Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
7735
Lapor Hansip
09-11-2017 14:57

Hypnophobia & Kisah Cintaku

Hypnophobia & Kisah Cintaku

Thanks to agan kkaze22untuk cover-nya



HYPNOPHOBIA & KISAH CINTAKU



Gak nyangka ini tulisan ane bisa masuk rekomendasi Deretan Cerita Penuh Cinta (MADING SFTH)di hari Valentine 2019

Thanks untuk para kaskus officers dan pembaca setia yang selalu meramaikan trit ane


NB: Buat yang minat baca-baca di ponsel android, bisa donlot app-nya gratis di link ini.



Assalamualaikum para rekan penggemar, penghuni dan silent reader di SF SFTH ini. Sudi kiranya semua untuk membaca kisah hidup sahabat baik ane, yang kini orangnya masih hidup, sudah menikah dengan salah satu wanita yang nanti akan ane share satu-satu disini.

Hidupnya memang unik karena penyakit yang dia derita, Hypnophobia. Yaitu suatu gangguan psikologis, yang menyebabkan penderita akan kesulitan untuk tidur dengan enak, nyaman dan tenang jika tidak ada yang menemaninya. Dalam kasusnya, dia kesulitan tidur jika malam saja. Agak berbeda dengan Insomnia yang memang susah tidur saja.

Bagaimana ane bisa mengenal dia? Dia adalah teman sejak SMP. Masuk SMU dan kuliah bareng, kos juga berdekatan. Bedanya, dia lebih tampan dibanding ane dan wanita yang berdekatan dengannya biasanya punya daya tarik diatas rata-rata wanita umumnya. Jadi, para wanita yang nanti ane share disini, ya memang menarik seperti apa adanya. Bahkan, saat ini rumah kami pun hanya kisaran 4-5 km saja bedanya. Keluarga ane kenal dengan keluarganya, bahkan istri ane dan istrinya pun berteman baik. Bisa ane bilang, istrinya cantik banget gan.. kadang suka ngiri juga sih ngeliatnya emoticon-Hammer (S) emoticon-Hammer (S)

Bagaimana ane bisa tahu banyak mengenai detail kata-kata, kalimat perbincangan dan lainnya? Ane sahabat baiknya, gan. Tempat dia menceritakan keluh kesahnya, tangisnya kala galau, tawanya kala senang dan berbagi rejekinya kala dia ketimpa durian runtuh. Walau ane dan dia sangat dekat, kami bukan gay ya gan hahaha... emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Jadi persentase kebenaran dan fiksi dalam cerita ini bagaimana? Bisa ane katakan 60-70% jalan cerita adalah seperti adanya, mengenai percakapan antara teman ane dengan para pelaku lain disini adalah yang benar TS dan ane ingat serta "bumbu" untuk membuat bacaan jadi menarik.

Jadi tolong ane minta perhatian rekan semua, untuk tidak kepo - membocorkan nama tempat kerja - identitas temen ane - identitas pelaku lainnya dalam cerita ini - dan sejenisnya. Mari kita nikmati saja apa yang akan ane share, jika mau tanya-tanya atau mencocokkan informasi bisa PM ane dan kalau tidak mencurigakan ane akan bantu jawab dengan sopan. Sesekali ane akan muncul di dalam cerita sebagai cameo sahabatnya tokoh utama.

Ane juga membuka diri untuk kritik, saran, cara penyampaian tulisan, apa yang perlu di-edit dan lainnya agar membuat tulisan jadi semakin enak dibaca. Patut diingat, ane gak ngincer apa-apa dengan sharing ini. Cuma mau share aja, bahwa penyakit aneh itu ada dan siapapun bisa mengidapnya. Syukurilah hidup kita yang sehat baik fisik atau mental. Tapi ane gak nolak kalau ini mau di-rate bintang dan dikirim cendol.

NB: Ilustrasi penampakan dari para wanita yang pernah mengisi hatinya dan memberi dampak berarti dalam hidupnya, tapi dalam keadaan di edit secukupnya ada di post index bawah. Yang bisa nebak benar minimal 5 dari 6 penampakan, akan dapat PM dari ane dan Insya Allah ada hadiahnya 1 (satu) unit mechanical keyboard. Ane gak akan publish nama-namanya di-trit (misal: penampakan pertama si A, penampakan kedua si B dan seterusnya). Silakan para pembaca menebak sepuasnya, boleh by PM atau sebut aja di post masing-masing. Hadiah akan diundi ketika cerita berakhir.

Daftar calon Pemenang hadiah undian





Sedikit legend untuk range waktu:

Misal disebut "Early/Awal - Januari", maka rentang waktu antara 1-10 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Mid - Januari", maka rentang waktu antara 11-20 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Late/Akhir - Januari", maka rentang waktu antara 21-31 Januari pada bulan dimaksud.

Karena sepertinya TS sulit mengingat tanggal pasti dari banyak kejadian dalam kisah ini.




Cast (Up to Part 131):

Agung ....................................... Teman Ibey di kantor barunya
Akbar ........................................ Pacar dari Anna
Aldi ........................................... Teman Ibey di kantor barunya
Anggi ....................................... Woman of Interest
Alfian ........................................ Teman kuliah Anna & Anggi
Anna ......................................... Woman of Interest
Avia .......................................... Kakak dari Anggi
Benny ....................................... Kakak dari Anna
Bila ........................................... Sahabat dari Anggi
Bu Ani ...................................... Asisten Rumah Tangga Ibey
Bu Diah .................................... Atasan Ibey di Kantor
Cici ........................................... Pacar Rully
Dila .......................................... Pacar Victor di Bandung
Daud ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
David ......................................... Kakak Ipar Anggi
Diana ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Dokter Arifin ............................. Ahli Terapi Hipnotis
Elan ......................................... Kakak Angkat dari Anggi
Erik ........................................... Mantan Pacar Anggi
Fahri ......................................... Teman Kantor Ibey
Farah ........................................ Istri Benny
Fauzan ..................................... Teman Anggi
Febri ........................................ Woman of Interest
Ferdi ........................................ Teman Kantor Ibey
Hafizah .................................... Sahabat dari Anggi
Hardi ........................................ Adik Laki-laki dari Ibey
Ibey ......................................... Tokoh Utama
Kang Deden ............................ Tetangga Rumah dari Ibey
Krisna ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Lani .......................................... Adik Dila di Bandung
Layla ....................................... Anak dari Kak Avia dan Kak David
Lisa ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Izza ......................................... Woman of Interest
Marissa ................................... Teman Ibey di kantor barunya
Manda ..……............................. Woman of Interest
Mas Noval ............................... Tetangga Rumah dari Ibey
Nana ....................................... Woman of Interest
Nini .......................................... Teman Kantor Ibey
Nyimas .................................... Teman Kantor Ibey
Pak Achyat .............................. Ayah Manda
Pak Danu ................................ Ayah Ibey
Pak Darno ............................... Supir Anggi di Surabaya
Pak Gondo ............................. Ayah Anna
Pak Rajo ................................. Ayah Anggi
Pak Tisno ................................ Security rumah Anggi di Surabaya
Rahman .................................. Sepupu Anna di Jakarta
Raja ........................................ Anak dari Kak Avia dan Kak David
Rama ...................................... Teman Kantor Ibey
Rani ........................................ Teman Kantor Ibey
Ria .......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Rifki ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Rully ....................................... Ane
Sasha ..................................... Sahabat dari Anggi
Tante Ratna ............................ Tantenya Anggi
Teo ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Vera ........................................ Teman Kantor Ibey
Victor ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Viva ........................................ Adik Perempuan Ibey
Wilma ..................................... Teman Ibey di kantor barunya










Quote:Intro:

(Selatan) Jakarta Mid-Desember 2005,

Aku terbangun sebelum adzan memanggil, karena memang jam biologisku jika tidur ditemani sudah bekerja seperti itu. Tidurku hanya bertahan hingga antara pukul 0400-0415 pagi kecuali jika memang lelah tak terperi. Seperti biasanya sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tidur dengan ditemani oleh Febri. Gadis manis teman kantorku.

Hujan yang lebat semalam, membuat AC di kamarku semakin dingin. Namun hangatnya selimut dan tubuh Febri tidak dapat membuatku kembali tertidur. Sambil menatapnya, aku bersyukur bahwa tidurku masih ada yang menemani. Walau dia tidak dapat selalu hadir tiap malam. Tapi masih jauh lebih baik daripada aku tidur sendiri.



AKU:

Aku biasa dipanggil Ibey, lahir di Ibukota ini dengan asal usul ayah asli Jawa Timur dan Ibuku blasteran Jawa-Manado-Belanda. Tinggiku sekitar 172cm dengan berat badan 63kg, sekedar langsing tapi tidak kekar. Karena aku hanya gemar berolahraga bulutangkis seminggu sekali, hobi utamaku adalah di depan PC. Keluarga dan teman menilai perawakanku seperti Ronny Setiawan (almarhum vokalis Element Band).

Namun bukan itu yang jadi perhatian kerabat dan temanku. Yang paling mereka ingat dari aku adalah, penyakit Hypnophobia. Yaitu kesulitan untuk tidur sendiri, namun kasusku belum terlalu parah dan baru aku idap sejak tahun 1990an. Jika tidak ada kawan tidur, maka aku perlu menghidupkan televisi atau musik dan lampu. Yang penting ramai, baik di kamar tidur atau di ruang santai rumahku. Suatu hal yang melelahkan, karena biasanya aku baru terlelap dengan sendirinya menjelang adzan subuh.

Aku tidak merokok, tidak suka minuman keras, menghindari kehidupan malam dan sejenisnya. Karena aku khawatir jika kelelahan dan sulit beristirahat, nantinya akan menyusahkan fisikku yang memang sukar diajak kerjasama kalau malam.

Pada tahun 2005 ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi pengiriman barang asal Amerika Serikat dengan penghasilan yang cukup bagus bagi fresh graduate. Kegiatan pulang pergi dan operasional, aku menggunakan mobil buatan jerman seri A140. Dan karena sejak kuliah sudah tidak tinggal di rumah, aku pun meminjam uang pada ayahku untukmembeli sebuah rumah kecil di sekitar Bintaro. Dan setiap hari, aku percayakan kebersihan dan keteraturan rumahku pada Bu Ani, istri seorang security kompleks yang datang setiap hari pukul 08 pagi dan pulang pukul 14. Pekerjaannya tidak banyak karena aku tinggal seorang diri (dan mungkin 2-4 kali seminggu ditemani oleh Febri).

Hingga saat ini aku memang belum pernah mempunyai pendamping yang serius. Wanita seperti Febri yang menemani tidurku, bukanlah pacarku. Dia hanyalah teman, seperti segelintir wanita lain yang juga pernah mengisi waktu-waktu malamku untuk menemaniku tidur. Itu pun sifatnya sementara, namun entah dengan Febri saat ini.


-- to be continued .. soon --
Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kifif dan 189 lainnya memberi reputasi
180
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Hypnophobia & Kisah Cintaku
21-11-2018 13:57
Part 80a, Early Juni 2007

Quote:

Akal dan emosiku berpikir serta bertindak dengan cepat. Tak mungkin aku merusak serta mengganggu ketentraman antara Victor dan keluarga pacarnya. Aku pun mesti memandang Daud yang juga ternyata dikenal oleh keluarga Dila. Sekilas dengan cepat aku memandang adik perempuan Dila. Dan dia, cowo keparat yang sudah kuduga akan bikin masalah ternyata memang beneran bikin masalah akhirnya. Dan yang aku heran, kenapa aku justru yang mesti berhadapan dengan masalah ini sekarang. Saat aku sedang pusing urusan kerjaan, ditambah pikiran tentang Anggi. Rasanya.... tepat banget kalau aku lampiaskan padanya. Tapi, aku kembali pada keadaan serta situasi di dalam kamar ini.

"Apa kabar lo? Udah lama gak ketemu." Kataku dengan senyum dipaksakan dan menjulurkan tanganku mengajak dia bersalaman
"Hai, Bey.. apa kabar?" Ujarnya menyambut jemariku

Pandangannya terlihat gugup serta senyum yang dibuat-buat. Orang yang awam dan gak kenal dia tentu tidak akan memahami gesture-nya. Tapi aku yang sudah mencurigainya, langsung sadar bahwa tindak tanduknya terkesan kalau dia sedang gugup dan terkejut.

"Udah kenal sama cowonya Lani, Bey?" Tanya Victor terkejut melihatku yang terlihat seperti sudah kenal dengan pria itu.
"Kenal kok." Kataku santai, padahal rasanya aku ingin memaki-maki keparat satu ini.
"Kenal dimana? Bukannya lo anak kampus Depok. Si Akbar kan kuliah di Surabaya." Tanya Victor sambil tersenyum, sepertinya dia senang kalau dunia ini sempit.
"Ya ada lah, udah kenal pokoknya. Udah lama pacaran sama Lani?" Tanyaku sambil mengangguk ke arah Akbar.
"Ehm.. Udah lumayan lah Bey." Kata Akbar yang makin salah tingkah, sayangnya orang-orang disini gak ada yang sadar dengan gesture-nya.
"Udah hampir setahun, Aa Ibey." Kata Lani sambil menjulurkan tangan juga mengajak aku kenalan.

Aku menyambut tangan Lani, gadis imut tanpa hijab berambut bergelombang melewati pundak. Tingginya lebih pendek dibanding Anna, untuk tipe wajah mungkin ada baiknya dibayangkan seperti Chika Jessica saja (tipikal wajah-wajah mojang priangan). Cuma saja, aku melihat ada yang lebih jadi perhatian dibanding Anna. Lani ini lebih bohay, walaupun badannya tidak tinggi tapi bentuk badannya bohay. Pantes tempo hari itu dia mepet Anggi.

"Ooh.. Punya pacar gak ngasih tau lo, bro." Kataku sambil tersenyum datar.

Untungnya Victor dan Daud gak terlalu akrab denganku jadi gak tau gimana perubahan mimik wajahku.

"Iya sori, Bey." Kata Akbar
"Ya udah, gue balik kerja dulu ya. Kalau sempat gue tunggu telpon lo, telpon-telpon lah ya besok atau nanti malam. Jangan buru-buru tapi kalau mau telpon, gue lagi kerja dulu nih." Kataku sambil berlalu menuju ke depan laptopku
"Oke Bey, nanti gue telpon lo." Kata Akbar

Padahal aku yakin dia gak tau nomor telponku. Sengaja aku biarkan dan aku sindir seperti itu, karena aku ingin ngobrol dengannya untuk membahas, tepatnya sebetulnya menghajar dia. Tapi aku bukan tipe laki-laki yang doyan kekerasan, semua bisa diselesaikan dengan otak dan mulut. Aku, Daud dan Victor kembali bekerja setelah Victor izin sebentar pada pacarnya. Sementara Dila, Lani dan Akbar duduk di pinggir kasur menonton televisi. Aku tidak mempedulikan kehadiran Akbar yang banyak diam bahkan saat Lani memanggil-manggilnya dengan panggilan 'ayang'. Aku sesekali menanyakan pada Lani mengenai latarnya dia, yang rupanya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Kenal dengan Akbar karena expo lowongan kerja, mungkin dia terpesona dengan cowo ganteng yang udah kerja di bank pemerintah ini sehingga kena SSI level Akbar.

"Enak ya pacaran sama cowo yang udah kerja?" Kataku nyambi sesekali ngobrol sambil kerja bareng Daud dan Victor
"Iya Aa, lebih dewasa caranya." Kata Lani
"Iya dewasa banget pastinya, sering nemenin sih ya di Bandung. Padahal kan orang Surabaya, mungkin disini lebih adem dibanding Surabaya." Kataku menyindir Akbar.
"Padahal Lani sering bilang, gak apa kalau weekend mau pulang ke Surabaya. Tapi Mas Akbar gak pernah mau nurut." Kata Lani

Ada kemungkinan Lani pun gak tau kalau Akbar di Surabaya punya Anna. Kasian banget dia di Surabaya digantung hubungannya, sementara si keparat ini enak-enakan nyari empuk-empuk di Bandung. Dugaanku, dia gak dapat apa yang diinginkan dari Anna sehingga dia berpaling. Tapi kenapa dia gak mau melepas Anna untuk nyari yang lebih baik. Ingin rasanya aku berteriak saat ini juga disini.

'Keparat lo Bar, seandainya tahun lalu Anna single... gak akan gue pusing kaya sekarang mikirin hubungan gue sama Anggi. Gue udah kadung cinta dan sayang sama Anggi sekarang. Tapi hormat dan perhatian gue pada Anna pun masih tetap ada. Bangsaaat.' Mungkin begitu jika aku bisa meluapkan isi hatiku saat ini juga.

"Ah.. gue izin keluar dulu deh bentaran bro. Ntar gue balik lagi kesini, mau ngobrol dulu sama Anggi. Kangen gue..." Kataku beranjak tanpa menanti jawaban dari Victor dan Daud

Sekilas aku melirik ke Akbar, dia menatapku dengan pandangan kalah. Mungkin khawatir aku akan menghubungi Anna, karena dia mungkin saja tau kalau aku dekat dengan Anna. Atau bisa saja, dia sama sekali gak tau kalau aku dan Anna selama ini dekat. Peduli setan!

Aku pun keluar kamar dan segera berjalan cepat menuju ke elevator yang membawaku turun ke lobi. Begitu sampai ke lobi, hanya satu nama yang tertera di kepalaku untuk kuhubungi. Dan itu bukan Anggi.

"Assalamualaikum An." Ujarku ketika Anna menjawab telponnya
"Waalaikumsalam Bey. Gue lagi nunggu-nunggu lho telpon lo." Kata Anna terdengar ceria

Suaranya yang ceria bisa jadi akan berubah jadi tangis kalau saja dia tau apa yang Akbar lakukan selama ini dibelakangnya.

"Kangen nih jadinya sama gue? hehehe.." Kataku sambil terkekeh
"Ge-er banget. Lo kan belum nelpon gue untuk update Anggi di Singapura." Kata Anna
"Masa gak ada kangen barang dikit aja buat gue An?" Tanyaku dengan nada bercanda
"Iya ada dikit... dikit banget ibarat kemungkinan menang timnas kita lawan timnas Italia yang baru juara dunia tahun lalu hahaha.." Kata Anna tertawa
"Alhamdulillah, masih dikangenin sama tuan putri cantik dari Surabaya." Kataku menggodanya
"Apaan sih, Bey? Jangan gitu dong.. gak enak sama Anggi tau. Kalau ada dia emang lo berani ngobrol gini caranya? Berani gak?" Tantang Anna
"Kalau lo kangen beneran sama gue, gue berani. Gimana?" Jawabku ngasal, pikiranku lagi kalut dan gak nyaman banget sehingga omongan itu nyeplos aja keluar dari mulutku.

Anna terdiam mendengar ucapanku.

"Gue bercanda doang Bey.. lo kaya serius banget sih jawabnya. Lo lagi gak ada masalah kan?" Tanya Anna dengan pelan
"Maaf An, gue juga bercanda kok barusan. Mungkin lo baper aja dengar rayuan gue hehehe.." Kataku berusaha meralat ucapanku tadi
"Ah, gak kaya bercanda deh tadi omongan lo. Belakangan lo sering kaya gini ke gue. Gue khawatir antara kita jadi ada yang gak enak nanti." Kata Anna agak tegas

Kata-kata Anna yang tajam, seperti membuatku tersadar. Hari ini benar-benar sudah membuatku pusing. Niat mau ngobrol sama Anna untuk santai malah bisa jadi bumerang untukku.

"Maaf ya Anna cantik.. gue emang lagi suntuk. Omongan jadinya keluar gak ke-filter, dan benar juga omongan lo barusan. Gue istighfar dulu deh ya bentar, jangan ditutup dong telponnya." Ujarku

Aku pun menjauhkan dulu sejenak ponsel itu dari telingaku. Untuk kemudian aku memejamkan mata dan bernapas dalam-dalam di lobi yang gak terlalu ramai ini, diikuti dengan aku ber-istighfar sebanyak yang kurasa cukup untuk membuatku tenang.

"An, gak marah kan lo sama gue?" Tanyaku
"Gak Bey.. gue gak marah, cuma gue rasa lo lagi banyak masalah aja. Gak biasanya lo gini, padahal biasanya lo ngobrol asik-asik aja. Gue nyaman ngobrol sama lo, tapi nada suara lo barusan itu lain sama biasanya. Ada yang mau lo share ke gue?" Tanya Anna dengan lembut banget

Intonasi dan nada bicara Anna barusan, membuatku lebih tenang. Paling gak, dia gak akan lari atau menghindar dariku. Seketika aku berpikir apakah akan kuberitahu dia mengenai Akbar, tapi efeknya bisa jadi Anna malah menutup telpon gak mau ngobrol denganku. Atau mungkin juga dia
berpikir aku berbohong untuk nyari muka, atau apa lah... berbagai pikiran bergejolak di kepalaku mengenai urusan Akbar dan Anna.

'Sialan banget.. urusanku aja masih belum beres, kerjaan lumayan menuntut ditambah lagi tanggung jawab sebagai sahabat Anna.' Ujarku dalam hati

"Bey... jangan diam aja dong. Lo sama Anggi lagi ada masalah?" Tanya Anna dengan nada khawatir

'Betapa polosnya ni cewe, mikir kalau cuma Anggi aja yang bisa bikin pusing. Padahal, selain Anggi ada urusan lo Anna. Juga kerjaan kantor...' Ujarku dalam hati

"Iya sebetulnya An... tapi nantilah kita bicarakan itu, gue butuh waktu yang rileks untuk ngobrolin masalah sama Anggi. Saat ini sih... gue cuma butuh teman ngobrol aja, dengerin suara lo lumayan lah bisa menenangkan hehehe... Serius ini, jangan dianggap yang bukan-bukan lho." kataku sambil tertawa.
"Berkah banget ya suara gue bisa ngobatin sakit orang hahaha..." Kata Anna yang sepertinya terpancing dengan gombalanku
"Lagi ruwet nih urusan kantor, mendekati Ramadhan dan Lebaran biasa lah traffic telekomunikasi mesti kita perhatikan. Mana temen meeting bawa-bawa masalah pula ke tempat kerja." Kataku berusaha mengeluarkan uneg-uneg mengenai Akbar pada Anna.
"Satu-satu dong, Bey.. yang urgent apa sekarang? Urusan kantor kah atau apa... kalau urusan kantor dulu, ya udah itu aja diselesaikan lebih dulu. Yang lain nanti kita obrolin lagi. Emang urusan kantornya apa? Lo masih di kantor ya?" Tanya Anna dengan intonasi suara seperti biasa kami ngobrol
"Iya An, thanks... Lagi-lagi lo bener, besok gue ikutan meeting besar pertama dalam karir gue di kantor baru ini. Agak grogi sih sebetulnya, mungkin itu yang bikin gue jadi tegang." Kataku
"Gak ngobrol sama Anggi? Masalah lo sama Anggi yang bikin lo gak mau ngobrol sama dia?" Tanya Anna lagi
"Bukan, gak ada masalah krusial antara gue sama Anggi kok. Kami berdua baik-baik saja.. tadi dia juga udah nelpon gue. Cuma gue kasian aja kalau mesti ngajak dia ngobrol, dia kan lagi sakit An. Biarin aja dulu dia istirahat deh." Kataku ngeles
"Nah... ini baru Ibey yang gue kenal. Keluar sendiri kan itu solusi-solusinya hehehe..." Kata Anna dengan nada riang.
"Ya, karena gue ngobrol ama lo juga kali An. Kalau tadi sebelum ngobrol sama lo gue kayanya ruwet banget. Kaya mau ninju apa gitu, padahal gue gak doyan berantem hehehe..." Kataku
"Eh... lo lagi dimana? Masih dikantor tapi latar kok kaya gak di ruang kerja gitu." Tanya Anna
"Mau tau banget nih? Tanya dong dengan mesra.. baru gue mau jawab hahaha..." Kataku membawa Anna ke candaanku.
"Mas Ibey, aku mau tanya... kamu lagi dimana sekarang?" Tanya Anna

Jujur saja, saat itu jantungku rasanya mau berhenti saat mendengar suara Anna yang lemah lembut dan berlogat Jawa itu keluar dari mulutnya. Ditambah dia ngomongnya gak pakai gue-lo, dan memanggilku dengan sebutan 'Mas'.

"An, besok-besok sering-sering ya panggil gue Mas hahaha..." Kataku tertawa berusaha menutupi ke-grogi-anku yang maksimal
"Hahahaha.... suruh Anggi aja panggil kamu mas." Anna secara gak sadar sepertinya memanggilku dengan 'kamu'
"Lagi dong An.. enak deh." Kataku meminta
"Lagi apa?" Tanya Anna masih tertawa renyah
"Panggil gue pake kamu hahaha..." Kataku ikutan tertawa
"Dasar gilaa... emang gue manggil lo gitu barusan?" Tanya Anna
"Iya, emang lo gak sadar?" Tanyaku balik
"Tuh kan.. gak sadar Bey. Lo sih bikin gue jadi gitu... mana pertanyaan gue udah bagus-bagus gak dijawab juga." Kata Anna terdengar mendengus
"Hehehe.. iya Anna cantik, aku lagi di Bandung nih. Mau nyusul aku gak kesini?" Aku makin membawanya ke dalam candaanku, karena dengan begitu aku jadi makin rileks
"Aih, Mas Ibey lagi di Bandung. Titip salam dong buat calon suami aku, Akbar. Mas Ibey mau gak?" Kata Anna menahan tawa.
"Gak mau ah... nyari dimana juga, Mas Ibey gak tau dimana dia hahaha..." Aku ikutan bercanda jadi tertawa-tawa juga barengan Anna
"Bey, seriusan nih lo lagi di Bandung." Ujar Anna setelah kami berdua tertawa-tawa beberapa lama.
"Iya... lo telpon aja cowo lo itu suruh sini ketemuan ama gue. Biar gue traktir makan deh kalau ketemuan gue. Sekalian kasih nomor gue ya." Kataku pada Anna
"Boleh deh, nanti gue telpon dia. Beliin apa gitu Bey, kesannya titipan dari gue." Kata Anna
"Emang mau lo kasih apa? Kalau sempat gue cariin." Ujarku sambil menahan kesal.

Tapi berhubung suasana ngobrolku dengan Anna sudah membantuku mengangkat ketegangan, aku putuskan untuk ikut saja dengan permintaan Anna. Tak ada salahnya saling give-and-take dalam berteman.

"Gak usah deh Bey.. kalau gue pikir kan lo mau meeting-meeting, dia sukanya t-shirt gambar mobil-mobil gitu. Ntar lo bingung nyariinnya." Kata Anna

Dasar setan... kenapa aku ngerasa iri dengan perhatian yang diberikan Anna pada Akbar ya? Padahal kalau saja aku sebut sedang apa pacarnya sekarang.. ah sudahlah.


profile-picture
secretos memberi reputasi
8 0
8
profile picture
kaskus addict
06-12-2018 11:57
pas cerita awal PDKT ane milih anggi tapi setelah tau detail personality mereka berdua ditambah penampakanya , di tambah lagi kebayang tingkah anna yang lemah lembut di part ini, udah gitu dia diselingkuhin lagi ama si kampret , fix dah ane jadi #TeamAnna sekarang , siyal nih ga bisa vote ulang emoticon-Ngakak (S)
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
hantu-pramuka
Stories from the Heart
setengah-hijrah-bab-1
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
kumpulan-cerpen
Stories from the Heart
mengingatmu-di-wartel-kenangan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia