Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2079
PART 89

Gue terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Adinda. Sambil tersenyum kecil, gue mengangguk pelan. Adinda memandangi gue dengan tatapan terkejut, kemudian tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Quote:


Gue terhenyak, tapi tetap mempertahankan senyum gue. Kampret nih anak, tau darimana kalo gue sama Vina pernah punya cerita. Masak Vina cerita-cerita sih? Gak mungkin kayaknya, pikir gue. Adinda kayaknya bisa membaca pikiran gue, dan tawanya semakin menjadi-jadi.

Quote:


Eh buset gue diberondong gini, gak boleh mati gaya nih. Gue belagak sok cool aja. Daripada ntar jadi gosip kemana-mana kalo gue ceritain yang sebenernya. Lagian gue belom kenal bener ini cewek yang namanya Adinda. Salah-salah ntar nama gue yang jadi jelek. Jadi gue memutuskan untuk tetap menutup rapat rahasia gue dan gak terpancing oleh Adinda.

Quote:


Gue menjawab setenang mungkin, dan mengalihkan topik pembicaraan dengan smooth, biar Adinda gak curiga kalo gue mengalihkan pembicaraan. Gue sengaja menceritakan cerita-cerita horror tentang dosen yang galak, dan sukses membuat Adinda parno sendiri, dan gak ngomongin tentang gue dan Vina lagi.

Gue dan Adinda terus ngobrol berbagai macem hal, sampe gak terasa diluar matahari udah tenggelam, dan malam mulai datang. Gue memutuskan untuk pamit, dan pulang kerumah. Dalam hati gue agak kapok ketemu Adinda, sebisa mungkin besok-besok gak ketemu lagi ah, daripada berabe. Feeling gue gak enak tentang nih cewek satu.

Seminggu kemudian.

Gue berdiri di depan pintu arrival di airport. Sambil memandangi layar informasi kedatangan, gue bersandar di salah satu pilar dan memandangi sekeliling. Rame bener sore itu, ditambah lagi cuaca sedang gak begitu bagus, jadi semakin banyak orang yang masuk berteduh. Gue berjalan ke minimarket, dan membeli sebotol minuman ringan, sambil menunggu kedatangan pesawat yang memang gue tunggu.

Sekitar 10 menit gue menunggu, akhirnya kedengeran juga pengumuman mendaratnya pesawat yang memang gue tunggu. Dari kejauhan gue liat burung besi milik maskapai kebanggaan Indonesia memutar di taxiway dan menuju ke tempat parkirnya. Gue meneguk minuman gue, dan menunggu dengan sabar. Gue tau meskipun udah mendarat, tapi tetep membutuhkan waktu beberapa saat lagi untuk bisa keluar dari arrival area soalnya harus nunggu bagasi. Dan soal kayak ginian kadang-kadang nyampe 5-10 menit sendiri.

Akhirnya gue liat sebagian rombongan keluar dari pintu arrival area, dan saling menyapa penjemputnya masing-masing. Satu pemandangan yang selalu gue suka di airport, dimana para penumpang akhirnya bisa bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal dan mereka sayangi. Kehangatan diantara mereka selalu membuat gue tersenyum sendiri. Nyaris gak pernah ada kesedihan di bagian ini, berbeda dengan di area departure atau keberangkatan, yang kadang-kadang dihiasi dengan air mata perpisahan.

Sekitar 5 menit gue menunggu, dan akhirnya orang yang gue tunggu-tunggu muncul juga. Berbaju polo shirt hitam dan kalung etnik berwarna hitam mengintai dari balik kerah bajunya, dengan jaket kulit cokelat yang nyaris identik dengan jaket kulit milik gue, dan celana jeans ketat selutut plus sepatu entah apa namanya, dia tersenyum ke gue. Di tangannya memegang handbag berwarna beige kesayangannya, sementara tangan yang satunya menarik koper hitam miliknya. Rambut curly merah kecokelatan khas miliknya tergerai dengan indah di bahu dan punggungnya. Gue tersenyum dan menyambutnya kedepan.

Secara refleks tangannya memeluk tubuh gue, dan gue juga memeluk tubuhnya. Dingin, mungkin karena pengaruh AC pesawat. Gue menarik pelukan gue, dan mencium keningnya lembut. Dia tersenyum cantik, amat cantik, dan kemudian memeluk gue sekali lagi.

Quote:


Gue meringis, dan meraih kopernya yang sedari tadi masih dipegang. Anin kemudian melingkarkan tangannya di lengan gue, sementara tangan gue yang satu menarik koper. Anin meneguk minuman di botol yang tadi gue beli, dan kemudian memasukkan ke handbag miliknya. Setelah sampai di mobil, memasukkan koper ke bagasi belakang dan kemudian gue menyalakan mesin. Gue menoleh.

Quote:


Anin menoleh ke gue, dan memandangi gue sambil tersenyum.

Quote:


Selama perjalanan, Anin gak henti-hentinya cerita soal apa yang dialami di Jakarta. Gue mendengarkan itu semua sambil menggumam “hmm, huh” gitu aja, maklum lagi konsentrasi nyupir, daripada ntar nyeruduk tukang sayur. Akhirnya kami berdua berhenti buat makan, kalo menurut Anin (sambil berapi-api), bukan makan biasa tapi “makan-makan syantik”. Sesukamu wis, dek.

Gue dan Anin duduk di sebuah restoran yang dinginnya kayak kulkas, padahal diluar hujan. Buat mengatasi itu gue pesen cream soup dan kopi panas. Sementara Anin pesen choco lava cake. Di dalam restoran yang dingin dan ditambah hujan sore itu, kami ngobrol kesana kemari, melepaskan kerinduan satu sama lain. Buat gue, momen sederhana ini justru salah satu momen yang paling berkesan di masa pacaran gue dan Anin.
jenggalasunyi
pulaukapok
chanry
chanry dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.