Kaskus

Story

dudatamvan88Avatar border
TS
dudatamvan88
DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]
TRILOGI
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON II


Salam penghuni Jagad KASKUS Terutama yang berada di Sub Forum SFTH

Hari ini ane nulis kisah kelanjutan dari cerita yang ane tulis sebelumnya mengenai hal - hal yang ane alami beberapa tahun yang lalu

Dan ane tetep mohon dengan sangat Kritik. Saran. Dan bimbinganya Buat ane yang Nubie ini.
emoticon-Maaf Aganemoticon-Maaf Agan

Quote:


Quote:


DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]


Quote:

Quote:




PROLOG

Masih terngiang dengan jelas dikepalaku rasa sakit akan Kehilangan.
Semua yang aku miliki saat aku berjaya di jakarta hanya seperti cerita dongeng yang berakhir dengan tragis.

Rian mengajakku untuk merantau kekota Bontang.
Aku berharap bisa merubah hidupku saat aku menginjakan kaki di pulau terbeasar di indonesia ini.
Tapi semuanya tidak berjalan begitu lancar saat aku dan rian berkendara menyusuri Jalan Poros Sejauh 240 kilometer Dari kota Balikpapan menuju ke Kota Bontang.

Di kota ini aku Bertemu dengan lingkungan baru.
Bertemu dengan teman baru.
Dan hal yang tak pernah kubayangkan ternyata juga kualami di kota ini.
Akulah sang wakil janji itu.
Akankah semuanya akan berakhir disini???


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh dudatamvan88 25-11-2017 00:14
bandarlagunaAvatar border
dodolgarut134Avatar border
vanpadAvatar border
vanpad dan 39 lainnya memberi reputasi
40
949.9K
4.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
dudatamvan88Avatar border
TS
dudatamvan88
#2340
SIDE STORY
SAYUR ASEM TERAKHIR

Langit sore kota bontang yang berwarna jingga keemasan terlihat sangat indah saat ini. Tapi entah kenapa aku akhir - akhir ini merasa sangat bahagia. Semua yang kupandang semua yang kurasakan aku merasa sangat menikmati semua itu.
"Ada apa ya??" hatiku selalu berguman seperti itu.
Tapi ibu selalu menyemangati saat kami mengobrol.
Ibu adalah sosok pahlawan sebenarnya dalam hidupku. Beliau membesarkanku sendirian tanpa sosok seorang suami yang seharusnya ada membantunya. Beliau menghidupiku dan Almarhum adikku sendirian.
Entah kemana adik kecilku yang sangat kusayangi itu. Sejak kejadian 5 tahun yang lalu aku dan ibu tak pernah lagi melihatnya.
Dalam doa setelah sholat ibu selalu menangis tersedu mendoakan agar anak perempuan keduanya itu diberi kesehatan dan segera pulang kerumah.
"Bersabarlah bu.. Aku berjanji akan membahagiakanmu suatu saat nanti" ujarku sambil tersenyum sendiri saat menyongsong langit sore dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku.

"Bu.. Malem ini aku pengen makan sayur asem bikinan ibu.. Masak ya" ujarku manja dengan bergelayutan di tangan ibuku.
"Loh.. Belanja dong?? Mau belanja kemana malem - malem gini nduk?? Warungnya bu mijah udah tutup dari tadi siang" jawab ibuku lembut.
"Tapi aku pengen bu.. Kita belanja ke pasar ya" ujarku dengan senyum yang semanis - manisnya.
ibu pun mengangguk sambil tersenyum.
Bukanya apa - apa. Tapi memang aku melihat tudung saji di meja dapur masih kosong yang berarti memang ibu belum memasak hari ini.
Karena saat aku melihat ada beberapa bungkus ikan asin di dapur aku jadi sangat menginginkan ibu memasak sayur asem malam ini.

Seperti biasanya. Pasar ikan di tanjung Limau memang sudah tutup. Tapi para pedagang sayuran di pinggir jalan dengan lampu yang tertang masih berjejer rapih disepanjang jalan pertigaan Rudal walikota lama.
Setelah menghentikan sepeda motor maticku di depan salahbsatu warung sayuran ibu langsung turun dan memilih sayuran yang akan ia gunakan untuk memasak sayur asem malam ini.
"Dikit aja bu.. Buat kita makan malem ini aja" ujarku saat mengahampirinya.
"Iya.. Ibu tau" jawabnya.
Cukup 8000 rupiah yang kami bayarkan untuk beberapa sayuran yang kami beli.
Sebenarnya ibu mengajakku untuk mampir dulu ke Ramayan* tapi aku menolaknya karena Aku benar - benar ingin cepat - cepat makan sayur asem buatan ibu.
Kami pun akhirnya pulang melewati kelap - kelip lampu rumah dan pertokoan yang berada dipinggir jalan.
Entah kenapa aku sangat tidak sabar untuk segera memakan sayur asem buatan ibu. Rasanya ingin sekali aku menarik gas dalam - dalam agar segera sampai dirumah. Tapi yang ada malah cubitan ibu akan mendarat di perutku. Hhihihi.

Wajah ibu terlihat begitu cerah malam ini. Walaupun memang setiap hari wajahnya begitu. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Entahlah.
TING.. TING.. TING..
Aku mengadu sendok dan garpu saat duduk di meja makan karena tak sabar menunggu masakan ibuku.
"BUUUUUU.. UDAH MATENG BELOOOM" keluhku dengan manja.
"Sebentar nduk" ujar ibuku pelan dari dapur yang memang posisinya tak jauh dari meja makan tempatku duduk. Mungkin hanya berkisar dua meter.
Tak lama kemudian ibu mulai membawa panci yang mengeluarkan uap panas.
"Yeeeeeeee.. Mateeeeeeeng" ujarku girang dan diikuti senyuman diwajah ibuku.
"Ambil sambalnya nduk" ujar ibuku sambil menunjuk ke arah sebuah cobek yang ada di meja dapur.
"Iya bu" jawabku dengan melangkah ke arah meja dapur dan membawanya kembali ke meja makan.
PLAK
"Berdoa dulu!!" ujar ibu dengan menepuk punggung telapak tanganku.
"iya.. Maaf" jawabku dengan senyum.
Makanan malam ini benar benar terasa sangat ternikmati seakan - akan aku akan pergi sangat jauh.
Bahagia memang sederhana. Hanya butuh dua ekor ikan asin. Dua potong tempe. Sepiring nasi panas. Beberapa sendok sayur asem. Dan sambal buatan ibu sebanyak - banyaknya. Dan yang paling penting adalah bersama - sama dengan ibuku.
"ibuuuuuu.. Makasih banyak yaaaaaa" ujarku dalam hati sambil menikmati makanan dihadapanku.

"Nduk.. Kamu kenapa manja sekali malam ini?? Ada apa??" tanya ibu saat kami selesai makan.
"Loh.. Kan tiap hari aku begini bu" jawabku sambil mengelus - elus perutku yang terlihat sedikit buncit karena kekenyangan.
"Mungkin akan begini bentuknya saat aku hamil nanti. Hhihihi" ujarku dalam hati.
"Ibu tau nduk.. Semua tingkahmu ibu ini tau.. Kalo kamu manja begini kamu itu pasti lagi takut sesuatu.. Ada apa??" ujar ibu dengan wajah serius.
"Ibu jangan khawatir ya.. Aku beneran gapapa.. Cuma rasanya pengen banget makan sayur asem ibu malem ini" jawabku dengan senyum selebar - lebarnya.
"Beneran??" tanya ibuku meyakinkan.
"Beneran buu.. Kita nonton tv yuk bu" ujarku sambil melangkah ke arah tv sebelum ibu menyuruhku untuk mencuci piring.

"Kamu lagi suka sama laki ya??" ujar ibuku sambil membelai rambutku yang berbaring dipangkuanya dan sontak saja membuatku terkejut bukan main.
"Loh kok ibu ngomong gitu??" tanyaku bingung.
"Ibu tau nduk.. Ibu juga pernah muda.. Dan umurmu sekarang ini sudah waktunya buat nikah" ujar ibu.
Aku tertegun sejenak karena bingung memikirkanya. Apakah aku akan memberi tahu ibu apa yang tengah aku rasakan?? Atau aku akan memendamnya saja dan menuliskan di buku harianku??
"Pasti mikirin alasan?" ujar ibu ketus.
Tapi mungkin mas memang orang baik. Tapi apa aku harus memberi tahu ibu?? Bahkan dia mungkin tidak tau jika aku menyukainya..
"Nduk" ujar ibu membuyarkan lamunanku.
"Iya bu.." ujarku dengan menyembunyikan wajahku di pangkuanya.
"Orang mana?? Kerja apa??" tanya ibuku penasaran.
"Orang jawa bu.. Kerja bengkel juga.. Tapi dia ga tau bu kalo aku suka sama dia" ujarku dengan semakin membenamkan wajahku di pangkuan ibu.
"Loh kok engga tau.. Gimana toh?? Memangnya tinggal dimana??" ujar ibu dengan membelai rambutku.
"Jauh bu.. Di sangatta sana" ujarku lirih.
Aku menceritakan semuanya kepada ibu. Mulai dari pertama bertemu hingga dia yang selalu memperlakukanku sebagai wanita bukan sebagai cewek.
"Aahh.. Mass.. Kapan kita ketemu lagi" lirihku dalam hati sambil memeluk paha ibu.
"Tapi nanti kalo nikah tinggal disini ya nduk.. Biar ibu ga sendirian.." ujar ibu.
"Iya bu.. Aku ga mau ninggalin ibu.. Aku akan nemenin ibu nunggu tiara pulang" jawabku.
Ibu tampak menangis mendengar jawabanku.
"Buu.. Tapi kalo ga ada aku ibu sehat - sehat ya.. " lanjutku dengan air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku.
"Kamu ini ngomong apa toh.. Jangan aneh - aneh.. Ada juga ibu yang ga ada duluan.. Baru kamu" ujar ibu dengan memelukku erat - erat.
Suasana malam yang sebelumnya ceria menjadi penuh air mata. Air mata takut akan kehilangan.
Aku takut kehilangan ibu. Aku takut mati.

Di meja yang selalu menemani malamku sebelum tidur aku menuliskan semua yang aku lalui hari ini.
Tentang bagaimana aku menceritakan perihal mas. Tentang bagaimana aku dan ibu merindukan tiara. Dan tentang bagaimana aku takut akan kematian.

aku berdoa semoga ibu selalu diberi kesehatan.
Tia.
Cepet pulang de.
Ibu nangis kangen sama tia.

Mudah - mudahan masih ada matahari besok pagi. Saat aku nelpon kamu dan bilang aku sayang sama kamu mas.


"Lho?? Kenapa aku nangis lagi sih??" ujarku bingung sambil mengucek mataku yang tak hentinya mengeluarkan air mata.
"IIIIBBBUUUUUUUU" teriakku dengan sekencang - kencangnya dan menangis sejadi - jadinya.
ibu yang panik langsung masuk kedalam kamarku dan memelukku dengan erat.
Berulang kali beliau menanyakan apakah aku baik - baik saja??
Tapi aku bingung harus menjawab apa?? Karena aku sendiripun bingung kenapa aku menangis.
Aku meminta untuk tidur dikamar ibu malam ini dan dia mengiyakan.
Aku akan memeluk ibu erat - erat malam ini hingga aku terlelap.

Entah kenapa pagi ini aku enggan sekali beranjak dari ranjang ibu. Saat ibu beranjak bangun aku dengan cepat menahanya.
"Jangan bangun dulu bu.. Kita tidur lagi ya" ujarku manja.
"Lho.. Gimana toh?? Mendingan kamu sekarang bangun.. Sholat subuh dulu.. Doain ademu!!" ujar ibu tegas.
Mendapat jawaban seperti itu akupun tak bisa membantah apa - apa dan beranjak bangun menuruti perkataan ibu.

Dalam doa setelah sholat aku mendoakan kesehatan ibuku. Kesehatan tia. Kesehatan mas.
"Hari ini aku akan menelpon dia" ujarku sambil tersenyum malu pada diriku sendiri.

"Bu.. Aku libur aja ya hari ini" ujarku kembali turun dari motor dan masuk kedalam rumah.
"Kenapa nduk?? Kamu sakit??" tanya ibu bingung.
"Ga tau bu.. Aku ga pengen kemana - mana hari ini.. Aku pengen sama ibu aja" ujarku sambil duduk di sofa.
"Anak ibu gaboleh gitu.. Jangan males.. Kalo engga sakit kamu harus berangkat nduk.." ujar ibu.
"Tapi bu" ujarku dengan suara sedikit melengking.
"Engga ada tapi.. Anak ibu ga boleh males" ujar ibu sambil menjewer lembut telingaku.
"Iya deh" jawabku sambil memeluk ibu erat - erat.
Setelah mencium tangan ibu dan mengucap salam aku menyalakan motor dan segera berangkat.

Ditemani matahari dan hembusan angin aku menuju ke tempat kerja ku yang berada di loktuan.
Aneh.. Kenapa pagi ini suasana sunyi sekali?? Biasanya di lampu merah Loktuan ini setidaknya ada beberapa motor yang ikut berhenti menemaniku menunggui lampu merah. Tapi ini sangat terlihat lengang.. Atau mungkin aku yang terlalu kesiangan??
Perlahan lampu merah berganti hijau dan akupun menarik gas sepeda motorku.
BRAAAAAAK


----------

Dedicated to u my Love

Saat itu memang aku ga tau karena aku memang engga peka..
Andaipun aku tau apa seorang indra bisa merubah takdir??
Tapi satu hal yang aku sadari..
Aku juga sayang sama kamu..
Doaku selalu mengalir buat kamu.. Sekarang.. Besok.. Lusa.. Selamanya..
Bukan karena ingin diiba..
Bukan karena ingin disanjung..
Aku hanya ingin semua orang di Indonesia tau jika aku Ganindra Basudewa Juga sayang sama kamu..
Sehingga semakin banyak doa yang menerangi jalanmu disana..
Diubah oleh dudatamvan88 12-11-2017 08:45
putrza
jenggalasunyi
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.