- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.2K
Kutip
126
Balasan
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#35
Spoiler for PART 18: Trissha Minnoty -2:
Gue berdandan rapi dengan setelan hitam dan pergi ke wiki menggunakan angkutan umum. Sepanjang perjalanan perasaan gue gak tenang. Kenapa harus main scrabble di cafe? Ditambah lagi sampai sekarang gue belum pernah menghubungi Hoseki. dia terlihat masih menjauhi gue setelah kejadian di perpustakaan waktu itu.
Sesampainya di wiki, Mino sendirian sudah menunggu gue di meja paling pojok. Dia memakai setelan casual dengan rambut kuncir kuda. Benar-benar tipe gue. dia duduk memblakangi pintu masuk. Dia memakai headset Sambil membaca bukunya Winna Efendi“Unforgettable” . laki-laki di sekelilingnya terus-terus mencuri pandang, membuat gue jadi minder untuk bergabung di mejanya.
13.52 . dia datang lebih cepat delapan menit dari yang dijanjikan. Ojan dan Zacky belum datang. Gue sengaja duduk di meja bar cafe dan memesan smoothie leci untuk menunggu Ojan dan Zacky. Gue merasa malu duduk sendirian bersama dia di meja cafe yang terletak paling pojok pula.
Sepuluh menit gue menunggu dua makhluk malas ini tak kunjung datang. Sedangkan Mino berulang kali melihat jam tangan yang terselip diantara gelang-gelang distro nya. karena sudah bosan menunggu gue membranikan diri bergabung di meja dia.
“ yo “ sapa gue setelah duduk tepat di depan dia.
Sambil menutup buku. “wahh akhirnya datang..”
“udah lama?”
“ahh enggak baru aja nyampe..”
Padahal gue tau dia udah nyampe delapan belas menit yang lalu. Mungkin sudah lebih. Dia cukup pintar menutup jejak. Dia belum memesan minuman apapun, jadi gue gak punya bukti untuk menuduhnya kalau dia udah menunggu gue cukup lama.
“mana yang lain?” tanya gue dingin.
“gak tau tuh, telat mungkin.” Jawab Mino sambil membaca menu.
“mau pesan apa?”
“smoothie leci.” Jawab gue tanpa membaca menu.
“lah kok tau disini ada smoothie leci?”
Oh crap !. waktunya beralasan. Gue gak mungkin bilang kalau gue udah memantau dia dari tadi.
“anuu.. ehhh udah pernah ke sini sih sebelumnya ha ha ha”
“oh ya?! Sama siapa? Aku gak tau kamu suka main ke cafe..” tanya nya penasaran.
“sama teman.. dulu..” gue berhenti sambil memikirkan apa yang dia katakan.
“emang kamu tau apa tentang aku?” gue balik nanya.
Mino diam sejenak. Dia memanggil pelayan cafe dan memesan dua smoothie leci. Pesanan yang sama dengan gue.
“.. aku tau segalanya..”
Dia memandang gue dalam sambil tersenyum tipis.
Sekarang gue sedikit takut.
Gue sibuk me-bbm Ojan dan Zacky menyuruh mereka cepat-cepat datang untuk memecah ketegangan ini.
“kayanya mereka gak akan datang.. mereka sibuk.” Tiba-tiba Mino menyela. Sambil menopang dagu dan tersenyum dia memandangi gue yang dari tadi kelabakan mencari pertolongan melalui bbm.
Benar saja, Zacky menjawab melalui bbm nya kalau dia ada urusan keluarga sedangkan Ojan pergi ke Jakarta. Gue mematikan hp gue dan menaruh di kantung celana dengan pelan.
“kok kamu bisa tau?”
“sebenernya tadi pagi mereka udah bilang gak bisa sih.. tadinya aku mau batalin rencana ke cafe ini, tapi karena udah terlanjur hubungin kamu ya aku jalanin aja.” Kata dia beralasan.
“... mumpung ada kesempatan he he he.”
Senyum manisnya keluar lagi. Gue pasrah dengan keadaan
Kami sama sekali tidak membuka papan scrabble. Sudah kira-kira dua jam gue duduk dengan tidak tenang. Kami malah mengobrol satu sama lain. Dia banyak bercerita tentang dirinya yang sebenarnya gue tak perduli. Setiap gue bercerita tentang diri gue, dia sudah tau apa yang gue akan ceritakan. Dia benar-benar tau segalanya.
Gue sesekali memasukkan pengetahuan umum di pembicaraan gue. dia tampak kebingungan setelah gue mengatakan hal yang cukup rumit. Dia juga tak tau apa-apa tentang xylitol, sorbitol, atau aspartam ketika gue membahas smoothie leci yang terlalu manis ini. Tapi tiap kali gue membahas keluarga, teman-teman, kehidupan gue di kost, bahkan nama tukang bubur tempat biasa gue sarapan di hari sabtu & minggu, dia sudah mengetahui hal itu.
Hal yang gue perkirakan dan gue takutkan benar-benar terjadi. Dia bukan mengetahui segalanya. Dia mengetahui segala tentang gue.
Gue lelah berbicara. Gue menundukkan kepala gue sambil bingung keheranan pada makhluk satu ini.
Mino tiba-tiba berhenti berbicara.
“lagi kebingungngan ya Jo ?” tanyanya sambil meneguk smoothie leci.
“udah berapa lama lu tau gue?” tanya gue kasar.
Dia terus minum sambil tersenyum. Itu sudah smoothie leci keduanya.
“sebutkan semua yang lu tau tentang gue.”
Dia meletakkan minumannya. Sambil menopang dagu dengan kedua tangan dan menyenderkannya di meja, dia mulai menjelaskan.
“kamu anak kedua dari tiga bersaudara, semua saudaramu laki-laki. Kamu dikatakan anak paling usil dirumah. Kebiasaan usil mu kamu bawa sampai ke kelas. Jadi orang-orang dikelasmu mengatakan kalau kamulah orang paling iseng di kelas...”
Dia berhenti sejenak. Kali ini dia berbicara dengan menutup mata.
“..namamu di ambil dari seorang penulis novel, ayahmu seorang manager pengelola HTI, ibu mu lulusan perawat, kamu selalu dapat sepuluh besar waktu smp, kamu suka makanan pedas, kamu alergi dan benci dengan kucing, kamu tidak bisa main bola tapi ngefans dengan klub Manchester United, kamu suka badminton, pemain idolamu Taufik Hidayat, waktu kelas dua SD tangan kiri mu patah jadi kamu jarang menggunakan tangan itu, kamu ngefans dengan Bruno Mars sampai-sampai kamu ingin menjual stnk motor abangmu untuk datang ke konsernya tahun kemarin, hitam adalah warna favoritmu, kamu tidak suka tomat, kamu selalu menyimpan empat butir promag di tas kamu, kamu suka novel Sherlock Holmes, suatu hari seseorang curhat denganmu dan kamu bertobat, kamu menyukai Bella, mantanmu –“
“oke cukup !” gue berteriak pelan.
“lu udah tau terlalu banyak. sebenarnya lu itu siapa sih?” tanya gue keheranan. Gue masih shock mendengar penjelasan panjangnya tentang gue. yang parahnya, itu semua benar.
Dia membalikkan posisi badannya dan kembali minum smoothie lecinya.
“tujuan lu apa?” tanya gue mendramatisir.
Dia berhenti minum. Kemudian melihat mata gue –-yang membuat gue salting-- dan mengeluarkan senyum orang jahat ala sinetron. The devil’s smile. Gue beranjak dari kursi. Gue menaruh uang untuk membayar minuman gue di meja dan pergi secepat mungkin untuk pulang. Ketika tepat di pintu keluar, Mino berbicara tanpa menoleh.
“Hoseki hanya penghalang kecil bagi gue. gue gak akan kalah.. “
Sesampainya di wiki, Mino sendirian sudah menunggu gue di meja paling pojok. Dia memakai setelan casual dengan rambut kuncir kuda. Benar-benar tipe gue. dia duduk memblakangi pintu masuk. Dia memakai headset Sambil membaca bukunya Winna Efendi“Unforgettable” . laki-laki di sekelilingnya terus-terus mencuri pandang, membuat gue jadi minder untuk bergabung di mejanya.
13.52 . dia datang lebih cepat delapan menit dari yang dijanjikan. Ojan dan Zacky belum datang. Gue sengaja duduk di meja bar cafe dan memesan smoothie leci untuk menunggu Ojan dan Zacky. Gue merasa malu duduk sendirian bersama dia di meja cafe yang terletak paling pojok pula.
Sepuluh menit gue menunggu dua makhluk malas ini tak kunjung datang. Sedangkan Mino berulang kali melihat jam tangan yang terselip diantara gelang-gelang distro nya. karena sudah bosan menunggu gue membranikan diri bergabung di meja dia.
“ yo “ sapa gue setelah duduk tepat di depan dia.
Sambil menutup buku. “wahh akhirnya datang..”
“udah lama?”
“ahh enggak baru aja nyampe..”
Padahal gue tau dia udah nyampe delapan belas menit yang lalu. Mungkin sudah lebih. Dia cukup pintar menutup jejak. Dia belum memesan minuman apapun, jadi gue gak punya bukti untuk menuduhnya kalau dia udah menunggu gue cukup lama.
“mana yang lain?” tanya gue dingin.
“gak tau tuh, telat mungkin.” Jawab Mino sambil membaca menu.
“mau pesan apa?”
“smoothie leci.” Jawab gue tanpa membaca menu.
“lah kok tau disini ada smoothie leci?”
Oh crap !. waktunya beralasan. Gue gak mungkin bilang kalau gue udah memantau dia dari tadi.
“anuu.. ehhh udah pernah ke sini sih sebelumnya ha ha ha”
“oh ya?! Sama siapa? Aku gak tau kamu suka main ke cafe..” tanya nya penasaran.
“sama teman.. dulu..” gue berhenti sambil memikirkan apa yang dia katakan.
“emang kamu tau apa tentang aku?” gue balik nanya.
Mino diam sejenak. Dia memanggil pelayan cafe dan memesan dua smoothie leci. Pesanan yang sama dengan gue.
“.. aku tau segalanya..”
Dia memandang gue dalam sambil tersenyum tipis.
Sekarang gue sedikit takut.
Gue sibuk me-bbm Ojan dan Zacky menyuruh mereka cepat-cepat datang untuk memecah ketegangan ini.
“kayanya mereka gak akan datang.. mereka sibuk.” Tiba-tiba Mino menyela. Sambil menopang dagu dan tersenyum dia memandangi gue yang dari tadi kelabakan mencari pertolongan melalui bbm.
Benar saja, Zacky menjawab melalui bbm nya kalau dia ada urusan keluarga sedangkan Ojan pergi ke Jakarta. Gue mematikan hp gue dan menaruh di kantung celana dengan pelan.
“kok kamu bisa tau?”
“sebenernya tadi pagi mereka udah bilang gak bisa sih.. tadinya aku mau batalin rencana ke cafe ini, tapi karena udah terlanjur hubungin kamu ya aku jalanin aja.” Kata dia beralasan.
“... mumpung ada kesempatan he he he.”
Senyum manisnya keluar lagi. Gue pasrah dengan keadaan
Kami sama sekali tidak membuka papan scrabble. Sudah kira-kira dua jam gue duduk dengan tidak tenang. Kami malah mengobrol satu sama lain. Dia banyak bercerita tentang dirinya yang sebenarnya gue tak perduli. Setiap gue bercerita tentang diri gue, dia sudah tau apa yang gue akan ceritakan. Dia benar-benar tau segalanya.
Gue sesekali memasukkan pengetahuan umum di pembicaraan gue. dia tampak kebingungan setelah gue mengatakan hal yang cukup rumit. Dia juga tak tau apa-apa tentang xylitol, sorbitol, atau aspartam ketika gue membahas smoothie leci yang terlalu manis ini. Tapi tiap kali gue membahas keluarga, teman-teman, kehidupan gue di kost, bahkan nama tukang bubur tempat biasa gue sarapan di hari sabtu & minggu, dia sudah mengetahui hal itu.
Hal yang gue perkirakan dan gue takutkan benar-benar terjadi. Dia bukan mengetahui segalanya. Dia mengetahui segala tentang gue.
Gue lelah berbicara. Gue menundukkan kepala gue sambil bingung keheranan pada makhluk satu ini.
Mino tiba-tiba berhenti berbicara.
“lagi kebingungngan ya Jo ?” tanyanya sambil meneguk smoothie leci.
“udah berapa lama lu tau gue?” tanya gue kasar.
Dia terus minum sambil tersenyum. Itu sudah smoothie leci keduanya.
“sebutkan semua yang lu tau tentang gue.”
Dia meletakkan minumannya. Sambil menopang dagu dengan kedua tangan dan menyenderkannya di meja, dia mulai menjelaskan.
“kamu anak kedua dari tiga bersaudara, semua saudaramu laki-laki. Kamu dikatakan anak paling usil dirumah. Kebiasaan usil mu kamu bawa sampai ke kelas. Jadi orang-orang dikelasmu mengatakan kalau kamulah orang paling iseng di kelas...”
Dia berhenti sejenak. Kali ini dia berbicara dengan menutup mata.
“..namamu di ambil dari seorang penulis novel, ayahmu seorang manager pengelola HTI, ibu mu lulusan perawat, kamu selalu dapat sepuluh besar waktu smp, kamu suka makanan pedas, kamu alergi dan benci dengan kucing, kamu tidak bisa main bola tapi ngefans dengan klub Manchester United, kamu suka badminton, pemain idolamu Taufik Hidayat, waktu kelas dua SD tangan kiri mu patah jadi kamu jarang menggunakan tangan itu, kamu ngefans dengan Bruno Mars sampai-sampai kamu ingin menjual stnk motor abangmu untuk datang ke konsernya tahun kemarin, hitam adalah warna favoritmu, kamu tidak suka tomat, kamu selalu menyimpan empat butir promag di tas kamu, kamu suka novel Sherlock Holmes, suatu hari seseorang curhat denganmu dan kamu bertobat, kamu menyukai Bella, mantanmu –“
“oke cukup !” gue berteriak pelan.
“lu udah tau terlalu banyak. sebenarnya lu itu siapa sih?” tanya gue keheranan. Gue masih shock mendengar penjelasan panjangnya tentang gue. yang parahnya, itu semua benar.
Dia membalikkan posisi badannya dan kembali minum smoothie lecinya.
“tujuan lu apa?” tanya gue mendramatisir.
Dia berhenti minum. Kemudian melihat mata gue –-yang membuat gue salting-- dan mengeluarkan senyum orang jahat ala sinetron. The devil’s smile. Gue beranjak dari kursi. Gue menaruh uang untuk membayar minuman gue di meja dan pergi secepat mungkin untuk pulang. Ketika tepat di pintu keluar, Mino berbicara tanpa menoleh.
“Hoseki hanya penghalang kecil bagi gue. gue gak akan kalah.. “
masih bersambung..
silahkan mendirikan tenda di tempat terteduh
oh ya.. TS mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Diubah oleh joechristianp 17-06-2015 20:54
0
Kutip
Balas