- Beranda
- Stories from the Heart
Aku mah gitu orangnya
...
TS
veronita
Aku mah gitu orangnya
Quote:
Quote:
Spoiler for penting:
Spoiler for index:
Diubah oleh veronita 23-07-2015 16:44
0
65.3K
469
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
veronita
#9
Part 3
“Sayang…”
Terdengar suara Mama memanggilku dibarengi dengan suara ketukan pintu kamarku. Aku mencoba membuka mata, kulihat baik-baik jam di dinding kamarku. Jam 10 malam. Belum sepenuhnya percaya melihat jam didinding kamarku, aku lalu mencari-cari keberadaan hp ku. Ah benar, nggak salah, ini memang jam 10 malam. Ada apa Mama membangunkan aku jam segini.
“Iya Ma… sebentar…” jawabku dari dalam kamar lalu beranjak dari tempat tidurku untuk membuka pintu kamar
Mataku seketika terbuka lebar ketika melihat sosok seorang cowok dibelakang Mama. Berkali-kali aku mengucek mataku, seakan tak percaya cowok itu adalah Rafi.
“tumben jam segini udah tidur, biasanya masih sibuk belajar, bikin tugas bikin PR?” tanya Rafi mencoba berbasa-basi
“kamu masih idup?” kataku balik bertanya dengan nada sinis
“Tata sayang, nggak boleh gitu sama Rafi dong, jauh-jauh lho datang kesini” kata mamaku mencoba menenangkanku
“aku nggak minta dia dateng kesini ma, dia sendiri yang mau. Ya udah lah, aku ngantuk, aku capek”
Aku memilih masuk lagi kekamar dan mengabaikan Rafi dan juga mamanya. Kedatangan Rafi hanya membuat pikiranku makin tak karuan.
“kamu marah?” tanya Rafi pelan
“Ta, aku minta maaf” Rafi melanjutkan meminta maaf karena tak kugubris
“sudah kumaafkan” kataku singkat
“lalu kenapa masih acuh padaku?” tanya Rafi mulai memelas
“aku capek, aku ngantuk. Tolong keluar dari kamarku” kataku mencoba mengusir Rafi secara halus
Rafi keluar kamar dengan tertunduk lesu. Sebelum menutup pintu kamarku, dia menatapku. Tatapan merasa bersalah. Aku masih ingat dengan jelas saat Rafi pergi dari kota ini tanpa kabar. Saat itu aku baru saja masuk SMA. Aku bertetangga, bersahabat dari kecil dengan Rafi. Rafi itu sudah kuanggap kakak ku sendiri. Aku anak tunggal tak punya kakak maupun adik. Papaku ketika aku masih di bangku SD memilih pergi menikah dengan wanita lain. Aku marah, aku benci ketika Rafi pergi tanpa memberi kabar padaku. Seolah aku ini tak penting. Aku berpikir Rafi tak jauh berbeda dengan Papaku, hanya bisa pergi dengan meninggalkan luka.
Rafi tempatku mengadu, selalu membuatku merasa aman dan nyaman. Setelah dia pergi aku sangat kehilangan. Aku butuh sosok lelaki yang bisa kakak, aku rindu sosok seorang ayah.
Seketika kubenamkan wajahku dibantal berbentuk love itu. Air mataku tak tertahan mengingat semua itu. Dan kini ditambah Reno yang selalu membuatku kecewa. Aku merasa tak penting.
**************
“pagi Ta..” sapa Rafi dengan ramah
Pagi ini aku lebih banyak menekuk wajahku setelah melihat Rafi duduk manis di meja makan.
“Sayang nanti berangkat sekolah dianter Rafi ya, jangan naik angkot”
Ditambah lagi perkataan Mama barusan, aku semakin tak bernafsu makan.
“aku nggak mau ngerepotin orang Ma.” Kataku dengan tegas
“aku nggak repot kok, sekalian mau jalan-jalan dikota ini, sudah lama nggak kesini, pasti banyak yang berubah” kata Rafi tiba-tiba memotong pembicaraanku
“aku mau naik angkot aja ma, udah ah aku berangkat ma..” kata ku lalu mengecup punggu tangan mamaku
“berangkat sama Rafi, jangan bantah mama. Berangkat dianter Rafi, nanti pulang dijemput, temenin Rafi jalan-jalan. Rencana nya Rafi mau melanjutkan Kuliah disini”
Aku hanya bisa menghela nafas. Tak bisa membantah perkataan Mama. Dengan sangat terpaksa pagi ini aku kesekolah dianter oleh Rafi.
“Ta, maafin aku…” kata Rafi mencoba membuka pembicaraan dengan kembali meminta maaf padaku
Langsung saja kutepis tangannya yang berusaha memegang tanganku
“stop, berenti disini aja” kataku dengan lantang
“tapi ini masih jauh, Tata.. please maafin aku…” kata Rafi lalu memasang muka melasnya
“aku udah maafin, berenti disini sekarang juga!” kataku mulai agak membentak
“ok, tapi nanti aku jemput ya pulang sekolah”
Rafi menepikan mobilnya tak jauh dari sekolahku. Aku langsung saja membuka pintu dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
“eh kamu dianter siapa tadi?” tanya Jessy ketika berpasan denganku digerbang sekolah
“kamu salah lihat, aku naik angkot” jawabku mencoba berkilah
“Ah kamu, mataku ini masih berfungsi dengan baik. Nggak mungkin salah lihat” kata Jessy mencoba meyakinkan
“Itu Rafi” kataku singkat
“Hah? Rafi? Balik kesini lagi? Awas saja ketemu denganku, teganya dia membuat sahabatku yang cantik ini sedih”
Sebenarnya aku sedang sedih, kecewa. Tetapi ketika aku melihat Reno berjalan santai menuju kelasnya, aku seperti mendapat semangat baru. Aku seakan lupa bagaimana sifat Reno kepadaku kemarin. Tanpa pikir panjang aku pun meninggalkan Jessy dan berlari menuju Reno.
“kok kamu nggak mampir kekelasku?” tanyaku sedikit manja
“berangkat dengan siapa?” kata Reno balik bertanya
“sendiri, abisnya pacarku nggak mau jemput”
“sana balik, jangan ikutin aku” kata Reno bernada mengusir
“emangnya nggak boleh ya ngikutin pacarku sendiri?”
“janji kamu apa? Masih mau nurut nggak? “
Aku pun memilih beranjak pergi meninggalkan Reno. Aku berpikir keras alasan Reno mau menjadi pacarku. Sejak dulu sifatnya nggak pernah berubah kepadaku. Tetap acuh dan tanpa perasaan.
“Sayang…”
Terdengar suara Mama memanggilku dibarengi dengan suara ketukan pintu kamarku. Aku mencoba membuka mata, kulihat baik-baik jam di dinding kamarku. Jam 10 malam. Belum sepenuhnya percaya melihat jam didinding kamarku, aku lalu mencari-cari keberadaan hp ku. Ah benar, nggak salah, ini memang jam 10 malam. Ada apa Mama membangunkan aku jam segini.
“Iya Ma… sebentar…” jawabku dari dalam kamar lalu beranjak dari tempat tidurku untuk membuka pintu kamar
Mataku seketika terbuka lebar ketika melihat sosok seorang cowok dibelakang Mama. Berkali-kali aku mengucek mataku, seakan tak percaya cowok itu adalah Rafi.
“tumben jam segini udah tidur, biasanya masih sibuk belajar, bikin tugas bikin PR?” tanya Rafi mencoba berbasa-basi
“kamu masih idup?” kataku balik bertanya dengan nada sinis
“Tata sayang, nggak boleh gitu sama Rafi dong, jauh-jauh lho datang kesini” kata mamaku mencoba menenangkanku
“aku nggak minta dia dateng kesini ma, dia sendiri yang mau. Ya udah lah, aku ngantuk, aku capek”
Aku memilih masuk lagi kekamar dan mengabaikan Rafi dan juga mamanya. Kedatangan Rafi hanya membuat pikiranku makin tak karuan.
“kamu marah?” tanya Rafi pelan
“Ta, aku minta maaf” Rafi melanjutkan meminta maaf karena tak kugubris
“sudah kumaafkan” kataku singkat
“lalu kenapa masih acuh padaku?” tanya Rafi mulai memelas
“aku capek, aku ngantuk. Tolong keluar dari kamarku” kataku mencoba mengusir Rafi secara halus
Rafi keluar kamar dengan tertunduk lesu. Sebelum menutup pintu kamarku, dia menatapku. Tatapan merasa bersalah. Aku masih ingat dengan jelas saat Rafi pergi dari kota ini tanpa kabar. Saat itu aku baru saja masuk SMA. Aku bertetangga, bersahabat dari kecil dengan Rafi. Rafi itu sudah kuanggap kakak ku sendiri. Aku anak tunggal tak punya kakak maupun adik. Papaku ketika aku masih di bangku SD memilih pergi menikah dengan wanita lain. Aku marah, aku benci ketika Rafi pergi tanpa memberi kabar padaku. Seolah aku ini tak penting. Aku berpikir Rafi tak jauh berbeda dengan Papaku, hanya bisa pergi dengan meninggalkan luka.
