- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
78K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#62
Spoiler for Episode 4:
Kedatangan Widya kembali cukup mengejutkan terlebih untuk diriku sendiri. Beberapa waktu lalu ia menghilang dari kehidupanku, meninggalkan perasaan yang belum sempat terbalaskan. Aku sangat ingat bagaimana kejadian itu terjadi dan aku mendapatkan sebuah pembelajaran dari itu semua. Dan saat ini aku harus siap dengan kedatangannya lagi dan membangun semuanya dari awal. Dan jujur saja aku masih menaruh hati padanya hingga hari ini.
Sabtu siang ini, aku sedang berada di rumah karena tidak ada jadwal perkuliahan. Sudah beberapa lagu yang aku mainkan menggunakan gitar tua ini di balkon kamarku. Tidak ketinggalalan juga buku usang misterius dan juga secangkir kopi hitam yang ada di atas meja.
Reza keluar dari kamar mandi selesai dengan urusan “menabung”nya dan ia bergabung denganku di balkon sambil menyalakan sebatang rokok, ia duduk di sampingku bermain dengan hpnya.
“ANJ*R!!!” Teriaknya
Aku yang mendengar itu sangat terkejut dan aku segera mendorong badannya.
“Apa sih lu ngagetin aja.” Protesku
“Gimana jadi gue lu, bakalan lebih kaget lagi. Lu liat sendiri nih...” Kata Reza menunjukan sesuatu di layar hpnya
“Astaga gue kira lu dikasih gambar pocong lagi makanya sampe begitu, taunya diajakin jalan sama dia...” Kataku
“Ini sebuah prestasi Bram, dimana seorang Kamen Rider Eja diajakin jalan sama cewe cantik.” Jelasnya
“Yaudah berarti jangan sia-siain kesempatan ini, ntar malem langsung tancep gas.” Kataku
“Lu gimana?” Tanyanya
“Lu mau sombong apa emang peduli sama gue?” Tanyaku dengan muka yang sudah memalas
Reza hanya tersenyum Onta membalasnya. Sebuah kemajuan bagi Reza bahwa pada akhirnya ia bisa keluar di malam ini bersama dengan seorang wanita yang sudah menarik hatinya, sedangkan aku masih saja harus melewati malam demi malam di rumah. Bukan suatu hal yang membebani pikiranku jika tiap malam aku hanya bisa di rumah, namun ada hal lain yang sudah membebani pikiranku semenjak Widya hadir kembali.
Aku masih berbaring di atas kasur sambil menonton film, dan tak terasa sore sudah semakin gelap dan akan berganti menjadi malam. Film yang kutonton tak lama selesai dan aku putuskan untuk turun ke bawah melihat keadaan sekitaran rumahku. Aku menemukan Nanda dan Rio yang sedang berbincang di teras depan dan nampaknya mereka sudah bersiap untuk pergi seperti biasanya.
“Kamu mau kemana? Belum jam tujuh udah rapih gini.” Tanyaku heran
“Ada acara ulang tahun temen kelasan Bang, makanya mau ke sana dulu sama Iyo.” Kata Nanda
“Biasain jangan pulang kemaleman ya, nanti kalo ada apa-apa Abang juga yang repot.” Kataku
“Iya Bang, ngga bakalan malem-malem banget pulangnya.” Kata Rio
Mereka berpamitan denganku dan meninggalkan rumah menaiki mobil Rio yang hampir sama dengan mobil Reza. Aku duduk di teras depan sambil menyalakan sebatang rokok dan melihat ke arah kolam berenang. Hari sudah malam dan tak terasa ini sudah batang ke tiga rokok yang kuhisap. Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan segera naik ke kamarku, lalu aku membuka laci mejaku dan mengambil kembali buku misterius itu. Kunyalakan sebatang rokok lagi dan mulai membacanya di balkon kamar.
Aku menutup buku misterius ini karena aku mendengar ada suara yang berasal dari pintu gerbang rumahku. Aku melihat dari balkon dan tidak menemukan apa-apa di pagar rumah, dan jujur saja aku sedikit merinding setelah kejadian ini.
“Bentar deh, ini kan malem minggu. Mana ada setan keliaran? Kuburan aja udah jadi tempat buat pacaran.” Kataku seorang diri
“Kalo setannya ada di belakang kamu gimana?”
Benar-benar terkejut aku mendengar suara yang ada di belakangku dengan sangat jelas, dan aku berpikir bahwa kata-kataku tadi adalah kata-kata yang menantang setan tersebut untuk datang ke rumahku dan menampakan wujudnya. Dengan terpaksa aku membalikan badanku untuk melihat seperti apa wujud setan yang sudah merasa aku tantang kehadirannya.
Bulu kudukku semakin meninggi dan aku hampir saja tidak bernafas untuk beberapa saat, nafasku kembali tenang karena wujud setan ini tidak seseram seperti yang aku bayangkan. Wajahnya yang nampak mendamaikan membuatku tidak takut kepada setan yang satu ini.
“Ternyata setan ngga seserem yang aku pikirin...” Kataku
“Karena ini setan baik yang datang untuk menemani seorang Bramantyo di rumah.” Kata Widya
“Bentar, kamu beneran Widya? Apa jelmaan?” Tanyaku mendadak paranoid
“Aku beneran Widya lah Bram, masa iya aku setan.” Katanya
“Kalo kamu emang beneran Widya berarti kamu bisa jawab ini, apa yang kita makan sore hari di taman waktu SMA?” Tanyaku
“Bakso dengan sambel yang banyak, terus kamu sok-sokan ngga mau main gelembung katanya terlalu bocah. Terus aku ngambek dan akhirnya kamu mau main gelembung juga sama aku.” Jelasnya dengan rinci tidak lupa dengan senyuman manisnya
Aku juga ikut tersenyum mengetahui bahwa dia benar-benar Widya bukan jelmaan setan, namun hal yang paling aku senangi adalah dia masih mengingat dengan rinci kejadian beberapa tahun yang lalu. Ekspektasiku tidak sejauh apa yang dia ucapkan tadi, dan itu membuatku semakin yakin akan satu hal.
“Kamu dari mana? Kok ngga ngabarin dulu mau ke sini?” Tanyaku
“Aku dari rumah, kayaknya aku udah nelpon kamu deh cuma ngga ada jawaban makanya aku nekat ke sini.” Jelasnya
Aku melihat ke meja balkon dan tidak menemukan hpku, itu yang menyebabkan aku tidak mengetahui bahwa Widya menghubungiku terlebih dahulu sebelum ke rumah.
“Reza mana? Tumben dia ngga ke sini?” Tanya Widya
“Lagi jalan sama gebetan lamanya.” Kataku
“Aku juga masih gebetan lama kamu kan?” Tanyanya
Aku dan Widya hanya saling tatap satu sama lain hingga beberapa saat, dan akhirnya kami sama-sama tersenyum mengingat kejadian demi kejadian yang telah kami alami semasa SMA dulu.
Sabtu siang ini, aku sedang berada di rumah karena tidak ada jadwal perkuliahan. Sudah beberapa lagu yang aku mainkan menggunakan gitar tua ini di balkon kamarku. Tidak ketinggalalan juga buku usang misterius dan juga secangkir kopi hitam yang ada di atas meja.
Reza keluar dari kamar mandi selesai dengan urusan “menabung”nya dan ia bergabung denganku di balkon sambil menyalakan sebatang rokok, ia duduk di sampingku bermain dengan hpnya.
“ANJ*R!!!” Teriaknya
Aku yang mendengar itu sangat terkejut dan aku segera mendorong badannya.
“Apa sih lu ngagetin aja.” Protesku
“Gimana jadi gue lu, bakalan lebih kaget lagi. Lu liat sendiri nih...” Kata Reza menunjukan sesuatu di layar hpnya
“Astaga gue kira lu dikasih gambar pocong lagi makanya sampe begitu, taunya diajakin jalan sama dia...” Kataku
“Ini sebuah prestasi Bram, dimana seorang Kamen Rider Eja diajakin jalan sama cewe cantik.” Jelasnya
“Yaudah berarti jangan sia-siain kesempatan ini, ntar malem langsung tancep gas.” Kataku
“Lu gimana?” Tanyanya
“Lu mau sombong apa emang peduli sama gue?” Tanyaku dengan muka yang sudah memalas
Reza hanya tersenyum Onta membalasnya. Sebuah kemajuan bagi Reza bahwa pada akhirnya ia bisa keluar di malam ini bersama dengan seorang wanita yang sudah menarik hatinya, sedangkan aku masih saja harus melewati malam demi malam di rumah. Bukan suatu hal yang membebani pikiranku jika tiap malam aku hanya bisa di rumah, namun ada hal lain yang sudah membebani pikiranku semenjak Widya hadir kembali.
Spoiler for Flashback:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk ke sekolah baru, dimana beberapa hari yang lalu aku baru saja melewati sebuah masa orientasi sekolah. Dan pagi ini aku sedang duduk di bangku kelas, tidak banyak yang berbincang pagi ini mungkin karena keadaan yang baru dengan orang-orang yang baru pula. Bangku sudah hampir terisi penuh menyisakan bangku yanga ada di sampingku dan bangku yang paling belakang. Datanglah seorang siswi yang baru aku kenal semasa orientasi sekolah lalu dan itu adalah Widya. Ia langsung saja duduk di sampingku tanpa menghiraukan yang lain karena kami sudah cukup kenal satu sama lain.
“Dateng kapan Bram? Kayaknya gue yang paling terakhir dateng di kelas ini.” Katanya
“Belom lama, santai lah namanya juga hari pertama.” Kataku
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, datanglah seorang guru wanita yang terbilang masih muda dan ternyata dia adalah wali kelas kami. Dia memulai kelas dengan memperkenalkan dirinya hingga kami dipaksa untuk memperkenalkan diri kami di depan kelas untuk mengenal satu sama lain.
“Baiklah karena kalian sudah tau kalau saya yang jadi wali kelas kalian, maka hari ini akan dibentuk sebuah organisasi kelas yang dimana terdiri dari ketua kelas, wakil ketua, sekretaris dan juga bendahara melalui voting terbanyak. Sebelum itu kalian harus menentukan kandidatnya. Jadi siapa yang akan menjadi kandidat pertama?” Kata Wali Kelas kami
Widya mengacungkan tangannya dan aku beranggapan bahwa ia adalah sosok wanita yang percaya diri, dia dengan cepat mencalonkan dirinya sebagai kandidat pengurus kelas.
“Bu, saya mencalonkan Bramantyo sebagai kandidat ketua kelas.” Kata Widya
Aku yang mendengar itu sontak terkejut bukan main, bagaimana tidak di hari pertama sudah mendapatkan kejutan seperti ini.
“Eh gue kira lu mau nyalonin diri lu sendiri, kenapa jadi gue?” Protesku
“Baik, sebagai permulaan maka Bramantyo akan menjadi kandidat pertama. Berikutnya siapa yang akan menjadi kandidatnya?” Kata Wali Kelas kami lagi
“Bu, saya mencalonkan Widya sebagai kandidat kedua.” Kataku dengan cepat
“Ih apa sih Bram, mana ada ketua kelas cewe yang ada malah ntar gue ditindas sama cowo-cowo. Jangan ngaco deh lo.” Protesnya
Aku menjulurkan lidah kepadanya sebagai tanda bahwa aku sangat senang untuk membalas apa yang sudah ia perbuat terlebih dahulu.
“Oke karena kita juga butuh kandidat wanita maka Widya akan menjadi kandidat kedua bersaing dengan Bramantyo.” Kata Wali Kelas kami
Hingga akhirnya terkumpul lima kandidat yang akan mengisi jabatan organisasi kelas, dan saat ini sedang perhitungan suara terbanyak. Satu per satu gulungan kertas dibuka dan dibacakan hasilnya hingga semua kertas telah terbuka dan hasil perhitungan sudah nampak jelas di papan tulis.
“Baiklah kita sudah mendapatkan hasilnya. Jadi yang akan menjadi ketua kelas adalah Bramantyo dengan Wakilnya Hanandita. Sekretaris akan dijabat oleh Widya dan Bendahara oleh Nunung dan juga Dewi.” Kata Wali Kelas kami
Aku dan Widya saling bertatapan dan kemudian aku mengulurkan tanganku yang disalami oleh Widya.
“Jadi kita kerja sama nih mulai sekarang?” Tanyaku
“Selamat jadi pemimpin kelas ya Bramantyo Satya Adjie.” Katanya
“Selamat sering-sering nulis di papan tulis ya Widyanti Pratiwi.” Kataku
“Dateng kapan Bram? Kayaknya gue yang paling terakhir dateng di kelas ini.” Katanya
“Belom lama, santai lah namanya juga hari pertama.” Kataku
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, datanglah seorang guru wanita yang terbilang masih muda dan ternyata dia adalah wali kelas kami. Dia memulai kelas dengan memperkenalkan dirinya hingga kami dipaksa untuk memperkenalkan diri kami di depan kelas untuk mengenal satu sama lain.
“Baiklah karena kalian sudah tau kalau saya yang jadi wali kelas kalian, maka hari ini akan dibentuk sebuah organisasi kelas yang dimana terdiri dari ketua kelas, wakil ketua, sekretaris dan juga bendahara melalui voting terbanyak. Sebelum itu kalian harus menentukan kandidatnya. Jadi siapa yang akan menjadi kandidat pertama?” Kata Wali Kelas kami
Widya mengacungkan tangannya dan aku beranggapan bahwa ia adalah sosok wanita yang percaya diri, dia dengan cepat mencalonkan dirinya sebagai kandidat pengurus kelas.
“Bu, saya mencalonkan Bramantyo sebagai kandidat ketua kelas.” Kata Widya
Aku yang mendengar itu sontak terkejut bukan main, bagaimana tidak di hari pertama sudah mendapatkan kejutan seperti ini.
“Eh gue kira lu mau nyalonin diri lu sendiri, kenapa jadi gue?” Protesku
“Baik, sebagai permulaan maka Bramantyo akan menjadi kandidat pertama. Berikutnya siapa yang akan menjadi kandidatnya?” Kata Wali Kelas kami lagi
“Bu, saya mencalonkan Widya sebagai kandidat kedua.” Kataku dengan cepat
“Ih apa sih Bram, mana ada ketua kelas cewe yang ada malah ntar gue ditindas sama cowo-cowo. Jangan ngaco deh lo.” Protesnya
Aku menjulurkan lidah kepadanya sebagai tanda bahwa aku sangat senang untuk membalas apa yang sudah ia perbuat terlebih dahulu.
“Oke karena kita juga butuh kandidat wanita maka Widya akan menjadi kandidat kedua bersaing dengan Bramantyo.” Kata Wali Kelas kami
Hingga akhirnya terkumpul lima kandidat yang akan mengisi jabatan organisasi kelas, dan saat ini sedang perhitungan suara terbanyak. Satu per satu gulungan kertas dibuka dan dibacakan hasilnya hingga semua kertas telah terbuka dan hasil perhitungan sudah nampak jelas di papan tulis.
“Baiklah kita sudah mendapatkan hasilnya. Jadi yang akan menjadi ketua kelas adalah Bramantyo dengan Wakilnya Hanandita. Sekretaris akan dijabat oleh Widya dan Bendahara oleh Nunung dan juga Dewi.” Kata Wali Kelas kami
Aku dan Widya saling bertatapan dan kemudian aku mengulurkan tanganku yang disalami oleh Widya.
“Jadi kita kerja sama nih mulai sekarang?” Tanyaku
“Selamat jadi pemimpin kelas ya Bramantyo Satya Adjie.” Katanya
“Selamat sering-sering nulis di papan tulis ya Widyanti Pratiwi.” Kataku
Aku masih berbaring di atas kasur sambil menonton film, dan tak terasa sore sudah semakin gelap dan akan berganti menjadi malam. Film yang kutonton tak lama selesai dan aku putuskan untuk turun ke bawah melihat keadaan sekitaran rumahku. Aku menemukan Nanda dan Rio yang sedang berbincang di teras depan dan nampaknya mereka sudah bersiap untuk pergi seperti biasanya.
“Kamu mau kemana? Belum jam tujuh udah rapih gini.” Tanyaku heran
“Ada acara ulang tahun temen kelasan Bang, makanya mau ke sana dulu sama Iyo.” Kata Nanda
“Biasain jangan pulang kemaleman ya, nanti kalo ada apa-apa Abang juga yang repot.” Kataku
“Iya Bang, ngga bakalan malem-malem banget pulangnya.” Kata Rio
Mereka berpamitan denganku dan meninggalkan rumah menaiki mobil Rio yang hampir sama dengan mobil Reza. Aku duduk di teras depan sambil menyalakan sebatang rokok dan melihat ke arah kolam berenang. Hari sudah malam dan tak terasa ini sudah batang ke tiga rokok yang kuhisap. Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan segera naik ke kamarku, lalu aku membuka laci mejaku dan mengambil kembali buku misterius itu. Kunyalakan sebatang rokok lagi dan mulai membacanya di balkon kamar.
Spoiler for Buku Harian:
Entah apa yang saat ini terjadi, namun lama kelamaan aku merasa bahwa aku jatuh cinta kepada Herman. Bagaimana tidak, hanya aku teman wanitanya yang ia spesialkan dengan berbagai cara hingga membuat iri wanita-wanita lain yang mendekatinya. Terkadang ragu di dalam hati ini masih terasa, maka dari itu aku tidak mau mengambil keputusan terlalu cepat untuk jatuh cinta.
“Bengongin apa sih Rin? Kayaknya berat banget.” Tanya Herman
“Eh nggapapa kok Man, cuma kebayang sama kata-kata di novel aja.” Sanggahku
Herman tersenyum kepadaku dan melanjutkan makan siangnya lagi. Hari ini termasuk hari yang spesial bagiku dan juga bagi Herman karena kami dapat berdua di kantin bukan lagi di kelas seperti biasanya. Dan tentu saja kehadiran kami di sini mendapatkan mata-mata yang melihat kami dengan cukup heran tidak percaya. Sebelumnya Herman sudah bilang kepadaku bahwa jangan terlalu memikirkan kata orang, cukup didengarkan saja. Dan itu lah yang membuatku mau untuk keluar dari kelas saat jam istirahat. Tidak lama kemudian Mita datang menghampiri kami setelah memesan makanan untuknya sendiri.
“Kayaknya orang-orang pada heran deh ngeliat lo keluar dari kelas pas istirahat.” Kata Mita
“Itu mah ngga terlalu gue pikirin, masalahnya di depan gue itu Herman Mit. Lo tau sendiri fansnya dia di sekolah ini ada berapa banyak.” Jelasku
“Udah lah jangan dipikirin mulu, mending makan aja.” Kata Herman
“Gue setuju sih sama kata Herman, ngapain amat dipikirin yang penting kan kita ngga ganggu mereka.” Jelas Mita
Dan kemudian kami melanjutkan makan siang kami. Setelah selesai Herman langsung menuju lapangan untuk bermain basket sedangkan aku dan juga Mita hanya menyaksikannya dari bangku taman yang tidak jauh dari kelas kami.
Mita yang tergolong menyukai olahraga ini dengan semangat mendukung mereka yang bermain, tidak ketinggalan dengan komentar-komentarnya mengenai permainan mereka dan aku hanya bisa tersenyum melihat permainan Herman yang diatas rata-rata.
“Mit...” Panggilku
“Apa? Ntar dulu lagi seru nih beda satu bola doang.” Tanya Mita tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan basket tersebut
“Gue mau ngomong serius sama lo Mit...” Kataku
“Yaudah ngomong aja langsung segala make ngomong-ngomong dulu...” Katanya
“Kayaknya gue suka sama Herman..” Kataku
“HAA!!!” Katanya dengan suara sangat keras hingga kami menjadi pusat perhatian orang banyak
Dan tentu saja teriakan Mita tadi membuat Herman menghampiri kami dengan sejuta tanya di dalam kepalanya.
“Lu kenapa Mit? Teriak sampe gue ngga jadi ngeshoot.” Tanya Herman penasaran
“Eh nggapapa kok Man, mending lo lanjutin maen lagi deh.” Sanggah Mita
Herman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Mita dan kembali ke lapangan untuk melanjutkan permainannya yang tertunda.
“Lo serius?” Tanya Mita
“Bengongin apa sih Rin? Kayaknya berat banget.” Tanya Herman
“Eh nggapapa kok Man, cuma kebayang sama kata-kata di novel aja.” Sanggahku
Herman tersenyum kepadaku dan melanjutkan makan siangnya lagi. Hari ini termasuk hari yang spesial bagiku dan juga bagi Herman karena kami dapat berdua di kantin bukan lagi di kelas seperti biasanya. Dan tentu saja kehadiran kami di sini mendapatkan mata-mata yang melihat kami dengan cukup heran tidak percaya. Sebelumnya Herman sudah bilang kepadaku bahwa jangan terlalu memikirkan kata orang, cukup didengarkan saja. Dan itu lah yang membuatku mau untuk keluar dari kelas saat jam istirahat. Tidak lama kemudian Mita datang menghampiri kami setelah memesan makanan untuknya sendiri.
“Kayaknya orang-orang pada heran deh ngeliat lo keluar dari kelas pas istirahat.” Kata Mita
“Itu mah ngga terlalu gue pikirin, masalahnya di depan gue itu Herman Mit. Lo tau sendiri fansnya dia di sekolah ini ada berapa banyak.” Jelasku
“Udah lah jangan dipikirin mulu, mending makan aja.” Kata Herman
“Gue setuju sih sama kata Herman, ngapain amat dipikirin yang penting kan kita ngga ganggu mereka.” Jelas Mita
Dan kemudian kami melanjutkan makan siang kami. Setelah selesai Herman langsung menuju lapangan untuk bermain basket sedangkan aku dan juga Mita hanya menyaksikannya dari bangku taman yang tidak jauh dari kelas kami.
Mita yang tergolong menyukai olahraga ini dengan semangat mendukung mereka yang bermain, tidak ketinggalan dengan komentar-komentarnya mengenai permainan mereka dan aku hanya bisa tersenyum melihat permainan Herman yang diatas rata-rata.
“Mit...” Panggilku
“Apa? Ntar dulu lagi seru nih beda satu bola doang.” Tanya Mita tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan basket tersebut
“Gue mau ngomong serius sama lo Mit...” Kataku
“Yaudah ngomong aja langsung segala make ngomong-ngomong dulu...” Katanya
“Kayaknya gue suka sama Herman..” Kataku
“HAA!!!” Katanya dengan suara sangat keras hingga kami menjadi pusat perhatian orang banyak
Dan tentu saja teriakan Mita tadi membuat Herman menghampiri kami dengan sejuta tanya di dalam kepalanya.
“Lu kenapa Mit? Teriak sampe gue ngga jadi ngeshoot.” Tanya Herman penasaran
“Eh nggapapa kok Man, mending lo lanjutin maen lagi deh.” Sanggah Mita
Herman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Mita dan kembali ke lapangan untuk melanjutkan permainannya yang tertunda.
“Lo serius?” Tanya Mita
Aku menutup buku misterius ini karena aku mendengar ada suara yang berasal dari pintu gerbang rumahku. Aku melihat dari balkon dan tidak menemukan apa-apa di pagar rumah, dan jujur saja aku sedikit merinding setelah kejadian ini.
“Bentar deh, ini kan malem minggu. Mana ada setan keliaran? Kuburan aja udah jadi tempat buat pacaran.” Kataku seorang diri
“Kalo setannya ada di belakang kamu gimana?”
Benar-benar terkejut aku mendengar suara yang ada di belakangku dengan sangat jelas, dan aku berpikir bahwa kata-kataku tadi adalah kata-kata yang menantang setan tersebut untuk datang ke rumahku dan menampakan wujudnya. Dengan terpaksa aku membalikan badanku untuk melihat seperti apa wujud setan yang sudah merasa aku tantang kehadirannya.
Bulu kudukku semakin meninggi dan aku hampir saja tidak bernafas untuk beberapa saat, nafasku kembali tenang karena wujud setan ini tidak seseram seperti yang aku bayangkan. Wajahnya yang nampak mendamaikan membuatku tidak takut kepada setan yang satu ini.
“Ternyata setan ngga seserem yang aku pikirin...” Kataku
“Karena ini setan baik yang datang untuk menemani seorang Bramantyo di rumah.” Kata Widya
“Bentar, kamu beneran Widya? Apa jelmaan?” Tanyaku mendadak paranoid
“Aku beneran Widya lah Bram, masa iya aku setan.” Katanya
“Kalo kamu emang beneran Widya berarti kamu bisa jawab ini, apa yang kita makan sore hari di taman waktu SMA?” Tanyaku
“Bakso dengan sambel yang banyak, terus kamu sok-sokan ngga mau main gelembung katanya terlalu bocah. Terus aku ngambek dan akhirnya kamu mau main gelembung juga sama aku.” Jelasnya dengan rinci tidak lupa dengan senyuman manisnya
Aku juga ikut tersenyum mengetahui bahwa dia benar-benar Widya bukan jelmaan setan, namun hal yang paling aku senangi adalah dia masih mengingat dengan rinci kejadian beberapa tahun yang lalu. Ekspektasiku tidak sejauh apa yang dia ucapkan tadi, dan itu membuatku semakin yakin akan satu hal.
“Kamu dari mana? Kok ngga ngabarin dulu mau ke sini?” Tanyaku
“Aku dari rumah, kayaknya aku udah nelpon kamu deh cuma ngga ada jawaban makanya aku nekat ke sini.” Jelasnya
Aku melihat ke meja balkon dan tidak menemukan hpku, itu yang menyebabkan aku tidak mengetahui bahwa Widya menghubungiku terlebih dahulu sebelum ke rumah.
“Reza mana? Tumben dia ngga ke sini?” Tanya Widya
“Lagi jalan sama gebetan lamanya.” Kataku
“Aku juga masih gebetan lama kamu kan?” Tanyanya
Aku dan Widya hanya saling tatap satu sama lain hingga beberapa saat, dan akhirnya kami sama-sama tersenyum mengingat kejadian demi kejadian yang telah kami alami semasa SMA dulu.
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas