- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#416
Teduh – Part 3
Cukup kesulitan aku memilih outfit untuk perform hari ini. Dulu aku tidak sulit menentukan apa yang harus aku kenakan, bagiku kaos dan celana jeans sudah pas. Namun kali ini aku harus berpakaian sedikit formal karena permintaan Dean.
Setengah jam, akhirnya aku memantapkan diri dengan flannel hijau dengan celana chino berwarna krem. Aku menyiris klimis rambut undercutku. Cocok, ujarku dalam hati.
Ku masukkan gitar akustikku kedalam soft case, beberapa pick aku masukkan kedalam kantung kecil bersama 1 set senar senar, tak lupa juga dengan tuner agar aku tidak kesulitan untuk menyetem gitar nanti.
Ku tenteng softcase gitar dengan tangan kananku, setelah berpamitan kepada kedua orang tua aku langsung meletakan alat tempurku ini di bagasi Honda Jazznya Dean.
Jam 15:00 kami sudah sampai di stage pertama. Saat perjalanan menuju back stage hampir semua siswa yang melihat kami berbondong – bonding menyerbu untuk minta di foto bareng. Aku sedikit menjauh saat Dean di sapa ‘fansnya’. Dean, dia tak pernah sombong. Ia ramah kepada semua orang.
Di back stage aku mengeluarkan Yamaha CPX, si merah ini adalah hasil menabung ku selama 6 bulan. Ku nyalakan tuner gitar lalu menyetem gitar. Sedangkan di depanku Dean sedang melakukan fingering di fret Cort Jade 2.
Hari ini Dean menggunakan kemeja kotak – kotak krem yang padukan dengan blazer senada, lalu kepalanya di balut dengan hijab dengan gaya masa kini. Kembali, aku memujinya dalam hati kecilku. Aku tidak pernah bisa menyangka bisa berduet akustik dengan dirinya.
Waktu yang kami tunggu telah tiba. Dean menaiki tangga stage lebih dulu dari pada aku. Sesampainya diatas panggung Dean langsung mendapat tepuk tangan dan fans yang telah menunggunya lama. Jujur saja aku belum pernah tampil di stage sebesar ini. “Jadi sekarang ngga soloist lagi nih tampil?” Tanya salah satu MC. “Ini sahabat aku di sekolah.” Jawabnya ringan dengan senyuman. “Yakin ini cuman sahabat?” Tanya MC kedua. Dean membalasnya dengan senyuman.
Setelah MC mempersilahkan kami untuk menghibur penonton, Dean menyapa penonton yang sudah menunggunya. “Kali ini aku tampil dengan sahabat aku, perkenalkan dia Tri Erlangga.” Aku membungkukan badanku lalu mendadahi penonton yang begitu banyak
Kami membuka penampilan kami dengan lagu We Are Never Ever Getting Back Together milik Taylor Swift lalu disambung dengan A Sky Full of Stars nya Coldplay. Dean mengambil jeda sebelum lagu ke tiga.
Kami memainkan lagu tersebut, begitu lembut suara Dean mampu membawa ribuan penonton ikut bersenandung bersamanya.
Sampailah kami di lagu terakhir. Kami menutup penampilan kami Iris yang kami bawakan sedikit berbeda dengan versi aslinya.
“Well done.” Kami ber-high five. “De tolong fotoin kami berdua.” Dean meminta seorang seksi dokumentas. Dengan kamera DSLR sang fotographer menagkap kami dengan lensanya, Dean mengandeng lenganku dengan tersenyum begitupun aku.
Cukup kesulitan aku memilih outfit untuk perform hari ini. Dulu aku tidak sulit menentukan apa yang harus aku kenakan, bagiku kaos dan celana jeans sudah pas. Namun kali ini aku harus berpakaian sedikit formal karena permintaan Dean.
Setengah jam, akhirnya aku memantapkan diri dengan flannel hijau dengan celana chino berwarna krem. Aku menyiris klimis rambut undercutku. Cocok, ujarku dalam hati.
Ku masukkan gitar akustikku kedalam soft case, beberapa pick aku masukkan kedalam kantung kecil bersama 1 set senar senar, tak lupa juga dengan tuner agar aku tidak kesulitan untuk menyetem gitar nanti.
Ku tenteng softcase gitar dengan tangan kananku, setelah berpamitan kepada kedua orang tua aku langsung meletakan alat tempurku ini di bagasi Honda Jazznya Dean.
Quote:
Jam 15:00 kami sudah sampai di stage pertama. Saat perjalanan menuju back stage hampir semua siswa yang melihat kami berbondong – bonding menyerbu untuk minta di foto bareng. Aku sedikit menjauh saat Dean di sapa ‘fansnya’. Dean, dia tak pernah sombong. Ia ramah kepada semua orang.
Di back stage aku mengeluarkan Yamaha CPX, si merah ini adalah hasil menabung ku selama 6 bulan. Ku nyalakan tuner gitar lalu menyetem gitar. Sedangkan di depanku Dean sedang melakukan fingering di fret Cort Jade 2.
Quote:
Hari ini Dean menggunakan kemeja kotak – kotak krem yang padukan dengan blazer senada, lalu kepalanya di balut dengan hijab dengan gaya masa kini. Kembali, aku memujinya dalam hati kecilku. Aku tidak pernah bisa menyangka bisa berduet akustik dengan dirinya.
Quote:
Waktu yang kami tunggu telah tiba. Dean menaiki tangga stage lebih dulu dari pada aku. Sesampainya diatas panggung Dean langsung mendapat tepuk tangan dan fans yang telah menunggunya lama. Jujur saja aku belum pernah tampil di stage sebesar ini. “Jadi sekarang ngga soloist lagi nih tampil?” Tanya salah satu MC. “Ini sahabat aku di sekolah.” Jawabnya ringan dengan senyuman. “Yakin ini cuman sahabat?” Tanya MC kedua. Dean membalasnya dengan senyuman.
Setelah MC mempersilahkan kami untuk menghibur penonton, Dean menyapa penonton yang sudah menunggunya. “Kali ini aku tampil dengan sahabat aku, perkenalkan dia Tri Erlangga.” Aku membungkukan badanku lalu mendadahi penonton yang begitu banyak
Kami membuka penampilan kami dengan lagu We Are Never Ever Getting Back Together milik Taylor Swift lalu disambung dengan A Sky Full of Stars nya Coldplay. Dean mengambil jeda sebelum lagu ke tiga.
Quote:
Kami memainkan lagu tersebut, begitu lembut suara Dean mampu membawa ribuan penonton ikut bersenandung bersamanya.
Sampailah kami di lagu terakhir. Kami menutup penampilan kami Iris yang kami bawakan sedikit berbeda dengan versi aslinya.
“Well done.” Kami ber-high five. “De tolong fotoin kami berdua.” Dean meminta seorang seksi dokumentas. Dengan kamera DSLR sang fotographer menagkap kami dengan lensanya, Dean mengandeng lenganku dengan tersenyum begitupun aku.
Quote:
junti27 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup