- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.1K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#40
Bagian Empat :
Aku Dan Dirinya
Aku Dan Dirinya

Quote:
Part sebelumnya :
Aku tak ubahnya seorang pecundang yang mencoba lari dari masalah yang harusnya kuhadapi dan disana hanya tersisa Fexia yang terdiam membatu melihat tingkahku.
Aku tak ubahnya seorang pecundang yang mencoba lari dari masalah yang harusnya kuhadapi dan disana hanya tersisa Fexia yang terdiam membatu melihat tingkahku.
***
Quote:
Aku memutuskan untuk pergi menemui Anwar yang kini tengah asyik dengan sepiring mie goreng double yang tengah ia santap. Aku menarik kerah bajunya dan mengajaknya beranjak dari kantin Fakultas Ekonomi tersebut.
“Ayo ikut aku, Tong!” ujarku pelan.
Anwar yang terkejut dengan tindakanku barusan masih mencoba menelan mie goreng yang kini tengah masuk ke dalam mulutnya, entah sudah berapa banyak ia makan pada saat itu, terlihat Anwar protes keras atas tindakanku yang sebelumnya.
“Wah kau ini sudah gila, Tong! Hampir saja aku mati tersedak karena tingkahmu itu! Memangnya kita mau kemana?” protes Anwar sembari segera mencomot sebotol aqua botol yang terletak di bagian kantung sebelah kanan tas ranselku. Ia segera minum untuk menghilangkan rasa mengganjal yang ada di tenggorokannya.
“Ayo kita pulang! Motormu di sebelah mana? Antar aku dulu!” ajakku, tentunya aku tidak mau berlama-lama di kampus pada saat ini. Aku hanya khawatir, jika sampai Fexia menyusulku ke kost, tentunya akan runyam, jika sampai Fexia menyusul ke kost.
“Kau ini pasti berantem lagi dengan Fexia, bukan?” selidik Anwar sembari memasang helm di kepalanya.
Aku yang kesal dengan pertanyaan tersebut segera melayangkan tanganku ke kepala-Nya yang telah terbungkus helm.
‘Pletak!’
“Kau ini mengoceh saja, Tong! Sudah cepat! Aku tidak mau, jika Fexia sampai mengetahui kost-ku yang sekarang!”
Anwar segera men-starter motor matic yang ia punya, sedangkan aku dengan setia duduk di jok belakang motor Anwar, rasanya benar-benar kesal pada saat itu, apalagi setelah mengingat kesalahan yang kuulangi lagi bersama Fexia pada saat itu.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua sampai juga di kost-ku, Anwar masih menungguku yang kini sibuk membuka kunci pagar. Ia terlihat tidak sabar ketika pintu telah berhasil terbuka, ternyata hal pertama yang ia lakukan adalah berlari ke arah kamar mandi, tampaknya selang yang berada di tubuh-Nya itu sudah melebihi kapasitas dan sebentar lagi akan meledak.
Aku segera membuka pintu kamar dan meletakkan semua barang yang ada, sedangkan Anwar yang telah usai dengan acara buang hajatnya, kemudian berkata kepadaku dari depan pintu kamar, “Aku kembali ke kampus ya, Tong!” ujar Anwar sembari setengah berteriak.
“Oke ... thanks, Tong! You are my hero!” pujiku kepadanya ditambah dengan aksen sok Britishku pada saat itu.
“Emang sotoy ini anak! Sok bener pake Bahasa Inggris segala! Udah tahu, kalau Bahasa Inggris gw dari dulu itu ngepas!” ledek Anwar sembari ngeloyor pergi dari kostku.
Aku segera menutup pintu kamar dan menghidupkan laptop, rasanya perasaanku akan sedikit tenang, jika bisa mendengarkan beberapa lagu yang akan diputar oleh playlist Winamp-ku pada saat itu.
Keesokan paginya, seperti biasa aku sudah mengawali hariku dengan berbenah, kasur tipis yang kugunakan untuk tidur sudah selesai dirapikan, menyeduh segelas caffucino sachet yang kubeli beberapa renteng dari Indomaret beberapa waktu lalu, serta melaksanakan agenda rutin yang sudah menjadi ritualku di setiap pagi, apalagi jika bukan BAB sembari mendengarkan lagu dari speaker handphoneku yang sudah kusetel sedemikian rupa.
Aku masih asyik bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi, hingga terdengar suara ketukan dari daun pintu kamar kostku.
‘Tok ... tok ... tok!!!’
“Permisi!! Permisi!!” sahut seseorang dari luar kamar.
Aku yang tengah sibuk dengan busa-busa dari shampoo yang kini berada di atas kepalaku hanya bisa menggerutu, hal ini dikarenakan tampaknya suara speaker handphoneku kalah besar dengan suara ketukan dan suara teriakan dari luar kamar.
“Siapa pula pagi-pagi sudah bertamu seperti ini!”
Aku segera mengambil gayung yang berisi air dan menumpahkannya ke atas kepalaku beberapa kali. Aku segera mengeringkan tubuhku dengan cepat sembari segera memasang celana boxerku, tampaknya orang yang berada di luar kamar benar-benar membutuhkan keberadaanku saat ini juga.
Masih dengan suara berisik yang kudengarkan sedari tadi, aku kemudian mencoba membuka grendel pintu untuk melihat siapa gerangan orang yang memanggilku sedari tadi. Namun apa yang kini berada di hadapanku adalah sosok yang benar-benar tidak kuinginkan keberadaanya untuk saat ini.
“Kamu ... ada perlu apa sampai kesini!” ujarku cepat.
“Kita masih butuh bicara, Har!” balasnya lirih.
“Aku malas berdebat denganmu, Xia! Kamu pulang saja untuk saat ini!” elakku sembari mencoba untuk menutup daun pintu yang terbuka.
“Tunggu ... atau kamu mau aku teriak-teriak lagi di pagi buta seperti ini?” ancam Fexia sembari mencoba menahan daun pintu tersebut dengan salah satu tangan-Nya.
“Ayolah! Nanti tanganmu terjepit, Xia!” balasku cepat.
“Aku tidak peduli akan hal itu! Sekarang cepat buka pintunya!” teriak Fexia setengah mengancam.
Aku tidak bisa berbuat banyak, aku sudah paham benar dengan sifat keras kepala yang ia punya, tentunya menahannya seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, malahan akan membuat masalah baru, jika sampai ia berteriak sekali lagi, entah apa yang ada dipikirannya pada saat itu.
“Kau memang gila!” umpatku tak setuju dengan tindakannya.
“Aku gila karena kamu! Harusnya kamu sadar akan hal itu!” ujarnya membela diri.
“Terserah padamu saja, Xia! Aku malas berdebat denganmu saat ini!”
“Good boy! Aku masuk!” ujarnya tanpa persetujuanku.
Ia segera ngeloyor pergi duduk di atas kasur, sembari tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang ini, ia mirip seperti seorang anak kecil yang kegirangan dibelikan permen kapas di pasar malam.
Aku mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemari. Aku tidak mengindahkan keberadaan Fexia yang berada di atas kasur. Ia terlihat tengah memainkan handphonenya yang berwarna pink dan tengah asik dengan beberapa pesan yang tengah ia ketikkan di layar handphonenya.
Aku segera berganti pakaian dan memutuskan untuk segera pergi dari kost. Memang aku ada kelas pagi pada hari ini, tapi tampaknya aku bisa telat, karena ada wanita ini sekarang di dalam kost.
Aku yang telah berpakaian rapi dengan setelan kemeja berwarna hitam, jeans hitam berwarna senada serta sepatu kets merk Nike warna putih kini tengah mematut diri di depan cermin, mencoba untuk merapikan potongan rambutku yang sedikit berantakan, menyemprotkan beberapa semprotan parfum ke tubuhku serta tidak lupa mengenakan jam tangan dan cincin yang sudah menjadi kebiasaanku sampai dengan sekarang.
“Sudah ... kamu tetap ganteng kok, sayang!” seloroh Fexia sembari tertawa centil.
“Aku sudah tahu kalau itu!” balasku cepat.
“Memang salah aku memujimu seperti itu!”
“Hmm ... ngoceh aja terus! Aku bisa telat ini ke kampus! Mana kunci mobil?” tanyaku cepat.
“Nih!!!” balasnya sembari memperlihatkan kunci mobil dengan dompet kecil berwarna pink, tampaknya penyakitnya yang gemar mengoleksi segala sesuatu berbau pink itu masih saja belum berubah walau sudah banyak waktu berlalu.
“Aku mau ke kampus! Kamu mau ikut tidak?”
“Iya ... aku ikut!!! Tunggu ...,” balasnya manja sembari menggelendot manja di lenganku sebelah kiri.
“Ayolah ... aku penghuni baru di tempat ini! Kalau kelihatan tetangga, bagaimana? Kamu mau aku diusir dari tempat ini?” protesku tidak setuju.
“Malah aku senang kalau sampai kamu diusir dari tempat ini! Itu tandanya kamu harus pindah ke rumah yang sudah aku kontrak sekarang ini! Lagipula apa asiknya tinggal di kost-kostan kumuh seperti ini!” ejeknya kepadaku.
“Itu adalah salah satu pertimbangan kenapa aku terkadang malas meladenimu berbicara mengenai banyak hal!” balasku ketus.
Aku segera beranjak sembari melepaskan pelukan Fexia di lenganku yang sebelah kiri. Aku tidak ingin telat hanya karena berdebat dengan wanita manja yang kini berada di sebelahku, tampaknya mulai ke depan semuanya akan jadi lebih rumit, apalagi setelah makhluk cerewet ini kembali masuk ke dalam kehidupanku.
“Ayo ikut aku, Tong!” ujarku pelan.
Anwar yang terkejut dengan tindakanku barusan masih mencoba menelan mie goreng yang kini tengah masuk ke dalam mulutnya, entah sudah berapa banyak ia makan pada saat itu, terlihat Anwar protes keras atas tindakanku yang sebelumnya.
“Wah kau ini sudah gila, Tong! Hampir saja aku mati tersedak karena tingkahmu itu! Memangnya kita mau kemana?” protes Anwar sembari segera mencomot sebotol aqua botol yang terletak di bagian kantung sebelah kanan tas ranselku. Ia segera minum untuk menghilangkan rasa mengganjal yang ada di tenggorokannya.
“Ayo kita pulang! Motormu di sebelah mana? Antar aku dulu!” ajakku, tentunya aku tidak mau berlama-lama di kampus pada saat ini. Aku hanya khawatir, jika sampai Fexia menyusulku ke kost, tentunya akan runyam, jika sampai Fexia menyusul ke kost.
“Kau ini pasti berantem lagi dengan Fexia, bukan?” selidik Anwar sembari memasang helm di kepalanya.
Aku yang kesal dengan pertanyaan tersebut segera melayangkan tanganku ke kepala-Nya yang telah terbungkus helm.
‘Pletak!’
“Kau ini mengoceh saja, Tong! Sudah cepat! Aku tidak mau, jika Fexia sampai mengetahui kost-ku yang sekarang!”
Anwar segera men-starter motor matic yang ia punya, sedangkan aku dengan setia duduk di jok belakang motor Anwar, rasanya benar-benar kesal pada saat itu, apalagi setelah mengingat kesalahan yang kuulangi lagi bersama Fexia pada saat itu.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua sampai juga di kost-ku, Anwar masih menungguku yang kini sibuk membuka kunci pagar. Ia terlihat tidak sabar ketika pintu telah berhasil terbuka, ternyata hal pertama yang ia lakukan adalah berlari ke arah kamar mandi, tampaknya selang yang berada di tubuh-Nya itu sudah melebihi kapasitas dan sebentar lagi akan meledak.
Aku segera membuka pintu kamar dan meletakkan semua barang yang ada, sedangkan Anwar yang telah usai dengan acara buang hajatnya, kemudian berkata kepadaku dari depan pintu kamar, “Aku kembali ke kampus ya, Tong!” ujar Anwar sembari setengah berteriak.
“Oke ... thanks, Tong! You are my hero!” pujiku kepadanya ditambah dengan aksen sok Britishku pada saat itu.
“Emang sotoy ini anak! Sok bener pake Bahasa Inggris segala! Udah tahu, kalau Bahasa Inggris gw dari dulu itu ngepas!” ledek Anwar sembari ngeloyor pergi dari kostku.
Aku segera menutup pintu kamar dan menghidupkan laptop, rasanya perasaanku akan sedikit tenang, jika bisa mendengarkan beberapa lagu yang akan diputar oleh playlist Winamp-ku pada saat itu.
***
Keesokan paginya, seperti biasa aku sudah mengawali hariku dengan berbenah, kasur tipis yang kugunakan untuk tidur sudah selesai dirapikan, menyeduh segelas caffucino sachet yang kubeli beberapa renteng dari Indomaret beberapa waktu lalu, serta melaksanakan agenda rutin yang sudah menjadi ritualku di setiap pagi, apalagi jika bukan BAB sembari mendengarkan lagu dari speaker handphoneku yang sudah kusetel sedemikian rupa.
Aku masih asyik bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi, hingga terdengar suara ketukan dari daun pintu kamar kostku.
‘Tok ... tok ... tok!!!’
“Permisi!! Permisi!!” sahut seseorang dari luar kamar.
Aku yang tengah sibuk dengan busa-busa dari shampoo yang kini berada di atas kepalaku hanya bisa menggerutu, hal ini dikarenakan tampaknya suara speaker handphoneku kalah besar dengan suara ketukan dan suara teriakan dari luar kamar.
“Siapa pula pagi-pagi sudah bertamu seperti ini!”
Aku segera mengambil gayung yang berisi air dan menumpahkannya ke atas kepalaku beberapa kali. Aku segera mengeringkan tubuhku dengan cepat sembari segera memasang celana boxerku, tampaknya orang yang berada di luar kamar benar-benar membutuhkan keberadaanku saat ini juga.
Masih dengan suara berisik yang kudengarkan sedari tadi, aku kemudian mencoba membuka grendel pintu untuk melihat siapa gerangan orang yang memanggilku sedari tadi. Namun apa yang kini berada di hadapanku adalah sosok yang benar-benar tidak kuinginkan keberadaanya untuk saat ini.
“Kamu ... ada perlu apa sampai kesini!” ujarku cepat.
“Kita masih butuh bicara, Har!” balasnya lirih.
“Aku malas berdebat denganmu, Xia! Kamu pulang saja untuk saat ini!” elakku sembari mencoba untuk menutup daun pintu yang terbuka.
“Tunggu ... atau kamu mau aku teriak-teriak lagi di pagi buta seperti ini?” ancam Fexia sembari mencoba menahan daun pintu tersebut dengan salah satu tangan-Nya.
“Ayolah! Nanti tanganmu terjepit, Xia!” balasku cepat.
“Aku tidak peduli akan hal itu! Sekarang cepat buka pintunya!” teriak Fexia setengah mengancam.
Aku tidak bisa berbuat banyak, aku sudah paham benar dengan sifat keras kepala yang ia punya, tentunya menahannya seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, malahan akan membuat masalah baru, jika sampai ia berteriak sekali lagi, entah apa yang ada dipikirannya pada saat itu.
“Kau memang gila!” umpatku tak setuju dengan tindakannya.
“Aku gila karena kamu! Harusnya kamu sadar akan hal itu!” ujarnya membela diri.
“Terserah padamu saja, Xia! Aku malas berdebat denganmu saat ini!”
“Good boy! Aku masuk!” ujarnya tanpa persetujuanku.
Ia segera ngeloyor pergi duduk di atas kasur, sembari tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang ini, ia mirip seperti seorang anak kecil yang kegirangan dibelikan permen kapas di pasar malam.
Aku mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemari. Aku tidak mengindahkan keberadaan Fexia yang berada di atas kasur. Ia terlihat tengah memainkan handphonenya yang berwarna pink dan tengah asik dengan beberapa pesan yang tengah ia ketikkan di layar handphonenya.
Aku segera berganti pakaian dan memutuskan untuk segera pergi dari kost. Memang aku ada kelas pagi pada hari ini, tapi tampaknya aku bisa telat, karena ada wanita ini sekarang di dalam kost.
Aku yang telah berpakaian rapi dengan setelan kemeja berwarna hitam, jeans hitam berwarna senada serta sepatu kets merk Nike warna putih kini tengah mematut diri di depan cermin, mencoba untuk merapikan potongan rambutku yang sedikit berantakan, menyemprotkan beberapa semprotan parfum ke tubuhku serta tidak lupa mengenakan jam tangan dan cincin yang sudah menjadi kebiasaanku sampai dengan sekarang.
“Sudah ... kamu tetap ganteng kok, sayang!” seloroh Fexia sembari tertawa centil.
“Aku sudah tahu kalau itu!” balasku cepat.
“Memang salah aku memujimu seperti itu!”
“Hmm ... ngoceh aja terus! Aku bisa telat ini ke kampus! Mana kunci mobil?” tanyaku cepat.
“Nih!!!” balasnya sembari memperlihatkan kunci mobil dengan dompet kecil berwarna pink, tampaknya penyakitnya yang gemar mengoleksi segala sesuatu berbau pink itu masih saja belum berubah walau sudah banyak waktu berlalu.
“Aku mau ke kampus! Kamu mau ikut tidak?”
“Iya ... aku ikut!!! Tunggu ...,” balasnya manja sembari menggelendot manja di lenganku sebelah kiri.
“Ayolah ... aku penghuni baru di tempat ini! Kalau kelihatan tetangga, bagaimana? Kamu mau aku diusir dari tempat ini?” protesku tidak setuju.
“Malah aku senang kalau sampai kamu diusir dari tempat ini! Itu tandanya kamu harus pindah ke rumah yang sudah aku kontrak sekarang ini! Lagipula apa asiknya tinggal di kost-kostan kumuh seperti ini!” ejeknya kepadaku.
“Itu adalah salah satu pertimbangan kenapa aku terkadang malas meladenimu berbicara mengenai banyak hal!” balasku ketus.
Aku segera beranjak sembari melepaskan pelukan Fexia di lenganku yang sebelah kiri. Aku tidak ingin telat hanya karena berdebat dengan wanita manja yang kini berada di sebelahku, tampaknya mulai ke depan semuanya akan jadi lebih rumit, apalagi setelah makhluk cerewet ini kembali masuk ke dalam kehidupanku.
#Bersambung
Diubah oleh herdimeidianto 15-12-2017 23:43
0
Kutip
Balas