TS
bawanasi465
[Orific] Harapan dan Pintu
genre: drama, supernatural, psychological thriller
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang
ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Spoiler for Author's Note:
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang

ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!

Spoiler for Boredom:
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
Spoiler for Karakter:
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Spoiler for Index:
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:18
0
4.1K
Kutip
37
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
bawanasi465
#34
Spoiler for -10.20AM, R2- cont.:
“Jadi kepikiran, kenapa kamu bisa tahu banyak soal [DISCORDIA]?”
“…bersemangat sekali kamu, Rama, sejak tadi banyak bertanya.”
“Memangnya ada yang salah?”
Putri menggelengkan kepalanya lalu menatapku dengan mata yang tidak kusukai. Seakan aku baru saja membuat kesalahan. Karena tidak tahu apa-apa, kuputuskan untuk mengabaikannya sebisaku.
“Kamu pasti sudah menduganya, aku sudah pernah menjadi pemain [DISCORDIA]. Singkatnya, aku adalah seorang alumnus. Semua hal yang sedang kamu alami ini sudah kurasakan beberapa kali. Tidak perlu khawatir karena seluk-beluk permainan ini sudah ada di luar kepalaku.”
“…”
Maafkan aku Putri, aku tidak sepintar yang kamu kira karena aku tidak menduganya sedikitpun.
Eh, tunggu.
“Apa maksudmu merasakan ini ‘beberapa kali’?”
“Kurasa [ADMIN] belum menjelaskannya padamu. [DISCORDIA] tidak begitu saja berakhir setelah kamu menyelesaikan permainan ini.”
Aku punya firasat buruk tentang ini.
“Sekali kamu terdaftar sebagai peserta, kamu menjadi peserta selamanya.”
Tentu saja aku langsung membelalakkan mataku.
“[DEATHMATCH] adalah permainan standar untuk peserta baru sepertimu karena peraturannya yang simpel. Setelah ini, entah menang atau kalah, kamu akan dipaksa untuk bermain lagi.”
Ini gila. Satu permainan saja sudah cukup membuatku begitu tertekan, dan untuk melakukannya terus selamanya…
“Bukan berarti kamu akan memainkan [DISCORDIA] setiap hari, Rama. Selalu ada jeda waktu antara permainan, bisa beberapa hari, bisa juga berbulan-bulan.”
“…jadi bahkan saat ini ada peserta lain yang sedang bermain?”
“Soal itu, tidak. Mengkreasi ulang dunia yang sama persis dengan dunia nyata seperti ini tidaklah mudah. Dia menjanjikan keinginan untuk menjadi nyata, tapi [ADMIN] tidaklah sekuat itu. Hanya ada satu permainan yang bisa dia buat setiap harinya.”
[ADMIN] sudah bilang tentang kekuatan terbatasnya, tapi aku baru tahu yang ini.
Ini… apa artinya aku terjebak di permainan dan tidak bisa melakukan apa-apa? Menjadi boneka [ADMIN] sampai aku mati?
Mengetahui aku akan melakukannya seumur hidupku, biarpun aku cukup hebat dan bisa sering menang, jelas aku akan merasakan kekalahan suatu hari. Terbayang bila aku kalah dan kehilangan Julia, dan kalah lagi di permainan-permainan selanjutnya.
Hidup tanpa siapapun yang berharga di dunia ini.
Hidup macam apa itu?
“Jangan murung begitu, Rama. Kamu bisa keluar dari [DISCORDIA] jika kamu mau. Ingat, aku sendiri adalah seorang alumnus.”
“…”
“Yang perlu kamu lakukan hanya ‘meminta’-nya setelah kamu menang. Seberapapun [ADMIN] tidak menyukainya, dia tetap sudah menjanjikan satu keinginan untuk dikabulkan sehingga dia harus menepati janjinya.”
“Begitu, ya.”
Secara mengejutkan, cukup simpel. Walaupun begitu tidak mudah juga.
Karena fakta bahwa aku harus tetap membunuh seseorang untuk keluar tidaklah berubah.
“Kamu dengar itu, kan? Sekarang seharusnya kamu juga mengerti bahwa segalanya tidak berakhir setelah permainan selesai.”
“…ah!”
Kalimat itu tidak Putri tujukan kepadaku, karena dia menoleh ke arah Marina ketika bicara. Tanpa kusadari Marina yang sudah siuman kini sudah tidak merebahkan badannya lagi. Dia terduduk, melihat kami dengan wajah terkejut.
…tidak, Marina hanya memandang wajah Putri. Dia segera mengalihkan pandangannya ke bawah ketika mata kami bertemu.
Kemudian Putri bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati gadis pirang itu. Marina yang merasa terancam dengan kehadiran Putri berusaha untuk mundur sebelum sadar bahwa kakinya diikat.
“Perkenalkan, namaku Putri. Sebelumnya izinkan aku minta maaf atas perlakuan kasarku sebelum ini. Kuharap kamu mengerti bahwa itu satu-satunya cara untuk kita bisa berbicara dengan tenang.”
Jelas terlihat ekspresi ketakutan di wajah Marina meskipun Putri berbicara dengan halus tanpa menunjukkan sedikitpun nada mengancam.
Tentu saja aku tidak menyalahkannya. Disengat listrik seperti tadi pasti sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan bagi Marina.
“Kita langsung ke intinya. Cewek Pirang, aku ingin kamu tahu bahwa ada satu cara bagi kamu dan Rama untuk keluar dari permainan ini tanpa harus membunuh, ataupun mengorbankan seseorang.”
Marina sedikit membelalakkan matanya. Kupikir dia akan bereaksi lebih dari itu. Yah, aku lupa bahwa dia biasanya bahkan tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun. Yang kulihat ini seharsnya sudah termasuk dalam kategori kejadian langka.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, ada dua cara untuk mengakhiri [DEATHMATCH]: dengan menang atau kalah. Yang memenangkan dua ronde terlebih dahulu dianggap sebagai pemenang dan bisa mendapatkan satu permintaan, dan yang kalah kehilangan orang yang dicinta.”
Benar. Aku sudah mendengarnya dari [ADMIN].
“Pertanyaanku: apakah kamu senang jika kamu menang, Cewek Pirang?”
Mendengar itu, sekilas mata Marina tertuju kepadaku dan kemudian menggeleng pelan.
“Jika begitu, kalian tidak ingin menang ataupun kalah.”
Putri sesaat melihat ke arahku. Entah kenapa aku tidak melihat senyumannya yang biasa.
“Karena itulah kita mengincar hasil seri.”
“Eh?”
Aku dan Marina sama-sama mengangkat alis.
“Ronde ketiga adalah ronde terakhir dalam [DEATHMATCH]. Ketika ronde ketiga berakhir maka permainan selesai. Kalian pasti tidak diberi tahu oleh [ADMIN] tentang itu, kan?”
“Beneran?”
“Jelas aku sudah mencobanya. Seperti yang aku sudah katakan, [ADMIN] bukanlah seorang dewa dan itu adalah batas kekuatannya.”
“Kalau kamu bilang begitu… ah, Marina, Putri ini sudah cukup berpengalaman dalam [DISCORDIA] dan dia tahu banyak yang kita nggak ketahu.”
“…”
Diabaikan mentah-mentah, ya…
Usahaku untuk mencairkan atmosfir di antara kami gagal total. Sesekali dia mencuri lirik padaku dengan curiga, tidak lebih. Marina masih tidak ingin bicara denganku.
Putri juga tidak pernah menoleh ke arahku sejak tadi seakan dia hanya bicara dengan Marina. Mungkin aku hanya pengganggu di sini… sebaiknya aku tutup mulut saja.
“Syarat untuk menang adalah dengan memenangkan dua ronde, yang di saat yang sama menyebabkan syarat untuk kalah dipenuhi untuk pemain lainnya.”
“…ketika nggak ada yang memenuhi syarat itu…” guman Marina pelan.
“Ya, tidak ada yang menang ataupun kalah. Dengan kata lain, seri.”
Ah, benar juga. Tidak kusangka ada metode yang begitu damai untuk menyelesaikan [DISCODIA]. Jika tidak ada yang kalah, tidak ada yang mati. Meskipun artinya juga tidak ada yang mendapatkan keinginan untuk dikabulkan tidak akan masalah karena kami tidak mengharapkannya.
Sekarang kita hanya perlu berhenti saling menyerang dan menunggu sampai ronde berikutnya berakhir.
Aku mulai merasa lega, sebelum Putri kembali bicara.
“Karena itulah, kamu harus kalah di ronde ini.”
“…!”
Aku tercengang ketika pernyataan itu ditujukan pada Marina.
“Memangnya itu harus-”
“Tidak ada pilihan lain, Rama. Marina sudah memenangkan satu ronde ketika kamu belum sama sekali. Mudah bagi [ADMIN] untuk menentukan pemenang meskipun tidak ada yang mati lagi di ronde ini ataupun ketiga.”
“Biar gitu, bukannya yang terpenting adalah nggak memenuhi syarat untuk menang? Selama nggak ada yang menang dua kali-”
“[ADMIN] bisa menganggap Marina memenangkan ronde terakhir untuk memenuhi itu. Tujuan utamanya adalah untuk mengamati manusia, dan pasti melakukan itu jika diperlukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.”
Prioritas [ADMIN] adalah untuk membuat kami menderita? Memangnya dia apa, perwujudan dari kejahatan di dunia ini?
“Di sisi lain, [ADMIN] tidak bisa melakukan apa-apa jika kalian telah memenangkan masing-masing satu ronde.”
“Tapi kan…”
“Gua mengerti.”
Marina yang sejak tadi terlihat tenang berkata dengan mantap. Kurasa sejak awal dia sudah mengerti situasinya sejak awal.
“Sesuai dugaan, orang sepertimu pasti langsung menyadari bahwa itu tindakan yang terbaik.”
Untuk bisa seyakin itu meskipun artinya dia harus mati… aku tidak tahu darimana dia mendapatkan ketenangannya itu.
“Sekarang… aku harus bunuh Marina?”
“Tidak ada yang mengharuskan kamu membunuhnya langsung, jadi biar aku yang lakukan. Dan tidak perlu khawatir, Cewek Pirang, kupastikan kematianmu secepat dan senyaman yang kubisa.”
Marina mengangguk, kemudian Putri mulai mengeluarkan pisau yang dia sita dari Marina sebelumnya dan seperti memilih-milih pisau yang akan dia gunakan. Dia tahu ketajamannya yang menentukan seberapa cepatnya dia bisa mengakhiri hidup seseorang.
Sebuah pembunuhan sebentar lagi terjadi di sini. Apakah hanya aku yang merasa tidak nyaman karenanya? Ini seperti hal yang natural bagi Putri yang memang sudah berpengalaman, tapi untuk Marina yang juga terlihat kalem membuatku mulai berpikir bahwa akulah yang aneh di sini.
“Lu nggak marah?”
Dia tidak melihat ke arahku walaupun aku yakin pertanyaan itu Marina tujukan kepadaku.
“Gua udah ngebunuhlu,” lanjut Marina, memperjelas apa yang dia maksud.
“Ya gua marah, lah.”
“…sesuai dugaan.” Menunduk, pandangan Marina kini tertuju ke lantai.
“Gua nggak marah sama lu, Marina.”
“Eh?”
“Gua lagi ngomongin [ADMIN]. Dia-lah yang bikin kita semua terlibat di kegilaan ini cuma sebagai pemenuh keinginannya, untuk menyenangkan hatinya. Seenaknya sendiri padahal kita nggak tahu apa-apa, egois sekali.”
“…um.”
“Lu ngelakuin itu semua karena lu terpaksa, Marina. Gua yakin itu. Karena itu gua nggak sedetikpun nganggap lu sebagai musuh sedikitpun sampai saat ini.”
Musuh kami yang sebenarnya adalah [ADMIN]. Begitulah aku melihatnya.
“Lu orang yang baik, Ram.”
“Hm? Lu bilang apa?”
“…bukan apa-apa.”
“Tenang aja. Setelah ini kita bisa menjalani hidup sebagai teman sekelas lagi kayak biasanya.”
“…um.”
Marina mengangguk pelan. Kali ini dia menatap mataku.
Wajah datarnya terlihat lebih cerah sekarang. Ini bisa jadi hanya perasaanku saja, sih.
“Sekarang, apa kamu sudah siap?”
Marina mengangguk ketika Putri bertanya demikian, “ini yang terbaik.”
“…kamu memang kuat. Aku selalu kagum denganmu.”
Lalu Putri duduk di depan Marina, kemudian memegang kedua tangan Marina.
“Eh, t-tanganlu…”
“Ya, aku tahu.”
Mereka berdua saling bertukar pandang dan ada pesan tersembunyi dibaliknya. Aku tentu saja tidak tahu apa itu.
Dan pemandangan ini… jika aku bisa melukisnya maka aku bisa menjadi jutawan dengan mudah. Keberadaan kedua gadis ini seperti sangat menyilaukan di tengah ruangan gelap ini.
“Sebelum Rama mulai berpikir yang aneh-aneh, sebaiknya kita segera lakukan ini.”
“Berhentilah baca pikiranku, oi.”
“Ah, sebelumnya kita tentukan di mana kita akan berkumpul di ronde berikutnya. Itu dibutuhkan untuk memastikan tidak ada yang berubah pikiran di tengah jalan. Sekali lagi untuk berjaga-jaga.”
Aku menggaruk kepalaku. Serius deh, kurasa gadis ini tidak bisa lebih hati-hati lebih dari ini.
Biar begitu, tanpa banyak masalah akhirnya kami sepakat untuk memilih suatu gudang kosong di dekat Pasar Bogor. Itu tempat terbaik karena berada tepat di tengah lokasi awal kami ketika ronde dimulai.
“Tidak seperti kalian para peserta, ingatanku akan di-set ulang ketika ronde dimulai kembali. Pastikan untuk menceritakan semuanya kepadaku, mengerti?”
“Err…”
“Intinya segera angkat teleponku, Rama.”
“O-oh, iya, iya.”
Aku tertawa kaku.
“Baiklah, mari kita mulai. Ini bukanlah pemandangan yang sedap dipandang. Kusarankan kamu untuk tidak melihatnya, Rama.”
“Nggak, gua harus ikut-”
“Biar kuperjelas lagi, kamu tidak boleh melihatnya, Rama.”
“…”
Rasanya Putri sungguh terlihat lebih menyeramkan ketika sedang tidak tersenyum. Aku tidak punya pilihan lain selain menurut, rupanya.
“Sebelumnya, Putri.”
“Ada apa?”
Putri menoleh. Rambut hitamnya ikut bergerak dengan anggun mengikuti gerak kepalanya.
“Aku nggak sempat bilang ini sebelumnya. Terima kasih atas semuanya.”
Jelas aku tidak bisa mempercayai Putri sepenuhnya karena dia merahasiakan niat aslinya, tetapi fakta bahwa dia telah banyak membantuku tidaklah berubah.
Dia mungkin mendapatkan keuntungan tersendiri dari urusanku dengan Marina ini. Aku tidak peduli. Yang terpenting Julia bisa hidup setelah ini.
Aku percaya hubunganku dengan Putri adalah hubungan yang saling menguntungkan. Itu tidak membuatku berhutang budi kepadanya, namun bukan berarti aku tidak perlu berterima kasih juga.
“Sama-sama,” balas Putri singkat. “Aku ingin kamu ingat satu hal.”
Di luar dugaanku, dia tidak tersenyum meskipun aku baru saja berterima kasih padanya.
“Semua ini kulakukan hanya untukmu, Rama.”
Dan dengan begitu, ronde kedua selesai.
“…bersemangat sekali kamu, Rama, sejak tadi banyak bertanya.”
“Memangnya ada yang salah?”
Putri menggelengkan kepalanya lalu menatapku dengan mata yang tidak kusukai. Seakan aku baru saja membuat kesalahan. Karena tidak tahu apa-apa, kuputuskan untuk mengabaikannya sebisaku.
“Kamu pasti sudah menduganya, aku sudah pernah menjadi pemain [DISCORDIA]. Singkatnya, aku adalah seorang alumnus. Semua hal yang sedang kamu alami ini sudah kurasakan beberapa kali. Tidak perlu khawatir karena seluk-beluk permainan ini sudah ada di luar kepalaku.”
“…”
Maafkan aku Putri, aku tidak sepintar yang kamu kira karena aku tidak menduganya sedikitpun.
Eh, tunggu.
“Apa maksudmu merasakan ini ‘beberapa kali’?”
“Kurasa [ADMIN] belum menjelaskannya padamu. [DISCORDIA] tidak begitu saja berakhir setelah kamu menyelesaikan permainan ini.”
Aku punya firasat buruk tentang ini.
“Sekali kamu terdaftar sebagai peserta, kamu menjadi peserta selamanya.”
Tentu saja aku langsung membelalakkan mataku.
“[DEATHMATCH] adalah permainan standar untuk peserta baru sepertimu karena peraturannya yang simpel. Setelah ini, entah menang atau kalah, kamu akan dipaksa untuk bermain lagi.”
Ini gila. Satu permainan saja sudah cukup membuatku begitu tertekan, dan untuk melakukannya terus selamanya…
“Bukan berarti kamu akan memainkan [DISCORDIA] setiap hari, Rama. Selalu ada jeda waktu antara permainan, bisa beberapa hari, bisa juga berbulan-bulan.”
“…jadi bahkan saat ini ada peserta lain yang sedang bermain?”
“Soal itu, tidak. Mengkreasi ulang dunia yang sama persis dengan dunia nyata seperti ini tidaklah mudah. Dia menjanjikan keinginan untuk menjadi nyata, tapi [ADMIN] tidaklah sekuat itu. Hanya ada satu permainan yang bisa dia buat setiap harinya.”
[ADMIN] sudah bilang tentang kekuatan terbatasnya, tapi aku baru tahu yang ini.
Ini… apa artinya aku terjebak di permainan dan tidak bisa melakukan apa-apa? Menjadi boneka [ADMIN] sampai aku mati?
Mengetahui aku akan melakukannya seumur hidupku, biarpun aku cukup hebat dan bisa sering menang, jelas aku akan merasakan kekalahan suatu hari. Terbayang bila aku kalah dan kehilangan Julia, dan kalah lagi di permainan-permainan selanjutnya.
Hidup tanpa siapapun yang berharga di dunia ini.
Hidup macam apa itu?
“Jangan murung begitu, Rama. Kamu bisa keluar dari [DISCORDIA] jika kamu mau. Ingat, aku sendiri adalah seorang alumnus.”
“…”
“Yang perlu kamu lakukan hanya ‘meminta’-nya setelah kamu menang. Seberapapun [ADMIN] tidak menyukainya, dia tetap sudah menjanjikan satu keinginan untuk dikabulkan sehingga dia harus menepati janjinya.”
“Begitu, ya.”
Secara mengejutkan, cukup simpel. Walaupun begitu tidak mudah juga.
Karena fakta bahwa aku harus tetap membunuh seseorang untuk keluar tidaklah berubah.
“Kamu dengar itu, kan? Sekarang seharusnya kamu juga mengerti bahwa segalanya tidak berakhir setelah permainan selesai.”
“…ah!”
Kalimat itu tidak Putri tujukan kepadaku, karena dia menoleh ke arah Marina ketika bicara. Tanpa kusadari Marina yang sudah siuman kini sudah tidak merebahkan badannya lagi. Dia terduduk, melihat kami dengan wajah terkejut.
…tidak, Marina hanya memandang wajah Putri. Dia segera mengalihkan pandangannya ke bawah ketika mata kami bertemu.
Kemudian Putri bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati gadis pirang itu. Marina yang merasa terancam dengan kehadiran Putri berusaha untuk mundur sebelum sadar bahwa kakinya diikat.
“Perkenalkan, namaku Putri. Sebelumnya izinkan aku minta maaf atas perlakuan kasarku sebelum ini. Kuharap kamu mengerti bahwa itu satu-satunya cara untuk kita bisa berbicara dengan tenang.”
Jelas terlihat ekspresi ketakutan di wajah Marina meskipun Putri berbicara dengan halus tanpa menunjukkan sedikitpun nada mengancam.
Tentu saja aku tidak menyalahkannya. Disengat listrik seperti tadi pasti sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan bagi Marina.
“Kita langsung ke intinya. Cewek Pirang, aku ingin kamu tahu bahwa ada satu cara bagi kamu dan Rama untuk keluar dari permainan ini tanpa harus membunuh, ataupun mengorbankan seseorang.”
Marina sedikit membelalakkan matanya. Kupikir dia akan bereaksi lebih dari itu. Yah, aku lupa bahwa dia biasanya bahkan tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun. Yang kulihat ini seharsnya sudah termasuk dalam kategori kejadian langka.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, ada dua cara untuk mengakhiri [DEATHMATCH]: dengan menang atau kalah. Yang memenangkan dua ronde terlebih dahulu dianggap sebagai pemenang dan bisa mendapatkan satu permintaan, dan yang kalah kehilangan orang yang dicinta.”
Benar. Aku sudah mendengarnya dari [ADMIN].
“Pertanyaanku: apakah kamu senang jika kamu menang, Cewek Pirang?”
Mendengar itu, sekilas mata Marina tertuju kepadaku dan kemudian menggeleng pelan.
“Jika begitu, kalian tidak ingin menang ataupun kalah.”
Putri sesaat melihat ke arahku. Entah kenapa aku tidak melihat senyumannya yang biasa.
“Karena itulah kita mengincar hasil seri.”
“Eh?”
Aku dan Marina sama-sama mengangkat alis.
“Ronde ketiga adalah ronde terakhir dalam [DEATHMATCH]. Ketika ronde ketiga berakhir maka permainan selesai. Kalian pasti tidak diberi tahu oleh [ADMIN] tentang itu, kan?”
“Beneran?”
“Jelas aku sudah mencobanya. Seperti yang aku sudah katakan, [ADMIN] bukanlah seorang dewa dan itu adalah batas kekuatannya.”
“Kalau kamu bilang begitu… ah, Marina, Putri ini sudah cukup berpengalaman dalam [DISCORDIA] dan dia tahu banyak yang kita nggak ketahu.”
“…”
Diabaikan mentah-mentah, ya…
Usahaku untuk mencairkan atmosfir di antara kami gagal total. Sesekali dia mencuri lirik padaku dengan curiga, tidak lebih. Marina masih tidak ingin bicara denganku.
Putri juga tidak pernah menoleh ke arahku sejak tadi seakan dia hanya bicara dengan Marina. Mungkin aku hanya pengganggu di sini… sebaiknya aku tutup mulut saja.
“Syarat untuk menang adalah dengan memenangkan dua ronde, yang di saat yang sama menyebabkan syarat untuk kalah dipenuhi untuk pemain lainnya.”
“…ketika nggak ada yang memenuhi syarat itu…” guman Marina pelan.
“Ya, tidak ada yang menang ataupun kalah. Dengan kata lain, seri.”
Ah, benar juga. Tidak kusangka ada metode yang begitu damai untuk menyelesaikan [DISCODIA]. Jika tidak ada yang kalah, tidak ada yang mati. Meskipun artinya juga tidak ada yang mendapatkan keinginan untuk dikabulkan tidak akan masalah karena kami tidak mengharapkannya.
Sekarang kita hanya perlu berhenti saling menyerang dan menunggu sampai ronde berikutnya berakhir.
Aku mulai merasa lega, sebelum Putri kembali bicara.
“Karena itulah, kamu harus kalah di ronde ini.”
“…!”
Aku tercengang ketika pernyataan itu ditujukan pada Marina.
“Memangnya itu harus-”
“Tidak ada pilihan lain, Rama. Marina sudah memenangkan satu ronde ketika kamu belum sama sekali. Mudah bagi [ADMIN] untuk menentukan pemenang meskipun tidak ada yang mati lagi di ronde ini ataupun ketiga.”
“Biar gitu, bukannya yang terpenting adalah nggak memenuhi syarat untuk menang? Selama nggak ada yang menang dua kali-”
“[ADMIN] bisa menganggap Marina memenangkan ronde terakhir untuk memenuhi itu. Tujuan utamanya adalah untuk mengamati manusia, dan pasti melakukan itu jika diperlukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.”
Prioritas [ADMIN] adalah untuk membuat kami menderita? Memangnya dia apa, perwujudan dari kejahatan di dunia ini?
“Di sisi lain, [ADMIN] tidak bisa melakukan apa-apa jika kalian telah memenangkan masing-masing satu ronde.”
“Tapi kan…”
“Gua mengerti.”
Marina yang sejak tadi terlihat tenang berkata dengan mantap. Kurasa sejak awal dia sudah mengerti situasinya sejak awal.
“Sesuai dugaan, orang sepertimu pasti langsung menyadari bahwa itu tindakan yang terbaik.”
Untuk bisa seyakin itu meskipun artinya dia harus mati… aku tidak tahu darimana dia mendapatkan ketenangannya itu.
“Sekarang… aku harus bunuh Marina?”
“Tidak ada yang mengharuskan kamu membunuhnya langsung, jadi biar aku yang lakukan. Dan tidak perlu khawatir, Cewek Pirang, kupastikan kematianmu secepat dan senyaman yang kubisa.”
Marina mengangguk, kemudian Putri mulai mengeluarkan pisau yang dia sita dari Marina sebelumnya dan seperti memilih-milih pisau yang akan dia gunakan. Dia tahu ketajamannya yang menentukan seberapa cepatnya dia bisa mengakhiri hidup seseorang.
Sebuah pembunuhan sebentar lagi terjadi di sini. Apakah hanya aku yang merasa tidak nyaman karenanya? Ini seperti hal yang natural bagi Putri yang memang sudah berpengalaman, tapi untuk Marina yang juga terlihat kalem membuatku mulai berpikir bahwa akulah yang aneh di sini.
“Lu nggak marah?”
Dia tidak melihat ke arahku walaupun aku yakin pertanyaan itu Marina tujukan kepadaku.
“Gua udah ngebunuhlu,” lanjut Marina, memperjelas apa yang dia maksud.
“Ya gua marah, lah.”
“…sesuai dugaan.” Menunduk, pandangan Marina kini tertuju ke lantai.
“Gua nggak marah sama lu, Marina.”
“Eh?”
“Gua lagi ngomongin [ADMIN]. Dia-lah yang bikin kita semua terlibat di kegilaan ini cuma sebagai pemenuh keinginannya, untuk menyenangkan hatinya. Seenaknya sendiri padahal kita nggak tahu apa-apa, egois sekali.”
“…um.”
“Lu ngelakuin itu semua karena lu terpaksa, Marina. Gua yakin itu. Karena itu gua nggak sedetikpun nganggap lu sebagai musuh sedikitpun sampai saat ini.”
Musuh kami yang sebenarnya adalah [ADMIN]. Begitulah aku melihatnya.
“Lu orang yang baik, Ram.”
“Hm? Lu bilang apa?”
“…bukan apa-apa.”
“Tenang aja. Setelah ini kita bisa menjalani hidup sebagai teman sekelas lagi kayak biasanya.”
“…um.”
Marina mengangguk pelan. Kali ini dia menatap mataku.
Wajah datarnya terlihat lebih cerah sekarang. Ini bisa jadi hanya perasaanku saja, sih.
“Sekarang, apa kamu sudah siap?”
Marina mengangguk ketika Putri bertanya demikian, “ini yang terbaik.”
“…kamu memang kuat. Aku selalu kagum denganmu.”
Lalu Putri duduk di depan Marina, kemudian memegang kedua tangan Marina.
“Eh, t-tanganlu…”
“Ya, aku tahu.”
