- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#206
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
(Halaman 1)
Gerakan murtad sebenarnya telah ada sejak nabi masih hidup dan aksi murtad pertama telah diperangi dan diselesaikan dengan sebelum nabi wafat. Namun gerakan murtad yang paling berbahaya bangkit setelah wafatnya nabi, yaitu dengan bergeraknya gelombang murtad di seantero Arabia. Gelombang ini harus dihentikan oleh Abu Bakr. Oleh karena itu, Perang Riddah (Perang Melawan Kemurtadan-pent) dikobarkan secara masif meskipun secara kronologis bagian awalnya sudah dimulai sejak Bagian I buku ini.
Kejadian awal dari gerakan ini adalah kemurtadan di daerah Yaman yang dikenal dengan nama Insiden Aswad Al-‘Ansi. Aswad adalah Kepala Suku ‘Ansi, sebuah suku besar yang menghuni bagian barat Yaman. Nama aslinya adalah ‘Abhalah bin Ka’ab, tetapi karena warna kulitnya yang sangat gelap, ia dipanggil Aswad yang berarti Si Hitam. Sebagai seorang dengan banyak kelebihan, ia telah dikenal luas sebagai kepala suku dan juga sebagai peramal sebelum kemurtadannya.
Pada tahun kesepuluh Hijrah (10 H-pent), orang-orang Arab dari selatan dan tenggara Jazirah Arab telah masuk Islam. Nabi telah mengirimkan utusan, guru, dan da’i ke berbagai lokasi untuk mengajarkan Islam. Tugas ini dilakukan sampai selesai. Namun, mayoritas mu’allaf di daerah ini belum masuk Islam sepenuh hati. Mereka masuk Islam hanya sebagai tren dan tidak diikuti dengan perubahan hati.
Sebelum terjadinya proses masuk Islam secara masal ini, Yaman dipimpin oleh seorang bangsawan kelahiran Persia bernama Bazan, sebagai perwakilan dari Kisra Persia.[1] Bazan kemudian masuk Islam dan ia ditetapkan oleh nabi tetap menjadi Gubernur Yaman. Karena ia adalah seorang pejabat yang bijaksana dan berakhlak baik, provinsinya sejahtera di bawah kepemimpinannya; namun sesaat sebelum haji perpisahan nabi, Bazan meninggal dan nabi menunjuk anak Bazan yang bernama Syahr sebagai gubernur di San’a. Kedamaian di Yaman berlanjut di bawah kepemimpinannya dan tidak ada awan hitam yang menutup langit selatan.
Kemudian di saat nabi melaksanakan haji perpisahannya, Aswad memutuskan bahwa ia akan menjadi seorang nabi. Ia mengumpulkan anggota sukunya, membacakan beberapa ayat buatannya, dan mengklaim bahwa ayat tersebut adalah ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, dan mengumumkan bahwa ia adalah seorang rasulullah.
Aswad memiliki seekor keledai yang ia latih untuk mematuhi sejumlah perintah tertentu, dan ia menggunakan keledai itu untuk menunjukkan kekuatannya. Ia akan memberi perintah, “Menunduklah di hadapan tuanmu,” dan keledai itu akan menundukkan kepalanya di hadapan Aswad. Ia kemudian memerintahkan, “Berlututlah pada tuanmu!”[2] dan keledai itupun berlutut. Karena hal ini, Aswad dikenal di daerahnya dengan julukan Dzul Himar ‘Si Pemilik Keledai’ atau ‘Keledai-Walah’. Beberapa periwayat menyebutkan berbeda. Ia tidak digelari Dzul Himar, tetapi Dzul Khumar ‘Si Pemabuk’.[3] Hal ini juga kemungkinan benar karena Aswad sangat kecanduan minuman keras dan sering terlihat pingsan dalam kondisi mabuk. Namun bagaimanapun juga, sukunya mau saja mengikutinya, percaya bahwa ia benar-benar nabi; dan bahkan sejumlah suku kecil di Yaman bergabung dengan mereka.
Aswad membentuk sebuah kavaleri kuda berjumlah 700 pasukan dan berangkat ke Najran. Ia menaklukkan kota tersebut tanpa kesulitan dan mengusir pejabat Muslim di sana. Gembira melihat kemenangan mudahnya, ia menunjuk orang kepercayaannya untuk memerintah Najran. Aswad kemudian bergerak ke San’a. (Lihat Peta 7). Syahr, Gubernur Yaman yang baru, mendengar kabar jatuhnya Najran. Ia mengetahui maksud dari Aswad dan berencana untuk menghentikan Aswad sebelum mencapai San’a. Setelah mengumpulkan pasukan kecil (ia tidak memiliki banyak pasukan), ia keluar ke utara San’a untuk menemui pasukan musuh. Pertempuran berlangsung singkat dan berakhir dengan keunggulan Aswad. Syahr gugur dalam pertempuran ini, meninggalkan janda cantik yang bernama Azad. Lima hari kemudian, Aswad memasuki San’a sebagai penakluk. Ia bekerja sangat cepat untuk misi jahatnya ini, baru 25 hari berlalu sejak ia mengumumkan kenabiannya kepada sukunya.
![kaskus-image]()
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ia disebut Bazam oleh sejumlah sejarawan.
[2] Baladzuri: hlm. 113.
[3] Ibid
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Hampir seluruh Yaman sekarang berada di bawah kekuasaannya. Dan untuk memaksimalkan kesenangannya setelah berhasil secara militer dan politik, Aswad menikahi Azad secara paksa. Janda yang malang ini tidak memiliki pilihan selain mengikuti kemauan Si Pemabuk Pemilik Keledai ini.
Setelah menguasai Najran dan San’a, Aswad mengonsolidasi perolehannya ini dan menguatkan cengkeramannya ke seluruh Yaman, banyak suku yang mengakuinya sebagai pemimpin dan nabi. Melihat dirinya semakin berkuasa, ia merasa tidak puas dengan gelar nabi. Aswad mendeklarasikan dirinya sebagai Rahman dari Yaman.[1] Kata “Rahman” bermakna “Maha Pengasih”, merupakan salah satu nama Allah bagi Muslimin. Dengan demikian, Aswad mencoba mengklaim derajat ketuhanan sebagai miliknya sebagaimana orang-orang sebelumnya melakukan hal yang sama dan pada akhirnya berakhir dengan kebinasaan mereka. Pengikutnya pun memanggilnya Rahman dari Yaman. Hobinya bermabuk-mabukan terus berlanjut, begitu juga kesenangannya dari istri barunya, Azad, yang selalu memandangnya dengan perasaan jijik sampai-sampai ia mengadu kepada temannya, “Bagiku, tidak ada seorang laki-lakipun yang lebih kubenci daripadanya.”[2] Dalam kejahatannya, Aswad juga memperlakukan dengan buruk keluarga Bazan yang memang berasal dari Persia. Setiap ada kesempatan, ia akan memperlakukan mereka dengan hina dan merendahkan keluarga mendiang Bazan. Akibat perbuatannya ini, kebencian tumbuh subur di hati salah seorang anggota keluarga Bazan yang merupakan Muslim sejati juga, yaitu Fayruz Ad-Daylami yang juga adalah sepupu Azad.
Tanpa diketahui si nabi palsu, nabi yang sesungguhnya di Madinah telah mempersiapkan upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Setelah menerima laporan lengkap tentang kejahatan Aswad, Nabi Suci mengirim Qays bin Hubayrah untuk menjatuhkan Aswad. Qays masuk ke San’a secara diam-diam, kemudian membangun pergerakan bawah tanah untuk melawan nabi palsu dan ia berhasil menemui Fayruz. Qays dan Fayruz menjadi otak pergerakan ini untuk menghancurkan dan memadamkan kekuasaan Aswad.
Membunuh Aswad tidak akan menjadi pekerjaan mudah. Si Hitam (makna dari nama Aswad-pent) ini memiliki badan besar yang kuat, terkenal akan kekuatan dan kegarangannya, dan ia sudah menduga bahwa Fayruz akan memberontak. Terlebih lagi, Aswad tinggal di dalam istana yang dikelilingi dinding tinggi dan dijaga oleh banyak pasukan yang terpilih karena kesetiaan mereka pada Aswad. Mereka berjaga di dinding dan koridor instana. Satu-satunya jalan masuk adalah melalui bagian khusus di dinding yang dekat dengan kamar Azad. Dinding ini harus dipanjat.
Fayruz menghubungi Azad, menjelaskan tujuannya dan meminta bantuan Azad. Azad dengan siap menjanjikan bahwa ia akan menolong Fayruz karena inilah satu-satunya jalan keluar dari kehidupan sengsara yang ia jalani sekarang.
Malam hari tanggal 30 Mei 632 M (6 Rabi`ul ‘Awwal 11 H) mereka pilih untuk menjalankan aksi ini. Tepat setelah tengah malam, ketika bulan telah terbenam, dan di saat tidak ada penjaga di sekitarnya, Fayruz memanjat dinding tinggi istana dengan tali dan menyusup ke ruangan Azad. Azad menyembunyikannya di ruangan tersebut dan kedua sepupu ini dengan sabar menunggu untuk menjalankan misi mereka.
Sesaat sebelum fajar, Azad keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Aswad yang tepat berada di sebelahnya. Ia tahu bahwa ada seorang prajurit penjaga di dekat sana meskipun ia tidak melihatnya. Ia membuka pintu, melihat ke dalam, dan kemudian kembali kepada Fayruz. Api pembalasan terlihat menyala di matanya ketika ia berbisik, “Sekarang saatnya! Ia sedang terbaring mabuk!”
Fayruz, diikuti oleh Azad, mengendap-endap keluar dari kamar Azad dan berjalan menuju kamar Aswad. Perempuan ini berjaga di pintu selagi Fayruz masuk ke kamar dan bersiap dengan pedang terhunus. Tiba-tiba, Aswad terduduk di atas tempat tidurnya dan menatap ke arah Fayruz di balik pintu kamar. Kemunculan Fayruz sangat membuat Aswad terkejut sampai-sampai mabuknya hilang, tetapi sebelum ia bisa bangun dari tempat tidurnya, Fayruz melompat ke arah Aswad dan menyabetkan pedang ke arah kepalanya. Aswad jatuh ke bantalnya. Menurut sejumlah periwayat, “Ia mulai melenguh seperti seekor lembu.”[3]
Lenguhannya ini menarik perhatian prajurit penjaga yang dengan segera berlari menuju kamar Aswad. Ia melihat Azad berdiri di depan pintu dan bertanya, “Ada apa dengan Rahman dari Yaman?” Perempuan pemberani itu mengangkat jarinya ke mulutnya sambil berbisik, “Ssst! Ia sedang menerima wahyu dari Allah!”[4] Pasukan penjaga itu mengangguk dan berjalan menjauh.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Baladzuri: hlm. 113-125.
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 467.
[3] Baladzuri: hlm. 114.
[4] Ibid.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Azad menunggu sampai prajurit penjaga berbalik ke koridor, dan ia pun bergegas masuk ke kamar. Ia melihat Fayruz berdiri di samping tempat tidur, menunggu kesempatan untuk menyabetkan pedangnya lagi, sementara si nabi palsu menggeliat di atas tempat tidurnya sambil melambai-lambaikan tangan. Keduanya sekarang bekerja sama. Azad segera menaiki tempat tidur, menarik rambut Aswad dengan kedua tangannya, dan mempersiapkan kepala Aswad untuk dipenggal. Fayruz kemudian mengeluarkan belatinya dan dengan terampil serta cepat, ia memisahkan kepala Aswad dari badannya yang besar. Demikianlah akhir riwayat dari si nabi palsu, ‘Abhalah bin Ka’ab, alias Si Hitam, alias Si Pemilik Keledai, alias Si Pemabuk. Kejahatannya berlangsung selama tiga bulan dan berakhir dengan kematiannya, enam hari sebelum Nabi Muhammad wafat.
Dengan kematian Aswad, gerakannya pun tumbang. Gerakan Muslim yang dibangun oleh Qays di San’a melakukan perlawanan bersenjata terhadap pengikut-pengikut Aswad, kebanyakan dari mereka terbunuh, tetapi banyak juga yang berhasil melarikan diri dan kelak akan menciptakan masalah baru bagi pemimpin Muslim di daerah ini. Sisanya kembali masuk Islam dan di antara mereka juga, ada yang kemudian murtad kembali. Fayruz ditunjuk sebagai gubernur di San’a.
Pembawa berita yang membawa kabar baik ini ke Madinah tiba sesaat setelah wafatnya Sang Nabi Suci. Laporan hancurnya kejahatan Aswad Al-‘Ansi sedikit memberi hiburan pada Muslimin yang bersedih.
Madinah sekarang masuk dalam tahap krisis dalam hal emosi, spiritual, dan politik. Wafatnya Muhammad yang tercinta meninggalkan kesedihan yang mendalam. Sudah 10 tahun, nabi telah menjadi segalanya bagi mereka: panglima, pemimpin, hakim, guru, pembimbing, teman. Tidak ada sisi dalam kehidupan yang tidak ia lakoni. Muslimin telah mengadukan berbagai permasalahan kepadanya dan ia telah menyelesaikan, memberi keputusan, memberi arahan, serta memberi ketenangan hati. Di masa hidupnya, ia memberikan sinar hangat yang membuat Muslimin merasa aman dari masalah dan malapetaka. Sekarang, sinar itu telah hilang. Muslimin merasa ditinggalkan sendiri dalam keadaan penuh kekhawatiran, dalam kata lain seperti sejumlah periwayat menyampaikan, “Seperti domba di cuaca malam yang hujan dan dingin.”[1]
Krisis ini kemudian diperparah dengan datangnya berbagai laporan bahwa pemberontakan menyebar di seluruh Arabia. Semua suku Arab memberontak pada otoritas politik dan keagamaan di Madinah dan melepaskan diri dari janji bay’at setia mereka, kecuali suku-suku Arab di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha’if. Nabi-nabi palsu bermunculan dan mengklaim bahwa mereka juga adalah nabi seperti halnya Muhammad. Nabi-nabi palsu ini telah melihat bagaimana rasa kasih dan rasa hormat pengikut Muhammad kepada nabi mereka dan nabi-nabi palsu ini menginginkan hal yang sama. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana cobaan dan penderitaan yang dilalui oleh Muhammad sebelum tujuannya mencapai hasil. Selain Aswad, ada dua (kemungkinan tiga) nabi palsu dan satu nabiyah (nabi perempuan-pent) palsu. Muncul juga kelompok lain, yaitu sejumlah kepala dan tetua suku yang tidak mengaku nabi, tetapi mereka bergabung dengan nabi-nabi palsu tersebut dalam merencanakan makar untuk memadamkan cahaya Islam dan mengembalikan kejahiliyahan kesukuan. Api kemurtadan menyebar liar ke seluruh Arabia, mengancam Makkah dan Madinah yang merupakan pusat spiritual dan politik dari negara Islam yang baru lahir.
Faktor utama kemurtadan masal ini adalah lemahnya keimanan. Kebanyakan suku-suku tersebut masuk Islam pada tahun kesembilan dan kesepuluh hijrah (9-10 H-pent) dengan motivasi politik. Mereka kira, hal tersebut adalah pilihan bijak. Mereka menilai Muhammad lebih sebagai seorang pemimpin politik yang sangat berkuasa daripada percaya kepada kenabian dan risalah ajarannya. Muslimin yang sesungguhnya adalah Muslimin di Makkah dan Madinah. Khusus mereka di Madinah, mereka telah bersama sang nabi suci selama bertahun-tahun dan telah menerima begitu banyak kebenaran secara langsung dari nabi. Suku-suku di luar tidak banyak mendapatkan pengalaman spiritual ini. Dalam banyak kasus, ketika kepala suku masuk Islam, semua anggota suku mereka juga mengikuti sebagai bentuk kesetiaan kesukuan, bukan karena keyakinan sebenarnya. Dengan wafatnya nabi, suku-suku ini merasa bebas untuk melepaskan janji setia mereka yang menurut mereka telah mereka buat dengan seorang tertentu saja, bukan kepada Madinah ataupun Islam. Muhammad telah meninggal dunia dan sekarang, mereka bisa berlepas diri dari kewajiban-kewajiban dan batasan-batasan dari agama baru mereka, seperti membatasi jumlah istri yang bisa laki-laki nikahi, kewajiban zakat, kewajiban shalat, dan kewajiban puasa. Pemimpin-pemimpin suku ini merasa lebih baik bagi mereka untuk bebas memanfaatkan orang-orang lemah dari suku mereka untuk keuntungan mereka sendiri, mereka berlepas diri dari larangan-larangan yang telah ditetapkan dalam Islam.
Kekhawatiran Muslimin bertambah ketika Abu Bakr menjadi khalifah, khalifah pertama dalam Islam. Banyak Muslim tidak pernah melihat kualitas kepemimpinan Abu Bakr, apalagi kemampuannya untuk menakhodai negara untuk menerjang badai yang berkumpul di berbagai sisi dan mengancam eksistensi Islam. Apa yang mereka butuhkan di saat kritis ini adalah seorang pemimpin yang kuat, kokoh, dan cakap. Dan bagaimana kesan pribadi Abu Bakr di mata mereka? Seorang yang kecil, kurus, pucat, ia memiliki mata yang cekung di bawah alis yang kurus dan lembut. Saat itu, tubuhnya telah nampak bungkuk dan memberikan kesan tua serta uzur meskipun ia mewarnai janggutnya. Seorang yang lunak, sopan, dan berhati lembut, ia sangat mudah menangis.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm 461.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
(Halaman 1)
“Orang-orang Arab Badwi itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Qur’an, 49: 14-15]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Qur’an, 49: 14-15]
Gerakan murtad sebenarnya telah ada sejak nabi masih hidup dan aksi murtad pertama telah diperangi dan diselesaikan dengan sebelum nabi wafat. Namun gerakan murtad yang paling berbahaya bangkit setelah wafatnya nabi, yaitu dengan bergeraknya gelombang murtad di seantero Arabia. Gelombang ini harus dihentikan oleh Abu Bakr. Oleh karena itu, Perang Riddah (Perang Melawan Kemurtadan-pent) dikobarkan secara masif meskipun secara kronologis bagian awalnya sudah dimulai sejak Bagian I buku ini.
Kejadian awal dari gerakan ini adalah kemurtadan di daerah Yaman yang dikenal dengan nama Insiden Aswad Al-‘Ansi. Aswad adalah Kepala Suku ‘Ansi, sebuah suku besar yang menghuni bagian barat Yaman. Nama aslinya adalah ‘Abhalah bin Ka’ab, tetapi karena warna kulitnya yang sangat gelap, ia dipanggil Aswad yang berarti Si Hitam. Sebagai seorang dengan banyak kelebihan, ia telah dikenal luas sebagai kepala suku dan juga sebagai peramal sebelum kemurtadannya.
Pada tahun kesepuluh Hijrah (10 H-pent), orang-orang Arab dari selatan dan tenggara Jazirah Arab telah masuk Islam. Nabi telah mengirimkan utusan, guru, dan da’i ke berbagai lokasi untuk mengajarkan Islam. Tugas ini dilakukan sampai selesai. Namun, mayoritas mu’allaf di daerah ini belum masuk Islam sepenuh hati. Mereka masuk Islam hanya sebagai tren dan tidak diikuti dengan perubahan hati.
Sebelum terjadinya proses masuk Islam secara masal ini, Yaman dipimpin oleh seorang bangsawan kelahiran Persia bernama Bazan, sebagai perwakilan dari Kisra Persia.[1] Bazan kemudian masuk Islam dan ia ditetapkan oleh nabi tetap menjadi Gubernur Yaman. Karena ia adalah seorang pejabat yang bijaksana dan berakhlak baik, provinsinya sejahtera di bawah kepemimpinannya; namun sesaat sebelum haji perpisahan nabi, Bazan meninggal dan nabi menunjuk anak Bazan yang bernama Syahr sebagai gubernur di San’a. Kedamaian di Yaman berlanjut di bawah kepemimpinannya dan tidak ada awan hitam yang menutup langit selatan.
Kemudian di saat nabi melaksanakan haji perpisahannya, Aswad memutuskan bahwa ia akan menjadi seorang nabi. Ia mengumpulkan anggota sukunya, membacakan beberapa ayat buatannya, dan mengklaim bahwa ayat tersebut adalah ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, dan mengumumkan bahwa ia adalah seorang rasulullah.
Aswad memiliki seekor keledai yang ia latih untuk mematuhi sejumlah perintah tertentu, dan ia menggunakan keledai itu untuk menunjukkan kekuatannya. Ia akan memberi perintah, “Menunduklah di hadapan tuanmu,” dan keledai itu akan menundukkan kepalanya di hadapan Aswad. Ia kemudian memerintahkan, “Berlututlah pada tuanmu!”[2] dan keledai itupun berlutut. Karena hal ini, Aswad dikenal di daerahnya dengan julukan Dzul Himar ‘Si Pemilik Keledai’ atau ‘Keledai-Walah’. Beberapa periwayat menyebutkan berbeda. Ia tidak digelari Dzul Himar, tetapi Dzul Khumar ‘Si Pemabuk’.[3] Hal ini juga kemungkinan benar karena Aswad sangat kecanduan minuman keras dan sering terlihat pingsan dalam kondisi mabuk. Namun bagaimanapun juga, sukunya mau saja mengikutinya, percaya bahwa ia benar-benar nabi; dan bahkan sejumlah suku kecil di Yaman bergabung dengan mereka.
Aswad membentuk sebuah kavaleri kuda berjumlah 700 pasukan dan berangkat ke Najran. Ia menaklukkan kota tersebut tanpa kesulitan dan mengusir pejabat Muslim di sana. Gembira melihat kemenangan mudahnya, ia menunjuk orang kepercayaannya untuk memerintah Najran. Aswad kemudian bergerak ke San’a. (Lihat Peta 7). Syahr, Gubernur Yaman yang baru, mendengar kabar jatuhnya Najran. Ia mengetahui maksud dari Aswad dan berencana untuk menghentikan Aswad sebelum mencapai San’a. Setelah mengumpulkan pasukan kecil (ia tidak memiliki banyak pasukan), ia keluar ke utara San’a untuk menemui pasukan musuh. Pertempuran berlangsung singkat dan berakhir dengan keunggulan Aswad. Syahr gugur dalam pertempuran ini, meninggalkan janda cantik yang bernama Azad. Lima hari kemudian, Aswad memasuki San’a sebagai penakluk. Ia bekerja sangat cepat untuk misi jahatnya ini, baru 25 hari berlalu sejak ia mengumumkan kenabiannya kepada sukunya.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ia disebut Bazam oleh sejumlah sejarawan.
[2] Baladzuri: hlm. 113.
[3] Ibid
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Hampir seluruh Yaman sekarang berada di bawah kekuasaannya. Dan untuk memaksimalkan kesenangannya setelah berhasil secara militer dan politik, Aswad menikahi Azad secara paksa. Janda yang malang ini tidak memiliki pilihan selain mengikuti kemauan Si Pemabuk Pemilik Keledai ini.
Setelah menguasai Najran dan San’a, Aswad mengonsolidasi perolehannya ini dan menguatkan cengkeramannya ke seluruh Yaman, banyak suku yang mengakuinya sebagai pemimpin dan nabi. Melihat dirinya semakin berkuasa, ia merasa tidak puas dengan gelar nabi. Aswad mendeklarasikan dirinya sebagai Rahman dari Yaman.[1] Kata “Rahman” bermakna “Maha Pengasih”, merupakan salah satu nama Allah bagi Muslimin. Dengan demikian, Aswad mencoba mengklaim derajat ketuhanan sebagai miliknya sebagaimana orang-orang sebelumnya melakukan hal yang sama dan pada akhirnya berakhir dengan kebinasaan mereka. Pengikutnya pun memanggilnya Rahman dari Yaman. Hobinya bermabuk-mabukan terus berlanjut, begitu juga kesenangannya dari istri barunya, Azad, yang selalu memandangnya dengan perasaan jijik sampai-sampai ia mengadu kepada temannya, “Bagiku, tidak ada seorang laki-lakipun yang lebih kubenci daripadanya.”[2] Dalam kejahatannya, Aswad juga memperlakukan dengan buruk keluarga Bazan yang memang berasal dari Persia. Setiap ada kesempatan, ia akan memperlakukan mereka dengan hina dan merendahkan keluarga mendiang Bazan. Akibat perbuatannya ini, kebencian tumbuh subur di hati salah seorang anggota keluarga Bazan yang merupakan Muslim sejati juga, yaitu Fayruz Ad-Daylami yang juga adalah sepupu Azad.
Tanpa diketahui si nabi palsu, nabi yang sesungguhnya di Madinah telah mempersiapkan upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Setelah menerima laporan lengkap tentang kejahatan Aswad, Nabi Suci mengirim Qays bin Hubayrah untuk menjatuhkan Aswad. Qays masuk ke San’a secara diam-diam, kemudian membangun pergerakan bawah tanah untuk melawan nabi palsu dan ia berhasil menemui Fayruz. Qays dan Fayruz menjadi otak pergerakan ini untuk menghancurkan dan memadamkan kekuasaan Aswad.
Membunuh Aswad tidak akan menjadi pekerjaan mudah. Si Hitam (makna dari nama Aswad-pent) ini memiliki badan besar yang kuat, terkenal akan kekuatan dan kegarangannya, dan ia sudah menduga bahwa Fayruz akan memberontak. Terlebih lagi, Aswad tinggal di dalam istana yang dikelilingi dinding tinggi dan dijaga oleh banyak pasukan yang terpilih karena kesetiaan mereka pada Aswad. Mereka berjaga di dinding dan koridor instana. Satu-satunya jalan masuk adalah melalui bagian khusus di dinding yang dekat dengan kamar Azad. Dinding ini harus dipanjat.
Fayruz menghubungi Azad, menjelaskan tujuannya dan meminta bantuan Azad. Azad dengan siap menjanjikan bahwa ia akan menolong Fayruz karena inilah satu-satunya jalan keluar dari kehidupan sengsara yang ia jalani sekarang.
Malam hari tanggal 30 Mei 632 M (6 Rabi`ul ‘Awwal 11 H) mereka pilih untuk menjalankan aksi ini. Tepat setelah tengah malam, ketika bulan telah terbenam, dan di saat tidak ada penjaga di sekitarnya, Fayruz memanjat dinding tinggi istana dengan tali dan menyusup ke ruangan Azad. Azad menyembunyikannya di ruangan tersebut dan kedua sepupu ini dengan sabar menunggu untuk menjalankan misi mereka.
Sesaat sebelum fajar, Azad keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Aswad yang tepat berada di sebelahnya. Ia tahu bahwa ada seorang prajurit penjaga di dekat sana meskipun ia tidak melihatnya. Ia membuka pintu, melihat ke dalam, dan kemudian kembali kepada Fayruz. Api pembalasan terlihat menyala di matanya ketika ia berbisik, “Sekarang saatnya! Ia sedang terbaring mabuk!”
Fayruz, diikuti oleh Azad, mengendap-endap keluar dari kamar Azad dan berjalan menuju kamar Aswad. Perempuan ini berjaga di pintu selagi Fayruz masuk ke kamar dan bersiap dengan pedang terhunus. Tiba-tiba, Aswad terduduk di atas tempat tidurnya dan menatap ke arah Fayruz di balik pintu kamar. Kemunculan Fayruz sangat membuat Aswad terkejut sampai-sampai mabuknya hilang, tetapi sebelum ia bisa bangun dari tempat tidurnya, Fayruz melompat ke arah Aswad dan menyabetkan pedang ke arah kepalanya. Aswad jatuh ke bantalnya. Menurut sejumlah periwayat, “Ia mulai melenguh seperti seekor lembu.”[3]
Lenguhannya ini menarik perhatian prajurit penjaga yang dengan segera berlari menuju kamar Aswad. Ia melihat Azad berdiri di depan pintu dan bertanya, “Ada apa dengan Rahman dari Yaman?” Perempuan pemberani itu mengangkat jarinya ke mulutnya sambil berbisik, “Ssst! Ia sedang menerima wahyu dari Allah!”[4] Pasukan penjaga itu mengangguk dan berjalan menjauh.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Baladzuri: hlm. 113-125.
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 467.
[3] Baladzuri: hlm. 114.
[4] Ibid.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Azad menunggu sampai prajurit penjaga berbalik ke koridor, dan ia pun bergegas masuk ke kamar. Ia melihat Fayruz berdiri di samping tempat tidur, menunggu kesempatan untuk menyabetkan pedangnya lagi, sementara si nabi palsu menggeliat di atas tempat tidurnya sambil melambai-lambaikan tangan. Keduanya sekarang bekerja sama. Azad segera menaiki tempat tidur, menarik rambut Aswad dengan kedua tangannya, dan mempersiapkan kepala Aswad untuk dipenggal. Fayruz kemudian mengeluarkan belatinya dan dengan terampil serta cepat, ia memisahkan kepala Aswad dari badannya yang besar. Demikianlah akhir riwayat dari si nabi palsu, ‘Abhalah bin Ka’ab, alias Si Hitam, alias Si Pemilik Keledai, alias Si Pemabuk. Kejahatannya berlangsung selama tiga bulan dan berakhir dengan kematiannya, enam hari sebelum Nabi Muhammad wafat.
Dengan kematian Aswad, gerakannya pun tumbang. Gerakan Muslim yang dibangun oleh Qays di San’a melakukan perlawanan bersenjata terhadap pengikut-pengikut Aswad, kebanyakan dari mereka terbunuh, tetapi banyak juga yang berhasil melarikan diri dan kelak akan menciptakan masalah baru bagi pemimpin Muslim di daerah ini. Sisanya kembali masuk Islam dan di antara mereka juga, ada yang kemudian murtad kembali. Fayruz ditunjuk sebagai gubernur di San’a.
Pembawa berita yang membawa kabar baik ini ke Madinah tiba sesaat setelah wafatnya Sang Nabi Suci. Laporan hancurnya kejahatan Aswad Al-‘Ansi sedikit memberi hiburan pada Muslimin yang bersedih.
Madinah sekarang masuk dalam tahap krisis dalam hal emosi, spiritual, dan politik. Wafatnya Muhammad yang tercinta meninggalkan kesedihan yang mendalam. Sudah 10 tahun, nabi telah menjadi segalanya bagi mereka: panglima, pemimpin, hakim, guru, pembimbing, teman. Tidak ada sisi dalam kehidupan yang tidak ia lakoni. Muslimin telah mengadukan berbagai permasalahan kepadanya dan ia telah menyelesaikan, memberi keputusan, memberi arahan, serta memberi ketenangan hati. Di masa hidupnya, ia memberikan sinar hangat yang membuat Muslimin merasa aman dari masalah dan malapetaka. Sekarang, sinar itu telah hilang. Muslimin merasa ditinggalkan sendiri dalam keadaan penuh kekhawatiran, dalam kata lain seperti sejumlah periwayat menyampaikan, “Seperti domba di cuaca malam yang hujan dan dingin.”[1]
Krisis ini kemudian diperparah dengan datangnya berbagai laporan bahwa pemberontakan menyebar di seluruh Arabia. Semua suku Arab memberontak pada otoritas politik dan keagamaan di Madinah dan melepaskan diri dari janji bay’at setia mereka, kecuali suku-suku Arab di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha’if. Nabi-nabi palsu bermunculan dan mengklaim bahwa mereka juga adalah nabi seperti halnya Muhammad. Nabi-nabi palsu ini telah melihat bagaimana rasa kasih dan rasa hormat pengikut Muhammad kepada nabi mereka dan nabi-nabi palsu ini menginginkan hal yang sama. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana cobaan dan penderitaan yang dilalui oleh Muhammad sebelum tujuannya mencapai hasil. Selain Aswad, ada dua (kemungkinan tiga) nabi palsu dan satu nabiyah (nabi perempuan-pent) palsu. Muncul juga kelompok lain, yaitu sejumlah kepala dan tetua suku yang tidak mengaku nabi, tetapi mereka bergabung dengan nabi-nabi palsu tersebut dalam merencanakan makar untuk memadamkan cahaya Islam dan mengembalikan kejahiliyahan kesukuan. Api kemurtadan menyebar liar ke seluruh Arabia, mengancam Makkah dan Madinah yang merupakan pusat spiritual dan politik dari negara Islam yang baru lahir.
Faktor utama kemurtadan masal ini adalah lemahnya keimanan. Kebanyakan suku-suku tersebut masuk Islam pada tahun kesembilan dan kesepuluh hijrah (9-10 H-pent) dengan motivasi politik. Mereka kira, hal tersebut adalah pilihan bijak. Mereka menilai Muhammad lebih sebagai seorang pemimpin politik yang sangat berkuasa daripada percaya kepada kenabian dan risalah ajarannya. Muslimin yang sesungguhnya adalah Muslimin di Makkah dan Madinah. Khusus mereka di Madinah, mereka telah bersama sang nabi suci selama bertahun-tahun dan telah menerima begitu banyak kebenaran secara langsung dari nabi. Suku-suku di luar tidak banyak mendapatkan pengalaman spiritual ini. Dalam banyak kasus, ketika kepala suku masuk Islam, semua anggota suku mereka juga mengikuti sebagai bentuk kesetiaan kesukuan, bukan karena keyakinan sebenarnya. Dengan wafatnya nabi, suku-suku ini merasa bebas untuk melepaskan janji setia mereka yang menurut mereka telah mereka buat dengan seorang tertentu saja, bukan kepada Madinah ataupun Islam. Muhammad telah meninggal dunia dan sekarang, mereka bisa berlepas diri dari kewajiban-kewajiban dan batasan-batasan dari agama baru mereka, seperti membatasi jumlah istri yang bisa laki-laki nikahi, kewajiban zakat, kewajiban shalat, dan kewajiban puasa. Pemimpin-pemimpin suku ini merasa lebih baik bagi mereka untuk bebas memanfaatkan orang-orang lemah dari suku mereka untuk keuntungan mereka sendiri, mereka berlepas diri dari larangan-larangan yang telah ditetapkan dalam Islam.
Kekhawatiran Muslimin bertambah ketika Abu Bakr menjadi khalifah, khalifah pertama dalam Islam. Banyak Muslim tidak pernah melihat kualitas kepemimpinan Abu Bakr, apalagi kemampuannya untuk menakhodai negara untuk menerjang badai yang berkumpul di berbagai sisi dan mengancam eksistensi Islam. Apa yang mereka butuhkan di saat kritis ini adalah seorang pemimpin yang kuat, kokoh, dan cakap. Dan bagaimana kesan pribadi Abu Bakr di mata mereka? Seorang yang kecil, kurus, pucat, ia memiliki mata yang cekung di bawah alis yang kurus dan lembut. Saat itu, tubuhnya telah nampak bungkuk dan memberikan kesan tua serta uzur meskipun ia mewarnai janggutnya. Seorang yang lunak, sopan, dan berhati lembut, ia sangat mudah menangis.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm 461.
Diubah oleh plonard 16-06-2016 14:19
0