- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Pencuri (Share Pengalaman Mistis)
...
TS
kiayu
Teror Pencuri (Share Pengalaman Mistis)
Dear Kaskuser se Dunia 
disini aku mencoba menuliskan sedikit kisah-kisah mistis ku selama ini, dan yang iseng2 terjadi, yang dimulai dari sebuah kisah yang terjadi setahun yang lalu di sebuah daerah bernama Tegal.
Rules :
- No Kepo ya
- bagi yg mengetahui tempat terjadinya peristiwa dimohon utk tidak share, hanya konsumsi pribadi.
diusahakan update sesempetnya disela-sela pas kerja atau ga ada kerjaan
cerita ? real 100% terjadi, tapi kalau ada beberapa hal yang mungkin terasa lebay, yaa mohon maap, karena sering lupa jadi ta tambahin seingetku, tapi ga melenceng jauh kok
nama ? disamarkan. demi kesejahteraan semua pihak yg terlibat
thanks udah mau baca~ ^^v
mulustrasi ? di cerita awal ini pengalaman aku dgn sepupuku yg ada di DP kok
jadi udah bisa bayangin yaa.
ayok kita mulai~!
Aku sedang asyik membaca Sphere karya Michael Crichton sambil duduk berleha-leha menikmati semilir angin di sebelah sungai kecil di sebelah rumah.
'Yu, kamu lihat orang bawa brankas ga lewat sini ?!'
Omku berteriak keras, keringat bercucuran di dahinya.
Aku terperanjat kaget dari kursi.
'Hah ??? Brankas ? Ga, Om. Kenapa ?'
'Masa ga lihat ? Beneran ga lihat ??'
Omku melihatku dengan rasa tidak percaya.
'Ga beneran, Om. Lagian aku dari tadi disini gak ada yang aneh'.
Tanteku yang tadi sedang berada di belakang rumah bagian samping langsung menghampiri omku yang kelihatan kacau.
'Ada apa, Di ?', dengan suara agak keras kepada adiknya itu.
Omku memandang tanpa kata-kata, hanya dengan tampang putus asa, langsung masuk ke rumah, aku mengikuti karena penasaran.
'Uangku hilang, brankasnya dibawa'.
Kata-kata Omku mengejutkan kami berdua, aku dan tanteku.
'Lah, Om. Dari tadi gak ada yang bawa kayak gitu, yang lewat juga cuma orang-orang kita. Coba cek dulu yang bener'. Aku berusaha menenangkan omku.
'Beneran gak ada, aku udah ngecek berkali-kali'.
Waduh, gawat, pikirku. Pas aku lagi 'jaga depan' malah ada ginian.
Om dan tanteku yang panik langsung masuk ke rumah dan mengecek ke kamar omku yang ada di ruang utama.
Aku yang kebingungan langsung mencari kontak sepupuku, Lina, di bbm.
Ki : Lin, uang Om Budi hilang.
Lina : Hus, beneran ???!!!!!!
Ki : Beneran, ini baru aja kejadian. Makanya aku langsung kasih tahu kamu.
Tanteku, (mamahnya Lina, Tante Ina), memanggilku.
'Yu, kabari Lina, uang Om Budi kecurian'.
'Udah, te. Ini lagi BBM-an sama Lina'
'Iya, kasih tahu, kali aja kudu ke Azmi'.
Dalam hati aku bingung, Azmi siapa ?
Lina : PING!
Lina : Mba, uang Om Budi yang kecurian berapa ?
Ki : Ga tahu, Lin. Ini katanya semua uangnya.
Lina : Huh ! Om dibilangin susah sih suruh nyimpen di bank. Yaudah ntar nunggu aku balik.
Ki : Oke.
Aku, Om dan Tanteku masih cek-cek kamar juga perhatiin orang-orang. Ada satu karyawan, sebut saja Om Yadi, (masih saudara).
'Yang nyuri si Avin kali ? Kemaren aku liat dia sama temen-temennya duduk-duduk di kuburan.'
Om ku memandang Om Yadi, 'masa ??? Lah kamu kemaren ga bilang-bilang, tahu gitu kan aku jaga-jaga', katanya kesal.
'aku juga dari kemaren liatin, tapi cuma sehari itu doang, besoknya dia udah gak ada', Om Yadi membela diri.
Fyi, rumah yang kami tempati ini peninggalan Kakek, dan terletak di depan kuburan keluarga.
'Assalamu'alaikum !'
Aku kaget, dan langsung menuju ruang toko. Lina sudah sampai, dia sedang memarkir motornya di depan garasi.
Dia langsung masuk dan memberondong dengan pertanyaan.
'Mba, udah tahu belum berapa uang Om Budi yang ilang ? Trus tadi kejadiannya jam berapa ? Tadi siapa aja yang keluar masuk?'.
Aku gelagapan.
'Loh kamu dateng-dateng langsung tanya-tanya, istirahat dulu. Kamu juga tahu-tahu balik, udah ijin Om belum ?' (Lina kerja di tempat omku yg satu lagi beliau mempunyai toko variasi mobil di daerah perbatasan T dan Brebes).
'Yah aku mana tenang di toko kalau disini lagi pada ribut ginian. Makanya buru-buru balik.'
'Kejadiannya tadi pas aku bbm kamu itu Om Budi nanyain aku ada orang bawa brankas gak ? Belom nyampe setengah jam. Yang keluar masuk ya cuma orang-orang kita aja'.
Mamanya Lina keluar, menghampiri Lina.
'Ke Azmi aja sana, Lin. Biar cepet ketangkep, mumpung belum lama.'.
'Yaudah, yuh, Mba. Kita ke Azmi. Cepetan ga usah dandan. Diburu waktu ini'.
Aku cuma melongo, dan cepat-cepat ambil tas NG favoritku.
Dan kami berdua melesat ke Banjaran.
Siapa Azmi ???
I N D E X

disini aku mencoba menuliskan sedikit kisah-kisah mistis ku selama ini, dan yang iseng2 terjadi, yang dimulai dari sebuah kisah yang terjadi setahun yang lalu di sebuah daerah bernama Tegal.
Rules :
- No Kepo ya
- bagi yg mengetahui tempat terjadinya peristiwa dimohon utk tidak share, hanya konsumsi pribadi.
diusahakan update sesempetnya disela-sela pas kerja atau ga ada kerjaan

cerita ? real 100% terjadi, tapi kalau ada beberapa hal yang mungkin terasa lebay, yaa mohon maap, karena sering lupa jadi ta tambahin seingetku, tapi ga melenceng jauh kok

nama ? disamarkan. demi kesejahteraan semua pihak yg terlibat

thanks udah mau baca~ ^^v
mulustrasi ? di cerita awal ini pengalaman aku dgn sepupuku yg ada di DP kok
jadi udah bisa bayangin yaa.ayok kita mulai~!
Aku sedang asyik membaca Sphere karya Michael Crichton sambil duduk berleha-leha menikmati semilir angin di sebelah sungai kecil di sebelah rumah.
'Yu, kamu lihat orang bawa brankas ga lewat sini ?!'
Omku berteriak keras, keringat bercucuran di dahinya.
Aku terperanjat kaget dari kursi.
'Hah ??? Brankas ? Ga, Om. Kenapa ?'
'Masa ga lihat ? Beneran ga lihat ??'
Omku melihatku dengan rasa tidak percaya.
'Ga beneran, Om. Lagian aku dari tadi disini gak ada yang aneh'.
Tanteku yang tadi sedang berada di belakang rumah bagian samping langsung menghampiri omku yang kelihatan kacau.
'Ada apa, Di ?', dengan suara agak keras kepada adiknya itu.
Omku memandang tanpa kata-kata, hanya dengan tampang putus asa, langsung masuk ke rumah, aku mengikuti karena penasaran.
'Uangku hilang, brankasnya dibawa'.
Kata-kata Omku mengejutkan kami berdua, aku dan tanteku.
'Lah, Om. Dari tadi gak ada yang bawa kayak gitu, yang lewat juga cuma orang-orang kita. Coba cek dulu yang bener'. Aku berusaha menenangkan omku.
'Beneran gak ada, aku udah ngecek berkali-kali'.
Waduh, gawat, pikirku. Pas aku lagi 'jaga depan' malah ada ginian.
Om dan tanteku yang panik langsung masuk ke rumah dan mengecek ke kamar omku yang ada di ruang utama.
Aku yang kebingungan langsung mencari kontak sepupuku, Lina, di bbm.
Ki : Lin, uang Om Budi hilang.
Lina : Hus, beneran ???!!!!!!
Ki : Beneran, ini baru aja kejadian. Makanya aku langsung kasih tahu kamu.
Tanteku, (mamahnya Lina, Tante Ina), memanggilku.
'Yu, kabari Lina, uang Om Budi kecurian'.
'Udah, te. Ini lagi BBM-an sama Lina'
'Iya, kasih tahu, kali aja kudu ke Azmi'.
Dalam hati aku bingung, Azmi siapa ?
Lina : PING!
Lina : Mba, uang Om Budi yang kecurian berapa ?
Ki : Ga tahu, Lin. Ini katanya semua uangnya.
Lina : Huh ! Om dibilangin susah sih suruh nyimpen di bank. Yaudah ntar nunggu aku balik.
Ki : Oke.
Aku, Om dan Tanteku masih cek-cek kamar juga perhatiin orang-orang. Ada satu karyawan, sebut saja Om Yadi, (masih saudara).
'Yang nyuri si Avin kali ? Kemaren aku liat dia sama temen-temennya duduk-duduk di kuburan.'
Om ku memandang Om Yadi, 'masa ??? Lah kamu kemaren ga bilang-bilang, tahu gitu kan aku jaga-jaga', katanya kesal.
'aku juga dari kemaren liatin, tapi cuma sehari itu doang, besoknya dia udah gak ada', Om Yadi membela diri.
Fyi, rumah yang kami tempati ini peninggalan Kakek, dan terletak di depan kuburan keluarga.
'Assalamu'alaikum !'
Aku kaget, dan langsung menuju ruang toko. Lina sudah sampai, dia sedang memarkir motornya di depan garasi.
Dia langsung masuk dan memberondong dengan pertanyaan.
'Mba, udah tahu belum berapa uang Om Budi yang ilang ? Trus tadi kejadiannya jam berapa ? Tadi siapa aja yang keluar masuk?'.
Aku gelagapan.
'Loh kamu dateng-dateng langsung tanya-tanya, istirahat dulu. Kamu juga tahu-tahu balik, udah ijin Om belum ?' (Lina kerja di tempat omku yg satu lagi beliau mempunyai toko variasi mobil di daerah perbatasan T dan Brebes).
'Yah aku mana tenang di toko kalau disini lagi pada ribut ginian. Makanya buru-buru balik.'
'Kejadiannya tadi pas aku bbm kamu itu Om Budi nanyain aku ada orang bawa brankas gak ? Belom nyampe setengah jam. Yang keluar masuk ya cuma orang-orang kita aja'.
Mamanya Lina keluar, menghampiri Lina.
'Ke Azmi aja sana, Lin. Biar cepet ketangkep, mumpung belum lama.'.
'Yaudah, yuh, Mba. Kita ke Azmi. Cepetan ga usah dandan. Diburu waktu ini'.
Aku cuma melongo, dan cepat-cepat ambil tas NG favoritku.
Dan kami berdua melesat ke Banjaran.
Siapa Azmi ???
I N D E X
- Part 1 [update 5/9/16]
- Part 2 - Siapa Azmi? [update 5/9/16]
- Part 3- Terawangan Pertama [update 6/9/16]
- Denah TKP [update 7/9/16]
- Part 4- Terawangan Kedua [update 8/9/16
- Part 5 - Terawangan Kedua-2 [update 8/9/16
- Part 6 - The War Begin
- Part 7 - Teror Part 1
- Part 8 - Teror Part 2
- Part 9 - Ending
- Teror Miss K - Part 1
- Kontrakan - Part 2
- Kontrakan - Part 3
- Kontrakan - Part 4
- Rumah Tusuk Sate
Diubah oleh kiayu 28-01-2020 22:29
al.galauwi dan 20 lainnya memberi reputasi
17
73.4K
361
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•4Anggota
Tampilkan semua post
TS
kiayu
#253
Part 9
Ending
Hari Senin.
Hari berjalan seperti biasa, aktifitas tidak ada yang berarti.
Hanya menghabiskan sore hari di Pantai bersama para keponakan dan pacar Lina.
Menikmati udara laut di sore hari. Rasanya menenangkan, beban seakan menghilang.
Laut selalu membuatku bisa melepaskan segala permasalahan hidup dan menyembuhkan ku, karena dulu aku memang disembuhkan laut.
Walau besoknya, sakit seharian karena menghirup udara laut yang kesorean x.x
Skip Hari Selasa. Aku dirumah, tepar. Lina Kerja, Tante seperti biasa, mengerjakan seabrek kerjaan rumah.
Hari Rabu.
Lina pulang dari tempat kerja. Suara motornya yang khas membuatku menengok keluar kamar. Dia langsung duduk di sofa, mulai mengecek hp.
Lina : Mba, ntar kerumah Azmi lagi, yuk. Aku penasaran gimana kelanjutannya. Udah mendingan kan, mba ?
Aku : Iya udah.
Lina : Kesorean sih ya kita jalan kemarin Haha jd kena angin malam.
Aku : Iya, ampun deh ga enak banget kemarin. Kamu masih ngerasa diikutin gak ?
Lina : Udah dari kemarin sih nggak, mba. Yuh mandi dulu, baru kita jalan kerumah Azmi.
Aku : Oke.
Setelah bersiap-siap, kita akhirnya meluncur ke rumah Azmi. Sepanjang jalan kami banyak bercerita, dan salah satu rahasiaku ketahuan Lina, gara-gara dia tanya Azmi soal hubunganku dengan seseorang, Haha. Asem banget nih sepupuku satu ini.
Sesampainya di rumah Azmi kami harus menunggunya karena dia sedang keluar sebentar.
Tak berapa lama Azmi datang. Dan langsung menghampiri kami berdua sementara ibunya menghidangkan minuman.
Azmi : Apa kabar, mba ?
Aku & Lina : Alhamdulillah baik, mi.
Lina : Mi, biasa, kita mau tanya gimana proses yang kemarin ? Masih diikutin gak kita ?
Azmi : Udah gak kok, kemarin aku udah usir itu 'nenek'. Dan sebenarnya aku udah melakukan sesuatu sama Si Hitam.
Aku : Wah, udah ngapain mi ?
Azmi : Udah aku lucuti semua ilmunya dia. Jadi sekarang dia udah ga punya ilmu apa-apa lagi.
Lina : Wah bagus dong, mi. Jadi kita bisa gampang nangkap dia, secara dia udah ga punya pertahanan apa-apa lagi.
Azmi : Iya, dia memang udah ga punya apa-apa lagi. Tapi aku masih curiga dengan hutan yang jadi tempat mereka bersembunyi. Hutan jati nya masih belum bisa aku terawang ada dimana. Sepertinya dia 'disembunyikan', aku masih bingung bagaimana bisa. Aku udah mencoba membantu polisinya, untuk menyisir daerah-daerah yang terdapat hutan jati di daerah Tegal. Tapi karena masih kabur, jadi susah. Padahal waktunya tinggal sedikit. Aku ga sanggup kalau lebih dari besok.
Aku : by the way, mi. Kamu udah tahu siapa pelakunya ? Minimal dalangnya, lah.
Lina : Iya mi, siapa. Aku penasaran banget.
Azmi : Dugaan awal kita benar, dia yang jadi otaknya. Dia yang memberitahukan kepada komplotannya soal letak kamar Om Budi. Untuk eksekutornya dia serahkan kepada si biru dan si hitam. Untuk si biru sendiri, penampilannya beda dengan yang pertama aku lihat, tapi sepertinya dia kenal mba Lina kok. Untuk si Hitam, dia hanya sebagai pelindung dalam proses ini, agar jalur masuk sampai jalur keluarnya mereka selamat karena hanya dia yang punya ilmu, tapi sepertinya dia masih dilindungi gurunya. Aku nerawang gurunya meleset sepertinya.
Lina : Hmm tampangnya gimana, mi ? Tapi percuma juga kita mau menangkap dia kalau komplotannya yang bagian megang brankasnya malah ga ketangkep. Tapi emang dia udah menghilang dari desa sih, belum ada yang lihat dia lagi.
Aku : Huft ... tapi dilema juga kita Lin kalau mau nangkap dia ... tau sendiri ...
Lina : Iya, gak semudah itu menuduh dan menangkap, yang ada kita juga terseret ke masalah keluarga. Kasian Om Budi, padahal udah sampai bayar polisinya 2 juta.
Aku : beneran, Lin ?
Lina : Iya, kemarin Mama yang ngomong, Om Budi udah bayar 2 juta buat mereka mau selidiki dan ungkapin.
Azmi : Polisinya juga menghubungi orang pintar loh, aku sempat colek mbahnya buat kasih tahu ciri-ciri pencurinya.
Aku : Wah sampe segitunya juga tuh polisi ??
Lina : Yah kalau ga pake jasa orang pintar kapan lagi mereka bisa nangkep, mba.
Azmi : Mau gimana lagi, aku cuma bisa bantu sampai besok. Syukur ada komplotannya yang tertangkap, tapi kalau tidak. Kita serahkan sama Yang Maha Kuasa untuk urusan karmanya.
Lina : Semoga kena deh, mamaku udah kesel sampe segitunya sampe doain itu pencuri cepet mati aja.
Aku : Huss jangan begitu. Udah kita doain mereka ketangkap aja..
Azmi : Iya mba, biar urusan yang lain jadi urusan-Nya.
Aku : Jadi intinya kamu coba bantu lagi sampe besok ya, mi ?
Azmi : Iya, mba. Maaf kalau aku tidak bisa membantu lebih banyak.
Lina : Yaudah gapapa, mi. Kalau kamu cuma bisa bantu sampe sini. Semoga aja polisi masih belum menyerah buat memproses kasus ini.
Aku & Azmi : Aamiin ...
Akhirnya setelah kita ngobrol agak lama, akhirnya kita pamit pulang.
Tak banyak yang terjadi, Azmi tidak berhasil mendapatkan si pencuri sampai keesokan harinya, dan kami pun hanya bisa menyerah kepada penyelidikan polisi.
Ilmu memang tidak bisa dilawan, tapi semua perbuatan akan berbalas, entah baik atau buruk.
Saat ini, si Dalang sudah mendapatkan balasannya, tapi bagaimanapun juga, aku tetap mendoakannya semoga akhir hidupnya bisa mendapat hidayah-Nya.
Sekian.
Kalau ada pertanyaan :
1. Siapa pencurinya ?
Ada sejak Part pertama clue-nya.
2. Kenapa tidak ditangkap saja kalau sudah ketahuan ?
Tidak bisa, tidak ada bukti, hanya 'terawangan' kita. Dan itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menangkapnya.
3. Terus sampai sekarang gimana kabar brankasnya ?
Diikhlaskan dengan terpaksa lah. Semoga tidak ada kejadian begini lagi.
4. Azmi beneran ada ? bisa minta tolong gak ?
aku lupa, banyak yg tanya ini via PM. Ada, dia real ada, cuma namanya bukan Azmi aslinya, tidak bisa saya sebutkan karena bagaimanapun juga privasi. Bisa minta tolong ? hmm maaf tidak bisa, mohon maaf Azmi sedang 'pergi', sepupu saya & mamanya kemarin2 kesana dan mendapat jawaban itu. Jadi kalau ada yg mau minta bantuan apapun, silakan coba ke forsup di kaskus tercinta kita, banyak yg mau bantu selama bukan permintaan yg aneh2 dan gak 'alay'.
Maaf kalau selama penulisan ngaret dkk dikarenakan banyak hal yg terjadi di RL, dan banyak hal yang benar-benar menguras emosi saya kemarin-kemarin, jadi banyak tidak konsen.
Terima kasih telah menjadi pembaca setia di thread yang sederhana ini. Saya bukan orang yang suka mengulur-ulur cerita, jadi langsung ke titik masalah saja Haha. Kalau ada pertanyaan mengganggu, akan saya jawab sebisanya, kalau tidak dijawab, mohon maaf itu berkaitan dengan privasi, dalam cerita ini juga ada hal-hal yang terpaksa saya cut off atau ganti dengan pemeran lain dikarenakan hal itu berkaitan dengan keluarga. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih
Next : Teror Miss K.
Tapi aku ijin dulu sama Miss nya yaa haha
Hari Senin.
Hari berjalan seperti biasa, aktifitas tidak ada yang berarti.
Hanya menghabiskan sore hari di Pantai bersama para keponakan dan pacar Lina.
Menikmati udara laut di sore hari. Rasanya menenangkan, beban seakan menghilang.
Laut selalu membuatku bisa melepaskan segala permasalahan hidup dan menyembuhkan ku, karena dulu aku memang disembuhkan laut.
Walau besoknya, sakit seharian karena menghirup udara laut yang kesorean x.x
Skip Hari Selasa. Aku dirumah, tepar. Lina Kerja, Tante seperti biasa, mengerjakan seabrek kerjaan rumah.
Hari Rabu.
Lina pulang dari tempat kerja. Suara motornya yang khas membuatku menengok keluar kamar. Dia langsung duduk di sofa, mulai mengecek hp.
Lina : Mba, ntar kerumah Azmi lagi, yuk. Aku penasaran gimana kelanjutannya. Udah mendingan kan, mba ?
Aku : Iya udah.
Lina : Kesorean sih ya kita jalan kemarin Haha jd kena angin malam.
Aku : Iya, ampun deh ga enak banget kemarin. Kamu masih ngerasa diikutin gak ?
Lina : Udah dari kemarin sih nggak, mba. Yuh mandi dulu, baru kita jalan kerumah Azmi.
Aku : Oke.
Setelah bersiap-siap, kita akhirnya meluncur ke rumah Azmi. Sepanjang jalan kami banyak bercerita, dan salah satu rahasiaku ketahuan Lina, gara-gara dia tanya Azmi soal hubunganku dengan seseorang, Haha. Asem banget nih sepupuku satu ini.
Sesampainya di rumah Azmi kami harus menunggunya karena dia sedang keluar sebentar.
Tak berapa lama Azmi datang. Dan langsung menghampiri kami berdua sementara ibunya menghidangkan minuman.
Azmi : Apa kabar, mba ?
Aku & Lina : Alhamdulillah baik, mi.
Lina : Mi, biasa, kita mau tanya gimana proses yang kemarin ? Masih diikutin gak kita ?
Azmi : Udah gak kok, kemarin aku udah usir itu 'nenek'. Dan sebenarnya aku udah melakukan sesuatu sama Si Hitam.
Aku : Wah, udah ngapain mi ?
Azmi : Udah aku lucuti semua ilmunya dia. Jadi sekarang dia udah ga punya ilmu apa-apa lagi.
Lina : Wah bagus dong, mi. Jadi kita bisa gampang nangkap dia, secara dia udah ga punya pertahanan apa-apa lagi.
Azmi : Iya, dia memang udah ga punya apa-apa lagi. Tapi aku masih curiga dengan hutan yang jadi tempat mereka bersembunyi. Hutan jati nya masih belum bisa aku terawang ada dimana. Sepertinya dia 'disembunyikan', aku masih bingung bagaimana bisa. Aku udah mencoba membantu polisinya, untuk menyisir daerah-daerah yang terdapat hutan jati di daerah Tegal. Tapi karena masih kabur, jadi susah. Padahal waktunya tinggal sedikit. Aku ga sanggup kalau lebih dari besok.
Aku : by the way, mi. Kamu udah tahu siapa pelakunya ? Minimal dalangnya, lah.
Lina : Iya mi, siapa. Aku penasaran banget.
Azmi : Dugaan awal kita benar, dia yang jadi otaknya. Dia yang memberitahukan kepada komplotannya soal letak kamar Om Budi. Untuk eksekutornya dia serahkan kepada si biru dan si hitam. Untuk si biru sendiri, penampilannya beda dengan yang pertama aku lihat, tapi sepertinya dia kenal mba Lina kok. Untuk si Hitam, dia hanya sebagai pelindung dalam proses ini, agar jalur masuk sampai jalur keluarnya mereka selamat karena hanya dia yang punya ilmu, tapi sepertinya dia masih dilindungi gurunya. Aku nerawang gurunya meleset sepertinya.
Lina : Hmm tampangnya gimana, mi ? Tapi percuma juga kita mau menangkap dia kalau komplotannya yang bagian megang brankasnya malah ga ketangkep. Tapi emang dia udah menghilang dari desa sih, belum ada yang lihat dia lagi.
Aku : Huft ... tapi dilema juga kita Lin kalau mau nangkap dia ... tau sendiri ...
Lina : Iya, gak semudah itu menuduh dan menangkap, yang ada kita juga terseret ke masalah keluarga. Kasian Om Budi, padahal udah sampai bayar polisinya 2 juta.
Aku : beneran, Lin ?
Lina : Iya, kemarin Mama yang ngomong, Om Budi udah bayar 2 juta buat mereka mau selidiki dan ungkapin.
Azmi : Polisinya juga menghubungi orang pintar loh, aku sempat colek mbahnya buat kasih tahu ciri-ciri pencurinya.
Aku : Wah sampe segitunya juga tuh polisi ??
Lina : Yah kalau ga pake jasa orang pintar kapan lagi mereka bisa nangkep, mba.
Azmi : Mau gimana lagi, aku cuma bisa bantu sampai besok. Syukur ada komplotannya yang tertangkap, tapi kalau tidak. Kita serahkan sama Yang Maha Kuasa untuk urusan karmanya.
Lina : Semoga kena deh, mamaku udah kesel sampe segitunya sampe doain itu pencuri cepet mati aja.
Aku : Huss jangan begitu. Udah kita doain mereka ketangkap aja..
Azmi : Iya mba, biar urusan yang lain jadi urusan-Nya.
Aku : Jadi intinya kamu coba bantu lagi sampe besok ya, mi ?
Azmi : Iya, mba. Maaf kalau aku tidak bisa membantu lebih banyak.
Lina : Yaudah gapapa, mi. Kalau kamu cuma bisa bantu sampe sini. Semoga aja polisi masih belum menyerah buat memproses kasus ini.
Aku & Azmi : Aamiin ...
Akhirnya setelah kita ngobrol agak lama, akhirnya kita pamit pulang.
Tak banyak yang terjadi, Azmi tidak berhasil mendapatkan si pencuri sampai keesokan harinya, dan kami pun hanya bisa menyerah kepada penyelidikan polisi.
Ilmu memang tidak bisa dilawan, tapi semua perbuatan akan berbalas, entah baik atau buruk.
Saat ini, si Dalang sudah mendapatkan balasannya, tapi bagaimanapun juga, aku tetap mendoakannya semoga akhir hidupnya bisa mendapat hidayah-Nya.
Sekian.
Kalau ada pertanyaan :
1. Siapa pencurinya ?
Ada sejak Part pertama clue-nya.
2. Kenapa tidak ditangkap saja kalau sudah ketahuan ?
Tidak bisa, tidak ada bukti, hanya 'terawangan' kita. Dan itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menangkapnya.
3. Terus sampai sekarang gimana kabar brankasnya ?
Diikhlaskan dengan terpaksa lah. Semoga tidak ada kejadian begini lagi.
4. Azmi beneran ada ? bisa minta tolong gak ?
aku lupa, banyak yg tanya ini via PM. Ada, dia real ada, cuma namanya bukan Azmi aslinya, tidak bisa saya sebutkan karena bagaimanapun juga privasi. Bisa minta tolong ? hmm maaf tidak bisa, mohon maaf Azmi sedang 'pergi', sepupu saya & mamanya kemarin2 kesana dan mendapat jawaban itu. Jadi kalau ada yg mau minta bantuan apapun, silakan coba ke forsup di kaskus tercinta kita, banyak yg mau bantu selama bukan permintaan yg aneh2 dan gak 'alay'.
Maaf kalau selama penulisan ngaret dkk dikarenakan banyak hal yg terjadi di RL, dan banyak hal yang benar-benar menguras emosi saya kemarin-kemarin, jadi banyak tidak konsen.
Terima kasih telah menjadi pembaca setia di thread yang sederhana ini. Saya bukan orang yang suka mengulur-ulur cerita, jadi langsung ke titik masalah saja Haha. Kalau ada pertanyaan mengganggu, akan saya jawab sebisanya, kalau tidak dijawab, mohon maaf itu berkaitan dengan privasi, dalam cerita ini juga ada hal-hal yang terpaksa saya cut off atau ganti dengan pemeran lain dikarenakan hal itu berkaitan dengan keluarga. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih

Next : Teror Miss K.
Tapi aku ijin dulu sama Miss nya yaa haha
Diubah oleh kiayu 23-09-2016 23:21
lumut66 dan 2 lainnya memberi reputasi
3