- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#1682
Halo, ini Elisa,
Maafkan aku, tadinya mau update tadi pagi tapi ternyata tidak sempat.
Maaf juga untuk lanjutannya yang sepertinya tidak terlalu panjang dan tidak seru.
Thanks
Elisa
- Bagian kedua (akhir)
Terlepas dari keengganan Ayano untuk membicarakannya denganku. Tapi aku mengetahui perihal bahwa semenjak terlibat dalam duniaku. Maksudnya berhubungan dengan ‘mereka’, Ayano mulai membaca-baca dan mengumpulkan banyak sekali artikel mengenai ‘mereka’.
Aku tidak pernah membaca catatan itu, dan Ayano-pun tidak pernah membuatku membacanya. Dia sangat mengetahui kalau aku tidak terlalu suka mengetahui mengenai ‘mereka’ lebih banyak. Dan Ayano sendiri sudah mengatakan kalau sebaiknya aku tidak membaca catatan-catatan itu karena beresiko.
Ayano mengatakan, meskipun ada beberapa catatan yang sepertinya fiksi atau palsu, tapi banyak juga yang menurutnya adalah catatan asli. Dan beberapa catatan itu dalam Bahasa inggris.
Dan Ayano pernah memperlihatkan padaku sekilas salah satu catatan yang katanya berisi mantra pemanggilan yang diberikan kepadanya dari salah seorang anggota forum yang memang menyediakan informasi seperti itu. Kami tidak mengerti isi catatan itu sebenarnya, tapi anggota forum itu menunjukkan salah satu ayat pada catatan berbentuk kitab itu, dan memberikan terjemahannya pada Ayano dalam bentuk alphabet agar dapat dibaca. Namun Ayano tidak pernah membacanya karena curiga kalau itu adalah ayat yang dipergunakan untuk memanggil ‘mereka’ atau semacamnya.
Aku mengingat hal itu karena Ayano pernah menceritakan soal itu kepadaku.
Dan pada waktu itu, entah apa yang kupikirkan. Tapi aku rasa, kemarahan sudah terlalu menguasai diriku sehingga aku terpikirkan hal yang sangat bodoh itu.
Aku akan mencari catatan itu. Sepertinya aku mengetahui di mana Ayano menyimpannya di apartementnya.
Setelah menyerahkan giliran menjaga Ayano kepada Desy, gadis yang merupakan temanku dan Ayano sekaligus merupakan mantan dari Ayano (mungkin beberapa dari pembaca mengetahui siapa gadis ini), aku pulang dengan dalih ingin mandi dan berganti baju terlebih dahulu.
Tapi alih-alih pulang ke kost, aku berbelok dan pergi ke apartment tempat tinggal Ayano.
Setelah masuk, dengan segera aku berjalan ke arah ruangan yang dijadikan Ayano sebagai ruangan kerja dan perpustakaannya untuk mencari catatan itu.
Dengan mudah aku mendapatkannya di dalam buku kliping berisikan hasil scan, print dan copy dari berbagai artikel.
Tapi aku mencari kumpulan artikel yang khusus. Dan dengan mudah mendapatkannya.
Artikel berbentuk kumpulan foto dari semacam kertas kuno. Dan di tengah-tengah lembaran kumpulan foto itu, terdapat lipatan kertas yang disimpan di dalam plastik yang di staples ke lembaran dengan rapi oleh Ayano.
‘Ini dia…’ pikirku.
Aku membuka lembaran itu dengan hati-hati dan dengan rasa takut di hatiku.
Lembaran itu berisikan deretan alphabet, yang aku tidak tau apa artinya dan bagaimana cara membacanya.
Maka aku membacanya dalam lafal yang kutahu dengan membacanya tanpa putus “---------------------“ ucapku membaca deretan huruf itu.
Tidak terjadi apa-apa….
Aku memperhatikan deretan alphabet itu dengan lebih saksama. Tidak ada tanda baca atau apapun.
Apa cara membacanya dengan cara bahasa inggris? Ah tidak mungkin… deretan kata ini terlalu aneh kalau dibaca dalam bahasa inggris.
“Uhummm!!” gumamku membersihkan tenggorokan “---------------------------------“ kataku membaca deretan huruf itu sekali lagi.
‘BRAKKKK!!!”
Aku melompat kaget saking terkejutnya.
Tidak mungkin…
Pintu lemari kayu yang lumayan berat itu berayun menutup dengan kencang. Hal yang mustahil terjadi karena ini ruangan tertutup. Bahkan akan membutuhkan tiupan angin yang luar biasa kencang apabila mau membanting pintu kayu lemari itu yang cukup berat.
‘SSSYUTTT’
Aku merasakan semilir angin dingin pada tengkukku.
Aku menatap ke belakangku dengan reflex.
Tidak ada apapun…
Tidak ada sosok apapun yang tiba-tiba berdiri di belakangku atau apapun…
Sama sekali tidak ada…
Dan aku yakin sekali kalau semilir angin yang kurasakan bukan berasal dari AC, karena tempatku berdiri jauh dari AC.
Kemudian aku menyadari kertas yang masih kupegang dengan erat.
Apa mungkin?
Dan aku melakukannya.
Membacanya lagi untuk yang ketiga kalinya.
“-------------------------------“ bacaku.
Kali ini tidak terjadi apapun saat kutunggu.
Aku memperhatikan jam digital yang terletak di meja kerja Ayano.
1 menit….
2 menit….
3 menit….
Dan pada saat aku hendak membaca ulang kertas tersebut, tiba-tiba aku merasakan sensasi seakan mataku terbakar.
“AHHHH!!!!”
Rasa terbakar di mataku membuatku melemparkan diri ke lantai dan meronta-ronta.
Dan tiba-tiba semuanya menghilang.
Yang kumaksudkan dengan hilang bukanlah hilangnya sakit pada mataku.
Tapi semuanya.
Semuanya menjadi gelap…
Gelap gulita…
Aku bahkan tidak bisa merasakan tangan dan kakiku.
Aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Bahkan aku tidak bisa merasakan apakah aku masih bernafas?
Semuanya gelap gulita dan sunyi.
Tidak ada apapun…
Aku ingin berteriak…
Tapi bahkan aku tidak bisa merasakan mulutku terbuka atau menutup…
Aku benar-benar terkurung dalam kegilaan ini…
Entah berapa lama waktu berlalu… aku ingat kalau aku sudah sempat memutar ingatan-ingatanku yang tersebar dan sepotong-sepotong pada pikiranku.
Aku mengingat momen-momen yang telah terjadi pada hidupku…
Dari ingatanku itu, yang paling jelas adalah ingatan yang baru terjadi padaku.
Dan kemudian aku mengingat tentang Ayano.
Ingatanku memutar semua memori yang bisa kuingat tentang cowok itu.
Kata-katanya…
Gerak-geriknya…
Tindakannya…
Keberadaannya….
Aku mulai putus asa…
Aku sangat yakin kalau aku sedang menangis saat ini, tapi bahkan suara tangisanku tidak dapat kudengar dan tetesan air mata yang seharusnya terasa mengalir dari mataku? Aku juga tidak bisa merasakannya.
Akhirnya ingatan yang terputar di benakku berubah…
Kali ini bukan ingatan-ingatan bahagia yang kuputar.
Tapi ingatan-ingatan yang tidak ingin kuingat lagi.
Ingatan-ingatan tentang ‘mereka’…
Ingatan-ingatan tentang siksaan-siksaan yang pernah kurasakan…
Ingatan-ingatan sedih ketika dunia menolakku karena ‘kutukan’ dari mataku ini…
Semuanya terputar dengan sangat jelas hingga menyebabkan suatu tempat dalam diriku merasakan sakit.
Aneh juga…
Padahal aku sama sekali tidak bisa merasakan badanku…
Tapi kenapa hati ini masih saja bisa merasakan sakit?
Ingatan itu terus berputar…..
Hingga tiba pada satu ingatan yang tergambarkan dengan sangat jelas.
Ingatan dimana aku mulai mendapatkan ‘kutukan’ ini.
Gambaran si ‘mahluk’ iblis merah kecil itu tergambar dengan jelas, suaranya juga dapat kuingat dengan jelas.
“Mahluk bodoh”
Aku terkejut, walaupun tidak bisa menunjukkannya karena masih tidak bisa merasakan apapun. Tapi jelas aku mendengar suara dari ‘mahluk’ iblis merah kecil yang baru saja kuputar dalam ingatanku.
“Mencariku? Heh?”
Suara itu kembali terdengar dari sebelah kiri… aku tidak tau darimana aku mengira hal itu, tapi aku seperti merasakan hal itu. Suaranya terdengar hanya dari sebelah kiri…
“Bodoh!! HAHAHAHAHAHA”
Suara itu berkata melecehkanku.
“Tidak sangka ada yang sebodoh itu mencariku untuk yang kedua kalinya”
“Sampah!!”
“HEI JAWAB!!!”
Suara itu menggelegar di dalam kepalaku. Seandainya aku masih bisa merasakan wajahku, aku yakin saat ini aku pasti sedang meringis.
“Oh aku lupa”
“Bagaimana rasanya heh?”
“Itu bayaran untuk memanggil kami!!”
“Semua ada bayarannya!! HAHAHAHAHA”
“Tapi aku akan memberikanmu pilihan”
“Kau mau mendapatkan kekuatan?”
“Aku akan memberikannya”
“Tapi seperti biasa, aku akan meminta satu nyawa sebagai penggantinya”
“Kau tidak mengerti? Dasar bodoh!!”
“Kau tidak sadar hah? Untuk mendapatkan kemampuanku, aku mengambil satu nyawa orang di dekatmu sebagai gantinya”
“Aku mengambil nyawa nenekmu yang menyayangimu sebagai ganti memberikan ‘mata’ itu padamu”
(Iya, nenek kandungku yang sangat kusayang memang meninggal sesaat setelah adikku lahir)
“Aku mengambil nyawa pria yang berharga bagimu sebagai ganti kemampuan melihat aura”
(…. Aku baru menyadari kalau ‘mahluk’ ini sedang membicarakan soal Robert)
“Sayang si ********* tidak mengambil apapun darimu ketika memberikanmu kemampuan bodoh itu”
(Sepertinya dia sedang mengatakan mengenai si ‘mahluk’ yang memberikanku kemampuan terawang. Yang membuatku kaget, nama yang disebutkan itu menurut Ayano juga salah satu dari anggota legium).
“Tapi tidak apa, aku akan memberikanmu kemampuan untuk menyakiti mahluk dari bagianku sesukamu”
“Tapi aku akan meminta bayaran, seperti biasa, HAHAHAHAHA”
“Harganya murah.. Aku hanya minta dia!”
Dan pada saat itu, gambar Ayano muncul dalam benakku.
Aku mencoba berteriak ‘TIDAKK!!’ dalam kepalaku dan merasakan marah karena tidak ada suara apapun yang bisa keluar dari diriku saat ini.
“Oh ya? Apa kamu tidak ingin membalas dendam?”
“Ayolah, bodoh, kamu sudah banyak disakiti oleh mahluk dari bagianku selama ini kan? Bukankah rasanya akan enak untuk melihat mereka menderita hanya dengan melihat mereka dengan ‘mata’mu itu?”
“Dibanding itu, bukankah nyawa dia menjadi sangat murah?”
“PIkirkan dengan baik, bukankah tawaran ini menggiurkan?”
“HENTIKAN ITU!!!”
Dia membentakku ketika aku berusaha dengan keras mengucapkan doa pada benakku.
Dan seketika, aku bisa melihat dalam benakku bayangan Ayano yang mati berlumuran darah, seluruh isi perutnya tercecer di jalanan. Matanya seakan menatap ke arahku. Pandangan mata penuh dengan terror menatapku.
Aku berteriak sekencangnya dalam benakku.
“Coba kalau berani lagi, akan kuberikan yang lebih sadis lagi!”
Aku menangis lagi… di dalam benakku…. sebab hanya itulah yang dapat kulakukan…
“Pikirkanlah!!”
Dalam benakku kembali terputar saat-saat siksaan yang pernah kualami. Kesepian akibat dijauhi oleh orang-orang yang pernah kualami.
Semua ingatan itu mengakibatkan rasa marah di hatiku.
“Bukankah mereka itu semua jahat? Ayo, mintalah kemampuan untuk membalas perlakuan mereka. Hanya satu yang perlu kau korbankan kan? Dan kau tidak akan perlu lagi menderita dalam sisa hidupmu. Malahan kau bisa menyiksa mereka sesuka hati”
Rasa marah yang memuncak pada diriku membuat rasanya menjadi sesak. Aku bahkan sempat hendak menyerah pada rasa marah itu dan menerima tawaran dari ‘iblis’ itu.
Tapi kemudian aku memikirkan harga yang harus kubayar.
Ayano.
Kembali otakku memutar momen-momen tentangnya. Tapi kali ini tentang kami berdua…
Dan kemudian aku sadar…
Awal mula aku menginginkan kemampuan untuk menyakiti ‘mereka’ bukankah karena ‘mereka’ telah menyakiti Ayano?
Sejak awal ini bukanlah tentang diriku…
Aku menginginkannya agar bisa membalas perlakuan ‘mereka’ ke Ayano….
Bukan diriku.
‘Tidak!’ kataku dengan jelas pada benakku.
“Bodoh…”
“Tapi biarlah, semakin kau akan menderita, maka pada akhirnya kamu akan menyerah juga!!”
Setelah ‘iblis’ itu berkata demikian, aku membuka mataku.
Aku bisa melihat bulu-bulu pada karpet yang berada sangat dekat pada mataku ketika aku membuka mata.
Pipiku menempel pada karpet…
Aku dalam posisi tidur tengkurap di lantai apartment Ayano entah dari kapan.
Perlahan-lahan aku menggerakkan tangan dan kakiku, kemudian badanku dan merasa bersyukur bisa merasakan tubuhku lagi.
Aku belum pernah merasakan begitu lega ketika mendengar sayup-sayup detak jantungku dan bunyi nafas yang keluar dari hidungku.
Mataku terasa gatal, dan kemudian aku menatap jendela. Aku melihat bekas air mata pada kedua sisi mataku, dan bekas air pada hidung dan mulutku.
Aku menangis… aku benar menangis ternyata…
Dan kemudian, aku kembali menangis. Aku menangis sekeras-kerasnya.
Oleh karena banyak hal….
Karena ingatan-ingatan menyakitkan yang diputar kembali dalam benakku. Pengalaman-pengalaman yang ingin kulupakan…
Karena aku baru mengetahui kalau kematian nenekku dan kematian Robert adalah kerenaku..
Karena bayangan Ayano yang mati mengenaskan yang sempat diperlihatkan ‘iblis’ itu padaku..
Dan karena diriku sendiri yang sempat ingin menerima tawaran dari ‘iblis’ itu walaupun dengan Ayano sebagai bayarannya.
Aku menangis karena begitu kotornya perasaanku…
Aku menangis untuk semua rasa sakit hati yang kupendam dengan tabah…
Dan terakhir, aku juga menangis karena bersyukur aku tidak menerima tawaran ‘iblis’ itu. Bersyukur karena aku masih memiliki seseorang seperti Ayano di sampingku…. (waktu itu sebagai teman terbaik).
Aku duduk dalam sisa-sisa isak tangisku beberapa saat sebelum akhirnya merasakan lelah dan lapar.
Aku mendongak dan melihat jam sembari membersihkan sisa-sisa air mata yang masih mengalir sedikit.
Ya ampun… sudah tiga jam semenjak aku meninggalkan rumah sakit tempat Ayano dirawat. Aku harus segera kembali.
‘Berrrrrrrrr’
Ketika aku berdiri, banyak sekali butiran-butiran debu berwarna hitam yang berbau belerang jatuh dari tubuhku. Seakan-akan keluar dari tubuhku.
Aneh…. Aku bahkan tidak mencium bau belerang sebelum ini…
Aku sempat melihat ke bekas debu hitam itu dan melihat potongan kertas kecil yang berisikan mantra itu sebagiannya sudah menjadi debu hitam seakan terbakar.
Tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya. Saat ini yang terpenting adalah segera kembali ke rumah sakit. Semoga Ayano sudah sadar.
Dan setelah itu, aku pergi ke rumah sakit. Sayangnya Ayano belum tersadar saat aku sampai dan baru sadar keesokan harinya. Tapi setibanya di sana, aku benar-benar bersyukur setidaknya Ayano masih ada, masih hidup.
Dan waktu itu aku bertekad, tidak akan membiarkannya melindungiku sampai terluka lagi.
Maafkan aku, tadinya mau update tadi pagi tapi ternyata tidak sempat.
Maaf juga untuk lanjutannya yang sepertinya tidak terlalu panjang dan tidak seru.
Thanks
Elisa
Spoiler for PART XXXVIII:
- Bagian kedua (akhir)
Terlepas dari keengganan Ayano untuk membicarakannya denganku. Tapi aku mengetahui perihal bahwa semenjak terlibat dalam duniaku. Maksudnya berhubungan dengan ‘mereka’, Ayano mulai membaca-baca dan mengumpulkan banyak sekali artikel mengenai ‘mereka’.
Aku tidak pernah membaca catatan itu, dan Ayano-pun tidak pernah membuatku membacanya. Dia sangat mengetahui kalau aku tidak terlalu suka mengetahui mengenai ‘mereka’ lebih banyak. Dan Ayano sendiri sudah mengatakan kalau sebaiknya aku tidak membaca catatan-catatan itu karena beresiko.
Ayano mengatakan, meskipun ada beberapa catatan yang sepertinya fiksi atau palsu, tapi banyak juga yang menurutnya adalah catatan asli. Dan beberapa catatan itu dalam Bahasa inggris.
Dan Ayano pernah memperlihatkan padaku sekilas salah satu catatan yang katanya berisi mantra pemanggilan yang diberikan kepadanya dari salah seorang anggota forum yang memang menyediakan informasi seperti itu. Kami tidak mengerti isi catatan itu sebenarnya, tapi anggota forum itu menunjukkan salah satu ayat pada catatan berbentuk kitab itu, dan memberikan terjemahannya pada Ayano dalam bentuk alphabet agar dapat dibaca. Namun Ayano tidak pernah membacanya karena curiga kalau itu adalah ayat yang dipergunakan untuk memanggil ‘mereka’ atau semacamnya.
Aku mengingat hal itu karena Ayano pernah menceritakan soal itu kepadaku.
Dan pada waktu itu, entah apa yang kupikirkan. Tapi aku rasa, kemarahan sudah terlalu menguasai diriku sehingga aku terpikirkan hal yang sangat bodoh itu.
Aku akan mencari catatan itu. Sepertinya aku mengetahui di mana Ayano menyimpannya di apartementnya.
Setelah menyerahkan giliran menjaga Ayano kepada Desy, gadis yang merupakan temanku dan Ayano sekaligus merupakan mantan dari Ayano (mungkin beberapa dari pembaca mengetahui siapa gadis ini), aku pulang dengan dalih ingin mandi dan berganti baju terlebih dahulu.
Tapi alih-alih pulang ke kost, aku berbelok dan pergi ke apartment tempat tinggal Ayano.
Setelah masuk, dengan segera aku berjalan ke arah ruangan yang dijadikan Ayano sebagai ruangan kerja dan perpustakaannya untuk mencari catatan itu.
Dengan mudah aku mendapatkannya di dalam buku kliping berisikan hasil scan, print dan copy dari berbagai artikel.
Tapi aku mencari kumpulan artikel yang khusus. Dan dengan mudah mendapatkannya.
Artikel berbentuk kumpulan foto dari semacam kertas kuno. Dan di tengah-tengah lembaran kumpulan foto itu, terdapat lipatan kertas yang disimpan di dalam plastik yang di staples ke lembaran dengan rapi oleh Ayano.
‘Ini dia…’ pikirku.
Aku membuka lembaran itu dengan hati-hati dan dengan rasa takut di hatiku.
Lembaran itu berisikan deretan alphabet, yang aku tidak tau apa artinya dan bagaimana cara membacanya.
Maka aku membacanya dalam lafal yang kutahu dengan membacanya tanpa putus “---------------------“ ucapku membaca deretan huruf itu.
Tidak terjadi apa-apa….
Aku memperhatikan deretan alphabet itu dengan lebih saksama. Tidak ada tanda baca atau apapun.
Apa cara membacanya dengan cara bahasa inggris? Ah tidak mungkin… deretan kata ini terlalu aneh kalau dibaca dalam bahasa inggris.
“Uhummm!!” gumamku membersihkan tenggorokan “---------------------------------“ kataku membaca deretan huruf itu sekali lagi.
‘BRAKKKK!!!”
Aku melompat kaget saking terkejutnya.
Tidak mungkin…
Pintu lemari kayu yang lumayan berat itu berayun menutup dengan kencang. Hal yang mustahil terjadi karena ini ruangan tertutup. Bahkan akan membutuhkan tiupan angin yang luar biasa kencang apabila mau membanting pintu kayu lemari itu yang cukup berat.
‘SSSYUTTT’
Aku merasakan semilir angin dingin pada tengkukku.
Aku menatap ke belakangku dengan reflex.
Tidak ada apapun…
Tidak ada sosok apapun yang tiba-tiba berdiri di belakangku atau apapun…
Sama sekali tidak ada…
Dan aku yakin sekali kalau semilir angin yang kurasakan bukan berasal dari AC, karena tempatku berdiri jauh dari AC.
Kemudian aku menyadari kertas yang masih kupegang dengan erat.
Apa mungkin?
Dan aku melakukannya.
Membacanya lagi untuk yang ketiga kalinya.
“-------------------------------“ bacaku.
Kali ini tidak terjadi apapun saat kutunggu.
Aku memperhatikan jam digital yang terletak di meja kerja Ayano.
1 menit….
2 menit….
3 menit….
Dan pada saat aku hendak membaca ulang kertas tersebut, tiba-tiba aku merasakan sensasi seakan mataku terbakar.
“AHHHH!!!!”
Rasa terbakar di mataku membuatku melemparkan diri ke lantai dan meronta-ronta.
Dan tiba-tiba semuanya menghilang.
Yang kumaksudkan dengan hilang bukanlah hilangnya sakit pada mataku.
Tapi semuanya.
Semuanya menjadi gelap…
Gelap gulita…
Aku bahkan tidak bisa merasakan tangan dan kakiku.
Aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Bahkan aku tidak bisa merasakan apakah aku masih bernafas?
Semuanya gelap gulita dan sunyi.
Tidak ada apapun…
Aku ingin berteriak…
Tapi bahkan aku tidak bisa merasakan mulutku terbuka atau menutup…
Aku benar-benar terkurung dalam kegilaan ini…
Entah berapa lama waktu berlalu… aku ingat kalau aku sudah sempat memutar ingatan-ingatanku yang tersebar dan sepotong-sepotong pada pikiranku.
Aku mengingat momen-momen yang telah terjadi pada hidupku…
Dari ingatanku itu, yang paling jelas adalah ingatan yang baru terjadi padaku.
Dan kemudian aku mengingat tentang Ayano.
Ingatanku memutar semua memori yang bisa kuingat tentang cowok itu.
Kata-katanya…
Gerak-geriknya…
Tindakannya…
Keberadaannya….
Aku mulai putus asa…
Aku sangat yakin kalau aku sedang menangis saat ini, tapi bahkan suara tangisanku tidak dapat kudengar dan tetesan air mata yang seharusnya terasa mengalir dari mataku? Aku juga tidak bisa merasakannya.
Akhirnya ingatan yang terputar di benakku berubah…
Kali ini bukan ingatan-ingatan bahagia yang kuputar.
Tapi ingatan-ingatan yang tidak ingin kuingat lagi.
Ingatan-ingatan tentang ‘mereka’…
Ingatan-ingatan tentang siksaan-siksaan yang pernah kurasakan…
Ingatan-ingatan sedih ketika dunia menolakku karena ‘kutukan’ dari mataku ini…
Semuanya terputar dengan sangat jelas hingga menyebabkan suatu tempat dalam diriku merasakan sakit.
Aneh juga…
Padahal aku sama sekali tidak bisa merasakan badanku…
Tapi kenapa hati ini masih saja bisa merasakan sakit?
Ingatan itu terus berputar…..
Hingga tiba pada satu ingatan yang tergambarkan dengan sangat jelas.
Ingatan dimana aku mulai mendapatkan ‘kutukan’ ini.
Gambaran si ‘mahluk’ iblis merah kecil itu tergambar dengan jelas, suaranya juga dapat kuingat dengan jelas.
“Mahluk bodoh”
Aku terkejut, walaupun tidak bisa menunjukkannya karena masih tidak bisa merasakan apapun. Tapi jelas aku mendengar suara dari ‘mahluk’ iblis merah kecil yang baru saja kuputar dalam ingatanku.
“Mencariku? Heh?”
Suara itu kembali terdengar dari sebelah kiri… aku tidak tau darimana aku mengira hal itu, tapi aku seperti merasakan hal itu. Suaranya terdengar hanya dari sebelah kiri…
“Bodoh!! HAHAHAHAHAHA”
Suara itu berkata melecehkanku.
“Tidak sangka ada yang sebodoh itu mencariku untuk yang kedua kalinya”
“Sampah!!”
“HEI JAWAB!!!”
Suara itu menggelegar di dalam kepalaku. Seandainya aku masih bisa merasakan wajahku, aku yakin saat ini aku pasti sedang meringis.
“Oh aku lupa”
“Bagaimana rasanya heh?”
“Itu bayaran untuk memanggil kami!!”
“Semua ada bayarannya!! HAHAHAHAHA”
“Tapi aku akan memberikanmu pilihan”
“Kau mau mendapatkan kekuatan?”
“Aku akan memberikannya”
“Tapi seperti biasa, aku akan meminta satu nyawa sebagai penggantinya”
“Kau tidak mengerti? Dasar bodoh!!”
“Kau tidak sadar hah? Untuk mendapatkan kemampuanku, aku mengambil satu nyawa orang di dekatmu sebagai gantinya”
“Aku mengambil nyawa nenekmu yang menyayangimu sebagai ganti memberikan ‘mata’ itu padamu”
(Iya, nenek kandungku yang sangat kusayang memang meninggal sesaat setelah adikku lahir)
“Aku mengambil nyawa pria yang berharga bagimu sebagai ganti kemampuan melihat aura”
(…. Aku baru menyadari kalau ‘mahluk’ ini sedang membicarakan soal Robert)
“Sayang si ********* tidak mengambil apapun darimu ketika memberikanmu kemampuan bodoh itu”
(Sepertinya dia sedang mengatakan mengenai si ‘mahluk’ yang memberikanku kemampuan terawang. Yang membuatku kaget, nama yang disebutkan itu menurut Ayano juga salah satu dari anggota legium).
“Tapi tidak apa, aku akan memberikanmu kemampuan untuk menyakiti mahluk dari bagianku sesukamu”
“Tapi aku akan meminta bayaran, seperti biasa, HAHAHAHAHA”
“Harganya murah.. Aku hanya minta dia!”
Dan pada saat itu, gambar Ayano muncul dalam benakku.
Aku mencoba berteriak ‘TIDAKK!!’ dalam kepalaku dan merasakan marah karena tidak ada suara apapun yang bisa keluar dari diriku saat ini.
“Oh ya? Apa kamu tidak ingin membalas dendam?”
“Ayolah, bodoh, kamu sudah banyak disakiti oleh mahluk dari bagianku selama ini kan? Bukankah rasanya akan enak untuk melihat mereka menderita hanya dengan melihat mereka dengan ‘mata’mu itu?”
“Dibanding itu, bukankah nyawa dia menjadi sangat murah?”
“PIkirkan dengan baik, bukankah tawaran ini menggiurkan?”
“HENTIKAN ITU!!!”
Dia membentakku ketika aku berusaha dengan keras mengucapkan doa pada benakku.
Dan seketika, aku bisa melihat dalam benakku bayangan Ayano yang mati berlumuran darah, seluruh isi perutnya tercecer di jalanan. Matanya seakan menatap ke arahku. Pandangan mata penuh dengan terror menatapku.
Aku berteriak sekencangnya dalam benakku.
“Coba kalau berani lagi, akan kuberikan yang lebih sadis lagi!”
Aku menangis lagi… di dalam benakku…. sebab hanya itulah yang dapat kulakukan…
“Pikirkanlah!!”
Dalam benakku kembali terputar saat-saat siksaan yang pernah kualami. Kesepian akibat dijauhi oleh orang-orang yang pernah kualami.
Semua ingatan itu mengakibatkan rasa marah di hatiku.
“Bukankah mereka itu semua jahat? Ayo, mintalah kemampuan untuk membalas perlakuan mereka. Hanya satu yang perlu kau korbankan kan? Dan kau tidak akan perlu lagi menderita dalam sisa hidupmu. Malahan kau bisa menyiksa mereka sesuka hati”
Rasa marah yang memuncak pada diriku membuat rasanya menjadi sesak. Aku bahkan sempat hendak menyerah pada rasa marah itu dan menerima tawaran dari ‘iblis’ itu.
Tapi kemudian aku memikirkan harga yang harus kubayar.
Ayano.
Kembali otakku memutar momen-momen tentangnya. Tapi kali ini tentang kami berdua…
Dan kemudian aku sadar…
Awal mula aku menginginkan kemampuan untuk menyakiti ‘mereka’ bukankah karena ‘mereka’ telah menyakiti Ayano?
Sejak awal ini bukanlah tentang diriku…
Aku menginginkannya agar bisa membalas perlakuan ‘mereka’ ke Ayano….
Bukan diriku.
‘Tidak!’ kataku dengan jelas pada benakku.
“Bodoh…”
“Tapi biarlah, semakin kau akan menderita, maka pada akhirnya kamu akan menyerah juga!!”
Setelah ‘iblis’ itu berkata demikian, aku membuka mataku.
Aku bisa melihat bulu-bulu pada karpet yang berada sangat dekat pada mataku ketika aku membuka mata.
Pipiku menempel pada karpet…
Aku dalam posisi tidur tengkurap di lantai apartment Ayano entah dari kapan.
Perlahan-lahan aku menggerakkan tangan dan kakiku, kemudian badanku dan merasa bersyukur bisa merasakan tubuhku lagi.
Aku belum pernah merasakan begitu lega ketika mendengar sayup-sayup detak jantungku dan bunyi nafas yang keluar dari hidungku.
Mataku terasa gatal, dan kemudian aku menatap jendela. Aku melihat bekas air mata pada kedua sisi mataku, dan bekas air pada hidung dan mulutku.
Aku menangis… aku benar menangis ternyata…
Dan kemudian, aku kembali menangis. Aku menangis sekeras-kerasnya.
Oleh karena banyak hal….
Karena ingatan-ingatan menyakitkan yang diputar kembali dalam benakku. Pengalaman-pengalaman yang ingin kulupakan…
Karena aku baru mengetahui kalau kematian nenekku dan kematian Robert adalah kerenaku..
Karena bayangan Ayano yang mati mengenaskan yang sempat diperlihatkan ‘iblis’ itu padaku..
Dan karena diriku sendiri yang sempat ingin menerima tawaran dari ‘iblis’ itu walaupun dengan Ayano sebagai bayarannya.
Aku menangis karena begitu kotornya perasaanku…
Aku menangis untuk semua rasa sakit hati yang kupendam dengan tabah…
Dan terakhir, aku juga menangis karena bersyukur aku tidak menerima tawaran ‘iblis’ itu. Bersyukur karena aku masih memiliki seseorang seperti Ayano di sampingku…. (waktu itu sebagai teman terbaik).
Aku duduk dalam sisa-sisa isak tangisku beberapa saat sebelum akhirnya merasakan lelah dan lapar.
Aku mendongak dan melihat jam sembari membersihkan sisa-sisa air mata yang masih mengalir sedikit.
Ya ampun… sudah tiga jam semenjak aku meninggalkan rumah sakit tempat Ayano dirawat. Aku harus segera kembali.
‘Berrrrrrrrr’
Ketika aku berdiri, banyak sekali butiran-butiran debu berwarna hitam yang berbau belerang jatuh dari tubuhku. Seakan-akan keluar dari tubuhku.
Aneh…. Aku bahkan tidak mencium bau belerang sebelum ini…
Aku sempat melihat ke bekas debu hitam itu dan melihat potongan kertas kecil yang berisikan mantra itu sebagiannya sudah menjadi debu hitam seakan terbakar.
Tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya. Saat ini yang terpenting adalah segera kembali ke rumah sakit. Semoga Ayano sudah sadar.
Dan setelah itu, aku pergi ke rumah sakit. Sayangnya Ayano belum tersadar saat aku sampai dan baru sadar keesokan harinya. Tapi setibanya di sana, aku benar-benar bersyukur setidaknya Ayano masih ada, masih hidup.
Dan waktu itu aku bertekad, tidak akan membiarkannya melindungiku sampai terluka lagi.
bakulmenyan dan anissa.rn memberi reputasi
2
Kutip
Balas