- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#297
Sorry berat ya agan-agan sekalian atas keterlambatan Update.
Berikut part 2 dari bonus story V dari saya.
Lanjutan BONUS Story V (Dikerjain Rame-rame) Part 2
Part ke - 2 - Hari ke-2
Saya terbangun karena suara alarm dari Handphone.
"Uhh.." keluh saya sembari membiasakan mata pada sinar matahari yang masuk.
Setelah berhasil mengumpulkan nyawa dan duduk di tempat tidur. Saya memperhatikan sekeliling...
Gordin berkibar-kibar terkena terpaan angin yang masuk dari jendela yang terbuka"Bagaimana jendela itu bisa terbuka?" pikir saya dengan kondisi yang masih linglung akibat baru bangun.
Samar-samar, hidung saya mencium bau wangi yang manis.
Saya berbalik ke arah wangi itu yang ternyata berasal dari teman saya, Danu
Seketika itu, kejadian semalam kemarin kembali pada benak saya.
"Oi!! Dan!!" saya melompat dari tempat tidur saya dan mencoba membangunkan teman saya.
Teman saya masih tertidur, tapi wajahnya sangat pucat sekali.
"Oi, cumi!! bangun!!" teriak saya membangunkan dia dengan panik.
"MMhhh!!" geram Danu sambil meluruskan tangan dan kakinya "Apaan sih berisik" keluhnya.
"Lu enggak kenapa-kenapa?"
Danu menatap saya dengan bingung "Hah? maksudnya?"
"Kemarin malam ? lu emang gak sadar?"
Danu terlihat mengingat-ingat sesuatu, lalu tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya "Oiya, seru banget mimpi gue semalem.. hehehe"
"Hah? mimpi? bukanya lu kesurupan?"
"Enggak bro, mimpi gue didatengin cewek asli cakep banget, jadi ceritanya gini *ceritanya Danu saya Sensor - karena terlalu BB++*
Jadi intinya si Danu mimpi ketemu cewek cakep, terus diajak kimpoi. Yang soal si Danu teriak-teriak minta ampun? itu katanya si Danu karena cewek yang cakep tadi panggil lagi temen-temennya yang gak kalah cakepnya. Ceritanya si Danu dipaksa kimpoi sampe enggak kuat lagi. Gitu deh ceritanya kurang lebih.
"Gitu deh bro" katanya sambil masih tersipu-sipu "Enggak nyesel deh"
Saya speechless... enggak nyesel? enggak nyesel?? gila nih anak...
"Bro? lu kagak sadar? udah jelas yang lu mimpiin bukan mimpi basah cuy, itu mah mimpi yang mistis-mistis gitu"
Danu melihat saya, kemudian dia menarik celananya dan melihat ke dalamnya. Iya saya tidak salah tulis, itu beneran dia lakuin "Huff, enggak basah cuy, untung aja enggak keluar gue, gimana jelasinnya ke orang hotel" cerocos Danu.
Ohmaygawd ni anak...
"Mending gue mandi ah, lu belom mandi juga ye?" tanyanya sembari melompat dari tempat tidur sembari menggeser saya.
"Belom, lu duluan deh... gue masih cape" kata saya.
"Cape kenapa?" wajah Danu berubah dari bertanya-tanya menjadi senyuman jahil "Ohhh!! gue tau, lu juga ngalamin mimpi kayak gue ya? makanya lu cape"
"Kagak" jawab saya "Gue cape karena lu, ude sana mandi"
Danu terlihat bingung tapi memutuskan untuk tidak mengacuhkan saya. Dia hanya mengangkat bahunya kemudian mulai melepaskan kaos yang dipakainya.
"Oi, cumi! Badan lu liat!"
Danu mengikuti perkataan saya dan melihat ke badannya. Sekujur badannya dipenuhi dengan tanda biru keunguan yang kecil-kecil.
"Wew... kok bisa bekas cupangnya bertanda beneran?" Kata Danu.
"Hah? Cupang? pala lu cupang itu cumi, lu liat yang bener" kataku sambil menunjuk ke salah satu tanda keunguan itu "Itu bentuknya kayak kelopak bunga gitu"
"Iya juga sih ya..." gumam Danu "Coba liat punggung gua ada gituan juga gak?"
"Buset!!" teriak saya ketika melihat punggung Danu.
Di punggungnya, melintang dari bahu sampai ke pinggang, adalah bekas garis-garis panjang berwarna keunguan yang banyak jumlahnya dan saling bersilangan satu sama lainnya.
"Cuy, punggung lu penuh bekas cakaran begitu. Kagak terasa sakit apa?"
"Hah? cakaran?" Danu memunggungi cermin agar dia bisa melihat punggungnya "Wow, wah gila juga si ******* sampe bekas begitu"
Wtf?
"Apa kata lu bro? lu tau nama 'mahluk' itu?" tanya saya.
"Hush, maen mahluk-mahluk aja, gak sopan lu ama cewek cakep" kata Danu tidak setuju "Tau lah namanya, *Sensor semua untuk nama-nama 'mereka', dari yang Danu sebutkan paling enggak ada 7 'cewek' yang dateng ke mimpi dia*
"Bro, jangan macem-macem dah... gua paling males kalo sampe urusan sama yang begituan" kata saya.
"Udehh, tenang aja, kayaknya mereka baik kok"
Sebelum saya sempat protes, Danu menutup protes saya dengan kata-kata "Udah, tu urusan gua dah. Ntar gua bilang supaya lu gak usah diikutin, rugi-rugi lu dah" katanya.
Hati saya masih tidak tenang sepanjang perjalanan ke desa tempat project saya harus dilakukan. Project itu tepatnya milik kontraktor perusahaan tambang minyak yang meminta sesuatu yang erat kaitannya dengan pekerjaan saya. (maaf saya rahasiakan)
Di tengah-tengah perjalanan, Danu kembali berbuat ulah. .
"Bro-bro, stop sebentar" teriak Danu tiba-tiba di tengah perjalanan.
Tanpa menjelaskan apa-apa dia langsung melompat turun, keluar dari mobil "Ayano! sini buruan!" teriaknya sembari turun.
Dengan bingung, malas dan ragu saya mengikuti Danu turun.
"Liat tuh bro!" ujar Danu sambil menunjuk ke arah bukaan diantara pepohonan yang mengelilingi kami.
"Apaan sih" kata saya enggan.
"Cewek mandi bro!! lu gak liat?" ujarnya lagi dengan bersemangat.
Oke... secara logika, mana mungkin ada cewek-cewek mandi di tengah hutan begini? sudah jelas itu adalah penampakan dari 'mereka'.
Dan sialnya saya juga bisa melihatnya.
Saya tidak akan menjadi orang yang munafik, karena itu saya katakan jujur, 'mereka' yang terlihat sedang mandi itu memang sangat bening dan cantik.
Saya hampir tidak bisa mengalihkan pandangan dari 'mereka' kalau saja orang yang menjadi penunjuk jalan kami tidak memanggil saya.
"Pak, ada apa ya berhenti di sini?" tanya orang itu "Apa ada harimau pak?"
Saya kaget mendengar pertanyaannya "Hah? harimau?"
"Iya? saya pikir bapak-bapak lihat harimau soalnya nunjuk-nunjuk ke hutan sih" katanya.
"Oh, memang bapak gak lihat?" tanya saya.
"Wah, kalau bapak masih muda mungkin bapak lihat, sekarang kan bapak sudah tua, mana mungkin bisa melihat ke hutan gelap begitu"
Gelap? wait... yang saya lihat tadi tidak ada gelap-gelapnya, justru sungai tempat 'mereka' mandi seharusnya tepat berada di samping hutan.
Ketika saya melihat kembali ke arah 'mereka', kali ini saya tidak melihat lagi pemandangan tadi, pemandangan saat ini digantikan dengan deretan pepohonan yang terlihat gelap.
Wah.. kacau nih...
Melihat ekspresi wajah Danu, saya yakin menurut penglihatan dia, para 'wanita' itu masih mandi di tengah hutan itu.
Saya menarik tangan Danu dan mengajaknya segera pergi dari sana "Udah ah, ayo jalan!!" kataku.
"Sabar cuy... gila ngeliat bening begitu kagak *sensor* lu? gua uda *sensor* banget nih!!" katanya.
“Ah lu gila, kerjaan kita disini bukan buat ngintipin cewek cuy” kata saya memaksa Danu untuk pergi.
Akhirnya setelah beberapa lama memaksa Danu, akhirnya dia setuju untuk naik ke atas mobil.
Saya segera menginjak gas sekuatnya untuk pergi dari sana.
“Eh.. tapi kayaknya salah satu dari tu cewek mirip si ***** deh” gumam Danu.
“Jangan sembarangan ngomong ah lu” protes saya.
“Perempuan apa pak?” ucap si pemandu tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.
“Loh? Bapak enggak liat tadi cewek pada mandi di sungai?” tanya Danu sebelum saya sempat membungkam mulutnya.
Si bapak pemandu terlihat bingung, sesaat kemudian wajahnya terlihat pucat “Maksudnya, bapak-bapak tadi ngelihat ada perempuan lagi mandi?” tanya si Bapak pemandu dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
“Iya! Cakep-cakep pak, bapak rugi malah enggak lihat” cerocos Danu.
Si bapak cuma berbisik ‘Astagfirullah’ kemudian diam seribu bahasa sepanjang perjalanan.
Saya melirik si bapak pemandu sekilas. Dan saya sangat yakin pasti bapak ini mengetahui sesuatu, tapi saat ini dia sama sekali tidak berniat untuk bicara.
Sesampainya di tempat project untungnya semua berjalan dengan baik-baik saja. Hingga tiba jam 4 sore, waktunya kami kembali ke hotel tempat kami menginap.
Keanehan kembali terjadi di sini, si bapak pemandu bersikeras tidak mau ikut dengan kami, dia memilih untuk nebeng dengan orang di plant yang baru akan kembali sekitar jam 7 malam ke kota.
Danu tidak mau ambil pusing, dia memaksa saya untuk segera pulang saja meninggalkan bapak itu di plant. Memang, jalan kembali yang perlu kami tempuh tidak terlalu susah, hanya perlu mengikuti jalan lurus saja sampai di kota.
Kamipun berkendara kembali ke kota.
Sewaktu perjalanan ke kota, saya yang biasanya tidak pernah mengantuk saat mengemudi merasakan rasa lelah yang tiba-tiba menyergap.
“Oh.. sh*t.. kok bisa ngantuk banget ya gue..”
Tidak ada jawaban dari Danu, saya mengira dia tertidur.
“Oi, cumi.. gue ngantuk nih gentian dong” kata saya lagi sambil mengulurkan tangan saya pada Danu hendak menyentuh bahunya untuk membangunkan dia.
Alih-alih mendapati bahu Danu, saya merasakan telapak tangan yang dingin menyambut tangan saya yang diulurkan.
“Anj-… dingin banget apaan tuh..” kata saya sambil menarik tangan saya.
Saya menengok ke arah Danu
Wanjayyyy….[I]
Tampak samar-samar beberapa wujud wanita sedang memegangi dan menggerayangi tubuh Danu. Bayangan mereka tampak samar, tapi saya dapat melihat betapa cantiknya paras dari para wanita itu, yang entah bagaimana, paras mereka tampak seperti bentuk wajah yang merupakan tipeku.
Danu yang berada di tengah-tengah mereka hanya duduk dan memejamkan matanya sambil tersenyum-senyum. Nampaknya anak itu malah menikmati hal ini.
“O..Oi.. Dan…” saya mencoba memanggil Danu.
Para ‘wanita’ itu berbalik tiba-tiba dan menatapku, mata mereka bersinar ungu.
JANGAN GANGGU KAMI!!
Teriak mereka, yang seakan-akan diteriakkan oleh seratus orang lebih.
Suara mereka menimbulkan tekanan yang mendorongku menjauh dari Danu. Sehingga mobil sempat oleng sedikit akibat dorongan itu.
Untuk menghindari kecelakaan, saya memutuskan untuk meminggirkan mobil. Saya harus melakukan sesuatu… tapi jujur, saya tidak tau sama sekali saya harus berbuat apa dalam hal ini.
Saya hanya bisa melihat ke arah Danu yang masih digerayangi oleh para ‘wanita’ tersebut. Wajahnya menunjukkan kenikmatan yang angat sangat, namun warna kulitnya semakin pucat.
“Dan…” saya berbisik.
‘Mereka’ menatapku lagi, tapi tidak mengatakan apapun, hanya pandangan mengancam dari mata mereka yang bersinar ungu memperingati saya.
“Kenapa?” saya mencoba berbisik lagi, tapi bukan ke Danu, saya bertanya pada ‘mereka’.
Para ‘wanita’ itu menatap saya dan tersenyum, kemudian satu per satu wujud ‘mereka’ mulai menghilang sehingga saya dapat menghitung ‘mereka’ sembari menghilangnya mereka, ada tujuh dari ‘wanita’ itu.
Entah mengapa jumlah itu mengganggu saya… sepertinya ada sesuatu yang jauh dari dalam pikiran saya yang ingin menyatakan sesuatu, tapi saya tidak bisa mengingatnya.
Saya menunggu beberapa menit sampai saya yakin kalau ‘mereka’ sudah tidak ada di sini lagi. Baru saya berani menjalankan mobil perlahan-lahan.
Selama perjalanan saya masih berjaga-jaga dengan menoleh ke arah Danu atau terus menerus melihat ke kaca spion. Danu sendiri hanya sempat bangun sebentar, lalu langsung jatuh tertidur pulas tanpa berkata apa-apa. Namun wajahnya masih menunjukkan senyuman puas bahagia dan masih sangat pucat.
Tidak ada apapun yang terjadi sampai kami tiba di perbatasan untuk memasuki kota.
“Kami tidak akan mengganggumu karena temanmu memintanya, sebagai gantinya kami minta dia untuk kami”
Suara itu bergema langsung di telinga saya sehingga membuat saya spontan menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.
“Shi…” saya mengumpat.
Saya melihat sekeliling, tapi tidak tampak siapapun atau apapun.. tidak ada apapun yang menujukkan sumber suara tanpa wujud itu, meskipun saya tahu dengan pasti darimana suara itu berasal.
Dan kata-kata mereka itu…
Danu dalam bahaya, saya harus berbuat sesuatu. Sempat terlintas di pikiran saya untuk menelepon Elisa namun saya mengurungkan niat itu. Meminta bantuan dari ‘wanita’ berbaju putih mengakibatkan bayaran yang ‘mahal’ dan itu harus dibayar oleh Elisa, bukan oleh saya. Saya tidak sampai hati melibatkan gadis itu dalam hal ini…
Saya masih berpikir keras bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini sampai di hotel.
Danu sendiri masih tidak bangun-bangun sesampainya kami di hotel. Tidak sih, dia tidak mati kok, karena suara ngoroknya yang kencang bahkan lebih kencang daripada suara lagu di radio mobil.
Tadinya saya berniat meninggalkan dia di mobil sampai dia terbangun sendiri. Namun mengingat ancaman dari para ‘wanita’ itu, saya merasa lebih aman kalau Danu berada di jarak yang bisa saya awasi.
Jadilah pe-er buat saya untuk separuh menyeret Danu sampai ke kamar. Kepada resepsionis hotel saya menjelaskan Danu tertidur karena mencoba tuak dari penduduk desa. Untungnya dia tidak mencurigai apapun dan membantu saya memanggul Danu sampai ke kamar.
[I]Tobat deh sama ni anak
Baru ketika saya selesai mandi saya baru terpikirkan satu hal yang mungkin saya bisa memberikan saya petunjuk untuk menyelesaikan hal ini.
Si pemandu.
Melihat gelagatnya pasti dia tahu sesuatu mengenai para ‘wanita’ itu. Setidaknya kalau tau sedikit, setidaknya saya bisa berpikir cara untuk mengatasinya.
Mungkin….
Saya mencoba menelepon si bapak pemandu kami.
Tanpa diduga, sambungan telepon langsung diangkat.
“Halo..” suara berat dari sambungan telepon berkata.
“Halo mang *sensor*”
“Ya pak?”
“Maaf ganggu malam-malam begini Mang, begini, saya langsung saja mungkin ya”
“Soal gangguan jin ya pak?” kata bapak pemandu itu memotong ucapan saya.
Saya terdiam mendengar dia sudah mengetahui dengan jelas maksud panggilan saya “Mang sudah tau ya?”
“Iya pak, maaf kali saya tidak berani bicara macam-macam tadi. Takut malah saya yang kena” kata bapak itu “Kalau bisa telepon saya, berarti bapak enggak kenapa-kenapa ya?” tanyanya.
“Saya enggak kenapa-kenapa mang, tapi teman saya nih, tadi kayaknya digangguin dalem tidurnya, sampe sekarang tidur enggak bangun-bangun”
“Emang temannya ngapain pak? Kok sampai bisa begitu? Biasanya cuman ditunjukin doang lho” tanya si bapak, nadanya terdengar bingung dan khawatir.
“Yah, sebenarnya begini mang… - saya menceritakan perihal teman saya mimpi kimpoi dengan para ‘wanita’ cantik dan saya juga ceritakan bagaimana saya dan teman saya melihat para ‘wanita’ yang sedang mandi di pinggiran hutan. Tapi saya tidak menceritakan soal si sosok dengan kepala terlepas itu.. entah mengapa ada sesuatu yang menahan saya untuk mengatakannya…
Si bapak pemandu terdiam sebentar, kemudian berkata “Pak, sepertinya teman bapak disukain sama tujuh bidarari deh”
“Tujuh bidadari?” tanya saya.
“Itu sebutan untuk jin penunggu hutan di sini pak” si bapak terdiam cukup lama, saya bisa merasakan sedikit keraguannya untuk berbicara “Pak, gini deh, saya tidak mampu berkata banyak, pamali pak, mohon bapak bisa menghubungi sepuh di sini saja, semoga dia bisa bantu”
Saya menimbang sejenak.. tampaknya mau tidak mau deh kalau sudah begini “Oke mang, bagaimana saya bisa menemui pak sepuh itu?”
“Bapak telepon saja handphonenya pak, namanya Mang ******, nanti saya SMS teleponnya”
Wuih… canggih juga jaman sekarang ya.. udah serba Handphone.
“Oke mang, terimakasih sebelumnya ya”
“Sama-sama pak, saya sms ya” kata bapak itu sambil memutus sambungan telepon.
Tidak lama, sebuah pesan berisikan nomor telepon sepuh itu dikirimkan oleh bapak pemandu itu.
Namun hari sudah sangat malam, sekitar jam 10, arena itu saya memutuskan untuk meneleponnya besok pagi saja. Toh Danu masih saja tertidur sampai sekarang.
Yahh… tapi seperti biasanya, ‘mereka’ itu selalu datang dengan timing yang “sempurna” deh.
Seperti kemarin malam, tiba-tiba jendela kamar kami tersentak membuka bersamaan dengan masuknya angin-angin dingin.
Bedanya hanya, kali ini angin dingin itu berbentuk bayangan dari tujuh ‘wanita’ yang melayang masuk dan langsung menghampiri Danu.
“!!” saya hendak berteriak memanggil Danu, namun ‘sesuatu’ menahan tubuh saya.
Saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya, tapi saya merasakan sebuah tangan menyentuh bahu kiri saya.
“!!” saya berusaha berontak namun tubuh saya tidak bisa bergerak dan suara saya tidak bisa keluar.
Dari sisi kanan tubuh saya, sekelebat bayangan melesat ke hadapan saya.
Sebuah tangan yang merenggut rambut dari kepala yang menggantung di ujung rambut itu menatap saya.
[I]ya.. Tuhan….[I]
Wajah mengerikan dengan tengkorak hancur separuh itu tergantung di hadapanku. Semburat berwarna merah dari wajah keunguan itu bergerak-gerak bagaikan urat nadi yang bergerak-gerak.
Mulut ‘mahluk’ itu bergerak.
‘Jangan ganggu anak-anakku makan’
Kemudian sekali lagi semuanya menjadi gelap..
Bersambung lagehh... sorry abis ceritanya panjang seh.. 3 hari getoohh
Berikut part 2 dari bonus story V dari saya.
Lanjutan BONUS Story V (Dikerjain Rame-rame) Part 2
Spoiler for Bonus Story V - Part II :
Part ke - 2 - Hari ke-2
Saya terbangun karena suara alarm dari Handphone.
"Uhh.." keluh saya sembari membiasakan mata pada sinar matahari yang masuk.
Setelah berhasil mengumpulkan nyawa dan duduk di tempat tidur. Saya memperhatikan sekeliling...
Gordin berkibar-kibar terkena terpaan angin yang masuk dari jendela yang terbuka"Bagaimana jendela itu bisa terbuka?" pikir saya dengan kondisi yang masih linglung akibat baru bangun.
Samar-samar, hidung saya mencium bau wangi yang manis.
Saya berbalik ke arah wangi itu yang ternyata berasal dari teman saya, Danu
Seketika itu, kejadian semalam kemarin kembali pada benak saya.
"Oi!! Dan!!" saya melompat dari tempat tidur saya dan mencoba membangunkan teman saya.
Teman saya masih tertidur, tapi wajahnya sangat pucat sekali.
"Oi, cumi!! bangun!!" teriak saya membangunkan dia dengan panik.
"MMhhh!!" geram Danu sambil meluruskan tangan dan kakinya "Apaan sih berisik" keluhnya.
"Lu enggak kenapa-kenapa?"
Danu menatap saya dengan bingung "Hah? maksudnya?"
"Kemarin malam ? lu emang gak sadar?"
Danu terlihat mengingat-ingat sesuatu, lalu tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya "Oiya, seru banget mimpi gue semalem.. hehehe"
"Hah? mimpi? bukanya lu kesurupan?"
"Enggak bro, mimpi gue didatengin cewek asli cakep banget, jadi ceritanya gini *ceritanya Danu saya Sensor - karena terlalu BB++*
Jadi intinya si Danu mimpi ketemu cewek cakep, terus diajak kimpoi. Yang soal si Danu teriak-teriak minta ampun? itu katanya si Danu karena cewek yang cakep tadi panggil lagi temen-temennya yang gak kalah cakepnya. Ceritanya si Danu dipaksa kimpoi sampe enggak kuat lagi. Gitu deh ceritanya kurang lebih.
"Gitu deh bro" katanya sambil masih tersipu-sipu "Enggak nyesel deh"
Saya speechless... enggak nyesel? enggak nyesel?? gila nih anak...
"Bro? lu kagak sadar? udah jelas yang lu mimpiin bukan mimpi basah cuy, itu mah mimpi yang mistis-mistis gitu"
Danu melihat saya, kemudian dia menarik celananya dan melihat ke dalamnya. Iya saya tidak salah tulis, itu beneran dia lakuin "Huff, enggak basah cuy, untung aja enggak keluar gue, gimana jelasinnya ke orang hotel" cerocos Danu.
Ohmaygawd ni anak...
"Mending gue mandi ah, lu belom mandi juga ye?" tanyanya sembari melompat dari tempat tidur sembari menggeser saya.
"Belom, lu duluan deh... gue masih cape" kata saya.
"Cape kenapa?" wajah Danu berubah dari bertanya-tanya menjadi senyuman jahil "Ohhh!! gue tau, lu juga ngalamin mimpi kayak gue ya? makanya lu cape"
"Kagak" jawab saya "Gue cape karena lu, ude sana mandi"
Danu terlihat bingung tapi memutuskan untuk tidak mengacuhkan saya. Dia hanya mengangkat bahunya kemudian mulai melepaskan kaos yang dipakainya.
"Oi, cumi! Badan lu liat!"
Danu mengikuti perkataan saya dan melihat ke badannya. Sekujur badannya dipenuhi dengan tanda biru keunguan yang kecil-kecil.
"Wew... kok bisa bekas cupangnya bertanda beneran?" Kata Danu.
"Hah? Cupang? pala lu cupang itu cumi, lu liat yang bener" kataku sambil menunjuk ke salah satu tanda keunguan itu "Itu bentuknya kayak kelopak bunga gitu"
"Iya juga sih ya..." gumam Danu "Coba liat punggung gua ada gituan juga gak?"
"Buset!!" teriak saya ketika melihat punggung Danu.
Di punggungnya, melintang dari bahu sampai ke pinggang, adalah bekas garis-garis panjang berwarna keunguan yang banyak jumlahnya dan saling bersilangan satu sama lainnya.
"Cuy, punggung lu penuh bekas cakaran begitu. Kagak terasa sakit apa?"
"Hah? cakaran?" Danu memunggungi cermin agar dia bisa melihat punggungnya "Wow, wah gila juga si ******* sampe bekas begitu"
Wtf?
"Apa kata lu bro? lu tau nama 'mahluk' itu?" tanya saya.
"Hush, maen mahluk-mahluk aja, gak sopan lu ama cewek cakep" kata Danu tidak setuju "Tau lah namanya, *Sensor semua untuk nama-nama 'mereka', dari yang Danu sebutkan paling enggak ada 7 'cewek' yang dateng ke mimpi dia*
"Bro, jangan macem-macem dah... gua paling males kalo sampe urusan sama yang begituan" kata saya.
"Udehh, tenang aja, kayaknya mereka baik kok"
Sebelum saya sempat protes, Danu menutup protes saya dengan kata-kata "Udah, tu urusan gua dah. Ntar gua bilang supaya lu gak usah diikutin, rugi-rugi lu dah" katanya.
Hati saya masih tidak tenang sepanjang perjalanan ke desa tempat project saya harus dilakukan. Project itu tepatnya milik kontraktor perusahaan tambang minyak yang meminta sesuatu yang erat kaitannya dengan pekerjaan saya. (maaf saya rahasiakan)
Di tengah-tengah perjalanan, Danu kembali berbuat ulah. .
"Bro-bro, stop sebentar" teriak Danu tiba-tiba di tengah perjalanan.
Tanpa menjelaskan apa-apa dia langsung melompat turun, keluar dari mobil "Ayano! sini buruan!" teriaknya sembari turun.
Dengan bingung, malas dan ragu saya mengikuti Danu turun.
"Liat tuh bro!" ujar Danu sambil menunjuk ke arah bukaan diantara pepohonan yang mengelilingi kami.
"Apaan sih" kata saya enggan.
"Cewek mandi bro!! lu gak liat?" ujarnya lagi dengan bersemangat.
Oke... secara logika, mana mungkin ada cewek-cewek mandi di tengah hutan begini? sudah jelas itu adalah penampakan dari 'mereka'.
Dan sialnya saya juga bisa melihatnya.
Saya tidak akan menjadi orang yang munafik, karena itu saya katakan jujur, 'mereka' yang terlihat sedang mandi itu memang sangat bening dan cantik.
Saya hampir tidak bisa mengalihkan pandangan dari 'mereka' kalau saja orang yang menjadi penunjuk jalan kami tidak memanggil saya.
"Pak, ada apa ya berhenti di sini?" tanya orang itu "Apa ada harimau pak?"
Saya kaget mendengar pertanyaannya "Hah? harimau?"
"Iya? saya pikir bapak-bapak lihat harimau soalnya nunjuk-nunjuk ke hutan sih" katanya.
"Oh, memang bapak gak lihat?" tanya saya.
"Wah, kalau bapak masih muda mungkin bapak lihat, sekarang kan bapak sudah tua, mana mungkin bisa melihat ke hutan gelap begitu"
Gelap? wait... yang saya lihat tadi tidak ada gelap-gelapnya, justru sungai tempat 'mereka' mandi seharusnya tepat berada di samping hutan.
Ketika saya melihat kembali ke arah 'mereka', kali ini saya tidak melihat lagi pemandangan tadi, pemandangan saat ini digantikan dengan deretan pepohonan yang terlihat gelap.
Wah.. kacau nih...
Melihat ekspresi wajah Danu, saya yakin menurut penglihatan dia, para 'wanita' itu masih mandi di tengah hutan itu.
Saya menarik tangan Danu dan mengajaknya segera pergi dari sana "Udah ah, ayo jalan!!" kataku.
"Sabar cuy... gila ngeliat bening begitu kagak *sensor* lu? gua uda *sensor* banget nih!!" katanya.
“Ah lu gila, kerjaan kita disini bukan buat ngintipin cewek cuy” kata saya memaksa Danu untuk pergi.
Akhirnya setelah beberapa lama memaksa Danu, akhirnya dia setuju untuk naik ke atas mobil.
Saya segera menginjak gas sekuatnya untuk pergi dari sana.
“Eh.. tapi kayaknya salah satu dari tu cewek mirip si ***** deh” gumam Danu.
“Jangan sembarangan ngomong ah lu” protes saya.
“Perempuan apa pak?” ucap si pemandu tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.
“Loh? Bapak enggak liat tadi cewek pada mandi di sungai?” tanya Danu sebelum saya sempat membungkam mulutnya.
Si bapak pemandu terlihat bingung, sesaat kemudian wajahnya terlihat pucat “Maksudnya, bapak-bapak tadi ngelihat ada perempuan lagi mandi?” tanya si Bapak pemandu dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
“Iya! Cakep-cakep pak, bapak rugi malah enggak lihat” cerocos Danu.
Si bapak cuma berbisik ‘Astagfirullah’ kemudian diam seribu bahasa sepanjang perjalanan.
Saya melirik si bapak pemandu sekilas. Dan saya sangat yakin pasti bapak ini mengetahui sesuatu, tapi saat ini dia sama sekali tidak berniat untuk bicara.
Sesampainya di tempat project untungnya semua berjalan dengan baik-baik saja. Hingga tiba jam 4 sore, waktunya kami kembali ke hotel tempat kami menginap.
Keanehan kembali terjadi di sini, si bapak pemandu bersikeras tidak mau ikut dengan kami, dia memilih untuk nebeng dengan orang di plant yang baru akan kembali sekitar jam 7 malam ke kota.
Danu tidak mau ambil pusing, dia memaksa saya untuk segera pulang saja meninggalkan bapak itu di plant. Memang, jalan kembali yang perlu kami tempuh tidak terlalu susah, hanya perlu mengikuti jalan lurus saja sampai di kota.
Kamipun berkendara kembali ke kota.
Sewaktu perjalanan ke kota, saya yang biasanya tidak pernah mengantuk saat mengemudi merasakan rasa lelah yang tiba-tiba menyergap.
“Oh.. sh*t.. kok bisa ngantuk banget ya gue..”
Tidak ada jawaban dari Danu, saya mengira dia tertidur.
“Oi, cumi.. gue ngantuk nih gentian dong” kata saya lagi sambil mengulurkan tangan saya pada Danu hendak menyentuh bahunya untuk membangunkan dia.
Alih-alih mendapati bahu Danu, saya merasakan telapak tangan yang dingin menyambut tangan saya yang diulurkan.
“Anj-… dingin banget apaan tuh..” kata saya sambil menarik tangan saya.
Saya menengok ke arah Danu
Wanjayyyy….[I]
Tampak samar-samar beberapa wujud wanita sedang memegangi dan menggerayangi tubuh Danu. Bayangan mereka tampak samar, tapi saya dapat melihat betapa cantiknya paras dari para wanita itu, yang entah bagaimana, paras mereka tampak seperti bentuk wajah yang merupakan tipeku.
Danu yang berada di tengah-tengah mereka hanya duduk dan memejamkan matanya sambil tersenyum-senyum. Nampaknya anak itu malah menikmati hal ini.
“O..Oi.. Dan…” saya mencoba memanggil Danu.
Para ‘wanita’ itu berbalik tiba-tiba dan menatapku, mata mereka bersinar ungu.
JANGAN GANGGU KAMI!!
Teriak mereka, yang seakan-akan diteriakkan oleh seratus orang lebih.
Suara mereka menimbulkan tekanan yang mendorongku menjauh dari Danu. Sehingga mobil sempat oleng sedikit akibat dorongan itu.
Untuk menghindari kecelakaan, saya memutuskan untuk meminggirkan mobil. Saya harus melakukan sesuatu… tapi jujur, saya tidak tau sama sekali saya harus berbuat apa dalam hal ini.
Saya hanya bisa melihat ke arah Danu yang masih digerayangi oleh para ‘wanita’ tersebut. Wajahnya menunjukkan kenikmatan yang angat sangat, namun warna kulitnya semakin pucat.
“Dan…” saya berbisik.
‘Mereka’ menatapku lagi, tapi tidak mengatakan apapun, hanya pandangan mengancam dari mata mereka yang bersinar ungu memperingati saya.
“Kenapa?” saya mencoba berbisik lagi, tapi bukan ke Danu, saya bertanya pada ‘mereka’.
Para ‘wanita’ itu menatap saya dan tersenyum, kemudian satu per satu wujud ‘mereka’ mulai menghilang sehingga saya dapat menghitung ‘mereka’ sembari menghilangnya mereka, ada tujuh dari ‘wanita’ itu.
Entah mengapa jumlah itu mengganggu saya… sepertinya ada sesuatu yang jauh dari dalam pikiran saya yang ingin menyatakan sesuatu, tapi saya tidak bisa mengingatnya.
Saya menunggu beberapa menit sampai saya yakin kalau ‘mereka’ sudah tidak ada di sini lagi. Baru saya berani menjalankan mobil perlahan-lahan.
Selama perjalanan saya masih berjaga-jaga dengan menoleh ke arah Danu atau terus menerus melihat ke kaca spion. Danu sendiri hanya sempat bangun sebentar, lalu langsung jatuh tertidur pulas tanpa berkata apa-apa. Namun wajahnya masih menunjukkan senyuman puas bahagia dan masih sangat pucat.
Tidak ada apapun yang terjadi sampai kami tiba di perbatasan untuk memasuki kota.
“Kami tidak akan mengganggumu karena temanmu memintanya, sebagai gantinya kami minta dia untuk kami”
Suara itu bergema langsung di telinga saya sehingga membuat saya spontan menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.
“Shi…” saya mengumpat.
Saya melihat sekeliling, tapi tidak tampak siapapun atau apapun.. tidak ada apapun yang menujukkan sumber suara tanpa wujud itu, meskipun saya tahu dengan pasti darimana suara itu berasal.
Dan kata-kata mereka itu…
Danu dalam bahaya, saya harus berbuat sesuatu. Sempat terlintas di pikiran saya untuk menelepon Elisa namun saya mengurungkan niat itu. Meminta bantuan dari ‘wanita’ berbaju putih mengakibatkan bayaran yang ‘mahal’ dan itu harus dibayar oleh Elisa, bukan oleh saya. Saya tidak sampai hati melibatkan gadis itu dalam hal ini…
Saya masih berpikir keras bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini sampai di hotel.
Danu sendiri masih tidak bangun-bangun sesampainya kami di hotel. Tidak sih, dia tidak mati kok, karena suara ngoroknya yang kencang bahkan lebih kencang daripada suara lagu di radio mobil.
Tadinya saya berniat meninggalkan dia di mobil sampai dia terbangun sendiri. Namun mengingat ancaman dari para ‘wanita’ itu, saya merasa lebih aman kalau Danu berada di jarak yang bisa saya awasi.
Jadilah pe-er buat saya untuk separuh menyeret Danu sampai ke kamar. Kepada resepsionis hotel saya menjelaskan Danu tertidur karena mencoba tuak dari penduduk desa. Untungnya dia tidak mencurigai apapun dan membantu saya memanggul Danu sampai ke kamar.
[I]Tobat deh sama ni anak
Baru ketika saya selesai mandi saya baru terpikirkan satu hal yang mungkin saya bisa memberikan saya petunjuk untuk menyelesaikan hal ini.
Si pemandu.
Melihat gelagatnya pasti dia tahu sesuatu mengenai para ‘wanita’ itu. Setidaknya kalau tau sedikit, setidaknya saya bisa berpikir cara untuk mengatasinya.
Mungkin….
Saya mencoba menelepon si bapak pemandu kami.
Tanpa diduga, sambungan telepon langsung diangkat.
“Halo..” suara berat dari sambungan telepon berkata.
“Halo mang *sensor*”
“Ya pak?”
“Maaf ganggu malam-malam begini Mang, begini, saya langsung saja mungkin ya”
“Soal gangguan jin ya pak?” kata bapak pemandu itu memotong ucapan saya.
Saya terdiam mendengar dia sudah mengetahui dengan jelas maksud panggilan saya “Mang sudah tau ya?”
“Iya pak, maaf kali saya tidak berani bicara macam-macam tadi. Takut malah saya yang kena” kata bapak itu “Kalau bisa telepon saya, berarti bapak enggak kenapa-kenapa ya?” tanyanya.
“Saya enggak kenapa-kenapa mang, tapi teman saya nih, tadi kayaknya digangguin dalem tidurnya, sampe sekarang tidur enggak bangun-bangun”
“Emang temannya ngapain pak? Kok sampai bisa begitu? Biasanya cuman ditunjukin doang lho” tanya si bapak, nadanya terdengar bingung dan khawatir.
“Yah, sebenarnya begini mang… - saya menceritakan perihal teman saya mimpi kimpoi dengan para ‘wanita’ cantik dan saya juga ceritakan bagaimana saya dan teman saya melihat para ‘wanita’ yang sedang mandi di pinggiran hutan. Tapi saya tidak menceritakan soal si sosok dengan kepala terlepas itu.. entah mengapa ada sesuatu yang menahan saya untuk mengatakannya…
Si bapak pemandu terdiam sebentar, kemudian berkata “Pak, sepertinya teman bapak disukain sama tujuh bidarari deh”
“Tujuh bidadari?” tanya saya.
“Itu sebutan untuk jin penunggu hutan di sini pak” si bapak terdiam cukup lama, saya bisa merasakan sedikit keraguannya untuk berbicara “Pak, gini deh, saya tidak mampu berkata banyak, pamali pak, mohon bapak bisa menghubungi sepuh di sini saja, semoga dia bisa bantu”
Saya menimbang sejenak.. tampaknya mau tidak mau deh kalau sudah begini “Oke mang, bagaimana saya bisa menemui pak sepuh itu?”
“Bapak telepon saja handphonenya pak, namanya Mang ******, nanti saya SMS teleponnya”
Wuih… canggih juga jaman sekarang ya.. udah serba Handphone.
“Oke mang, terimakasih sebelumnya ya”
“Sama-sama pak, saya sms ya” kata bapak itu sambil memutus sambungan telepon.
Tidak lama, sebuah pesan berisikan nomor telepon sepuh itu dikirimkan oleh bapak pemandu itu.
Namun hari sudah sangat malam, sekitar jam 10, arena itu saya memutuskan untuk meneleponnya besok pagi saja. Toh Danu masih saja tertidur sampai sekarang.
Yahh… tapi seperti biasanya, ‘mereka’ itu selalu datang dengan timing yang “sempurna” deh.
Seperti kemarin malam, tiba-tiba jendela kamar kami tersentak membuka bersamaan dengan masuknya angin-angin dingin.
Bedanya hanya, kali ini angin dingin itu berbentuk bayangan dari tujuh ‘wanita’ yang melayang masuk dan langsung menghampiri Danu.
“!!” saya hendak berteriak memanggil Danu, namun ‘sesuatu’ menahan tubuh saya.
Saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya, tapi saya merasakan sebuah tangan menyentuh bahu kiri saya.
“!!” saya berusaha berontak namun tubuh saya tidak bisa bergerak dan suara saya tidak bisa keluar.
Dari sisi kanan tubuh saya, sekelebat bayangan melesat ke hadapan saya.
Sebuah tangan yang merenggut rambut dari kepala yang menggantung di ujung rambut itu menatap saya.
[I]ya.. Tuhan….[I]
Wajah mengerikan dengan tengkorak hancur separuh itu tergantung di hadapanku. Semburat berwarna merah dari wajah keunguan itu bergerak-gerak bagaikan urat nadi yang bergerak-gerak.
Mulut ‘mahluk’ itu bergerak.
‘Jangan ganggu anak-anakku makan’
Kemudian sekali lagi semuanya menjadi gelap..
Bersambung lagehh... sorry abis ceritanya panjang seh.. 3 hari getoohh
Diubah oleh ayanokouji 09-08-2016 10:10
marcellaal dan indradraoen memberi reputasi
2
Kutip
Balas