- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.6K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#872
PART 36
Gue terpaku di tempat sambil memandangi bis yang menghilang di kejauhan. Sekali lagi gue berusaha meyakinkan hati dan mata gue sendiri, bahwa yang barusan gue lihat itu Sherly, atau orang lain. Gue menghisap rokok, sambil terbengong-bengong memikirkan kejadian barusan. Gue baru tersadar kembali ketika ada suara klakson motor yang berlalu-lalang di hadapan gue.
Gue menoleh ke belakang, melihat ke Fira yang masih menunggu fotokopian itu jadi. Gue memandangi sosok Fira, cewek berambut hitam yang akhir-akhir ini menjadi ikal, dengan senyumnya yang cantik. Tubuhnya yang bertinggi sedang dengan badan yang proporsional membuatnya cukup terkenal di kalangan cowok-cowok kampus. Hari itu dia mengenakan kaos berkerah berwarna hitam, dengan jeans berwarna biru gelap. Di tangannya melilit jam digital berwarna putih-biru.
Sambil menggeleng pelan gue teringat kembali perasaan gue ke Fira, perasaan yang dulu pernah ada, tapi dipaksa untuk menghilang. Segala hal yang dipaksa itu pasti menyakitkan. Begitu juga dengan perasaan gue dulu. Di saat itulah datang sosok Sherly, yang kembali menghangatkan hati gue yang mendingin. Namun ketika hati gue telah menghangat dan merasa nyaman dengan kehadirannya, Sherly pergi meninggalkan gue, tanpa pesan.
Entah berapa lama gue mengingat masa lalu itu, mendadak ada tepukan di punggung yang menyadarkan gue. Gue menoleh, dan melihat Fira berdiri di belakang gue sambil satu tangannya memeluk setumpuk fotokopian materi kuliah. Dia memandangi gue dengan heran.
“Kenapa lo?” tanyanya.
Gue menggeleng, “enggak, gak kenapa-kenapa kok. Udah kelar? Mana sini gue bawain.” ucap gue sambil mengambil tumpukan kertas itu dari pelukan Fira.
Kami berjalan menuju motor yang gue parkir gak jauh dari situ. Sambil berjalan gue menoleh ke Fira.
“Tadi berapa semuanya?” tanya gue.
“Udah ntar aja, sekarang balik ke kampus dulu lah kita.” sahutnya pelan.
“Tergantung nih kalo duit gue gak cukup, ya gue mampir ATM sekalian,” jawab gue, “berapa semuanya?”
“Kalo duit lo gak cukup, ya gue aja yang bayarin.” balasnya kalem.
“Beneran nih?”
Fira mengangguk sambil tersenyum cantik.
“Iya, gue aja yang bayar,” dia memandangi gue sejenak.
Gue tersenyum. “Makasih yak.”
Sesampainya di kos, gue duduk tepekur di kasur busuk kesayangan gue, dan berpikir tentang Sherly lagi. Apa tadi yang gue lihat itu beneran Sherly, atau cuma orang lain yang kebetulan mirip dengannya. Gue membuka handphone dan melihat-lihat lagi chat BBM antara gue dan Sherly beberapa bulan yang lalu. Ucapan “terimakasih ya
” adalah komunikasinya yang terakhir dengan gue. Seakan dia mengucapkan terima kasih untuk segalanya selama ini.
Gue kemudian membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Di dalam keheningan itu gue berdoa, agar Sherly selalu baik-baik aja, dimanapun dia berada. Seperti yang pernah gue ucapkan di atas kereta menuju ke Jakarta itu, semoga Tuhan selalu bersamanya.
Beberapa waktu kemudian.
Kehadiran Fira kembali ke kehidupan gue membuat gue semakin nyaman, dan entah kenapa kali ini gue merasakan sesuatu yang berbeda dari pada yang terdahulu. Kalau di masa lalu gue merasa seperti dia memasang topeng kepalsuan ketika bersama gue, kali ini gue merasa inilah sosok Fira yang sebenarnya.
“Di desa lo bagus gak rumahnya?” tanyanya sambil mencomot kentang goreng di hadapan kami.
Gue tertawa pelan, dan ikut mencomot kentang goreng, kemudian mencocolkan ke saus sambal, “yaa, lumayan, gak terlalu sederhana kok, tapi juga gak mewah-mewah amat. Tapi kayaknya itu yang terbaik deh.” sahut gue.
Fira mengangguk-angguk.
“Temen-temen lo asik-asik gak?” tanyanya lagi.
“Yaa, lumayan, cuma ya sifat aslinya belom keliatan. Ntar kalo udah semingguan disana baru keliatan semua dah. Hahaha.”
“Yaa moga-moga gak ada yang crashya. Hahaha.”
“So far sih gue udah bisa ngira-ngira siapa aja yang bakal gak cocok satu sama lain. Tapi ya semoga mereka bisa nahan diri lah, dicocok-cocokin 35 hari doang ini.” sahut gue sambil mengunyah, “kalo lo, gimana Fir?” tanya gue.
Fira tertawa dan menyibakkan rambutnya ke belakang. Dia sepertinya menunda menjawab pertanyaan gue, karena dia justru mencomot kentang goreng lagi, dan memakannya perlahan. Agaknya dia sedang berpikir jawaban apa yang akan dikatakannya ke gue.
“Lumayan sih, masih pada malu-malu semua.” sahutnya sambil mengangguk-angguk pelan.
“Ada yang cakep nih pasti…”
“Ada satu hahahaha….”
“Yang cantik?”
“Yang cantik ada satu juga.”
“Siapa namanya? kenalin dong.” ujar gue dengan mata berbinar-binar.
Fira tersenyum jahil sambil mengulurkan tangannya ke gue.
“Kenalin, nama gue Fira, anak Hukum.”
Gue langsung mengernyit karena gondok, dan nyuekin Fira dengan cara mencomot kentang goreng tadi, sementara Fira tertawa cekikikan.
Karena kami bengong gak tau apa lagi yang harus dilakukan, gue dengan iseng membuka-buka dompet sendiri, tanpa ada maksud apa-apa. Tapi keisengan ini langsung berdampak ke gue. Tanpa sengaja gue melihat foto Sherly di dompet gue. Foto kecil berukuran 3x4, yang dulu dititipkan ke gue sewaktu dia mau ujian tengah semester. Sepertinya dia lupa kalo pernah menitipkan foto ke gue, sehingga foto itu masih tertinggal di dompet gue.
Tanpa gue duga, ternyata Fira melihat foto Sherly itu.
“Itu pacar lo?” tanyanya.
Gue terpaku di tempat sambil memandangi bis yang menghilang di kejauhan. Sekali lagi gue berusaha meyakinkan hati dan mata gue sendiri, bahwa yang barusan gue lihat itu Sherly, atau orang lain. Gue menghisap rokok, sambil terbengong-bengong memikirkan kejadian barusan. Gue baru tersadar kembali ketika ada suara klakson motor yang berlalu-lalang di hadapan gue.
Gue menoleh ke belakang, melihat ke Fira yang masih menunggu fotokopian itu jadi. Gue memandangi sosok Fira, cewek berambut hitam yang akhir-akhir ini menjadi ikal, dengan senyumnya yang cantik. Tubuhnya yang bertinggi sedang dengan badan yang proporsional membuatnya cukup terkenal di kalangan cowok-cowok kampus. Hari itu dia mengenakan kaos berkerah berwarna hitam, dengan jeans berwarna biru gelap. Di tangannya melilit jam digital berwarna putih-biru.
Sambil menggeleng pelan gue teringat kembali perasaan gue ke Fira, perasaan yang dulu pernah ada, tapi dipaksa untuk menghilang. Segala hal yang dipaksa itu pasti menyakitkan. Begitu juga dengan perasaan gue dulu. Di saat itulah datang sosok Sherly, yang kembali menghangatkan hati gue yang mendingin. Namun ketika hati gue telah menghangat dan merasa nyaman dengan kehadirannya, Sherly pergi meninggalkan gue, tanpa pesan.
Entah berapa lama gue mengingat masa lalu itu, mendadak ada tepukan di punggung yang menyadarkan gue. Gue menoleh, dan melihat Fira berdiri di belakang gue sambil satu tangannya memeluk setumpuk fotokopian materi kuliah. Dia memandangi gue dengan heran.
“Kenapa lo?” tanyanya.
Gue menggeleng, “enggak, gak kenapa-kenapa kok. Udah kelar? Mana sini gue bawain.” ucap gue sambil mengambil tumpukan kertas itu dari pelukan Fira.
Kami berjalan menuju motor yang gue parkir gak jauh dari situ. Sambil berjalan gue menoleh ke Fira.
“Tadi berapa semuanya?” tanya gue.
“Udah ntar aja, sekarang balik ke kampus dulu lah kita.” sahutnya pelan.
“Tergantung nih kalo duit gue gak cukup, ya gue mampir ATM sekalian,” jawab gue, “berapa semuanya?”
“Kalo duit lo gak cukup, ya gue aja yang bayarin.” balasnya kalem.
“Beneran nih?”
Fira mengangguk sambil tersenyum cantik.
“Iya, gue aja yang bayar,” dia memandangi gue sejenak.
Gue tersenyum. “Makasih yak.”
Sesampainya di kos, gue duduk tepekur di kasur busuk kesayangan gue, dan berpikir tentang Sherly lagi. Apa tadi yang gue lihat itu beneran Sherly, atau cuma orang lain yang kebetulan mirip dengannya. Gue membuka handphone dan melihat-lihat lagi chat BBM antara gue dan Sherly beberapa bulan yang lalu. Ucapan “terimakasih ya
” adalah komunikasinya yang terakhir dengan gue. Seakan dia mengucapkan terima kasih untuk segalanya selama ini.Gue kemudian membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Di dalam keheningan itu gue berdoa, agar Sherly selalu baik-baik aja, dimanapun dia berada. Seperti yang pernah gue ucapkan di atas kereta menuju ke Jakarta itu, semoga Tuhan selalu bersamanya.
* * *
Beberapa waktu kemudian.
Kehadiran Fira kembali ke kehidupan gue membuat gue semakin nyaman, dan entah kenapa kali ini gue merasakan sesuatu yang berbeda dari pada yang terdahulu. Kalau di masa lalu gue merasa seperti dia memasang topeng kepalsuan ketika bersama gue, kali ini gue merasa inilah sosok Fira yang sebenarnya.
“Di desa lo bagus gak rumahnya?” tanyanya sambil mencomot kentang goreng di hadapan kami.
Gue tertawa pelan, dan ikut mencomot kentang goreng, kemudian mencocolkan ke saus sambal, “yaa, lumayan, gak terlalu sederhana kok, tapi juga gak mewah-mewah amat. Tapi kayaknya itu yang terbaik deh.” sahut gue.
Fira mengangguk-angguk.
“Temen-temen lo asik-asik gak?” tanyanya lagi.
“Yaa, lumayan, cuma ya sifat aslinya belom keliatan. Ntar kalo udah semingguan disana baru keliatan semua dah. Hahaha.”
“Yaa moga-moga gak ada yang crashya. Hahaha.”
“So far sih gue udah bisa ngira-ngira siapa aja yang bakal gak cocok satu sama lain. Tapi ya semoga mereka bisa nahan diri lah, dicocok-cocokin 35 hari doang ini.” sahut gue sambil mengunyah, “kalo lo, gimana Fir?” tanya gue.
Fira tertawa dan menyibakkan rambutnya ke belakang. Dia sepertinya menunda menjawab pertanyaan gue, karena dia justru mencomot kentang goreng lagi, dan memakannya perlahan. Agaknya dia sedang berpikir jawaban apa yang akan dikatakannya ke gue.
“Lumayan sih, masih pada malu-malu semua.” sahutnya sambil mengangguk-angguk pelan.
“Ada yang cakep nih pasti…”
“Ada satu hahahaha….”
“Yang cantik?”
“Yang cantik ada satu juga.”
“Siapa namanya? kenalin dong.” ujar gue dengan mata berbinar-binar.
Fira tersenyum jahil sambil mengulurkan tangannya ke gue.
“Kenalin, nama gue Fira, anak Hukum.”
Gue langsung mengernyit karena gondok, dan nyuekin Fira dengan cara mencomot kentang goreng tadi, sementara Fira tertawa cekikikan.
Karena kami bengong gak tau apa lagi yang harus dilakukan, gue dengan iseng membuka-buka dompet sendiri, tanpa ada maksud apa-apa. Tapi keisengan ini langsung berdampak ke gue. Tanpa sengaja gue melihat foto Sherly di dompet gue. Foto kecil berukuran 3x4, yang dulu dititipkan ke gue sewaktu dia mau ujian tengah semester. Sepertinya dia lupa kalo pernah menitipkan foto ke gue, sehingga foto itu masih tertinggal di dompet gue.
Tanpa gue duga, ternyata Fira melihat foto Sherly itu.
“Itu pacar lo?” tanyanya.
oktavp dan itkgid memberi reputasi
2