- Beranda
- Stories from the Heart
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat
...
TS
alishba
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat


(TRUE STORY)
"- Setelah melalui proses editing, maka tulisan ini akhirnya berhasil di publikasikan melalui penerbit Clover (M&C) Gramedia dan berubah judul menjadi JEJAK- "
- Alishba
Spoiler for TOP Threads:
Spoiler for Cover Design:

PROLOG
Uda Andre (Bang Andre), dan Uda Nopeng (Bang Nofan), merupakan narasumber sekaligus aktor utama dalam kisah yang sempat menggemparkan beberapa stasiun televisi selama kurang lebih 7 (tujuh) hari, beberapa puluh tahun silam.
Dalam informasi berita yang tersiar, mungkin mereka dikabarkan sudah hilang selama 6 (enam) hari, karena mereka dinyatakan hilang satu hari setelah Firman, Uncu dan Iwan melapor. Sedangkan perjalanan tak tentu arah yang sebenarnya mereka alami adalah 7 (tujuh) hari.
Sudah lama ingin berbagi, sharing dengan mereka untuk membahas penggarapan Buku, namun selalu terbentur kesibukan masing-masing, alhasil, skrip lamanya dulu yang pernah Andre tulis kembali ia kirimkan padaku. Semoga kisah ini bisa menjadi pedoman dan Menambah wawasan kita, sekaligus menyadarkan kita bahwa "Tuhan tak Tidur!".
(*)
PADA TAHUN 2001, ada 7 hari dalam perjalanan hidupku yang membuat aku harus berhadapan dengan maut. Meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut, itu karena aku pernah berkeinginan mengubur kenangan pahit itu sedalam mungkin. Hingga tak ada salah seorangpun yang tahu, kecuali Nopeng. Tapi, akan ku usahakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari teman-temanku yang juga ikut dalam petualangan tersebut. Tentu saja aku takkan lupa melibatkan sahabat yang menemaniku selama 7 hari dalam pencarian jalan pulang. Mengitari Pegunungan hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi yang berada di Sumatera Barat, dan inilah versiku:
Spoiler for Awal Naskah:
TUHAN, BERI AKU KESEMPATAN
Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki. Namun demikian, menurutku beliau sungguh sangat demokratis.
Malangnya, ketika kelas 1 SMP aku pernah mengecewakannya, karena aku terpaksa di-DO (Drop Out) dari sekolah karena aku adu jotos dengan salah seorang guruku, yang menurutku seorang penjilat sejati. Akibat dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi harus pindah ke Padang, Sumatera Barat, agar bisa naik ke kelas 2, tanpa harus mengulang. Di padang aku menyelesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU.
Aku dan noviandi yang seterusnya kupanggil -Nopeng, pernah membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa, itu karena sepupu papaku ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dimana pemberitaan tersebut sangat rutin memberitakan kami yang tersesat selama 7 hari di gunung merapi.
Mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas kumulai sejak kelas 1 SMA, dan aku telah mendaki gunung Singgalang sebanyak dua kali. Kegilaanku dengan hobi ini semakin menjadi-jadi sejak aku tergabung dalam salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA). Hobi yang sangat ditentang oleh Tanteku dan keluarganya. Setiap kali aku meminta izin untuk mendaki gunung, aku tak pernah mendapatkan izin. Namun, aku tetap mendaki, karena aku cinta Alam rimba, mencium bau tanah hutan, sejuknya udara yang menusuk kulit, suara alunan gemericik air, sambil menikmati kopi susu di puncak gunung, nikmatnya.
Tiga hari sebelum kejadian tersebut, aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki gunung merapi. Gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl(meter dari permukaan laut). Gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah dua kali berhasil mendaki Gunung Singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan gunung merapi. Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari padang ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.
Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku tersadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut, dan anehnya sudah tidak ada lagi...!
Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang berisik di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang. Ketika menempuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti ---indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.
Matahari pagi mulai bersinar, kami sudah sampai di batas vegetasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, Iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul Nopeng, Firman dan Uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengan mereka. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak. Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistik kami sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kukatakan pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar Nopeng memanggilku, “Ndre aku ikutlah, *taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja”
aku jawab ”hussst, mulut peng, di gunung ini, jaga mulutmu”
“Astaghfirullah” nopeng menjawab sambil menutup mulutnya, diapun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.
Kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat, letih setelah berjalan hampir sepuluh jam. Aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di gunung merapi namanya “Abel Tasman”. Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut, secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku saat itu.
Akhirnya aku dan Nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang terdapat banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati, salah satu puncak yang top di gunung merapi. Beberapa menit kami diatas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan. Setelah menghabiskan rokok, aku dan nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang Bunga Eidelweis, disinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua…
Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang Eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan Nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut. Pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu, setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.
“Peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada Nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas kami. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan kembali tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.
Perasaanku mulai tidak enak, Nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar, dan aku yang berada di belakang memanggilnya untuk berhenti dan tenang. ”Peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita sedang panik saat ini, Peng!"
Nopeng pun akhirnya menungguku dan kami duduk terdiam, “gimana selanjutnya Ndre?”
“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah.
KABUT MULAI HILANG sedikit, nopeng kembali memimpin perjalanan. Kami berputar mencari jalan untuk turun ke bawah. Sampai suatu ketika kami melihat ada sekelompok pendaki jumlahnya aku lupa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Akupun bertanya pada mereka, ”Pak (panggilan khas ala pendaki) mau kemana?! kami juga lagi kehilangan arah” sambungku lagi,
“Kami mau turun Pak, lewat jalur Simabur, kalau Bapak mau ikut, boleh gabung bersama kami” tawarnya.
Jalur simabur merupakan jalur yang naik melewati daerah Simabur, Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, sementara kami naik lewat koto baru daerah Padang Panjang. Kemudian aku menayakan pendapat si Nopeng ”gimana peng kita gabung aja?” tanyaku,
“gak usah ndre perasaanku tidak enak” jawab nopeng yang berdiri di belakangku.
Aku melihat ke kelompok tersebut, aneh juga, aku liat satu persatu pendaki itu yang laki-laki seperti tersnyum-senyum, sementara yang perempuan menangis sesenggukan, dan dengan berat hati aku mengikuti keputusan nopeng, untuk tidak ikut bergabung turun gunung bersama kelompok tersebut.
Perjalanan mencari jalan keluar kembali dipimpin oleh Nopeng, setelah lebih kurang 4 atau 5 jam (aku tak bisa memberi tahu waktu pasnya, meski si Nopeng memakai jam, tapi aku, dan dia pun tak ingat lagi perihal waktu, Karena panik) Nopeng menemukan satu jalan turun, yang menyerupai jalan cadas seperti waktu kami naik tadi. Meskipun kami sadar bahwa itu bukan jalannya, tapi aku ikuti saja.
Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali aku terjatuh, kami tiba di sebuah jurang yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja kalau langsung lompat kaki bisa cedera. Nopeng yang turun pertama berhasil sampai kebawah. Dalam hatiku terbersit "kuat sekali anak ini", aku bingung tidak tahu mau turun lewat jalan mana, akhirnya Nopeng menunjukkan jalan mana yang harus kulewati, disaat itu timbul keisengan si Nopeng, di dalam tas yang kami ambil ada tustel, dia mengeluarkan tustel dan membiarkan ku tergantung di bibir jurang,
“Ndre ku poto kau dulu , ayo senyumlah”
kujawab ”Peng, udahlah gak usah becanda, kita udah hilang di gunung gini kau masih sempat becanda!”
“Kalau gak mau kau senyum gak kupegang kakimu supaya kau bisa turun”
aku ikuti saja kemauan si nopeng, dengan tersenyum kecut dengan gaya memelas, “klik”, dan aku pun di bantu turun sama si Nopeng, kemudian gantian, kini giliran dia yang meminta di foto olehku,
“nah sekarang gantian aku lagi yang kau poto ndre” lagi-lagi aku ikuti kemauanya, dan sesi poto-poto pun selesai.
Perjalanan pun di lanjutkan berkali-kali kami temui jalan curam namun mampu kami lewati, hingga kami bertemu lagi jurang kebawah yang lumayan tinggi. Nopeng yang pertama kali mencoba untuk turun, berhasil melewati jurang tersebut. Aku terdiam, kali ini sepertinya aku benar-benar tak mampu melewati jurang ini.
Saat mencoba berpikir bagaimana agar bisa turun, ketika itu tepat di sebelah kananku, di sebuah pohon tinggi, entah ilusi atau nyata, aku melihat sesosok tubuh hitam, awalnya aku tidak mengira kalau itu adalah sebangsa makhluk halus. Aku melihat ke arahnya, dia kemudian berdiri (aku menulis ini sambil bulu kudukku berdiri, inilah alasannya aku mau mengubur kenangan ini dalam-dalam, meskipun akhirnya kucoba untuk menulis ini, tidak lebih hanya karena ingin berbagi pengalaman),
nopeng yang awalnya senang karena mendengar informasiku bahwa ada orang di sana, “peng ada orang di atas pohon tingginya sama seperti manusia normal: ”ya udah panggil ndre”
belum selesai dia menyuruhku memanggil, aku langsung melanjutkan ”peng badannya hitam semua, dia menunjuk-nunjukku, seolah-olah ingin menyuruhku berbalik arah,”
nopeng langsung menjawab “ndre jangan dengar kan orang itu turunlah kau segera, dia bukan makhluk baik”.
Ditengah kepanikanku, “aku tidak tahu mau turun, dari mana peng? cepatlah dia mau turun seperti ingin menyusul kita, dia marah peng!!!” tambahku lagi.
Nopeng yang sudah di bawah tak bisa melihat si makhluk hitam tersebut, langsung menjawab ”lewat sini ndre”. Jalan yang ditunjuk Nopeng di sisi kiri jurang tersebut ada rumput dan tanaman-tanaman yang tumbuh menjalar ke bawah, tanpa banyak berfikir, aku nekat turun melewati jalan yang ditunjukkan Nopeng tersebut. Karena gravitasi, aku meluncur turun dengan tangan yang terus berpegang pada tanaman yang menjalar tersebut, entah bagaimana kejadiannya, posisiku langsung terbalik, kepalaku arah kebawah dan kakiku keatas.
Nopeng dengan sigap menyambutku dan sampailah aku di bawah dengan tangan lecet dan seluruh tubuhku dipenuhi tanah dan rerumputan yang menempel di tubuhku, “syukurlah kau masih selamat, ayo kita lanjutkan perjalanan ini,” kata nopeng yang langsung berjalan di depanku.
Akupun mengikutinya, tak lama berjalan, lagi-lagi kami bertemu jurang, kali ini nopeng mencoba turun ke bawah untuk melihat kondisi jurang tersebut, kemudian nopeng kembali sambil mengucapkan Ayat Kursi (ayat dalam kitab suci Al Qur’an), “Ada apa Peng?” tanyaku,
Nopeng, mulutnya sambil berkomat-kamit, menyebutkan bahwa dia baru saja melihat (Ya Allah, kembali bulu kudukku berdiri) "ada sesosok tubuh perempuan rambutnya keriting ndre, dia pakai rok tidak pakai baju, tidur tengkurap di dasar jurang”, aku pucat, dan terpaku, dalam hatiku “ya Tuhan, apa lagi ini?!”
(*)
Spoiler for Bersambung:

Diubah oleh alishba 17-09-2019 18:25
johny251976 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
267.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alishba
#90

Sebelum cerita ini saya lanjutkan, alangkah baiknya saya mereview beberapa narasumber yang nantinya memiliki kisah masing-masing, sekaligus mengenal antara lain, panggilan, kepribadian, dan lain sebagainya.
1. Andre, (Muhammed Andre Raberta)
2. Nopeng, (Noviandi Arsya)
3. Firman, (Firman Hendrik)
4. Iwan, (Irwan Utama)
5. Uncu, (Yopri)
Nama-nama tersebut nantinya akan tetap digunakan dalam cerita-cerita selanjutnya.
Spoiler for Sambungan - Part 4:
Firman, biasa orang memanggilku. Mungkin ceritaku hampir mirip dengan cerita yang telah usai dikisahkan oleh sahabatku, Andre. Namun, ada beberapa histori yang ter-Skip, dan mungkin tak ada dalam kisah-kisah mereka yang lainnya. Karena ini merupakan versiku.
Andre memang sedikit nakal, bandel, dan terkadang keras kepala!, itu sebabnya mengapa kami sering bertengkar, adu mulut sampai mengeluarkan ucapan dan kata-kata kotor ketika perang mulut terjadi. Namun begitu, kami tak pernah memasukkan hal itu kedalam hati, hanya sekedar bumbu-bumbu keakraban sebagai seorang teman dan sahabat dekat. Andre juga sangat tidak disukai di Sekolah, karena sering memalak (minta uang) pada teman-teman di sekolah, aku termasuk korbannya. Sehingga, pada saat kejadian hilangnya mereka, hampir 90 persen siswa bersyukur dan mendoakan mereka tak diketemukan, sungguh miris kedengarannya. Tingkah laku Andre dan Nopeng hampir mirip, mereka berdua tak ubahnya seperti duo sejoli yang saling melengkapi, Andre si keras kepala, banyak omong, tong kosong namun penakut, Nopeng lebih kalem namun lebih pemberani. Intinya sama-sama keras kepala.
Ketika hendak berangkat menuju tujuan pendakian, banyak terjadi moment-moment, dimana jika kita urut dari awal merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang akan terjadi terhadap kami. Ketika Shalat isya di mesjid Padang Panjang, kacamata Andre tertinggal di Mesjid. Tak pernah kami berinisiatif singgah untuk menyelesaikan Shalat Isya di surau itu. Kebiasaannya hanya berlalu, tanpa pernah berniat berhenti. Gunung Merapi merupakan gunung yang sudah dua kali aku daki, namun begitu segala tahapan tetap aku siapkan dan tetap berserah diri pada Sang Pencipta. Beda halnya dengan Andre dan Nopeng, kali ini mereka baru pertama Mendaki Sang Merapi.
Untuk mendaki ke puncak merapi, ada tiga rute yang bisa digunakan, antara lain : Koto Baru, Padang Bawang, dan Simabur. Tapi kali ini kami memilih menggunakan rute Koto Baru yang dipimpin oleh Yopri. Yopri merupakan orang yang dituakan sehingga kami memanggilnya dengan panggilan -Uncu.
Kami memulai pendakian dari kaki gunung setelah Isya, dan berjalan dari perkampungan koto baru sekitar satu setengah jam lamanya. Jika berjalan Normal dengan kecepatan 20KM / Jam, kemungkinan tiba di puncak lebih kurang 4 jam. Setelah berjalan beriringan, akhirnya kami sampai di Posko pertama ( Pesanggrahan), aku langsung menuju posko untuk melapor jumlah anggota yang akan naik, sedangkan teman yang lain duduk sambil beristirahat sejenak. Posisi awal kami pada saat itu adalah : Uncu, posisi depan, Nopeng posisi kedua, Iwan posisi ketiga, Aku diposisi urutan empat, dan Andre yang terakhir. Setelah -Pesanggrahan lah kisah-kisah mistis bermunculan, dari sepanjang jalan setelah berlalu meninggalkan posko pertama, Andre terlihat gelisah karena mendengar suara-suara berisik, seolah memanggil, bersorak-sorak. Karena itulah Andre menyuruhku bertukar posisi dengannya, yang dari posko pertama sudah tampak tak nyaman. Arogansinya tak pernah hilang, aku selalu jadi korban keangkuhannya saat itu.
Benar sekali, aku memang bisa melihat apa yang dirasakan Andre saat itu, karena keahlian ini, aku sering dijuluki "Dukun", punya ilmu, dan lainnya oleh mereka, karena bisa melihat makhluk halus yang ada disekitar manusia. Ada sebuah tempat disepanjang perjalanan yang kami lalui itu seperti tempat yang aneh, selama aku mendaki di Merapi, ini kali pertama aku melihat tempat itu. Sebuah jalur seperti gerbang, dengan rimbunnya ranting-ranting menjulur melingkar seperti pohon bambu, indah sekali. "Ndree, apa itu ndre?! aku mencoba mengajak Andre melihat yang terlihat olehku. "Gila kau man...!, jangan becanda aja kau man" Andre menjawab sambil tertunduk tak menoleh sedikitpun. Sebenarnya aku tahu dia takut, dia mungkin berfikir aku melihat mahluk aneh saat itu, padahal aku hanya berbagi penasaran terhadap Gapura yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan itu.
Sepanjang jalan pendakian, Andre tak henti-hentinya bertengkar denganku, sampai adu mulut. Sangat banyak hal-hal mistik yang aku temui, namun aku tak mau memberitahu mereka, ini merupakan kode etik, jika kita melihat, mencium bau-bauan, atau mendengar sesuatu hal yang aneh, tak boleh diucapkan pada saat bersamaan. Sepasang bola mata, sebesar kepalan tangan orang dewasa juga turut mengikuti kami sepanjang perjalanan, entah apa yang aku lihat bersama Andre, Bola mata berwarna Hijau terang seperti membayangi bersebelahan dengan jalan yang kami lalui. "Ndre, kau lihat gak tadi?"
"Lihat man, tapi kalau itu macan kok matanya sebesar itu man?!" Andre bertanya kembali padaku.
"Ya sudahlah ndre, lanjut aja" aku mengakhiri perdebatan kami berdua.
Sungguh banyak godaan demi godaan yang kamu rasakan, tapi entah mengapa hal ini hanya kami berdua yang merasakan. Suara "Geraman" seperti harimau, tapi suara itu beriringan seperti jangkrik, bedanya itu bukan jangkrik, melainkan suara makhluk yang aku yakin bukan hewan.
Jam 23:14 WIB, kami sampai di Posko kedua (Parak Batuang), atau orang biasa menyebutnya 1750, karena memiliki ketinggian 1750 mdpl. Istirahat sejenak sambil mengisi Air disungai yang tak jauh dari posko. Kebetulan, aku adalah seksi logistik saat itu. Setelah beristirahat memulihkan tenaga, kami melanjutkan menuju -Batas Vegetasi, Cadas. Dari cadas menuju puncak Merapi hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, sehingga kami memutuskan untuk berhenti lagi di cadas tersebut. Sambil menikmati Sunrise pagi, memasak air, ngopi dan memandang keindahan Alam dari bibir puncak.
"Ndre, ambil air ndre!" aku menyuruh andre untuk berganti mengambil air di telaga dekat cadas tersebut.
"Ahh, malas aku man, kau ajalah" andre membantah dan tak mau pergi. Sambil mencampakkan Galon kosong ia membentakku, "Kau lah yang ambil man! ini, kau isi galon ini sampai penuh!"
Perang mulut pun kembali dimulai, Andre si keras kepala itupun tak mau kalah. Akhirnya, Uncu yang di tuakan pun menyuruhku yang mengambil air. Uncu saat itu juga bertengkar dengan Andre, karena sikapnya yang kurang terpuji, sampai mereka saling campak-mencampakkan Periuk, piring dan beberapa gelas plastik dari perlengkapan kami. Uncu menyuruh Iwan ikut bersamaku mengambil air, untung saja Iwan ikut, karena awalnya Iwan hendak ikur bersama Andre dan Nopeng menuju puncak. Sambil mengosongkan tas, Andre bergegas mengisi logistiknya untuk naik ke atas, Aqua berisi Air, 2 sachet extra joss, bawang dan cabai ( tak sengaja terbawa dalam tas) dan beberapa rokok kretek. Setelah kami kembali mengambil air, Andre dan Nopeng masih terlihat dari jarak pandangku.
"Uncu, kenapa mereka dibiarkan keatas ncu?!, mereka perdana ncu! belum tahu jalan diatas" aku bertanya ke uncu dengan nada penasaran.
"Biarkan aja lah man, suka-suka mereka berdua, uda besarnya mereka itu. Tadi kularang gak mau mereka man, katanya -kalau gak tahu jalan bisa ikut turun sama pendaki lain." Sambil berteriak aku bersorak pada Andre, "Woii, kalau setengah jam kalian gak balik, kami susul ke atas ya?!"
Andre menjawab sambil berlalu " Iya, Oke..!".
Setelah mereka jauh dan tak terlihat dari jarak pandangku, seketika itu Kabut Turun. Biasanya kabut seperti ini hanya berlangsung setengah jam atau paling lama satu jam. Namun, sampai tiga jam kabut ini tak juga menghilang. Sejujurnya aku sudah gelisah, setiap pendaki yang turun, kami selalu bertanya "Pak, ada lihat teman kami dua orang diatas pak? Pakai celana pendek, baju lengan buntung?", mereka menjawab dengan jawaban yang sama "gak ada Pak, kami gak lihat". Sampai mendekati pukul 17:23 WIB, mereka juga belum turun, karena penasaran, kami bergegas menyusul mereka ke Puncak Merapi. Tiba dipuncak merapi, terlihat tak banyak rombongan tersisa, hanya ada sisa satu kelompok saja, "Pak, ada lihat teman kami pak? celana pendek, baju lengan buntung, dua orang?", " Ohh, gak ada Pak, dari tadi juga hanya kami yang tersisa disini". Akhirnya kami kembali ke Cadas dan mendirikan tenda, karena hari mulai gelap, kami takut turun ke Parak Batuang (1740), posko kedua. Kami masih berharap mereka turun kebawah dan bertemu mereka, hingga kami bergantian menjaga di pinggir jalan, agar pendaki yang lewat gampang terpantau. Hingga pendaki yang bertemu di puncak tadi turun, Andre dan Nopeng juga belum terlihat dari pandangan kami. Tanda-tanda mereka akan kembali belum ada, namun kami masih sangat berharap mereka balik ke Cadas.
Cadas bukan lokasi tempat pendaki mendirikan tenda, karena anginnya lumayan kencang dan bisa menghancurkan tenda sekelas tenda "A". Kami membawa tenda "Pramuka", sehingga lumayan bisa bertahan saat itu
(*)
Bersambung
Diubah oleh alishba 14-09-2016 21:38
chomimi93 memberi reputasi
2
Kutip
Balas