Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
267
Lapor Hansip
30-09-2015 20:37

Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story

Quote:
Note About This Thread :

1. Thread ini berisi cerita Fiktif yang menyadur beberapa kejadian nyata tentang keberadaan Petrus di Indonesia

2. Sesuai Judulnya, Petrus Ttrilogi ane rencanakan terbagi menjadi 3 Act atau 3 Season ( Act 1 : Petrus Origin , Act 2 : Petrus New Wave, Act 3 : Petrus Final Act)

3. Seperti Agan-agan yang laen ane punya kesibukan pribadi agar Lebih nyaman untuk semua pihak jadi ane jadwalkan untuk memberikan updatenya setiap hari senin

4. Tokohnya merupakan tokoh fiktif dengan setting waktu saat ini atau tahun 2015



Interaktif Story For Kaskuser


Indeks Story

Prolog
File 001 : Penembak Misterius
File 002 : Untold
File 003 : Kontradiksi

Act 1 : Petrus origin
File 004 - Identity
File 005 - Peluru Perak
File 006 - MO
File 007 - Misi
File 008 - Hunt or Hunted
File 009 - Like A Ghost
File 010 - HELL
File 011 - Srigala Berbulu Domba
File 012 - Safe House
File 013 - Sexy Succubus
File 014 - Place where Hades Hide
File 015 - Bloody Joker
File 016 - Bet?
File 017 - Heritage
File 018 - Immortal Fighter
File 019 - Torture

Act 2 : Petrus New Wave

Act 3 : Petrus Final Act


Kaskuser Act
Quote:
l13apower : Part 1
l13apower : Part 2
l13apower : Part 3
l13apower : Part 4
l13apower : Part 5.1
l13apower : Part 5.2
l13apower : Part 6
l13apower : Part 7
l13apower : Part 8
l13apower : Part 9



Quote:
Sherry24 : Patrucci the ghost bullet
Sherry24 : Ghost Bullet part 2


Quote:
Lithium.rusak : interupsi
Lithium.rusak : Dampak


Quote:
panjang.kaki : The Eagle Eye episode 01


Diubah oleh clowreedt
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
30-09-2015 20:40
File 002 : Untold

Ria berada disebuah ruang gelap gulita ketika tiba-tiba dibelakangnya seorang lelaki berbadan besar mengunci kedua tanganya. Tangan kiri pria itu mengalungkan sebuah belati tajam, siap menggorok lehernya.

Ria berusaha berontak sejadi-jadinya tapi lelaki itu sama sekali tidak bergeming. DORR!!! Pria tinggi besar itu terjatuh bersimbah darah dengan lubang peluru di keningnya. Saat Ria mengalihkan pandangan mencari arah asal tembakan. Sebuah tembakan lain terdengar, pelurunya menembus tepat ke jantungnya. Ria terbangun di sebuah ruangan putih bersih, bau obat-obatan yang kuat sesekali tercium oleh hidungnya.

“mimpi…” gumam Ria.

Tok tok, terdengar suara pintu diketuk pelan dari luar. Sejurus kemudian pintu perlahan terbuka. Angga menyeruak masuk dengan sebuah senyum ramahnya, beberapa lebam terlihat diwajahnya.

“Pagi..” sapa Angga hangat, sambil menarik sebuah kursi untuk duduk disampping kasur Ria.

“Angga, kita dimana?” wajah Ria masih pucat.

“Kita dirumah sakit, setelah kejadian semalam kamu collapse, jadi aku langsung bawa kamu kesini” kata Angga.

Ria mengingat kejadian semalam saat dia menjadi sandra sekawanan penjambret dan munculnya sesosok penembak misterius yang dia yakini seorang petrus. Dia tertunduk lesu, tanganya bergetar ngeri mengingat kejadian itu.

“Sudah, jangan di ingat lagi, saat ini kepolisian masih mengusut menyelidiki penembak misterius itu” Angga mencoba menenangkan Ria. “Oh iya tadi aku sudah telpon ke kampusmu untuk meminta ijin agar kamu bisa istirahat satu atau dua hari”.

“Makasih” Ria tersenyum manis.

“iya sayang, oh iya tadi aku sudah bicara dengan dokter, katanya kamu tidak apa hanya saja kamu mungkin masih butuh istirahat paska trauma, jadi harus beristirah 1-2 hari” Angga menjelaskan sambil mengelus kepala Ria tunangannya yang kini memerah seperti kepiting rebus.

Suasana tiba-tiba menjadi hening, Angga mendekatkan bibirnya ke bibir Ria yang kini sedang menutup matanya menunggu dengan berdebar-debar ciuman dari Angga. Kriek!!! Suara pintu dibuka dari luar

“Woi anak kampret, bangun loe…. Manja amat jadi…..” Reza menghentikan ucapanya melihat Angga dan Ria yang hampir berciuman. Menyadari kehadiran Reza, Angga segera memperbaiki posisinya. Wajah Ria sendiri semakin memerah menahan malu.

Beberapa menit berlalu setelah kejadian itu suasana masih canggung. Mereka bertiga diam di ruangan, tidak berbicara sambil menunduk bingung mau berbicara. “Eh maaf, ngganggu kalau mau aku biar keluar dulu aja, kalian terusin aja dulu” ucap Reza yang berusaha mencairkan suasana tapi malah kata-kata konyol yang keluar.

“Goblok!” kutuknya dalam hati.

“Ah elu nyet, ganggu aja…. hahahaha” canda Ria sambil di ikuti ketawanya yang riuh serta sedikit senyuman Angga yang ada di sebelahnya.

Angga kemudian berdiri, dan mencium kening Ria “Yaudah, aku balik kerja dulu ya, Pak Fajril memintaku cepet ke kantor buat kordinasi konferensi pers tentang masalah penembakan semalam”

“Hati-hati…” ucap Ria sambil menggenggam tangan Angga

“Iya..” Angga pun melepas genggaman tangan Ria kemudian, mengelus kepalanya sebentar sebelum akhirnya berjalan kearah pintu melewati Reza.

“Titip Ria ya za”

“Siap komandan!!” Reza memberi hormat berpura-pura menirukan gaya seorang polisi. Anggapun kemudian berlalu dengan senyum simpul khasnya.

Bugh!!! Sebuah bantal melayang tepat mengenai samping kepalanya “Anj*ng tengsin gue nyet… loe ngapain nyelonong masuk gak pake ketuk pintu dulu”

“Woi anak kampret, makanya loe kalau mau mesum pintu tuh di kunci, kalau gak kasih tulisan yang gede di pintu : Lagi baik, jangan di ganggu”

Reza dan Ria memang vulgar kalau bercanda. Mereka berdua sudah cukup lama akrab semenjak diduetkan mengampu sebuah acara music di stasiun radio kampusnya, namun semester ini mereka terpaksa berpisah saat siaran karena jadwal kuliah mereka yang berbeda. Berbeda dengan Ria yang kuliah jurusan Komunikasi, Reza kuliah jurusan ekonomi.

“Loe ngapain pagi-pagi dah disini nyet? Biasa juga jam segini masih molor loe”

“Habis dari Café-nya Tio. Cafenya lagi renovasi, gue disuruh bantuin nata bangku, ni baru pulang ngantuk banget” Rezapun rebahan di kursi panjang sebelah kasur Ria.

“Eh Monyet, enak banget hidup loe, dateng-dateng maen rebahan…” sergah Ria sambil melempar lagi satu bantal kearah Reza.

Dengan cekatan Reza menangkap bantal yang di lempar oleh Ria dan langsung di gunakanya buat menyengga kepalanya “Kamar VIP emang beda ya. Bantalnya empuk, mana ada AC-nya lagi. Mantap”

“eh nyet kalau mau tidur pulang sono ke kosan, malah nangkring disini”

“Ogah ah, jauh, gue gak punya ongkos” Reza pun dengan cueknya mulai menutup matanya hendak tidur.

Ria yang kesel mengambil bantal pertama yang terlempar tidak jauh dari pintu kamar, kemudian menghampiri Reza dan mendekapkan bantal tersebut di wajah Reza yang hampir tertidur.

“ehmmmm..ehmmmm” Reza sekuat tenaga berusaha mendorong Ria. Setelah berjuang cukup keras akhirnya dia berhasil juga melempar bantal yang di pake Ria buat menutup wajahnya.

“Mau bunuh gue loe??”

“Salah sendiri, kesini malah numpang tidur doang” ucap ria

Terdengar sayup-sayup suara TV, nampaknya remote TV yang berada didekat Reza terpencet ketika wajahnya ditutup Ria menggunakan bantal. “Saat ini kami akan menayangkan pernyataan resmi dari kepolisian mengenai penangkapan komplotan preman di daerah kota lama semarang yang berakhir dengan kematian 6 anggota preman karena tertembak timah panas oleh petugas.”

Dilayar TV kini menunjukkan seorang pria dengaan attribut polisi lengkap. Wajahnya familiar dengan kumis tebal diatas bibirnya, dia adalah pria berjaket kulit yang di temui Ria dan Angga Semalam. Di bagian bawah layar TV tersebut tersemat tulisan Irjen. Dedi Wiryawan Kapolda Jawa tengah.

Ternyata pria semalam yang ditemuinya bersama dengan Angga adalah seorang Kapolda, pantas Angga nampak begitu canggung ketika bertemu dengannya. Tapi mengapa sampai seorang kapolda datang ke TKP, meskipun itu kasus cukup besar karena menyebabkan 6 orang meninggal tidak biasanya seorang Kapolda turun langsung kelapangan. Ria nampak serius memikirkan kejadian semalam. Namun ketika sang kapolda mulai berbicara dia jadi semakin kebingungan.

“Berkat usaha dan aksi luar biasa dari Ipda Angga serta beberapa rekannya akhirnya kepolisian semarang berhasil melumpuhkan kawanan preman yang sudah cukup lama melakukan kejahatan jalan di kawasan kota lama. Preman-preman yang di ketuai Joko Kribo alias jekro ini sudah lama menjadi target operasi kepolisian karena aksi pembegalan yang di sertai kekerasan dan tidak segan-segan merenggut nyawa korban.

Air mata Ria menetes, tangannya menutup mulutnya menunjukkan kekagetan luar biasa ketika di layar TV Kapolda tersebut menunjukkan foto Joko Kribo alias Jekro yang tidak lain adalah orang berbadan besar yang menyandranya semalam.

“Untuk lebih jelas mengenai kronologi kejadian pengejaran komplotan preman tersebut akan di jelaskan oleh langsung oleh Ipda Angga.” Kamera TV pun bergeser menyorot kearah Angga.

Dalam konferensi pers tersebut Angga menjelaskan mengenai awal mula pengintaian komplotan Jekro, hingga semalam penggrebekan di markas, serta bagai mana penggrebekan itu beakhir dengan adu tembak yang menewaskan 6 anggota geng jekro yang berusaha melarikan diri sehingga harus di hentikan dengan tembakan. Sebuah penjelasan yang sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah tanda tanya besar ada di kepala Ria, mengapa sampai pihak kepolisian melakukan konferensi pers demi menutupi fakta kejadian yang sebenarnya.

“Wah Angga Hebat ya, ini prestasi yang luar biasa.” Celetuk Reza yang ternyata ikut menonton berita yang sedang ditayangkan di TV.

“Yang di katakan Angga itu nggak benar, gue di situ pas kejadian… kejadianya gak kek gitu? Kenapa dia bohong” Ria menghela nafas panjang

“Maksut loe gak bener gimana Ri?”

“Bukan Angga yang menembak ke 6 preman itu, ada orang lain yang menembak mereka dari jarak jauh”

“Menembak dari jarak jauh?” Reza berusaha menkonfirmasi perkataan Ria

“Iya, ada seseorang yang menembak mereka dari atas gedung yang belum jadi”

“maksut loe gedung yang mau dibangun jadi Rumah Sakit itu?? Yang bener aja itu kan satu kilo lebih jaraknya”

Ria hanya mengangguk.

Dorr!!! Terdengar suara tembakan dari dalam TV mengaggetkan mereka berdua, dalam tayangan langsung tersebut terlihat orang-orang berlarian karena panic dan beberapa ada yang bersembunyi di bawah meja serta kursi, ada juga yang terjatuh dan beberapa kali terinjak kerumunan.

“Apa yang terjadi? Dimana Angga?” terlihat Ria panik, dia kebingungan mencari sosok Angga diantara kerumunan. Segera dia menyambar handphone yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya. Panic dia berusaha menelpon ponsel Angga namun tidak aktif

“Nyet….. Angga nyet…. Angga…..” Ria pucat, sesenggukan menangis sambil masih terus berusaha menelpon handphone Angga.

“Tenang Ri, Kita belum tahu apa yang terjadi, Angga pasti gak papa, dia kan kuat” Cuma kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Reza, namun nampaknya itu tidak cukup untuk menenangkan Ria yang panik.

Ria masih terus berusaha menelpon Angga, ketika akhirnya siaran berlanjut. Seorang reporter perempuan tampak masih agak pucat dengan tangan bergetar berusaha mengatur nafasnya seperti telah melihat sesuatu yang mengagetkan. “Pemirsa, baru saja sesaat tadi, saat konferensi pers yang dilaksanakan oleh POLDA Jawa Tengah. Ipda Angga Hermawan mengalami penembakan ketika sedang menjelaskan kronologi operasi penangkapan geng jekro. Masih belum ada info lebih lanjut tentang kondisi Ipda Angga.”

“Anggaaaaaa!!!!!!!” Ria berteriak keras sebelum akhirnya pingsan.
Diubah oleh clowreedt
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan jiyanq memberi reputasi
3 0
3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
bab-26--saran
Stories from the Heart
api-dendam-di-tanah-pringgading
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia