Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
110
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
14-07-2018 21:09
"Wake up, Von, mum's made us breakfast," ada Jeff yang membangunkan gue di hari itu, masih di bulan November, secara cekatan gue merespon panggilan nya saat dia berusaha membangunkan gue, "What time is it?" tanya gue lemas dan serak. Suara gue tidak pernah nge bass, man, nggak samasekali, tapi suara gue dalam dan meyakinkan, mark my words, that is the only key of winning every woman in this universe.

"Seven o, let's go," jawab dia antusias, sambil melompat lompat di atas kasur ini, kamu ya Jeff, jujur, jujurrr banget, karena gue tuh bukan orang yang ramah terhadap perilaku anak kecil, apalagi yang seperti ini... okay, gue tahu Jack, elo memang tidak memperbolehkan si kecil Jeff untuk bermain ponsel, cuma karena Melinda Gates ngomong begitu di foundation nya, lo jadi ikutan...

Tapi kalau dia juga, maksud gue Jeff, tidak dikasih ensiklopedia, jadinya ya beginilah... dia cenderung jadi tolol dan idiot man...

"Stop doing that," warning gue pada Jefferson di pagi hari itu.

"Why not," kata dia singkat.

"I'll wake up if you stop doing that," jelas gue lagi, sambil mengelap wajah gue karena, man, does this act is a normal thing?

"Why nottttt!" teriaknya lagi, rewel, dan melompatnya malah semakin menjadi.

Sabar... sabar... lalu gue mulai menjelaskan lagi kepada Jeff, "Because my father never told me to do that," sungut gue bijak. Mengajarkan pada Jeff bahwa dulu Papa mendidik gue untuk menjadi anak yang kalem dan nggak pecicilan.

"You are not my father," jawab Jefferson melawan kehendak gue.

Holy mother of *beep* *beep* *beep*.

"Okay, Jeff, i love you, now please stop jumping around," pinta gue cerdik.

"Love you too von! Let's have a breakfast!" undang dia untuk yang kedua kalinya.

"Aye, a minute, my boy, a minute." jawab gue lalu membuka selimut dan bangkit untuk duduk di kasur milik Jefferson ini, dan setelah itu gue perhatikan Jeff segera berlari keluar dari kamarnya, meninggalkan gue, suara langkah kakinya terdengar rusuh ketika dia sedang menuruni anak tangga dirumahnya.

Pagi itu Tamarama kelihatan sangat cerah, gue beruntung karena hari itu tidak dilanda mendung beserta awan awan tebal nya, cuaca nya bagus kok, dan juga karena gue masih ada aktivitas yang perlu dilakukan. Oh ya, gue pernah berjanji akan menjelaskan tentang kenapaaa Jeff memanggil gue dengan panggilan 'Von', begini ya, itu sebenarnya panggilan jail dari dia untuk diri gue, karena pernah waktu itu, gue lagi asyik asyik nya nonton Neil Patrick Harris berperan sebagai Barney Stinson yang sedang menyamar menjadi Lorenzo Von Matterhorn.

Kala gue menikmati episode dari tayangan serial televisi itu di rumah Jackie, many years ago, have been—bahkan gue pun belum sekolah di Ardmore, I was still on high school, senior years. Tiba tiba Jeff pun datang, lalu secara spontan dia mulai memperhatikan episode tersebut, begitu analitif dia memperhatikan tayangan itu, hingga akhirnya, dia menganggap gue mirip seperti sosok Stinson yang menyamar sebagai Von Matterhorn (dalam artian dia mengolok olok gue).

Bangshat, memang, si Jeff ini. Dan dari situlah, sejarah dimana dimulai nya Jefferson mulai memanggil gue dengan panggilan, 'Von', jadi kesimpulan nya, anak ini perlu di siksa dan disiram holy water sebanyak seratus kali, as a redemption, agar dosa dosa nya luntur.

"Von Matterhorn!" ucap Jeff seru kepada gue.

"You are Von, Von, Von, Matterhorn!" teriak Jeff kepada gue.

"Von!" untuk terakhir kalinya.... dan..., "Von!"

Nggak lucu, Jeff, tapi karena Von sayang sama kamu, terserah, terserah kamu mau panggil apa juga, asal jangan panggil Von dengan panggilan lain yang lebih jelek lagi daripada itu. Kalau kamu masih nekat, nanti Von kenalkan kamu sama Von Ivan Gunaw@n. Mau kamu?

***

Setelah sepenuhnya sadar, gue meraih HTC gue yang gue taruh pada sebuah nakas di kamar nya Jefferson, jangan tanya deh, lagi lagi, notifikasi nya banyak sekali, amburadul bangetz, apalagi dari Deedee, tapi satu hal yang langka adalah Ibu, gue selalu heran sama Ibu, Ibu tuh, gimana ya, orangnya tidak cerewet, harus berapa kali Palma ngomong, jujur Bu, untuk hari ini, Palma angkat topi buat Ibu, dari ratu posesif, namun semenjak Papa sudah enggak bersama kita lagi, Ibu berangsur angsur memberikan wewenang untuk Palma, dan I'm fine with that. Ibu sudah ber transformasi menjadi ratu yang tidak posesif, and I kinda like it, Bu.

I know, tapi Palma suatu waktu sih pasti kangen sama Ibu, bu, kangen di kekang lagi, hahahahaha oh please... Pembawaan Ibu sekarang tuh dingin banget Bu, walaupun sesekali masih bisa bercanda canda dikit lah ya kita Bu... tapi nggak tau kenapa Bu.. aku suka aja gitu Bu, Ibu jadi kalem gitu, cuma kontak aku kalau ada urusan penting aja. Sehat selalu ya bu... salam hangat dari rumah kami.

***

Setetah melihat ponsel gue yang berhamburan notifikasi seperti itu, seingat gue, gue waktu itu langsung menelfon nomor ponsel Didiw, just do the checking, man, karena gue selalu ingat. Setelah ada nada panggil... satu menit.. nggak tersambung, nggak di jawab. Kemudian gue mencoba lagi, sampai beberapa kali panggilan kalau nggak salah waktu itu tuh, dan akhirnya, tersambung juga...

Setelah panggilan kami tersambung, gue tanya mengenai kabar dan situasi dia, i got a small hunch pasti Didiw sudah sampai di Juanda, dan benar ternyata, dia sudah sampai dengan selamat di Juanda, dan juga karena sebisa mungkin untuk Malone (kapal yang gue berikan sebuah nama, biar gampang aja mengingatnya) jangan sampai Didiw piloting sendirian, karena single piloting operation pada honeywell hampir bisa dipastikan sulit sekali untuk dilakukan. Kecuali kasusnya hanya menerbangkan unit mudah seperti Phenom, yang memang memiliki fitur standar untuk bisa dibawa terbang solo, karena solo piloting memang bisa dilakukan pada kapal kapal macam tersebut.

Kembali lagi ke pagi hari itu, setelah bangun dan menelfon Didiw, gue pun segera turun ke lantai bawah untuk ikut sarapan, gue sudah lupa lagi waktu itu gue makan apa, yang jelas minum nya selalu anggur. Satu hal yang selalu gue ingat adalah, ini, "There's the sound of you and my husband talking in the midnight, i know precisely what you've been up to, dear, don't question yourself on loving someone, you just need to go with it," ucap Darlene nyerocos di pagi itu kepada gue, di saat gue sedang menikmati sarapan gue.

Sok tahu? pastinya, kan itu lah ciri khas tante gue yang satu ini. Darlene memang suka sok tahu, most of the Atwood's kan terkenal begitu, gue sudah paham dan bisa memaklumi nya.

"I apologize, Darl, have i been a threat to your house?" tanya gue dengan nada yang berkesan seperti suatu candaan, sambil mengunyah makanan yang Darlene buatkan untuk Jeff dan gue.

"Hahahah~" tawanya sambil menyeka bibir dia.
"No, no..." jawab dia mulus.

"Heheh," gue terkekeh.

"People like you is always busy doing their job... you don't have much time being on the land, cause for the whole time, your life is in the sky, am i correct?" ungkap Darlene berasumsi kepada gue, cerdas, cerdas sekali.

"Yes," sahut gue singkat, mengiyakan saja.. nggak apa apa.

"When you're off, please spent some time with the loved one, dear.." jawabnya tulus saat menasihati gue.

"Uh huh, uh huh," angguk gue mantap. Kira kira begitulah percakapan kami di meja makan pada pagi hari itu.

Oh ya pas gue tanya Jackie kemana, Jackie sudah pergi ke Christchurch untuk senang senang disana (ngurus kasino dia maksud gue), Darlene yang kasih tahu gue—gue bilang sama Darlene nggak lama lagi gue bakal terbang ke Rotorua, niat nya sih nggak mau bawa Jeff, tapi ini anak maksa maksa sambil ngelemparin selai blueberry nya ke paha gue, dan celana gue jadi kotor, man. It's Marc Jacobs you bloody dumbass. (Lebay dikit nggak apa apa kan, hehe)

Darlene juga nggak yakin bakal memberi izin buat Jefferson agar pergi ikut bareng dengan gue, awalnya yaaa, cuma ya gitu, nyokapnya Jeff sih bukan orang yang suka cemas secara berlebihan, jadi ya ok ok aja.

***

Pagi hari itu gue sarapan bertiga bareng dengan Jeff dan Darlene, suasana di sini jarang berubah, paling ya gitu, adem dan cerah, banyak banget angin yang masuk dari luar ruangan melalui jendela, berhembus ringan menghibur kami bertiga di meja makan. Dan kalau pagi pagi, nggak boleh hidupkan televisi, itu aturan Darlene, gue sih jarang nonton televisi, so it's okay for me, tapi Jackie yang tersiksa karena aturan ini, hahaha, karena orang itu terbiasa menonton ESPN pagi pagi kan... buat melihat highlight dari permainan football yang dia lewatkan tempo hari yang lalu...

And although Jeff is regularly fly with me, his mom didn't worry too much about him, that Jeff will do something hazardous and unexpected while we were flying. But stay, his mom always gave him a warning for not getting too excited, otherwise, she didn't remind me—knowing that i'm not the problem, though.

"Jeff, if you wanna go with Von Palma, remember one thing—do not, running around, okay?" kata Darlene kepada Jeff.

"Arrhh momm, like i don't know..." jawab Jeff cerdas. Sweet jesus, Jeff, you are that much adorable, sometimes.

"When it comes to the sky, you're being smart, how splendid." timpal gue kepada Jefferson.

"I am a smart boy, you just didn't realize," balas Jeff lagi, setelah itu, mau gue cubit dia, rasanya.

"Okay," jawab gue sambil kembali mengunyah makanan dan membaca majalah gue, nggak peduli deh, masa bodoh.

"But Darl, i might not be able to play with Jeff while he's in my town, sorry, i got a lot to do, so who would accompany him?"
"While i'm away?" tambah gue lagi.

"Olly, i've talked with her." jawab Darlene santai.

"Aight, all settled then." sahut gue simpel.

"Not exactly, let me prepare his goods." jawab Darlene kemudian pergi berlari lari kecil, beranjak menuju ke lantai dua.

Alright, let's put some jealousy down here, gue sebetulnya selalu ingin punya satu buah beach house, tetapi belum pernah terwujud, bukan karena tidak ada dana nya, melainkan karena gue terlalu takut oleh kejadian kejadian bencana alam yang bersumber dari laut itu, gue asumsikan lebih baik tidak sama sekali daripada terjadi, nantinya.

Okay, okay, beach house is fantastic, okay, okay, Jackie's house is gloriously magnificent, disini gue bisa surfing, bisa menikmati sunset yang jatuh ke bawah laut setiap kali petang hari nya berakhir, gue bisa mendengarkan beyond the sea nya Robbie Williams sambil bersantai di atas hammock dengan menyalakan api, and hookers is everywhere, too—without forgetting the fact that the neighborhood are totally awesome. Oh why not, they offer me a free Pina Colada in the weekend, who didn't want that coba... ?

Oh, and one more reason, si do'i kan memang nggak mau tinggal dekat banget dari pantai, dia lebih memohon mohon kepada gue agar kami tinggal di daerah sub-urban saja, karena dia takut banget sama yang namanya kepiting laut (lebih kepada fobia yang tidak berbasis, enggak jelas asalnya darimana), sedangkan kalau gue, gue suka mabuk, kalau sudah kelamaan berada di atas laut, ya kami cocok sih, sebelas dua belas lah, kalau kata orang kita tuh..

***

Setelah selesai sarapan gue langsung mengambil handuk dan bergegas menuju ke kamar mandi, Jeff sendiri lagi asyik main lego, kasihan, nggak dikasih konsol gitu sama bokapnya, Jackie lo jahat banget memang, gue aja dikasih Nintendo sama Papa. — Anyway, kamar mandi disini tidak menakutkan, simple, hanya shower dan bathtub aja, jadi nggak ada lemari / cabinet aneh didalam kamar mandinya, enggak seperti kamar mandi di Rotorua, yang ada lemari nya itu, kalau tiba tiba ada Krueger muncul dari dalam lemari itu, gimana? hih, suram tau nggak sih.

Hari itu gue cuma pakai levi's (washed denim) dan white shirt, Arrow, seingat gue. Dan si kecil Jefferson di dandanin pakai Abercrombie sama mami nya. Simpel juga, Jeff nggak pernah jauh jauh dari hoodie dan trousers. Setelah semua siap, gue, dan Jeff. Sekitar jam sembilan pagi, kami diantarkan pakai mobil sama Darlene kembali menuju ke Kingsford, nggak lama, hanya melewati edmund street dan kalau sudah lihat kensington park berarti sudah dekat dengan bandara. Several minutes underway, kami bertiga akhirnya sampai di Kingsford, parkir dulu di apron parking area, lalu lanjut berjalan menuju ke hangar milik Jackie, waktu itu ada satu kejadian, man, ini gue ceritain ya,

"Darl, can i ask Jackie's jet key," tanya gue meminta kunci jet punya Jackie.

And then Darlene menampilkan wajah datar, "What key?" kata dia, lalu bertanya balik kepada gue.

"The key that Jackie gave you," sambung gue lagi.

"Oh, no.... he didn't tell me," sesalnya lemah.

"He didn't tell you?" tanya gue bingung.

"He didn't," terang Darlene lagi.

"oh my God," kaget gue di pagi hari itu.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rembulan-di-ujung-senja
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
Stories from the Heart
andika
Stories from the Heart
the-piece-of-life
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
my-wife-is-my-enemy
Stories from the Heart
cinta-dan-pahitnya-kehidupan
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia