- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2338
PART 95
Keesokan harinya, gue duduk di teras belakang rumah Anin, sambil mengelus si Maharaja, kucing kesayangan kami berdua. Gue emang sengaja pagi-pagi main kerumah Anin, karena hari itu Anin ada agenda acara keluarga. Gak mungkin dong gue nebeng ngikut. Jadilah gue kebagian jatah ketemu Anin pagi-pagi aja.
Waktu itu Anin nyamperin gue, berdiri di depan gue sambil memamerkan busana muslim yang waktu itu dia pake. Warnanya kalo gak salah merah maroon, dengan pashmina putih menutupi kepalanya. Rambutnya yang coklat kemerahan ikut menghiasi busananya pagi itu.
Anin menjulurkan lidahnya kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah. Gue tersenyum melihat tingkahnya dan menggelengkan kepala pelan, sambil tetap mengelus-elus kucing di samping gue. Gak lama kemudian Anin dan Tante Ayu udah siap berangkat, sementara om Harry harus ketemu rekan bisnisnya dulu baru nyusul ke acara. Gue yang dari awal emang gak ikut, memutuskan balik aja. Toh besok juga bakalan ketemu lagi, pikir gue.
Ketika di perjalanan, mendadak sel-sel otak gue memunculkan satu kepingan memori yang udah beberapa saat gue lupakan. Tami. Secara otomatis gue mengarahkan mobil ke kosan Tami. Berharap dia masih jadi salah satu penghuni kosan yang udah sangat gue kenal itu. Setelah memarkirkan mobil, gue melangkah masuk ke dalam kosan, setelah sebelumnya meminta izin kepada pembantu yang berjaga di kosan itu. Karena beliau udah mengenal gue selama Tami ngekos disitu, gue pun diizinkan masuk tanpa banyak pertanyaan.
Gue berdiri di depan pintu kayu berwarna gelap yang udah sangat familiar buat gue, dan mengetuk perlahan. Sekali, dua kali, gak ada jawaban. Kemudian gue mengetuk untuk ketiga kalinya, dan sedetik kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu pun terbuka dengan disusul wajah Tami nongol di sela-sela daun pintu dan kusen. Gue tersenyum.
Untuk sesaat Tami terpaku, kemudian memasang ekspresi wajah datar. Tami membuka pintu lebih lebar, dan kemudian berdiri bersandar di kusen pintu. Kali itu gue merasa asing melihat Tami yang seperti ini. Suasana canggung segera menyelimuti. Tami menyilangkan tangan di dada, sambil bersandar di kusen pintu.
Nadanya dingin. Cukup dingin sampe membuat gue untuk sesaat gak mengenali kepribadian Tami yang ini. Meskipun terkejut dengan reaksi Tami itu, gue tetep tersenyum. Senyum gue kali itu bagaikan senyum formal gue ke orang-orang yang belum gue kenal. Selama hamper 5 tahun gue kenal Tami, belum pernah gue memasang topeng yang kali ini gue kenakan.
Tami terdiam sejenak, kemudian memandangi gue lagi dengan ekspresi datar. Dia menggeleng.
Tami menghela napas berat, kemudian membuka pintu lebih lebar, dan dia bergeser ke samping.
Gue tersenyum dan melangkah masuk. Kemudian di dalem gue seperti orang kikuk. Biasanya kalo main kesini gue langsung duduk di kursi di sudut, atau duduk di tepian tempat tidur. Cuma kali ini gue seperti orang asing yang baru pertama kali main kesini, menunggu dipersilakan. Tami memandangi gue dengan aneh.
Gue tersenyum speechless, dan kemudian beringsut ke kursi hitam di sudut. Gue menyilangkan kaki dan bersandar ke belakang, sambil menggigit jempol tangan. Sementara itu Tami justru menyibukkan diri dengan menata buku-buku literatur dan kertas-kertas yang berserakan di karpet. Entah itu memang udah dilakuin sebelom gue dateng, atau dilakuin untuk menghindari gue, gue gak tau.
Gue tersenyum lagi, dan menarik-narik bibir gue.
Gue terdiam, menelan ludah. Sementara itu Tami masih terus menumpahkan emosinya ke gue.
Gue masih terdiam, dan semakin dipenuhi perasaan bersalah. Gue sengaja gak membantah apapun omongan Tami. Gue biarkan dia menumpahkan emosinya dulu, dan menunggu dia tenang sebelum gue mulai berbicara.
Gue menarik napas berat, dan kemudian bergerak mendekati Tami, dan menepuk pahanya pelan.
Keesokan harinya, gue duduk di teras belakang rumah Anin, sambil mengelus si Maharaja, kucing kesayangan kami berdua. Gue emang sengaja pagi-pagi main kerumah Anin, karena hari itu Anin ada agenda acara keluarga. Gak mungkin dong gue nebeng ngikut. Jadilah gue kebagian jatah ketemu Anin pagi-pagi aja.
Waktu itu Anin nyamperin gue, berdiri di depan gue sambil memamerkan busana muslim yang waktu itu dia pake. Warnanya kalo gak salah merah maroon, dengan pashmina putih menutupi kepalanya. Rambutnya yang coklat kemerahan ikut menghiasi busananya pagi itu.
Quote:
Anin menjulurkan lidahnya kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah. Gue tersenyum melihat tingkahnya dan menggelengkan kepala pelan, sambil tetap mengelus-elus kucing di samping gue. Gak lama kemudian Anin dan Tante Ayu udah siap berangkat, sementara om Harry harus ketemu rekan bisnisnya dulu baru nyusul ke acara. Gue yang dari awal emang gak ikut, memutuskan balik aja. Toh besok juga bakalan ketemu lagi, pikir gue.
Ketika di perjalanan, mendadak sel-sel otak gue memunculkan satu kepingan memori yang udah beberapa saat gue lupakan. Tami. Secara otomatis gue mengarahkan mobil ke kosan Tami. Berharap dia masih jadi salah satu penghuni kosan yang udah sangat gue kenal itu. Setelah memarkirkan mobil, gue melangkah masuk ke dalam kosan, setelah sebelumnya meminta izin kepada pembantu yang berjaga di kosan itu. Karena beliau udah mengenal gue selama Tami ngekos disitu, gue pun diizinkan masuk tanpa banyak pertanyaan.
Gue berdiri di depan pintu kayu berwarna gelap yang udah sangat familiar buat gue, dan mengetuk perlahan. Sekali, dua kali, gak ada jawaban. Kemudian gue mengetuk untuk ketiga kalinya, dan sedetik kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu pun terbuka dengan disusul wajah Tami nongol di sela-sela daun pintu dan kusen. Gue tersenyum.
Quote:
Untuk sesaat Tami terpaku, kemudian memasang ekspresi wajah datar. Tami membuka pintu lebih lebar, dan kemudian berdiri bersandar di kusen pintu. Kali itu gue merasa asing melihat Tami yang seperti ini. Suasana canggung segera menyelimuti. Tami menyilangkan tangan di dada, sambil bersandar di kusen pintu.
Quote:
Nadanya dingin. Cukup dingin sampe membuat gue untuk sesaat gak mengenali kepribadian Tami yang ini. Meskipun terkejut dengan reaksi Tami itu, gue tetep tersenyum. Senyum gue kali itu bagaikan senyum formal gue ke orang-orang yang belum gue kenal. Selama hamper 5 tahun gue kenal Tami, belum pernah gue memasang topeng yang kali ini gue kenakan.
Quote:
Tami terdiam sejenak, kemudian memandangi gue lagi dengan ekspresi datar. Dia menggeleng.
Quote:
Tami menghela napas berat, kemudian membuka pintu lebih lebar, dan dia bergeser ke samping.
Quote:
Gue tersenyum dan melangkah masuk. Kemudian di dalem gue seperti orang kikuk. Biasanya kalo main kesini gue langsung duduk di kursi di sudut, atau duduk di tepian tempat tidur. Cuma kali ini gue seperti orang asing yang baru pertama kali main kesini, menunggu dipersilakan. Tami memandangi gue dengan aneh.
Quote:
Gue tersenyum speechless, dan kemudian beringsut ke kursi hitam di sudut. Gue menyilangkan kaki dan bersandar ke belakang, sambil menggigit jempol tangan. Sementara itu Tami justru menyibukkan diri dengan menata buku-buku literatur dan kertas-kertas yang berserakan di karpet. Entah itu memang udah dilakuin sebelom gue dateng, atau dilakuin untuk menghindari gue, gue gak tau.
Quote:
Gue tersenyum lagi, dan menarik-narik bibir gue.
Quote:
Gue terdiam, menelan ludah. Sementara itu Tami masih terus menumpahkan emosinya ke gue.
Quote:
Gue masih terdiam, dan semakin dipenuhi perasaan bersalah. Gue sengaja gak membantah apapun omongan Tami. Gue biarkan dia menumpahkan emosinya dulu, dan menunggu dia tenang sebelum gue mulai berbicara.
Quote:
Gue menarik napas berat, dan kemudian bergerak mendekati Tami, dan menepuk pahanya pelan.
Quote:
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: cakep gak?
: nah lo liat sendiri kan gue masih idup.
: lo pikir gue suka diginiin? Lo pikir itu baik buat gue? Memang itu hak lo sih, mau ngabarin gue atau enggak, mau pamit gue atau enggak, itu hidup hidup lo, itu keputusan lo. Tapi asal lo tau aja, gue juga masih punya perasaan. Dan sekarang, I’ve sick enough sama orang yang dateng dan pergi seenak dengkul.