- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.7K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#555
Part 20 - Last Fight...
PART 20 - Last Fight...
Quote:
Pesta potong memotong bagian tubuh manusia itu berlanjut. Kali ini Aldi mengacungkan acungkan pedang tersebut ke arah tangan kirinya, tepat di sikunya. Sembari tersenyum pedih menahan sakit, Aldi tanpa ragu langsung menebasnya. Cruppppsss... Aaarrrrgggghhhhhh.... Suara tebasan itu pun diikuti suara teriakan mereka berdua, namun kali ini lebih didominasi teriakan Sudarma. “Sialan, hentikan itu!” Sudarma memelas meminta ampun agar siksaan terhadapnya segera berhenti. “Tidak, aku masih belom selesai!” balas Aldi tertawa terbahak bahak. Darah mengalir deras keluar dari siku lengan kedua pria itu, namun hanya Sudarma yang berusaha menutupinya dengan tangan kanannya. Ternyata Aldi membaca berbagai macam doa dan surat pendek Al-Quran dalam hatinya. Aldi yakin itu dapat membantunya melawan makhluk berhati bejat, Sudarma.
“Aldi...”, suara lirih sang tuan putri memanggil namanya sembari meneteskan air mata. “Tak apa apa Atri, tunggu saja di situ karena nanti aku akan memerlukan bantuanmu sekali lagi” balas Aldi yang semakin bersemangat memutar mutar pedang itu dengan tangan kanannya. Kali ini dia mengarahkan pedangnya ke telapak kaki kanannya. Craaaccckkkk... Creeeccccckkkk... Dua kali Aldi menebasnya karena tulang itu cukup keras dan tebal untuk dieksekusi. Wuuaaarrrggggghhhhh... Aduuuhhhhh... Saakkkiitttttttttttt... Teriakan Sudarma terus menerus berulang ketika melihat telapak kaki kanannya terlepas dari tubuhnya. Darah kini menyembur keluar, seperti seseorang yang membuang air kecil. Aldi kini menancapkan pedangnya ke pasir di bawahnya yang sudah berubah menjadi merah karena darah. “Aku belum puas, belum puas sampai kau mati!” teriak Aldi sekencang kencangnya dengan wajah pucat pasi dan mulut mengeluarkan darah.
“Sekarang lihat ini!”, pedang kembali dihunuskan ke udara, ke atas kepalanya dia acungkan. Tapi, dia merubah arah ujung mata pedangnya ke arah perut. “This is for their revenge!”(ini untuk pembalasan dendam mereka!) kata kata itu keluar dengan penuh semangat, membara bak layaknya bara api pemanggang. Meskipun beberapa bagian tubuh meraka telah terlepas dari tubuh mereka, namun ada pemandangan unik disana. Telapak kaki kanan mereka yang telah putus masih sedikit bergerak gerak di ujung jempolnya. Menandakan bahwa potongan telapak kaki itu benar benar tak ikhlas untuk berpisah, bercerai dari tubuh mereka berdua. Dan Aldi bersiap siap menusukkan pedangnya ke bagian tubuhnya yang lain, tepat berada di sebelah kiri. “Jangan! Hentikan! Dasar mahkluk rendahan! Hentikan! Kau akan merasakannya nanti pembalasanku!”, Sudarma meminta Aldi untuk berhenti melakukan aksi pemotongan selanjutnya tapi nadanya tak mengiba, tak memelas malah hanya nada seorang diktator kejam keluar dari mulutnya.
“Aarrrrrggggghhhhhhhhhhh.... Uuurrrrgggghhhh... Ka... Ka... Kau...”, teriakan Sudarma yang tak mampu menyelesaikan kalimatnya karena Aldi sudah melakukan adegan berikutnya. Pedang yang tadi dihunuskan Aldi ke arah tubuh sebelah kiri ternyata dia tancapkan tepat ke dada sebelah kiri, tepat di atas jantung namun tak menembus ke belakang. Darah segar langsung keluar dari celah celah pedang yang berjumpa dengan daging segar manusia. Darah itu menyembur, mengalir keluar namun terputus putus ketika mereka bernafas. Wajah Aldi ternyata memang masih menunjukkan dirinya merasakan sakit yang luar biasa, namun dia mampu menahan itu semua. “Bismillah...” gumam Aldi kecil dan perlahan lahan pedang yang tadi tepat mengenai ruas tulang iga sebelah kiri bawah dada digerakkan untuk terus menembus ke belakang, ke arah punggungnya. Kraaakkkk... Cruuppsss... Suara itu keluar ketika pedang tersebut memotong otot otot halus tulang iga beserta tulang belulangnya. Sssshhhhsssshhhh... Ssshhhhhssssshhhh... Suara tarikan nafas yang begitu kencang kini mulai terdengar keluar dari dada mereka berdua yang bocor ketika mata pedang itu menembus paru paru membocorkan seluruh tekanan udara didalamnya.
Dan... Jruubbssss... Dengan sekuat tenaga Aldi mendorong pedang itu menembus tubuhnya hingga ke punggungnya. Wajahnya pun tertunduk lemas merasakan sakitnya, “Bismillah...” kembali lagi terlontar dari mulutnya, membuatnya tak akan berhenti sampai disitu. Sudarma yang sedari tadi duduk kini sudah tergeletak di tanah dengan wajah berpaling ke kiri menatap ke arah Aldi yang sedang berpesta ria. Perlahan lahan pedang itu digerakkan Aldi ke atas ke arah bahunya. Gerakannya membelah dadanya dengan darah segar, kental mengalir keluar terus menerus tanpa henti. Lalu ketika pedang itu sudah terhenti tepat di bawah ketiaknya, Aldi menggesekkan pedang itu sekuat tenaga lalu mencabutnya dengan sisa daging yang masih menempel. Plakkk... Jruubbbb... Srrruuuppp... Dada atas sebelah kirinya yang berisi paru kini terlepas dari tubuhnya menyisakan sebuah rongga besar. Tampak didalam rongga besar itu darah masih mengalir ke luar dengan derasnya dari pembuluh pembuluh darah kecil yang sudah terpotong. Jantung yang masih berdetak keras dapat terlihat oleh mata siapapun ke dalam rongga itu.
Darah menyembur keluar meletup letup dari dalam rongga itu, membanjiri membasahi setiap bagian daging dan tulang yang terlihat. Aldi lalu menguatkan diri untuk bangkit dengan pedang masih ditangan kanannya. Darah segar merah nan kental kemudian turun membanjiri seluruh tubuh bagian bawahnya. Kakinya yang pincang karena salah satu telapak kakinya sudah diamputasi terlebih dahulu tak membuat dia jatuh. Kali ini wajah Aldi tersenyum seperti memberikan kode kalau dia akan melakukan amputasi berikutnya. “Kenapa tidak ku potong saja itu?”, mata Aldi melihat ke arah alat kelaminnya. Cleessss... Sebuah tebasan langsung memotong alat kelaminnya beserta buah zakarnya yang masih menempel menggantung. Tak ayal lagi, di sudut sana Sudarma merasakan kejang kejang lebih hebat lagi karena alat kelaminnya sudah terpotong juga. Atri yang menyaksikan pemandangan itu langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Entah apa yang dibayangkannya, meskipun dia hantu namun dia menyadari bahwa benar benar ngilu melihat alat kelamin pria yang pernah dia nikamti kini sudah dipotong dan terpisah dari tubuh tuannya.
“Atri, potong kepalaku sekarang juga!” teriaknya ke arah Atri dengan kedua mata yang terututup dengan tangan karena tak kuat melihat wajah orang yang dicintainya bermandikan darah akibat potong memotong tubuhnya sendiri. “Ke... Kenapa? Aldi? Kamu serius?” tanya Atri tanpa sedikitpun membuka telapak tangannya dari wajahnya. Aldi kini memang tak main main, dia berjalan ke arah Atri meskipun tubuhnya sudah tak lengkap lagi. Mengerikan memang pemandangan itu, seorang manusia berjalan dengan penuh darah disekujur tubuhnya. Terlihat jelas sebuah rongga besar di dada sebelah kirinya yang menyemburkan darah terus menerus dan menampakkan jantung yang berdenyut kencang memompakan darah. Bahkan suara jantung yang berdetak pun terdengar kencang. Tangan kirinya yang telah tinggal separuh terus menerus meneteskan darah. Belum lagi telapak kaki kanannya yang sudah tak ada lagi sehingga ketika dia jalan dia bertumpu pada bekas potongan telapak kakinya tepat di pergelangan. Dari arah depan juga terlihat jelas celana yang dipakainya berlubang besar tepat di tengah tengah posisi alat kelaminnya. Tapi tak terlihat bekas pemotongan alat kelaminnya melainkan hanya darah yang mulai mengental berwarna hitam disekitar situ.
Tepat di depan Atri, Aldi berhenti lalu menyerahkan pedang itu kepada Atri. Awal mulanya Atri tak mau dengan menggeleng gelengkan kepalanya menandakan dia tak sanggup. Tapi akhirnya dia setuju untuk melakukannya demi rakyatnya dan juga nasib rombongan ekspedisi itu. “Setelah kamu memotong kepalaku ini yang berarti kepala dia juga, kamu harus tarik keluar jantung ini lalu belah menjadi dua. Seketika itu juga sihirnya akan hilang, musnah selamanya yang akan membuatnya tewas” pinta Aldi kepada Atri. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Atri hanya mengangguk pertanda dia sanggup melakukannya. Aldi pun menjatuhkan tubuhnya ke bawahnya lalu bersimpuh dengan kedua lututnya yang masih basah berselimutkan darah segar yang mulai mengental membeku. Kemudian kepalanya dia tundukkan kebawah menampakan bagian belakang lehernya dengan jelas dan terang. “Sekarang!” teriak Aldi. “Maafkan aku Sayang..” kata kata itu terlontar dari mulut Atri tepat sebelum pedang di tangan kanannya menebas leher Aldi.
Jlubbb... Dug... Dlug... Dug... Kepala itu terlepas dari tubuhnya lalu jatuh menggelinding ke bawah menjauh tubuh Aldi yang ikut mulai tumbang tersungkur ke arah kaki Atri. Tak lama kemudian, Sudarma pun berteriak kencang sembari memegang lehernya yang sudah terpotong dan mengeluarkan darah begitu deras juga. Arrghhhhh... Uargghhhhh... Sia sia dia menahan lehernya dengan kedua tangannya agar tidak putus, namun pada akhirnya kepalanya harus terlepas, meninggalkan tubuhnya juga. Kepala Sudarma pun jatuh ke pasir berputar sekali lalu diam dengan wajahnya menghadap lehernya. Dia dapat menyaksikan detik detik terakhir tubuhnya masih menyemburkan darah dari sisa pancungan pedang di leher. Sebuah ruas tulang leher menyembul keluar tepat di samping lubang saluran kerongkongan dan tenggorokan yang masih berdenyut seperti tetap memompa udara ke dalam paru paru sebelah kanan. Padahal hidung tuannya sudah tak lagi menyatu dengan sistem pernafasannya.
Di sisi lain, walaupun bagian kepala Aldi terjatuh ternyata masih mampu berbicara, “Atri! Sekarang tarik!” dengan darah ikut keluar dari mulutnya. Creeeet... Dag... Dag... Dag... Keluarlah jantung Aldi dari tubuhnya dan masih tetap berdetak kencang namun semakin melambat. Di sebelah sana jantung Sudarma pun keluar dari tubuhnya dan jatuh berguling tepat di sisi kiri tubuhnya sambil berputar putar menyemburkan darah yang masih tersisa di dalam bilik dan atriumnya. “Aldi... Aldi... Jangan pergi...” Atri meratapi Aldi tepat di kepalanya yang sudah terlepas dari tubuhnya. Dia tak tahu harus memegang bagian tubuh Aldi yang mana karena tubuhnya sudah banyak yang terpotong potong, tercerai berai. Tiba tiba saja Aldi membuka matanya meskipun tubuh dan kepalanya sudah berpisah, “Atri... Aku tidak apa apa. Ingatlah disini keberadaanku hanyalah jiwa saja bukan sepenuhnya raga dan pikiranku sehingga aku tidak akan mati di sini. Tapi dia, si ber*ngsek itu pasti mati di sini” tatapan mata Aldi berubah ke arah Sudarma yang disusul bergeraknya jari tengah tangan kanannya menunjuk ke arah Sudarma.
Atri lalu memenuhi sebuah permintaan terakhir Aldi, yaitu membelah jantungnya yang sudah keluar dengan pedang itu. Jurbbbb... Sebuah ayunan pedang langsung membelah onggokan jantung itu menjadi dua bagian. Arrrghhhhhh... Uuuaargggghhhhh... Tidakkk!!! Hargggg... Teriakan Sudarma langsung Cumiikkan telinga, matanya melotot ke atas, tubuhnya mengejang hebat, tangannya yang masih menempel maupun sudah teramputasi bergetar getar hebat. Dia seperti akan menghadapi ajal yang sudah di depan mata, menatap maut yang akan datang menjemputnya. Lalu sebuah sinar hitam tiba tiba saja keluar dari langit tepat di atas Sudarma menuju tepat ke dadanya. Tiidddaaaaakkkkkkk!!! Aarrggghhhhh.... Teriakan itu merupakan teriakan terakhir Sudarma yang bisa terdengar bagi Atri dan Aldi. Jasad Sudarma tiba tiba berubah menjadi aneh, kulitnya menjadi kering berwarna hitam legam, tulang belulangnya berubah menjadi kecil. Bola matanya menciut, mengecil lalu mengeras menjadi batu. Darahnya berubah menjadi cairan hitam pekat berbau yang bahkan lebih hitam dari minyak bumi terus keluar mengalir dari tubuhnya. Perubahan menjijikkan itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 1 menit saja tapi pada akhirnya keseluruhan tubuh Sudarma telah berubah menjadi mumi.
“Terima kasih Atri, kau sudah menyanggupi permintaanku untuk memotong kepalaku, kini semuanya sudah usai. Kita dapat kembali ke dimensi tadi, dunia yang sedari awal kau buat” suara Aldi sangat lirih terdengar karena menahan rasa sakit. “Bawa serta jasadnya kembali ke sana juga bersama kita” pinta Aldi kepada Atri karena jika jasadnya kembali ke dunia nyata dia akan benar benar mati sesuai perhitungannya. “Baiklah, Aldi... Terima kasih banyak... Aku tak tahu harus berkata apa lagi”, air mata bercucuran deras menetes membasahi pipi putih nan mulus miliknya. “Pejamkan matamu, tenangkan dirimu, jangan buka matamu sampai aku katakan bukalah”, Atri memeluk kepala Aldi erat erat dan mulutnya mulai komat kamit dengan cepat. Tak lama kemudian, cahaya putih kembali bermunculan di sekeliling tubuh Atri. Cahaya itu semakin terang dan semakin terang menutupi seluruh hamparan dunia padang pasir buatannya. Seperti peristiwa sebelumnya saat Aldi akan berpindah dunia, berpindah dimensi bersama Atri.
“Aldi...”, suara lirih sang tuan putri memanggil namanya sembari meneteskan air mata. “Tak apa apa Atri, tunggu saja di situ karena nanti aku akan memerlukan bantuanmu sekali lagi” balas Aldi yang semakin bersemangat memutar mutar pedang itu dengan tangan kanannya. Kali ini dia mengarahkan pedangnya ke telapak kaki kanannya. Craaaccckkkk... Creeeccccckkkk... Dua kali Aldi menebasnya karena tulang itu cukup keras dan tebal untuk dieksekusi. Wuuaaarrrggggghhhhh... Aduuuhhhhh... Saakkkiitttttttttttt... Teriakan Sudarma terus menerus berulang ketika melihat telapak kaki kanannya terlepas dari tubuhnya. Darah kini menyembur keluar, seperti seseorang yang membuang air kecil. Aldi kini menancapkan pedangnya ke pasir di bawahnya yang sudah berubah menjadi merah karena darah. “Aku belum puas, belum puas sampai kau mati!” teriak Aldi sekencang kencangnya dengan wajah pucat pasi dan mulut mengeluarkan darah.
“Sekarang lihat ini!”, pedang kembali dihunuskan ke udara, ke atas kepalanya dia acungkan. Tapi, dia merubah arah ujung mata pedangnya ke arah perut. “This is for their revenge!”(ini untuk pembalasan dendam mereka!) kata kata itu keluar dengan penuh semangat, membara bak layaknya bara api pemanggang. Meskipun beberapa bagian tubuh meraka telah terlepas dari tubuh mereka, namun ada pemandangan unik disana. Telapak kaki kanan mereka yang telah putus masih sedikit bergerak gerak di ujung jempolnya. Menandakan bahwa potongan telapak kaki itu benar benar tak ikhlas untuk berpisah, bercerai dari tubuh mereka berdua. Dan Aldi bersiap siap menusukkan pedangnya ke bagian tubuhnya yang lain, tepat berada di sebelah kiri. “Jangan! Hentikan! Dasar mahkluk rendahan! Hentikan! Kau akan merasakannya nanti pembalasanku!”, Sudarma meminta Aldi untuk berhenti melakukan aksi pemotongan selanjutnya tapi nadanya tak mengiba, tak memelas malah hanya nada seorang diktator kejam keluar dari mulutnya.
“Aarrrrrggggghhhhhhhhhhh.... Uuurrrrgggghhhh... Ka... Ka... Kau...”, teriakan Sudarma yang tak mampu menyelesaikan kalimatnya karena Aldi sudah melakukan adegan berikutnya. Pedang yang tadi dihunuskan Aldi ke arah tubuh sebelah kiri ternyata dia tancapkan tepat ke dada sebelah kiri, tepat di atas jantung namun tak menembus ke belakang. Darah segar langsung keluar dari celah celah pedang yang berjumpa dengan daging segar manusia. Darah itu menyembur, mengalir keluar namun terputus putus ketika mereka bernafas. Wajah Aldi ternyata memang masih menunjukkan dirinya merasakan sakit yang luar biasa, namun dia mampu menahan itu semua. “Bismillah...” gumam Aldi kecil dan perlahan lahan pedang yang tadi tepat mengenai ruas tulang iga sebelah kiri bawah dada digerakkan untuk terus menembus ke belakang, ke arah punggungnya. Kraaakkkk... Cruuppsss... Suara itu keluar ketika pedang tersebut memotong otot otot halus tulang iga beserta tulang belulangnya. Sssshhhhsssshhhh... Ssshhhhhssssshhhh... Suara tarikan nafas yang begitu kencang kini mulai terdengar keluar dari dada mereka berdua yang bocor ketika mata pedang itu menembus paru paru membocorkan seluruh tekanan udara didalamnya.
Dan... Jruubbssss... Dengan sekuat tenaga Aldi mendorong pedang itu menembus tubuhnya hingga ke punggungnya. Wajahnya pun tertunduk lemas merasakan sakitnya, “Bismillah...” kembali lagi terlontar dari mulutnya, membuatnya tak akan berhenti sampai disitu. Sudarma yang sedari tadi duduk kini sudah tergeletak di tanah dengan wajah berpaling ke kiri menatap ke arah Aldi yang sedang berpesta ria. Perlahan lahan pedang itu digerakkan Aldi ke atas ke arah bahunya. Gerakannya membelah dadanya dengan darah segar, kental mengalir keluar terus menerus tanpa henti. Lalu ketika pedang itu sudah terhenti tepat di bawah ketiaknya, Aldi menggesekkan pedang itu sekuat tenaga lalu mencabutnya dengan sisa daging yang masih menempel. Plakkk... Jruubbbb... Srrruuuppp... Dada atas sebelah kirinya yang berisi paru kini terlepas dari tubuhnya menyisakan sebuah rongga besar. Tampak didalam rongga besar itu darah masih mengalir ke luar dengan derasnya dari pembuluh pembuluh darah kecil yang sudah terpotong. Jantung yang masih berdetak keras dapat terlihat oleh mata siapapun ke dalam rongga itu.
Darah menyembur keluar meletup letup dari dalam rongga itu, membanjiri membasahi setiap bagian daging dan tulang yang terlihat. Aldi lalu menguatkan diri untuk bangkit dengan pedang masih ditangan kanannya. Darah segar merah nan kental kemudian turun membanjiri seluruh tubuh bagian bawahnya. Kakinya yang pincang karena salah satu telapak kakinya sudah diamputasi terlebih dahulu tak membuat dia jatuh. Kali ini wajah Aldi tersenyum seperti memberikan kode kalau dia akan melakukan amputasi berikutnya. “Kenapa tidak ku potong saja itu?”, mata Aldi melihat ke arah alat kelaminnya. Cleessss... Sebuah tebasan langsung memotong alat kelaminnya beserta buah zakarnya yang masih menempel menggantung. Tak ayal lagi, di sudut sana Sudarma merasakan kejang kejang lebih hebat lagi karena alat kelaminnya sudah terpotong juga. Atri yang menyaksikan pemandangan itu langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Entah apa yang dibayangkannya, meskipun dia hantu namun dia menyadari bahwa benar benar ngilu melihat alat kelamin pria yang pernah dia nikamti kini sudah dipotong dan terpisah dari tubuh tuannya.
“Atri, potong kepalaku sekarang juga!” teriaknya ke arah Atri dengan kedua mata yang terututup dengan tangan karena tak kuat melihat wajah orang yang dicintainya bermandikan darah akibat potong memotong tubuhnya sendiri. “Ke... Kenapa? Aldi? Kamu serius?” tanya Atri tanpa sedikitpun membuka telapak tangannya dari wajahnya. Aldi kini memang tak main main, dia berjalan ke arah Atri meskipun tubuhnya sudah tak lengkap lagi. Mengerikan memang pemandangan itu, seorang manusia berjalan dengan penuh darah disekujur tubuhnya. Terlihat jelas sebuah rongga besar di dada sebelah kirinya yang menyemburkan darah terus menerus dan menampakkan jantung yang berdenyut kencang memompakan darah. Bahkan suara jantung yang berdetak pun terdengar kencang. Tangan kirinya yang telah tinggal separuh terus menerus meneteskan darah. Belum lagi telapak kaki kanannya yang sudah tak ada lagi sehingga ketika dia jalan dia bertumpu pada bekas potongan telapak kakinya tepat di pergelangan. Dari arah depan juga terlihat jelas celana yang dipakainya berlubang besar tepat di tengah tengah posisi alat kelaminnya. Tapi tak terlihat bekas pemotongan alat kelaminnya melainkan hanya darah yang mulai mengental berwarna hitam disekitar situ.
Tepat di depan Atri, Aldi berhenti lalu menyerahkan pedang itu kepada Atri. Awal mulanya Atri tak mau dengan menggeleng gelengkan kepalanya menandakan dia tak sanggup. Tapi akhirnya dia setuju untuk melakukannya demi rakyatnya dan juga nasib rombongan ekspedisi itu. “Setelah kamu memotong kepalaku ini yang berarti kepala dia juga, kamu harus tarik keluar jantung ini lalu belah menjadi dua. Seketika itu juga sihirnya akan hilang, musnah selamanya yang akan membuatnya tewas” pinta Aldi kepada Atri. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Atri hanya mengangguk pertanda dia sanggup melakukannya. Aldi pun menjatuhkan tubuhnya ke bawahnya lalu bersimpuh dengan kedua lututnya yang masih basah berselimutkan darah segar yang mulai mengental membeku. Kemudian kepalanya dia tundukkan kebawah menampakan bagian belakang lehernya dengan jelas dan terang. “Sekarang!” teriak Aldi. “Maafkan aku Sayang..” kata kata itu terlontar dari mulut Atri tepat sebelum pedang di tangan kanannya menebas leher Aldi.
Jlubbb... Dug... Dlug... Dug... Kepala itu terlepas dari tubuhnya lalu jatuh menggelinding ke bawah menjauh tubuh Aldi yang ikut mulai tumbang tersungkur ke arah kaki Atri. Tak lama kemudian, Sudarma pun berteriak kencang sembari memegang lehernya yang sudah terpotong dan mengeluarkan darah begitu deras juga. Arrghhhhh... Uargghhhhh... Sia sia dia menahan lehernya dengan kedua tangannya agar tidak putus, namun pada akhirnya kepalanya harus terlepas, meninggalkan tubuhnya juga. Kepala Sudarma pun jatuh ke pasir berputar sekali lalu diam dengan wajahnya menghadap lehernya. Dia dapat menyaksikan detik detik terakhir tubuhnya masih menyemburkan darah dari sisa pancungan pedang di leher. Sebuah ruas tulang leher menyembul keluar tepat di samping lubang saluran kerongkongan dan tenggorokan yang masih berdenyut seperti tetap memompa udara ke dalam paru paru sebelah kanan. Padahal hidung tuannya sudah tak lagi menyatu dengan sistem pernafasannya.
Di sisi lain, walaupun bagian kepala Aldi terjatuh ternyata masih mampu berbicara, “Atri! Sekarang tarik!” dengan darah ikut keluar dari mulutnya. Creeeet... Dag... Dag... Dag... Keluarlah jantung Aldi dari tubuhnya dan masih tetap berdetak kencang namun semakin melambat. Di sebelah sana jantung Sudarma pun keluar dari tubuhnya dan jatuh berguling tepat di sisi kiri tubuhnya sambil berputar putar menyemburkan darah yang masih tersisa di dalam bilik dan atriumnya. “Aldi... Aldi... Jangan pergi...” Atri meratapi Aldi tepat di kepalanya yang sudah terlepas dari tubuhnya. Dia tak tahu harus memegang bagian tubuh Aldi yang mana karena tubuhnya sudah banyak yang terpotong potong, tercerai berai. Tiba tiba saja Aldi membuka matanya meskipun tubuh dan kepalanya sudah berpisah, “Atri... Aku tidak apa apa. Ingatlah disini keberadaanku hanyalah jiwa saja bukan sepenuhnya raga dan pikiranku sehingga aku tidak akan mati di sini. Tapi dia, si ber*ngsek itu pasti mati di sini” tatapan mata Aldi berubah ke arah Sudarma yang disusul bergeraknya jari tengah tangan kanannya menunjuk ke arah Sudarma.
Atri lalu memenuhi sebuah permintaan terakhir Aldi, yaitu membelah jantungnya yang sudah keluar dengan pedang itu. Jurbbbb... Sebuah ayunan pedang langsung membelah onggokan jantung itu menjadi dua bagian. Arrrghhhhhh... Uuuaargggghhhhh... Tidakkk!!! Hargggg... Teriakan Sudarma langsung Cumiikkan telinga, matanya melotot ke atas, tubuhnya mengejang hebat, tangannya yang masih menempel maupun sudah teramputasi bergetar getar hebat. Dia seperti akan menghadapi ajal yang sudah di depan mata, menatap maut yang akan datang menjemputnya. Lalu sebuah sinar hitam tiba tiba saja keluar dari langit tepat di atas Sudarma menuju tepat ke dadanya. Tiidddaaaaakkkkkkk!!! Aarrggghhhhh.... Teriakan itu merupakan teriakan terakhir Sudarma yang bisa terdengar bagi Atri dan Aldi. Jasad Sudarma tiba tiba berubah menjadi aneh, kulitnya menjadi kering berwarna hitam legam, tulang belulangnya berubah menjadi kecil. Bola matanya menciut, mengecil lalu mengeras menjadi batu. Darahnya berubah menjadi cairan hitam pekat berbau yang bahkan lebih hitam dari minyak bumi terus keluar mengalir dari tubuhnya. Perubahan menjijikkan itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 1 menit saja tapi pada akhirnya keseluruhan tubuh Sudarma telah berubah menjadi mumi.
“Terima kasih Atri, kau sudah menyanggupi permintaanku untuk memotong kepalaku, kini semuanya sudah usai. Kita dapat kembali ke dimensi tadi, dunia yang sedari awal kau buat” suara Aldi sangat lirih terdengar karena menahan rasa sakit. “Bawa serta jasadnya kembali ke sana juga bersama kita” pinta Aldi kepada Atri karena jika jasadnya kembali ke dunia nyata dia akan benar benar mati sesuai perhitungannya. “Baiklah, Aldi... Terima kasih banyak... Aku tak tahu harus berkata apa lagi”, air mata bercucuran deras menetes membasahi pipi putih nan mulus miliknya. “Pejamkan matamu, tenangkan dirimu, jangan buka matamu sampai aku katakan bukalah”, Atri memeluk kepala Aldi erat erat dan mulutnya mulai komat kamit dengan cepat. Tak lama kemudian, cahaya putih kembali bermunculan di sekeliling tubuh Atri. Cahaya itu semakin terang dan semakin terang menutupi seluruh hamparan dunia padang pasir buatannya. Seperti peristiwa sebelumnya saat Aldi akan berpindah dunia, berpindah dimensi bersama Atri.
----------------------------
Quote:
Mirna terbangun, “Aldi, kamu dimana?” teriaknya keras yang mengagetkan seluruh isi rumah. “Ono opo Nak? Kenapa kamu iki?” suara Ibu Mirna berlari mengejarnya kedalam kamar. Tepat ketika pintu dibuka oleh adiknya dan sepupunya yang disusul oleh Ibunya, mereka terkejut mendapati Mirna telah duduk di depan pintu. “Oalah, ono opo Nak? Kok bisa di situ? Eling Nak, Istighfar!” Ibu Mirna langsung menggenggam tangan anaknya yang sudah menjanda sekali. “Kakak kenapa? Mimpi ya Kak?” suara adik dan sepupunya saling bersahutan sebelum Mirna membuka mulutnya. “Gak... Aku gak papa Ma. Tadi aku pingsan. Tapi sebelumnya ada sesuatu datang...”, nadanya bergetar menandakan dia ketakutan hebat akan sesuatu hal yang menghampirinya di kamarnya sendiri. Mereka pun bergegas pindah ke ruang depan lalu Mirna menceritakan segalanya ke Ibu, adik dan sepupunya. “Cepat kalian panggil Bapak! Cepat kalian lari! Ini soal nak Aldi dan yang lainnya!” perintah Ibu Mirna kepada adik dan sepupunya untuk mengejar Ayah Mirna yang masih berada di pos ronda kampung bersama warga kampung lainnya.
erman123 dan sirluciuzenze memberi reputasi
2
Kutip
Balas