya, sehingga tidak ada anak yang terkena tanaman ini, sungguh ini sesuatu hal yang penting, Zaka. Kamu hebat," kata Pak Agus sambil memegang sebuah plastik yang di dalamnya terdapat sebuah tanaman. Lagi-lagi Zaka hanya bisa tersenyum. Mendengarkan semua itu, Yuna pun langsung meninggalkan mereka dan kembali ke ruangan dewan kesiswaan.

"Hmhm, pak, karena urusan ini sudah selesai, saya permisi dulu, ya," ucap Zaka mohon pamit kepada kedua gurunya tersebut.

"Oh ya, kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih Zaka," ujar kedua guru tersebut.
Zaka pun meninggalkan kedua gurunya. Zaka berniat pergi ke ruangan dewan kesiswaan untuk mengambil tas yang ditinggalkannya di sana dan ingin segera pulang. Sesampainya di sana, Zaka melihat Yuna duduk seorang diri dan seperti sedang menunggu seseorang.

"Yuna, kenapa kau masih ada di sini? Bukannya sekarang sudah waktu pulang sekolah, ya. Jam pulang juga sudah lewat sejam yang lalu," tanya Zaka bingung mendekat kepada Yuna dan ingin mengambil tas yang berada ddekat dengan kursi duduki Yuna.

"Aku sedang menunggumu. Tapi, kau tidak datang," jawab Yuna dingin.

"Menungguku? Untuk apa?" jawab Zaka heran sambil melihat ke arah Yuna yang sedang bersedekap.

"Kau lupa...," ucap Yuna menatap Zaka dengan tajam.

"Ah, janji itu ya. Maafkan Yuna-ku aku lupa. Aku sibuk karena mengurusi sesuatu hal. Maaf, aku benar-benar lupa," ujar Zaka yang langsung mendekati Yuna dan membentuk tangan permohonan maaf kepada Yuna. Yuna yang tak merespons. Mengetahui hal itu Zaka melihat ke Yuna.

"Yuna, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zaka yang melihat Yuna tak merespon ucapannya.

"Zaka, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Siang tadi kenapa bisa kau berada di tempat itu? Kenapa kau bisa menemukanku dalam keadaan seperti itu, seolah-olah kau sudah tahu akan situasi saat itu? Padahal tempat itu merupakan tempat yang sangat terpencil dan tidak ada yang mengetahuinya, bahkan tidak terpikir oleh siapapun jikalau ada anak yang melanggar peraturan di tempat itu?" tanya Yuna dengan raut wajah keingintahuannya. Mendengar ucapan Yuna, Zaka hanya tersenyum manis sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Ah, siang tadi, ya. Mungkin itu kerena kekuatan cinta kita," jawab Zaka yang asal-asalan dan bersikap konyol seperti biasa yang dilakukannya.

"Yuna...," panggil Zaka ketika mengetahui Yuna tak merespons ucapannya kembali.

"Jangan bercanda, Zaka! Kau mengetahuinya, itu karena kau sering bertugas dan berpatroli ke tempat anak-anak berandalan berkumpul itu, kan! Kenapa kau berbohong kepadaku?" ujar Yuna yang mulai kesal.

"Baiklah jika kau ingin tau. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku dari ketua dewan kesiswaan sekolah ini sehingga selalu berpatroli dan bertugas untuk mendisiplinkan siswa-siswi sekolah kita untuk menaati peraturan sekolah ini dan itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawabku serta secara tak sengaja aku bertemu dengan Yuna-ku di sana-" ujar Zaka yang serius, tapi tak melanjutkan kalimatnya dan melihat tampang Yuna yang mulai ikut serius.

"Hahaha, bercanda. Aku bercanda kok. Sifat serius mu itu tidak cocok denganku. Aku pulang, ya, bye," lanjut Zaka tersenyum kepada Yuna. Lalu meninggalkan Yuna yang kebingungan sambil mengambil tasnya dan melambaikan tangan kepada Yuna. Melihat hal itu, Yuna langsung menahan Zaka yang hendak pergi.

"Tunggu! Lalu kejadian tadi bisa kau jelaskan, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Yuna yang masih tak mempercayai ucapan Zaka tadi.

"Kau masih tidak percaya, Yuna, padahal aku serius loh tadi. Baiklah lain kali aku kan bicara jujur kepadamu. Tapi, kalau aku bersikap seperti itu tadi, Yun-ku akan kesusahan, kan?"
"Maksudmu?"

"Bagaimana kalau Yuna mengetahui yang sebenarnya, bahwa aku lah yang sebenarnya yang menyebarkan rumor itu. Rumor tentang tembok yang bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai itu. Tujuan aku menulis nama kita berdua itu supaya bisa serius berpacaran denganmu," jelas Zaka.

"Tidak mungkin-,"

"Bagaimana kalau itu benar," ucap Zaka meyakinkan.

"Aku dari dulu menyukaimu Yuna-ku, bahkan ketika kita masih di SMP. Namun, sekarang kita berbeda. Kau tetap dingin, serius, keras kepala, bahkan kau tidak mau dikendalikan oleh orang lain dan itu berbeda denganku. Jika aku bilang bahwa aku masih menyukaimu, apa kau bisa menerimanya, Yuna?,"

"A-apa kamu bilang?" tanya Yuna gugup.

"Aku mengatakan bahwa aku masih menyukaimu bahkan sangat menyukaimu, lalu bagaimana dengan Yuna. Apa Yuna pernah menyukaiku?" tanya Zaka sambil mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya dan memandangnya.

"Kau pasti bohong," jawab Yuna memalingkan wajahnya dari Zaka.

"Aku tidak berbohong," sambung Zaka yang kembali mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya.

"Itu pasti bohong!" ujar Yuna emosi sambil melepaskan tangan Zaka dari wajahnya.

"Lalu kenapa kau berbohong?" sambung Yuna menatap tajam ke arah Zaka.

"Itu pelajaran untukmu, karena selama ini kau tak suka mengetahui maksud yang sesungguhnya dari orang. Baiklah cukup itu dulu, aku harus pulang. Kalau begitu sampai nanti ya. Oh ya, sekarang hari sudah mulai gelap, sebaiknya Yuna-ku juga harus segera pulang. Yuna-ku berati-hati lah kalau pulang, ya," ujar Zaka tersenyum lembut sebelum meninggalkannya.

"Dasar! Apa-apaan sih, dia itu? Dia bilang dari dulu menyukaiku. Benar-benar candaan yang kejam. Makanya aku benci orang yang seperti dia," ujar Yuna kesal, tapi tiba-tiba jantungnya berdetak-detak saat mendengar semua itu.

Pagi ini koran sekolah terbaru diterbitkan. Hari ini Yuna duduk di ruang dewan siswa sambil membaca koran sekolah terbitan baru yang dibawanya. Ketika Yuna sedang mencari berita yang lagi dibicarakan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah artikel yang menarik matanya. Artikel yang berjudul "Rumor Bangunan Tua itu Salah! Dua Orang yang Berselisih Jalannya dalam Hubungan Asmara". Setelah membaca artikel itu, tiba-tiba rasa sesak menghinggapi perasaannya. Saking fokusnya terhadap artikel dan perasaannya, sampai-sampai Yuna tak mendengar panggilan dari anggota dewan kesiswaan lain.

"Eh, ma-maaf. Kau bilang apa?" tanya Yuna kepada anggota dewan siswa yang memanggilnya.

"Strategi ketua sukses besar! Ketua dan wakil ketua hebat!" ujarnya dengan mengulang kalimat tadi yang disampaikannya kepada Yuna dengan wajah cerianya.

"Eh, i-iya," jawab Yuna tergagap.

"Duh, wakil ketua, ada apa, sih? Kenapa wakil ketua seperti gelisah, begitu?" tanya anggota dewan siswa lain kepada Yuna sambil menggodanya.

"Aku tidak gelisah. Dasar si Raja Pembohong!" ujar Yuna menatap tajam anggota dewan siswa itu dengan candaan yang dikatakannya. Anggota dewan siswa lain heran dengan melihat sikap Yuna hari ini.

"Pembohong? Maksudnya wakil ketua, itu si Zaka?" tambah dewan siswa lainnya dengan sedikit heran dengan ucapan Yuna.

"Iya lah! Memangnya siapa lagi? Memang ada orang dengan sebutan si 'Raja Pembohong' selain Zaka," tanya Yuna.
"Tapi, ketua bukanlah orang yang pembohong," ujar anggota dewan siswa dengan heran sambil memegang dagunya dan sedikit berpikir akan ucapan Yuna.

"A-pa maksudmu? Zaka kan orangnya seenaknya, selalu menghindar karena tidak mau bertanggungjawab dan dia juga seorang pembohong," jelas Yuna.

"Tapi, wakil ketua, baru kali ini aku mendengar kalau ketua dewan itu orang yang suka berbohong. Ketua itu tidak pernah sekali pun berbohong atau menipu, apalagi seenaknya dan tidak bertanggungjawab," terang angggota dewan siswa.

"I-tu tidak benar, dia menipu dan membohongiku," jawab Yuna menyakinkan. Seketika Yuna langsung teringat semua kejadian yang dialaminya atas perlakuan Zaka.

"Bukankah yang mengatakan dia pembohong itu adalah aku. Zaka tidak pernah menyangkal ataupun mengiyakannya. Apa benar yang dikatakannya waktu itu adalah sungguhan?" ketika Yuna sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba Zaka masuk ke ruang dewan kesiswaan dan memanggil Yuna.

"Yuna. Ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu?" tanya Zaka heran ketika melihat wajah serius di wajah Yuna.
"Hah?!" jawab Yuna terkejut.

"Ada apa?" tanya Zaka sekali lagi. Yuna pun langsung menatap Zaka yang lebih tinggi darinya dan memerhatikannya.

"Zaka, aku benar-benar tidak mengerti. Ketika ku pikir kau tak bisa apa-apa, seenaknya, pembohong, tapi ternyata kau bisa segalanya, kau orang yang bertanggungjawab, dan kau adalah orang yang jujur. Jadi selama ini kau selalu bersikap seperti ini. Kenapa kau melakukannya di hadapanku, Zaka?" tanya Yuna dengan tampang yang penuh kebingungan akan sikap Zaka yang selama ini berbanding terbalik dengan pikirannya.

"Kamu ingin tahu yang sebenarnya? Kau mau tau motif sebenarnya yang kulakukan kepadamu"

"Kau akan memberitahuku, Zaka?" tanya yuna dengan mata yang berbinar-binar akan jawaban yang mau diberikan Zaka.

"Tidak! Aku tidak akan memberitahumu," ujar Zaka tersenyum sambil menjulurkan lidahnya dan memberikan kedipan matanya kepada Yuna, lalu pergi mengambil tasnya.

"Huh?!"

"Hahaha, kamu tau, Yuna-ku itu spesial. Jika ada yang Yuna-ku tidak mengerti, aku ingin seumur hidup Yuna-ku akan tenggelam dalam ketidaktahuannya terhadapku. Aku ingin Yuna-ku terus memikirkannya ," ujar Zaka berbalik ke arah Yuna sambil mengangkat wajah Yuna hingga wajahnya sejajar dengan dirinya dengan mencangklong tasnya.

"Seumur hidup? Ma-maksudmu?"

"Yuna pasti berpikir bahwa aku adalah orang yang pembohong. Yuna-ku bersiaplah. Suatu saat nanti pikiranmu akan terkubur di dalam ketidaktahuanmu. Maaf ya, aku akan melakukan apa saja untuk terus mengikat dan menarik perhatianmu, Yuna-ku," ujar Zaka sambil mengetukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dahi Yuna, kemudian meninggalkan Yuna dengan lambaian tangan. Mendengar semua itu, jantung Yuna tiba-tiba berdegup kembali, membuat Yuna tak nyaman.

"Tunggu! Bagaimana jika semua orang akan gempar bahwa ternyata rumor itu sesungguhnya adalah benar," ujar Yuna menyembunyikan wajahnya yang mulai panas dengan memalingkan wajahnya. Mendengar hal tersebut, Zaka langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yuna.

"Makanya aku benci orang sepertimu, Zaka. Kau selalu suka sembarangan dan seenaknnya kepadaku sejak dulu dan selalu saja mempermainkan perasaanku," batin Yuna sambil memegang wajah yang menurutnya sudah merah padam akibat ucapan tadi. Ketika Zaka tepat berada di depan Yuna dan membalikkan tubuh Yuna yang membelakanginya dengan wajah Yuna tertunduk. Hal itu membuat Zaka mengangkat wajah Yuna dan mendapati wajah Yuna yang merah padam.

"Maksud Yuna? Kenapa wajahmu seperti itu juga?" tanya Zaka yang tak percaya, kalau-kalau dia tidak salah dengar dan heran akan wajah Yuna yang merah padam itu.

"Kau harus bertanggungjawab!" ulang Yuna tega dengan muka merahnya.

"Bertanggungjawab? Maksud Yuna?" ujar Zaka yang mencoba memahami ucapan Yuna. Lalu Zaka langsung tersenyum manis kepada Yuna. Melihat Zaka yang tersenyum seperti itu, jantung Yuna semakin berdegup. Zaka yang melihat wajah merah padam Yuna sedari tadi dan mulai memahami ucapan Yuna, langsung tertawa dan mengangkat wajah Yuna yang kemudian mendekatinya.

"Baiklah, aku akan bertanggungjawab. Aku akan patuhi semua perintahmu, tuan putri," ujar Zaka mulai mendekati wajah Yuna perlahan-lahan. Mengetahui perilaku yang akan Zaka kerjakan, Yuna sedikit mendorong Zaka dan berkata dengan pelan.

"Hei, apa yang akan kau lakukan? Disini banyak orang," ujarYuna pelan. Ucapan Yuna yang seperti bisikan itu mengundang tawa Zaka.

"Baiklah, ayo kita ke atap sekolah, tuan putri," jawab Zaka langsung menarik tangan Yuna dan mengajak pergi untuk ke atap sekolah. Melihat kelakuan Yuna dan Zaka, timbul berbagai pertanyaan para anggota dewan siswa atas sikap ketua dan wakil dewan siswa mereka. Sesampainya di atap sekolah, tanpa langsung diperintah, Zaka pun langsung memeluk dan mendekati wajah Yuna.

*Selesai*


*sampai bertemu di proyek/cerita selanjutnya emoticon-Hai
Buat agan-agan yang kasih :

emoticon-Cendol Gan : Semoga rezekinya dilancarkan
emoticon-Big Kiss : semoga diberikan jodoh yang diinginkan
emoticon-Cek PM : yang berkomentar semoga urusannya dipermudah

dan semangat agan-agan berkarya emoticon-2 Jempol emoticon-Cool
profile-picture
jejakasedih memberi reputasi
3 0
3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sekamar-kos-dengan-dia
Stories from the Heart
andai-aku-tak-pernah-mencobanya
Stories from the Heart
mars---short-story
Stories from the Heart
tukang-service-mencari-cinta
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
rintihan-hati
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia