Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
111
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
09-07-2018 22:57



"In every man, when he met another man, there's a chance, always—a chance, to choose, whether he want to be an alpha, or, an omega in role."

Gue pernah mendengar kalimat tersebut bukan dari Papa, bukan dari Ibu, bukan dari Dewinta, Didiw, Axel, Q, Freya, Endro, Hasan, Ara, Dimas, Dhika, Tunggadewi, kerabat atau rekan rekan gue yang lainnya—juga bukan belakangan ini. Bukan... kalimat itu gue dengar di sebuah foster care, udah lamaa banget, ketika gue masih diminta untuk datang kesana oleh Ibu dan Papa, foster care ini adalah rumah kedua buat gue, simpelnya... Papa dan Ibu terlalu sibuk dengan seeegala macam urusan serta pekerjaan mereka, sampai sampai mereka harus menitipkan gue di sebuah foster care di Bandung.

Reasons behind why... Ibu dan Papa nggak mau tidak punya rencana sama sekali buat diri gue adalah karena mereka takut gue menjadi bandel dan nggak terkendali, terlibat dan terjerumus ke dalam hal yang tidak pantas untuk anak umur segitu. Nyatanya? gue bandel, itu satu ya.. dan gue bisa lihat hal seperti ini hampir terjadi pada kebanyakan orang tua, problem nya satu; terlalu cemas sama anak, padahal? nggak perlu.

Kedua, walaupun ada di foster care, yang notabene nya anak anak baik semua, skenario nya berubah ketika ada Axel, Ara dan Leo (ini Leo rusak banget pokoknya) yang lebih bandel lagi daripada gue—mampir ke tempat itu. Tepat jam 1 siang, Axel biasanya sudah menginjakkan kaki disana.

Gue, sehabis pulang sekolah, biasanya langsung diculik sama Ibu (atau kalau enggak, ibu nyuruh driver gue) buat dititipkan disana. Pulang sekolah jam 12 siang, pas lagi bosen bosen nya, tuh, ya, si Axel datang ke tempat gue. Terus, disana ngapain?

Merusuh..

Axel hobi banget nyogok petugas foster care disini, biar tutup mulut, nggak lapor ke Ibu gue, dia juga jago ngomong sama orang orang dewasa disini... si Axel, datang datang bawa makanan enak, terus jadi sok ramah gitu, dari situ mulai lah kan, dia itu, melancarkan aksinya... di foster care suka senyum senyum sama petugas disini, pura pura ikutan main basket... yang pas lagi sesi main basket itu, di foster care gue emang ada, jadi setiap anak diwajibkan untuk ikutan, katanya sih relaksasi otot—baru setelah itu dipersilakan untuk tidur siang. Gue sih ikut aja main basket, nggak masalah, tapi diam diam si Axel ngomong gini sama gue, "Hey, Palma, kau tau ngak, kau ikut ikut begini, liat bentar lagi, pasti kao kentut, kayak orang bodok," begitu, kata si Axel.

Gue sih so what gitu loh, mau Axel ngomong apa juga, orang dia yang main kesini, gue sih suka suka aja main basket. Dan ujung ujungnya, anak anak cewek yang dititipkan di foster care ini dia culik satu satu, gue pokoknya cuma nonton aja, nggak banyak ngelakuin apa apa. Gue takut kena marah sama Ibu, suer, gue anaknya penakut banget waktu itu, culun dan kuper nggak jelas, makanya kalimat ini mau gue ulangi lagi, "In every man, when he met another man, there's a chance, always—a chance, to choose, whether he want to be an alpha, or, an omega in role." gue dapat ini, pas lagi sesi bermain basket di foster care gue itu, let's just say, Ibu Priya yang mengatakan itu, bukan nama sebenarnya.

Waktu itu, gue memilih untuk menjadi seorang omega, dalam kawanan gue, imagine a wolfpack, dan Axel adalah alpha nya, diajak Axel main, kabur, atau bolos kelas, nurut.... disuruh Axel cium pipi anak cewek di foster care gue, nurut... gara gara kelakuan kayak begitu, sampai nangis gue dimarahin sama Ibu, karena mamah nya Rasty complaint ke nyokap gue. Axel memang bangsyat, gue benci Axel, lalu ketika gue lagi nggak suka sama dia, gue menjadi ignorant, dan tau apa yang dia lakuin?

Nyogok gue.

Cerdas, cerdas sekali Xel, kau belikan aku alange soehne, shitttt, who the hell, could refuse, this very kind offering? Bangsyattt tricky banget kau ini ya. Sampai Ara pun bisa ngebaca situasi kayak begini, waktu itu si Ara ngomongnya belum pakai ogut ogut, masih pakai 'aku', kalau nggak salah, "Ash, kalau nggak main sama aku dan kita kita, main sama siapa lagi Axell, sepi dia tuh Ash, sebenernya.. jangan di jahatin laa," kata Ara, secepat kilat langsung gue debat, "But Axel tends to make problem, Ra, that's why i hold back on him, (tapi kan si Axel suka bikin masalah, Ra, makanya aku malas main sama dia,)" tutur gue kokoh terhadap prinsip gue sendiri.

"Hahah amsyong ya... oke terserah Ash, pokoknya the man is lonely, baik baik lah sama dia," kata Ara lagi, menasihati gue. Ada benernya apa yang dibilangin sama Ara ke gue, sekian tahun berlalu, kami semua tumbuh besar, dan Axel tetaplah Axel, dia masihhh aja kayak begitu, cuma posisi kami sudah seimbang, sekarang, gue bukan lagi sesosok omega yang kalau disuruh suruh nuruttt aja, dan Axel bukan lagi alpha yang tiap kali dia nyuruh gue, gue harus nurut sama dia. Dan ya.. Axel masih se sepi itu, kadang, tengah malam dia suka telfon gue, cuma sekadar ingin bertanya mengenai kabar gue, atau cuma untuk menakut nakuti gue, atau cuma kepengin bentak bentak gue, nggak masalah, i still loves him, bahkan sampai hari ini sekalipun. Gue beruntung si anjing itu masih hidup dan berbisnis. Much respect, Xel.

***

Back to the main issue. Today, ketika gue bertemu dengan Diwangka, gue perlu memutuskan apakah gue kepengin jadi sosok alpha atau omega (ini jijik banget sebetulnya), then, tahun demi tahun berlalu, kenal sama Didiw udah bukan satu, dua atau tiga bulan aja.. tapi sudah lebih dari enam tahun lamanya, lebih malah, dari sejak pertama kali gue jadi first officers di sebuah maskapai yang menggaungkan kalimat "where the world," sisa nya lanjutkan sendiri, hahahaha. Yang jelas, itu maskapai adalah anak tiri kalau di Indo..

Ngomong - ngomong soal maskapai, gue heran, banyak yang kira gue dinas di maskapai mayor, salah... itusih Papaa, gue enggak. Kenapa? simpel lah, Papa nggak merekomendasikan gue, ya gue nurut aja man, orang dia lebih berpengalaman dibandingkan gue, gue bisa aja berontak, ya tapi untuk apa, mending ikuti aja apa kata orang tua, apalagi kalau sudah soal pekerjaan.

Dan yes, walaupun sebenarnya, gampang² aja bagi Papa atau Ibu dalam memasukkan gue kesitu, ke maskapai mayor itu, tetapi mereka berdua sudah berdiskusi panjang lebar dan akhirnya hasil dari diskusi itu disampaikan lah kepada gue, they say, nak, Ibu ada rencana lain, dan rencana ini sudah matang matang Ibu buat, jadi kamu nggak bakal lama kerja di s***-**r, karena Ibu ada rencana mau joint venture sama rekan bisnis Ibu, nanti lebih lengkapnya lagi Ibu kasih tau kamu. Dan hal itu berakhir pada terciptanya sebuah private jet company, Ibu termasuk ke dalam B Of D nya. Itu belum lama juga, karena kita bukan perusahaan senior.

Kembali lagi berbicara tentang Diwangka.. alias Didiw, yang merekrut Didiw, siapa? Ibu, yang memperkenalkan Didiw kepada Ibu, siapa? gue.

Kalau di ingat ingat lagi dulu.., Didiw orangnya kalem.., nggak banyak ngomong, sopan, prosedur on flight dia handle dengan baik.., briefing nggak pernah enggak hadir, pasti hadir, dan selalu on board sebelum stewardess masuk ke dalam pesawat. Makanya pas ngobrol sama PIC nya dia, Captain Aldo, dia bilang that boy Diwangka is a golden kid, terbukti, man, dengan track record pada karirnya yang selalu naik seperti anak tangga.

Dan walaupun di maskapai gue dia cuma substitusi, di maskapai tetangga? dia... kapten nya.. Anyway, gue ingat ini, ada satu hal lagi yang lucu.. apa? Didiw... dia suka sama perempuan (awalnya), pas lagi nyantai di Bali, itu juga gue habis antar orang dari Oz ke Bali, anak anak pada ngumpul di Belmond, gue lihat, si Diwangka ini, gandengan nya nggak cuma satu cewek doang, tapi dua sekaligus... dahsyat ya memang, cakep sekali Diw. Tapi setelah dua tahun kenal, dan gue udah panggil dia Didiw, bukan Diwangka - Diwangka lagi, sok formal banget ya, gue, dulu itu.

Disitu mulai deh, keluar warna aslinya... Didiw, dia jadi gandeng cowok, man, and I was like, "eh, lo bukannya gandeng cewek ya?" dan dengan entengnya dia jawab, "Gue bi, Pal, hehehee, baru tau ya lo?" ucapnya sambil cengengesan enggak jelas.

Anjis, man, gue kira lo laki tulen, hahahahahaha. Rupanya, nggak cuma doyan lubang, ternyata, elo juga doyan pisang ya? Wahahahahaha. Gue juga sempat tanya sama Didiw, "Diw, jadi waktu lo nolongin gue itu? karena lo suka sama gue, gitu ya man?" terus dia jawab, "Iya, Pal, ada lah sedikit.." jawabnya kalem. "Serius, Diw?" jawab gue agak agak panik, merinding ini kalau di ingat ingat lagi. "Serius..." jawabnya pakai nada genit ala gaylord gitu, lo tahu gimana kan, dan baru baru ini gue tahu kalau dia bisa genit kayak gitu.

Mantap ya, ternyata gue juga disukai sama gay. Beda sama si Axel yang kalau ada gay, ganas nya langsung keluar, hahahaha. Makanya Didiw nggak pernah gue satu kandangkan bareng sama Axel, walaupun waktu itu sempat sih, ketemu, di resepsi pernikahan nya Debbie. They got along, good, it's surprising.. though. And the reasons behind why Diwangka called me Bli, adalah karena gue sosok alpha nya dalam kawanan kita, analogi nya kok bikin geli ya? hehehe, okay, let's just stop it then.

Alasan kenapa Diwangka panggil gue Bli adalah karena gue sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, kakak gadungan, man, but no problem at all, gue juga anggap dia adik gadungan gue yang doyan sama dua gender sekaligus, hahahahahaha. Masalah pekerjaan, kebanyakan, ya, gue yang kasih advice. Masalah relationship mungkin gue nggak bisa kasih terlalu banyak, tapi ya masalah gawean gue sering kasih warning buat dia, mengingat dia masih bekerja di maskapai komersial kan...

Hati hati, itu, mekanik, Diw, jangan yes yes aja terus langsung takeoff, itu kan udah kayak angkutan umum unit nya, yang benar lah prosedur maintenance kapal tuh, jangan baru seminggu bilang kapal udah enak di bawa lagi. Mau kejadian nya kayak maskapai yang pailit itu, ya? Apa tuh, yang gambarnya perempuan lagi terbang..

In the end, mereka justifikasi kan, pilot salah, pilot sialan, pilot bodoh, pilot nya hangover, pilot nya have sex in the compartment tuhhh, padahal, semua masalah bersumber dari turbin pesawat, hello, people, it's an engine failure. Makanya... one more thing, being a pilot doesn't mean you don't have to check on your aircraft, check it, please. Lo ingat nggak Diw, basic education of flying an airplane? that is; make sure you can fly the plane, if not, don't fly, at all. Got it, man? cek cek dululah kapal nya... jangan mekanik bilang yes, siap takeoff, lo iya in aja itu mekanik, kalau di komersial, itu orang kadang sontoloyo nya minta ampun, kapal sakit kok disuruh terbang, man, ya tamatlah kita...

Hal ini selalu terjadi pada commercial airlines yang penerbangan nya memiliki konsep kejar tayang, my advice, pray, dan hati hati setiap kali melakukan perjalanan, kelas ekonomi, atau bahkan penerbangan pada kelas pertama sekalipun, tidak selalu meriah sebab bisa mengantarkan kita selamat hingga sampai ke tujuan, karena ya itu, kembali lagi pada pertanyaan awal, apakah kapal nya bekerja dengan baik? lalu bagaimana jika tidak? jadi jangan salahkan ular yang berada di dalam pesawat anda, ya.

Eh, itu sih snakes on a plane, hahahahahaha.

***

The next morning gue terbangun pagi pagi banget, di sebelah gue ada Didiw, masih tertidur nyaman, menginap di airport hotel adalah rutinitas bagi orang orang seperti kami, jadi sudah pasti memberships card dari chain hotel (Hilton, FS, HI, Novotel) itu banyak gue miliki, gue nggak mau rugi, man, diskon keanggotaan adalah hal yang amat sangat krusial, buat gue. I don't waste pennies only to be broke, i think smart and save my ass.

Setelah selesai mandi dan rapi - rapi, gue mulai membangunkan Didiw, sambil menepuk nepuk kasar pipinya, gue ngomong, "Diw, bangun sebentar, man, gue mau cabut nih, nanti ada Prakeesh kesini ya, after lunch, dia bilang, gue udah telfon dia barusan, soalnya. Nanti lo bareng sama dia aja," terang gue lalu kembali berlalu, mempersiapkan barang bawaan gue.

"Haaaa?" Diwangka mengerang pas dia masih tidur.

"Goodbye, man," omong gue kalem sambil menatap muka nya yang teler kayak begitu, kemudian sibuk ambil ini dan itu lagi.

"Apppaaa?" jawab Didiw sambil mencoba buat bangun dan membuka matanya, berat banget kayaknya.

"Gue pergi dulu, kay? thanks a lot Diw, take care," ucap gue simpel lalu mengenakan jaket gue. Boy, i feel good, back with my brownie.

"Iyaa, iyaaa," jawabnya lemah, masih nikmat tertidur.

And then i go, leaving that room, walking to the airport, feeling ecstatic knowing that i ain't piloting the plane anymore.

Fast Lane
Diubah oleh henseyashburn
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
senja-di-asakusa-tokyo
Stories from the Heart
hunter-pemburu-fantasy
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia