Kaskus

Story

tumpaseaeAvatar border
TS
tumpaseae
DUA PULUH
Quote:


Indeks:
#1 Everyones Mommy
#2 The ONe with Repeated
#3 Salah Paham Manda
#4 Patah
#5 The One who Can See

NYARIS KISAH NYATA


#1 EVERYONES MOMMY

Masih dengan keadaan setengah sadar Sam berjalan menuju lantai dua kontrakan, hari ini minggu jadi maklumlah kalau kontrakan masih sepi seperti ruang ujian.

"Faaan.", panggil Sam dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Yaaa", teriak Fani dari dalam.
Segera Sam masuk melalui satu-satunya pintu yang menghubungkan langsung balkon atas dengan ruangan lantai dua.
"Makan yuk Fan, lontong sayur padang kek nya sedap, Fan.", ajak Sam yang menyender di kusen pintu sambil menggaruk-garuk punggungnya.
"Ya, tunggu. Ini dikit lagi beres. Lo bangunin anak-anak bawah, biar anak-anak atas gue bangunin.", jawab Fani yang masih sibuk membersihkan dapur.

Sepagi ini Fani sudah selesai mencuci, berberes di lantai dua mulai dari kamarnya, dapur sampai balkon sudah ia pel.

"Neeeess.", Fani mengetok pelan pintu kamar Nesa, selepas subuh tadi Nesa tidur lagi karena semalam ia begadang mengerjakan laporan praktikumnya yang deadline nanti malam. Nesa paling tidak suka kalau minggunya diganggu dengan urusan kuliah. Tidak ada yang boleh merusak Minggunya.
Nesa tak kunjung bangun, padahal yang lain sudah siap-siap.

"Saaa!! Lo mau sarapan ngga? Bangun, kita mau makan ke depan!", gedor Fani agak keras kali ini.
"Iya!! Ini gue lagi sarapan kok!", teriak Nesa dari dalam kamar.

"Nesa mana?", tanya Indra ketika mereka semua sudah berkumpul di teras depan lantai satu. Rumah kontrakan mereka terdiri dari tiga lantai, tangga yang menghubungkan setiap lantai terletak perseis di sudut teras jadi lantai satu dengan lantai yang lain terpisah sama sekali.
"Masi tidur. Semalem dia ngga tidur sama sekali gegara laporan.", jawab Manda sambil memasukkan password gembok pintu pagar.

"Da, lontong sayurnya lima ya, pakai telor semua. Yang tiga komplit plus kuah kacang tapi yang satunya dibungkus, trus yang satu ngga pake lobak tanpa kuah kacang, yang satu lagi ngga pake mi kuning.", pinta Fani lancar menyebutkan pesanan.
"Hari ini agenda kita enaknya ngapain ya?", tanya Indra sambil menunggu pesanan mereka.
“Lo ada kuis besok, Ndra. Jangan lupa.”, balas Fani sambil mengisi gelas-gelas dengan air yang tersedia di dalam teko.
“Alamak. Bener, untung lo ingetin, Fan!”, Indra benar-benar lupa kalau ia ada dua kuis.

“Woi, gue gabung ya?”, Erik, kaka sepupu Fani. Erik lebih tua tiga tahun dari Fani, sekarang ia tengah menempuh tahun kedua magisternya di kampus yang sama dengan Fani.
“Oi, bang. Duduk bang.”, ucap Sam sambil menarik bangku di sebelahnya.
“Tumben bang, ngga lari pagi di SARAGA.”, tanya Indra sebab Erik tak memakai pakaian olahraganya seperti biasanya.
“Lagi males. Lagian ini juga mau ke Jakarta, ada kondangan temen.”, jawab Erik sambil menerima gelas berisi minum dari Fani.
“Lo kapan bang?”, tanya Indra sambil senyum penuh arti melirik kepada Manda yang tak biasanya diam seperti orang linglung.
“Hahha, ngga tau gue. Masih di tangan Tuhan. Belum ditunjukin jalannya, ini masi ngeraba-raba.”, jawab Erik asal.
“Hati-hati Bang, salah raba bisa berabe.”, balas Sam. “Au, sakit Fan!”, Sam meringis ketika kepalanya dijitak Fani keras.
“Lo kalo ngomong ngga ada filternya. Ngga liat apa di sini ada dua anak gadis?”, Fani ngomel-ngomel.
“Lah kan iya Fan, salah raba bisa jadi masalah. Eh, tapi siapa bilang kalian perempuan?”, Sam menggerutu yang kemudian mendapat cubitan panas di pinggangnya. “Hati-hati Fan, ntar kecubit yang iya-iya jadi berabe.”, Sam terkekeh sambil memegangi tangan Fani.
“Sam! Bego!”, Fani menoyor kepala Sam lagi.

“Manda kok diem aja si?”, tanya Erik yang melihat Manda menunduk dalam semenjak kedatangannya tadi.
“Eh, ngga kok bang.”, jawab Manda sekenanya.
“Lagi panas dalem bang. Makanya diem.”, balas Indra yang mendapat pelototan dari Manda. “Tuh, liat aja pipinya nyampe merah kek itu.”, tambah Indra lagi.
“Ngga kok bang.”, Manda membela diri.
“Kamu risih ya aku gabung di sini?”, goda Erik.
“Eh, ngga bang. Serius.”, jawab Manda kaget mendengar Erik berpikir seperti itu.
“Seneng iya kali bang.”, bisik Indra pada Manda.

Sungguh, rasanya Manda ingin pulang saja. Boleh ngga lontongnya dibungkus trus bawa pulang? Ia meringis dalam hati.

“Nesaaaa! Bangun woi, udah jam Sembilan.”, Fani membuka pintu kamar Nesa yang ternyata tak dikunci. “Nes, woi. Bangun.”, Fani menggoyang-goyangkan bahu Nesa.
“Iya, ini dari tadi udah bangun.”, Nesa ngelindur lagi.
“Lo dari tidur belum bangun, Nes. Ini udah gue beliin lontong sayur.”, balas Fani sambil menyalakan laptop Nesa.
Nesa duduk dengan mata yang masih terpejam.
“Ini udah bangun nih.”, Nesa dengan suara seksi khas bangun tidurnya menye-menye sendiri.
“Nes, woi.”, Fani membangunkan Nesa yang entah sejak kapan sudah bersandar ke dinding di belakangnya, tertidur lagi.
“Iyaaa”, sekarang Nesa benar-benar sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
“Lontongnya kek biasakan Fan?”, tanya Nesa sambil menggosok gigi di depan pintu kamarnya.
“Nes, lo udah bangun?”, tanya Fani geli?
“Ini udah woi. Kan lagi gosok gigi gue. Ih odol gue udah kadaluarsa deh.”, balas Nesa kesal.

Fani berjalan kea rah Nesa dan mengangkat tangan Nesa yang sedang memegang facial foam.

“Aak, pantes rasanya aneh. Berpasir-pasir gitu.”, Nesa langsung meludah ke kamar mandi yang terletak pas di samping kamarnya.

Sudah jam dua siang, pantas saja Fani lapar, ia ketiduran dari jam sebelas tadi. Fani mendapati dapur dalam keadaan berantakan, sepertinya anak-anak habis membuat nasi mi goreng. Kecap dan saus sambal mengotori kompor yang tadi pagi sudah ia bersihkan, kuali dan piring bekas dibiarkan begitu saja di wastafel. Sudahlah, ia sangat lapar sampai-sampai untuk mengomelpun ia tak sanggup.

Indra dan Sam berkejar-kejaran di lantai dua sambil menyemprotkan air satu sama lainnya. Entah bagaimana ceritanya hingga laki-laki ini bisa perang seperti anak kecil. Alhasil ruang tengah di lantai dua becek ditambah lagi dengan marmer yang berwarna putih gading membuat jejak-jejak kaki di lantai semakin terlihat.

Fani yang baru datang hanya diam berdiri di pintu masuk, memperhatikan Indra dan Sam yang masih asik dan Nesa Manda tengah sibuk menonton di kamar Nesa.
Fani melemparkan bungkusan makanan yang tadi ia makan ke atas wastafel hingga menyenggol kuali yang langsung jatuh ke dalam bak pencuci piring, menimbulkan bunyi gaduh. Indra dan Sam langsung berhenti dari kejar-kejaran mereka.

“Gue ngga pernah mempermasalahkan soalan gue yang selalu beresin lantai dua, ngga pernah gue ngomel. Tapi seengganya kalian juga hargain gue dong yang udah capek bersihin. Gue ngga apa ngga dibantuin, tapi please tolong dijaga. Itu doang udah sangat membantu. Kalian udah kebangetan.”, Fani sudah tidak kuat lagi.

Kejadian ini bukan sekali atau dua kali tapi sudah berkali-kali dan Fani selalu diam. Inilah jadinya kalau memendam-mendam unek-unek, sekalinya keluar langsung meledak gede.
Fani langsung berlari ke kamar dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Sedangkan Indra dan yang lain merasa sangat bersalah pada Fani.

Sudah mau magrib dan dari tadi Fani tak keluar dari kamar. Indra dan Sam masih menunggu Fani di kamar Nesa.

“Lo juga sih, bisanya buat nangis anak orang.”, omel Manda ketika ia duduk di sebelah Nesa. “Fani tu orangnya ngga suka kotor, dia juga bukan tipe yang kalau ngerasa apa-apa langsung ngomong, pas dia udah ngga tahan ya kaya tadi siang. Langsung keluar semuanya.”, jelas Manda yang memang sudah menjadi teman dekat Fani semenjak SMA dulu.

Indra dan Sam diam sebab mereka tau kalau mereka salah dan memang tak ada yang perlu dibela dari kesalahan mereka barusan.
Tiba-tiba Fani keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian masuk lagi ke dalam kamar.

“Fan, aku masuk ya.”, ketok Indra pelan di pintu kamar Fani yang memang tak tertutup rapat.
Fani sedang duduk di kursi meja belajarnya kemudian memutar badannya menghadap Indra.
“Hai, lo lagi apa?”, tanya Indra basa-basi.
Sam yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya, "Ngapain juga nanya, ngga bisa liat apa!", bisik Sam kesal pada dirinya
“Indra bego ya kalau udah ngomong sama Fani.”, celetuk Nesa yang entah sejak kapan ikut berdiri menyender di sebalah Sam.
“Lo bisa ngga sekali-kali ngga kaya setan. Tiba-tiba ada tiba-tiba ilang.”, omel Sam yang kaget. “Bego maksudnya apa?”, tanya Sam penasaran.
Nesa hanya diam sambil cengengesan. Mereka berdua diam menyimak Indra yang sedang berbicara dengan Fani.

“Fani, maaf soal yang tadi.”, Indra duduk di tepi meja belajar Fani, menghadap Fani yang masih diam. “Fan? Gue minta maaf.”, ulang Indra.
Fani paling tidak tahan dengan yang seperti ini, airmatanya sudah mengucur keluar lagi. Indra yang tak mendapat jawaban Fani tambah panik menapati Fani menangis lagi.
“Fan, udah dong nangisnya, maafin gue ya?”, bujuk Indra yang sudah berlutut di depan Fani sedang yang bersangkutan masih menangis, walau tak bersuara tapi Fani sudah sesegukan dari tadi.
Indra diam sambil memegang kedua tangan Fani yang dipangku di atas pahanya, sambil sesekali mengusap punggung pergelangan tangan Fani dengan ibu jarinya.

“Kalian tu jahat banget ya.”, akhirnya Fani bersuara. “Bener-bener ngga ada ngotaknya. Gue ngga pernah kan nyinggung-nyinggung tentang gue yang selalu beresin rumah? Karena itu memang kesadaran gue, tapi tolong gue buat ngejaga nya. Sakit tau diginiin. Kayak yang gue ngga dihargaiin.”, semuanya tumpah, ia sudah tidak sanggup memendamnya sendiri.
“Iya, gue minta maaf ya? Gue sama Sam salah.”, pinta Indra sambil mencari-cari mata Fani.
Fani masih menunduk dan mengangguk pelan.

“Mana Sam?”, tanya Fani agak galak.
“Hamba di sini Yang Mulia.", Sam tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung berlutut seolah Fani adalah Ratu dan ia ajudannya. “Maafkan kesalahan hamba. Mohon jangan hamba dihukum pancung.”, tutur Sam sambil membungkuk dalam.
Fani diam sambil menggigit bibirnya, menatahan tawanya. Sam memang paling bisa kalau urusan seperti ini.
Sam melirik Fani hati-hati karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Fan, maafin gue doong.”, rengek Sam sambil mendekat dan menggenggam tangan Fani. “Gue janji ngga bakalan ulang-ulang lagi.”, tambah Sam sambil melukis garis silang di dada kirinya, tepat di bagian jantungnya kemudian mengangkat telapak tangannya seolah bersumpah.
Fani hanya membalasnya dengan senyum simpul.

“Jadi gue dimaafin ngga ini Fan?”, tanya Sam meminta kejelasan yang dibalas Fani dengan anggukan.
Segera Sam memeluk Fani sampai-sampai kaki Fani tak menapak lantai.
“Sam, sesek”, ucap Fani terbata-bata sebab Sam memeluknya kencang.
“Maafin gue yaaa.”, pinta Sam lagi berbisik tepat di telinga Fani.
“Iya, iya. Lepas dulu, sesek gue”, protes Fani sambil berusaha melerai peluk Sam.

“And then they are living happily ever after!”, sorak Nesa agak keras dan menampakkan bibir bebeknya dari pintu yang tak tertutup rapat.

-----
Diubah oleh tumpaseae 26-04-2016 00:36
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
tumpaseaeAvatar border
TS
tumpaseae
#12
#5 The One Who Can See (I)
Jam setengah lima dan alarm Manda sudah berteriak-teriak kencang. Senin, ia benci Senin sebab jadwal praktikum elektronika dasarnya jam tujuh pagi, belum lagi tes awal dan akhir praktikum. Dengan berat hati Manda bangkit dari kasurnya dan keluar.
Bandung sudah memasuki musim penghujan, tak heran jika paginya sangat dingin. Kalau tak kuat motivasi, bisa-bisa bergulung kembali dengan selimut menjadi pilihan.

Dengan mata yang masih merem melek Manda langsung menuju dapur dan mengisi air ke dapam panci berdiameter tiga puluh sentimeter. Ia tak akan mau mandi air dingin, kalau pagi ya mandi air hangat, begitulah Manda. Seperti nenek-nenek.
Setelah beberapa kali mencoba menyalakan kompor dan memastikan letak panci aman, ia berbalik hendak ke kamar. Bahkan adzan subuhpun belum berkumandang.

Deg!
Manda yakin, walaupun ia berjalan merem melek tapi kesadarannya penuh dan kantuknya sudah hilang sama sekali, ia barusan menabrak sebuah bayangan hitam. Berperawakan seperti laki-laki kurus, tingginya kira-kira 170-an. Sungguh ini pengalaman pertama baginya setelah bertahun-tahun yang lalu. Manda bukan terlahir sebagai anak indigo, menurutnya, tapi entah kenapa kadang ia 'diperlihatkan' dengan penghuni gaib.
Kakinya lemas, ia tersandar di dinding dapur, mencoba mengumpulkan kekuatan di kakinya yang tiba-tiba hilang. Setelah dirasanya ia cukup kuat kembali ia berjalan menuju kamar.

"Maaan. Mandaaa. Lo udah bangun belum? Pintu kamar gue rusak nih, ngga bisa dibuka.", Fani dari tadi berusaha mencoba membuka pintu kamarnya, tapi tampaknya handle pintu bagian dalam kamarnya macet. Sebenarnya sudah seminggu ini rusak tapi kalau buka pintunya dengan perasaan masih bisa. Dan pagi ini, handle pintunya lepas sudah. Sial. Karena mendengar suara pintu dari luar, ia berteriak memanggil Manda, siapa lagi yang sudah bangun sepagi ini selain ia.

"Rusak?", tanya Manda sesaat setelah ia membuka pintu kamar Fani dari luar.
"Iya nih. Padahal gue udah telpon si bapak Kis buat benerin, tapi sampe hari ini belom nongol aja tuh. Setiap di telpon dan sms jawabnya selalu "iya neng, nanti saya ke sana." Ngeselin banget.", celoteh Fani sambil menirukan gaya bicara pak Kis. "Lo kenapa Man?", tanya Fani heran melihat muka Manda yang pucat.
"Ngga, mungkin kecapean aja.", kemudian Manda bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.

Kejadian tadi subuh masih melekat segar di kepala Manda, ia yakin tidak salah lihat. Biasanya jika ia di tempat baru, maka akan ada yang 'menyapa'nya.

Manda: Ndra, lo udah balik belum? Bareng dong.
Indra: Gue ada rapat, man.
Indra: Lo pulang sendiri ngga apa kan?
Manda: Ngga apa. baru juga jam tujuh.
Indra: Kalo ngga biar gue anterin, gue pinjem motor temen dulu.
Manda: Ngga apa ndra. Gue cabut dulu.
Indra: Hn, ati-ati. Kalo takut pulang sendiri, coba tanya yang lain, bisi masih di kampus dan mau pulang juga.


Untuk sampai ke kontrakan, Manda harus memakai angkot kira-kira lima menit kalau tidak macet, berhubung sekarang masih jam pulang kantor, lima belas menit hilang begitu saja gara-gara macet.

Oh Bandung, kau sudah seperti Jakarta saja!

"Kiri, pak", Manda turun di simpang tepat di depan gerai ATM di sebelah McD.
"Man?"
"Ba-ang Erik.", Manda tiba-tiba gagu. Bodoh, batinnya.
"Sendiri aja Man?", tanya Erik yang kebetulan bertemu Manda.
Yang ditanya hanya diam memperhatikan perempuan berwajah mungil yang lebih pendek beberapa sentimeter dari Manda. Wajahnya kemayu, khas perempuan Jawa.

Mungkin ini yang namanya Fauziah Ayu

"Man, oi?!", suara Erik mengembalikan Manda dari lamunan colongannya.
"Iya, kenapa Bang?", tanya Manda persis seperti orang yang sedang ke gep.
"Yeee, bengong dia. Sendirian?", tanya Erik lagi.
"Engga, barengan sama penumpang angkot lain tadi.", Manda lo bego atau tolol siii?!
"Elah, garing lo", balas Erik.

Gue juga ngaa ada maksud kali Bang.

"Ya udah, gue duluan ya. Mau makan. Atau lo mau bareng kita?", tanya Erik basa basi.

Menurut ngana aja, Bang?! Terus gue jadi nyamuk gitu?!

Manda beum menjawab, ia masih memperhatikan perempuan manis di sebelah Erik.

"Aku Fauzia. Panggil aja Jia.", sapa perempuan tadi sambil mengulurkan tangannya meminta bersalaman dengan Manda.
"Ma-anda, kak.", Man?! Lo bisa ngga brenti dulu gagunya. "Ngga usah Bang, gue mau balik. cape banget, full seharian ini. Duluan Bang, duluan Kak.", senyum Manda yang dibikin ramah, padahal hatinya sudah jadi remah.

Bahkan penampakan Erik dengan pacar barunya tadi lebih menyeramkan daripada yang tadi pagi.

Semakin lesu saja Manda rasanya, dengan malas ia memasukkan kode angka pada gembok.

"Sepi banget.", bisinya sendiri. Pasti anak-anak di bawah belum pulang.

Tangga menuju lantai dua terletak di pojok teras lantai satu tepat di depan dapur yang berdampingan dengan kamar Sam. Ketika Manda hendak menaiki anak tangga pertama, ia berhenti tiba-tiba. Ia dengan sangat jelas melihat sesosok perempuan berbaju putih di dalam kamar Sam. Penerangan di teras memang tak begitu terang tapi cukup untuk melihat jelas ke dalam kamar Sam yang memang jarang sekali jendelanya ditutup dengan kain gorden.

"Ngga Man. Lo salah liat. Lo cuma kelelahan.", bisiknya memberi energi positif pada dirinya sendiri.

"Fan, Nes.", teriak Manda.
"Yooo", teriak Nesa dari kamar.
"Ngapain lo?", tanya Manda di pintu kamar Nesa.
"Ngga ngapa-ngapain. Abis masak tadi. Lo makan ngga? Kalo iya tu makan aja nasi sama lauk yang barusan gue masak."
"Gue ngga laper Nes. Udah kenyang di jalan tadi. Mau sholat trus langsung tidur. Hectic banget Senin. Gilak.", jawab Manda sambil membuka pintu kamarnya.

"Siapa sih yang ngga suka pasang gembok pintu bawah? Udah berapa hari ini gue nemuin pintu ngga ke konci, boro-boro kegembok, di pasak aja engga.", tanya Nesa sesaat setelah ia berbaring di kasur Manda.
"Hah, biasanya kan kekonci terus Nes. Paling anak-anak bawah, kan suka malesan. Kemalingan tau rasa.", dumel Manda sambil mengganti bajunya.

"Lo ngga apa?", tanya Nesa tiba-tiba.
"Hah, emang gue kenapa? Gue baik-baik aja kok.", Manda agak berteriak sebab ia sedang di dapur mengambil minum. Jujur ia masih parno dengan kejadian tadi pagi.
Nesa sedang membalik-balik kumpulan sajak Hap! Andi Gunawan.
" Aku tak pandai sendiri. Aku ganjil yang ingin tergenapi.", Nesa membaca pelan salah satu halaman.
"Mas Andi Gunawan tuh parah pisan lah.", komentar Manda setelah ia meneguk habis isi gelasnya.
Mand ayang tadi hanya diam dan mengangguk-angguk kecil kemudian membaca kutipan sajak yang tertulis di cover bagian belakang,"Kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak.", Nesa kemudian mengangguk-angguk lagi.
"Aan Mansyur juga bagus banget, Ness.", ujar Manda penuh rasa kagum.
"Gimana Bang Erik? Lo baik-baik aja kan?", tanya Nesa tiba-tiba setelah ia menyimpan kembali buku tadi ke rak buku Manda dan melihat-lihat buku lain yang tersusun rapi.

Deg!
Nesa tau dari mana?!

Karena merasa tak mendapat jawaban, Nesa memalingkan pandangannya pada Manda yang terlihat kaget.
"Indra ngga pernah kasi tau, gue tau sendiri.", jawab Nesa menenangkan Manda yang seolah bertanya lewat matanya 'Indra ngasih tau ya?!'
"Eee, ya gitu deh Nes. Tadi pas turun angkot ketemu, doi sama cewe barunya.", jawab Manda lemah sambil menutup jendela kamarnya.
"Kadang lucu ya Man, soalan hati itu lucu menurut gue. Kadang kita terlalu asik memperhatikan orang yang sama sekali ngga pernah notice kita, tanpa tau kalau sebenernya ada orang yang pengen kita notice kalau dia ada.", ujar Nesa sambil berjalan meninggalkan Manda. Kata-kata Nesa barusan seakan menusuk Manda di titik yang tepat.

Sebenarnya Manda sudah lelah karena Erik yang tidak kunjung sadar. Ada ratusan bisikannya pada dirinya sendiri supaya ia mulai berhenti tentang perasaannya pada Erik, tapi ada satu suara yang selalu membuatnya tidak bisa melupakan Erik.
Mungkin ini masalah waktu. Itu selalu menjadi alasan Manda ketika ia ingat sudah berapa lama ia membusuk menyimpan perasaannya kepada kakak sepupu Fani itu.

Jam sebelas malam, dan tak seperti biasanya lampu kamar Manda masih menyala. Sebenarnya ia sudah akan tidur jam sepuluh tadi, tapi entah kenapa sampai sekarang ia tak kunjung tertidur. Merasa kesal dan mendengar lantai bawah ribut-ribut, jadilah ia bergegas.

"Ada apa si?", tanya Manda ketika melihat Nesa, Indra dan Sam yang duduk berjejer di depan tivi ruang tamu.
"Man, sini duduk. Kita nungguin Dunia Lain.", jawab Sam sambil menepuk-nepuk spot kosong di sebelahnya yang kemudian di isi oleh Manda.

Tak lama Manda duduk, belum tiga puluh menit kemudian ia tiba-tiba merasa mengantuk.
"Man, udah pergi aja.", sapa Indra.
"Iya nih, ngantuk. Padahal tadi engga. Gue duluan.", pamit Manda.

Ia menaiki tangga satu persatu, langkahnya gontai. Kenapa tiba-tiba ia merasa lemas begini, padahal tadi ia baik-baik saja. Dengan malas ia membuka pintu, sebelum ia masuk, entah mengapa Manda mengedarkan pandangannya pada rumah yang berada di depan kontrakannya. Sudah hapir dua bulan rumah itu kosong, sebelumnya ada beberapa masiswa yang mengontrak di situ. Ketika Manda hendak masuk, ia yakin seyakin-yakinnya kalau barusan ia melihat sosok perempuan berbaju putih, berambut panjang meloncat di atas genteng rumah dengan gaya bangunan delapan puluhan ini.

Astagfirullah. Ini fix bukan salah liat lagiii. Jerit Manda dan langsung ia berlari membiarkan pintu terbuka begitu saja.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.