- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
...
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog
heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.
Quote:
Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.
*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak!

Quote:
side story
Quote:
cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
773.3K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sikodir.kodir
#143
Peringatan pertama dan Mengenal dirinya
Peringatan pertama
Syukuran kecil2an yg di hadiri mbah tunggak berjalan lancar. Satu ekor ayam kami santap bersama, dua ekor ayam buat mbah tunggak dan keluarga. Mbah tunggak jg tidak bisa lama2 disini, mengingat mbah tunggak adalah juru kunci lawang sewu.
"Fad kita tidur rumah km ya?" Ucap beni mewakili ketiga sahabat gw lainnya.
"Beres! Lagian ada yg mau gw sampaikan ke km(beni) dan farid" andi dan doni yg mendengar ucapan gw hanya senyum kecil. Sedangkan beni dan farid bingung soal apa yg mau gw sampaikan ke mereka berdua.
"Jadi gini, td perjalanan plg ke rumah, gw andi dan doni mampir ke suatu tempat. Lebih tepatnya kami bertiga menemukan lokasi baru" ucap gw mencoba menjelaskan ke mereka.
"Tempat? Maksudnya tempaat apaan?" Jawab beni menarik alis. Sedangkan farid keliatan diam tp mikir.
"Ndi tunjukan foto yg td kamu ambil ke mereka berdua" perintah gw ke andi mengeluarkan hp menunjukan yg di maksud ke beni dan farid. Dan gw menjelaskan lebih detail soal itu tempat ke mereka berdua
"Hah gila lu fad! Jd itu tempat pesugihan?? Di tengah hutan pula! Enggak ah kali ini" beni tidak setuju. Begitu pula farid satu pintu dengan beni.
Gw memaklumi kl mereka berdua ketakutan dan tidak mau ikut. Mereka berdua masih trauma kejadian lawang sewu dan apa yg mereka alami seminggu yg lalu. Tp gw, andi dan doni di landa rasa penasaran yg besar melangkah lebih lanjut. Terpaksa gw harus nyari pengganti beni dan farid untuk perjalanan kali ini.
Gw dan temen2 tidur bareng di kamar gw yg enggak begitu besar tp bejubel laki atau batangan semua. Untung kami normal
"Tuan jgn pergi kesana" sosok wanita berbicara di dalam mimpi gw ini tinggi bercahaya dan berdiri membelakangiku.
"Dimana ini? Siapa kamu?" Tanyaku heran. Karena gw sama sekali tidak mengenal tempat ini. Gw jg enggak kenal siapa dia. Tp entah knp gw sama sekali tidak merasakan ketakutan dengan sosok wanita yg berdiri membelakangiku.
"Saya hanya bisa memberikan peringatan kpd tuan. Saya tdk bisa melindungi tuan" dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya memberi peringatan, kemudian menghilang.
"Hhhaaaahhh..." Terbangun gw dari mimpi dalam kondisi keringat mengucur deras.
"Siapa dia? Kok panggil gw tuan??" Ucap gw sambil mengatur nafas.
Baru pertama kalinya gw merasa tidak ketakutan melihat salah satu makhluk ciptaan Tuhan yg tidak diharapkan dilihat oleh keturanan Adam. Walaupun yg gw lihat sebatas mimpi.
Mengenal dirinya
Liburan kenaikan kelas cukup membosankan bagi gw. Hidup di tengah lingkungan lokalisasi, tidak banyak yg bisa gw lakukan selain melihat transaksi lendir silih berganti. Gw cukup banyak mengenal penghuni di kanan kiri rumah. Salah satunya mbak desi yg sering gw kunjungi tempatnya hanya sekedar bertamu. Mbak desi ini perantauan dari jawa barat. Orangnya ramah dan tamu nya lumayan banyak.
"Lg enggak ada tamu mbak?" Sapa gw berdiri di depan rumahnya yg menjadi tempat mbak desi bekerja.
"Eh mas fadli, sini mas duduk. Temenin aku ngobrol" jawab mbak desi dengan logat sunda yg masih kental.
"Tumben nih mbak di rumah ini cuma ada mbak desi yg duduk di depan" ucap gw yg melihat sekitar tidak ada wanita selain mbak desi.
"Lg pada dpt tamu mas di dalam." Jawab mbak desi sambil menawarkan rokok ke gw.
"Aku lg males nerima tamu mas. Lagian masih sore" ucap mbak desi diikuti hembusan asap rokok
Mbak desi ini salah satu primadona di tempatnya. Wajah cantik, tubuh ideal, kulit putih bersih, membuat banyak orang yg berlalu lalang seringkali menawarnya. Tp kadang tidak cocoknya harga membuat para penjaja meninggalkannya, berharap di panggil kembali oleh mbak desi. Seperti penjual di pasar. Tp hal tersebut tidak berlaku bagi mbak desi. Yg diminta harga segitu ya segitu.
"Main sama aku yuk mas.." Ucapan mbak desi sambil menoleh tersenyum kearahku. Tentu yg dimaksud disini main kuda kudaan.
Rejeki anak gang 2 bersambut (kl gw sebut rejeki anak soleh rasanya kurang pas dan memang gak pantas gw sandang). Dapet rejeki kok ditolak? Kapan lagi gratisan! Diajak masuk lah gw ke tempat mbak desi. Gw disuruh bersihin diri dulu di kamar mandi. Setelah bersih, gw nyusul mbak desi masuk ke kamar.
"Lho kok ada dua orang?" Kata gw dalam hati begitu memasuki kamar mbak desi gw liat ada dua wanita di dalam kamar. Mbak desi posisi udah diatas ranjang. Sedangkan satunya berdiri di sebelah ranjang menatapku dengan senyuman jg.
"Tuan, tinggalkan kamar ini" perintahnya ke gw. Mulutnya memang tidak berbicara tp gw bisa mendengar dengan jelas di telinga ini.
Mbak desi heran melihat gw hanya berdiri mematung di daun pintu. Saat itu jg gw langsung keluar dari tempat mbak desi. Terdengar beberapa kali mbak desi memanggil namaku. Tp tidak gw hirau kan.
"Sialan! Mau dapet rejeki ada aja hambatannya" ngomong sama diri sendiri.
Tp kali ini gw bertatapan langsung dengan dirinya. Kecantikan dan kesempurnaan fisiknya melebih mbak desi. Bahkan bisa gw blg melebihi wanita mana pun. Sosok wanita yg memanggil gw "tuan" lumayan tinggi mungkin sekitar 170an, penampilannya menggunakan long dress warna krem, wajahnya tidak 'dingin', rambutnya berwarna putih tp bukan warna rambut putih uban, kulitnya putih bersih, mata nya sungguh indah, intinya wujud sangat sempurna yg gw pernah lihat. Senyumnya jg tidak bisa gw lupakan.
"Dia yg datang mimpiku? Secantik itu kah??" Gw berbicara pd diri sendiri di dalam kamar. Dan hampir terjatuh dari atas ranjang ketika gw mendapat jawaban.
"Benar tuan, kita berjumpa di mimpi. Aku mengikuti di saat tuan mengunjungiku. Aku bukan lah seperti mereka yg ingkar kepada Tuhan." Kali ini hanya suara yg gw dengar. Gw melihat di sekeliling kamar tidak ada sosoknya.
"Wes edan iki aku!" Gw lari keluar kamar merasa tidak percaya dengan apa yg barusan gw dengar.
Syukuran kecil2an yg di hadiri mbah tunggak berjalan lancar. Satu ekor ayam kami santap bersama, dua ekor ayam buat mbah tunggak dan keluarga. Mbah tunggak jg tidak bisa lama2 disini, mengingat mbah tunggak adalah juru kunci lawang sewu.
"Fad kita tidur rumah km ya?" Ucap beni mewakili ketiga sahabat gw lainnya.
"Beres! Lagian ada yg mau gw sampaikan ke km(beni) dan farid" andi dan doni yg mendengar ucapan gw hanya senyum kecil. Sedangkan beni dan farid bingung soal apa yg mau gw sampaikan ke mereka berdua.
"Jadi gini, td perjalanan plg ke rumah, gw andi dan doni mampir ke suatu tempat. Lebih tepatnya kami bertiga menemukan lokasi baru" ucap gw mencoba menjelaskan ke mereka.
"Tempat? Maksudnya tempaat apaan?" Jawab beni menarik alis. Sedangkan farid keliatan diam tp mikir.
"Ndi tunjukan foto yg td kamu ambil ke mereka berdua" perintah gw ke andi mengeluarkan hp menunjukan yg di maksud ke beni dan farid. Dan gw menjelaskan lebih detail soal itu tempat ke mereka berdua
"Hah gila lu fad! Jd itu tempat pesugihan?? Di tengah hutan pula! Enggak ah kali ini" beni tidak setuju. Begitu pula farid satu pintu dengan beni.
Gw memaklumi kl mereka berdua ketakutan dan tidak mau ikut. Mereka berdua masih trauma kejadian lawang sewu dan apa yg mereka alami seminggu yg lalu. Tp gw, andi dan doni di landa rasa penasaran yg besar melangkah lebih lanjut. Terpaksa gw harus nyari pengganti beni dan farid untuk perjalanan kali ini.
Gw dan temen2 tidur bareng di kamar gw yg enggak begitu besar tp bejubel laki atau batangan semua. Untung kami normal

"Tuan jgn pergi kesana" sosok wanita berbicara di dalam mimpi gw ini tinggi bercahaya dan berdiri membelakangiku.
"Dimana ini? Siapa kamu?" Tanyaku heran. Karena gw sama sekali tidak mengenal tempat ini. Gw jg enggak kenal siapa dia. Tp entah knp gw sama sekali tidak merasakan ketakutan dengan sosok wanita yg berdiri membelakangiku.
"Saya hanya bisa memberikan peringatan kpd tuan. Saya tdk bisa melindungi tuan" dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya memberi peringatan, kemudian menghilang.
"Hhhaaaahhh..." Terbangun gw dari mimpi dalam kondisi keringat mengucur deras.
"Siapa dia? Kok panggil gw tuan??" Ucap gw sambil mengatur nafas.
Baru pertama kalinya gw merasa tidak ketakutan melihat salah satu makhluk ciptaan Tuhan yg tidak diharapkan dilihat oleh keturanan Adam. Walaupun yg gw lihat sebatas mimpi.
Mengenal dirinya
Liburan kenaikan kelas cukup membosankan bagi gw. Hidup di tengah lingkungan lokalisasi, tidak banyak yg bisa gw lakukan selain melihat transaksi lendir silih berganti. Gw cukup banyak mengenal penghuni di kanan kiri rumah. Salah satunya mbak desi yg sering gw kunjungi tempatnya hanya sekedar bertamu. Mbak desi ini perantauan dari jawa barat. Orangnya ramah dan tamu nya lumayan banyak.
"Lg enggak ada tamu mbak?" Sapa gw berdiri di depan rumahnya yg menjadi tempat mbak desi bekerja.
"Eh mas fadli, sini mas duduk. Temenin aku ngobrol" jawab mbak desi dengan logat sunda yg masih kental.
"Tumben nih mbak di rumah ini cuma ada mbak desi yg duduk di depan" ucap gw yg melihat sekitar tidak ada wanita selain mbak desi.
"Lg pada dpt tamu mas di dalam." Jawab mbak desi sambil menawarkan rokok ke gw.
"Aku lg males nerima tamu mas. Lagian masih sore" ucap mbak desi diikuti hembusan asap rokok
Mbak desi ini salah satu primadona di tempatnya. Wajah cantik, tubuh ideal, kulit putih bersih, membuat banyak orang yg berlalu lalang seringkali menawarnya. Tp kadang tidak cocoknya harga membuat para penjaja meninggalkannya, berharap di panggil kembali oleh mbak desi. Seperti penjual di pasar. Tp hal tersebut tidak berlaku bagi mbak desi. Yg diminta harga segitu ya segitu.
"Main sama aku yuk mas.." Ucapan mbak desi sambil menoleh tersenyum kearahku. Tentu yg dimaksud disini main kuda kudaan.
Rejeki anak gang 2 bersambut (kl gw sebut rejeki anak soleh rasanya kurang pas dan memang gak pantas gw sandang). Dapet rejeki kok ditolak? Kapan lagi gratisan! Diajak masuk lah gw ke tempat mbak desi. Gw disuruh bersihin diri dulu di kamar mandi. Setelah bersih, gw nyusul mbak desi masuk ke kamar.
"Lho kok ada dua orang?" Kata gw dalam hati begitu memasuki kamar mbak desi gw liat ada dua wanita di dalam kamar. Mbak desi posisi udah diatas ranjang. Sedangkan satunya berdiri di sebelah ranjang menatapku dengan senyuman jg.
"Tuan, tinggalkan kamar ini" perintahnya ke gw. Mulutnya memang tidak berbicara tp gw bisa mendengar dengan jelas di telinga ini.
Mbak desi heran melihat gw hanya berdiri mematung di daun pintu. Saat itu jg gw langsung keluar dari tempat mbak desi. Terdengar beberapa kali mbak desi memanggil namaku. Tp tidak gw hirau kan.
"Sialan! Mau dapet rejeki ada aja hambatannya" ngomong sama diri sendiri.
Tp kali ini gw bertatapan langsung dengan dirinya. Kecantikan dan kesempurnaan fisiknya melebih mbak desi. Bahkan bisa gw blg melebihi wanita mana pun. Sosok wanita yg memanggil gw "tuan" lumayan tinggi mungkin sekitar 170an, penampilannya menggunakan long dress warna krem, wajahnya tidak 'dingin', rambutnya berwarna putih tp bukan warna rambut putih uban, kulitnya putih bersih, mata nya sungguh indah, intinya wujud sangat sempurna yg gw pernah lihat. Senyumnya jg tidak bisa gw lupakan.
"Dia yg datang mimpiku? Secantik itu kah??" Gw berbicara pd diri sendiri di dalam kamar. Dan hampir terjatuh dari atas ranjang ketika gw mendapat jawaban.
"Benar tuan, kita berjumpa di mimpi. Aku mengikuti di saat tuan mengunjungiku. Aku bukan lah seperti mereka yg ingkar kepada Tuhan." Kali ini hanya suara yg gw dengar. Gw melihat di sekeliling kamar tidak ada sosoknya.
"Wes edan iki aku!" Gw lari keluar kamar merasa tidak percaya dengan apa yg barusan gw dengar.
Diubah oleh sikodir.kodir 25-10-2017 10:48
barbielin dan 4 lainnya memberi reputasi
5