Kaskus

Story

ganyangkaAvatar border
TS
ganyangka
Perempuan di Balik Hujan
Judul: Perempuan di Balik Hujan

Sambutan:

Sepenggal cerita ini didedikasikan untuk sahabat ane, karena terinspirasi dari kisahnya, setengah non fiktif dan sisanya fiktif. Sahabat ane juga sudah mengizinkan cerita ini buat diposting. Nama yang digunakan juga nama khayalan, tapi ada juga beberapa yang “mirip-mirip”. Kami bersahabat 7 orang sejak kelas 1 SMA, di dalam cerita ini gak hanya dikisahkan tentang perjalanan cinta salah seorang sahabat ane yang disini bernama “Vin”, tapi juga sedikit menceritakan masing-masing tokoh di dalam kelompok persahabatan ini. Namun tetap, tokoh utama adalah Vin.

Vin, perempuan di balik hujan, yang hanya mampu mencintai seseorang dalam diam.. entah sampai kapan ia bisa memendam perasaannya..


Index:
Catatan Hati Vin
1. Sepasang Bola Mata Mencurigakan
2. "Bas" dan Bunga Yang Bermekaran
3. The Devils
4. Titik Terang Tentangnya
5. Permainan Tiki-Taka
6. Puzzle 1
7. Sedingin Dia



Catatan Hati Vin:
Quote:


Sinopsis:

Dia selalu membangga-banggakannya. Dia selalu memamerkannya, memangnya kenapa? Kalau aku memilikinya, tak perlu berlebihan layaknya anak kecil yang dijanjikan balon oleh ibunya untuk sekedar “meredam” tangis sesaat.

Dia punya segalanya. Dia bisa memilikinya. Tapi aku? Aku punya orang-orang hebat di sekitarku…. Amih, Apih, Bang Leo, Mamang, Maryam, Lily, Hasan, Otong, Dilla, dan Rara.

Dia… ah sudahlah. Perempuan itu mencintai laki-laki yang sama. Dia tahu itu. Kita sama-sama tahu. Aku terluka, namun entah bagaimana dengan dia. Aku tak peduli lagi. Tapi sebagian diriku yang lain mengingkari untuk tak peduli dengan laki-laki itu. Aku mencintainya.

Hingga suat saat aku pergi menjauh, bukan karena tak sanggup melihat dia bersama dirinya. Tapi satu mimpi besarku menunggu disana, di daratan jauh ratusan kilometer darinya.

Saat aku kembali, apakah semuanya berbeda? Akankah berubah seperti dulu, sebelum “kamu” mengenal perempuan itu?

Karena aku percaya, waktu takkan tega menghianati….


Prolog: Aku Melihat Sketsa Wajahmu

Dia mengaduk-ngaduk kopi di hadapannya, setidaknya sejak beberapa menit lalu saat pandanganku tak sengaja tertuju ke arahnya. Namun tatapannya tak tertuju pada satu titik pun, ia membebaskannya. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, nampaknya secangkir kopi yang ia pesan pun sudah terlanjur dingin. Ia sendirian di meja itu, hanya ditemani beberapa buah buku semacam jurnal dan satu buku agak tebal, dengan laptop setengah tertutup.

“Vin…”

Aku tersadar dari lamunanku sendiri, maksudku terbangun dari pikiranku yang menebak-nebak apa yang terjadi pada pria yang duduk tak jauh di depan meja kami.

“Kok bengong?”Maryam melambaikan tangan kanannya tepat di depan wajahku.

“Liat deh pria itu, kasian ya, lagi galau berat kayaknya.. sampe segitunya.”

“Haha, kamu dari tadi ngeliatin dia?”

Aku cuma mengedikkan bahu sebagai balasan pertanyaan Maryam tadi.
---

Hari itu adalah pertemuan yang sangat spesial dengan sahabatku Maryam, setelah tiga tahun kami berpisah dan masuk Universitas yang berbeda, di kota yang berbeda pula. Namun entah mengapa aku selalu tertarik memandang ke arah pria dengan tatapan kosong itu. Aku baru menyadari suatu hal dalam diri pria itu yang juga mirip dengan…. Seseorang di masa lalu yang udah membiarkan sekeping hati ini terluka, amat dalam.

Tapi aku buru-buru menghilangkan ingatan itu, karena aku sadar hari ini jarang banget bisa ditemukan. Waktu untuk bertemu sahabat akan sangat berharga dibanding memikirkan hal yang “kurang” jelas. Tapi sebagian dari sel neuron ini menolak, tiba-tiba saja ingatanku melayang ke masa-masa itu, dua tahun yang benar-benar udah menguras banyak waktu, pikiran dan nyaris menghabiskan “sisa” perasaan di hidupku.

Diubah oleh ganyangka 26-09-2016 05:37
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.7K
25
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
ganyangkaAvatar border
TS
ganyangka
#3
Part 1. Sepasang Bola Mata Mencurigakan
Oktober, 2010.

“Ayo Vin, giliran kamu.” Teriak salah seorang anak X-8 saat giliranku tes nge-dribble bola basket sebagai ujian praktek olahraga tiba.

Aku nggak terlalu bisa basket dan emang jarang main juga. Jadi ya nilaiku di mata pelajaran olahraga ini nggak bagus-bagus banget. Tapi kalau di bidang voli, futsal, senam lantai, beuh jangan ditanya… sama-sama nggak jago juga. Hehe.

Lalu tibalah saatku, aku melancarkan aksi yang diajarkan Maryam kemaren, walaupun tuh anak sama nggak jago juga.. tapi setidaknya dia udah membuat percaya diri. Lemparan pertama ke keranjang bercat biru itu meleset sedikit, awalnya si bola emang udah muter-muter hampir masuk, tapi ya begitu cuma muterin ujung-ujung ringnya aja, dramatis banget emang. Dan di belakang terdengar anak-anak kelas X-8 bahkan anak kelas lain pun ber “Yahh” kecewa. Oke gapapa, masih ada dua kesempatan, Vin. Semangat.

“Vinnnn!!!! Cemungut!!” Kali ini si Otong dengan wajah lugunya teriak menyemangati, keras banget, khas dengan suara agak “melenting”.

Entah mengapa wajah itu selalu berhasil menghibur siapapun yang emang lagi bete atau galau.

Aku cuma membalasnya dengan kedipan mata, dan seperti biasa ia mengibaskan jambulnya, merasa kegantengan.

Lemparan kedua berhasil, mulus banget. Begitupun dengan lemparan ketiga. Dan yang lain pun heboh ber “yeay” nyampe tepuk tangan segala. Tapi aku seperti menangkap sesosok bola mata yang juga menatap ke arahku dan tersenyum, tapi aku gak mau terlalu geer. Aku memilih menghabiskan istirahat ke kantin bersama kawan “se-geng”.

“Vin, ayok.” Lily meraih tanganku dan menyeretku ke kantin, mengikuti langkah Otong dan Maryam di depan.

Kami berempat bisa dibilang se-geng di X-8. Kemana-mana pasti bareng, pulang sekolah pasti duduk-duduk dulu di depan mamang cilor di depan sekolah, sekedar untuk ngobrol atau ngeliatin orang lewat. Kurang kerjaan memang, tapi ini udah semacam rutinitas bagi kami. Setidaknya dengan begini, akan ada banyak waktu buat kami bersama.

Ohya, Cilor ini jajanan khas sunda. Bentuknya sedikit mirip cilok, namun Cilor ini terbuat dari aci yang digulung pakai telor, tapi telornya nggak menutupi semua aci nya. Gitu deh pokoknya. Diantara kami yang hobi banget makan cilor ini ya Maryam, makanya bentuk wajahnya emang bulet gitu tapi lucu.

Kalau Otong hobinya ngejailin orang, entah ke cewek maupun cowok. Gayanya juga khas, baju seragamnya sengaja disetel setengah masuk dan setengah keluar sabuk celana itu, tingkah konyolnya yang selalu bikin semua orang ketawa, banyolan khas nya kalau bertemu guru BP atau saat ada razia kerapihan seragam di kelas. Orang ini jarang banget serius. Kalau sekalinya serius pun pasti ujung-ujungnya dia ngebodor lagi.

Beruntung aku punya mereka. Oh ya, Otong ini nama aslinya Ali Muhammad F. Sangat disayangkan nama sebagus itu jauh-jauh menjadi “Otong”. Tapi karena nama itu sudah melekat pada dirinya sejak SD, jadinya teman-teman di SMA yang mengenalinya memanggil Ali dengan sebutan Otong, maka pupus sudah kemungkinan nama “Ali” kembali pada dirinya. Ngomong-ngomong, huruf “F” pada nama belakang Ali itu bukan singkatan. Namun memang begitu namanya.

Kalau Lily, anaknya feminin dan berjilbab. Lily ini bisa dibilang idola cowok-cowok di kelas, karena memang cantik dan cerdas. Tapi Lily terlalu jutek dengan cowok-cowok itu, walaupun begitu cowok yang naksir Lily di kelas tetap gak berkurang, malah nambah banyak. Dan Lily memang tidak mau melepas status jomblo nya, dan belakangan setelah kami dekat, aku tahu kalau Lily memang sengaja menunggu seseorang yang tepat, dalam waktu yang tepat. Selain itu Lily juga memang mempunyai seseorang yang di harapkannya.

Satu lagi sahabatku, Maryam. Anaknya nggak feminin, suka dikuncir kuda rambutnya. Jika kita membujuk dia untuk membuka ikat rambutnya itu, pasti dia bilang, “Males ah gerah. Hehehe.” Diantara kami berempat yang paling jutek ya Maryam. Anaknya juga cuek sama cowok, kecuali yang udah dekat banget sama dia, Otong misalnya. Ngomongnya juga ceplas ceplos dan terkadang nyakitin, apalagi sama cowok yang dia nggak suka. Kalau kita lagi ngerumpi soal gebetan, Maryam cuma bisa merhatiin dan sedikit menanggapi. Ia belum tertarik nampaknya, entah mungkin akan berbeda satu atau dua tahun ke depan.

Aku sendiri, K-Pop Lovers, Motogp Lovers dan Chocolate addicted. Walaupun diantara kami berempat tidak ada yang suka K-Pop selain aku, aku tetap merasa nyaman dan nyambung sama mereka. Kami ini sudah tidak bisa dipisahkan, istilahnya yah sudah sejiwa, sepemikiran, sepemahaman. Aku juga bahagia dengan persahabatan kami yang memang tidak dibuat-buat, menghabiskan masa SMA dengan banyak cerita, cerita konyol, cerita cinta. Nah kalau cerita cinta ini macem-macem, ada cerita cinta tak terbalas, ada yang terbalas namun tidak bisa memaksakan, ada yang memang sengaja menyimpan perasaan.

Hmm… menyimpan perasaan itu indah, kawan.

--- back to sehabis olahraga ---

Saat itu, seusai pelajaran olahraga dan kami berempat ke kantin, sepasang bola mata yang sejak tadi terlihat mencurigakan namun senyumnya manis dan “cowok banget” itu tahu-tahu udah ada di pinggirku, saat aku baru saja akan menyuapkan batagor ke mulutku. Lalu si pria watados itu angkat bicara,

“Punten, teh. Boleh geser sedikit?”.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.