- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2416
PART 96
Tami masih terdiam dan memandangi tumpukan buku yang sudah rapi dihadapannya. Dari raut wajahnya gue masih melihat ada emosi yang terpendam. Gue memutuskan untuk menutup mulut gue, dan sedikit menjauh, takut kalo gue akan semakin memancing emosinya keluar. Diamnya kami berdua ini terus berlangsung hingga beberapa waktu. Sampai akhirnya Tami menoleh ke gue dan berbicara.
Gue membisu, lidah gue terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Tami barusan. Yang bisa gue lakukan hanyalah menggeleng pelan dan mengangkat bahu sedikit. Tami menghela napas panjang, dan membalikkan tubuhnya menghadap gue, raut wajahnya melunak. Jadi gue dan Tami sekarang duduk bersila dan berhadap-hadapan, layaknya seorang Lama Tibet dan pendatang.
Tami memandangi gue cukup lama, kemudian menegakkan punggungnya. Raut mukanya berubah menjadi tajam, tapi dia tersenyum. Samar.
Mendadak gue paham maksud Tami. Gue tertawa tanpa suara, dan menghela napas.
Gue tersenyum, dan Tami juga ikutan tersenyum. Sebuah senyuman pemahaman diantara kami berdua, dan mencairkan suasana kaku yang dari tadi menyelimuti.
Gue beringsut ke dekat tempat tidur Tami, dan menyandarkan punggung gue ke tempat tidur sambil tetap duduk bersila di karpet. Tami mengikuti langkah gue, dan dia duduk bersandar ke tempat tidur, disamping gue. Gue menoleh ke Tami.
Tami menoleh ke gue sambil bersandar di tepian kasur. Mukanya datar, tapi sesaat kemudian dia tersenyum, dan senyumannya itu berkembang jadi tawa lembut. Mendadak Tami menarik hidung gue dengan gemas.
Gue tertawa sambil mengelus hidung gue yang barusan ditarik-tarik Tami.
Tami tertawa dan bangkit dari duduknya, kemudian mengambil gelas, dan mengisinya dengan air dari dispenser. Dia menyerahkan gelas berisi air itu ke gue. Gue menyambut itu.
Tami mengangkat kepala sambil mulutnya membentuk kata “ooh” tanpa suara. Kemudian Tami kembali duduk di sebelah gue, mencari remote dan menyalakan TV di hadapan kami. Sambil gonta-ganti channel TV, dia menyandarkan kepalanya ke bahu gue. Rambut panjangnya menggelitik pipi gue. Baru kali ini dia berlaku seperti ini ke gue.
Selama beberapa saat kami berdua menonton TV dan terdiam bersama. Sampe akhirnya gue membuka mulut.
Tami mengangkat kepalanya dari bahu gue, dan memandangi gue.
Tami tersenyum ke gue, lembut.
Quote:
Tami masih terdiam dan memandangi tumpukan buku yang sudah rapi dihadapannya. Dari raut wajahnya gue masih melihat ada emosi yang terpendam. Gue memutuskan untuk menutup mulut gue, dan sedikit menjauh, takut kalo gue akan semakin memancing emosinya keluar. Diamnya kami berdua ini terus berlangsung hingga beberapa waktu. Sampai akhirnya Tami menoleh ke gue dan berbicara.
Quote:
Gue membisu, lidah gue terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Tami barusan. Yang bisa gue lakukan hanyalah menggeleng pelan dan mengangkat bahu sedikit. Tami menghela napas panjang, dan membalikkan tubuhnya menghadap gue, raut wajahnya melunak. Jadi gue dan Tami sekarang duduk bersila dan berhadap-hadapan, layaknya seorang Lama Tibet dan pendatang.
Quote:
Tami memandangi gue cukup lama, kemudian menegakkan punggungnya. Raut mukanya berubah menjadi tajam, tapi dia tersenyum. Samar.
Quote:
Mendadak gue paham maksud Tami. Gue tertawa tanpa suara, dan menghela napas.
Quote:
Gue tersenyum, dan Tami juga ikutan tersenyum. Sebuah senyuman pemahaman diantara kami berdua, dan mencairkan suasana kaku yang dari tadi menyelimuti.
Quote:
Gue beringsut ke dekat tempat tidur Tami, dan menyandarkan punggung gue ke tempat tidur sambil tetap duduk bersila di karpet. Tami mengikuti langkah gue, dan dia duduk bersandar ke tempat tidur, disamping gue. Gue menoleh ke Tami.
Quote:
Tami menoleh ke gue sambil bersandar di tepian kasur. Mukanya datar, tapi sesaat kemudian dia tersenyum, dan senyumannya itu berkembang jadi tawa lembut. Mendadak Tami menarik hidung gue dengan gemas.
Quote:
Gue tertawa sambil mengelus hidung gue yang barusan ditarik-tarik Tami.
Quote:
Tami tertawa dan bangkit dari duduknya, kemudian mengambil gelas, dan mengisinya dengan air dari dispenser. Dia menyerahkan gelas berisi air itu ke gue. Gue menyambut itu.
Quote:
Tami mengangkat kepala sambil mulutnya membentuk kata “ooh” tanpa suara. Kemudian Tami kembali duduk di sebelah gue, mencari remote dan menyalakan TV di hadapan kami. Sambil gonta-ganti channel TV, dia menyandarkan kepalanya ke bahu gue. Rambut panjangnya menggelitik pipi gue. Baru kali ini dia berlaku seperti ini ke gue.
Quote:
Selama beberapa saat kami berdua menonton TV dan terdiam bersama. Sampe akhirnya gue membuka mulut.
Quote:
Tami mengangkat kepalanya dari bahu gue, dan memandangi gue.
Quote:
Tami tersenyum ke gue, lembut.
Quote:
Diubah oleh jayanagari 25-03-2015 10:41
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: hm?
: akhirnya ngomong juga lo setelah bertahun-tahun.
: ah gak adil deh.
: lah kenapa?
: yaudah gue gak usah ngomong.
: ah gue sih enggak, lo aja kali.
: lo kapan lulus?