- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
jenggalasunyi dan 127 lainnya memberi reputasi
124
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#530
PART 3
"Kamu enggak setuju dengan saran Papahnya Luna ?", tanya Ibu gua.
"Bu... Apa yang dia sarankan itu terdengar seperti ingin mengakuisisi restoran ini... Suara dia seberapa kuat Bu untuk mengatur hal-hal sampai ke persoalan siapa dan siapa yang harus memegang cabang a, b dan c ?".
Ibu gua hanya menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan berjalan hingga duduk disamping gua.
"Za... Bukan Ibu membela Papahnya Luna, tapi sedikit ucapan dan sarannya ada benarnya, agar kamu bisa memegang usaha ini sendiri, toh gak selamanya Ibu berada disinikan...?", ucapannya kali ini sudah berbeda, Beliau bicara sebagai Ibu kepada anaknya, bukan lagi sebagai atasan.
"Kita liat tiga bulan kedepan aja Bu... Aku enggak tau bisa handle semuanya apa enggak, sekarang lebih baik aku fokus di Jakarta dulu ya... Maafin aku kalo udah bersikap gak sopan tadi", jawab gua melunak.
Ibu gua tersenyum lalu mengelus lembut kepala ini dan mengangguk. "Iya... Ibu percaya sama kamu pasti bisa...".
...
Selama Fitri cuti untuk menikah, Rini dan Giovanna yang sibuk mengerjakan pekerjaan atasannya itu. Mereka berdua terkadang sampai harus lembur hingga lewat pukul tujuh malam. Memang tidak sampai setiap hari, tapi beberapa kali mereka pulang larut. Kalau sudah begitu, biasanya gua ikut lembur, ada beberapa hal yang bisa gua petik. Pertama gua jadi mengerti bagaimana sebuah divisi accounting bekerja, walaupun bukan basic gua dalam dunia ekonomi dan akuntansi, tapi bekerja bersama Rini dan Giovanna sangatlah membuat gua beruntung, ya bayangkan aja, coba ilmu akuntansi yang seharusnya gua pelajari di SMA atau minimal harus kuliah lagi tapi sekarang gua dapatkan dengan cuma-cuma, dan tentu saja ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan dalam dunia kerja yang nyata. How lucky I am. Kedua, gua jadi mengerti dan merasakan bagaimana pressure yang dirasakan seorang karyawan, yang dituntut menyelesaikan pekerjaannya setiap akhir bulan. Dari sanalah gua bisa lebih menghargai bagaimana kinerja seseorang itu amatlah penting, belum lagi loyalitas mereka terhadap restoran ini.
Dan seperti hari ini, dimana setiap akhir bulan pekerjaan yang bersifat administratif harus selesai dengan segera. Hari ini divisi accounting sedang lembur, otomatis seperti biasanya, gua pun ikut menemani dua wanita di dalam ruang kerja mereka untuk membantu sambil menimba ilmu dari kedua wanita tersebut.
"Ah kok gak sinkron ya Rin, total jumlahnya sama data dari kasir...", keluh gua untuk kesekian kalinya.
Rini tersenyum lalu menggeser kursi beroda dari sisi kanan gua, kemudian dia melihat ke layar komputer yang berada dihadapan gua.
"Hmm.. Udah bener Mas caranya, coba sekarang dicek lagi data jumlah yang dari kasir, kalo jumlahnya masih ada selisih, mau gak mau harus minta data manualnya dan disamain lagi...", jawab Rini dari samping gua itu.
Gua menghela nafas lalu menyandarkan tubuh ke bahu kursi, memijat-mijat kening dengan dua jari sambil terpejam.
"Mas.. Mau aku buatin teh ? Mmm.. Atau kopi mungkin ?", seorang gadis cantik yang menyadarkan gua sudah berdiri di sisi kiri.
"Eh, ehm.. Boleh Ann.. Boleh, kopi aja deh ya...", jawab gua setelah melirik kepadanya.
"Mba Rini mau teh atau kopi ? Biar sekalian Mba...", tawar Giovanna kepada rekan kerjanya itu.
"Aku orange jus deh Ann, telpon bagian kitchen aja ya, sekalian sama chicken calamari buat camilan kita... Kerjaan masih banyak soalnya", jawab Rini.
"Orange juice dan chicken calamari... Dua puluh lima ribu... Tunai atau debet Mba Riniii...?", canda gua kepada Rini.
"Hahaha.. Bisa aja Mas Eza... Masukin tagihan pegawai aja deh, hahaha..", jawabnya penuh tawa.
"Eh serius pesenan Mba Rini masukin tagihan pegawai ?", tanya Giovanna lagi.
"Hahaha enggak Anna.. Aku cuma becanda kok, oh ya.. Setiap karyawan disini punya jatah kok untuk nikmatin menu restoran sampai seratus ribu rupiah maksimal setiap bulan, tentunya diluar jatah makan siang yang gratis dari kantin karyawan...", jawab gua memberitahukan peraturan yang mungkin Giovanna lupa itu.
"Oooh kirain beneran Mas.. Hehehe.. Yaudah aku ke pantry dulu kalo gitu ya..".
Gua dan Rini tersenyum kepada gadis cantik itu. Kemudian dia berjalan keluar ruangan.
"Rin..".
"Ya Mas ?", Rini menengok kepada gua.
"Kamu udah izin sama suami mu kan harus lembur ?".
"Udah Mas, aku udah bbm dia sebelum maghrib tadi...".
"Oh yaudah baguslah.. Eh aku keluar dulu ya sebentar, mau ngerokok", gua memundurkan kursi lalu berdiri.
"Okey, Mas...".
Gua berjalan keluar ruangan lalu hendak menuruni tangga, ketika melewati pantry yang pintunya terbuka, gua kembali melihat Giovanna yang sedang membelakangi gua.
"Ann..".
Giovanna menengok. "Eh Mas, ada apa ?".
"Aku kebawah dulu ya, mau ngerokok...".
"Oh okey.. Eh sebentar Mas.. Ini kopinya udah jadi, mau aku taruh di ruangan atau dibawa ?".
"Aku bawa aja deh sini Ann..".
Kemudian Giovanna berjalan menghampiri gua sambil memberikan secangkir kopi hitam.
"Makasih ya Ann..", ucap gua setelah menerima secangkir kopi itu.
"Sama-sama Mas, aku balik ke ruangan lagi ya, mau nerusin kerjaan sama Mba Rini..".
"Enggak mau nemenin aku aja ?".
Giovanna sedikit terkejut. "Eh ? Mmm.. Mas mau aku temenin keluar ?, tapi aku gak enak sama Mba Rini...", jawabnya ragu.
"Hahaha.. Enggaklah, aku bercanda kok, iyalah masa Rini sendirian di ruangan.. Hehehe.. Oh ya jangan lupa pesenan Rini tadi ke kitchen... Kalo lupa, meja bisa kebalik loch sama dia..".
"Hah ? Serius Mas ? Mba Rini galak gitu ? Tapi aku liat dia sabar kok...", Giovanna mulai khawatir.
"Hahaha kamu tuh, bercanda aku Ann.. Yaudah aku kebawah dulu ya...".
"Iiih Mas Eza ma jail...".
Gua cukup terkejut ketika dia mengatakan hal diatas sambil mencubit lengan kiri gua. Tapi setelah itu gua pun meninggalkannya ketika dia masih tertawa pelan.
Sekarang gua sedang duduk di meja restoran dekat parkiran mobil. Menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok yang telah gua bakar. Semuanya cukup membuat rileks karena apa yang sedang gua nikmati ini di cuaca yang sangat pas. Apalagi kalau bukan hujan di malam hari. Gua membuka aplikasi bbm untuk membalas beberapa chatting dari seorang wanita. Kemudian tersenyum ketika percakapan di chatt tersebut diakhiri dengan sebuah kalimat do'a untuk gua. Aamiin, ucap gua dalam hati.
Gua baru saja hendak membakar batang rokok kedua ketika sebuah suara seorang gadis belia terdengar menyapa.
"Mas Eza..".
Gua menoleh ke kiri. "Loch Anna ? Rini ?".
"Kerjaan kita udah beres Mas, soal laporan keuangan bulan ini juga udah diberesin sama ini niiih...", ucap Rini sambil menyenggol lengan Giovanna yang ada disebelahnya.
Giovanna tersenyum sambil menunduk.
"Loch kok ? Itu kerjaan aku tadi Ann.. Kenapa kamu yang selesain ?".
"Maaf Mas, tapi biar cepet selesai aja, kasian Mas Eza pasti juga punya kerjaan lainkan...", jawab Giovanna.
"Tapi kalo Mas Eza masih mau kerja sih, aku masih ada beberapa laporan untuk pusat yang belum rampung, yaa luma..", timpal Rini.
"Wooo makasih Rin, makasih... Kamu aja yang selesain kalo yang itu", potong gua.
Rini tertawa yang diikuti oleh Giovanna.
Lalu tidak lama seorang lelaki memasuki pelataran depan resto dengan sebuah payung.
Seorang suami yang menjemput sang istri, setelah mereka berdua pamit pulang, tinggallah Gua dan Giovanna di sini.
"Mas...".
"Ya Ann ?".
"Mmm.. Aku gak bawa kendaraan.. Kalo boleh, aku ikut sampai stasiun aja...".
Gua berdiri lalu memasukan blackberry kedalam saku celana. "Tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu keatas..", jawab gua sambil tersenyum.
...
Jalan raya ibu kota begitu padat, apalagi malam ini adalah malam minggu, ditambah dengan cuaca yang berbeda, hawa dingin karena hujan yang belum berhenti sedari maghrib membuat kendaraan roda empat stuck on fakin' high way...
Mobil yang Gua kemudikan masih jauh dari pintu tol keluar, suara musik yang terdengar dari audio mobil cukup menyamarkan bunyi deras hujan diluar sana. Seorang gadis belia nan cantik duduk tepat disamping gua. Dia sedang memainkan blackberry-nya, mungkin mengabari sang kakak atau orangtuanya.
"Ann..".
"Ya Mas ?", dia menoleh kepada gua disisi kanan.
"Kamu laper gak ?".
Entah kebetulan atau memang kode alam, bunyi 'keruyuk'yang terdengar hingga mengalahkan suara musik dalam mobil ini langsung membuat gua tertawa pelan, sebaliknya dengan Giovanna, wajah putih nan imutnya itu berubah seketika, merona merah menahan malu.
"Okey...okey... Kita makan nasi goreng ya.. Pffftt...", gua berusaha menahan tawa.
"Masss... Aaaahh.. Aku maluu iih..", ucapnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya yang lentik itu.
"Normal itu Ann.. Laper setelah selesai bekerja dan ditambah cuaca yang dingin.. Gak apa-apa kok...", gua mencoba memahami,
"Tapi yaa... Kodenya boleh juga, langsung dijawab sama cacing di dalam perut gituu, hahahaha...", akhirnya gua tidak kuat untuk tidak meledeknya.
"Aaah Mas Ezaa ma.. Aku gak cacingan iih.. Nyebelin kamu maa...", kali ini dia mencubit lengan kiri gua dengan mode duck face. ala remaja tentunya.
Ann... I count it.. That's two, rite ?. ucap gua dalam hati.
"Bu... Apa yang dia sarankan itu terdengar seperti ingin mengakuisisi restoran ini... Suara dia seberapa kuat Bu untuk mengatur hal-hal sampai ke persoalan siapa dan siapa yang harus memegang cabang a, b dan c ?".
Ibu gua hanya menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan berjalan hingga duduk disamping gua.
"Za... Bukan Ibu membela Papahnya Luna, tapi sedikit ucapan dan sarannya ada benarnya, agar kamu bisa memegang usaha ini sendiri, toh gak selamanya Ibu berada disinikan...?", ucapannya kali ini sudah berbeda, Beliau bicara sebagai Ibu kepada anaknya, bukan lagi sebagai atasan.
"Kita liat tiga bulan kedepan aja Bu... Aku enggak tau bisa handle semuanya apa enggak, sekarang lebih baik aku fokus di Jakarta dulu ya... Maafin aku kalo udah bersikap gak sopan tadi", jawab gua melunak.
Ibu gua tersenyum lalu mengelus lembut kepala ini dan mengangguk. "Iya... Ibu percaya sama kamu pasti bisa...".
...
Selama Fitri cuti untuk menikah, Rini dan Giovanna yang sibuk mengerjakan pekerjaan atasannya itu. Mereka berdua terkadang sampai harus lembur hingga lewat pukul tujuh malam. Memang tidak sampai setiap hari, tapi beberapa kali mereka pulang larut. Kalau sudah begitu, biasanya gua ikut lembur, ada beberapa hal yang bisa gua petik. Pertama gua jadi mengerti bagaimana sebuah divisi accounting bekerja, walaupun bukan basic gua dalam dunia ekonomi dan akuntansi, tapi bekerja bersama Rini dan Giovanna sangatlah membuat gua beruntung, ya bayangkan aja, coba ilmu akuntansi yang seharusnya gua pelajari di SMA atau minimal harus kuliah lagi tapi sekarang gua dapatkan dengan cuma-cuma, dan tentu saja ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan dalam dunia kerja yang nyata. How lucky I am. Kedua, gua jadi mengerti dan merasakan bagaimana pressure yang dirasakan seorang karyawan, yang dituntut menyelesaikan pekerjaannya setiap akhir bulan. Dari sanalah gua bisa lebih menghargai bagaimana kinerja seseorang itu amatlah penting, belum lagi loyalitas mereka terhadap restoran ini.
Dan seperti hari ini, dimana setiap akhir bulan pekerjaan yang bersifat administratif harus selesai dengan segera. Hari ini divisi accounting sedang lembur, otomatis seperti biasanya, gua pun ikut menemani dua wanita di dalam ruang kerja mereka untuk membantu sambil menimba ilmu dari kedua wanita tersebut.
"Ah kok gak sinkron ya Rin, total jumlahnya sama data dari kasir...", keluh gua untuk kesekian kalinya.
Rini tersenyum lalu menggeser kursi beroda dari sisi kanan gua, kemudian dia melihat ke layar komputer yang berada dihadapan gua.
"Hmm.. Udah bener Mas caranya, coba sekarang dicek lagi data jumlah yang dari kasir, kalo jumlahnya masih ada selisih, mau gak mau harus minta data manualnya dan disamain lagi...", jawab Rini dari samping gua itu.
Gua menghela nafas lalu menyandarkan tubuh ke bahu kursi, memijat-mijat kening dengan dua jari sambil terpejam.
"Mas.. Mau aku buatin teh ? Mmm.. Atau kopi mungkin ?", seorang gadis cantik yang menyadarkan gua sudah berdiri di sisi kiri.
"Eh, ehm.. Boleh Ann.. Boleh, kopi aja deh ya...", jawab gua setelah melirik kepadanya.
"Mba Rini mau teh atau kopi ? Biar sekalian Mba...", tawar Giovanna kepada rekan kerjanya itu.
"Aku orange jus deh Ann, telpon bagian kitchen aja ya, sekalian sama chicken calamari buat camilan kita... Kerjaan masih banyak soalnya", jawab Rini.
"Orange juice dan chicken calamari... Dua puluh lima ribu... Tunai atau debet Mba Riniii...?", canda gua kepada Rini.
"Hahaha.. Bisa aja Mas Eza... Masukin tagihan pegawai aja deh, hahaha..", jawabnya penuh tawa.
"Eh serius pesenan Mba Rini masukin tagihan pegawai ?", tanya Giovanna lagi.
"Hahaha enggak Anna.. Aku cuma becanda kok, oh ya.. Setiap karyawan disini punya jatah kok untuk nikmatin menu restoran sampai seratus ribu rupiah maksimal setiap bulan, tentunya diluar jatah makan siang yang gratis dari kantin karyawan...", jawab gua memberitahukan peraturan yang mungkin Giovanna lupa itu.
"Oooh kirain beneran Mas.. Hehehe.. Yaudah aku ke pantry dulu kalo gitu ya..".
Gua dan Rini tersenyum kepada gadis cantik itu. Kemudian dia berjalan keluar ruangan.
"Rin..".
"Ya Mas ?", Rini menengok kepada gua.
"Kamu udah izin sama suami mu kan harus lembur ?".
"Udah Mas, aku udah bbm dia sebelum maghrib tadi...".
"Oh yaudah baguslah.. Eh aku keluar dulu ya sebentar, mau ngerokok", gua memundurkan kursi lalu berdiri.
"Okey, Mas...".
Gua berjalan keluar ruangan lalu hendak menuruni tangga, ketika melewati pantry yang pintunya terbuka, gua kembali melihat Giovanna yang sedang membelakangi gua.
"Ann..".
Giovanna menengok. "Eh Mas, ada apa ?".
"Aku kebawah dulu ya, mau ngerokok...".
"Oh okey.. Eh sebentar Mas.. Ini kopinya udah jadi, mau aku taruh di ruangan atau dibawa ?".
"Aku bawa aja deh sini Ann..".
Kemudian Giovanna berjalan menghampiri gua sambil memberikan secangkir kopi hitam.
"Makasih ya Ann..", ucap gua setelah menerima secangkir kopi itu.
"Sama-sama Mas, aku balik ke ruangan lagi ya, mau nerusin kerjaan sama Mba Rini..".
"Enggak mau nemenin aku aja ?".
Giovanna sedikit terkejut. "Eh ? Mmm.. Mas mau aku temenin keluar ?, tapi aku gak enak sama Mba Rini...", jawabnya ragu.
"Hahaha.. Enggaklah, aku bercanda kok, iyalah masa Rini sendirian di ruangan.. Hehehe.. Oh ya jangan lupa pesenan Rini tadi ke kitchen... Kalo lupa, meja bisa kebalik loch sama dia..".
"Hah ? Serius Mas ? Mba Rini galak gitu ? Tapi aku liat dia sabar kok...", Giovanna mulai khawatir.
"Hahaha kamu tuh, bercanda aku Ann.. Yaudah aku kebawah dulu ya...".
"Iiih Mas Eza ma jail...".
Gua cukup terkejut ketika dia mengatakan hal diatas sambil mencubit lengan kiri gua. Tapi setelah itu gua pun meninggalkannya ketika dia masih tertawa pelan.
Sekarang gua sedang duduk di meja restoran dekat parkiran mobil. Menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok yang telah gua bakar. Semuanya cukup membuat rileks karena apa yang sedang gua nikmati ini di cuaca yang sangat pas. Apalagi kalau bukan hujan di malam hari. Gua membuka aplikasi bbm untuk membalas beberapa chatting dari seorang wanita. Kemudian tersenyum ketika percakapan di chatt tersebut diakhiri dengan sebuah kalimat do'a untuk gua. Aamiin, ucap gua dalam hati.
Gua baru saja hendak membakar batang rokok kedua ketika sebuah suara seorang gadis belia terdengar menyapa.
"Mas Eza..".
Gua menoleh ke kiri. "Loch Anna ? Rini ?".
"Kerjaan kita udah beres Mas, soal laporan keuangan bulan ini juga udah diberesin sama ini niiih...", ucap Rini sambil menyenggol lengan Giovanna yang ada disebelahnya.
Giovanna tersenyum sambil menunduk.
"Loch kok ? Itu kerjaan aku tadi Ann.. Kenapa kamu yang selesain ?".
"Maaf Mas, tapi biar cepet selesai aja, kasian Mas Eza pasti juga punya kerjaan lainkan...", jawab Giovanna.
"Tapi kalo Mas Eza masih mau kerja sih, aku masih ada beberapa laporan untuk pusat yang belum rampung, yaa luma..", timpal Rini.
"Wooo makasih Rin, makasih... Kamu aja yang selesain kalo yang itu", potong gua.
Rini tertawa yang diikuti oleh Giovanna.
Lalu tidak lama seorang lelaki memasuki pelataran depan resto dengan sebuah payung.
Seorang suami yang menjemput sang istri, setelah mereka berdua pamit pulang, tinggallah Gua dan Giovanna di sini.
"Mas...".
"Ya Ann ?".
"Mmm.. Aku gak bawa kendaraan.. Kalo boleh, aku ikut sampai stasiun aja...".
Gua berdiri lalu memasukan blackberry kedalam saku celana. "Tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu keatas..", jawab gua sambil tersenyum.
...
Jalan raya ibu kota begitu padat, apalagi malam ini adalah malam minggu, ditambah dengan cuaca yang berbeda, hawa dingin karena hujan yang belum berhenti sedari maghrib membuat kendaraan roda empat stuck on fakin' high way...
Mobil yang Gua kemudikan masih jauh dari pintu tol keluar, suara musik yang terdengar dari audio mobil cukup menyamarkan bunyi deras hujan diluar sana. Seorang gadis belia nan cantik duduk tepat disamping gua. Dia sedang memainkan blackberry-nya, mungkin mengabari sang kakak atau orangtuanya.
"Ann..".
"Ya Mas ?", dia menoleh kepada gua disisi kanan.
"Kamu laper gak ?".
Entah kebetulan atau memang kode alam, bunyi 'keruyuk'yang terdengar hingga mengalahkan suara musik dalam mobil ini langsung membuat gua tertawa pelan, sebaliknya dengan Giovanna, wajah putih nan imutnya itu berubah seketika, merona merah menahan malu.
"Okey...okey... Kita makan nasi goreng ya.. Pffftt...", gua berusaha menahan tawa.
"Masss... Aaaahh.. Aku maluu iih..", ucapnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya yang lentik itu.
"Normal itu Ann.. Laper setelah selesai bekerja dan ditambah cuaca yang dingin.. Gak apa-apa kok...", gua mencoba memahami,
"Tapi yaa... Kodenya boleh juga, langsung dijawab sama cacing di dalam perut gituu, hahahaha...", akhirnya gua tidak kuat untuk tidak meledeknya.
"Aaah Mas Ezaa ma.. Aku gak cacingan iih.. Nyebelin kamu maa...", kali ini dia mencubit lengan kiri gua dengan mode duck face. ala remaja tentunya.
Ann... I count it.. That's two, rite ?. ucap gua dalam hati.
Sekitar pukul setengah sembilan malam kami berdua sudah duduk berhadapan di dalam warung tenda yang menjual nasi goreng sebagai menu utamanya. Gua membakar sebatang rokok sambil menunggu pesanan datang. Anna sedang menelepon sang kakak, untuk mengabari kalau sekarang dia sedang makan bersama gua. Tidak lama kemudian dua porsi nasi goreng yang kami pesan sudah tersaji diatas meja. Tidak butuh waktu lama untuk kami menghabiskan makanan masing-masing, selain karena rasa lapar yang melanda, rasa dari nasi goreng ini memang enak.
"Alhamdulillah...", ucap gua setelah selesai meminum air teh hangat. "Gimana rasanya ?", tanya gua kepada Giovanna yang baru saja menyilangkan sendok dan garpu secara terbalik diatas piring yang sudah kosong itu.
"Enak Mas, langganan pasti ya makan disini ?"
"Yap.. Udah cukup lama... Makanya tadi yang jual nyapanya kayak ke temen akrab kan..", jawab gua mengingatkannya saat kami baru saja datang.
"Iya ya, pantes kenal deket hihihihi..".
Kemudian blackberry miliknya berbunyi nyaring, ternyata telpon dari sang kakak yang ingin juga membeli dua porsi nasi goreng, lalu Giovanna memesan dua porsi lagi, tapi kali ini dibungkus untuk kakaknya itu. Gua membakar sebatang rokok lagi ketika kami masih menunggu pesanan yang hendak dibawa pulang. Beberapa hal menjadi bahan obrolan kami, dari mulai soal sekolahnya sampai niatnya untuk bekerja sambil kuliah.
Giovanna menanyakan soal izin dari manajemen perihal karyawan yang hendak kuliah seperti dirinya.
"Jujur aja Ann, aku selama ini belum pernah dapet karyawan yang kerja sambil kuliah atau sebaliknya, maksudnya secara resmi... Jadi mungkin aja ada beberapa karyawan yang sebenernya setelah pulang kerja dia kuliah... Menurut aku pribadi selama kuliah itu enggak terlalu mengganggu kerjaan no problem sih.. Karena status kamu yang utama kan pekerja bukan mahasiswi...", terang gua kepada Giovanna.
Gadis belia itu mengangguk sambil berfikir. Ya rasanya gua paham apa yang sedang ia fikirkan.
"Gini deh... Gimana kalo nanti aku tanya manajemen dulu, maksudnya direktur yang ada di pusat...", lanjut gua.
"Eh ? Jangan Mas, aku enggak enak... Udah gak apa-apa kok, aku juga belum tau mau kuliah dimana, jadi atau enggaknya malah belum jelas, karena aku udah nyaman dengan kerjaan aku sekarang", jawabnya.
"Pendidikan juga penting Ann.. Udah tenang aja, direkturnya deket kok sama aku, hehehe...".
"Oh ya ? Kok bisa sih ?", tanyanya bingung.
"Hahaha.. Kamu tuh ya aduh... Hahaha.. Beneran gak tau atau pura-pura nih ?", tanya gua memastikan.
Giovanna menggelengkan kepalanya dengan wajah yang serius. "Pura-pura apa maksudnya Mas ?".
Tidak sempat gua menjelaskan lebih lanjut karena terpotong oleh sang penjual yang menyerahkan dua bungkus nasi goreng. Kemudian Giovanna berjalan keluar warung tenda, menunggu gua diluar saat gua membayar makanan pesanan kami itu.
"Makasih ya Pak", ucap gua setelah membayar dan menerima kembalian.
Gua baru saja akan membalikkan badan ketika si bapak penjual yang memang sudah kenal itu tersenyum lebar. "Ehm.. Adik Pak.. Adik saya...", ucap gua.
Beliau hanya tersenyum jahil, gua menggelengkan kepala sambil memutar bola mata lalu berjalan keluar. Tapi lagi-lagi gua berbalik dan memandangi si bapak itu dengan tatapan serius kali ini. Senyum yang ia tunjukkan tadi kini sudah menghilang, berganti wajah serius dengan rasa khawatir ketika gua benar-benar menekankan ucapan gua.
"Saya serius, dia adik saya...".
"Iya Mas.. Maaf..", jawabnya lalu mengangguk cepat.
Sekarang gua dan Giovanna sudah kembali berada di dalam mobil untuk pulang. Gua arahkan mobil milik almh. Istri gua ini ke daerah dingin, bukan bukan, bukan gua hendak mengajaknya ketempat seperti bukit atau pegunungan, tapi memang kenyataannya rumah keluarganya di daerah atas, yang suhu udaranya sejuk dan selau dingin.
Sekitar pukul setengah sepuluh lewat akhirnya gua sampai di depan rumah keluarganya. Gua mematikan mesin mobil lalu melepaskan seatbelt dan kemudian turun bersama Giovanna.
"Weh hebat, karyawan baru udah dianter langsung sama manajer... Manteplah...", ucap sang kakak yang baru saja membukakan pintu rumah utama.
"Sorry ya Yo, Anna lembur tadi, terus gua ajak dia makan dulu...", ucap gua menjelaskan kepada sahabat gua itu.
"Enggak apa-apa Za, santai aja, makasih banyak lu udah mau anter dia sampe rumah juga, dan yang penting satu hal...", Ryo melipatkan kedua tangannya didepan dada.
"Hal apa ?", tanya gua.
"Jangan lupa minimal nasi goreng, paling oke cuma martabak manis lah... Huahahahaha...".
"Kampret lu... Hahaha...", timpal gua yang ikut tertawa bersama sang adik.
"Yaudah ayo samuk, ngapain di lokur...", ajak sahabat gua itu.
"Duh udah terlalu larut rasanya untuk bertamu Yo... Gua langsung cabs aja deh ya", jawab gua karena memang sudah terlalu malam untuk sekedar bertamu.
"Papaaah...aaaa..", teriakan seorang anak kecil dari dalam rumah mengejutkan kami bertiga.
"Koben Za, koben, anak gua nangis nih...", ucap Ryo sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
"Anaknya Kak Ryo lagi sakit, Mas..".
"Oh, sakit apa Ann ?", tanya gua.
"Demam, karena kehujanan kemarin...", jawab Anna. "Mas, ayo masuk dulu.. Disini dingin", lanjutnya.
Gua serba-salah sebenarnya, karena sahabat gua masih di dalam, ingin langsung pergi tidak enak juga, rasanya gak sopan.
"Mm.. Aku duduk diteras aja Ann, gak apa-apa...".
Akhirnya gua pun duduk di bangku teras rumahnya, Giovanna masuk kedalam rumah untuk mengambilkan gua minuman. Tidak lama dia kembali dengan secangkir teh hangat, lalu duduk di bangku sebelah gua setelah meletakkan cangkir minuman pada meja diantara kami.
"Anaknya yang mana Ann yang sakit ?".
"Yang pertama Mas, Kak Ryo kesini cuma berdua sama Leon... Kak Ayu sama dua anaknya yang lain di apartemen.. Gak ikut", jawab Giovanna sambil tersenyum manis.
Gua mengangguk, Leon adalah anak sulung Ryo dari pernikahannya dengan Ayu, mereka memang sudah dikaruniai tiga orang anak.
Hujan malam ini sudah cukup reda, namun hawa dingin bersama angin yang berhembus cukup membuat gua bergidik dibalik kemeja tanpa jaket. Gua meminum teh yang dibuatkan oleh Giovanna hingga setengah cangkir. Tidak lama kemudian gua pun undur diri ketika melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
"Aku pamit dulu ya Ann... Udah mau malam banget nih...", ucap gua sambil berdiri.
"Oh iya Mas, sebentar aku panggil Kak Ryo dulu ya..".
Gua memasukan kedua tangan kedalam saku celana, berdiri memandangi halaman rumahnya sambil menunggu sahabat gua, tapi ternyata hanya adiknya yang kembali ke depan rumah.
"Mas Eza, Kak Ryo nya ketiduran...", ucap Giovanna dari balik tubuh gua.
Gua membalikkan tubuh. "Oh yaudah gak apa-apa Ann, salam aja kalo gitu untuk Ryo ya, kecapean mungkin ngurus anaknya", jawab gua.
"Iya Mas, nasi gorengnya juga belum kemakan..", lanjutnya.
Loch ternyata Giovanna sudah berganti pakaian, pantas saja gua sedikit lama menunggu. Seorang gadis belia itu kini tidak lagi mengenakan kemeja dan rok span, berganti kaos oblong dengan bagian bawah kaos yang menyentuh pahanya. Lalu kakinya dibalut celana leging berwarna abu.
"Ehm..", gua menggelengkan kepala, membuyarkan lamunan gua sendiri akan pesona gadis imut itu. "Aku pulang ya, makasih untuk lemburnya Ann..".
"Aku yang makasih, udah ditraktir makan dan dianter sampe rumah..", jawabnya sambil tersenyum lalu menyelipkan bagian rambut yang menjuntai kebelakang telinganya.
"Okey, sama-sama Ann, selamat malam", gua berjalan ke samping hendak menuju mobil.
Sebuah tarikan tangan yang cukup cepat pada kemeja bagian pinggang ini membuat langkah kaki gua berhenti melangkah. Gua menengok ke kiri sambil mengerenyitkan kening.
Satu detik kemudian, Giovanna meninggalkan semua kesadaran gua di dunia nyata ini....
Cupp...
"Makasih... Hati-hati dijalan, Mas...", ucapnya pelan dengan jarak wajah yang sangat dekat.
Gua terbelalak menatapnya, jantung gua berdegup kencang merasakan sensasi dari apa yang sudah ia lakukan pada bibir ini.
"Aku.. Aku masuk dulu ya Mas, selamat malam..".
...
Gua duduk di dalam mobil dengan mesin yang menyala sambil mengelap bibir dengan tissue, apa yang baru saja gua terima dari seorang gadis belia tadi benar-benar membuat gua ketakutan. Berat rasanya menggerakan tangan dan kaki ini untuk menggerakan kemudi kendaraan ini. Fikiran gua masih melayang-layang karena kelakuan Giovanna sebelumnya.
Gua menggelengkan kepala cepat, dan membuyarkan segala ketakutan yang gua rasakan di dalam diri ini. Baru saja gua akan memasukan persneling, blackberry pada saku celana gua bergetar. Gua mengambil blackberry tersebut lalu membuka pesan chatting pada aplikasi bbm.
"Alhamdulillah...", ucap gua setelah selesai meminum air teh hangat. "Gimana rasanya ?", tanya gua kepada Giovanna yang baru saja menyilangkan sendok dan garpu secara terbalik diatas piring yang sudah kosong itu.
"Enak Mas, langganan pasti ya makan disini ?"
"Yap.. Udah cukup lama... Makanya tadi yang jual nyapanya kayak ke temen akrab kan..", jawab gua mengingatkannya saat kami baru saja datang.
"Iya ya, pantes kenal deket hihihihi..".
Kemudian blackberry miliknya berbunyi nyaring, ternyata telpon dari sang kakak yang ingin juga membeli dua porsi nasi goreng, lalu Giovanna memesan dua porsi lagi, tapi kali ini dibungkus untuk kakaknya itu. Gua membakar sebatang rokok lagi ketika kami masih menunggu pesanan yang hendak dibawa pulang. Beberapa hal menjadi bahan obrolan kami, dari mulai soal sekolahnya sampai niatnya untuk bekerja sambil kuliah.
Giovanna menanyakan soal izin dari manajemen perihal karyawan yang hendak kuliah seperti dirinya.
"Jujur aja Ann, aku selama ini belum pernah dapet karyawan yang kerja sambil kuliah atau sebaliknya, maksudnya secara resmi... Jadi mungkin aja ada beberapa karyawan yang sebenernya setelah pulang kerja dia kuliah... Menurut aku pribadi selama kuliah itu enggak terlalu mengganggu kerjaan no problem sih.. Karena status kamu yang utama kan pekerja bukan mahasiswi...", terang gua kepada Giovanna.
Gadis belia itu mengangguk sambil berfikir. Ya rasanya gua paham apa yang sedang ia fikirkan.
"Gini deh... Gimana kalo nanti aku tanya manajemen dulu, maksudnya direktur yang ada di pusat...", lanjut gua.
"Eh ? Jangan Mas, aku enggak enak... Udah gak apa-apa kok, aku juga belum tau mau kuliah dimana, jadi atau enggaknya malah belum jelas, karena aku udah nyaman dengan kerjaan aku sekarang", jawabnya.
"Pendidikan juga penting Ann.. Udah tenang aja, direkturnya deket kok sama aku, hehehe...".
"Oh ya ? Kok bisa sih ?", tanyanya bingung.
"Hahaha.. Kamu tuh ya aduh... Hahaha.. Beneran gak tau atau pura-pura nih ?", tanya gua memastikan.
Giovanna menggelengkan kepalanya dengan wajah yang serius. "Pura-pura apa maksudnya Mas ?".
Tidak sempat gua menjelaskan lebih lanjut karena terpotong oleh sang penjual yang menyerahkan dua bungkus nasi goreng. Kemudian Giovanna berjalan keluar warung tenda, menunggu gua diluar saat gua membayar makanan pesanan kami itu.
"Makasih ya Pak", ucap gua setelah membayar dan menerima kembalian.
Gua baru saja akan membalikkan badan ketika si bapak penjual yang memang sudah kenal itu tersenyum lebar. "Ehm.. Adik Pak.. Adik saya...", ucap gua.
Beliau hanya tersenyum jahil, gua menggelengkan kepala sambil memutar bola mata lalu berjalan keluar. Tapi lagi-lagi gua berbalik dan memandangi si bapak itu dengan tatapan serius kali ini. Senyum yang ia tunjukkan tadi kini sudah menghilang, berganti wajah serius dengan rasa khawatir ketika gua benar-benar menekankan ucapan gua.
"Saya serius, dia adik saya...".
"Iya Mas.. Maaf..", jawabnya lalu mengangguk cepat.
Sekarang gua dan Giovanna sudah kembali berada di dalam mobil untuk pulang. Gua arahkan mobil milik almh. Istri gua ini ke daerah dingin, bukan bukan, bukan gua hendak mengajaknya ketempat seperti bukit atau pegunungan, tapi memang kenyataannya rumah keluarganya di daerah atas, yang suhu udaranya sejuk dan selau dingin.
Sekitar pukul setengah sepuluh lewat akhirnya gua sampai di depan rumah keluarganya. Gua mematikan mesin mobil lalu melepaskan seatbelt dan kemudian turun bersama Giovanna.
"Weh hebat, karyawan baru udah dianter langsung sama manajer... Manteplah...", ucap sang kakak yang baru saja membukakan pintu rumah utama.
"Sorry ya Yo, Anna lembur tadi, terus gua ajak dia makan dulu...", ucap gua menjelaskan kepada sahabat gua itu.
"Enggak apa-apa Za, santai aja, makasih banyak lu udah mau anter dia sampe rumah juga, dan yang penting satu hal...", Ryo melipatkan kedua tangannya didepan dada.
"Hal apa ?", tanya gua.
"Jangan lupa minimal nasi goreng, paling oke cuma martabak manis lah... Huahahahaha...".
"Kampret lu... Hahaha...", timpal gua yang ikut tertawa bersama sang adik.
"Yaudah ayo samuk, ngapain di lokur...", ajak sahabat gua itu.
"Duh udah terlalu larut rasanya untuk bertamu Yo... Gua langsung cabs aja deh ya", jawab gua karena memang sudah terlalu malam untuk sekedar bertamu.
"Papaaah...aaaa..", teriakan seorang anak kecil dari dalam rumah mengejutkan kami bertiga.
"Koben Za, koben, anak gua nangis nih...", ucap Ryo sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
"Anaknya Kak Ryo lagi sakit, Mas..".
"Oh, sakit apa Ann ?", tanya gua.
"Demam, karena kehujanan kemarin...", jawab Anna. "Mas, ayo masuk dulu.. Disini dingin", lanjutnya.
Gua serba-salah sebenarnya, karena sahabat gua masih di dalam, ingin langsung pergi tidak enak juga, rasanya gak sopan.
"Mm.. Aku duduk diteras aja Ann, gak apa-apa...".
Akhirnya gua pun duduk di bangku teras rumahnya, Giovanna masuk kedalam rumah untuk mengambilkan gua minuman. Tidak lama dia kembali dengan secangkir teh hangat, lalu duduk di bangku sebelah gua setelah meletakkan cangkir minuman pada meja diantara kami.
"Anaknya yang mana Ann yang sakit ?".
"Yang pertama Mas, Kak Ryo kesini cuma berdua sama Leon... Kak Ayu sama dua anaknya yang lain di apartemen.. Gak ikut", jawab Giovanna sambil tersenyum manis.
Gua mengangguk, Leon adalah anak sulung Ryo dari pernikahannya dengan Ayu, mereka memang sudah dikaruniai tiga orang anak.
Hujan malam ini sudah cukup reda, namun hawa dingin bersama angin yang berhembus cukup membuat gua bergidik dibalik kemeja tanpa jaket. Gua meminum teh yang dibuatkan oleh Giovanna hingga setengah cangkir. Tidak lama kemudian gua pun undur diri ketika melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
"Aku pamit dulu ya Ann... Udah mau malam banget nih...", ucap gua sambil berdiri.
"Oh iya Mas, sebentar aku panggil Kak Ryo dulu ya..".
Gua memasukan kedua tangan kedalam saku celana, berdiri memandangi halaman rumahnya sambil menunggu sahabat gua, tapi ternyata hanya adiknya yang kembali ke depan rumah.
"Mas Eza, Kak Ryo nya ketiduran...", ucap Giovanna dari balik tubuh gua.
Gua membalikkan tubuh. "Oh yaudah gak apa-apa Ann, salam aja kalo gitu untuk Ryo ya, kecapean mungkin ngurus anaknya", jawab gua.
"Iya Mas, nasi gorengnya juga belum kemakan..", lanjutnya.
Loch ternyata Giovanna sudah berganti pakaian, pantas saja gua sedikit lama menunggu. Seorang gadis belia itu kini tidak lagi mengenakan kemeja dan rok span, berganti kaos oblong dengan bagian bawah kaos yang menyentuh pahanya. Lalu kakinya dibalut celana leging berwarna abu.
"Ehm..", gua menggelengkan kepala, membuyarkan lamunan gua sendiri akan pesona gadis imut itu. "Aku pulang ya, makasih untuk lemburnya Ann..".
"Aku yang makasih, udah ditraktir makan dan dianter sampe rumah..", jawabnya sambil tersenyum lalu menyelipkan bagian rambut yang menjuntai kebelakang telinganya.
"Okey, sama-sama Ann, selamat malam", gua berjalan ke samping hendak menuju mobil.
Sebuah tarikan tangan yang cukup cepat pada kemeja bagian pinggang ini membuat langkah kaki gua berhenti melangkah. Gua menengok ke kiri sambil mengerenyitkan kening.
Satu detik kemudian, Giovanna meninggalkan semua kesadaran gua di dunia nyata ini....
Cupp...
"Makasih... Hati-hati dijalan, Mas...", ucapnya pelan dengan jarak wajah yang sangat dekat.
Gua terbelalak menatapnya, jantung gua berdegup kencang merasakan sensasi dari apa yang sudah ia lakukan pada bibir ini.
"Aku.. Aku masuk dulu ya Mas, selamat malam..".
...
Gua duduk di dalam mobil dengan mesin yang menyala sambil mengelap bibir dengan tissue, apa yang baru saja gua terima dari seorang gadis belia tadi benar-benar membuat gua ketakutan. Berat rasanya menggerakan tangan dan kaki ini untuk menggerakan kemudi kendaraan ini. Fikiran gua masih melayang-layang karena kelakuan Giovanna sebelumnya.
Gua menggelengkan kepala cepat, dan membuyarkan segala ketakutan yang gua rasakan di dalam diri ini. Baru saja gua akan memasukan persneling, blackberry pada saku celana gua bergetar. Gua mengambil blackberry tersebut lalu membuka pesan chatting pada aplikasi bbm.
Hope dangles on a string like slow spinning redemption
Winding in and winding out, the shine of it has caught my eye
And roped me in, so mesmerizing and so hypnotizing
I am captivated, I am
Vindicated, I am selfish, I am wrong, I am right
I swear I'm right, swear I knew it all along...
.
.
.
.
.
Spoiler for text on my bbm:
callipso21 memberi reputasi
3

