- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#99
Terjemahan The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, Pekan I
Saya sudah berusaha cari buku terjemahan The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, tapi sampai sekarang belum ketemu. Kelihatannya memang langka, nggak tahu kalo di Jakarta atau kota besar lainnya. So, mulai pekan ini, saya coba terjemahkan dari bahasa aslinya, Bahasa Inggris. Ebook bisa dibaca atau didownload gratis dari link ini...
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Pekan ini akan saya mulai dari daftar pustaka (supaya lebih jelas sumber primernya) dan Bagian I Bab Pertama. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membawa pada diskusi yang positif.
Penyusun: A. I. Akram
Penerbitan Pertama: Oktober 1969
Lokasi Terbit Pertama: Rawalpindi, West Pakistan
Bibliografi
1. Ibnu Hisyam: Siratun Nabawi, Kairo, 1955.
2. Waqidi: Maghazi Rasulillah: Kairo, 1948; Futuhusy Syam, Kairo, 1954.
3. Ibnu Sa’d: Tabaqatul Kubara, Kairo, 1939.
4. Ibnu Qutaybah: Al Ma'arif, Kairo, 1960.
5. Al-Yaqubi: Tarikhul Yaqubi, Beirut, 1960; Al-Buldan, Leiden, 1892.
6. Al-Baladhuri: Futuhul Buldan, Kairo, 1959.
7. Dinawari: Akhbarut Tiwal, Kairo, 1960.
8. Ath-Thabari: Tarikhul Umam wal Muluk, Kairo, 1939.
9. Al-Mas’udi: Murujudz Dzahab, Kairo, 1958; Al-Tanbih wal Ashraf, Kairo, 1938.
10. Ibnu Rustah: A'laqun Nafisa, Leiden, 1892.
11. Isfahani: Al-Aghani, Kairo, 1905.
12. Yaqut: Mu'jamul Buldan, Teheran, 1965.
13. Abu Yusuf: Kitabul Kharaj, Kairo, 1962.
14. Edward Gibbon: Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1954.
15. Alois Musil: The Middle Euphrates; New York, 1927.
Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi
Bab 1: Sang Anak Lelaki
(Halaman 1)
Khalid dan seorang anak lelaki yang jangkung saling berpandangan. Mereka mulai bergerak memutar, fokus satu sama lain, masing-masing mencari celah untuk menyerang dan bersiap menerima serangan. Tidak ada kebencian dalam mata mereka; yang ada hanya sebuah semangat kompetisi dan ketetapan hati yang tidak tergoyahkan untuk menang. Khalid merasa perlu untuk berhati-hati karena lawannya adalah seorang kidal yang mempunyai keunggulan seperti orang kidal lainnya dalam pertarungan.
Gulat adalah olahraga yang populer di kalangan anak-anak Arab di masa itu dan mereka biasa bergulat dengan teman sebayanya. Tidak ada kebencian dalam pertarungan-pertarungan tersebut. Gulat adalah olahraga dan anak laki-laki diajarkan untuk bergulat sebagai salah satu syarat mencapai kedewasaan. Namun, kedua remaja ini adalah yang terkuat dan pemimpin di antara anak-anak sebayanya. Bisa dibilang, ini adalah sebuah pertarungan kelas berat. Keduanya seimbang. Mereka seumur dan baru masuk di usia belasan tahun. Keduanya tinggi dan tegap, otot-otot bahu dan lengan tampak jelas berselimut keringat di bawah sinar matahari. Lawan Khalid lebih tinggi sekitar 2,5 cm, dan keduanya memiliki wajah yang sangat mirip sehingga orang sering keliru memanggil mereka.
Khalid membanting si anak jangkung, tetapi jatuhnya tidak seperti biasa. Ketika ia jatuh, terdengar bunyi patah dan sesaat kemudian, bentuk kakinya menunjukkan dengan jelas bahwa tulangnya patah. Anak itu terkulai di tanah dan Khalid hanya bisa melihat keadaan mengerikan yang dialami teman dan sekaligus keponakannya.
Seiring waktu, cedera anak jangkung itu sembuh dan kembali kuat. Ia kembali bergulat dan bahkan menjadi salah satu pegulat terbaik. Bersama Khalid, ia terus menjadi teman. Meskipun keduanya secara alami cerdas, kuat, dan bertenaga, keduanya kurang memiliki kesabaran dan kebijaksanaan. Mereka terus bersaing di hampir setiap aktivitas yang mereka lakukan.
Pembaca sebaiknya mencatat bahwa anak jangkung ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid. Dia adalah anak Al-Khaththab, yaitu 'Umar.
Segera setelah dilahirkan, Khalid dipisahkan dari ibunya, sebagai salah satu adat kaum bangsawan Quraysy, dikirim kepada salah satu suku Badwi di gurun pinggiran kota. "Ibu susu" dicarikan untuknya untuk merawat dan membesarkannya. Dalam udara gurun yang jernih, kering, dan tidak terpolusi, pondasi-pondasi kehidupan ditanamkan bersamaan dengan kekuatan fisik dan kesehatan prima yang akan sangat bermanfaat bagi Khalid di sepanjang hayatnya kelak. Dari masa bayi, ia tumbuh sampai masa kanak-kanak bersama suku Arab gurun pasir (Badwi); dan ketika usianya lima atau enam tahun, ia dikembalikan ke rumah orang tuanya di Makkah.
Semasa kanak-kanaknya, ia mendapat serangan cacar ringan yang tidak membahayakan, tetapi menyisakan sedikit bekas cacar di wajahnya. Bekas ini tidak merusak wajah tampannya, bahkan wajah tampannya "menyusahkan hati" para gadis Arab .
Khalid tumbuh menjadi remaja dan mulai merasakan hidup enak kaum bangsawan karena ia adalah anak seorang kepala klan. Ayahnya, Al-Walid, adalah kepala Bani Makhzum, salah satu klan bangsawan di Makkah, dan ia juga terkenal dengan gelar Al-Wahid 'Satu-satunya'. Pengasuhan Khalid kini diambil alih ayahnya yang dengan usaha terbaiknya (dan juga hasil yang sempurna), menanamkan nilai-nilai tradisi Arab: keberanian, keterampilan bela diri, ketangguhan, dan kedermawanan. Al-Walid sangat bangga dengan keluarganya dan silsilah moyangnya, dan ia mengenalkan kepada Khalid bahwa dia adalah:
Khalid
bin Al-Walid
bin Al-Mughirah
bin Abdullah
bin 'Umar
bin Makhzum (nama Bani Makhzum diambil dari namanya)
bin Yaqza
bin Murrah
bin Ka'ab
bin Lu'ay
bin Ghalib
bin Fihr
bin Malik
bin Nadr
bin Kinanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyas
bin Muzar
bin Ma'ad
bin Ud
bin Muqawwam
bin Nahur
bin Tairah
bin Ya'rub
bin Yashjub
bin Nabit
bin Isma'il (dianggap sebagai bapak Bangsa Arab)
bin Ibrahim (sang nabi)
bin 'Azar
bin Nahur
bin Sarugh
bin Arghu
bin Falakh
bin 'Aibar
bin Syalakh
bin Arfakhshaz
bin Sam
bin Nuh (sang nabi)
bin Lamik
bin Mattusyalakh
bin 'Idris (sang nabi)
bin Yard
bin Muhlayl
bin Qaynan
bin Anusy
bin Syits
bin Adam (bapak seluruh manusia)
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, dari Abu Hurayrah. Shahih Al-Jami'us Shaghir No. 3267
______________________________________________________
(Halaman 2)
Suku besar Quraysy yang mendiami Makkah telah mengembangkan sebuah pembagian tugas yang jelas tentang hak dan tanggung jawab kepada klan-klan utamanya. Tiga klan yang paling utama di dalam Suku Quraysy adalah Bani Hasyim, Bani Abduddar (yang darinya terbentuk Bani Umayyah), dan Bani Makhzum. Bani Makhzum adalah penanggung jawab masalah militer. Klan ini mengembangbiakkan dan melatih kuda yang akan digunakan oleh Suku Quraysy dalam pertempuran. Mereka juga mengatur dan mempersiapkan perbekalan untuk ekspedisi militer; dan secara umum, menyediakan komandan-komandan yang memimpin Quraysy dalam pertempuran. Suasana militer ini mempengaruhi Khalid dalam pertumbuhannya.
Ia diajarkan berkuda sejak kecil. Sebagai seorang Makhzumi, ia harus menjadi menjadi penunggang yang sempurna dan dalam waktu singkat, ia menguasai seni berkuda. Tidak cukup hanya menunggang kuda terlatih, dia harus bisa menjinakkan kuda liar menjadi kuda perang terlatih. Bani Makhzum termasuk di antare penunggang kuda terbaik di Arab dan Khalid menjadi salah satu penunggang terbaik di antara Bani Makhzum. Terlebih lagi, tidaklah seorang Arab dinilai sebagai penunggang yang baik jika ia hanya tahu tentang kuda; ia juga harus sama baik pengetahuannya tentang unta, kedua hewan ini sangat penting dalam gaya peperangan Arab. Kuda digunakan ketika bertarung, sedangkan unta digunakan untuk perjalanan jauh dimana kuda tidaklah dibebani atau ditunggangi.
Di samping menunggang kuda, Khalid mempelajari keterampilan bertarung. Ia berlatih menggunakan semua senjata: tombak, lembing, panah, dan pedang. Ia berlatih bertarung di atas kuda maupun dengan berjalan kaki. Di antara keahliannya dalam menggunakan berbagai senjata, ia secara alami berbakat dalam menggunakan lembing, senjata yang ia gunakan saat menyerbu dari atas kuda; dan pedang, baik untuk duel di atas kuda maupun dengan berjalan. Pedang dianggap oleh orang Arab sebagai senjata ksatria karena selalu dibawa; dan dalam pertarungan dengan pedang, seseorang akan bergantung pada kekuatan dan keterampilan, bukan dengan menjaga jarak dengan lawan. Pedang adalah senjata yang paling dipercaya.
Ketika Khalid tumbuh dewasa, tingginya lebih dari 183 cm. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan ototnya tampak kokoh pada tubuhnya yang tegap dan atletis. Janggutnya tebal dan memenuhi wajahnya. Dengan tubuh yang baik ini, ditambah kepribadian yang keras dan kemampuannya menunggang kuda serta menggunakan berbagai senjata, dia dengan cepat menjadi populer dan dikagumi di Makkah. Sebagai pegulat, ia telah mendaki tangga menuju pencapaian tertinggi dengan menggabungkan keahlian dengan kekuatannya yang besar.
Bangsa Arab biasa memiliki keluarga besar. Seorang ayah biasanya memiliki sejumlah istri untuk menambah jumlah anaknya. Al-Walid mempunyai enam saudara laki-laki. (Kemungkinan ada lebih, tetapi yang dicatat hanya enam). Dan anak-anak Al-Walid yang tercatat ada lima laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-lakinya adalah Khalid, Walid (diberi nama yang sama dengan ayahnya), Hisyam, Ammarah, dan Abdu Syams. Anak perempuannya adalah Faktah dan Fatimah.
Al-Walid adalah orang kaya. Oleh karena itu, Khalid tidak harus bekerja untuk penghidupannya dan bisa berkonsentrasi untuk melatih keahliannya dalam menunggang kuda dan bertarung. Karena latar belakang keluarganya yang kaya, Khalid tumbuh tanpa menghiraukan kondisi ekonomi dan dikenali sebagai orang yang hidup mewah dan sangat dermawan ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya. Kedermawanannya ini kelak akan membawanya pada masalah serius.
Al-Walid adalah orang kaya, tetapi Suku Quraysy adalah orang-orang demokratis, setiap orang disyaratkan untuk bekerja atau beraktivitas lainnya; entah untuk mendapat upah atau hanya untuk menjadi orang yang berguna di masyarakatnya. Dan Al-Walid, selain merekrut pekerja dalam jumlah cukup banyak, ia juga bekerja sendiri. Di waktu senggangnya, ia adalah pandai besi [1] dan tukang jagal hewan [2], menyembelih hewan untuk klannya. Ia juga adalah pedagang dan bersama anggota dari klan lain, ia mengorganisasikan dan mengirim kafilah dagang ke negeri tetangga. Lebih dari satu kali, Khalid menemani kafilah dagang ke Syams dan mengunjungi kota-kota perdagangan yang besar yang berada di salah satu provinsinya Romawi. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang Arab beragama Kristen dari Suku Ghassan, orang-orang Persia dari Ctesiphon, Koptik dari Mesir, dan Romawi dari Imperium Bizantin.
Khalid memiliki banyak teman yang bersamanya, mereka berkuda dan berburu. Ketika mereka tidak beraktivitas di luar rumah, mereka akan saling mengadu kemampuan syair, membangga-banggakan jalur keturunan mereka, dan berlomba meminum minuman keras. Beberapa di antara teman dekatnya ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid kelak. Di antara mereka, sejumlah nama yang perlu dicatat selain ‘Umar adalah ‘Amr bin Al-‘Ash dan Abul Hakam. Abul Hakam bernama asli ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah, yang kelak akan mendapat nama baru: Abu Jahl. Dia adalah kakak sepupu Khalid. Kemudian anaknya, Ikrimah, adalah keponakan kesayangan Khalid dan sekaligus teman dekatnya.
Al-Walid bukan hanya sekedar ayah dan guru anak-anaknya; ia juga adalah instruktur militer, dan dari beliaula, Khalid mendapat pelajaran pertamanya tentang seni berperang. Ia mempelajari bagaimana cara bergerak dengan cepat di gurun, bagaimana cara mendekati pemukiman musuh, dan bagaimana cara menyerangnya. Ia mempelajari pentingnya menyerang musuh saat mereka tidak siap, menyerang musuh di momen yang tidak diduga-duga, dan bagaimana mengejar mereka ketika mereka telah kabur dari medan tempur. Peperangan ini biasanya terkait masalah kesukuan, tetapi Bangsa Arab telah sangat paham pentingnya kecapatan, mobilitas, dan efek kejutan. Peperangan antar suku saat itu didasarkan pada taktik ofensif.
Di saat mencapai kedewasaannya, fokus ketertarikan Khalid tertuju pada peperangan dan dengan cepat menjadi sebuah obsesinya. Pikiran Khalid adalah pikiran tentang pertempuran; ambisinya adalah ambisi kemenangan. Kemauannya sangat keras dan hiasan psikologisnya adalah tentang militer. Ia mengimpikan untuk ikut dalam pertempuran besar dan memenangkannya, ia sendiri adalah seorang jagoan; dikagumi dan dipuja semua orang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti pertempuran dan kemenangan. Dan ia menjanjikan dirinya dengan banyak darah. Tanpa diketahui olehnya, takdir mempunyai pikiran yang sama tentang Khalid, anak Al-Walid.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 575.
[2] Ibnu Rustah: hlm. 215.
--Akhir dari Bab 1--
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Pekan ini akan saya mulai dari daftar pustaka (supaya lebih jelas sumber primernya) dan Bagian I Bab Pertama. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membawa pada diskusi yang positif.
Penyusun: A. I. Akram
Penerbitan Pertama: Oktober 1969
Lokasi Terbit Pertama: Rawalpindi, West Pakistan
Bibliografi
1. Ibnu Hisyam: Siratun Nabawi, Kairo, 1955.
2. Waqidi: Maghazi Rasulillah: Kairo, 1948; Futuhusy Syam, Kairo, 1954.
3. Ibnu Sa’d: Tabaqatul Kubara, Kairo, 1939.
4. Ibnu Qutaybah: Al Ma'arif, Kairo, 1960.
5. Al-Yaqubi: Tarikhul Yaqubi, Beirut, 1960; Al-Buldan, Leiden, 1892.
6. Al-Baladhuri: Futuhul Buldan, Kairo, 1959.
7. Dinawari: Akhbarut Tiwal, Kairo, 1960.
8. Ath-Thabari: Tarikhul Umam wal Muluk, Kairo, 1939.
9. Al-Mas’udi: Murujudz Dzahab, Kairo, 1958; Al-Tanbih wal Ashraf, Kairo, 1938.
10. Ibnu Rustah: A'laqun Nafisa, Leiden, 1892.
11. Isfahani: Al-Aghani, Kairo, 1905.
12. Yaqut: Mu'jamul Buldan, Teheran, 1965.
13. Abu Yusuf: Kitabul Kharaj, Kairo, 1962.
14. Edward Gibbon: Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1954.
15. Alois Musil: The Middle Euphrates; New York, 1927.
Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi
Bab 1: Sang Anak Lelaki
(Halaman 1)
"Sebaik-baik kamu di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kamu di masa Islam apabila mereka mengetahui." [Nabi Muhammad (Saw)][1]
Khalid dan seorang anak lelaki yang jangkung saling berpandangan. Mereka mulai bergerak memutar, fokus satu sama lain, masing-masing mencari celah untuk menyerang dan bersiap menerima serangan. Tidak ada kebencian dalam mata mereka; yang ada hanya sebuah semangat kompetisi dan ketetapan hati yang tidak tergoyahkan untuk menang. Khalid merasa perlu untuk berhati-hati karena lawannya adalah seorang kidal yang mempunyai keunggulan seperti orang kidal lainnya dalam pertarungan.
Gulat adalah olahraga yang populer di kalangan anak-anak Arab di masa itu dan mereka biasa bergulat dengan teman sebayanya. Tidak ada kebencian dalam pertarungan-pertarungan tersebut. Gulat adalah olahraga dan anak laki-laki diajarkan untuk bergulat sebagai salah satu syarat mencapai kedewasaan. Namun, kedua remaja ini adalah yang terkuat dan pemimpin di antara anak-anak sebayanya. Bisa dibilang, ini adalah sebuah pertarungan kelas berat. Keduanya seimbang. Mereka seumur dan baru masuk di usia belasan tahun. Keduanya tinggi dan tegap, otot-otot bahu dan lengan tampak jelas berselimut keringat di bawah sinar matahari. Lawan Khalid lebih tinggi sekitar 2,5 cm, dan keduanya memiliki wajah yang sangat mirip sehingga orang sering keliru memanggil mereka.
Khalid membanting si anak jangkung, tetapi jatuhnya tidak seperti biasa. Ketika ia jatuh, terdengar bunyi patah dan sesaat kemudian, bentuk kakinya menunjukkan dengan jelas bahwa tulangnya patah. Anak itu terkulai di tanah dan Khalid hanya bisa melihat keadaan mengerikan yang dialami teman dan sekaligus keponakannya.
Seiring waktu, cedera anak jangkung itu sembuh dan kembali kuat. Ia kembali bergulat dan bahkan menjadi salah satu pegulat terbaik. Bersama Khalid, ia terus menjadi teman. Meskipun keduanya secara alami cerdas, kuat, dan bertenaga, keduanya kurang memiliki kesabaran dan kebijaksanaan. Mereka terus bersaing di hampir setiap aktivitas yang mereka lakukan.
Pembaca sebaiknya mencatat bahwa anak jangkung ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid. Dia adalah anak Al-Khaththab, yaitu 'Umar.
Segera setelah dilahirkan, Khalid dipisahkan dari ibunya, sebagai salah satu adat kaum bangsawan Quraysy, dikirim kepada salah satu suku Badwi di gurun pinggiran kota. "Ibu susu" dicarikan untuknya untuk merawat dan membesarkannya. Dalam udara gurun yang jernih, kering, dan tidak terpolusi, pondasi-pondasi kehidupan ditanamkan bersamaan dengan kekuatan fisik dan kesehatan prima yang akan sangat bermanfaat bagi Khalid di sepanjang hayatnya kelak. Dari masa bayi, ia tumbuh sampai masa kanak-kanak bersama suku Arab gurun pasir (Badwi); dan ketika usianya lima atau enam tahun, ia dikembalikan ke rumah orang tuanya di Makkah.
Semasa kanak-kanaknya, ia mendapat serangan cacar ringan yang tidak membahayakan, tetapi menyisakan sedikit bekas cacar di wajahnya. Bekas ini tidak merusak wajah tampannya, bahkan wajah tampannya "menyusahkan hati" para gadis Arab .
Khalid tumbuh menjadi remaja dan mulai merasakan hidup enak kaum bangsawan karena ia adalah anak seorang kepala klan. Ayahnya, Al-Walid, adalah kepala Bani Makhzum, salah satu klan bangsawan di Makkah, dan ia juga terkenal dengan gelar Al-Wahid 'Satu-satunya'. Pengasuhan Khalid kini diambil alih ayahnya yang dengan usaha terbaiknya (dan juga hasil yang sempurna), menanamkan nilai-nilai tradisi Arab: keberanian, keterampilan bela diri, ketangguhan, dan kedermawanan. Al-Walid sangat bangga dengan keluarganya dan silsilah moyangnya, dan ia mengenalkan kepada Khalid bahwa dia adalah:
Khalid
bin Al-Walid
bin Al-Mughirah
bin Abdullah
bin 'Umar
bin Makhzum (nama Bani Makhzum diambil dari namanya)
bin Yaqza
bin Murrah
bin Ka'ab
bin Lu'ay
bin Ghalib
bin Fihr
bin Malik
bin Nadr
bin Kinanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyas
bin Muzar
bin Ma'ad
bin Ud
bin Muqawwam
bin Nahur
bin Tairah
bin Ya'rub
bin Yashjub
bin Nabit
bin Isma'il (dianggap sebagai bapak Bangsa Arab)
bin Ibrahim (sang nabi)
bin 'Azar
bin Nahur
bin Sarugh
bin Arghu
bin Falakh
bin 'Aibar
bin Syalakh
bin Arfakhshaz
bin Sam
bin Nuh (sang nabi)
bin Lamik
bin Mattusyalakh
bin 'Idris (sang nabi)
bin Yard
bin Muhlayl
bin Qaynan
bin Anusy
bin Syits
bin Adam (bapak seluruh manusia)
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, dari Abu Hurayrah. Shahih Al-Jami'us Shaghir No. 3267
______________________________________________________
(Halaman 2)
Suku besar Quraysy yang mendiami Makkah telah mengembangkan sebuah pembagian tugas yang jelas tentang hak dan tanggung jawab kepada klan-klan utamanya. Tiga klan yang paling utama di dalam Suku Quraysy adalah Bani Hasyim, Bani Abduddar (yang darinya terbentuk Bani Umayyah), dan Bani Makhzum. Bani Makhzum adalah penanggung jawab masalah militer. Klan ini mengembangbiakkan dan melatih kuda yang akan digunakan oleh Suku Quraysy dalam pertempuran. Mereka juga mengatur dan mempersiapkan perbekalan untuk ekspedisi militer; dan secara umum, menyediakan komandan-komandan yang memimpin Quraysy dalam pertempuran. Suasana militer ini mempengaruhi Khalid dalam pertumbuhannya.
Ia diajarkan berkuda sejak kecil. Sebagai seorang Makhzumi, ia harus menjadi menjadi penunggang yang sempurna dan dalam waktu singkat, ia menguasai seni berkuda. Tidak cukup hanya menunggang kuda terlatih, dia harus bisa menjinakkan kuda liar menjadi kuda perang terlatih. Bani Makhzum termasuk di antare penunggang kuda terbaik di Arab dan Khalid menjadi salah satu penunggang terbaik di antara Bani Makhzum. Terlebih lagi, tidaklah seorang Arab dinilai sebagai penunggang yang baik jika ia hanya tahu tentang kuda; ia juga harus sama baik pengetahuannya tentang unta, kedua hewan ini sangat penting dalam gaya peperangan Arab. Kuda digunakan ketika bertarung, sedangkan unta digunakan untuk perjalanan jauh dimana kuda tidaklah dibebani atau ditunggangi.
Di samping menunggang kuda, Khalid mempelajari keterampilan bertarung. Ia berlatih menggunakan semua senjata: tombak, lembing, panah, dan pedang. Ia berlatih bertarung di atas kuda maupun dengan berjalan kaki. Di antara keahliannya dalam menggunakan berbagai senjata, ia secara alami berbakat dalam menggunakan lembing, senjata yang ia gunakan saat menyerbu dari atas kuda; dan pedang, baik untuk duel di atas kuda maupun dengan berjalan. Pedang dianggap oleh orang Arab sebagai senjata ksatria karena selalu dibawa; dan dalam pertarungan dengan pedang, seseorang akan bergantung pada kekuatan dan keterampilan, bukan dengan menjaga jarak dengan lawan. Pedang adalah senjata yang paling dipercaya.
Ketika Khalid tumbuh dewasa, tingginya lebih dari 183 cm. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan ototnya tampak kokoh pada tubuhnya yang tegap dan atletis. Janggutnya tebal dan memenuhi wajahnya. Dengan tubuh yang baik ini, ditambah kepribadian yang keras dan kemampuannya menunggang kuda serta menggunakan berbagai senjata, dia dengan cepat menjadi populer dan dikagumi di Makkah. Sebagai pegulat, ia telah mendaki tangga menuju pencapaian tertinggi dengan menggabungkan keahlian dengan kekuatannya yang besar.
Bangsa Arab biasa memiliki keluarga besar. Seorang ayah biasanya memiliki sejumlah istri untuk menambah jumlah anaknya. Al-Walid mempunyai enam saudara laki-laki. (Kemungkinan ada lebih, tetapi yang dicatat hanya enam). Dan anak-anak Al-Walid yang tercatat ada lima laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-lakinya adalah Khalid, Walid (diberi nama yang sama dengan ayahnya), Hisyam, Ammarah, dan Abdu Syams. Anak perempuannya adalah Faktah dan Fatimah.
Al-Walid adalah orang kaya. Oleh karena itu, Khalid tidak harus bekerja untuk penghidupannya dan bisa berkonsentrasi untuk melatih keahliannya dalam menunggang kuda dan bertarung. Karena latar belakang keluarganya yang kaya, Khalid tumbuh tanpa menghiraukan kondisi ekonomi dan dikenali sebagai orang yang hidup mewah dan sangat dermawan ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya. Kedermawanannya ini kelak akan membawanya pada masalah serius.
Al-Walid adalah orang kaya, tetapi Suku Quraysy adalah orang-orang demokratis, setiap orang disyaratkan untuk bekerja atau beraktivitas lainnya; entah untuk mendapat upah atau hanya untuk menjadi orang yang berguna di masyarakatnya. Dan Al-Walid, selain merekrut pekerja dalam jumlah cukup banyak, ia juga bekerja sendiri. Di waktu senggangnya, ia adalah pandai besi [1] dan tukang jagal hewan [2], menyembelih hewan untuk klannya. Ia juga adalah pedagang dan bersama anggota dari klan lain, ia mengorganisasikan dan mengirim kafilah dagang ke negeri tetangga. Lebih dari satu kali, Khalid menemani kafilah dagang ke Syams dan mengunjungi kota-kota perdagangan yang besar yang berada di salah satu provinsinya Romawi. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang Arab beragama Kristen dari Suku Ghassan, orang-orang Persia dari Ctesiphon, Koptik dari Mesir, dan Romawi dari Imperium Bizantin.
Khalid memiliki banyak teman yang bersamanya, mereka berkuda dan berburu. Ketika mereka tidak beraktivitas di luar rumah, mereka akan saling mengadu kemampuan syair, membangga-banggakan jalur keturunan mereka, dan berlomba meminum minuman keras. Beberapa di antara teman dekatnya ini akan memainkan peranan penting dalam kehidupan Khalid kelak. Di antara mereka, sejumlah nama yang perlu dicatat selain ‘Umar adalah ‘Amr bin Al-‘Ash dan Abul Hakam. Abul Hakam bernama asli ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah, yang kelak akan mendapat nama baru: Abu Jahl. Dia adalah kakak sepupu Khalid. Kemudian anaknya, Ikrimah, adalah keponakan kesayangan Khalid dan sekaligus teman dekatnya.
Al-Walid bukan hanya sekedar ayah dan guru anak-anaknya; ia juga adalah instruktur militer, dan dari beliaula, Khalid mendapat pelajaran pertamanya tentang seni berperang. Ia mempelajari bagaimana cara bergerak dengan cepat di gurun, bagaimana cara mendekati pemukiman musuh, dan bagaimana cara menyerangnya. Ia mempelajari pentingnya menyerang musuh saat mereka tidak siap, menyerang musuh di momen yang tidak diduga-duga, dan bagaimana mengejar mereka ketika mereka telah kabur dari medan tempur. Peperangan ini biasanya terkait masalah kesukuan, tetapi Bangsa Arab telah sangat paham pentingnya kecapatan, mobilitas, dan efek kejutan. Peperangan antar suku saat itu didasarkan pada taktik ofensif.
Di saat mencapai kedewasaannya, fokus ketertarikan Khalid tertuju pada peperangan dan dengan cepat menjadi sebuah obsesinya. Pikiran Khalid adalah pikiran tentang pertempuran; ambisinya adalah ambisi kemenangan. Kemauannya sangat keras dan hiasan psikologisnya adalah tentang militer. Ia mengimpikan untuk ikut dalam pertempuran besar dan memenangkannya, ia sendiri adalah seorang jagoan; dikagumi dan dipuja semua orang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti pertempuran dan kemenangan. Dan ia menjanjikan dirinya dengan banyak darah. Tanpa diketahui olehnya, takdir mempunyai pikiran yang sama tentang Khalid, anak Al-Walid.
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 575.
[2] Ibnu Rustah: hlm. 215.
--Akhir dari Bab 1--
Diubah oleh plonard 14-06-2016 07:46
0