Rafi tempatku mengadu, selalu membuatku merasa aman dan nyaman. Setelah dia pergi aku sangat kehilangan. Aku butuh sosok lelaki yang bisa kakak, aku rindu sosok seorang ayah.
Seketika kubenamkan wajahku dibantal berbentuk love itu. Air mataku tak tertahan mengingat semua itu. Dan kini ditambah Reno yang selalu membuatku kecewa. Aku merasa tak penting.
**************
“pagi Ta..” sapa Rafi dengan ramah
Pagi ini aku lebih banyak menekuk wajahku setelah melihat Rafi duduk manis di meja makan.
“Sayang nanti berangkat sekolah dianter Rafi ya, jangan naik angkot”
Ditambah lagi perkataan Mama barusan, aku semakin tak bernafsu makan.
“aku nggak mau ngerepotin orang Ma.” Kataku dengan tegas
“aku nggak repot kok, sekalian mau jalan-jalan dikota ini, sudah lama nggak kesini, pasti banyak yang berubah” kata Rafi tiba-tiba memotong pembicaraanku
“aku mau naik angkot aja ma, udah ah aku berangkat ma..” kata ku lalu mengecup punggu tangan mamaku
“berangkat sama Rafi, jangan bantah mama. Berangkat dianter Rafi, nanti pulang dijemput, temenin Rafi jalan-jalan. Rencana nya Rafi mau melanjutkan Kuliah disini”
Aku hanya bisa menghela nafas. Tak bisa membantah perkataan Mama. Dengan sangat terpaksa pagi ini aku kesekolah dianter oleh Rafi.
“Ta, maafin aku…” kata Rafi mencoba membuka pembicaraan dengan kembali meminta maaf padaku
Langsung saja kutepis tangannya yang berusaha memegang tanganku
“stop, berenti disini aja” kataku dengan lantang
“tapi ini masih jauh, Tata.. please maafin aku…” kata Rafi lalu memasang muka melasnya
“aku udah maafin, berenti disini sekarang juga!” kataku mulai agak membentak
“ok, tapi nanti aku jemput ya pulang sekolah”
Rafi menepikan mobilnya tak jauh dari sekolahku. Aku langsung saja membuka pintu dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
“eh kamu dianter siapa tadi?” tanya Jessy ketika berpasan denganku digerbang sekolah
“kamu salah lihat, aku naik angkot” jawabku mencoba berkilah
“Ah kamu, mataku ini masih berfungsi dengan baik. Nggak mungkin salah lihat” kata Jessy mencoba meyakinkan
“Itu Rafi” kataku singkat
“Hah? Rafi? Balik kesini lagi? Awas saja ketemu denganku, teganya dia membuat sahabatku yang cantik ini sedih”
Sebenarnya aku sedang sedih, kecewa. Tetapi ketika aku melihat Reno berjalan santai menuju kelasnya, aku seperti mendapat semangat baru. Aku seakan lupa bagaimana sifat Reno kepadaku kemarin. Tanpa pikir panjang aku pun meninggalkan Jessy dan berlari menuju Reno.
“kok kamu nggak mampir kekelasku?” tanyaku sedikit manja
“berangkat dengan siapa?” kata Reno balik bertanya
“sendiri, abisnya pacarku nggak mau jemput”
“sana balik, jangan ikutin aku” kata Reno bernada mengusir
“emangnya nggak boleh ya ngikutin pacarku sendiri?”
“janji kamu apa? Masih mau nurut nggak? “
Aku pun memilih beranjak pergi meninggalkan Reno. Aku berpikir keras alasan Reno mau menjadi pacarku. Sejak dulu sifatnya nggak pernah berubah kepadaku. Tetap acuh dan tanpa perasaan.
Diubah oleh veronita 30-05-2015 08:30
pulaukapok memberi reputasi
1
Tutup

