Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
110
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
10-07-2018 16:43
Dari holiday inn Indira Gandhi gue berjalan memasuki lobi bandara, kemudian membeli tiket pesawat dengan tujuan menuju ke Kingsford, not much option that i've had, sebagai salah satu pelanggan setia SIA, (ya jelas setia lah..., mengingat dulu gue sempat bekerja di salah satu subsidiary mereka...) gue memilih untuk terbang menggunakan Singapore Airlines, walaupun sebenarnya ada juga Air India yang jauh lebih adidaya, halah, adidaya, klise sekali ya bahasa nya. Apalagi kalau berada di negara asal nya. Why Singapore Airlines.. well considering that i have their loyalty programs, business class with reasonable fare? (not much, but yeah, buying the assurance of flying with 'em) kenapa tidak. Kenapa nggak first class? jangan buang buang hepeng lah! hahahaha. Ke Kingsford doang bayar seratus jeti, mending eike naik embraer deh bokkkk.

By the way gue pesan tiketnya pagi pagi sekali, dan ada, tiketnya itu, kemudian nunggu dulu.. di silver lounge, baru deh boarding agak siangan, sekitar jam sebelasan kalau nggak salah. Setelah pesawat lepas landas, hati gue sudah plong karena sebetulnya unit pesawat yang gue tumpangi ini adalah a new Airbus, ini hal yang sangat standar di dalam dunia aviasi, bahwa cukup jarang ditemukan penerbangan kelas bisnis menggunakan unit Boeing, karena jika menaiki Boeing, (mostly you'll found it on the economy class) brace yourself, people, hahahahaha, ah, jadi kayak meme di game of thrones itu jadinya ya...

Definisi brace yourself disini itu maksudnya adalah persiapkan diri anda, karena Boeing bisa saja mengantarkan anda ke sebuah dimensi yang berbeda.. yaa, betul sekali, dimensi afterlife, hahahahahaha. Okay, let's stop this joke, it's mean and evil. — Alright, back to the flight, selama berada di dalam pesawat, sebagai penumpang, tentunya, kalau dengan SIA gue tidak bisa mengeluh banyak man... maskapai kesayangan gue ini soalnya... hahahahaha. Dan ya, untuk ranah asia ini tuh memang maskapai yang paling enak man.. in my opinion, if it's not in your opinion, well then nice talking to you (grumpy banget ya gue? hahahaha). Serta untuk ranah internasional ya Lufthansa, pastinya, the worst one is that Englishman flying an aircraft. BA? No thanks, mate. (Ogah banget kali naik maskapai ini, mengingat di flight 101 mereka lumayan produktif dalam mencetak mid-air collision, flight incident, tentunya karena si pesawat yang rewel dan tidak mau diatur oleh pilot nya...)

During the flight, gue memanggil salah seorang stewardess yang sedang bertugas, karena kelihatannya kelas bisnis yang gue tumpangi ini punya beberapa fitur baru yang belum gue temukan di waktu sebelumnya, "Excuse me," panggil gue sambil mengangkat salah satu tangan gue, lalu mendongakkan kepala, mencari cari mbak pramugari nya.

"Yes, Sir?" toleh dia, memberi respon ramah, sambil berjalan ke arah gue.

"Would you mind helping me, Miss, i'm a krisflyer member, but this is all new to me," tunjuk gue ke arah layar monitor di dalam compartment gue itu, "How do i enter this authorization, i wanna watch some specific movie," terang gue lagi kepada pramugari yang jelita ini :-)

Setelah mendengarkan apa yang gue bicarakan dengan baik, barulah dia dapat merespon apa yang gue katakan, "Oh, i could sign you back to our newest account system..," lalu dia menekan nekan sesuatu di layar monitor nya, "Please, input your account, Sir," pinta dia sopan lalu mempersilakan gue... setelah itu, gue mulai mengetik, memasukkan akun gue and... vòilã! gue pun berhasil terhubung. Hey, something new you got there, my friend.

"I'm sorry for the incovenience, Sir, any other thing that you'd like me to help?" tanya dia lagi, uh huh, basic hospitality. "Yes, can i see the menu? i would like to order some meal, please." dan kemudian, dia kembali menekan layar monitor gue, kemudian menunjukkan daftar menu yang bisa dipesan oleh penumpang. Keep in mind that business class ain't the first class, they got no chef onboard, so that's explain another fifty thousand dollars you've spent on a first class ticket, in the first class flight, you got a chef on board, you can order whatever they provide, it's a nice thing they provide a thematic cuisines from all over the world. Dan untuk maskapai yang memiliki cullinary service terbaik, nggak perlu bingung lagi, karena, Emirates adalah juaranya. This one?

Hope god bless my tummy, alright—so uh, i remember ordering the... sushi... yeah.. i forgot booking the meal while i'm at the lounge, (how stupid is that, ikr) so um, nothing to tell.. when i got hungry for the couple next hours, another roll of sushi is coming, anddd, a burger for the last supreme, no soda, thanks, mineral water would be fine. Begituuu aja di ulang ulang terus, sampai bosan, man, twenty hours of air travel, bayangkan... one stops in Changi, and that stops? lumayan lama, dan ini sih diam diam aja yah... so this is the reasons why i left my job there, then i come down here.

What?

Oh come on, you already know it.

The private flight... buddy.

Oh... yeah...

And now, i can see you smiling.

On the mid-air, not much that i can do really, gue cuma bisa movie-marathon beberapa film sekaligus, i remember watching some of them, it's Deuce Bigalow, another Adam Sandler's movie, and the legendary one, Tom Hanks in the castaway. One thing for sure is that gue adalah tipikal orang yang annoying kalau sudah nonton film, so when the movie shows something amusing, i laugh hysterically, and then when the movie shows some heartmoving scenario? and who the fuck is that, yang mengeluarkan suara tangisan, di saat film sedang diputar?

Unfortunately, that's me, fellas. So please don't bring me to a cinema unless you accept me a wholeheartedly. Banyak teman cewek gue, bahkan Dewinta sekalipun, kapok bawa gue ke bioskop, gue memang tipe individu sialan yang terlalu intense with whatever movie i watch, gue ketawa, gue nangis, gue tegang, gue gemas, tergantung dari apa yang sedang film tampilkan kepada gue. My advice? jangan nonton film bareng sama gue, bisa mati kutu lo pas ngelihat reaksi reaksi yang gue tampilkan.

Anyway.. gue lupa cerita soal kenapa Diwangka sempat kepengin ikut ke Rotorua ya? ah, that's a classic story, man. Tujuan Didiw sebenarnya bukanlah ke Rotorua, melainkan ke Christchurch, yang dengan kampung nya gue singkat saja menjadi CC, so it's much more simple when you don't want to say, "Christchurch" at all, and hell, man, that is a very nice word down there, feels so angelic. --- Di CC, ada sebuah gay bar yang cukup dikenal, Didiw suka datang ke tempat itu atas rekomendasi gue, tapi kecanduan nya akan datang ke tempat itu? not my reccomendation. Karena katanya, gay bar di Seminyak sudah terlalu bosan untuk dikunjungi, lantas, kenapa tidak sekalian datang ke gay bar di Bordeaux aja, Diw? disana kan gay nya lebih LEGIT, man... hahahahahaha. Dan ini, sebisa mungkin tidak gue bahas lebih lanjut ya.. karena, booooring.

After watching six or ten movies in the plane (not as sharp as i could remember), my plane stops, meaning that I could get a bit of those fresh air, on the midnight—again.... and then walking back to the lounge, seein' those weird internal garden they made it here, and tried the buffet, should've been more better at that rate, find a nice space and then reading some magazine, uh.. it's routine, really, so mari kita lewatkan saja detil kecil yang seperti ini karena gue sudah ribuan kali melewatinya, nothing special, except the fact that i bought some wine in the silver lounge dalam kondisi yang ngantuk tapi enggak bisa bobo, jam tidur gue berantakan, but stay, my day's been better with a bottle of wine.

Gue ingat ada seseorang yang menelfon di kala itu, Axel, kalau nggak salah, biasalah, dia curhat soal bisnis nya. Said that he got another business-villain yang menggunakan metode atau konsep berbisnis nya, Axel memang suka pura pura saleh, man, jadi ini topik sensitif, nih, di dalamnya terdapat banyak sekali isu isu yang menyinggung SARA, yang jelas, gue benci kalau udah bahas ini, Xel, apa apa yang lo bahas tuh pasti aja soal pertumbuhan aset, pertumbuhan aset, eksekusi lahan, oh come on... santai sedikitlah, Xel.

Life isn't just collecting treasure, have some, that's good, but having a lot of them and unable to think clear? janganlah Xel, rusak sebentar lagi lo itu, ingat Amang mu lah fucker, seratus gerai sudah cukup, jangan jadi mogul gadungan yang hobinya merampas harta orang, i know we don't have some dogmas, but man, for the sake of mankind, control your thirst. Kalau lo nggak bisa kontrol itu, tinggal tunggu aja tanggal mainnya anak anak si Bardo itu tembak elo di continental, man. And i ain't listening, except the sound of your grave, calling for your own attendance. --- Tiga jam lamanya menunggu sembari nggak bisa tidur, Changi has always been that one with the busiest fella, walking along, minding nobody business, walaupun masih dini hari, tuh.

Okay, waktunya untuk kembali mengudara, karena sudah diberitahukan juga agar segera boarding. Dari Changi menuju ke Kingsford memang enggak memakan waktu yang terlalu lama... boarding jam enam pagi, landing di Kingsford jam dua belas kurang, tapi kalau sudah memasuki zona waktu Australia, my HTC is automatically changing into the Australian's time zone, dua jam lebih cepat. Weird, huh? not if it's your habits. — Dan selama hampir satu hari kurang, ponsel gue selalu berada dalam mode pesawat, dan... imagine ketika gue kembali menghidupkan jaringan seluler pada ponsel gue. Mmh, must be a lot of messages, mate.

P.s: The stewardess is serving me good, really, an applause for that, and.... the numbers. — Words of the day: Talk nice, that's what makes it memorable.



Nggak lama kemudian gue mencari kontak seseorang di ponsel gue, nah, dapat juga nomornya.

+61 8 6536 7413.
Memanggil...

Tut..
Tut...
Tut....

"Old Macdonald had a farm
e-i-e-i-o..." nyanyi gue pelan tapi asyik.

*Click!*

"Hello," jawabnya.

"Jackie?!" kaget gue ketika panggilan kami akhirnya bisa terhubung, since i've want it in Portofino to get connected with him, dan sekarang sudah. Benar benar suatu keajaiban! (Palma, mulai deh lebay nya.)

The lovely Kingsford, my old pal, mmmh, smells humid, makes me want to vomit. The end of November gue menginjakkan kaki disana, Sydney selalu sukses bikin gue ingin kabur secepatnya dari sana, tidak, bukan gue tidak suka Sydney nya, melainkan.. ya itu tadi, i'm on the right place, but on the wrong time.

"Heyyyy!" jawabnya gokil dari seberang sana, suaranya seru sekali man.

"Makasih pakkk akhirnya gue bisa nyambung juga sama eloooo," jawab gue merasa amat sangat lega.

"Ngo-mong a-pa ka-mu?" balas dia dengan aksen Indo super gagalnya itu.

"Nggak usah belagu gitu deh pakkk," sentil gue judes.

"Hahahahaha, gotcha!" ungkap nya bercanda, ih jayus banget memang si anjing ini.
"Santai, santai, a-da a-pa?" tanya dia lagi.

"Benz, man, jemput donggg, baru dari Delhi nihhh, capekkkkk!," keluh gue manja.

"Oh... okay, okay, just go to the entry, he'll pick you there," terangnya memberikan instruksi.

"POE, you mean?" tanya gue.

"Yes," sahutnya yakin.

"And he? are you giving me another HE?" todong gue kejam. Soalnya dia suka gitu, asal suruh orang langganan dia aja buat jemput gue, gue kan pengen nya dia yang jemput man.

"Yeah, nam-pak-nya ba-gai-mana?" ucap dia ragu ragu, hahah, sialan ya.

"Jack my big mannn," desir gue sambil agak bercanda.
"Jadi nggak jemput gue nih looo?" tanya gue tanpa sungkan sungkan sama dia.

"I'm at my office," jawabnya singkat, dengan nada nya yang datar. Ongkel gue ini memang rada sensitif kalau sudah ada gue, mampir berkunjung ke Sydney, tapi posisi nya dia lagi di kantor, ini udah dari dulu, sebenarnya, tapi gue nggak tahu kenapa persisnya, si lubang pantat itu lebih senang bermain dengan gue dibandingkan duduk menuruti komando si bos di kantor dia sendiri.

"Where...?" tanya gue lagi.

"The office," semakin datar, dia menjawab pertanyaan dari gue.

"Sorry i can't hear, where?" ucap gue mengulangnya satu kali lagi, gue kepengin jail aja sebetulnya...

"The office, you bloody moron," finally, Jackie ngambek, coy!

"Hahahahahaha, now i got you. Udah ah, gue tunggu ya, kasih orang nya nomor gue aja, makasih ya pakkkkk," tukas gue santai.

"Terima kasih kembali!" jawabnya antusias.

"Kan udah gue bilang, sama - sama aja jawab nya, salah lagi deh lo," ucap gue mengoreksi tata bahasanya itu.

"Okay, okay, next time i'll go back to balai bahasa, mulai be-la-jar la-gi." kata dia penuh harap.

"Iya, datang aja kesana, bawa makanan khas nusantara kalau perlu, biar gurunya langsung bikin elo pinter, nanti dikasih tau deh kunci rahasianya."

"Terrific!" ungkapnya seru.

"Yep, bye bye," kemudian gue langsung menutup panggilan telfon itu.

Setelah itu gue mulai berjalan lagi, capek sekali, waktu itu, rasanya nyawa ini bagai sudah berada di titik nadir—sampai ada orang yang telfon gue, bilangnya suruhan Jackie, kami ngobrol sebentar, akhirnya ketemu juga, setelah masuk ke dalam mobil, dia tanya sama gue, "Where to?" lalu gue jawab, "Rotorua," dan kebingungan lah kan dia, gue iseng biarin aja sampai beberapa menit, gue diam, ini orang ternyata fungsi kemanusiaan nya masih jalan, dia tanya lagi sama gue, "Sir, are you certain that you want me escorting you to Quay?" tanya dia tajam, gue pengen ketawa disini, tapi gue tahan aja. Muka gue udah teler setengah mati, man. Buat mikir aja gue sampai butuh energi. Untuk pergi ke Roto masih butuh perjalanan via laut. — "There's some wearying look you got on you, Sir, i know Mr. Ashburn, you're a family, right?" dia ngoceh terus, gue cuma sempoyongan di kursi penumpang. Membuat gue bertanya, "What's your name?"

"Glenn, Sir." jawab dia sambil menyetir.

"Awkay. Glenn, take me to Jackie's house," pinta gue lemah.

"Oh thank goodness! because Mr. Jackie told me to bring you to his residence."

"Yeah... whatev he tell." gumam gue dongkol.

"Glenn, would you please tune me on Fine Music," kemudian gue meminta dia untuk menyetel radio pada salah satu stasiun yang ada di Sydney.

"Whoa, fancy some jazz, Sir?"

"Hush." jawab gue tajam.

"Sure, Sir." geraknya cepat lalu segera menyetel radio di dalam mobil.

Quite the evening till' i do arrives on my uncle's house, nggak jauh kalau dari bandara sampai ke pantai Bondi, setelah sampai, gue kasih tip buat itu anak, suruh dia pulang, agar hati hati, gue bilang. Kemudian... gue berjalan ke arah rumah ongkel gue, menuruni beberapa anak tangga, dan memasukkan passcode pada pintu sekunder di rumah ongkel gue.

Hey, kenapa rasanya gue jadi ikutan mengantuk ya ketika mengetik tulisan ini, okay, actually, gue senang bisa sampai selamat di Tamarama, and look, i have another sunset accompanying me on that laggy time, too bad that i was just alone on that precious evening, but something bug me is that Jackie has change the passcode on his freaking door... so i can't bypass.

O lord, our father...
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rembulan-di-ujung-senja
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
Stories from the Heart
andika
Stories from the Heart
the-piece-of-life
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
my-wife-is-my-enemy
Stories from the Heart
cinta-dan-pahitnya-kehidupan
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia