- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.3K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#34
2. The Audition (Lanjutan)

Quote:
Akhirnya aku sampai pada not terakhir di lagu yg kumainkan di piano tersebut. Claudine telah kuselesaikan tanpa cela. Pak Aryo tersenyum, sedangkan Kak Fika bersorak sambil bertepuk tangan.
"Horeee, bagus Sa..., malah lebih bagus daripada Maksim yang mainin..."
"Ngeledek!"
"Haha, tapi bagus kok, aku suka...."
Aku sedikit salah tingkah.
"Bagus, Aksa..." Pak Aryo menambahkan, sambil sesekali mengotret-ngotret sesuatu di atas kertas yang ia pegang, lalu melihat ke arahku dan tersenyum.
"Terima kasih, pak..." Sahutku
"So wait for the result, ya, Sa..., sekitar satu jam deh, nanti pengumumannya di lantai 5 yaa..." Kak Fika menginformasikan
"Oke, kak. Makasih ya...., saya keluar dulu kalau gitu... Mari, Pak..." Pamitku pada Pak Aryo juga.
"Di ambang pintu ada kak Rival yang langsung menyalamiku. "Good job, Sa..."
"Thanks, Kak..."
Aku berjalan menuju kantin, untuk mengisi perutku yang tidak sempat kuisi untuk sarapan tadi.
"Horeee, bagus Sa..., malah lebih bagus daripada Maksim yang mainin..."
"Ngeledek!"
"Haha, tapi bagus kok, aku suka...."
Aku sedikit salah tingkah.
"Bagus, Aksa..." Pak Aryo menambahkan, sambil sesekali mengotret-ngotret sesuatu di atas kertas yang ia pegang, lalu melihat ke arahku dan tersenyum.
"Terima kasih, pak..." Sahutku
"So wait for the result, ya, Sa..., sekitar satu jam deh, nanti pengumumannya di lantai 5 yaa..." Kak Fika menginformasikan
"Oke, kak. Makasih ya...., saya keluar dulu kalau gitu... Mari, Pak..." Pamitku pada Pak Aryo juga.
"Di ambang pintu ada kak Rival yang langsung menyalamiku. "Good job, Sa..."
"Thanks, Kak..."
Aku berjalan menuju kantin, untuk mengisi perutku yang tidak sempat kuisi untuk sarapan tadi.
Quote:
The time has come. Salah satu ruangan di lantai 5 sudah terisi penuh oleh anggota baru dan beberapa pengurus choir. Sebuah mimbar telah disiapkan untuk ketua choir memberikan sambutan kepada para anggota baru, sekaligus mengumumkan pemenang audisi pianis.
Seseorang naik mimbar, yang aku tahu dia adalah Kak Vero; ketua choir kampusku.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Saya, ketua choir periode tahun ini, mewakili kepengurusan dan anggota, mengucapkan terimakasih banyak atas partisipasi kalian semua hingga proses rekrutmen dan audisi tahun ini berjalan dengan baik dan lancar.
Mungkin tidak akan panjang lebar, ya....
Perlu diketahui, jika tahun ini kita menerima lebih dari 30 orang pendaftar untuk mengisi posisi sebagai penyanyi. Dan semua telah dikelompokkan ke dalam jenis suaranya masing-masing pagi ini oleh Bapak Erdit sebagai vocal coach, terimakasih Pak Erdit.
Dan untuk audisi pianis, telah dilakukan pagi ini juga, dilaksanakan oleh Bapak Aryo sebagai music coach, dan hasilnya sudah ada di tangan saya.
Baiklah, untuk peserta audisi pianis, bisa maju ke depan?"
Sesaat setelah dia menyatakan pertanyaan tersebut, suasana ruangan mulai berubah riuh-rendah. Hampir semua orang di sana mulai menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, nampaknya mencari tahu siapa yang akan maju ke depan.
Ketiga peserta audisi sudah berada di depan. Dan Kak Vero mulai mengabsen kami. "Gavin Ardianto, yang mana Gavin?.
Seseorang berkacamata dengan postur tinggi kurus mengangkat tangan seraya berkata, "Saya, kak..."
"Oke, terimakasih, Gavin. Selanjutnya......, Aksara Abhiseva?"
