- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.2K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#957
PART 40
“kenapa lo?” tanya Novan sambil menghembuskan asap rokoknya.
Gue menggeleng.
“gakpapa kok…”
“lo ada masalah?”
Gue terdiam, ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Novan.
“Sherly itu udah berbulan-bulan ngilang, gak ada kabar, semua kontaknya yang gue punya, gak nyambung.” kata gue pada akhirnya.
“sama sekali gak pernah komunikasi?”
Lagi-lagi gue menggeleng.
“kalian sebelumnya marahan?”
“enggak, enggak sama sekali malah. Waktu itu gue abis balik ke Jakarta itu loh, yang gue nitip ambilin cucian ke elo.”
“itu terakhir kali lo ketemu dia?”
Gue menaikkan alis tanda persetujuan.
“wah, udah lama juga ya. Lo udah nyari dia ke kampusnya kan?”
“semua udah gue lakuin, Van. Yang belom cuma satu, ke rumahnya, yang gue gak tau itu dimana.”
“laporin polisi aja gimana?” ujarnya sambil menyeringai.
Gue mengkerutkan jidat.
“enggak ah, gila aja sampe ke polisi. Lagian kapasitas gue apa sampe laporan orang hilang gitu. Urgensinya belom nyampe.”
“tau darimana lo belom orgen?”
“ur-gent. Urgent. Penting. Bukan orgen. Lo kira orgen keliling.” sahut gue keki.
Novan mengibaskan tangan. “Ah ya urgent, orgen, apalah itu. Yang penting sekarang lo harus tau kapan lo harus bertindak kapan enggak. Jangan sampe lo nyesel nantinya.”
“iya gue tau…”
“tapi saran gue sih, lupain aja perasaan lo ke dia, karena dia terlalu jauh dari lo….” ucap Novan sambil bangkit dan menepuk bahu gue, kemudian berlalu ke kamar.
Suatu hari, gue membawa Fira main ke kos gue, untuk pertama kalinya, karena dia kepingin liat kamar gue sekaligus minta koleksi film gue. Dia masuk ke kamar gue, dan pintu kamar gue biarkan terbuka lebar, sementara gue duduk-duduk di lantai bersandar pada kusen pintu. Gue lihat Fira lagi asyik nonton film di laptop gue, sambil duduk memeluk guling milik gue. Dari kamar sebelah gue liat Novan barusan bangun tidur, meskipun hari udah malam. Novan berjalan melewati gue sambil garuk-garuk kepala, menuju ke WC, tapi mendadak langkahnya terhenti setelah melihat ada Fira di kamar gue.
“wih, baru lagi boy?” tanyanya sambil nyengir.
Fira yang mendengar suara serak Novan, menoleh ke belakang.
“baru apanya? lo tuh yang baru melek.” sahut gue seadanya.
Novan tertawa dan kemudian berlalu.
“itu siapa?” tanya Fira.
“Novan, anak kamar sebelah.”
“ooh.”
Fira kemudian melanjutkan menonton film di laptop gue, seakan gak ada apa-apa. Gue menggelengkan kepala, agak bingung sama kelakuan nih cewek satu. Kadang-kadang dia susah ditebak, kadang manja, kadang apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Dia menonton dengan memeluk guling sambil memainkan jemarinya satu sama lain. Gue melihat Novan udah balik dari WC dan masuk sebentar ke kamarnya sebelum dia menyembulkan kepalanya dari pintu.
“udah makan lo?” tanyanya.
“belom. tumben amat lo nanyain gue, Van.” sahut gue cengengesan.
“yah gue nanya doang ini, geer amat sih.”
“asu…”
Novan ketawa ngakak, dan kembali berkutat di kamarnya. Gue bangkit dari duduk dan berjalan ke kamar Novan, kemudian berdiri bersandar di kusen pintu. Novan yang lagi duduk nonton TV di kamarnya menoleh ke gue sambil pasang muka penasaran.
“itu siapa? pacar lo?” bisiknya.
gue menggeleng.
“bukan, itu temen kampus gue.” balas gue pelan.
“cantik kok. Gas lah, jangan kelamaan ntar ilang lagi.”
gue tersenyum mendengar itu.
“kalo emang buat gue kan gak kemana…” jawab gue.
kali ini Novan yang tersenyum dan menggeleng.
“kesalahan yang umum. Gak ada sesuatu apapun yang bisa didapetin tanpa usaha, meskipun itu emang takdir lo sekalipun. Inget, takdir juga bisa berubah.”
Gue terdiam mendengar ucapan Novan. Ini anak emang jarang serius, tapi kalo dimintain pendapat selalu mengena. Gue mengusap-usap rambut, sambil berpikir banyak hal. Fira adalah salah satu tipe cewek yang rumit banget buat dihadapi, sementara Sherly adalah tipe cewek yang susah dilupakan sekalinya dia masuk ke hati dan pikiran seseorang.
“ya bener juga sih omongan lo…”
Novan tersenyum penuh kemenangan.
“ya emang bener. Jangan sampe lo nyesel besok-besoknya gara-gara hari ini lo kurang berusaha.” tegas Novan sambil mencari-cari korek di meja.
“cuma gue masih belom bisa netapin hati gue sendiri ke dia, ya lo tau lah kenapa…” sahut gue lirih.
“Sherly?”
Gue mengangguk. “iya, Sherly.”
Novan menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya. Dia kemudian memandangi gue lekat-lekat.
“kalo menurut gue sih, lo sibuk sama kenangan masa lalu lo, sampe-sampe lo gak menyadari realitas di sekitar lo.” ujarnya datar, “….atau… lo emang gak mau menyadari.”
“gak semudah itu, Van. Gue yakin lo tau rasanya ditinggal orang. Dan itu terjadi di hidup gue gak cuma sekali, tapi berkali-kali! Mulai dari bokap gue, Sari, sampe sekarang Sherly. Lo pikir itu gampang buat dilupain?” sambar gue dengan suara meninggi.
Novan memandangi gue, yang mulai terpancing bersuara keras. Dia memiringkan kepala, menyelidiki apa yang gue pikirkan. Sesaat kemudian diluar dugaan gue, dia tertawa.
“lo barusan denger omongan lo sendiri? lo bilang itu susah buat dilupain. Bukannya itu kontradiktif sama omongan lo tadi yang bilang kalo takdir gak kemana? Melek, boy. Takdir itu bukan rejeki nomplok yang bisa dateng ke lo gitu aja. Usaha lo ngelupain dan melangkah maju itu yang jadi penentu takdir lo.” bebernya.
Gue terdiam.
“lo tuh ya, ibaratnya udah dikasih sakit, trus disediain obat, tapi gak diminum, cuma ngeluh sana-sini doang. Menurut lo sakit bisa diobatin pake ngeluh doang?”
“……”
“bangun lah, hidup itu butuh usaha. Bukan cuma nunggu keajaiban.”
“……”
“harusnya lo bersyukur, dikasih cobaan yang berat. Kenapa? karena lo dianggep mampu sama Tuhan buat nerima cobaan itu! Coba liat gue, hidup gue gini-gini aja. Gue nih ya, kalo dikasih cobaan macem elu, wallahu’alam lah kuat apa enggak, sukur-sukur masih waras gue.” cecarnya sambil menuding gue dengan tangan mengepit sebatang rokok.
“……”
“gue cuma mau bilang ke lo, jangan terbutakan sama masa lalu. Itu aja.”
“terus gue harus ngapain sekarang?” sahut gue lirih.
“buka hati lo.”
“…..”
“lo suka sama dia?”
“iya…”
“lo sayang sama dia?”
“mungkin…”
“lo cinta sama dia?”
gue terpaku.
“….entahlah… sepertinya sih gitu…” jawab gue akhirnya.
Novan tersenyum lebar, kemudian menarik napas panjang dan menyilangkan kaki.
“nah, kalo gitu sepertinya lo harus ngomong langsung sama cewek di belakang lo….” sahutnya sambil menunjuk ke gue dengan tangan mengepit sebatang rokok.
Seketika gue terkesiap dan melihat ke belakang gue, dimana udah ada Fira yang berdiri di belakang gue, dengan ekspresi wajah yang gak bisa gue artikan.
“kenapa lo?” tanya Novan sambil menghembuskan asap rokoknya.
Gue menggeleng.
“gakpapa kok…”
“lo ada masalah?”
Gue terdiam, ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Novan.
“Sherly itu udah berbulan-bulan ngilang, gak ada kabar, semua kontaknya yang gue punya, gak nyambung.” kata gue pada akhirnya.
“sama sekali gak pernah komunikasi?”
Lagi-lagi gue menggeleng.
“kalian sebelumnya marahan?”
“enggak, enggak sama sekali malah. Waktu itu gue abis balik ke Jakarta itu loh, yang gue nitip ambilin cucian ke elo.”
“itu terakhir kali lo ketemu dia?”
Gue menaikkan alis tanda persetujuan.
“wah, udah lama juga ya. Lo udah nyari dia ke kampusnya kan?”
“semua udah gue lakuin, Van. Yang belom cuma satu, ke rumahnya, yang gue gak tau itu dimana.”
“laporin polisi aja gimana?” ujarnya sambil menyeringai.
Gue mengkerutkan jidat.
“enggak ah, gila aja sampe ke polisi. Lagian kapasitas gue apa sampe laporan orang hilang gitu. Urgensinya belom nyampe.”
“tau darimana lo belom orgen?”
“ur-gent. Urgent. Penting. Bukan orgen. Lo kira orgen keliling.” sahut gue keki.
Novan mengibaskan tangan. “Ah ya urgent, orgen, apalah itu. Yang penting sekarang lo harus tau kapan lo harus bertindak kapan enggak. Jangan sampe lo nyesel nantinya.”
“iya gue tau…”
“tapi saran gue sih, lupain aja perasaan lo ke dia, karena dia terlalu jauh dari lo….” ucap Novan sambil bangkit dan menepuk bahu gue, kemudian berlalu ke kamar.
Suatu hari, gue membawa Fira main ke kos gue, untuk pertama kalinya, karena dia kepingin liat kamar gue sekaligus minta koleksi film gue. Dia masuk ke kamar gue, dan pintu kamar gue biarkan terbuka lebar, sementara gue duduk-duduk di lantai bersandar pada kusen pintu. Gue lihat Fira lagi asyik nonton film di laptop gue, sambil duduk memeluk guling milik gue. Dari kamar sebelah gue liat Novan barusan bangun tidur, meskipun hari udah malam. Novan berjalan melewati gue sambil garuk-garuk kepala, menuju ke WC, tapi mendadak langkahnya terhenti setelah melihat ada Fira di kamar gue.
“wih, baru lagi boy?” tanyanya sambil nyengir.
Fira yang mendengar suara serak Novan, menoleh ke belakang.
“baru apanya? lo tuh yang baru melek.” sahut gue seadanya.
Novan tertawa dan kemudian berlalu.
“itu siapa?” tanya Fira.
“Novan, anak kamar sebelah.”
“ooh.”
Fira kemudian melanjutkan menonton film di laptop gue, seakan gak ada apa-apa. Gue menggelengkan kepala, agak bingung sama kelakuan nih cewek satu. Kadang-kadang dia susah ditebak, kadang manja, kadang apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Dia menonton dengan memeluk guling sambil memainkan jemarinya satu sama lain. Gue melihat Novan udah balik dari WC dan masuk sebentar ke kamarnya sebelum dia menyembulkan kepalanya dari pintu.
“udah makan lo?” tanyanya.
“belom. tumben amat lo nanyain gue, Van.” sahut gue cengengesan.
“yah gue nanya doang ini, geer amat sih.”
“asu…”
Novan ketawa ngakak, dan kembali berkutat di kamarnya. Gue bangkit dari duduk dan berjalan ke kamar Novan, kemudian berdiri bersandar di kusen pintu. Novan yang lagi duduk nonton TV di kamarnya menoleh ke gue sambil pasang muka penasaran.
“itu siapa? pacar lo?” bisiknya.
gue menggeleng.
“bukan, itu temen kampus gue.” balas gue pelan.
“cantik kok. Gas lah, jangan kelamaan ntar ilang lagi.”
gue tersenyum mendengar itu.
“kalo emang buat gue kan gak kemana…” jawab gue.
kali ini Novan yang tersenyum dan menggeleng.
“kesalahan yang umum. Gak ada sesuatu apapun yang bisa didapetin tanpa usaha, meskipun itu emang takdir lo sekalipun. Inget, takdir juga bisa berubah.”
Gue terdiam mendengar ucapan Novan. Ini anak emang jarang serius, tapi kalo dimintain pendapat selalu mengena. Gue mengusap-usap rambut, sambil berpikir banyak hal. Fira adalah salah satu tipe cewek yang rumit banget buat dihadapi, sementara Sherly adalah tipe cewek yang susah dilupakan sekalinya dia masuk ke hati dan pikiran seseorang.
“ya bener juga sih omongan lo…”
Novan tersenyum penuh kemenangan.
“ya emang bener. Jangan sampe lo nyesel besok-besoknya gara-gara hari ini lo kurang berusaha.” tegas Novan sambil mencari-cari korek di meja.
“cuma gue masih belom bisa netapin hati gue sendiri ke dia, ya lo tau lah kenapa…” sahut gue lirih.
“Sherly?”
Gue mengangguk. “iya, Sherly.”
Novan menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya. Dia kemudian memandangi gue lekat-lekat.
“kalo menurut gue sih, lo sibuk sama kenangan masa lalu lo, sampe-sampe lo gak menyadari realitas di sekitar lo.” ujarnya datar, “….atau… lo emang gak mau menyadari.”
“gak semudah itu, Van. Gue yakin lo tau rasanya ditinggal orang. Dan itu terjadi di hidup gue gak cuma sekali, tapi berkali-kali! Mulai dari bokap gue, Sari, sampe sekarang Sherly. Lo pikir itu gampang buat dilupain?” sambar gue dengan suara meninggi.
Novan memandangi gue, yang mulai terpancing bersuara keras. Dia memiringkan kepala, menyelidiki apa yang gue pikirkan. Sesaat kemudian diluar dugaan gue, dia tertawa.
“lo barusan denger omongan lo sendiri? lo bilang itu susah buat dilupain. Bukannya itu kontradiktif sama omongan lo tadi yang bilang kalo takdir gak kemana? Melek, boy. Takdir itu bukan rejeki nomplok yang bisa dateng ke lo gitu aja. Usaha lo ngelupain dan melangkah maju itu yang jadi penentu takdir lo.” bebernya.
Gue terdiam.
“lo tuh ya, ibaratnya udah dikasih sakit, trus disediain obat, tapi gak diminum, cuma ngeluh sana-sini doang. Menurut lo sakit bisa diobatin pake ngeluh doang?”
“……”
“bangun lah, hidup itu butuh usaha. Bukan cuma nunggu keajaiban.”
“……”
“harusnya lo bersyukur, dikasih cobaan yang berat. Kenapa? karena lo dianggep mampu sama Tuhan buat nerima cobaan itu! Coba liat gue, hidup gue gini-gini aja. Gue nih ya, kalo dikasih cobaan macem elu, wallahu’alam lah kuat apa enggak, sukur-sukur masih waras gue.” cecarnya sambil menuding gue dengan tangan mengepit sebatang rokok.
“……”
“gue cuma mau bilang ke lo, jangan terbutakan sama masa lalu. Itu aja.”
“terus gue harus ngapain sekarang?” sahut gue lirih.
“buka hati lo.”
“…..”
“lo suka sama dia?”
“iya…”
“lo sayang sama dia?”
“mungkin…”
“lo cinta sama dia?”
gue terpaku.
“….entahlah… sepertinya sih gitu…” jawab gue akhirnya.
Novan tersenyum lebar, kemudian menarik napas panjang dan menyilangkan kaki.
“nah, kalo gitu sepertinya lo harus ngomong langsung sama cewek di belakang lo….” sahutnya sambil menunjuk ke gue dengan tangan mengepit sebatang rokok.
Seketika gue terkesiap dan melihat ke belakang gue, dimana udah ada Fira yang berdiri di belakang gue, dengan ekspresi wajah yang gak bisa gue artikan.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3