- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.6K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#329
Part 11 - Tumpahnya Darah Orang Tak Berdosa
PART 11 - Tumpahnya Darah Orang Tak Berdosa
Quote:
Kedua tanganku menggenggam erat kedua tangannya. Perlahan lahan kutarik keduat tanganku disepanjang tangannya. Mengelus elus perlahan tangannya yang putih mulus itu. Kutekan dengan lembut kedua buah dadanya yang kurasa memiliki ukuran 36B. Dengan perlahan lahan ku ambil ancang ancang yang memberikan dia kenyamanan. Kutindih tubuhnya karena aku sudah mencapai posisi yang pas dan nyaman untukku dan terutama untuk “adik kecilku”. Wajahku dan wajahnya begitu rapat. Bibirku dan bibirnya saling berjumpa, mengecup tanpa henti. Entah apa yang merasuki aku sehingga aku pun menyentuhnya, seorang tuanp putri dari alam ghaib. Deru nafas kami berdua menggema di ruangan ini menutupi suara lainnya. Aku tak sadar kelima pasang mata itu terus menyaksikan kami tanpa sedikitpun memperingatkan kami bahkan berusaha menghentikan kami berdua. Di luar tampak matahari semakin condong ke barat. Menandakan bahwa dia bersiap terbenam, kembali ke singgasananya, beristirahat menyimpan energinya untuk keesokan harinya.
------------------------------------
Quote:
Kedua prajurit muda itu tampak kesal dengan kemarahan sang Jenderal. Wajah mereka berdua bak orang yang terluka namun lukanya disiram dengan air perasan jeruk nipis. Pedih, sakit, marah, tak puas bercampur aduk dalam benak mereka. Hari itu mereka dibebas tugaskan dari segala tanggung jawab mereka sebagai seorang prajurit. Apalagi ditengah ditengah perintah dari Jakarta untuk membasmi sisa sisa petinggi, pengikut dan simpatisan partai beraliran komunis itu. Mereka sebenarnya ragu dan bimbang terhadap seluruh korban yang telah mereka eksekusi sebelum sebelumnya. Ada keraguan dalam hati mereka, apakah mereka itu semua benar benar terlibat atau tidak? Tapi, mereka memilih menyimpan keraguan itu dalam hati mereka dan menuju kembali ke barak untuk menutup hari.
Pagi harinya mereka menghadap sang Jenderal untuk menerima surat mutasi mereka. Mereka dipindahkan dari kesatuan sang Jenderal kembali ke pulau Jawa. Mereka akan berangkat keesokan harinya dengan sebuah kapal penumpang dari terminal pelabuhan Belawan, Medan. Mereka bersyulur tidak mendapat hukuman berat akibat peristiwa itu. Kebahagiaan mereka tidak sepenuhnya benar benar bahagia karena dengan munculnya surat mutasi kembali ke kampung halaman itu adalah sebuah bencana besar buat mereka. Karena dengan adanya surat mutasi itu, secara “resmi” kedua prajurit muda itu akan tertutup jenjang karir kedepannya. Kesempatan untuk naik pangkat lebih tinggi sudah melayang hilang ke awan untuk beberapa saat kedepannya. Kalaupun mereka memilih kenaikan pangkat, itu akan terasa berat sekali. Terlebih masih carut marutnya pemerintahan Republik Indonesia. Belum lagi adanya pemberontakan ini, membuat negara ini tambah suram dan kelam.
Pagi harinya mereka menghadap sang Jenderal untuk menerima surat mutasi mereka. Mereka dipindahkan dari kesatuan sang Jenderal kembali ke pulau Jawa. Mereka akan berangkat keesokan harinya dengan sebuah kapal penumpang dari terminal pelabuhan Belawan, Medan. Mereka bersyulur tidak mendapat hukuman berat akibat peristiwa itu. Kebahagiaan mereka tidak sepenuhnya benar benar bahagia karena dengan munculnya surat mutasi kembali ke kampung halaman itu adalah sebuah bencana besar buat mereka. Karena dengan adanya surat mutasi itu, secara “resmi” kedua prajurit muda itu akan tertutup jenjang karir kedepannya. Kesempatan untuk naik pangkat lebih tinggi sudah melayang hilang ke awan untuk beberapa saat kedepannya. Kalaupun mereka memilih kenaikan pangkat, itu akan terasa berat sekali. Terlebih masih carut marutnya pemerintahan Republik Indonesia. Belum lagi adanya pemberontakan ini, membuat negara ini tambah suram dan kelam.
------------------------------------
Quote:
Tetes demi tetes hujan menggempur bumi dengan begitu hebatnya. Mmbasahi seluruh tanah, pepohonan dan bangunan rumah di desa Sari Makmur malam ini. Ayahku memilih untuk tetap di rumah menemani Ibuku. Wajah mereka tampak muram, bercak bekas tangisan terlihat jelas dipipi Ibuku. Di ruangan depan rumahku, kerabatku mulai datang dari kampung tetangga untuk menemani orang tuaku. Mereka mengetahui kabar mengenai nasibku setelaha Ayahku menghubungi mereka. Meskipun hujan mereka tetap datang kerumahku.
Tak berapa lama, Pak Kepling datang ke rumah untuk memeriksa keadaan di rumahku. “Pak Kpeling toh, silahkan masuk. Maaf ini lagi datang Pakde nya si Aldi, ada Buklek nya juga datang” sambut Ayahku. “Gak papa Pak. Ini saya mau membicarakan persiapan besok pagi kita akan berangkat kesana. Karena dari Bapak Bapak Polisi dan TNI akan tiba besok pagi. Apakah Bapak ikut serta?” Pak Kepling langsung ke sasaran pembicaraan sambil duduk di sofa panjang. Ayahku lantas mengangguk saja dan semenit kemudian berkata, “Saya ikut Pak, karena itu anak saya disana. Saya wajib mengetahui kondisinya. Apapun yang terjadi saya sudah siap” mata Ayahku berkaca kaca menahan perasaannya.
Tak berapa lama, Pak Kepling datang ke rumah untuk memeriksa keadaan di rumahku. “Pak Kpeling toh, silahkan masuk. Maaf ini lagi datang Pakde nya si Aldi, ada Buklek nya juga datang” sambut Ayahku. “Gak papa Pak. Ini saya mau membicarakan persiapan besok pagi kita akan berangkat kesana. Karena dari Bapak Bapak Polisi dan TNI akan tiba besok pagi. Apakah Bapak ikut serta?” Pak Kepling langsung ke sasaran pembicaraan sambil duduk di sofa panjang. Ayahku lantas mengangguk saja dan semenit kemudian berkata, “Saya ikut Pak, karena itu anak saya disana. Saya wajib mengetahui kondisinya. Apapun yang terjadi saya sudah siap” mata Ayahku berkaca kaca menahan perasaannya.
------------------------------------
Quote:
Aku terbangun dipelukan tuan putri, Atri. Tubuhnya begitu harum, menusuk hidungku dengan wewangian bunga yang semerbak. Aku melihat keadaan sekitar, kulihat mereka berlima masih ada. Aku lantas memeriksa pakaianku, ah sudah terpasang kembali lengkap. Begitu juga pakaian Atri, sang tuan putri pakaiannya sudah kembali. Aku pikir mereka semua sudah terbangun, tapi kali ini mereka tertidur begitu juga dengan Atri. Aneh, kenapa hantu bisa tidur pikirku. Kuperhatikan wajahnya dengan seksama. Ku elus perlahan pipinya, hidungnya dan bibirnya. Tanpa sadar jemari tanganku mulai turun ke arah lehernya dan terus turun. Jemari tangan kananku kini menari nari diatas belahan buah dadanya. Entah mengapa aku terdiam cukup lama disitu, mungkin sekitar 5 menit. Lalu jari jari ini terus turun ke arah perutnya. Kuelus elus perutnya yang langsing itu selayaknya aku mengelus elus perut Mirna. Dengan cepat kutarik tanganku dari atas perutnya disusul badanku yang langsung melompat turun dari atas badannya. Aku sadar aku salah, aku ingin meminta maaf kepadamu Mirna.
Aku keluar menuju pintu rumah itu. Aku duduk disebelah dalam pintu rumah itu karena aku tidak ingin terlihat oleh para prajurit itu. Aku berjaga jaga seandainya keajaiban ilmu ghaib sang tuan putri tiba tiba hilang dan kami langsung terlihat oleh prajurit prajurit itu maupun rakyat lainnya. Sebuah tangan menepuk pundakku. Aku terkejut dan lagsung memegang tangan itu. “Aldi, bagaimana perasaanmu? Kamu marah?” Atri ternyata yang mengagetkanku. “Tidak, aku tidak marah. Hanya saja aku kesal dan kecewa” sambungku dengan wajah tertunduk. “Kepada siapa? Mirna bukan?”. “Hah? Tolong jangan ganggu dia juga, Atri. Aku minta tolong, aku mohon” pintaku lirih menatap wajahnya. “Tidak, aku tidak mengganggunya. Dia sekarang aman bersama orang tuanya, meskipun dia terus menangis mengkhawatirkanmu sekarang ini di kamarnya”. Aku lega mendengar jawabannya sekaligus sedih.
“Kamu penasaran dengan tengkorak tengkorak itu Aldi?” sambung Atri. “Iya, aku penasaran. Karena mereka sepertinya mati tidak wajar”. “Kamu ingin melihat bagaimana mereka disaat saat terakhir mereka?”. “Baiklah, aku ingin. Tapi hanya padaku saja. Tidak pada mereka. Mereka tak akan kuat melihat darah nantinya” aku berpaling melihat ke arah mereka berlima yang tertidur pulas dan tersenyum. “Baiklah, pegang kedua tanganku, kita akan melompat menuju waktu yang sudah terlampau jauh”. Aku tak perduli, aku langsung memeluknya bukan memegang kedua tangannya. “Tutup matamu, saat kukatakan buka matamu, bukalah matamu perlahan lahan”. “Lantas bagaimana mereka? Apakah akan tetap aman disini?”. “Tenang saja, mereka akan tetap aman”. Kututup mataku, tanganku memeluk tubuhnya erat. Terasa sebuah getaran menjalar disekujur tubuhku.
“Aldi, buka matamu” suara Atri memanggilku pertanda ini saatnya. Aku pun membuka kedua mataku. Tidakkk.... Aku berada dibelakang barisan orang orang. Aku berusaha bersembunyi dibelakang Atri agar tidak tertangkap prajurit prajurit itu pikirku. “Tenang, jangan bersembunyi, tidak apa apa. Ini hanya sebuah pantulan gambaran masa lalu. Sebuah bias cahaya dari peristiwa memilukan nyawa nyawa tak berdosa harus tumpah sia sia karena ambisi merebut tahta”. Bak seorang penyair, kata katanya menghipnotisku, meyakinkan kedua kakiku untuk berdiri disampingnya. Barisan orang orang ini terpisah berdasarkan usia dan kelaminnya. Di sebelah kananku ada kumpulan lelaki remaja dan dewasa, di depanku ada sekumpulan wanita remaja dan dewasa, di sebalah kiriku ada kumpulan orang tua dari berbagai usia dan terakhir jauh disana di pisahkan oleh sederet pasukan bersenjata lengkap adalah anak anak yang menangis terus menerus melihat orang tuanya.
“Diam kalian semua!!! Atau kalian mati!!!” suara itu mengagetkanku. Suara yang cukup keras dari belakangku berhasil membuat semuanya diam, hening tanpa suara bahkan termasuk anak anak itu. Aku memalingkan wajahku untuk melihat sumber suara tersebut. aku kaget bukan main, bak tersengat listrik bertegangan tinggi aku terkejut melihat wajahnya. Aku seperti melihat diriku disana. Melihat kembaran diriku yang membawa pedang panjang menghunus kedepan. Wajahnya sama persis denganku, mulai dari mata, hidung, mulut bahkan rambutku juga. Aku menatap tuan putri dan berkata, “Dia itu Sudarma?”. “Ya, benar Aldi. Lelaki tak bermoral itu adalah Sudarma. Dia sangat mirip denganmu bahkan seperti kembaranmu” jawabnya dengan nada yang penuh amarah dan kebencian.
“Bawa yang lelaki ke lubang disana! Bariskan mereka satu persatu! Dudukkan mereka ditanah!” teriak Sudarma ke prajuritnya. Lantas barisan pria tersebut digiring ke arah sebuah lubang besar disana. Para prajurit dengan bersenjatakan pedang yang tajam dan tombak panjang langsung mengepung mereka, menghunuskan pedang dan tombak mereka ke arah pria pria tersebut. Sudarma langsung berdiri dihadapan mereka. “Aku raja kalian! Kalian mengerti?” teriak Sudarma keras. “Sekali lagi, aku ini raja kalian! Yang mengakuiku raja silahkan bersujud didepanku sekarang!”. Pria pria tersebut saling bertatapan mata satu sama lain, memandang penuh kosong dengan kebimbangan. Tiba tiba seorang remaja pria bangkit dan menuju kedepan Sudarma lalu bersujud dihadapannya. Tak lama kemudian disusul hanya sekitar 15 orang saja. Sisanya memandang 16 orang remaja pria tersebut dengan penuh kekecewaan dan marah.
“Bagus! Kalian memang bagus, jadi kalian tak mengakuiku ya!” teriakannya disambut dengan aksi meludah ke tanah oleh beberapa pria. “Baiklah, bunuh mereka semua yang tidak mau mengakuiku!” teriak Sudarma keras yang disusul para prajuritnya mulai berteriak juga. para wanita tampak menangis dan bersedih, sedangkan para orang tua marah dan berkomat kamit mengutuk Sudarma. Anak anak yang terpisah disana hanya menangis ketika melihat para prajurit Sudarma mulai menumpahkan darah Abang, Ayah, Paman, Kakek dan kerabatnya. Pemandangan itu membuatku lemas, emosiku naik. Tapi apa daya, aku tak sanggup karena aku sadar ini sudah terjadi lama sekali dan ini merupakan sebuah kilas balik dari tuan putri.
Dengan beringasnya para prajurit itu mengayunkan pedangnya membabi buta segala arah ke mereka. Wajah wajah rakyat tak berdosa itu hanya bisa pasrah ketika pembantaian brutal ini dimulai. Kualihkan mataku ke satu sudut. Di sudut itu aku melihat seorang prajurit mengayunkan pedangnya ke kepala seseorang. Pedang tersebut menancap erat di tengah tengah kepala pria itu, membuat darah tersembur keluar dengan sangat deras. Matanya melotot tajam ke arah prajurit yang menghabisi nyawanya. Pedang tersebut ternyata menancap dengan erat sehingga prajurit itu kesulitan mencabutnya. Tak habis pikir, diambilnya sebuah batu besar dan langsung menghantamkannya ke kepala pria tersebut. Kraaakkkk.... Pecahlah kepala pria tersebut, hancur hingga seluruh isi otaknya keluar berserakan sementara tangan dan kakinya masih bergerak gerak mengejang hebat menahan rasa sakit.
Disudut lainnya seorang pria dengan tangan terikat mendapat sambutan sebilah tombak yang sangat tajam dan runcing tepat diperutnya. Seorang prajurit menghantamkan tombaknya ke perut pria itu. Mengalirlah daras berwarna merah muda yang kental dari perutnya. Belum habis sampai disitu, prajurit tadi tertawa sekuat kuatnya langsung menggerakkan tombaknya kesamping, membuat lubang besar di perut pria itu. Tak ayal lagi, usus, hati, lambung dan lainnya keluar berhamburan dari perutnya. Darah terlihat bermuncratan dari lubang di perutnya. Wajah pria tersebut mulai kaku dengan nafas yang hanya tinggal satu persatu. Keberingasan prajurit itu belum selesai, bak menggulung mie sebelum dimakan, diputarnya tombaknya menggulung usus pria itu. Lalu menariknya sekuat tenaganya hingga jantungnya pun terlepas keluar. Mengerikan sekali, karena jantung itu masih berdetak kencang diluar tubuh pria tersebut.
Di lain tempat, seorang pria tampak dipegang oleh dua orang prajurit. Dengan posisi terduduk dan tangan terikat dibelakang serta seorang prajurit memegangnya dari belakang, pria tersebut hanya bisa pasarah ketika prajurit kedua menancapkan pedang kedadanya. Lalu prajurit itu menarik pedangnya terus menuju ke arah perut pria itu hingga ke selangkangannya. Wajah pria tersebut menggeleng hebat, bergetar getar menahan rasa sakitnya. Darah merah yang kental mulai keluar dari mulutnya. Badannya yang kini mulai terbelah akan menghadapi siksaan baru. Belum genap dia menghembuskan nyawanya dengan badan setengah terbelah, kedua prajurit itu mengambil posisi menarik salah satu kakinya ke arah berlawanan. Creeessttttt... Tubuh pria itu tambah terbelah hingga ke lehernya, memuntahkan seluruh isi rongga tubuhnya keluar dengan darah yang begitu segar.
Seorang prajurit dengan badan tinggi besar melompat ke tengah arena pembantaian. Dia mengeluarkan senjata aneh seperti kampak. Tidak memilih milih korbannya, dia langsung mengayunkan senjata itu tepat ke kepala seorang pria. Suaranya mengerikan, memilukan hati. Senjata itu langsung menembus kepalanya hingga ke dagunya. Prajurit tersebut tertawa keras, menggoyangkan lemak diperutnya ke atas dan kebawah. Lalu prajurit itu mengangkat kakinya ke dada si korban. Tanpa aba aba dia langsung menarik senjatanya dengan kaki menahan badan korban. Muka pria itu hancur berserak keluar. Otaknya meleleh, mengalir kaluar dari tempurung kepalanya. Badannya mulai mengejang hebat disertai muncratan darah segar bak penyembelihan hewan di rumah jagal. Sebilah pedang dikeluarkan dari belakang prajurit itu dan mengayunkannya tepat ke pinggang pria itu. Edan! Sekali tebas! Pria itu langsung terbelah menjadi dua!
Aku keluar menuju pintu rumah itu. Aku duduk disebelah dalam pintu rumah itu karena aku tidak ingin terlihat oleh para prajurit itu. Aku berjaga jaga seandainya keajaiban ilmu ghaib sang tuan putri tiba tiba hilang dan kami langsung terlihat oleh prajurit prajurit itu maupun rakyat lainnya. Sebuah tangan menepuk pundakku. Aku terkejut dan lagsung memegang tangan itu. “Aldi, bagaimana perasaanmu? Kamu marah?” Atri ternyata yang mengagetkanku. “Tidak, aku tidak marah. Hanya saja aku kesal dan kecewa” sambungku dengan wajah tertunduk. “Kepada siapa? Mirna bukan?”. “Hah? Tolong jangan ganggu dia juga, Atri. Aku minta tolong, aku mohon” pintaku lirih menatap wajahnya. “Tidak, aku tidak mengganggunya. Dia sekarang aman bersama orang tuanya, meskipun dia terus menangis mengkhawatirkanmu sekarang ini di kamarnya”. Aku lega mendengar jawabannya sekaligus sedih.
“Kamu penasaran dengan tengkorak tengkorak itu Aldi?” sambung Atri. “Iya, aku penasaran. Karena mereka sepertinya mati tidak wajar”. “Kamu ingin melihat bagaimana mereka disaat saat terakhir mereka?”. “Baiklah, aku ingin. Tapi hanya padaku saja. Tidak pada mereka. Mereka tak akan kuat melihat darah nantinya” aku berpaling melihat ke arah mereka berlima yang tertidur pulas dan tersenyum. “Baiklah, pegang kedua tanganku, kita akan melompat menuju waktu yang sudah terlampau jauh”. Aku tak perduli, aku langsung memeluknya bukan memegang kedua tangannya. “Tutup matamu, saat kukatakan buka matamu, bukalah matamu perlahan lahan”. “Lantas bagaimana mereka? Apakah akan tetap aman disini?”. “Tenang saja, mereka akan tetap aman”. Kututup mataku, tanganku memeluk tubuhnya erat. Terasa sebuah getaran menjalar disekujur tubuhku.
“Aldi, buka matamu” suara Atri memanggilku pertanda ini saatnya. Aku pun membuka kedua mataku. Tidakkk.... Aku berada dibelakang barisan orang orang. Aku berusaha bersembunyi dibelakang Atri agar tidak tertangkap prajurit prajurit itu pikirku. “Tenang, jangan bersembunyi, tidak apa apa. Ini hanya sebuah pantulan gambaran masa lalu. Sebuah bias cahaya dari peristiwa memilukan nyawa nyawa tak berdosa harus tumpah sia sia karena ambisi merebut tahta”. Bak seorang penyair, kata katanya menghipnotisku, meyakinkan kedua kakiku untuk berdiri disampingnya. Barisan orang orang ini terpisah berdasarkan usia dan kelaminnya. Di sebelah kananku ada kumpulan lelaki remaja dan dewasa, di depanku ada sekumpulan wanita remaja dan dewasa, di sebalah kiriku ada kumpulan orang tua dari berbagai usia dan terakhir jauh disana di pisahkan oleh sederet pasukan bersenjata lengkap adalah anak anak yang menangis terus menerus melihat orang tuanya.
“Diam kalian semua!!! Atau kalian mati!!!” suara itu mengagetkanku. Suara yang cukup keras dari belakangku berhasil membuat semuanya diam, hening tanpa suara bahkan termasuk anak anak itu. Aku memalingkan wajahku untuk melihat sumber suara tersebut. aku kaget bukan main, bak tersengat listrik bertegangan tinggi aku terkejut melihat wajahnya. Aku seperti melihat diriku disana. Melihat kembaran diriku yang membawa pedang panjang menghunus kedepan. Wajahnya sama persis denganku, mulai dari mata, hidung, mulut bahkan rambutku juga. Aku menatap tuan putri dan berkata, “Dia itu Sudarma?”. “Ya, benar Aldi. Lelaki tak bermoral itu adalah Sudarma. Dia sangat mirip denganmu bahkan seperti kembaranmu” jawabnya dengan nada yang penuh amarah dan kebencian.
“Bawa yang lelaki ke lubang disana! Bariskan mereka satu persatu! Dudukkan mereka ditanah!” teriak Sudarma ke prajuritnya. Lantas barisan pria tersebut digiring ke arah sebuah lubang besar disana. Para prajurit dengan bersenjatakan pedang yang tajam dan tombak panjang langsung mengepung mereka, menghunuskan pedang dan tombak mereka ke arah pria pria tersebut. Sudarma langsung berdiri dihadapan mereka. “Aku raja kalian! Kalian mengerti?” teriak Sudarma keras. “Sekali lagi, aku ini raja kalian! Yang mengakuiku raja silahkan bersujud didepanku sekarang!”. Pria pria tersebut saling bertatapan mata satu sama lain, memandang penuh kosong dengan kebimbangan. Tiba tiba seorang remaja pria bangkit dan menuju kedepan Sudarma lalu bersujud dihadapannya. Tak lama kemudian disusul hanya sekitar 15 orang saja. Sisanya memandang 16 orang remaja pria tersebut dengan penuh kekecewaan dan marah.
“Bagus! Kalian memang bagus, jadi kalian tak mengakuiku ya!” teriakannya disambut dengan aksi meludah ke tanah oleh beberapa pria. “Baiklah, bunuh mereka semua yang tidak mau mengakuiku!” teriak Sudarma keras yang disusul para prajuritnya mulai berteriak juga. para wanita tampak menangis dan bersedih, sedangkan para orang tua marah dan berkomat kamit mengutuk Sudarma. Anak anak yang terpisah disana hanya menangis ketika melihat para prajurit Sudarma mulai menumpahkan darah Abang, Ayah, Paman, Kakek dan kerabatnya. Pemandangan itu membuatku lemas, emosiku naik. Tapi apa daya, aku tak sanggup karena aku sadar ini sudah terjadi lama sekali dan ini merupakan sebuah kilas balik dari tuan putri.
Dengan beringasnya para prajurit itu mengayunkan pedangnya membabi buta segala arah ke mereka. Wajah wajah rakyat tak berdosa itu hanya bisa pasrah ketika pembantaian brutal ini dimulai. Kualihkan mataku ke satu sudut. Di sudut itu aku melihat seorang prajurit mengayunkan pedangnya ke kepala seseorang. Pedang tersebut menancap erat di tengah tengah kepala pria itu, membuat darah tersembur keluar dengan sangat deras. Matanya melotot tajam ke arah prajurit yang menghabisi nyawanya. Pedang tersebut ternyata menancap dengan erat sehingga prajurit itu kesulitan mencabutnya. Tak habis pikir, diambilnya sebuah batu besar dan langsung menghantamkannya ke kepala pria tersebut. Kraaakkkk.... Pecahlah kepala pria tersebut, hancur hingga seluruh isi otaknya keluar berserakan sementara tangan dan kakinya masih bergerak gerak mengejang hebat menahan rasa sakit.
Disudut lainnya seorang pria dengan tangan terikat mendapat sambutan sebilah tombak yang sangat tajam dan runcing tepat diperutnya. Seorang prajurit menghantamkan tombaknya ke perut pria itu. Mengalirlah daras berwarna merah muda yang kental dari perutnya. Belum habis sampai disitu, prajurit tadi tertawa sekuat kuatnya langsung menggerakkan tombaknya kesamping, membuat lubang besar di perut pria itu. Tak ayal lagi, usus, hati, lambung dan lainnya keluar berhamburan dari perutnya. Darah terlihat bermuncratan dari lubang di perutnya. Wajah pria tersebut mulai kaku dengan nafas yang hanya tinggal satu persatu. Keberingasan prajurit itu belum selesai, bak menggulung mie sebelum dimakan, diputarnya tombaknya menggulung usus pria itu. Lalu menariknya sekuat tenaganya hingga jantungnya pun terlepas keluar. Mengerikan sekali, karena jantung itu masih berdetak kencang diluar tubuh pria tersebut.
Di lain tempat, seorang pria tampak dipegang oleh dua orang prajurit. Dengan posisi terduduk dan tangan terikat dibelakang serta seorang prajurit memegangnya dari belakang, pria tersebut hanya bisa pasarah ketika prajurit kedua menancapkan pedang kedadanya. Lalu prajurit itu menarik pedangnya terus menuju ke arah perut pria itu hingga ke selangkangannya. Wajah pria tersebut menggeleng hebat, bergetar getar menahan rasa sakitnya. Darah merah yang kental mulai keluar dari mulutnya. Badannya yang kini mulai terbelah akan menghadapi siksaan baru. Belum genap dia menghembuskan nyawanya dengan badan setengah terbelah, kedua prajurit itu mengambil posisi menarik salah satu kakinya ke arah berlawanan. Creeessttttt... Tubuh pria itu tambah terbelah hingga ke lehernya, memuntahkan seluruh isi rongga tubuhnya keluar dengan darah yang begitu segar.
Seorang prajurit dengan badan tinggi besar melompat ke tengah arena pembantaian. Dia mengeluarkan senjata aneh seperti kampak. Tidak memilih milih korbannya, dia langsung mengayunkan senjata itu tepat ke kepala seorang pria. Suaranya mengerikan, memilukan hati. Senjata itu langsung menembus kepalanya hingga ke dagunya. Prajurit tersebut tertawa keras, menggoyangkan lemak diperutnya ke atas dan kebawah. Lalu prajurit itu mengangkat kakinya ke dada si korban. Tanpa aba aba dia langsung menarik senjatanya dengan kaki menahan badan korban. Muka pria itu hancur berserak keluar. Otaknya meleleh, mengalir kaluar dari tempurung kepalanya. Badannya mulai mengejang hebat disertai muncratan darah segar bak penyembelihan hewan di rumah jagal. Sebilah pedang dikeluarkan dari belakang prajurit itu dan mengayunkannya tepat ke pinggang pria itu. Edan! Sekali tebas! Pria itu langsung terbelah menjadi dua!
erman123 dan sirluciuzenze memberi reputasi
2
Kutip
Balas