- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#63
Perasaan apa ini!?
Quote:
Sudah tengah malam, tapi Tanaka belum juga bisa tidur. Hatinya gelisah memikirkan Ayu. Entahlah, sepertinya Tanaka punya firasat buruk. Sekali lagi dia mencoba menghubungi ponsel Ayu. Namun hasilnya tetap sama.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada diluar servis area.
“Kenapa aku sangat memcemaskan dirinya? Bukankah dia sudah sering pergi mendaki? Jadi semua pasti baik2 saja.” Kata Tanaka sambil memandangi langit2 kamar.
Teringat saat terakhir mereka bertemu, Tanaka memarahi Ayu sampai gadis itu hampir menangis.
“Maafkan aku, Ayu. Aku tidak tau bagaimana caranya membuatmu tidak terluka.”
Memikirkan Ayu malah membuat Tanaka makin sulit tidur. Semalaman digunakannya untuk membaca buku Sherlock Holmes. Dan benar saja, sampai pagi ia tidak tidur.
Pagi2 sekali, bahkan sebelum matahari terbit. Tanaka sudah meluncur pergi dengan motor ninjanya menuju rumah Ayu. Kakek menelepon beberapa menit yg lalu, memintanya untuk segera datang. Kakek tidak mengatakan ada apa, tapi dari intonasinya sepertinya ini hal serius.
Sesampainya dirumah Ayu. Tanaka berpapasan dengan beberapa orang pendaki yg akan pergi dari sana. Perasaan Tanaka makin tak enak, ini pasti ada hubungannya dengan Ayu.
“Kakek, ada apa sebenarnya?” Tanya Tanaka cemas.
“Ayunda.. Ayunda..” Kata kakek lemas.
“Iya. Ayunda kenapa, Kek?”
“Ayunda hilang saat mendaki.” Kakek menangis. Sedangkan Nenek hanya bisa duduk sambil memeluk foto Ayu. Air matapun tak terbendung lagi.”
Tanaka tertegun. “Hilang? Apa benar dia hilang?”
Kakek menghapus air matanya. “Temannya bilang, mereka ketinggalan rombongan. Sedangkan Ayu minta istirahat, temannya yg bersamanya lari kedepan untuk memberi tahu yg lain soal keadaan Ayu, tapi saat kembali, Ayu sudah tidak ada ditempat. Mereka sudah cari tapi tidak ketemu. Nanti malam rencananya mereka akan membuat laporan kehilangan.”
Tanaka terlihat menyesal. “Kakek, Nenek. Teruslah berdoa semoga Ayu dalam keadaan baik2 saja. Saya akan coba bantu semaksimal mungkin.”
“Terima Kasih, Tanaka.”
“Sekarang, Kakek dan Nenek istirahat saja dirumah. Saya akan coba cari bantuan dari yg berwajib, supaya pencarian bisa segera dilakukan.”
Kakek mengiyakan. Tanakapun pergi. Sebenarnya dia tidak benar2 akan meminta bantuan dari yg berwajib. Dia malah pergi ke gedung tua bekas pabrik, tempat ia bertemu dengan Edrick. Entah kenapa Tanaka mencurigai Edrick yg bertanggung jawab atas hilangnya Ayu.
Sesampainya disana, Tanaka hanya bertemu dengan seorang pria berpakaian hitam2 yg sedang berjaga disana. Tanaka langsung menyerangnya dengan memukul wajah pria itu. Tanaka benar2 dikuasai amarah.
“Dimana Edrick? Cepat katakan!”
“Ada urusan apa?” Timpal si pria.
Namun si pria tak mau terima dengan serangan Tanaka. Ia membalas pukulan Tanaka. Dan terjadilah perkelahian antara keduanya, yang akhirnya dimenangkan oleh Tanaka. Tanaka mengunci lawannya.
“Ayo katakan dimana Edrick!?”
“Tunggu saja disini sampai dia datang.”
“Aku tidak punya waktu untuk menunggu!” Sentak Tanaka.
Pria itu membuang muka. Tanaka makin emosi dan menghantam wajah pria itu dengan batu.
“Ya, ya, aku akan bicara.” Kata si pria kesakitan.
“Dimana!?”
Pria itu akhirnya memberi tahu dimana rumah Edrick.
Tanpa pikir panjang, Tanaka langsung meluncur ke alamat yg dituju.
Setelah dua jam perjalanan Bogor-Jakarta dan melalui jalanan ibu kota yg padat merayap, Akhirnya sampai juga Tanaka disebuah rumah minimalis disebuah komplek dipinggiran ibu kota Jakarta.
Tanaka langsung menggedor pintu rumah Edrick, seperti seorang debt collector yg ingin menagih hutang saja.
“TOK.. TOK.. TOK..”
Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang anak perempuan yg masih memakai piyama berdiri diambang pintu. Tanaka menatapnya heran, begitupun dengan anak itu, ia heran melihat pria asing yg berdiri dihadapannya.
“Om, mau cari siapa?” Tanya bocah manis itu
“Edrick.” Jawab Tanaka masih dengan tatapan heran pada anak perempuan itu.
“Gladys, siapa yg datang, nak?” Tanya seorang pria dari dalam.
Gadis kecil itu menoleh pada ayahnya.
Dan ternyata itu Edrick.
“Tanaka?” Tanya Edrick bingung.
“Ternyata disini rumahmu.”
Edrick menganggugk. “Hey, kenalin ini Gladys, anak gue.” Kata Edrick sambil merangkul putrinya.
Gladys tanpa disuruh langsung menyalami Tanaka.
Tanaka ingin langsung marah, namun urung karena ada anak kecil disana.
“Aku ingin bicara denganmu?” Kata Tanaka ketus.
Edrick keluar sambil menutup pintu. “Kamu pergi ke mama sana sayang.” Katanya pada putri kecilnya.
“Edrick, apa kau ada hubungannya dengan hilangnya Ayunda saat mendaki?”
Edrick mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Gadis itu hilang saat mendaki, Edrick. Kau tidak tau atau pura2 tidak tau!”
Edrick mengurut2 dahinya. “Aku benar2 tidak tau, Tanaka. Jangan paksa aku mengakui hal yg tidak aku lakukan.”
“Lalu kenapa kau bisa tau kalau gadis itu punya hobi mendaki!”
“Astaga, Tanaka. Aku mengetahui itu dari Kakek dan Neneknya, ingat aku pernah meminta mereka masak disini? Saat itulah aku bertanya tentang gadis itu. Aku bahkan tidak tau dia sedang mendaki. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain sampai harus membuntuti seorang gadis sampai ke gunung.”
“Tapi kau bisa saja memanfaatkan dia untuk memburuku!” Sentak Tanaka sangat marah.
“Kenapa kau sangat marah kalau ada hal buruk yang bersangkutan dengan gadis itu, apakah dia kekasihmu?” Tanya Edrick heran melihat Tanaka yg sering kali tersulut emosi jika mendengar sesuatu yg buruk tentang Ayu.
“Itu bukan urusanmu, Edrick.”
Tiba2 ponsel Tanaka berdering, tanda sms masuk. Dari nomor Ayunda.
Datanglah ke wilayah Sampireun, Garut, gadis ini terluka..
Ekspresi wajah Tanaka berubah kaget sekaligus marah. Sepertinya memang benar, Edrick tidak terlibat dalam hal ini. Lalu siapa yg mengirim SMS? Tidak mungkin ini Ayu. Gaya penulisannya pun sangat berbeda.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada diluar servis area.
“Kenapa aku sangat memcemaskan dirinya? Bukankah dia sudah sering pergi mendaki? Jadi semua pasti baik2 saja.” Kata Tanaka sambil memandangi langit2 kamar.
Teringat saat terakhir mereka bertemu, Tanaka memarahi Ayu sampai gadis itu hampir menangis.
“Maafkan aku, Ayu. Aku tidak tau bagaimana caranya membuatmu tidak terluka.”
Memikirkan Ayu malah membuat Tanaka makin sulit tidur. Semalaman digunakannya untuk membaca buku Sherlock Holmes. Dan benar saja, sampai pagi ia tidak tidur.
Pagi2 sekali, bahkan sebelum matahari terbit. Tanaka sudah meluncur pergi dengan motor ninjanya menuju rumah Ayu. Kakek menelepon beberapa menit yg lalu, memintanya untuk segera datang. Kakek tidak mengatakan ada apa, tapi dari intonasinya sepertinya ini hal serius.
Sesampainya dirumah Ayu. Tanaka berpapasan dengan beberapa orang pendaki yg akan pergi dari sana. Perasaan Tanaka makin tak enak, ini pasti ada hubungannya dengan Ayu.
“Kakek, ada apa sebenarnya?” Tanya Tanaka cemas.
“Ayunda.. Ayunda..” Kata kakek lemas.
“Iya. Ayunda kenapa, Kek?”
“Ayunda hilang saat mendaki.” Kakek menangis. Sedangkan Nenek hanya bisa duduk sambil memeluk foto Ayu. Air matapun tak terbendung lagi.”
Tanaka tertegun. “Hilang? Apa benar dia hilang?”
Kakek menghapus air matanya. “Temannya bilang, mereka ketinggalan rombongan. Sedangkan Ayu minta istirahat, temannya yg bersamanya lari kedepan untuk memberi tahu yg lain soal keadaan Ayu, tapi saat kembali, Ayu sudah tidak ada ditempat. Mereka sudah cari tapi tidak ketemu. Nanti malam rencananya mereka akan membuat laporan kehilangan.”
Tanaka terlihat menyesal. “Kakek, Nenek. Teruslah berdoa semoga Ayu dalam keadaan baik2 saja. Saya akan coba bantu semaksimal mungkin.”
“Terima Kasih, Tanaka.”
“Sekarang, Kakek dan Nenek istirahat saja dirumah. Saya akan coba cari bantuan dari yg berwajib, supaya pencarian bisa segera dilakukan.”
Kakek mengiyakan. Tanakapun pergi. Sebenarnya dia tidak benar2 akan meminta bantuan dari yg berwajib. Dia malah pergi ke gedung tua bekas pabrik, tempat ia bertemu dengan Edrick. Entah kenapa Tanaka mencurigai Edrick yg bertanggung jawab atas hilangnya Ayu.
Sesampainya disana, Tanaka hanya bertemu dengan seorang pria berpakaian hitam2 yg sedang berjaga disana. Tanaka langsung menyerangnya dengan memukul wajah pria itu. Tanaka benar2 dikuasai amarah.
“Dimana Edrick? Cepat katakan!”
“Ada urusan apa?” Timpal si pria.
Namun si pria tak mau terima dengan serangan Tanaka. Ia membalas pukulan Tanaka. Dan terjadilah perkelahian antara keduanya, yang akhirnya dimenangkan oleh Tanaka. Tanaka mengunci lawannya.
“Ayo katakan dimana Edrick!?”
“Tunggu saja disini sampai dia datang.”
“Aku tidak punya waktu untuk menunggu!” Sentak Tanaka.
Pria itu membuang muka. Tanaka makin emosi dan menghantam wajah pria itu dengan batu.
“Ya, ya, aku akan bicara.” Kata si pria kesakitan.
“Dimana!?”
Pria itu akhirnya memberi tahu dimana rumah Edrick.
Tanpa pikir panjang, Tanaka langsung meluncur ke alamat yg dituju.
Setelah dua jam perjalanan Bogor-Jakarta dan melalui jalanan ibu kota yg padat merayap, Akhirnya sampai juga Tanaka disebuah rumah minimalis disebuah komplek dipinggiran ibu kota Jakarta.
Tanaka langsung menggedor pintu rumah Edrick, seperti seorang debt collector yg ingin menagih hutang saja.
“TOK.. TOK.. TOK..”
Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang anak perempuan yg masih memakai piyama berdiri diambang pintu. Tanaka menatapnya heran, begitupun dengan anak itu, ia heran melihat pria asing yg berdiri dihadapannya.
“Om, mau cari siapa?” Tanya bocah manis itu
“Edrick.” Jawab Tanaka masih dengan tatapan heran pada anak perempuan itu.
“Gladys, siapa yg datang, nak?” Tanya seorang pria dari dalam.
Gadis kecil itu menoleh pada ayahnya.
Dan ternyata itu Edrick.
“Tanaka?” Tanya Edrick bingung.
“Ternyata disini rumahmu.”
Edrick menganggugk. “Hey, kenalin ini Gladys, anak gue.” Kata Edrick sambil merangkul putrinya.
Gladys tanpa disuruh langsung menyalami Tanaka.
Tanaka ingin langsung marah, namun urung karena ada anak kecil disana.
“Aku ingin bicara denganmu?” Kata Tanaka ketus.
Edrick keluar sambil menutup pintu. “Kamu pergi ke mama sana sayang.” Katanya pada putri kecilnya.
“Edrick, apa kau ada hubungannya dengan hilangnya Ayunda saat mendaki?”
Edrick mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Gadis itu hilang saat mendaki, Edrick. Kau tidak tau atau pura2 tidak tau!”
Edrick mengurut2 dahinya. “Aku benar2 tidak tau, Tanaka. Jangan paksa aku mengakui hal yg tidak aku lakukan.”
“Lalu kenapa kau bisa tau kalau gadis itu punya hobi mendaki!”
“Astaga, Tanaka. Aku mengetahui itu dari Kakek dan Neneknya, ingat aku pernah meminta mereka masak disini? Saat itulah aku bertanya tentang gadis itu. Aku bahkan tidak tau dia sedang mendaki. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain sampai harus membuntuti seorang gadis sampai ke gunung.”
“Tapi kau bisa saja memanfaatkan dia untuk memburuku!” Sentak Tanaka sangat marah.
“Kenapa kau sangat marah kalau ada hal buruk yang bersangkutan dengan gadis itu, apakah dia kekasihmu?” Tanya Edrick heran melihat Tanaka yg sering kali tersulut emosi jika mendengar sesuatu yg buruk tentang Ayu.
“Itu bukan urusanmu, Edrick.”
Tiba2 ponsel Tanaka berdering, tanda sms masuk. Dari nomor Ayunda.
Datanglah ke wilayah Sampireun, Garut, gadis ini terluka..
Ekspresi wajah Tanaka berubah kaget sekaligus marah. Sepertinya memang benar, Edrick tidak terlibat dalam hal ini. Lalu siapa yg mengirim SMS? Tidak mungkin ini Ayu. Gaya penulisannya pun sangat berbeda.
0
Kutip
Balas