alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
30-11-2014 11:28
CERITA TENTANG KITA
Quote:
DISCLAIMER
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, karakter, tempat, maupun cerita, itu semua hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.


Quote:Title : CERITA TENTANG KITA
Author : NVRstepback
Genre : Slice of Life, Drama, Romance, Family


INDEKS
:
Quote:Act 1 - "A Meeting"
Act 2 - "Crash!"
Act 3 - "Awake"
Act 4 - "A 'Normal' Day"
Act 5 - "Jealous"
Act 6 - "Preparation"
Act 7 - "Surprise!"
Act 8 - "His Story"
Act 9 - "An Old 'Friend'"*NEW!
Act 10 - "Memory" *NEW!





Quote:
note nov2017: lanjut lagi setelah kentang 3 taun..
update index, linkpost menyusul
Diubah oleh nvrstepback
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
07-12-2014 21:55
Quote:
Quote:
Act 4 - "A 'Normal' Day"


Quote:Hari Selasa. Hari paling menjemukan untuk Alea, Emily, Liana, dan Gea karena hari ini ada kuliah dari pak Darma, dosen yang cukup galak serta umurnya sudah cukup tua sehingga cara mengajarnya membuat kantuk mudah menyerang. Materi yang disampaikan pun juga cukup membuat otak jenuh. Sehingga sering Liana harus dibangunkan oleh Emily karena ketiduran sebelum ketahuan pak Darma. Seperti saat ini, ketika Liana tertidur dan harus mendapat hukuman karena ketahuan pak Darma.
“Li. Buruan bangun. Li!” bisik Emily ke telinga Liana sambil mengguncangkan kursi Liana. Namun Liana masih tidak bergeming. Tidurnya masih nyenyak.
“Li. Cepetan bangun. Dasar kebo.” Bisik Emily berharap Liana segera terbangun karena pak Darma terlihat sedang berjalan ke arah mereka.
“Liana!” kata pak Darma cukup keras sehingga seluruh kelas hening dan memusatkan perhatian ke arah pak Darma dan Liana.
“Mampus.” Batin Emily sambil menutup kedua mukanya. Namun terlihat Liana masih terpejam.
“Liana, cepat bangun!” kata pak Darma lebih keras. Liana pun akhirnya terbangun dan hampir terjatuh dari kursinya. Menyadari ada pak Darma di depannya, Liana langsung bermanuver merapikan rambut panjangnya yang tak diikat.
“I..iya pak.” Kata Liana gugup. Liana melirik ke arah Emily, Alea, dan Gea. Tampak mereka bertiga hanya menundukkan kepala.
"Mampus gue.” Batin Liana.
“Kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya tidur di kelas saya?” tanya pak Darma dengan nada tinggi.
“Ma..maaf pak. S..saya ngantuk, se..malam begadang ngerjain tugas pak.” Kata Liana memberikan alasan.
“Oh. Jadi semalam kamu begadang mengerjakan tugas?” tanya pak Darma. Nada suaranya sudah agak turun.
“I..iya pak.”
“Kalau begitu, nanti malam silakan kamu begadang lagi. Kamu tulis rangkuman materi kuliah semester ini. Minggu depan, letakkan di meja saya! Mengerti?” kata pak Darma. Liana kaget setengah mati. Begitu juga Emily, Alea, dan Gea.
“Ba..baik pak.” Kata Liana lemas. Pak Darma pun kembali berjalan ke depan kelas melanjutkan materi yang tadi disampaikan.
“Mampus gue. Ngrangkum materi kuliah satu semester Cuma dikasih waktu seminggu?” kata Liana.
“Udah Li. Tenang, nanti kita bantuin.” Kata Alea. Gea mengangguk.
“Makasih ya guys, ngrepotin kalian.” Kata Liana.
Kelas pak Darma pun selesai. Tapi nampaknya pak Darma sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu kelas sehingga para mahasiswa belum berani keluar. Dan pak Darma pun berbicara kembali di depan kelas namun bukan menyampaikan materi kuliah.
“Anak-anak, jangan keluar dulu. Ada pengumuman dari BEM. silakan kalian dengarkan.” Kata pak Darma yang kemudian mempersilakan perwakilan BEM masuk, Tara dan Wayan.
“Eh, itu kak Tara sama siapa?” tanya Liana ke teman-temannya.
“Itu kak Wayan, Liana.” Jawab Emily. Liana menatap Wayan dengan penasaran. Dia pun
teringat pada sesi hiburan saat acara penyambutan mahasiswa baru beberapa minggu yang lalu, ketika ada cowok cool yang menyanyi sambil memainkan gitar.
“Li. Kesambet ya?” tanya Alea melihat Liana melongo. Liana pun sepertinya masih tidak
menghiraukan pertanyaan Alea karena masih asyik melihat Wayan dengan tatapan penasaran. Alea yang mengetahuinya pun tersenyum.
“Selamat siang teman-teman.” Kata Tara memberi salam.
“Saya bersama Wayan, selaku perwakilan BEM akan menyampaikan sebuah pengumuman tentang akan diadakannya acara malam pengakraban atau makrab sebagai lanjutan dari acara penyambutan mahasiswa baru beberapa waktu lalu. Acara makrab ini akan diadakan mulai besok hari Jumat sampai hari Minggu. Untuk itu, nanti pukul 3 kami mohon kehadiran kalian di hall untuk pemberitahuan lebih lanjut. Kami mengharapkan kalian bisa datang demi kelancaran acara ini. Terima kasih.” Kata Tara menyampaikan pengumuman.
“Oke, sebagai tambahan, acara makrab ini bersifat wajib sehingga kalian wajib datang dan ikut.” Kata Wayan menambahkan. Setelah menyampaikan pengumuman tersebut, Tara dan Wayan serta pak Darma meninggalkan ruang kelas. Diikuti para mahasiswa yang juga segera keluar meninggalkan kelas.
“Kumpulnya masih jam 3, sekarang jam 2. Makan dulu yuk guys.” Kata Liana mengajak Alea, Emily, dan Gea makan.
“Iya yuk. Aku juga udah laper nih.” Kata Alea menyetujui ajakan Liana. Gea juga setuju.
“Sorry nih temen-temen. Kalian duluan aja ya. Aku mau ke perpus bentar mau pinjam buku.” Kata Emily.
“Buku apaan sih Mily?” tanya Liana penasaran.
“Novel.. Hehe.” Jawab Emily sambil tersenyum.
“Mi..mily, aku nitip pinjemin antologi puisi lama ya?” kata Gea.
“Oke Gea. Aku cariin ya.” Kata Emily sambil tersenyum. Gea pun tersenyum.
“Yaudah kalo gitu. Ati2 ya, cepet nyusul.” Kata Liana. Emily mengangguk kemudian bergegas menuju ke perpustakaan. Liana bersama Alea dan Gea pun berjalan menuju kantin.
Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan dan minuman. Setelah mendapat tempat duduk, mereka bertiga pun makan sambil membicarakan perihal makrab.
“Eh, Alea. Makrab tu acara gimana nanti?” tanya Liana ke Alea.
“Aduh Li, mana aku tahu. Aku kan bukan panitia.” Kata Alea.
“Ya siapa tau kak Kenzo cerita ke kamu.” Kata Liana.
“Yah. Kak Kenzo gak bakalan mungkin cerita deh. Dia kan orangnya profesional banget. Sekalipun aku adiknya, dia gak bakalan kasih tahu meskipun aku sampe sujud-sujud.” Terang Alea.
“Waduh. Sampe segitunya.” Kata Liana.
Saat mereka sedang menikmati makanan dan minuman mereka sambil mengobrol, mata Alea menangkap sosok Ve di bangku pojokan sedang mencuri pandang ke arahnya. Dalam hati, Alea mati-matian untuk tidak menaruh rasa benci pada Ve. Tapi dia merasa begitu sulit membuang rasa bencinya kepada Ve atas apa yang sudah terjadi pada Kenzo. Segera saja Alea mengalihkan pandangannya dan segera bergabung kembali dalam obrolan bersama Liana dan Gea.
"Li, aku jadi penasaran deh kok kamu sering banget ketiduran pas kuliah? Nggak cuma pas kelas Pak Darma, hampir tiap kuliah pagi pasti gitu." Alea membuka topik. Gea mengangguk, lalu menatap Liana menunggu jawaban.
"Hehe." Liana hanya membalasnya dengan cengiran aneh.
"Liana..." Gea kembali meminta jawaban. Liana tak langsung menjawab. Dia merogoh kantong depan tas ransel yang dia sandarkan di sebelah meja lalu mengeluarkan ponselnya.
"Nih." Liana menyodorkan ponselnya kepada Alea dan Gea.
"Cipta... Lagu... Populer... on Youtube?" Alea membaca tulisan pada gambar yang terpampang di layar ponsel Liana. Dia dan Gea saling pandang, lalu kembali menatap Liana yang sedang asyik mengunyah bakso.
"Kontes?" Tanya Gea penasaran.
"Iya, kesempatan gue nih. Selain hadiahnya lumayan, yang menang juga bisa dapet kontrak dari label mayor." Terang Liana bersemangat. Gea manggut-manggut.
"Tapi jangan sampe ngorbanin kuliah dong, Li. Sepenting apapun kontes itu, kewajiban utama kita sekarang adalah belajar. Apalagi kita sekarang mahasiswa, bukan siswa SMA lagi. Harus mulai bisa nentuin prioritas." Ujar Alea panjang lebar. Liana dan Gea melongo mendengar kata-kata Alea.
“Iya Al, iya. Tapi... kalian jadi bantuin gue kan?” tanya Liana.
“Kita bantuin kok Liana. Tenang aja.” Kata Gea sambil menepuk pundak Liana. Alea juga mengangguk membenarkan kata-kata Gea.
“Makasih ya Gea, Alea. Kalian emang sahabat gue yang paling baik.” Kata Liana.
"Tapi janji ya, harus bisa nentuin prioritas. Dan kalo bisa... menangin kontesnya juga." Alea mengajukan syarat. Liana mengacungkan jempolnya. Mereka bertiga pun tersenyum satu sama lain. Saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat.
“Hai, boleh gabung?” ternyata Ve.
“Bo..boleh kok kak.” Kata Gea gugup.
“Iya kak, mari duduk.” Kata Liana agak cuek
“Makasih ya.” Kata Ve kemudian duduk di samping Liana, tepat di depan Alea. Namun nampak Alea sama sekali tak memperhatikan Ve. Dia berusaha membuang pandangan.
“Hi Alea.” Sapa Ve ke Alea. Alea pun menoleh ke arah Ve, namun dengan pandangan penuh rasa amarah. Dan segera dia bangkit kemudian beranjak pergi.
“Temen-temen, aku nyusul Emily ke perpus dulu ya. Daa.” Kata Alea pamit kemudian meninggalkan Liana dan Gea bersama dengan Ve. Nampak Ve terhenyak melihat tatapan mata tajam Alea dan sikap dingin Alea kepadanya.
Di perjalanan menuju perpustakaan, Alea masih terlihat menyesali sikapnya ke Ve. Seandainya ada Kenzo, pasti dia sudah dimarahi karena masih belum bisa memaafkan. Tapi dia merasa cukup sulit untuk memaafkan Ve. Apa yang sudah terjadi pada Kenzo, hingga Kenzo harus masuk rumah sakit.
“Al.” Sapa seseorang dari belakang Alea tiba- tiba. Alea pun berhenti kemudian menoleh.
“Kakak?” kata Alea kaget melihat Kenzo berdiri dengan senyuman jahilnya. Di kepalanya masih terlihat perban yang belum dilepas.
“Kok kakak udah ke kampus? Bukannya belum boleh pulang sama dokter? Perbannya juga masih belum dilepas.” tanya Alea.
“Kata siapa belum boleh pulang? Tadi dokter bilang kalo kakak udah boleh pulang, tapi masih perlu kontrol. Nih dikasih oleh-oleh.” Kata Kenzo sambil menunjuk kantong plastik putih di tangan kirinya.
“Oleh-oleh apaan kak?” tanya Alea penasaran. Kenzo pun membuka kantong plastik itu. Alea memeriksa isi kantong , ternyata berisi obat-obat yang harus dikonsumsi Kenzo untuk penyembuhan.
“Ih, kakak nih apaan sih. Ini kan obat, masa dibilang oleh-oleh.” Kata Alea sambil mencubit hidung Kenzo dengan gemas.
“Aauwwww. Alea ini hidung, bukan mainan. Sakit tau.” Kata Kenzo sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah. Alea tertawa melihat kakaknya. Saat itu, Evan pun datang bergabung.
“Eh, loe udah balik dari rumah sakit bro?” tanya Evan ke Kenzo.
“Iya Van. Kata dokter udah boleh balik. Jadi sekalian aja gue ke sini buat nengokin adik gue yang cantik ini.” Kata Kenzo sambil mengusap rambut panjang Alea.
Alea tersipu mendapat perlakuan seperti itu dari kakaknya. Apalagi di situ ada Evan. Melihatnya, Evan
pun tersenyum. Aliran-aliran elektron pun perlahan saling bertukar tempat di atara hati Evan dan Alea. Karena merasakan sesuatu yang aneh pada Evan dan Alea, Kenzo pun segera mengambil inisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“Eh. Al, Van. Gue ke ruang lab dulu mau ketemu dosen.” Kata Kenzo tiba-tiba.
“Loh. Trus Alea sama siapa? Kok kakak tau- tau mau pergi sih?” kata Alea cemberut. Kenzo pun menunjuk ke arah Evan dengan lirikan mata.
“Udah ah. Van, jagain Alea ya. Daa.” Kata Kenzo kemudian melangkah pergi. Tinggal Evan dan Alea yang kebingungan.
Berbeda ketika mereka berdua berada di klinik, ketika mereka masih belum begitu mengenal satu sama lain. Kali ini, sinyal- sinyal ‘rasa’ sudah cukup terasa sehingga mereka nampak tersipu-sipu dan hanya saling melempar senyum.
“Sekarang ada Evan yang bisa gue percaya buat ngejagain Alea.” Batin Kenzo sambil terus berjalan. Tanpa sengaja, dia menabrak Emily yang sedang berjalan terburu-buru hingga Emily terjatuh dan buku-buku yang dibawa Emily jatuh berantakan.
“Aduh, maaf. Sini aku bantuin.” Kata Kenzo kemudian meletakkan kantong plastik obatnya lalu segera mengambil buku-buku yang berserakan.
“Ng..gak usah kak. Gak papa kok.” Kata Emily malu-malu sambil menata buku-bukunya yang jatuh. Dia tidak berani menatap wajah Kenzo.
Sampai tiba-tiba tangan mereka saling bersentuhan saat akan mengambil sebuah buku. Lagi-lagi, hukum fisika tentang aliran elektron pun terjadi antara mereka. Bedanya, aliran elektron yang ada di tubuh Emily lebih aktif. Sehingga Emily pun terlihat begitu salah tingkah. Kenzo hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabat adiknya itu.
“Sekali lagi maaf ya, kamu temennya Alea kan? Eng.. nama kamu siapa?” tanya Kenzo. Pipi Emily memerah.
“Emily kak, panggil aja Mily.” Jawab Emily malu-malu.
“Yaudah, aku mau ke kantin nemuin temen- temen dulu kak. Permisi.” Kata Emily pamit kemudian ngacir dengan kecepatan tinggi. Kenzo sampai heran. Tapi dalam hati dia merasa senang karena mendapatkan hiburan berupa pertunjukan salting Emily tadi.
“Emily...” Kata Kenzo kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Setibanya di lab, Kenzo segera masuk untuk mencari dosennya. Tapi karena tidak ada orang, dia pun duduk dan menyalakan komputer. Tiba-tiba ada seorang cewek yang masuk dan kemudian duduk di samping Kenzo.
“Hai Kenzo.” Sapa cewek itu.
“Oh. Hai Rara.” Jawab Kenzo singkat dengan nada datar.
“Kok tumben sendirian? Tara sama yang lainnya mana?” tanya Rara.
“Gak tau. Paling di ruang BEM persiapan buat pengumuman nanti sore.” Jawab Kenzo sambil sibuk berselancar di internet.
“Kenzo.” Kata Rara. Kali ini, Kenzo tak dapat bersuara karena ternyata Rara sedang memegang tangan kanannya. Jantungnya berdegup kencang. Kenzo memang sempat menyukai Rara. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya rasa itu pupus dan Kenzo pun berhenti mengejarnya.
Kenzo menoleh pelan. Nampak wajah oriental Rara dengan mata sipitnya, rambut lurus panjang dengan poni yang menutupi dahi dan hampir mencapai alis tipisnya. Juga senyuman cantik yang dulu begitu mempesona Kenzo. Tapi kini tak lagi mempesonanya.
“Kenapa Ra?” tanya Kenzo berusaha mempertahankan tampang juteknya. Tapi Rara tak menjawab, justru genggamannya ke tangan Kenzo makin erat. Dan wajah Rara makin mendekat ke wajah Kenzo.
“Rara apaan sih loe?” tanya Kenzo risih. Namun Rara tampak tak menghiraukan kata- kata Kenzo.
Dengan perlahan, Kenzo menjauhkan wajahnya, menjauhkan pandangannya dari wajah Rara. Hingga matanya terhenti pada sosok Emily yang tengah berdiri dengan raut wajah kecewa. Di tangan kanan Emily, tampak plastik berisi obat milik Kenzo. Melihat Kenzo dan Rara begitu dekat, hati Emily terasa hancur. Dia pun menjatuhkan obat Kenzo dan kemudian berlari menjauh. Kenzo pun mundur menjauhi Rara, lalu bangkit kemudian berlari keluar mengejar Emily. Rara terdiam.
“Mily! Emily!” teriak Kenzo berusaha memanggil Emily yang sudah berlari jauh.

Will be continued...
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
Stories from the Heart
cinta-agama--mama
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.