Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

romperstomperAvatar border
TS
romperstomper
Whiskey Lullaby (a collection of short stories)
Quote:

Whiskey Lullaby (a collection of short stories)
WHISKEY LULLABY
a collection of short stories about life, love... and whiskey

Whiskey Lullaby (a collection of short stories)
photograph by patheme@deviantart.com


He spent his whole life tryin' to forget
We watched him drink his pain away a little at a time
But he never could get drunk enough to get her off his mind

(Brad Paisley - Whiskey Lullaby)
Whiskey Lullaby (a collection of short stories)

INDEX

PROLOGUE
GLASS 1: UNTUK DESEMBER
GLASS 2 : PERTAMA UNTUK SELAMANYA (part 1)
GLASS 3 : JATUH UNTUK SELAMANYA (part 2)
GLASS 4 : A BROKEN ETERNITY (one-shot/fantasy)
GLASS 5 : BOTTLE OF WORDS (poetry)
GLASS 6 : ONE SWEET GLASS (part 3)
GLASS 7 : DRUNK RAMBLING (one-shot)
Diubah oleh romperstomper 15-10-2017 20:30
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
12.3K
31
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
romperstomperAvatar border
TS
romperstomper
#26

A BROKEN ETERNITY
(One-shot / Fiction / Fantasy / Supernatural)
kaskus-image



Mereka berkata kita seperti menari di atas bara api yang menyala merah. Kamu dan aku, terus menari dan berayun dengan tangan yang saling mendekap erat. Dengan kaki yang terus bergerak ringan meski telapaknya perlahan hangus hingga udara padat oleh bau daging yang membusuk. Mereka, segelintir kecil individu yang mengetahui rahasia kecil kita, selalu berkata bahwa kita seperti terjebak dengan sukarela dalam permainan maut Russian Roulette.Hanya tinggal menunggu waktu hingga pelatuk besi menumbuk satu-satunya peluru dan melesat menembus rangkaian kulit, daging dan tengkorak kepala; kamu atau aku. Dan kita pun mengetahui semuanya sejak awal, bahwa langkah dua pasang kaki di jalan yang kita ambil bersama hanya akan menemui jalan buntu.


Dan keabadian berubah menjadi sebuah kutukan, saat kematian tampak jauh lebih manis dibandingkan kehidupan selama berjuta-juta tahun dalam dilema yang hanya memiliki solusi pahit.


"Sampai kapan kita harus seperti ini? Mereka mulai curiga, terutama Gabriel."


Jawaban yang kamu inginkan tidak mudah kutemukan. Aku masih terus mencarinya di antara mulut yang membisu dan bunyi detik dari jam tua yang tergantung di sudut pub kecil ini. Disinilah sanctuary kita, sebuah suaka yang disepakati sebagai titik netral oleh kedua belah pihak yang berperang sejak awal hingga akhir masa. Disinilah tempat kita pertama kali bertemu, saling balas menatap, dan jatuh cinta. Tempat dimana aku bisa mendekapmu dengan erat tanpa harus cemas akan barisan tangan berpedang yang siap menebas putus kepalaku. Disinilah, di antara kerumunan manusia-manusia yang pongah, kita melepaskan segala identitas dengan bersembunyi di balik balutan kulit mortalitas dan menjadi tak lebih dari sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.


Kamu dan aku; di tempat ini tak lebih dari sekedar manusia yang dengan bebas saling mencintai tanpa syarat.


"Aku tak bisa... Luce, apa yang harus kulakukan?"


Kamu sudah memasuki titik pasrah. Aku tahu, karena suaramu mulai bergetar seiring sendu yang perlahan menggenangi sudut-sudut matamu. Tapi jawaban yang kamu cari tidak ada di ujung lidahku yang terasa kelu. Pun aku hanya mampu membisu dan menatapmu lekat dengan sepasang bola mata sekelam malam. Mungkin aku hanya bisa menunggu, sampai kamu menyadari bahwa jawaban itu sebenarnya sudah ada jauh di dalam relung hatimu. Bahwa jawaban itu sudah kita ketahui bersama sejak saat kita memutuskan untuk menjalin kasih yang terlarang ini.


Oh, Eloa. Keabadian di dalam neraka bukanlah hukuman untukku, aku memahaminya sekarang. Cinta yang kekal dan ditakdirkan tak akan pernah sempurna inilah yang memberangus sisa-sisa kepingan jiwa di dalam diri seorang pemberontak Tahta Surga sepertiku.




As she turned into the night
All he had was the words




Aku menyesap whiskeydari gelas yang sempat tergeletak terlupakan di atas meja. Sementara kamu tidak sekalipun menyentuh secangkir teh yang telah kehilangan kehangatannya itu. Seperti tempat ini, yang pernah terasa begitu hangat bagi kita namun kini dinginnya seolah menusuk hingga menembus tubuh manusia yang menjadi penyamaran kita. Kedua matamu masih menatapku lurus, seakan memohon kepadaku untuk mengatakan jawaban yang sudah kita berdua ketahui. Tapi kemampuanku berkata-kata sudah menguap, menghilang entah kemana. Mulutku yang sudah setengah terbuka pun hanya mampu menghela napas yang terasa begitu berat.


"Maaf... aku... kamu... tahu kan ini adalah jalan satu-satunya?"


Kamu mulai terisak di antara rangkaian kalimat yang terbalut pilu. Aku memejamkan mata untuk menahan sakit di dalam diriku yang terasa sangat asing. Dan ketika aku kembali membuka mata, sebutir air kulihat jatuh dari matamu dan membentuk garis yang membelah wajahmu. Begitu ingin aku mengusap duka yang membasahi matamu dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi kita berdua tahu persis seberapa besar kebohongan yang tersimpan di balik indahnya kalimat itu. Tidak ada yang baik-baik saja, ini adalah akhirnya. Kita berdua mencapai sepakat dalam kebisuan yang memaksa mulut tetap terkatup rapat.


Kamu yang pertama beranjak berdiri dari dudukmu. Mungkin hempasan kenangan yang kita berdua miliki di tempat ini juga menyerangmu, dan membuatmu terpaksa bergegas pergi dengan tangan yang sibuk mengusap mata yang tak berhenti meneteskan air. Tak apa, aku mengerti. Karena lebih lama lagi berada disini bisa membuatmu mengubah keputusan yang telah kamu ambil. Dan aku tahu tanpa perlu menoleh, suara derit pintu kayu tua yang kamu buka menjadi pertanda bahwa sebentar lagi aku akan kehilanganmu untuk selamanya.


"Aku tidak akan melupakanmu, Lucifer."




"I'm sorry I met you darling
I'm sorry I left you."





Keangkuhan yang bersarang di dalam diriku mencegah tubuhku untuk bangkit berdiri mengejarmu dan mendekapmu untuk terakhir kalinya. Keangkuhan, salah satu dari tujuh dosa paling mematikan dan menjadi identitasku untuk selamanya. Keangkuhan yang membuatku terjatuh untuk kedua kalinya dan kehilangan dua hal terindah yang pernah kumiliki; Surga dan Eloa. Kini hanya hampa yang tersisa bersama secangkir teh yang kehilangan pemiliknya. Mataku masih menatap lurus ke arah kursi kosong yang kamu tinggalkan. Lekat aku menatapnya, seakan masih ada sosokmu yang tersisa disana. Satu tarikan napas panjang yang kemudian terembus berat kembali menyadarkanku bahwa kamu telah pergi. Inilah kenyataan yang memang harus kutemui, seberapapun pahitnya. Tegukan terakhir dari segelas whiskey seakan membebaskan lidahku yang terkunci. Dan dengan suara berat, untuk pertama kalinya aku berbisik di senja ini.


"Aku mencintaimu, Eloa. Selamanya."



kaskus-image

*Terinspirasi dari sebuah puisi karya Alfred de Vigny yang berjudul "Eloa, or the Sister of the Angels" (puisi romantis yang bercerita tentang sosok malaikat perempuan bernama Eloa dan pertemuannya dengan Lucifer, malaikat yang jatuh dari Surga)
Diubah oleh romperstomper 23-07-2017 04:39
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.