Kaskus

Story

pujangga1000Avatar border
TS
pujangga1000
Kelakuan Anak Kuliah
Kelakuan Anak Kuliah

Takut mati? Jangan hidup ~
Takut hidup? Mati saja... - Anak kostan

Quote:

Quote:

Buat ngobrol santai
(click!)Kamar 3A

Quote:


emoticon-rainbow----------------------------------------------------------------------------------emoticon-rainbow

emoticon-rainbow========================================emoticon-rainbow


pujangga1000
Diubah oleh pujangga1000 19-09-2016 03:37
faeyzarbnAvatar border
hllowrld23Avatar border
yusrillllllAvatar border
yusrillllll dan 23 lainnya memberi reputasi
22
3.9M
7.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
pujangga1000Avatar border
TS
pujangga1000
#1886
Conclusion 3
"Sayang, entar malem mau makan apa?" emoticon-phone to Mia
"Terserah kamu aja, yank" emoticon-phone dari Mia
"Nyobain sate di xxx yuk" emoticon-phone to Mia
"Hayuk deh hehehe" emoticon-phone dari Mia

Sejak pengakuan Mia kemarin, hubungan kita jadi makin intens. Kita mulai manggil sayang. Awalnya sih Mia yang mulai, eh keterusan deh kita. Gue pribadi, belum ada rencana untuk nembak Mia dalam waktu dekat, tapi sudah ada dalam bayangan, kalo gue bakal nembak dia ketika semester ini berakhir. Hopefully..

***
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, tiba-tiba uda bulan Mei. Berarti sebulan lagi bakal ujian akhir dan libur panjang antar semester. Disuatu siang hari, ketika mata kuliah gue uda selesai, gue sedang berjalan ke parkiran.

"Jek!" teriak seseorang
" emoticon-Confused "

"Boy! Sini lo!"
Ahh, ternyata Wawan sedang makan dikantin.

Ketika gue mendekati dia, dari jauh gue sudah melihat kalau disitu juga ada Widya, Una, dan mas Anton.
" emoticon-EEK! "

Gue males kalo melihat Anton dan Una seperti ini. Mereka emang tidak begitu sering terlihat berdua ketika di kampus, tapi dari gerak-gerik Anton, kelihatan jelas kalau dia emang lagi pendekatan dengan Una. Sialnya, Una terlihat tidak menolak sama sekali.

"Dicariin dari tadi, susah banget ketemu elo sekarang"
kata Wawan ketika gue sudah berdiri didepannya.
"Kenapa?"
tanya gue dingin karena ada Una disana

"Noh, biar yang punya acara aja yang jelasin" Kata Wawan menunjuk Una
"Hehehe, lagi sibuk Jek?" Una menyapa gue ramah
"Mungkin sibuk, kenapa?" suara gue sedikit tidak bersahabat
" emoticon-Roll Eyes (Sarcastic) " Widya melihat gue keheranan

Una menyenggol tangan Anton. Anton melihat Una. Una seperti menyampaikan pesan kepada Anton lewat tatapan mata. Lalu Anton mulai membuka mulut dan berbicara ke gue

"Gini jek, gue sama Una mau traktiran" Kata Anton
" emoticon-Confused "
"Traktiran jadian gitu hehehe" Lanjut Anton
" emoticon-Kagets "

Tiba-tiba kalimat tadi bergema ditelinga gue. Menutupi suara bising kantin dijam makan siang. Jantung gue berdegub kencang. Pikiran gue berusaha menyangkal apa yang barusan gue denger. Hati gue berharap bahwa dia bohong.

"Jadi gak sibuk kan Jek kalo acara makan-makan?" Kata Anton diakhiri senyuman ngejek

Apa maksudnya senyum itu? Dia ingin terlihat lebih superior daripada gue? Memang benar kalau dia yang memenangkan hati Una, sedangkan gue kalah. Gue berteriak dalam hati, gue gak butuh traktiran makan lo! Dasar sampah!

"Iya Jek, duduk dulu lah" Kata Una kemudian

Gue menatap jijik ke arah Una. Apa-apaan sikap seperti ini? Dulu dia bilang tidak suka dideketin kakak angkatan. Silahkan liat sendiri, dia jadian dengan siapa. Kalau emang dia gak punya rasa ke gue, ngapain memberi harapan ke gue? Una mempermainkan gue. Sekarang, dia depan gue dengan raut wajah sok bersahabat seperti ini. Dasar wanita munafik!

"Sori gue gak bisa, ada kerjaan"
Jawab gue singkat, lalu gue memalingkan wajah

"Kapan lagi makan siang gratis Jek? emoticon-Big Grin "
Wawan coba merayu gue dengan candaan

"Gue bisa beli makan siang gue sendiri"
Kata gue memberi penekanan diakhir, lalu berlalu dari mereka

Kalimat terakhir gue cukup jelas. Semoga mereka, terutama Una, menangkap maksud gue. Gue rasa dia tidak bodoh untuk menangkap kebiasaan gue kalo sudah mengatakan hal-hal kurang enak didengar seperti tadi.

Gue pulang dengan suasana hati buruk. Disatu sisi, gue marah dengan Una. Sangat sangat marah. Gue merasa dipermainkan olehnya. Apa dia merasa dirinya terlalu cantik? Betul, dia memang luar biasa cantik. Wajar kalau para pria jatuh hati kepadanya, termasuk gue sendiri. Gue pikir, dia tipe wanita yang baik, tidak memandang dari segi materi. Ternyata Una sama saja seperti wanita cantik lainnya. Menjual kecantikan untuk kenikmatan materi semata.
(fyi, Anton bawa mobil sedan ke kampus)

Namun disisi yang lain, dialam bawah sadar, sejujurnya gue masih mengharapkan Una. Oke kali ini gue jujur. Gue sudah menyimpan perasaan kepada Una sejak dia membelikan gue kopi tiap pagi. Gue tersentuh dengan kejenakaannya, tingkah lakunya, ceplas ceplosnya. Tapi gue sadar diri, gue tidak pantas dengan Una. Dinilai dari barang-barang yang melekat dibadan kami masing-masing, ketahuan ketimpangan antara kita berdua. Karena itu gue menyimpan perasaan gue, sampe gue membuktikan sendiri kalau Una mau diajak gue jalan walaupun hanya memakai motor. Gue mulai melihat dia wanita yang baik, berbeda dengan wanita cantik tak berhati lainnya.

Damn! Gue gak tau harus gimana supaya diri gue tenang. Nafas gue sudah terlalu berat karena terus disesaki asap tembakau daritadi.
khodzimzz
itkgid
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.