- Beranda
- Stories from the Heart
that's what friends are for
...
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:
Spoiler for sampul:
Pesan whatsapp itu datang begitu saja,
Quote:
Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.
"Sini aja, Nae,"
"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"
centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah
Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob 
"Assalamu'alaikum,"
suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~
"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok

"mana Haruki?"
Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.
"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"
dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (
)"Dia udah pulang, Nae"
"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"
Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:
...gitu, Nae.."
mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.
"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.
"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"
"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"
Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.
"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"
"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"
Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.
"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"
"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"
Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.
"Har, kejar, Har!"
"Gue harus gimana?"
"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"
"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"
Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...
Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.7K
320
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#108
akhirnya memang harus dilakukan sendiri
Yuki duduk di atas pagar serambi lantai 2 rumah gue. Gue bisa ngeliat kakinya. Dia ngegerakin kakinya, semacam ngegowes udara begitu. Kedua tangannya mencengkeram pagar. Bahunya naik sejajar pangkal bawah kuping telinganya. Kalau dilihat-lihat, pertanyaan gue barusan, yaitu lo-siapa-sih kejawab sama gue sendiri. Secara tampilan, dia emang Yuki banget. Pertama, dia mirip Haruki, bedanya, dia di tubuh anak-anak. Kedua, waktu pertama kali liat 'dia' di SMA kelas 2, ya rupanya masih begini ini. Ketiga, gue pernah dilihatin foto Yuki dan emang beginilah rupanya 'sesuatu' yang menghampiri gue di dini hari waktu itu. Baiklah, anggap aja dia Yuki.
Yuki tersenyum.
"Dari dulu, kamu selalu menolak keberadaan aku, Har"
Yuki memandang gue, dengan lembut. Tentu saja, gue mengangguk,
"Yuki udah lama meninggal. Lo siapa?"
"Aku? Yuki,"
"Ah...,"
Gue membuang pandangan ke kerlap-kerlip cahaya rumah di depan. Rasanya, kok percuma gue beragumen dengan dia ini.
"Iya, deh, semisal lo bener Yuki. Maksud lo apa ngajak gue 'jalan-jalan' begitu?"
(Yuki sempet jawab sesuatu tentang Aul dan Shizu di poin I dan II di cerita sebelumnya, tapi gue lupa)
"Haruki nunggu kamu, Har. Nunggu jemputan kamu,"
"Dijemput dari mana?"
Gue dalam asumsi 'sesuatu' yang lagi ngobrol sama gue ini adalah Yuki beneran. Gue mencoba ngejar dia, gue jadi penasaran dengan apa yang akan dia bilang.
"Kamu lihat sendiri tadi, Haruki tidur sendiri. Ngga ada siapa-siapa bareng dia. Kasian dia. Aku udah ngga tega lihat dia begitu. Kamu harus jemput dia, Harsya, harus,"
Gue terdiam. Gue inget apa kata Ara. Gue harus punya alasan yang kuat kalo mau ngejemput Haruki. Juga, apa yang Yuki bilang ini adalah antitesis yang dibilang sama Nae. Gue ngga perlu melepaskan Haruki. Gue ngga perlu memohon untuk dia mau kembali pada gue. Tapi, yah, ini kan kata Yuki. Gue sendiri yang bilang kalo valid apa ngganya Yuki ini masih dipertanyakan. Hidup ini semacam lelucon. Ketika gue bertanya-tanya, siapa yang bener-bener jujur atas saran-sarannya, apakah Nae atau Ara, jawabannya datang dari dia yang selama ini gue sangkal keberadaannya. Karena gue menyangkal dia, Harukipun menerima Farhan yang menerima Yuki. Ini ganjil. Mana yang harus gue percaya?
"Boy, sia teh mau kimpoi, jangan buang-buang anak, jangan nonton bokep sia,"
"Jih, sia mah sirik. Gue ngga buang-buang anak, njir, gue nonton supaya banyak referensi ntar sama bini gue,"
"Anying, ngaco siah, hahahahaha,"
"Har, lo ngga usah basa-basi, nying. Ada apa lo nelpon gue jam segini? Apa masalah lo? Bilang, bilang,"
Karena gue kebingungan, Yuki juga ngga beranjak, dia diem di pojokan kamar
, jam 2 pagi itu, gue ngeliat wassap, gue liat kapan terakhir si Boy onlen. Rupanya, dia masih onlen, langsung aja gue telpon tuh bocah. Bukannya 'assalamu'alaikum', sapaan gue malah kalimat-kalimat diatas
Lagian kalo gue ngucapin salam di awal pembicaraan telepon, dia bakal jawab,
"Har, udah lo putusin kan harta benda apa aja yang bakal lo warisin ke gue sepeninggal lo?"
atau
"Har, lo mending ke (lokalisasi lendir di selangkangan di kota gue). Lo mau mati muda, mending lo puas-puasin dulu,"
atau
"Gue jual sepaket pemakaman, lo udah terima bersih aja. Mandi, tanah, sampe tahlilan 134.332 hari udah termasuk. Harga nego, 15juta,"
yah begitulah
Baiklah, gue akan ke topik utama. Gue udah ngga tau harus gimana. Gue kira gue harus berbagi cerita dan nanya referensi untuk solusi. Gue pikir Boy orang yang pas. Walaupun sarannya jauh dari efektif, dia netral dalam hal ini. Bahkan, gue pas itu udah ngga bisa ngasih skala 'lebih curiga ke siapa' untuk Nae, Ara, dan Yuki. Semua sama aja, gue bingung intinya mah.
Gue bercerita semuanya ke Boy. Jam 3, cerita gue lunas.
"Eh, nying, lo tidur?" -- gue patut curiga, udah daritadi suara dia cuma 'hmm' doangan. Si kampret ini emang kampret.
"Kagak, eh, hahahhaha. Hm, respon gue soal cerita lo adalah lo ngga bisa begitu aja percaya sama Ara atau Nae. Gue ngga tau mereka berdua, ya, maksud gue, mereka berdua punya alasan untuk ngejauhin lo sama Haruki. Oke, sebut aja gitu dulu, ya. NIh, gue jelasin. Ara jelas-jelas pengen nyoblangin Farhan sama Haruki dari dulu. Udah itu mah ngga usah dibahas. Kalo Nae, tiba-tiba gue curiga dia bilang lo sebaiknya jangan jatuh cinta sama Haruki. Dia ngga ada hak juga ngomong begitu. Dalam posisi yang ngga jauh beda, Nae pengen minta maaf dan terima kasih soal adeknya ke Haruki. Lo pengen nyatain cinta lo. Ngga jauh beda itu. Tapi, itu kalo lo ngga dalam kondisi pengen move-on ditinggal kimpoi Widya. Kalo Haruki lo jadiin pelampiasan gitu, lo sadis sih Har."
"Gue ngga bisa munafik kalo gue masih kecewa ditinggal kimpoi Widya, tapi rasanya gitu, Boy. Gue berasa lebih tegar dengan ada Haruki, meski kita ngga jadian. Gue ngga ngejar jadian sama Haruki. Gue cuma berasa lengkap dengan adanya dia." --sebenernya, kalo kalimatnya mau gue tambahin, tapi berkesan homo, adalah begini: "kalo ada lo juga gue ngga segalau ini, Boy". Oke, itu homo abis kalo tujuan gue bukan pengen punya temen sehari-hari. Yep, gue ngga punya temen sehari-hari yang bisa gue bagi semuanya kayak ke Haruki atau Boy. Ada Ara sekarang. Ada Nae sekarang. Tapi, ya itu tadi... gue berasa mereka kurang greget. Kurang pas, dan lain sebagainya. Kalo dalam bahasa Boy sih, mereka punya motivasi lain. Begitulah.
"Yaa, itu namanya pelampiasan, bodoh. Kalo lo cuma mau cinta, lo datengin deh komunitas-komunitas. Ntar lagi lo juga kuliah lagi kan? lo pasti ketemu lagi banyak orang, mungkin diantara mereka ada yang menarik perhatian lo...,"
gue ngga mau panjangin pekara itu. Gue diem aja. Bukan itu masalahnya.
"...nah, Har, gue ngerasa ada kayak potongan yang hilang di cerita lo itu. Gue penasaran, kenapa, ya, Humaira dateng ke tempat lo bawa-bawa Yuki? Ganjil banget kalo dia dateng cuma pengen menuhin undangan traktiran lo. Aneh kalo kata gue sih,"
gue diem. Gue liat Yuki yang sekarang udah pindah ke ruangan depan, tapi masih keliatan dari kamar gue.
"Boy, udah dulu ya. Gue ngantuk. Makasih. Dah,"
"eh.. anj...."
belum sempet makian Boy keluar, gue udah nutup telepon. Bodo amat ama Boy. Lagi-lagi, itu cara kita bersopan-santun. Gue merebahkan diri. Gue menatap langit-langit kamar. Terlalu banyak pertanyaan, gue coba pilah satu--satu, mana yang lebih punya prioritas. Lain-lain mah bisa diurus belakangan. Pertanyaan tunggal yang mahapenting itu adalah,
"dimana Haruki?"
yes, dari pada gue pusing-pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang ikut setelahnya, mending gue temuin jawabannya itu. Itu inti masalah ini. Gue tersenyum, untuk itu, gue sudah punya alternatif jawabannya. Dan untuk itu, gue harus melakukannya sendirian.
Pagi menjelang. Sekitar jam 9. Maksud gue tadi malam sudah bersambut. Jawaban itu datang sendiri, padahal gue baru mau mikir gimana cara mintanya yang enak. Ndlalah, kok, jawaban yang gue pikirin sama kayak rejeki yang datang: melalui sebuah sambungan telepon. Baru tiga detik nada dering HP gue bunyi, gue angkat telepon itu.
Ari.
"Halo, Bro. Pakabar?"
"Baik, Bro. Tumbenan nih nelpon? Iya, gue mah mau kemana atuh. Ada apa, Ri?" --kata gue cengengesan, basa-basi. Padahal, harusnya gue yang basa-basi. Heheh. Soalnya, gue juga punya urusan sama si Ari ini.
"Ini... kalo boleh, gue pengen ngerepotin lo.. Hari ini lo sibuk?"
Minggu pagi, secara gue jomblo

"Ngga ada apa-apa, bro. Kenapakah?"
"Iya, nih. Gue emang apes nih. Istri gue pulang dari rumah sakit hari ini, cuma piket gue baru kelar nanti sore. Bokap sama bokap mertua gue juga lagi pada di luar kota. Lani sama Bagas lagi keluar juga. Punten, nih, bro. Kalo lo ngga repot, lo bisa ngga anter pulang istri gue?"
Senyum gue mengembang. Bukan ada maksud apa-apa sama Widya. Sama sekali ngga ada, sob. Ini adalah pelajaran pertama yang gue dapatkan mengenai 'berteman dengan dalih dan ada maunya untuk komersil' (
) bulan lalu dari salah satu mentor di komunitas bisnis yang gue ikutin.
"Wah, gue siap-siap aja, bro. Nanti gue ajak Mahal ya" -- ini pelajaran kedua: berikan orang itu respek. Maksud gue ngajak Mahal adalah bagaimanapun Ari percaya sama gue, bagaimanapun Ari ngga tau cerita gue sama Widya, ngga baik kalo kita berduaan sama istri orang. Gue juga agak jengah sih kalo berduaan sama doi.
Pelajaran pertama apa? nantilah gue kasih tau

"Maksud gue juga begitu broo. Tadi gue udah kontak Noura, eh, Mahal. Sebelum ngontak lo, wah, sepemikiran kita,"
"Hahahah, okelah. Ntar gue ikutin aja jadwal sama Mahal. Gue siap jadi sopir saja. Hehe," --ini pelajaran ketiga: ketika lo mau nyombong, rendahkanlah diri lo. Karena orang yang jadi sasaran akan menyombongkan diri lo
"Halah, si Bos bisa aja. hhaha. Oke, bro. Nanti kita berkabar ya. Duh, maaf ini jadi ngerepotin lo. Makasih ya bro. gue utang budi sama lo"
Sebenernya ini bukan rahasia. Ketika lo memberi, lo akan mendapatkan lebih dari apa yang lo beri. Pelajaran pertama adalah itu, buatlah pelanggan lo berhutang budi sama lo. Garis bawahi: pelanggan. Orang yang relatif lo ngga kenal tapi karena kondisi itu juga orang ybs 'sok deket' dengan lo. Gue ngga menyarankan tiga poin ini diaplikasikan di sobat baik lo.
Percaya deh, kapan-kapan, waktunya bakal dateng sendiri tanpa bisa lo paksa. Budi baik itu akan datang. Bisa jadi dari orang ybs. Bisa juga dari semesta yang bergerak dengan mekanis-sempurna akan menunjuk orang yang akan membalas budi baik itu.
Gue berbasa-basi, lantas menutup telepon. Gue bergegas telepon Mahal. Setelah konfirmasi sedikit ini-itu, kita sepakat berangkat jam sebelas. Ketemu langsung di kamar Widya. Sayangnya, minus dari skenario ini adalah, Mahal ngga akan sampe selesai nganter Widya dengan selamat sampe rumah. Dia turun di tengah jalan, ada urusannya yang ngga bisa diganggu. Artinya, kondisnya akan seperti itu: gue akan berduaan dengan istri orang. Hei, bukan untuk apa-apa, Lagian, syarat respek gue ke Ari terpenuhi sudah. Berarti bukan minus dong
Gue menyiapkan hati untuk inilah. Karena, gue harus berangkat sendirian. Gue menyiapkan diri dengan bahu yang akan segera penuh ketombe. Gue enggan dulu untuk ngajak Nae atau Ara.
"Gembel, lo dimana?"
"Halo, Nour, Harsya mah udah di kamar daritadi. Cepetan atuh kesini,"
"Eh, iya, Wid. Maaf maaf, gue meluncur kesana ya, bentar lagi sampe koks,"
Gue cengengesan. Si Kampret itu emang sialan. Dia yang bikin janji, dia yang mengingkari (mirip lirik lagu dangdut ngga sih?) Gue udah setengah jam yang lalu sampe di kamar ini. Tepat waktu. Mahal alias Noura yang telat. Si Kampret itu gimana, pake telat, bukannya dia nanti ada janji lagi? Cih.
"Har, tunggu di sini dulu ya. Gue mau beresin administrasinya dulu."
"Gue sekalian bawa barang lo ke mobil ya. Biar ngga buang-buang waktu. Hehe,"
"Oh, oke,"
Gue jujur aja ngga merasakan ada yang aneh dengan Widya saat itu. Gue juga bisa ngadepin setahap demi setahap. Gue putuskan untuk ngga dikit-dikit baper
Begitu juga maksud sebenernya dari 'ngga buang-buang waktu' barusan. Tapi, bener, gue beneran ngga mau buang waktu di kamar ini, bisa baper jadinya
Gue yang giat bergerak, juga datang si Kampret itu, bikin gue bisa ngadepin mantan kecengan yang udah jadi istri orang ini. Semua begitu normal ketika kita bertiga naik mobil. Obrolan biasa, gue yang di-bully
Gue agak ngga nyaman bully balik, terutama ke Mahal, mengingat keselamatan sumber contekan tugas gue semasa kuliah besok
Akhirnya, Mahal sampe di titik dimana dia harus turun. Setelah cipika-cipiki sama Widya pamitan. Widya ganti posisi di kursi sebelah sopir, sebelah gue. Gue bersiap mengarahkan jalannya mobil meluncur langsung ke rumahnya Widya. Semuanya lancar, gue bisa mengatur nafas dengan wajar, hingga...
"Har, lo buru-buru amat. Lo juga ada janji lagi, ya?"
"Eh, ngga, sih, Wid. Da gimana atuh, kewajiban sopir kan nganterin nyonya-nya selamat tiba tujuan dengan cepat dan selamat, hehe" --gue mencoba rileks, gue belum menangkap akan datang badai setelah ini.
"Ooh,"
Widya yang cuma merespon pendek ini bikin gue ngga enak juga, gue berfirasat buruk. Tapi, sampe disitu baru ke tahap, ah, jangan-jangan Widya ngga nyaman berduaan sama gue di dalem mobil setelah sekian lama. Baiklah, gue akan semakin bergegas. Ketika kira-kira 3 km lagi sampe rumah Widya, muncullah awan mendung itu.
"Har, Har,"
"Yaps?"
"Lo laper ngga? gue nemu tempat makan enak. Makan siang dulu, yuk. Sekalian gue balas budi sama lo. Mau, ya?"