"Saya" sahutku pendek.
"Well, terimakasih juga, Aksara. Dan yang terakhir, yang paling cantik...."
Sesaat setelah kata 'cantik' disebutkan, suasana ruangan berubah ramai, suitan dan deheman mulai membahana di sana. Kak Vero tidak menginterupsi, dia hanya tersenyum dan membiarkan suasana kembali kondusif dengan sendirinya.
"Angeline Ananda..." Kak Vero melanjutkan. Sosok perempuan berwajah oriental hampir mengangkat tangannya sampai Kak Vero mencegahnya. "Gak usah angkat tangan, Angel. Pesonamu nggak akan redup biarpun berada di antara dua makhluk berjanggut ini kok, saya tau kamu yang mana..." Godanya genit.
Suasana ruangan mulai ramai kembali. Suitan dan deheman membahan kembali. Angeline? Senyum-senyum salah tingkah, atau mungkin merasa tidak nyaman dengan suasana.
"Oke-oke cukuuup" Kali ini Kak Vero menginterupsi. "Langsung aja ya, di amplop ini udah ada nama pemenang audisi, kira-kira siapa yang menang?"
Puluhan orang di sana mulai meneriakkan nama-nama andalannya, kudengar pula namaku di sana. Lumayan lah. Dan suara-suara tersebut mulai didominasi oleh suara-suara ngebas para lelaki yang makin lama makin menggema. "ANGEL.... ANGEL.... ANGEL... ANGEL... ANGEL..." Tak heran.
"Sssssst...." Kak Vero menginterupsi untuk kedua kalinya. Dia membuka amplop tersebut, dan bersiap menyebutkan sebuah nama. "Pemenangnya adalaah, maaf yaa buat yang kecewaa, AKSARAAAA....!!! Selamat Aksara!"
"Huuuuuuuuu" kudengar teriakan kecewa dari para pendukung (atau mungkin penggoda) Angeline. Hihi biar saja, yang penting aku pemenangnya. Namun jujur, aku tidak terlalu berharap banyak dari audisi ini. Bukan pesimis, tapi aku hanya merasa kalau mereka berdua lebih layak mendapatkan posisi ini daripada aku yang belajar piano dengan telinga, tanpa mengerti notasi yang tertulis di atas kertas.
Yaa, tapi bagaimanapun juga ini keputusan penilai. Mungkin penilai punya pertimbangan lain.
Satu-satu orang di sana mulai meninggalkan ruangan seiring para pengurus choir yang mulai menyalamiku. Ada Kak Fika! Ya, dia pun menyalamiku dan berkali-kali mengucapkan selamat.
This is my day!
Seseorang naik mimbar, yang aku tahu dia adalah Kak Vero; ketua choir kampusku.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Saya, ketua choir periode tahun ini, mewakili kepengurusan dan anggota, mengucapkan terimakasih banyak atas partisipasi kalian semua hingga proses rekrutmen dan audisi tahun ini berjalan dengan baik dan lancar.
Mungkin tidak akan panjang lebar, ya....
Perlu diketahui, jika tahun ini kita menerima lebih dari 30 orang pendaftar untuk mengisi posisi sebagai penyanyi. Dan semua telah dikelompokkan ke dalam jenis suaranya masing-masing pagi ini oleh Bapak Erdit sebagai vocal coach, terimakasih Pak Erdit.
Dan untuk audisi pianis, telah dilakukan pagi ini juga, dilaksanakan oleh Bapak Aryo sebagai music coach, dan hasilnya sudah ada di tangan saya.
Baiklah, untuk peserta audisi pianis, bisa maju ke depan?"
Sesaat setelah dia menyatakan pertanyaan tersebut, suasana ruangan mulai berubah riuh-rendah. Hampir semua orang di sana mulai menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, nampaknya mencari tahu siapa yang akan maju ke depan.
Ketiga peserta audisi sudah berada di depan. Dan Kak Vero mulai mengabsen kami. "Gavin Ardianto, yang mana Gavin?.
Seseorang berkacamata dengan postur tinggi kurus mengangkat tangan seraya berkata, "Saya, kak..."
"Oke, terimakasih, Gavin. Selanjutnya......, Aksara Abhiseva?"
"Saya" sahutku pendek.
"Well, terimakasih juga, Aksara. Dan yang terakhir, yang paling cantik...."
Sesaat setelah kata 'cantik' disebutkan, suasana ruangan berubah ramai, suitan dan deheman mulai membahana di sana. Kak Vero tidak menginterupsi, dia hanya tersenyum dan membiarkan suasana kembali kondusif dengan sendirinya.
"Angeline Ananda..." Kak Vero melanjutkan. Sosok perempuan berwajah oriental hampir mengangkat tangannya sampai Kak Vero mencegahnya. "Gak usah angkat tangan, Angel. Pesonamu nggak akan redup biarpun berada di antara dua makhluk berjanggut ini kok, saya tau kamu yang mana..." Godanya genit.
Suasana ruangan mulai ramai kembali. Suitan dan deheman membahan kembali. Angeline? Senyum-senyum salah tingkah, atau mungkin merasa tidak nyaman dengan suasana.
"Oke-oke cukuuup" Kali ini Kak Vero menginterupsi. "Langsung aja ya, di amplop ini udah ada nama pemenang audisi, kira-kira siapa yang menang?"
Puluhan orang di sana mulai meneriakkan nama-nama andalannya, kudengar pula namaku di sana. Lumayan lah. Dan suara-suara tersebut mulai didominasi oleh suara-suara ngebas para lelaki yang makin lama makin menggema. "ANGEL.... ANGEL.... ANGEL... ANGEL... ANGEL..." Tak heran.
"Sssssst...." Kak Vero menginterupsi untuk kedua kalinya. Dia membuka amplop tersebut, dan bersiap menyebutkan sebuah nama. "Pemenangnya adalaah, maaf yaa buat yang kecewaa, AKSARAAAA....!!! Selamat Aksara!"
"Huuuuuuuuu" kudengar teriakan kecewa dari para pendukung (atau mungkin penggoda) Angeline. Hihi biar saja, yang penting aku pemenangnya. Namun jujur, aku tidak terlalu berharap banyak dari audisi ini. Bukan pesimis, tapi aku hanya merasa kalau mereka berdua lebih layak mendapatkan posisi ini daripada aku yang belajar piano dengan telinga, tanpa mengerti notasi yang tertulis di atas kertas.
Yaa, tapi bagaimanapun juga ini keputusan penilai. Mungkin penilai punya pertimbangan lain.
Satu-satu orang di sana mulai meninggalkan ruangan seiring para pengurus choir yang mulai menyalamiku. Ada Kak Fika! Ya, dia pun menyalamiku dan berkali-kali mengucapkan selamat.
This is my day!
Quote:
Ketika aku hendak keluar kampus, kulihat kak Fika sedang berdiri sambil sesekali melirik jam tangannya dan menyebar pandangannya ke sekitar.
"Kak Fika…" sapaku
"Hei Sa!" sahutnya ramah. Ah cantik sekali dia, di luar ruangan terlihat jauh lebih cantik daripada di ruang seni dan ruang pengumuman tadi.
"Gak pulang, kak?" tanyaku berbasa-basi.
"Mau kok, Sa... Nunggu yang jemput"
"Pacarnya?"
Dia cuma senyum.
Kami sempat mengobrol beberapa saat sampai akhirnya sebuah mobil sedan berwarna biru metalik menepi di depan kampus dan membunyikan klakson.
"Itu jemputanku, Sa..." Kak Fika memotong obrolan kami.
"Oh iya kak, langsung pulang ya? Hati-hati kak..."
"Okee, skali lagi congrats ya, met gabung di choir, do your best" katanya sambil mengangkat tangannya, tanda mengajak toast"
Aku pun menyambutnya sambil tersenyum, tepukan tangan kami bertemu di udara. "Thanks kak" ucapku.
Orang di dalam mobil tadi membunyikan kembali klaksonnya. Ya Tuhan tidak sabaran sekali.
"Udah dipanggil lagi tuh kak..." kataku mencoba menutup pertemuan kami.
"IYAA BENTAAAAR" teriak kak Fika kepada orang di dalam mobil tersebut. "Oke, Sa. Aku pulang ya..., satu lagi, panggil aku Fika aja yah, ga usah pake kakak, kagok..."
"Oh iya oke" jawabku menyetujui permintaannya.
"Bye Aksa..." pamitnya sambil berjalan menuju mobil.
Aku cuma manggut. Mau jawab 'Bye Fika' tapi masih terasa kagok. Oke mulai sekarang kita panggil dia Fika yah....
Aku lalu berjalan menuju parkiran sambil merasakan kecamuk dalam pikiranku yg mencoba menerka seperti apa pacar Fika sebenarnya. Tinggi kah? Atau pendek? Kurus? Gemuk? Ganteng? Jelek? Putih? Hitam? Ah, tapi bagaimanapun dia, tetap saja dia orang kaya. Mobilnya aja gagah begitu. Penampilan fisik seperti apapun akan kalah dengan tebalnya isi dompet dan penuhnya isi rekening.
Tapi untuk apa juga aku peduli?
Yaaa sayang aja sih kalo perempuan secantik Fika dapet pacar yang biasa aja.
Pikiran ku terus berkecamuk hingga aku sampai di parkiran dan sadar kalau mobilku tidak di sana. Sial, aku lupa. Aku pun memesan ojek online lagi untuk menjemput si hitam.
"Kak Fika…" sapaku
"Hei Sa!" sahutnya ramah. Ah cantik sekali dia, di luar ruangan terlihat jauh lebih cantik daripada di ruang seni dan ruang pengumuman tadi.
"Gak pulang, kak?" tanyaku berbasa-basi.
"Mau kok, Sa... Nunggu yang jemput"
"Pacarnya?"
Dia cuma senyum.
Kami sempat mengobrol beberapa saat sampai akhirnya sebuah mobil sedan berwarna biru metalik menepi di depan kampus dan membunyikan klakson.
"Itu jemputanku, Sa..." Kak Fika memotong obrolan kami.
"Oh iya kak, langsung pulang ya? Hati-hati kak..."
"Okee, skali lagi congrats ya, met gabung di choir, do your best" katanya sambil mengangkat tangannya, tanda mengajak toast"
Aku pun menyambutnya sambil tersenyum, tepukan tangan kami bertemu di udara. "Thanks kak" ucapku.
Orang di dalam mobil tadi membunyikan kembali klaksonnya. Ya Tuhan tidak sabaran sekali.
"Udah dipanggil lagi tuh kak..." kataku mencoba menutup pertemuan kami.
"IYAA BENTAAAAR" teriak kak Fika kepada orang di dalam mobil tersebut. "Oke, Sa. Aku pulang ya..., satu lagi, panggil aku Fika aja yah, ga usah pake kakak, kagok..."
"Oh iya oke" jawabku menyetujui permintaannya.
"Bye Aksa..." pamitnya sambil berjalan menuju mobil.
Aku cuma manggut. Mau jawab 'Bye Fika' tapi masih terasa kagok. Oke mulai sekarang kita panggil dia Fika yah....
Aku lalu berjalan menuju parkiran sambil merasakan kecamuk dalam pikiranku yg mencoba menerka seperti apa pacar Fika sebenarnya. Tinggi kah? Atau pendek? Kurus? Gemuk? Ganteng? Jelek? Putih? Hitam? Ah, tapi bagaimanapun dia, tetap saja dia orang kaya. Mobilnya aja gagah begitu. Penampilan fisik seperti apapun akan kalah dengan tebalnya isi dompet dan penuhnya isi rekening.
Tapi untuk apa juga aku peduli?
Yaaa sayang aja sih kalo perempuan secantik Fika dapet pacar yang biasa aja.
Pikiran ku terus berkecamuk hingga aku sampai di parkiran dan sadar kalau mobilku tidak di sana. Sial, aku lupa. Aku pun memesan ojek online lagi untuk menjemput si hitam.
Quote:
Aku tiba di rumah dengan sisa-sisa tenagaku hari ini. Rasanya lelah sekali. Ibuku belum pulang nampaknya. Oh iya, aku belum memberitahumu, ibuku sekarang berusia 48 tahun, dan beliau masih bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan advertising di kota ini. Tidak memiliki jabatan yang tinggi, beliau hanya setia mencurahkan tenaga dan pikirannya di perusahaan tersebut agar dapur kami tetap ngebul sepeninggal ayahku. Doakan aku kawan, semoga aku bisa segera menyelesaikan kuliahku dan menukar posisiku dengan beliau. Biar beliau di rumah saja. Sudah terlalu banyak pengorbanannya untukku.
Aku jatuhkan tubuhku di atas sofa. Kurebahkan tubuhku di sana, menikmati angin yang berhembus dari sela-sela jendela yang sedikit kubuka tadi. Kesadaranku sedikit berkurang, larut dalam kenyamanan yang membuaiku, pelan-pelan pikiranku terhempas jauh ke alam bawah sadarku, masih sedikit sadar kurasakan kalau aku mulai tertidur. Nikmat sekali.
Aku jatuhkan tubuhku di atas sofa. Kurebahkan tubuhku di sana, menikmati angin yang berhembus dari sela-sela jendela yang sedikit kubuka tadi. Kesadaranku sedikit berkurang, larut dalam kenyamanan yang membuaiku, pelan-pelan pikiranku terhempas jauh ke alam bawah sadarku, masih sedikit sadar kurasakan kalau aku mulai tertidur. Nikmat sekali.
Quote:
Tak terasa sudah berapa lama aku tertidur, hingga sayup terdengar suara ibuku menyusup masuk ke dalam kepalaku...
"Assalamu'alaikum..."
Aku perlahan terbangun dan mulai merubah posisiku menjadi duduk di sofa. "Waalaikumsalam" Jawabku serak. Sisa suaraku masih tertinggal di alam mimpi sepertinya.
"Eh, Anak bunda udah pulang, jam berapa kamu pulang, nak? Kok tidurnya di sofa? Udah makan belum? Udah mandi? Udah sholat? Gimana audisinya?
"Bunda nanya apa interogasi, bun? Keroyokan amat pertanyaannya" tanyaku sekenanya dengan mata yang masih terasa lengket.
Beliau lalu duduk di sampingku. "Gimana audisinya?" Beliau hanya mengulang pertanyaan terakhir dari sejumlah pertanyaan yang beliau lontarkan tadi.
"Alhamdulillah lolos, bun..." jawabku sambil memeluknya.
"Hebaat, selamat yaa sayang. Tapi, kamu audisi apa sih?"
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya datar.
"Bunda kan gak tau, orang tadi pagi kamu cuman bilang kamu mau audisi, hehe..." lanjutnya
"Pianis choir kampus, bun..."
"Oh gituu, ya udah selamat lagi yaa" Kata beliau sambil mengacak-ngacak rambutku yang memang sudah kusut. "Mandi dulu sana, habis itu kita makan"
"Iya, bunda..." Jawabku sambil beranjak dari sofa.
Empat-lima langkahku menjauh darinya, beliau memanggilku lagi. "Aksa" panggilnya.
"Iya, bun?"
"Maafin bunda, ya..."
"Loh. Buat?"
"Bunda belum bisa beliin kamu piano, padahal bunda dan ayah dari dulu udah janji mau beliin"
Aku pun menghampirinya lagi. "Bunda ga usah banyak pikiran, ma. Aksa ga nuntut pengen punya piano kok. Lagian piano itu kan nggak murah. Toh gak ada piano pun Aksa bisa tetep ngembangin bakat Aksa kan? Malah hari ini lolos audisi kan? Hehe..."
Ibuku tidak berkata apapun. Hanya kilau kecil yang kulihat di sudut matanya. Berkaca-kaca. Aku kembali memeluknya.
"Bunda udah ngorbanin waktu, tenaga, dan pikiran buat pendidikan Aksa, itu jauh lebih berharga daripada cuman sekedar piano, bun..., Bunda sehat selalu ya..."
Ibuku memelukku lebih erat.
"Assalamu'alaikum..."
Aku perlahan terbangun dan mulai merubah posisiku menjadi duduk di sofa. "Waalaikumsalam" Jawabku serak. Sisa suaraku masih tertinggal di alam mimpi sepertinya.
"Eh, Anak bunda udah pulang, jam berapa kamu pulang, nak? Kok tidurnya di sofa? Udah makan belum? Udah mandi? Udah sholat? Gimana audisinya?
"Bunda nanya apa interogasi, bun? Keroyokan amat pertanyaannya" tanyaku sekenanya dengan mata yang masih terasa lengket.
Beliau lalu duduk di sampingku. "Gimana audisinya?" Beliau hanya mengulang pertanyaan terakhir dari sejumlah pertanyaan yang beliau lontarkan tadi.
"Alhamdulillah lolos, bun..." jawabku sambil memeluknya.
"Hebaat, selamat yaa sayang. Tapi, kamu audisi apa sih?"
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya datar.
"Bunda kan gak tau, orang tadi pagi kamu cuman bilang kamu mau audisi, hehe..." lanjutnya
"Pianis choir kampus, bun..."
"Oh gituu, ya udah selamat lagi yaa" Kata beliau sambil mengacak-ngacak rambutku yang memang sudah kusut. "Mandi dulu sana, habis itu kita makan"
"Iya, bunda..." Jawabku sambil beranjak dari sofa.
Empat-lima langkahku menjauh darinya, beliau memanggilku lagi. "Aksa" panggilnya.
"Iya, bun?"
"Maafin bunda, ya..."
"Loh. Buat?"
"Bunda belum bisa beliin kamu piano, padahal bunda dan ayah dari dulu udah janji mau beliin"
Aku pun menghampirinya lagi. "Bunda ga usah banyak pikiran, ma. Aksa ga nuntut pengen punya piano kok. Lagian piano itu kan nggak murah. Toh gak ada piano pun Aksa bisa tetep ngembangin bakat Aksa kan? Malah hari ini lolos audisi kan? Hehe..."
Ibuku tidak berkata apapun. Hanya kilau kecil yang kulihat di sudut matanya. Berkaca-kaca. Aku kembali memeluknya.
"Bunda udah ngorbanin waktu, tenaga, dan pikiran buat pendidikan Aksa, itu jauh lebih berharga daripada cuman sekedar piano, bun..., Bunda sehat selalu ya..."
Ibuku memelukku lebih erat.
Quote:
Kamu mungkin bertanya-tanya. Aku tidak punya piano, lalu bagaimana aku bisa melatih permainanku? Aku punya keyboard. Sebuah keyboard level standar yang sudah kumiliki sejak duduk di bangku SD. Sebuah keyboard standar tanpa fitur touch dan sustain, sebuah keyboard yang kini penampilannya sudah sangat butut, Bahkan beberapa tuts nya ada yang pernah patah dan kuperbaiki dengan lem super. Tapi sekali lagi, musik itu energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Sebagus dan semahal apapun alat musikmu, kalau kamu tidak bisa memberikan energi di dalamnya, ia hanya sebuah alat penghasil suara yang tak bernyawa. Musik itu soal rasa.
Apakah itu berarti aku tidak mau piano? Oh, tidak seperti itu, kawan. Tetap saja aku ingin punya. Tapi jika kondisi belum memungkinkan, untuk apa meratap, kan? Nikmati saja musikmu.
Oke, hari ini aku tutup dengan segenggam rasa bahagia akan keberhasilan audisiku; dengan rasa bangga atas anugerah berupa sosok ibu yang kuat, sabar, dan senantiasa menyayangiku; juga dengan rasa berbunga atas nyamannya melihat sosok Fika di mataku.
Hidup memang tidak pernah mudah, tapi Tuhan selalu menyisipkan berbagai macam kebahagiaan di dalamnya. Dan hidup hanyalah tentang bagaimana kita menyikapinya.
Apakah itu berarti aku tidak mau piano? Oh, tidak seperti itu, kawan. Tetap saja aku ingin punya. Tapi jika kondisi belum memungkinkan, untuk apa meratap, kan? Nikmati saja musikmu.
Oke, hari ini aku tutup dengan segenggam rasa bahagia akan keberhasilan audisiku; dengan rasa bangga atas anugerah berupa sosok ibu yang kuat, sabar, dan senantiasa menyayangiku; juga dengan rasa berbunga atas nyamannya melihat sosok Fika di mataku.
Hidup memang tidak pernah mudah, tapi Tuhan selalu menyisipkan berbagai macam kebahagiaan di dalamnya. Dan hidup hanyalah tentang bagaimana kita menyikapinya.
Quote:
Next : 3. Yang Terlewatkan
Diubah oleh sofanzani 06-11-2024 13:38
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup