Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 8:
“ sadar ded...sadarrr...itu cuma halusinasi lu...” mencoba menunjukan ketenangan ditengah ketakutan yang gw rasakan adalah sesuatu yang tidak mudah, seberusaha apapun gw menunjukan ketenangan dalam berbicara hal itu tidak bisa menutupi ekspresi ketakutan pada wajah gw
“ gw engg..akk..boo..hooong zaaa...diaaa...diaa..menyenn...tuhh..lu zaa..” seiring ucapan dedi, gw merasakan hawa dingin di salah satu bagian bahu gw...kesadaran gw perlahan seperti terhisap oleh hawa dingin yang terus merasuk ke dalam tubuh…hingga akhirnya gw benar benar kehilangan kesadaran
Aroma wangi bunga kemuning yang terbawa angin seketika menyadarkan gw dari ketidaksadaran, tatapan mata gw terasa nanar ketika sinar cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah lubang angin dan jendela menyinari wajah ini, terlihat seorang gadis yang terbius dalam lamunan sepertinya tidak menyadari keberadaan gw yang telah sadar
“ airr.....” segelas air putih yang berada diatas meja seperti sebuah embun penyejuk diantara rasa kering yang gw rasakan di tenggorokan ini, keinginan untuk menggapai gelas dan menghilangkan dahaga yang gw rasakan sepertinya hanyalah sebuah keinginan belaka..
“ zaa...sukur kamu sudah sadar..” teriak andira dengan wajah ceria begitu menyadari gw sudah tersadar, dengan sigap tangannya mengambil gelas yang berada di atas meja
“ minum dulu za...” tangan kanan andira terlihat mencoba membantu gw untuk duduk, di saat seperti ini bisa gw rasakan sisi feminim dari seorang andira, dari tiap tutur kata dan tingkah lakunya mencerminkan kasih sayang dan perhatiannya kepada gw
“ kamu baik baik saja kan za ?” mendengar pertanyaan yang diajukan oleh andira, memori pikiran gw kembali teringat pada kejadian yang terjadi semalam, sebuah kejadian yang mengantarkan gw pada ketidak sadaran..tatapan mata gw mencari sosok dedi yang kini tidak terlihat keberadaannya di kamar ini
“ dedi…dimana dedi ?” tanya gw kepada andira
“ dedi sedang keluar sebentar za……” terlihat wajah andira seperti menyimpan sesuatu yang yang belum sempat di utarakannya
“ zaa…”
“ ada apa…?” ucap gw begitu melihat andira yang masih ragu melanjutkan perkataannya, kembali terlihat andira hanya terdiam sambil mencoba mengusap tetesan air mata yang kini membasahi pipinya
“ ada apa ini…apa yang sebenarnya terjadi…?”pikir gw dalam hati….dari ekspresi wajah yang diperlihatkan andira, itu jelas menggambarkan bahwa telah terjadi sesuatu yang telah menyentuh hatinya hingga mampu membuatnya meneteskan air mata..semuanya ini jelas memancing rasa penasaran gw…andira bukanlah sosok gadis yang dengan mudah meneteskan air mata
“ saya ingin semuanya ini cepat berakhir za….saya enggak sanggup berlama lama dalam situasi ini za…menit tiap menit yang kita lalui seperti titian waktu yang mengantarkan kita dalam sebuah kecemasan….” lama andira kembali terdiam…dari tatap matanya bisa gw rasakan..bahwa apa yang telah diucapkannya adalah bagian dari jutaan keluh kesah yang ada dihatinya
“ seperti saat ini….saya ingin ketika kamu terjaga dari tidur…hanya sebuah senyuman kasih sayang yang akan saya lihat…bukan sebuah ekspresi wajah yang penuh dengan kecemasan…ataupun saya yang harus mengabarkan……”
“ ndira…sebaiknya kamu jujur…apa yang sebenarnya telah terjadi..?” tanya gw begitu melihat andira yang kembali terlihat ragu melanjutkan perkataannya, naluri gw mengatakan ada sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh andira, tanpa menunggu lama jawaban dari andira yang masih terdiam dalam kebisuannya…segera gw beranjak dari tempat tidur untuk mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi
“ zaaa…” ucap andira pelan mencoba menahan laju langkah gw, tapi keinginan gw sudah terlalu kuat..langkah kaki ini tidak akan terhentikan..walaupun itu datang dari permintaan seorang andira, semakin besar keinginan andira untuk menghentikan langkah gw..semakin besar juga kecurigaan gw akan apa yang mungkin telah terjadi di rumah ini…seiring langkah gw yang terus berjalan meninggalkan kamar dan semakin mendekati ruang tengah…semakin juga gw merasakan perbedaan, ruang televisi yang biasanya di tempati mamah untuk menghabiskan waktunya baik itu hanya untuk sekedar menonton tv ataupun mengerjakatan rajutan tangannya…kini terlihat sepi
“ mahhh…!!” teriak gw memanggil mamah dan berharap kemunculan mamah…setelah lama menanti dan berharap sebuah balasan jawaban dari mamah yang tidak kunjung terdengar, akhirnya gw putuskan untuk menuju ke kamar mamah…melihat andira yang hanya berdiri terpaku di ruang televisi, hati gw semakin kuat mengatakan bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di rumah ini
“ mahhh…” panggil gw kembali begitu membuka pintu kamar…tapi..bukan sebuah jawaban yang akan menentramkan hati yang gw terima, kini tatapan mata gw hanya menemukan sebuah pemandangan yang sangat tidak gw inginkan…tempat tidur besar itu kini terlihat kosong…kosong…sekosong pemikiran gw yang tidak bisa menjawab apa yang telah terjadi, mendapati mamah yang tidak bisa gw temukan di kamar ini…hanya satu nama yang terlintas dipikiran gw yang bisa menjawab semua ini
“ bi nani….bi…!!” panggil gw dengan suara agak meninggi..tanpa berharap jawaban dari andira..segera gw berlari menuju ruang makan…dapur..hingga ke kamar tidur bi nani…dan kembali hanya ketiadaan yang gw temukan..semua terasa lenyap tertelan kesunyian rumah ini
“ dimana mereka…” ucap gw sambil menghempaskan tubuh ini pada kursi ruang makan, terlihat andira berjalan menghampiri gw dengan semua keraguannya
“ zaaa…” ucap andira sambil menduduki kursi yang berada tepat disamping gw, untuk sesaat gw hanya terdiam membisu…masih ada rasa jengkel yang gw rasakan setelah tidak mendapati jawaban dari andira atas apa yang telah terjadi dirumah ini
“ maafkan saya za…ini saya maksud dengan ketidak sanggupan itu…saya enggak sanggup untuk berbohong bahwa semuanya baik baik saja sama kamu za…” ucap andira diiringi isak tangisnya
“ dimana mamah…bi nani..dimana semuanya ndira….?” tanya gw sambil menggenggam jari jemari andira, gw berharap dia kuat untuk mengatakan apa yang telah terjadi
“ mamah kamu za…”
“ ada apa dengan mamah…?” tanya gw dengan perasaan cemas, hingga akhirnya andira bisa menceritakan apa yang telah terjadi
“ saya sudah mendengar dengan apa yang kamu dan dedi alami za…” ucap andira memulai ceritanya
“ berarti semalam kamu mendengar…”
“ saya mendengarnya za..papa sangat marah dengan apa yang telah kamu lakukan…dengan kekeras kepalaan kamu za…” gw hanya terdiam dan menunggu kelanjutan dari ucapan andira
“ hingga akhirnya ketika suara azan subuh terdengar, saya memberanikan diri untuk keluar kamar dan mengambil air wudhu…terlintas di pikiran saya untuk mengajak mamah kamu melaksanakan sholat shubuh secara berjamaah…kamu tahu za…disaat saya mengambil wudhu itu..masih bisa saya dengar dan rasakan kehadiran mereka…”
“ maksud kamu ?”
“ suara celoteh anak anak kecil dengan bahasa yang enggak saya mengerti seperti silih berganti terdengar diantara suara langkah kaki mereka yang berlari lari kian kemari..belum lagi suara suara aneh yang terdengar dari ruangan penyimpanan benda benda antik itu…”
“ zaa…..” seiring ucapan andira sorot matanya terlihat sayu menatap gw
“ saya enggak mau…dan enggak ingin menjadi sosok wulan yang lain..yang akan menjadi bagian dari semua teror yang kamu alami ini…”
“ enggak akan pernah ndira…saya enggak akan pernah membiarkan semua itu terjadi…dan saya pastikan itu bukanlah wulan..bukan…” ucap gw sambil menggeleng gelengkan kepala mencoba membuang gambaran buruk yang mungkin terjadi pada andira
“ lantas apa yang telah terjadi pada mamah…?” tanya gw kembali begitu menyadari perbincangan kami ini sama sekali belum menyentuh pada keberadaan mamah
“ di saat saya ingin membangunkan mamah kamu…sayaa…sayaaa...sudah curiga za.., dari luar saya mendengar mamah kamu seperti berbicara dengan seseorang, lama saya mencoba mendengarkan semua itu dari luar kamar…terkadang mamah kamu terdengar tertawa..memaki histeris dan menangis tersedu sedu…ini membuat saya bingung za…” kembali andira terdiam mencoba mengusap linangan air matanya yang tidak kunjung berhenti mengucur dari kedua matanya
“ semula saya berpikir ada seseorang dikamar itu yang sedang mengajak bicara mamah kamu…entah itu kamu za atau bi nani…hingga akhirnya saya memberanikan diri membuka pintu kamar dan mendapati mamah kamu sedang berdiri di depan jendela…seakan akan sedang berbicara dengan seseorang yang berada di kegelapan sana…” mendengar keterangan yang meluncur dari mulut andira..berbagai macam praduga buruk bermunculan di benak gw…andai sesuatu yang buruk terjadi pada mamah…andai….akhhh..semua ini terasa menjadi racun di pikiran gw
“ saya mencoba menyapa mamah kamu za…tapi…”
“tapi apa…!!” tanya gw sedikit menyentak, emosi gw sudah tersentuh dengan semua keterangan yang keluar dari mulut andira
“ mamah kamu seperti tidak menggubris keberadaan saya za…kedua matanya terlihat kosong dan dingin… hanya suara racauan yang keluar dari mulutnya…hingga akhirnya saya memutuskan memanggil papa dan akhirnya kami memutuskan untuk membawa mamah kamu ke rumah sakit..karena mamah kamu enggak menunjukan tanda tanda perubahan za, di saat saya berinisiatif untuk memberitahukan semua ini kepada kamu dan dedi…tapi apa yang saya temui za…saya hanya menemui kamu yang terbaring enggak berdaya dan dedi yang setia menemani kamu dalam keadaan yang terlihat sangat kacau..seperti telah mengalami sesuatu yang berat….hingga akhirnya dia menceritakan apa yang telah terjadi…”
“ mamah….” ucap gw dengan suara bergetar, tubuh gw terasa lemas jika membayangkan apa yang telah terjadi pada mamah hingga akhirnya gw tidak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi gw coba menahannya agar tidak menetesi wajah ini
“ zaa…” ucap andira sambil merengkuh kepala gw dalam pelukannya, ada ketenangan yang gw rasakan dalam pelukan ini
“ saya enggak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada mamah…atau pada siapapun juga… cukup sudah…semua ini sudah harus berakhir…jika memang harus ada korban untuk mengakhiri semua ini…biar saya sendiri yang akan menanggung semua ini…biar saya yang akan menjadi korban terakhir dari semua kejadian kejadian ini…” seiring ucapan gw, gw merasakan pelukan andira terasa semakin erat diiringi isak tangisnya
“ saya harus ke rumah sakit sekarang…..” ucap gw sambil melepaskan pelukan andira, dengan langkah gontai gw melangkah ke arah kamar..semua terasa begitu limbung..seakan akan gw berada dalam sebuah cerita yang mengombang ambing gw dalam lautan yang tidak bertepi
“ semua harus berakhir…harus berakhir…” ucap gw pelan sambil mempersiapkan kebutuhan yang akan gw bawa, terbersit sebuah doa di benak gw…semoga ini adalah terakhir kalinya gw harus melangkahkan kaki menuju rumah sakit…sebuah tempat yang menyimpan sejarah kelam dalam lingkaran perjalanan hidup gw
“ zaa…saya ikut…” teriak andira begitu melihat kehadiran gw di ruang tengah, langkah kecil kakinya terlihat menuruni barisan anak tangga, lama gw terpaku menatap lantai atas dalam sebuah kegeraman yang gw rasakan…gw masih bisa merasakan keberadaan mereka walaupun itu hanya dalam terkaan gw semata
“ gw enggak akan membiarkan kalian kembali merenggut orang orang yang gw sayangi…” gumam gw pelan, hingga akhirnya andira menarik tangan gw untuk segera berangkat menuju rumah sakit
“ sabar za..” untuk kali keberapa andira mencoba memperingatkan gw yang mengemudi dalam ketidak sabaran, entah sudah berapa kalimat makian yang sudah keluar dari mulut ini ketika gw harus dihadapkan kembali pada kondisi jalan raya yang macet, hingga akhirnya setelah sekian lama terjebak dalam kemacetan..mobil yang gw kendarai berhasil memasuki halaman parkir rumah sakit
“ dimana mamah…?” tanya gw kepada andira yang terlihat sibuk memainkan hp nya diantara laju langkah kakinya
“ di ruang igd za…” ucap andira pelan penuh kecemasan
“ igd..igd..igd….!!!” ingin pecah rasanya kepala ini jika kembali mendengar kata kata itu, entah sampai kapan gw harus berjumpa dengan ruangan yang penuh dengan nuansa kematian itu
“ ayo masuk za….” ajak andira sambil menarik tangan gw, entah mengapa kegeraman yang gw rasakan sedari tadi kini berganti dengan perasaan yang tidak bisa gw gambarkan dalam kata kata… apakah hari ini gw akan kembali menyaksikan sesuatu yang mungkin akan melukai hati gw..yang mungkin akan menguras emosi dan air mata ini…
“ ayo za….” ucap andira pelan sambil kembali menarik tangan gw, dengan langkah ragu akhirnya gw langkahkan kaki memasuki ruangan igd..hingga akhirnya langkah kaki gw terhenti pada suatu sudut.. dimana…dimana bapak..harus menghembuskan nafas terakhirnya….dan kini di sudut ini…kembali gw harus menyaksikan…
“ mah…” perkataan yang nyaris tidak bisa terucap dari mulut ini…akhirnya bisa terucap begitu menyaksikan gambaran kelam yang tersaji di hadapan mata ini…ini sungguh sungguh menyentuh titik terdalam sisi emosional gw…ini benar benar sesuatu yang tidak pernah gw bayangkan…
Next Chapter : sebuah bentuk perlawanan ( pembersihan hal yang ghoib )