Aysyiit...Syiiit... Gue bilang juga apa. Kalo budi baik yang kita lakukan bakal berbalas oleh alam semesta yang mekanis-sempurna. tapi.. ngga secepat ini juga kalik
Widya juga ngga bisa ditolak keinginannya. Gue melihat raut wajahnya yang udah siap-siap mau ngambek karena ngeliat gue yang udah siap-siap mau nolak.
Gue mengangkat bahu sambil senyum, sambil seakan bilang, ayok deh.
widya bersorak.
"Di tempat gue ajalah, Wid?"
"Nggga mauu! Gue mau di tempat (bilang suatu nama tempat yang baru buka dan emang terkenal enak)! TITIK!"
Awan mendung sudah datang, rintik-rintik menjelang, dan bersegera diganti hujan. Ya, hujan...
Yuki tersenyum.
"Dari dulu, kamu selalu menolak keberadaan aku, Har"
Yuki memandang gue, dengan lembut. Tentu saja, gue mengangguk,
"Yuki udah lama meninggal. Lo siapa?"
"Aku? Yuki,"
"Ah...,"
Gue membuang pandangan ke kerlap-kerlip cahaya rumah di depan. Rasanya, kok percuma gue beragumen dengan dia ini.
"Iya, deh, semisal lo bener Yuki. Maksud lo apa ngajak gue 'jalan-jalan' begitu?"
(Yuki sempet jawab sesuatu tentang Aul dan Shizu di poin I dan II di cerita sebelumnya, tapi gue lupa)
"Haruki nunggu kamu, Har. Nunggu jemputan kamu,"
"Dijemput dari mana?"
Gue dalam asumsi 'sesuatu' yang lagi ngobrol sama gue ini adalah Yuki beneran. Gue mencoba ngejar dia, gue jadi penasaran dengan apa yang akan dia bilang.
"Kamu lihat sendiri tadi, Haruki tidur sendiri. Ngga ada siapa-siapa bareng dia. Kasian dia. Aku udah ngga tega lihat dia begitu. Kamu harus jemput dia, Harsya, harus,"
Gue terdiam. Gue inget apa kata Ara. Gue harus punya alasan yang kuat kalo mau ngejemput Haruki. Juga, apa yang Yuki bilang ini adalah antitesis yang dibilang sama Nae. Gue ngga perlu melepaskan Haruki. Gue ngga perlu memohon untuk dia mau kembali pada gue. Tapi, yah, ini kan kata Yuki. Gue sendiri yang bilang kalo valid apa ngganya Yuki ini masih dipertanyakan. Hidup ini semacam lelucon. Ketika gue bertanya-tanya, siapa yang bener-bener jujur atas saran-sarannya, apakah Nae atau Ara, jawabannya datang dari dia yang selama ini gue sangkal keberadaannya. Karena gue menyangkal dia, Harukipun menerima Farhan yang menerima Yuki. Ini ganjil. Mana yang harus gue percaya?
****
"Boy, sia teh mau kimpoi, jangan buang-buang anak, jangan nonton bokep sia,"
"Jih, sia mah sirik. Gue ngga buang-buang anak, njir, gue nonton supaya banyak referensi ntar sama bini gue,"
"Anying, ngaco siah, hahahahaha,"
"Har, lo ngga usah basa-basi, nying. Ada apa lo nelpon gue jam segini? Apa masalah lo? Bilang, bilang,"
Karena gue kebingungan, Yuki juga ngga beranjak, dia diem di pojokan kamar

, jam 2 pagi itu, gue ngeliat wassap, gue liat kapan terakhir si Boy onlen. Rupanya, dia masih onlen, langsung aja gue telpon tuh bocah. Bukannya 'assalamu'alaikum', sapaan gue malah kalimat-kalimat diatas
Lagian kalo gue ngucapin salam di awal pembicaraan telepon, dia bakal jawab,"Har, udah lo putusin kan harta benda apa aja yang bakal lo warisin ke gue sepeninggal lo?"
atau
"Har, lo mending ke (lokalisasi lendir di selangkangan di kota gue). Lo mau mati muda, mending lo puas-puasin dulu,"
atau
"Gue jual sepaket pemakaman, lo udah terima bersih aja. Mandi, tanah, sampe tahlilan 134.332 hari udah termasuk. Harga nego, 15juta,"
yah begitulah

Baiklah, gue akan ke topik utama. Gue udah ngga tau harus gimana. Gue kira gue harus berbagi cerita dan nanya referensi untuk solusi. Gue pikir Boy orang yang pas. Walaupun sarannya jauh dari efektif, dia netral dalam hal ini. Bahkan, gue pas itu udah ngga bisa ngasih skala 'lebih curiga ke siapa' untuk Nae, Ara, dan Yuki. Semua sama aja, gue bingung intinya mah.
Gue bercerita semuanya ke Boy. Jam 3, cerita gue lunas.
"Eh, nying, lo tidur?" -- gue patut curiga, udah daritadi suara dia cuma 'hmm' doangan. Si kampret ini emang kampret.
"Kagak, eh, hahahhaha. Hm, respon gue soal cerita lo adalah lo ngga bisa begitu aja percaya sama Ara atau Nae. Gue ngga tau mereka berdua, ya, maksud gue, mereka berdua punya alasan untuk ngejauhin lo sama Haruki. Oke, sebut aja gitu dulu, ya. NIh, gue jelasin. Ara jelas-jelas pengen nyoblangin Farhan sama Haruki dari dulu. Udah itu mah ngga usah dibahas. Kalo Nae, tiba-tiba gue curiga dia bilang lo sebaiknya jangan jatuh cinta sama Haruki. Dia ngga ada hak juga ngomong begitu. Dalam posisi yang ngga jauh beda, Nae pengen minta maaf dan terima kasih soal adeknya ke Haruki. Lo pengen nyatain cinta lo. Ngga jauh beda itu. Tapi, itu kalo lo ngga dalam kondisi pengen move-on ditinggal kimpoi Widya. Kalo Haruki lo jadiin pelampiasan gitu, lo sadis sih Har."
"Gue ngga bisa munafik kalo gue masih kecewa ditinggal kimpoi Widya, tapi rasanya gitu, Boy. Gue berasa lebih tegar dengan ada Haruki, meski kita ngga jadian. Gue ngga ngejar jadian sama Haruki. Gue cuma berasa lengkap dengan adanya dia." --sebenernya, kalo kalimatnya mau gue tambahin, tapi berkesan homo, adalah begini: "kalo ada lo juga gue ngga segalau ini, Boy". Oke, itu homo abis kalo tujuan gue bukan pengen punya temen sehari-hari. Yep, gue ngga punya temen sehari-hari yang bisa gue bagi semuanya kayak ke Haruki atau Boy. Ada Ara sekarang. Ada Nae sekarang. Tapi, ya itu tadi... gue berasa mereka kurang greget. Kurang pas, dan lain sebagainya. Kalo dalam bahasa Boy sih, mereka punya motivasi lain. Begitulah.
"Yaa, itu namanya pelampiasan, bodoh. Kalo lo cuma mau cinta, lo datengin deh komunitas-komunitas. Ntar lagi lo juga kuliah lagi kan? lo pasti ketemu lagi banyak orang, mungkin diantara mereka ada yang menarik perhatian lo...,"
gue ngga mau panjangin pekara itu. Gue diem aja. Bukan itu masalahnya.
"...nah, Har, gue ngerasa ada kayak potongan yang hilang di cerita lo itu. Gue penasaran, kenapa, ya, Humaira dateng ke tempat lo bawa-bawa Yuki? Ganjil banget kalo dia dateng cuma pengen menuhin undangan traktiran lo. Aneh kalo kata gue sih,"
gue diem. Gue liat Yuki yang sekarang udah pindah ke ruangan depan, tapi masih keliatan dari kamar gue.
"Boy, udah dulu ya. Gue ngantuk. Makasih. Dah,"
"eh.. anj...."
belum sempet makian Boy keluar, gue udah nutup telepon. Bodo amat ama Boy. Lagi-lagi, itu cara kita bersopan-santun. Gue merebahkan diri. Gue menatap langit-langit kamar. Terlalu banyak pertanyaan, gue coba pilah satu--satu, mana yang lebih punya prioritas. Lain-lain mah bisa diurus belakangan. Pertanyaan tunggal yang mahapenting itu adalah,
"dimana Haruki?"
yes, dari pada gue pusing-pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang ikut setelahnya, mending gue temuin jawabannya itu. Itu inti masalah ini. Gue tersenyum, untuk itu, gue sudah punya alternatif jawabannya. Dan untuk itu, gue harus melakukannya sendirian.
Quote:
Pagi menjelang. Sekitar jam 9. Maksud gue tadi malam sudah bersambut. Jawaban itu datang sendiri, padahal gue baru mau mikir gimana cara mintanya yang enak. Ndlalah, kok, jawaban yang gue pikirin sama kayak rejeki yang datang: melalui sebuah sambungan telepon. Baru tiga detik nada dering HP gue bunyi, gue angkat telepon itu.
Ari.
"Halo, Bro. Pakabar?"
"Baik, Bro. Tumbenan nih nelpon? Iya, gue mah mau kemana atuh. Ada apa, Ri?" --kata gue cengengesan, basa-basi. Padahal, harusnya gue yang basa-basi. Heheh. Soalnya, gue juga punya urusan sama si Ari ini.
"Ini... kalo boleh, gue pengen ngerepotin lo.. Hari ini lo sibuk?"
Minggu pagi, secara gue jomblo

"Ngga ada apa-apa, bro. Kenapakah?"
"Iya, nih. Gue emang apes nih. Istri gue pulang dari rumah sakit hari ini, cuma piket gue baru kelar nanti sore. Bokap sama bokap mertua gue juga lagi pada di luar kota. Lani sama Bagas lagi keluar juga. Punten, nih, bro. Kalo lo ngga repot, lo bisa ngga anter pulang istri gue?"
Senyum gue mengembang. Bukan ada maksud apa-apa sama Widya. Sama sekali ngga ada, sob. Ini adalah pelajaran pertama yang gue dapatkan mengenai 'berteman dengan dalih dan ada maunya untuk komersil' (
) bulan lalu dari salah satu mentor di komunitas bisnis yang gue ikutin."Wah, gue siap-siap aja, bro. Nanti gue ajak Mahal ya" -- ini pelajaran kedua: berikan orang itu respek. Maksud gue ngajak Mahal adalah bagaimanapun Ari percaya sama gue, bagaimanapun Ari ngga tau cerita gue sama Widya, ngga baik kalo kita berduaan sama istri orang. Gue juga agak jengah sih kalo berduaan sama doi.
Pelajaran pertama apa? nantilah gue kasih tau

"Maksud gue juga begitu broo. Tadi gue udah kontak Noura, eh, Mahal. Sebelum ngontak lo, wah, sepemikiran kita,"
"Hahahah, okelah. Ntar gue ikutin aja jadwal sama Mahal. Gue siap jadi sopir saja. Hehe," --ini pelajaran ketiga: ketika lo mau nyombong, rendahkanlah diri lo. Karena orang yang jadi sasaran akan menyombongkan diri lo

"Halah, si Bos bisa aja. hhaha. Oke, bro. Nanti kita berkabar ya. Duh, maaf ini jadi ngerepotin lo. Makasih ya bro. gue utang budi sama lo"
Sebenernya ini bukan rahasia. Ketika lo memberi, lo akan mendapatkan lebih dari apa yang lo beri. Pelajaran pertama adalah itu, buatlah pelanggan lo berhutang budi sama lo. Garis bawahi: pelanggan. Orang yang relatif lo ngga kenal tapi karena kondisi itu juga orang ybs 'sok deket' dengan lo. Gue ngga menyarankan tiga poin ini diaplikasikan di sobat baik lo.
Percaya deh, kapan-kapan, waktunya bakal dateng sendiri tanpa bisa lo paksa. Budi baik itu akan datang. Bisa jadi dari orang ybs. Bisa juga dari semesta yang bergerak dengan mekanis-sempurna akan menunjuk orang yang akan membalas budi baik itu.
Gue berbasa-basi, lantas menutup telepon. Gue bergegas telepon Mahal. Setelah konfirmasi sedikit ini-itu, kita sepakat berangkat jam sebelas. Ketemu langsung di kamar Widya. Sayangnya, minus dari skenario ini adalah, Mahal ngga akan sampe selesai nganter Widya dengan selamat sampe rumah. Dia turun di tengah jalan, ada urusannya yang ngga bisa diganggu. Artinya, kondisnya akan seperti itu: gue akan berduaan dengan istri orang. Hei, bukan untuk apa-apa, Lagian, syarat respek gue ke Ari terpenuhi sudah. Berarti bukan minus dong

Gue menyiapkan hati untuk inilah. Karena, gue harus berangkat sendirian. Gue menyiapkan diri dengan bahu yang akan segera penuh ketombe. Gue enggan dulu untuk ngajak Nae atau Ara.
****
"Gembel, lo dimana?"
"Halo, Nour, Harsya mah udah di kamar daritadi. Cepetan atuh kesini,"
"Eh, iya, Wid. Maaf maaf, gue meluncur kesana ya, bentar lagi sampe koks,"
Gue cengengesan. Si Kampret itu emang sialan. Dia yang bikin janji, dia yang mengingkari (mirip lirik lagu dangdut ngga sih?) Gue udah setengah jam yang lalu sampe di kamar ini. Tepat waktu. Mahal alias Noura yang telat. Si Kampret itu gimana, pake telat, bukannya dia nanti ada janji lagi? Cih.
"Har, tunggu di sini dulu ya. Gue mau beresin administrasinya dulu."
"Gue sekalian bawa barang lo ke mobil ya. Biar ngga buang-buang waktu. Hehe,"
"Oh, oke,"
Gue jujur aja ngga merasakan ada yang aneh dengan Widya saat itu. Gue juga bisa ngadepin setahap demi setahap. Gue putuskan untuk ngga dikit-dikit baper
Begitu juga maksud sebenernya dari 'ngga buang-buang waktu' barusan. Tapi, bener, gue beneran ngga mau buang waktu di kamar ini, bisa baper jadinya
Gue yang giat bergerak, juga datang si Kampret itu, bikin gue bisa ngadepin mantan kecengan yang udah jadi istri orang ini. Semua begitu normal ketika kita bertiga naik mobil. Obrolan biasa, gue yang di-bully
Gue agak ngga nyaman bully balik, terutama ke Mahal, mengingat keselamatan sumber contekan tugas gue semasa kuliah besok
Akhirnya, Mahal sampe di titik dimana dia harus turun. Setelah cipika-cipiki sama Widya pamitan. Widya ganti posisi di kursi sebelah sopir, sebelah gue. Gue bersiap mengarahkan jalannya mobil meluncur langsung ke rumahnya Widya. Semuanya lancar, gue bisa mengatur nafas dengan wajar, hingga..."Har, lo buru-buru amat. Lo juga ada janji lagi, ya?"
"Eh, ngga, sih, Wid. Da gimana atuh, kewajiban sopir kan nganterin nyonya-nya selamat tiba tujuan dengan cepat dan selamat, hehe" --gue mencoba rileks, gue belum menangkap akan datang badai setelah ini.
"Ooh,"
Widya yang cuma merespon pendek ini bikin gue ngga enak juga, gue berfirasat buruk. Tapi, sampe disitu baru ke tahap, ah, jangan-jangan Widya ngga nyaman berduaan sama gue di dalem mobil setelah sekian lama. Baiklah, gue akan semakin bergegas. Ketika kira-kira 3 km lagi sampe rumah Widya, muncullah awan mendung itu.
"Har, Har,"
"Yaps?"
"Lo laper ngga? gue nemu tempat makan enak. Makan siang dulu, yuk. Sekalian gue balas budi sama lo. Mau, ya?"
Aysyiit...Syiiit... Gue bilang juga apa. Kalo budi baik yang kita lakukan bakal berbalas oleh alam semesta yang mekanis-sempurna. tapi.. ngga secepat ini juga kalik
Widya juga ngga bisa ditolak keinginannya. Gue melihat raut wajahnya yang udah siap-siap mau ngambek karena ngeliat gue yang udah siap-siap mau nolak.Gue mengangkat bahu sambil senyum, sambil seakan bilang, ayok deh.
widya bersorak.
"Di tempat gue ajalah, Wid?"
"Nggga mauu! Gue mau di tempat (bilang suatu nama tempat yang baru buka dan emang terkenal enak)! TITIK!"
Awan mendung sudah datang, rintik-rintik menjelang, dan bersegera diganti hujan. Ya, hujan...
pulaukapok memberi reputasi
1
Tutup

zumpah, ane zuzur ngga nyangka bakal dapet sambutan sebegitu bagusnya 