Mereka berdua saling bertukar pandang dan ada pesan tersembunyi dibaliknya. Aku tentu saja tidak tahu apa itu.
Dan pemandangan ini… jika aku bisa melukisnya maka aku bisa menjadi jutawan dengan mudah. Keberadaan kedua gadis ini seperti sangat menyilaukan di tengah ruangan gelap ini.
“Sebelum Rama mulai berpikir yang aneh-aneh, sebaiknya kita segera lakukan ini.”
“Berhentilah baca pikiranku, oi.”
“Ah, sebelumnya kita tentukan di mana kita akan berkumpul di ronde berikutnya. Itu dibutuhkan untuk memastikan tidak ada yang berubah pikiran di tengah jalan. Sekali lagi untuk berjaga-jaga.”
Aku menggaruk kepalaku. Serius deh, kurasa gadis ini tidak bisa lebih hati-hati lebih dari ini.
Biar begitu, tanpa banyak masalah akhirnya kami sepakat untuk memilih suatu gudang kosong di dekat Pasar Bogor. Itu tempat terbaik karena berada tepat di tengah lokasi awal kami ketika ronde dimulai.
“Tidak seperti kalian para peserta, ingatanku akan di-set ulang ketika ronde dimulai kembali. Pastikan untuk menceritakan semuanya kepadaku, mengerti?”
“Err…”
“Intinya segera angkat teleponku, Rama.”
“O-oh, iya, iya.”
Aku tertawa kaku.
“Baiklah, mari kita mulai. Ini bukanlah pemandangan yang sedap dipandang. Kusarankan kamu untuk tidak melihatnya, Rama.”
“Nggak, gua harus ikut-”
“Biar kuperjelas lagi, kamu tidak boleh melihatnya, Rama.”
“…”
Rasanya Putri sungguh terlihat lebih menyeramkan ketika sedang tidak tersenyum. Aku tidak punya pilihan lain selain menurut, rupanya.
“Sebelumnya, Putri.”
“Ada apa?”
Putri menoleh. Rambut hitamnya ikut bergerak dengan anggun mengikuti gerak kepalanya.
“Aku nggak sempat bilang ini sebelumnya. Terima kasih atas semuanya.”
Jelas aku tidak bisa mempercayai Putri sepenuhnya karena dia merahasiakan niat aslinya, tetapi fakta bahwa dia telah banyak membantuku tidaklah berubah.
Dia mungkin mendapatkan keuntungan tersendiri dari urusanku dengan Marina ini. Aku tidak peduli. Yang terpenting Julia bisa hidup setelah ini.
Aku percaya hubunganku dengan Putri adalah hubungan yang saling menguntungkan. Itu tidak membuatku berhutang budi kepadanya, namun bukan berarti aku tidak perlu berterima kasih juga.
“Sama-sama,” balas Putri singkat. “Aku ingin kamu ingat satu hal.”
Di luar dugaanku, dia tidak tersenyum meskipun aku baru saja berterima kasih padanya.
“Semua ini kulakukan hanya untukmu, Rama.”
Dan dengan begitu, ronde kedua selesai.
Spoiler for -6.53AM, R3-:
Aku melihatnya tergeletak begitu saja. Wajahnya tidak terlihat, tapi aku yakin dari rambut hitam panjangnya itu.
Mayat Putri yang bersimbah darah.
Mayat Putri yang bersimbah darah.
Spoiler for author's note:
intinya, rama nge-date sama putri, di kamar gelap 

update kali ini lebih panjang dari yang ane kira. ane sendiri ngerasa ada yang kurang greget di sana-sini, tapi nggak tahu apa. mungkin repetisi pola kalimat, tapi ane masih nggak yakin. dan ini... rasanya meninggalkan aftertaste yang nggak enak.


update kali ini lebih panjang dari yang ane kira. ane sendiri ngerasa ada yang kurang greget di sana-sini, tapi nggak tahu apa. mungkin repetisi pola kalimat, tapi ane masih nggak yakin. dan ini... rasanya meninggalkan aftertaste yang nggak enak.
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:05
0
Kutip
Balas