Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
109
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
13-07-2018 13:18
Quote:"The hegemony of your life's plan is bestowed upon you, Pal. So alright, sometimes, being evil in the middle of the show would humor everything that you wanted to cherish,"

"It's a valiant act, but in the end... life was just a simple sentence, and trust me, Pal, you don't wanna grow old without love,"
kata Jackie.


Pertengahan malam itu, bulu kuduk gue benar benar merinding, kalau Jackie sudah menasihati gue, gue seperti kembali lagi ke mode default gue, dimana disana, gue akan diam, mendengarkan, dan..., ya basically itu adalah apa yang gue lakukan. Kami lagi diskusi ringan sambil ngobrol ngobrol santai.

Quote:"Ja-di be-gi-ni, jangan bo-doh, Palma, a-ku bahkan su-dah tidak mau menjadi bo-doh la-gi, tidak se-ru, tidak bagus untuk diri a-ku, be-tul?" Jackie pun selesai berbicara.

"Wow.. haha, easy, Jack." sambut gue santai.

"Get over it, Pal, it's been 3 years since that day happen into our life... you can leave that sorrow behind, too long does it take, it's gonna overwhelm your life..." omong Jackie lagi sambil menghisap cerutu kesukaan dia.


Gue tertidur pada saat waktu prime time sedang berlangsung, karena kelelahan kan... gue ingat bahwa tengah malam itu juga gue terbangun dan ngobrol sama Jackie, just the two of us. Ketika masih di kamar, gue lihat bahwa di sebelah gue Jeff sudah tertidur, sembunyi di balik selimut berwarna birunya.

Ketika turun dari lantai dua, gue berjalan ke ruang tamu, yang berada di dekat pintu depan rumah, lalu mendekati refrigerator—untuk mencari anggur, thanks god it was there. Lalu di samping kanan, di ruang untuk menonton televisi itu, gue melihat Jackie sedang sibuk sendiri di meja judi nya. Gue hampiri dia, dan disinilah hingga akhirnya kami mengobrol berdua, lumayan lama.

Quote:Jackie lanjut ngomong lagi, "Masih ada a-ku, masih ada Olly, masih ada semuanya yang memberi perhatian terhadap diri ka-mu," tambah Jackie lagi, gue duduk di samping dia, dengan kaos coklat gue yang sudah kusut dan celana katun panjang warna coklat yang gue pakai sejak masih berada di Delhi itu. I feel ugly right at the moment i'm talking with Jackie.

Satu menit gue pun hanya bisa diam, wajah gue tertunduk tolol dan hanya bisa menghadap ke bawah lantai.

"Kid, do you listen?" tegur Jackie membangunkan gue dari lamunan itu.

"Loud and clear," jawab gue lemah, masih termenung karena gue sedang memikirkan sesuatu. Gue sudah menyampaikan apa yang ingin gue sampaikan kepada Jackie, dan begitu deh respon dari dia...

"Darlene's sleeping?" tanya gue pada Jackie menanyakan keberadaan istrinya.

"Yep, three hours ago." jawab dia.

"So that's why... I feel obliged to Ruby, hence why, having that flashback is somehow troubling me whenever i try to ahhhhh. FUCK!" erang gue kebingungan sambil menjelaskan situasi yang gue alami. Curhat man, curhat.

"Don't scream, it's already midnight, you don't wanna wake my boy," bisik Jackie penuh kehati hatian buat gue.

"Whenever i, d'oh," ucap gue tersendat sendat.

"I know, whenever you want to fuck." sambung dia lagi, bang....sat, tahu aja ongkel gue ini.

"Right back at ya," jawab gue menyeloroh, tetap berlaku kalem walaupun sebenarnya Jackie tahu sekali mengenai apa yang sedang gue alami.

"Not cool, Papal," warning dia sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
"Anyway, Ruby, is that the girl you've been telling me?" tanya Jackie sama gue.

"Yes," angguk gue.

"If i was her, I should've let you scream and die on the moment you got tortured by those mean scoundrels," jawabnya tajam. Jackie sudah ratusan kali melihat gue celaka dalam hidup gue, riwayat nya tidak singkat, dimulai dari sekolah dasar, sampai kejadian waktu gue masih SMA itu, si bangshat ini sudah bosan melihat gue mengalami kecelakaan, mencelakakan atau dicelakai, pada akhirnya, dia pun menjadi terlalu biasa kalau mendengar kabar saat gue buat masalah disini, hingga sampai ke kupingnya, lalu yang mengadu kepada Jackie, siapa? Papa.

"Jack, Palma is having an accident, please come to Bandung."

"Jack, Palma is in the hospital!"

"Jack, i can't stand it anymore, i'm gonna lose my son."
Tangis Papa lebay.

Yep, itu adalah kalimat kalimat andalan Papa ketika mengabarkan kabar buruk kepada Jackie bahwa gue sedang mengalami kecelakaan.

"You.. bloody savage.. haha," jawab gue kepada Jackie, in the end, gue hanya bisa tersenyum pahit mendengar respon Jackie yang sudah bosan terhadap gue, karena selalu mengalami 'kecelakaan'.

The next talk is translated into Bahasa, "Okay, gini aja, Palma, how about kamu datang ke tempat dia, dan buatlah yang satu ini jadi hal yang simpel, oke? kamu datang, kamu ngomong sama dia, hey, aku suka sama kamu, aku mau menggoda kamu lalu tidur di ranjangmu, easy, right? hanya perlu lakukan itu, and problem solved then," terang Jackie lugas.

Gue cekikikan dan menutup mata gue, air mata gue berhamburan tanpa gue sadari.

"Mau nangis dengar nya, pak," ucap gue ngaco.

Balik lagi jadi English ya. Because in my memory, it's in English.

"Hahahahaha. This is what i love in you, Pal, when people make fun of you, you laugh at them like a fuckin retard." tawa Jackie sambil ikutan tertawa bareng gue.

"Easy, easy," ucap gue berusaha menenangkan suara cekikikan kami bedua.
"That's an advice right there," tambah gue lagi.

"Oh you bet," jawab Jackie semakin tolol lagi.

"Hahahahahahaha," gue ketawa sampai tersengal sengal.


Hahahaha, ah, malam - malam yang tipikal dalam hidup gue, dalam keluarga kecil yang gue punya, kalau nggak sama Papa, ya sama Jackie, tapi malam itu yang masih tersimpan di benak gue ya aroma cerutu nya si Jackie, chip poker dia yang berantakan dan jam tangan gue yang udah anaknya kasih ke bapaknya lagi, memang benar di suruh di jual oleh gue, tapi sama bapak nya Jeff di balikin ke gue lagi, hahahahaha.

Melihat Jackie di malam itu seolah sedang melihat Papa, bertahun tahun lalu, kami suka kumpul disini, di Tamarama, cuma sekadar memperhatikan ombak di pantai Bondi sambil minum russian river (actually yang minum ini cuma Papa dan Jackie, gue tidak mau, tidak doyan) dan gue ngumpulin kayu bakar untuk di nyalakan di bibir pantai. Umur 13 tahun, gue sudah dibolehin minum corona sama Papa, figur bokap macam apa yang seperti itu? figur bokap idola semua anak lelaki, coy! Papa gue itu, he's one in a million, pokoknya.

Dan gimana gue nggak kangen berat sama dia, man... orang itu adalah sebenar benarnya hidup gue.

Tapi nggak apa apa (bohong kamu, Palma), sekarang gue punya Jackie, dengan wajah belepotan dan rambut dimana mana nya itu, i mean, jackie is man who grow his beard, and he wear glasses too, semenjak dua tahun yang lalu. Sekarang, dia begitu, kalau dulu, dia enggak, katanya sih ini terjadi karena dia ketularan situs yang bernama the art of manliness. Tumbuh tumbuhin kumis dan jambang, tapi sampai tebal dan panjang.

Quote:Malam itu, gue kembali bertanya kepada Jackie mengenai pemikiran pemikiran lain nya yang ingin gue tanyakan kepada dia, gue bilang, "Jack, since when did you becomes the counselor of your own life?"tanya gue simpel.

"Since i was born, you moron," dia sambil sibuk menulis sesuatu di buku bekerja nya, entah apa. Jackie masih setia dalam mengabdi kepada perusahaan nya, sebuah perbankan, dan di dalam nya orang orang suka panggil dia sebagai Jack the FO, what i know bout' it, salary sih boleh berada pada lini median, biasa banget, bisa jadi, hanya satu tingkat di bawah COO.


Tetapi bajingan ini (Jackie) memang cerdik, dia tetap stagnan pada jabatan tersebut, namun bisnis nya lah yang terus berkembang, membuat dia merasa nyaman, dengan tidak melepaskan apapun dari dunia bekerja nya, termasuk jabatan nya itu. Tetap setia, meski promosi akan kenaikan jabatan selalu ditawarkan untuk dirinya, namun selebihnya adalah jabatan politik, jadi selalu ditolak. I've heard that Jackie had his own mark from my grandpa Barnes—for not running another position.

So this is what i called the work - life balance. Tugas Jackie tidak pernah berubah, namun dia tetap bisa santai santai saja sama keluarga karena di sisi lain, bisnis terus bergerak, memberikan pemasukan, meski tidak selalu besar, karena kompetisi selalu ada pada ranah berbisnis, and getting money from that casino place is sometimes easy—and not easy. It depends on how the stupid people wants to waste their money.

Gue pernah bahas ini di slow lane, kalau nggak 'ngeh' juga nggak apa apa kok... tapi kalau sudah pernah baca, seratus persen pasti ngerti.

Quote:"Thanks for this wine, Jack. So i assume it was Olly, then?"gue mengalihkan topik pembicaraan kami.

"Yes, yes, Olly, she wasn't all into vacation, there's a mark, she needs to visit a place... uh.. i forgot the name, it's on your town. Also, Jeff wants to come, let him come, please..." pinta Jackie namun masih sambil menghadap ke arah buku kerja nya.

"Sure, so that's the business?"

"Yeah, i figure it is,"
jawab Jackie.
"Hey, you mind telling me why i'm a counselor of my life?" tanya Jackie.

"Basic things, man, just a nerves," jawab gue random.

"Listen, Papal, do the best you can..., say hi, give a smile, ask for a ride, invite somewhere, lunch, dinner, whatever. Remember, be careful, watch the line, this is the woman you've had a crush on, and i don't wanna go back to the main problem, so flash your dick and fuck her tits," tukasnya spontan.

"Ngahhhhhhh," desah gue teler, membayangkan visual yang agak mengundang. That gave me an instant boner. Shit.

"Silence, sorry, i didn't mean that," lagaknya sambil menaikkan kedua tangan nya. Dalam balutan night robe nya itu dia berkata kata, jadi kelihatan mature banget ya, Jackie, dan gue benar benar terhipnotis di malam itu.

"......" gue terdiam.

"Hey, got it?" tanya Jackie ringan, hanya ingin memastikan bahwa gue mengerti atas apa yang dia sampaikan kepada gue.

"Huh?"
"I'm going back to bed, sleepy,"
jawab gue datar.

"Always, always the usual."
"No thanks to me or something?"
tanya Jackie menagih apresiasi.

"Thank you, you look great on that robe," jawab gue lalu berdiri dari atas kursi yang gue duduki.

"Thanks... it's Arnold Palmer," jawabnya sombong.
"You got it, i believe in you, hotshot," ucap dia lagi.

"Yep," sahut gue sambil menguap, hoam, gue ngantuk sekali...


Setelah itu gue kembali berjalan ke ruang makan dimana ada kulkas disana, lalu lanjut berjalan ke arah ruang tamu, di kiri nya adalah pintu menuju dek, bisa untuk turun ke bibir laut, tapi gue tidak kesana, karena gue kembali menaiki lantai dua. — Something classic in this house adalah Jackie punya foto dirinya bersama dengan George Benson, waktu itu dia sama Darlene baru nikah, jadi Jeff belum hadir. Gue ingat trip mereka, jauh jauh pergi ke San Martino hanya karena ada sejarah diantara mereka berdua, dan kebetulan Benson sedang konser tertutup disana, hah... unik juga karena sampai kayak begitu.

Gue juga mau sih, tapi bukan sama Benson, sama NKC, tapi NKC nya sudah tiada, ya mau gimana lagi... well... tengah malam itu.. membentuk suatu kisah. But still, there's a long road to go, my friend.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
journey-called-love
Stories from the Heart
cinta-agama--mama
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
bukan-pelacur
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia